
Semua orang yang ada ditoko Vika mulai disibukkan dengan melayani pembeli, pembeli yang mulai berdatangan seakan tak habis-habis. Ibu Cantika yang kesepian dikamar ikut keluar karena mendengar suara banyak orang, dia penasaran toko ini menjual apa sampai suara pembeli begitu ramai.
Karena merasa sehat, Bu Cantika keluar kamar, dibalik pintu banyak orang yang ramai membeli aneka pakaian dalam wanita dan pria.
“Ibu, kenapa keluar disini berisik Ibu akan susah istirahat.” Ucap Vika memapah Bu Cantika untuk duduk dikursi kasir yang ada dalam toko.
“Ibu sudah merasa enakan nak, sepi juga Ibu sendirian dikamar. Kembali lah bekerja nak biarkan Ibu disini.” Ucap Ibu yang duduk dikursi kasir menatap kecekatan mereka dalam bekerja.
“Maaf ya bu, Vika dan yang lainnya belum bisa menemani Ibu. Apa Ibu mau makan bubur lagi, biar Vika panasin?”
“Emm, Ibu boleh makan rujak buah nak. Tapi ibu tidak punya uang” ucap bu Cantika malu
“Ibu mintalah dengan Vika apa saja yang Ibu mau selama Ibu tinggal disini. Aku senang ada Ibu dan merawat Ibu. Karena dari kecil aku tidak pernah merasakan kasih sayang Ibu, atau pun merawat Ibu yang sakit” kata Vika yang menggenggam tangan Ibu Cantika.
“Maafkan Ibu nak membuatmu sedih, anggap saja Ibu ini Ibu Vika juga”
“Terima kasih bu, kalau begitu Vika keluar dulu biar beli makanan buat yang lain” Vika pamit keluar dengan sopir pribadinya pak becak yang jadi andalannya.
~Tempat Lain~
Kediaman Rymon sedang ramai karena Rymon meminta anak buahnya untuk mencari keberadaan Ibunya, tidak tanggung-tanggung 50 anak buah disebarkan Rymon mencari Ibunya.
“Cikko kemana kamu hari ini? Apa kamu akan pergi ketempat wanita itu?” tanya Rymon pada Cikko yang setia menemani bosnya.
“Tidak bos, karena polisi belum mengabari nona Vika untuk mengikuti persidangan”
“Mari kita kekantor, semoga ada kabar dari Ibu secepat mungkin?” ucap Rymon yang berdiri dan melangkah keluar rumah dan menaiki mobilnya.
Apa wanita itu baik-baik saja setelah malam itu gumam Rymon menatap jalan.
“Cikko kita lewat jalan toko Vika, setelah itu baru kekantor.” Ucap Rymon yang tiba-tiba tidak ada angin tidak ada hujan ingin melewati tempat itu.
“Baik Tuan”
Mobil meluncur melewati jalan menuju toko Vita, saat sampai disana. Rymon hanya memandang toko itu dari dalam mobil saja dan minta Cikko kembali kekantor mereka.
“Kenapa tidak turun tadi tuan? Kita bisa menanyakan sampai mana orderan tuan waktu itu” ucap Cikko
“Lain kali saja, nanti biar orderan itu kamu yang handle” jawab Rymon yang tidak enak turun kesana karena pertemuaan mereka untuk kedua kalinya masih belum baik.
~Ditoko Vika~
Semua orang sedang beristirahat, makan siang dan makan rujak yang dibeli Vika. Disana Vika juga membawa pak becak bergabung makan. Beralaskan tikar semua orang makan dengan hikmah, penuh canda tawa. Toko mereka tutup untuk beberapa saat.
Ibu Cantika merasa berada dikampung orang tuanya, Nenek Rymon. Dikampung orang makan bersama-sama dengan menu seadanya. Tapi penuh kebersamaan, itu yang sedang dirasakan Bu Cantika saat ini. Tubuhnya mulai terasa baik, bahkan sangat baik. Hidupnya seakan berwarna meskipun baru satu hari disini.
