
Jam Pukul 4 pagi 3 wanita sudah bangun menyelesaikan panggilan Tuhan dan melanjutkan memasak makanan ala kadarnya untuk sarapan mereka.
"Nak Vika, apa Ibu boleh mengundang Rymon dan Cikko acara peletakan batu pertama untuk pembangunan tokomu nak?" tanya Bu Cantika yang punya misi sendiri untuk menjodohkan Rymon dan Vika.
"Astaga Ibu kenapa ditanya, kalau banyak orang Vika senang bu. Bakal banyak yang doa kan. Apa anak Ibu tidak sibuk kan pagi acaranya" jawab Vika sambil makan sarapannya.
"Terima kasih nak, kamu memang anak yang baik. Ibu doakan usaha kamu dan Ayu sukses suatu saat nanti"
"Amin" kompak Vika dan Ayu
Ibu menghubungi Cikko yang saat itu sedang menemani Rymon untuk Jogging.
Cikko ( Halo, selamat pagi Nyonya? )
Kenapa Ibu menghubungi pagi begini, apa Ibu sakit pikir Rymon yang sedang mengatur nafasnya, mendengar Cikko berbicara dalam telepon genggamnya.
Ibu ( Halo Nak, Rymon dimana? Apa dia menyusahkanmu)
Cikko ( Ada bu, pagi ini saya menemani Tuan untuk berolah raga, Nyonya baik saja? karena ini masih pagi dan tidak biasa Nyonya menelepon)
Ibu ( Baik saja, tumben mau berolah raga. Ibu hanya mengabarkan kalau Nak Vika pagi ini ada acara syukuran kecil untuk pembangunan toko barunya)
Cikko (Wah hebat Nona Vika, bisa maju tokonya. Terima kasih atas undangannya Nyonya. Saya dan Tuan akan datang)
Telepon diakhiri Ibu Cantika, Vika dan Ayu pamit dengan Ibu untuk memesan kotakan untuk acara syukuran tokonya.
Ditoko sudah ada Bu Rahma dan Pa H. Abdul suami Ibu Rahma yang akan membawa doa untuk Toko Vika hari ini.
Anak-anak kost juga datang menyusun kursi-kursi ala kadarnya disamping toko yang akan dibangun.
Tak lama Vika dan Ayu datang dengan Sebuah Pick Up yang berisi kotakan makanan.
Dibelakang Pick Up ada mobil Rymon anak Bu Cantika yang datang. Turun dari mobil Rymon, Cikko, dan Sopir yang membantu menurunkan kotakan menuju meja makanan yang hanya diletakkan didepan toko yang memang ditutup hari ini. Dan pelanggan Vika sudah tahi kalau toko hari ini tutup.
Vika tersenyum saat Rymon langsung turun dan membantu menurunkan kotakan itu. Bu Cantika dari kejauhan tersenyum juga dari kejauhan melihat sikap anaknya yang ada perubahan.
__ADS_1
"Wah banyak sekali Nona Vika Kotakannya, apa tamunya banyak?" tanya Cikko yang mengelap keringatnya saat Ayu menyodorkan kotak tisu pada semua orang yang membantu menurunkan makanan dari pick up.
"Tamunya kita saja tuan Cikko, kotakan itu akan dibagikan untuk orang yang lewat didepan nanti. Minta doanya buat toko Vika" kata Vika.
Acara dimulai, Pa H. Abdul memanjatkan doa untuk peletakan batu pertama untuk pembangunan Toko Vika.
Vika dan Ayu dibimbing Pa H. Abdul meletakkan batu pertama pembangunan tokonya. Tetesan mata Vika dan Ayu saat meletakannya, membuat suasana menjadi haru.
Rymon tidak pernah menghilangkan pandangannya dari Vika. Dia berdiri dekat dengan Ibunya. Mata Ibu Cantika memperhatikan mata anaknya yang tak lepas dari Vika.
Acara Syukuran pembangunan toko Vika berjalan hikmah. Semua orang makan dengan hikmat, lebihan kotakan dibagikan Vika dan yang lainnya untuk orang-orang yang lewat disana.
Suara Adzan berkumandang, Pak H. Abdul memimpin Sholat Dhuha dimushola dekat Toko Vika.
Rymon duduk menunggu Cikko Sholat bertemu Vika yang melintasinya.
"Tidak Sholat Tuan?" tanya Vika menatap Rymon.
