Celana Dalam

Celana Dalam
BAB 50


__ADS_3

Seperti dugaan Cikko mereka mengundang wartawan untuk menciut nyali Vika. Karena mereka tahu kalau Vika dari desa pasti takut akan hal seperti itu.


Cikko yang sudah mengantisipasi keadaan itu kepada Tuan Rymon dan Vika. Jadi semua orang dengan tenang duduk dikursi masing-masing.


Pov Gunawan Beki


Kesialan terjadi padaku yang dilakukan akibat ulah anak, membuat aku kalaf menghancurkan toko orang lain seorang diri.


Aku menganggap remeh mantan mahasiswi ku, yang masuk universitasku melalui jalur Beasiswa.


Dia keluar juga karena bullying ulah anakku sendiri, aku membiarkan anakku merajalela dikampus karena Korry anak tunggalku.


Aku akan melakukan apa saja demi anakku, amarahku benar-benar diuji saat Korry ditangkap polisi atas kasus perusakan terhadap milik orang lain.


Aku meminta polisi tidak memborgol putrinya, aku menjadi jaminan atas anakku kalau Korry tidak akan melarikan diri dari masalahnya.


Aku juga tidak tinggal diam pada anakku sendiri, aku juga sudah sering mengingatkan dia agar jangan berulah dikampus. Karena sudah manja dari kecil jadi Korry tahu Papanya akan menolongnya.


Awal masuk penjara aku sempat mengancam mahasiswi yang bernama Vika itu untuk menarik laporannya tapi tidak digubris. Jadi aku memakai uang yang lumayan banyak untuk membebaskan putriku.


Istriku juga tidak tinggal diam dia selalu mengingatkan anaknya agar tidak berbuat ulah yang fatal.


Tapi memang anak kami sudah terlanjur manja dari kecil sehingga dia berulah lagi.


Aku saja tidak menyangka anakku berani menyewa orang lain untuk mengikuti dan menguntit Vika dimanapun berada.


Sampai kejadian di toilet kantor yang sedang mengadakan pesta untuk karyawan. Dikantor itu Vika diundang juga diacara besar itu.


Dikantor besar itu Korry anaknya mempunyai teman yang menjadi staf disana, teman anakku lah yang membuat dia bisa masuk dalam acara tersebut.


Aku yang hanya tahu cerita ini dari mulut anaknya saat aku mengunjungi anakku yang sudah ada dalam sel untuk kedua kalinya.


Saat anakku ditangkap aku dan istriku berada diluar kota, karena undangan sesama Rektor. Jadi hanya Korry dirumah beserta Art dan satpam.


Aku yang terpancing emosi mendengar anakku ditangkap dan lagi-lagi ulah mahasiswi yang bernama Vika itu.

__ADS_1


Aku pergi dari kantor polisi seorang diri, menuju toko mahasiwi itu. Meskipun aku tahu, anakku salah. Tapi aku kalaf mata, melihat putri kecilku dulu kini mendakam dalam penjara.


Tidak aku hiraukan teriakan istriku, aku menginjak gas melewati orang yang ada dijalan saat itu.


Aku tahu dimana toko mahasiswi itu berada, emosiku sudah membutakanku. Toko yang ramai pembeli aku bubarkan, aku acak apa yang dijual disana.


Keributan yang aku buat, membuat aku jadi tontonan orang yang wara wiri disana. Aku lupa kalau ulahku itu direkam orang lain dengan ponsel mereka.


Aku hamburkan apa saja yang ada disana sampai sang empunya toko keluar dan berteriak cukup lantang dan aku sampai terhenti.


Sangat lantang dia menyebutku yang terhormat, sehingga penonton disana berbisik membicarakanku kalau aku penjabat yang terhormat.


Wanita itu maju dihadapanku, aku tidak tinggal diam. Aku siapkan tanganku untuk menampar wajahnya.


Telak lima jariku membuat wajah wanita itu merah dan bibir bawahnya terlihat berdarah. Aku hilaf telah menganiyaya wanita. Itulah aku yang tak bisa mengontrol emosiku jika keluargaku tersakiti.