Selesai makan mereka melanjutkan pekerjaan mereka dengan melayani pembeli, sedangkan Vika menemani Bu Cantika beristirahat. Dilihatnya Bu Cantika terlelap, Vika melanjutkan pekerjaannya dengan menjahit pesanan orderan tuan Cikko. Karena besok sudah mulai masuk, karyawan baru yang akan membantu Vika dan Ayu.
__ADS_1
Lumayan sudah dapat 900 pcs tinggal 100 pcs lagi pesanan tuan Cikko selesai. Ayu dan yang lain mulai membereskan toko tepat pukul 4 sore. Semua duduk sekedar mengobrol tipis, Vika datang membawa beberapa cemilan dibantu bu Cantika yang penuh senyum.
’Wah lagi menghitung uang, banyak juga hasil jualannya” ucap bu Cantika pada Ayu dan yang lainnya.
”Alhamdulilah Bu Cantika hasil toko Vika semakin meningkat, tidak sia-sia Vika dan Ayu membuat jahitan itu” ucap bu kost yang bangga dengan anak-anak angkatnya.
“Apa??ini hasil jahitan sendiri barangnya bukan dari pabrik atau konveksi gitu” tanya Bu Cantika yang kaget.
“lho bu Cantika tidak tahu kalau jualan ini hasil jahitan sendiri”
“jadi mesin jahit itu yang menciptakan pakaian dalaman itu, hebat kalian anak-anak kalian memang luar biasa, wanita-wanita mandiri yang bisa menciptakan tenaga kerja”
“haaa, Ibu terlalu berlebihan. Karena kami miskin kami jadi begini, karena bullyan kami bangkit seperti sekarang ini, kami bangga bu jadi miskin karena kami tahu rasanya berjuang dan menghargai segala sesuatu” ucap Vika.
“Ibu bangga nak dengan tekad bulad kalian, ibu kasih jempol” haa
Semua penuh dengan canda tawa, sekarang tinggal Vika, Ayu dan Bu Cantika yang tersisa. Mereka memasak bersama, Ibu memberikan resep masakan yang sekarang sedang mereka praktekkan.
Sudah setengan jam mereka didapur, sekarang mereka bersiap untuk makan malam. Kali ini mereka makan diatas meja mungil yang cukup berempat, makan dengan cerita yang lucu-lucu.
"Bu, istirahatlah Vika dan Ayu kerja dulu, karena ada orderan besar dari bos gendut yang emosian,hee" ucap Vika dan Ayu kekeh.
"Kalau kami istirahat, nanti isi toko kosong bu" ucap Ayu menimpali juga.
"Apa boleh ibu membantu?"
"Besok saja, gimana ikut bu kost melayani pembeli pasti ibu ketagihan. Tapi jangan minta gaji besar ya bu, hee" Vika kekeh tersenyum.
"Apa boleh nak? Ibu mau nak, Ibu pengen pakai tas yang ada diperut sama seperti Bu Rahma tadi, soal gaji gampang. Tapi Ibu boleh yaa lama disini, Ibu senang suasananya enak. Banyak orang baik disini" kata ibu yang antusias.
"Siap Bos" ucap Vika
"Ibu istirahat ya, biar Vika dan Ayu kerja kembali" Mengecup kening Ibu dan mengucapkan selamat malam mimpi indah dan pergi melanjutkan jahitan masing-masing.
Malam semakin larut, jam menunjukan jam 12, Ayu lebih dahulu selesai menjahit dan terlelap dalam tidurnya. Sedangkan Vika masih melanjutkan beberapa pcs lagi pakaian dalam itu.
Pukul 2 dini hari Vika bisa menyelesaikan orderan, mulai membungkusnya dan menempatkannya pada kardus serta membungkus dengan rapi.