"Saya dikantor saja" jawab Rymon terbata.
"Tapi saya tidak bisa sholat, belum pernah maaf" ucap Rymon jujur dan menunduk malu.
"Baik, semoga nanti ada panggilan hati membuat Tuan bisa belajar kembali sholat. Tidak ada kata terlambat tuan, mari saya masuk dulu" kata Vika yang berlalu untuk mengambil Wudhu.
"Terima kasih" ucap Rymon yang malu seumurannya tidak bisa sholat sama sekali.
Ibu yang melihat dari kejauhan Vika menyapa Rymon tersenyum. Semoga Rymon bisa berubah setelah berteman dengan Vika ucap Ibu dalam hatinya.
mendengar suara orang mulai sholat, Rymon mengintip dari pintu. Melihat cara orang menjalankan Sholat. Setelah selesai sholat, Rymon pergi kemobilnya dan menunggu Cikko disana.
Karena mendapat pesan dari tuannya lekas Cikko, menuju mobil. Pamit pada Nyonya besar dan Nona Vika yang mempunyai acara.
Mobil Rymon sudah pergi menuju kantor, karena mendadak ada Klien yang meminta jadwal pertemuan yang dimajukan dari jadwal sebelumnya.
Karena klien besar jadi Rymon harus profesional mungkin agar tidak kehilangan tender besar.
__ADS_1
Rymon yang dibantu Cikko memulai acara pertemuan dengan kliennya. Hampir dua jam Rymon dan Cikko menyelesaikan pertemuan yang alot sampai menemukan kerja sama yang diinginkan.
Rymon memang orang yang lupa agama, lupa akan kesehatannya, bahkan lupa akan Ibu yang selalu mendoakannya. Tapi Rymon selalu mendapatkan tender yang dia usahakan karena basic Rymon sudah turun dari Ayahnya yang berjiwa pengusaha.
Untuk merayakan kemenangan tender itu, Rymon mengadakan syukuran untuk esok hari agar semua karyawannya yang juga sudah bekerja keras merasakan hasil dari kerja keras mereka semua.
Seperti biasa Cikko lah yang menjadi kepercayaan Rymon mengurus acara syukuran itu.
tok tok tok
"Masuk"
"Maaf Tuan apakah Nyonya Besar saya beritahukan juga acara syukuran kita besok" tanya Cikko menatap tuannya.
"Iya harus semua karena doa Ibu dan aku minta kamu juga bisa mengajari saya bagaimana caranya untuk sholat?" jawab Rymon yang memeriksa laporan-laporan keuangan.
"Sholat Tuan, apa saya mencarikan guru ngaji saja tuan. Karena saya rasanya tidak pantas, masih berantakan sholatnya."
" Tidak saya mau kamu saja, malam nanti setelah mengantar saya kamu ganti baju dirumah saja, ajarkan saya dasar dari sholat itu" jawab Rymon menatap lekat mata Cikko.
"Baik tuan saya pamit kembali keruangan" ucap Cikko yang menggaruk kepalanya.
Saat berada diluar ruangan Rymon, Cikko ngedumel sendiri, jika bukan karena Nyonya besar bisa saya makan lemak-lemak besar itu. Saya juga pendosa masa mengajar cara sholat, rasanya tidak dapat Cikko bayangkan.
Kembali diruangannya, Cikko mencari gawainya untuk menghubungi Nyonya Besar akan acara besok hari. Setelah Nyonya Besar mendengar kabar itu, dia akan datang. Dan minta.dijemput sebelum waktu acara karena tidak membawa baju layak.
Cikko mengiyakan semua perintah Nyonya Besarnya. Hati Cikko senang kalau sudah pergi ketoko Nona Vika, karena disana dia bisa melihat Ayu. Manis dan tingkahnya begitu menggemaskan bagi Cikko.
Pria seperti Cikko yang sibuk dan menjadi kaki tangan orang besar. Harus menelan pahit yang namanya cinta, hanya mencintai dalam diam karena pekerjaan tidak bisa ditinggalnya.
Apalagi sekarang dia harus mengurus Nyonya Besar tuaj Rymon yang terpisah rumah. Bolak-balik dijalan jadi makanan sehari-hari Cikko.
Cikko yang memang orang kampung sangat bersyukur dengan posisinya sekarang. jadi dengan kesibukannya Cikko mampu melupakan persoalan asmara.
Bersambung
__ADS_1