
Reflek pandangan Cikko buyar saat posisinya digantikan bosnya. Dia kaget saat mata bosnya melototinya seperti itu. Aduh gumam Cikko lagi-lagi aku terpana melihat gadis manis didepannya.
"Sore saya sudah janji bertemu pemilik toko ini untuk membuat ****** *****. Apa nona yang ditoko ini ada?" tanya Rymon menatap lawan bicaranya.
"Siapa yu? Kenapa lama sekali" Ucap Vika dan menatap tamu yang masih berdiri didepan pintu.
"Anda?"
"Biarkan meraka masuk yu, mereka tamu mb" berjalan kearah sofa yang kosong.
"Silahkan duduk tuan-tuan" ucap Ayu berlalu meninggalkan Vika dan tamunya untuk membuat minum.
Rymon duduk disofa tunggal yang ada disamping Vika, sedangkan Cikko berdiri disamping tuannya.
"Tuan berdiri saja tidak duduk kan sofa ini masih banyak yang kosong." ucap Vika yang melihat salah satu tamunya berdiri.
__ADS_1
"Tidak mengapa nona, biar tuan saya saja yang duduk. Silahkan lanjutkan pembicaraan anda nona dan tuan Rymon"
"Sudah-sudah duduk lah Cikko agar kita cepat pergi dari tempat ini"
"Ada perlu apa tuan kenapa begitu ingin membuat ****** ***** disini" tanya Vika
"Tidak perlu tahu alasan saya, buatkan saya 1000 pcs ****** ***** ukuran badan saya. Lekas ukur dan serahkan kwitansinya pada sekretaris saya. Karena saya tidak punya banyak waktu hanya untuk disini saja" ucap Rymon yang gerah karena udara ditoko Vika panas.
Ayu datang membawa minuman teh dinampannya, meletakkan minuman itu pada Vika Rymon dan Cikko. Ayu mempersilahkan tamu mba Vika untuk minum.
Karena kepanasan sedari tadi, Rymon mengambil teh yang ada dihadapannya. Tersedak lah Rymon karena teh itu begitu panas dimulutnya.
Tolong minta air putih untuk tuan saya, Ayu lekas mengambil air botol dari kulkas didapur dan menyerahkan pada tuan yang meminta air.
"Sialan, nona bikin teh kira-kira panas sekali. Udara ditoko ini begitu panas kau malah memberi saya minuman yang panas" ucap Rymon yang mulai kesal dirinya dijadikan lelucon.
__ADS_1
Ayu terdiam dan terpaku ditempatnyan tidak berani, menjawab perkataan tuan yang marah itu karena meminum air teh yang panas.
"Hei, anda tidak boleh menyalahkan adik saya. Apa anda tidak bisa meminum teh itu ditiup dulu atau meraba teh itu panas atau tidak? Maaf tuan dari tadi saya tidak simpatik dengan anda, meskipun anda memberikan orderan banyak tapi sikap angkuh anda membuat saya tidak ingin mengambil orderan dari anda. Silahkan angkat kaki dari tempat ini" ucap Vika lantang.
"Kurang ajar anda tidak tahu siapa saya, saya orang yang berpengaruh dikota ini. Bahkan toko kecil anda pun dapat saya beli hari ini juga" jawab Rymon tidak kalah lantang dari Vika.
Cikko memegang tuannya untuk mereda amarahnya, sedangkan Ayu memegang badan mbanya agar bersabar dan Ayu takut kalau mbanya akan dipukul oleh pria gendut yang ada dihadapan mereka.
Cikko membawa pergi tuannya dari toko Vika, takut tuannya hilang kendali saat emosinya tinggi. Lekas Ayu berlari menutup pintu toko setelah kedua pria itu keluar dari sana.
"Mba Ayu minta maaf karena teh itu panas jadi mba kehilangan orderan hiks" Ayu memeluk Vika karena merasa bersalah membuat Mba Vikanya kehilangan orderan besar.
"Tidak bukan salah kamu Ayu, orang itu sejak siang tadi sudah sombong dan membuat mba kesal. Rejeki sudah diatur Tuhan, pasti akan ada gantinya.
"Aku takut mba orang itu mengancam akan membeli tempat kita dan kemana kita nanti mba" ucap Ayu yang masih gemetar karena adu mulut antara Vika dan tamu tadi.
__ADS_1
"Sudah jangan kamu pikirkan, hari sudah malam mba mau sholat dulu. Kamu bersihkan tempat ini, agar malam nanti kita bisa melanjutkan jahitan kita." ucap Vika menenangkan Ayu dan masuk dalam kamarnya.
Bersambung