Paket sudah selesai, Vika masuk kamar. Melihat Ibu Cantika yang terlelap dan merapikan selimut yang terturun. Vika ikut membaringkan badanya sebelah Bu Cantika.
Merasa ada pelukan dan itu pasti Vika dalam benaknya, Ibu menarik tangan itu dan menggenggamnya.
Lagi-lagi Vika bermimpi tuan gendut, tuan itu berjalan kearahnya memberi bunga dan duduk disebalah Vika. Mereka seperti akur saat itu, biasanya mereka kejar-kejaran dalam mimpi.
__ADS_1
Hanya senyum-senyum saja, saat duduk dibangku taman. Yang banyak tumbuh bunga warna warni.
Vika yang sekali-kali mencium bunga itu merasa terpesona dan pipi yang merah karena selalu diperhatikan dan ditatap begitu dalam oleh tuan Gendut.
Vika merasa berbunga-bunga seperti taman yang sedang mengelilingi mereka sekarang. Bunga yang indah dan wangi yang sangat semerbak alami.
Tubuh Vika yang terasa diguncang orang, terbangun dari mimpinya.
"Bangun nak kamu belum sholat subuh."
"Baik bu, maaf Vika hampir kesiangan. Vika ambil wudhu dulu, dan segera Sholat."
Ayu sudah sibuk didapur menyiapkan sarapan mereka hari ini. Dilihat Ibu Ayu yang begitu cekatan.
"Pintar masak anak kecil"
"Hee, sudah biasa bu waktu dikampung dulu" ucap Ayu yang siap menghidangkan Nasi Gorengnya. Dan kembali kedapur untuk menggoreng lauk sambil sekali-sekali mengobrol dengan Ibu.
"Mana orang tua mu nak, apa mereka sekarang dikampung?" tanya Ibu lagi yang menyiapkan Roti yang ada dimeja untuk sarapannya karena dia menyukai roti atau bubur Vika untuk sarapan.
"Meninggal bu, sekarang aku anak yatim piatu. Mba Vika berjanji akan menyekolahkanku, walaupun aku menolak. Tapi masih menunggu awal semester nanti baru bisa masuk sekolahnya"
"Astaga jadi kamu anak yatim piatu nak, Ibu minta maaf yaa."
"Tidak mengapa bu, kenapa Ibu jadi makan Roti. Nasi goreng Ayu enak lo bu" ucap Ayu yang datang membawa lauk yang sudah digoreng bersama kuah sop yang beraneka ragam sayur didalamnya.
"Ibu suka sarapan Roti atau Bubur seperti yang disuap Vika kamaren. Hee maaf Ibu cerewet." ucap Bu Cantika pada Ayu
"Ohh bubur itu Ayu yang buat bu. Kalau ibu suka akan Ayu bikin sebentar tidak lama. Biar kita bisa sarapan nasi bersama" cepat Ayu memasak bubur dan mengecilkan apinya.
"Wah enak ne yu, loh kenapa Ibu makan roti.?
"Ibu suka bubur kemaren mb, itu sudah Ayu buatkan. Apa kita sarapan sekarang, biar cepat membuka toko. Dan menyambut pembeli"
"Semangat sekali nak, kamu jualannya" kata Bu Cantika pada Ayu dan tersenyum melihat semangat anak-anak ini.
Sarapan selesai, Ayu sudah membuka toko mereka merapikan stock jahitan mereka dan menatanya dengan baik.
Vika dan Ibu yang duduk disofa tamu, belakang toko yang masih satu ruangan dengan jualan Vika. Vika mengetik gawainya kepada Cikko, mengabarkan orderan itu selesai dan bisa diambil.
Vika (***. Tuan Cikko orderan Tuan Rymon sudah selesai dan bisa diambil, Terima kasih)
Cikko (Wah cepat sekali, tidak sampai sebiulan anda hebat Nona Vika, akan saya transfer sisanya dan siang ini saya akan ambil ditoko)
Vika (Baik, terima kasih atas kepercayaannya)
Bersambung
__ADS_1