Aku seperti ini karena aku hanyalah anak yatim piatu yang tidak memiliki keluarga. Aku dipungut oleh orang tua istriku untuk meneruskan perusahaan.


Aku berhasil meneruskan perusahaan mertuaku, aku membuat bangga mereka.


Aku sedang mencoba memasuki dunia pendidikan dengan mencalon menjadi Rektor ternama dikotaku.


Aku mendapatkan jabatan itu, hampir 5 tahun aku menjabat disana. Universitas itu maju karenaku, tentu saja dengan uang.


Hasil perusahaan mertuaku jadi ladang pemasukan untukku. Agar aku mendapatkan jabatan Rektor tersebut.


Aku pemegang sah perusahaan karena mertuaku meninggal dunia, meskipun warisan mertuaku jatuh semua ketangan istriku.


Istriku mempercayakanku untuk mengelola semuanya. itulah riwayat hidupku yang anak yatim piatu. Tidak ingin keluargaku diganggu barang secuil pun.


Kejadian ditoko Vika benar-benar menjadi awal kehancuranku. Aku takut sekali kalah dari anak kemaren sore itu. Dia seperti sengaja aku tampar, karena karyawannya diminta untuk merekam kejadian itu.


jadilah hasil visum keluar dan aku tersangka, aku tidak dapat membebaskan putri tunggalku sendiri.


Tapi aku menjamin dia agar tidak ada napi lain menyakitinya. Karena mereka tidak bisa mendapt sel khusus untuk anaknya. Uang tidak dapat menyogok pihak kepolisian disana.

__ADS_1


Hari persidangan pertama aku dan putriku tiba, kami melakukan semua skanario dari pengacara. Jika ditanya kami tetap bersikukuh tidak melakukannya.


Kami akan menjawab semua tidak benar, agar sidang molor dan saat molor itu kami melancarkan strategi baru kami.


aku melihat dengan pasti jika Vika hanya ditemani seorang Ibu dan anak ingusan. Tidak didampingi pengacara.


Hanya Ceo yang melaporkan anakku saja yang menggunakan pengacara. Kami akan minta maaf kejadian yang terjadi dikantor Ceo itu.


Aku yakini anakku bisa bebas, aku harus bisa membebaskan anakku terlebih dahulu.


media yang meliputi sidang membantu aku membersihkan namaku yang terlanjur jelek karena rekaman aku mengobrak-abrik toko Vika terekam dimana-mana.


Media sosial juga menayangkan aksiku saat itu, hanya saja wajahku tak terlihat. Tapi rekaman yang direkam karyawan Vika yang jelas-jelas terlihat mukanya.


Semoga saja barang bukti itu rusak, karena ponsel Vika aku banting dengan keras dan rusak.


Entah kenapa aku melihat wajah wanita itu begitu tenang, tidak ada rasa takut melihat media yang banyak meliputi.


Wanita kampung itu benar-benar membuat hidupku hampir berantakan. Aku harus bisa mengontrol emosiku, agar bersikap baik saat persidangan berlangsung.


Pov Off


sidang sedang dimulai, hakim membacakan perkara Korry dan Ayahnya. Mereka duduk berdampingan di kursi pesakitan itu.


Wajah Ibu Korry begitu emosi saat bertemu mata dengan Vika, dia sangat marah dan tidak terima keluarganya hancur.


Pengacara keluarga mereka merasa akan berhasil dengan kasus Korry. Menyelamatkan Anak Rektor demi popolaritasnya lebih melejit lagi.


Bakal banyak yang menggunakan jasanya jika dia berhasil kali ini. Toh dia tidak rugi apa-apa, uang untuk menyewa wartawan dan membungkam akun yang merekam kejadian itu dengan uang ditanggung Pa Gunawan.


Sehingga tidak ada lagi rekamam Pa Rektor menghancurkan toko Vika yang beredar diinternet. hanya satu barang bukti yang ada diponsel yang hancur itu.


Semoga ponsel itu memorynya ikut rusak agar tidak ada bukti rekaman Pa Gunawan.


Sedangkan kubu Vika duduk dengan tenang hanya Rymon yang tidak berhenti melakukan aktivitasnya melirik Vika.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2