
Waktu yang ditunggu-tunggu datang juga, acara syukuran toko ****** ***** Vika berlangsung hikmah.
Walaupun Vika tidak memiliki keluarga tapi dia memiliki orang-orang yang mengasihinya.
Ibu kost yang baik hati, Dewi anak ibu kost yang selalu menjadi teman debat. Teman-teman kost yang selalu membantunya, karena sesama anak kost tahu akan arti perjuangan hidup dikota.
Hanya orang-orang kampusnya lah yang selalu menilai Vika sebelah mata. Mungkin tempat kampus yang elite membuat dia jadi bahan bully disana.
Karena kampus Vika merupakan kampus hasil beasiswanya dikampung. Jadi bukan salah Vika, kalau bisa berada disana.
Tapi itu semua sudah Vika lupakan sudah 1 bulan lebih Vika meninggalkan universitasnya itu.
Bahkan dalam 1 bulan itu juga Vika sudah meraup beberapa keuntungan dari hasil jahitannya. Bisa membeli kebutuhannya bahkan membeli alat-alat elektronik lainnya.
Acara syukuran selesai, Vika dibantu teman-temannya membersihkan tempat syukuran.
Semua orang sudah pulang hanya tinggal Vika seorang diri disana. Tidak ada kata lelah bagi Vika.
Untuk membuka toko besok pagi Vika kembali menata jualannya. Dibuatnya gantungan-gantungan jahitan ****** ***** itu dengan rapi dan apik.
Meskipun hanya berjualan ****** ***** tapi Vika bangga ini adalah hasil tangannya.
Dirasa sudah cukup Vika membaringkan badannya yang lelah. Kini Vika dapat merasakan empuknya kasur yang baru dia beli itu.
__ADS_1
Terlelap dalam tidurnya, Vika bermimpi kembali dengan pria yang berbadan besar itu. Pertemuan kedua kali dalam mimpi Vika membuat Vika mengejar Pria gendut itu, ingin bertanya kenapa hadir dalam mimpinya lagi.
Kejar-kejaran terjadi dalam mimpi Vika, sampai lelah mengejar langkah kaki pria gendut yang tak mau dijumpai oleh Vika.
Vika terbangun dengan lelah karena dalam mimpi dia berlarian mengejar pria gendut yang tak mau dijumpainya.
Vika menuang air dari teko kecil yang Vika siapkan dimeja kamarnya. Agar mempermudahnya untuk untuk minum jika malam hari.
Jam menunjukan pukul 4 subuh, Vika langsung menunaikan Sholat subuhnya.
Melanjutkan jahitannya, karena hanya ini yang bisa dilakukannya dikota besar. Tak ada waktu untuk bersantai karena tekad Vika dia ingin sukses sekarang ini.
Kuliah bisa dia lakukan kalau uang ada banyak ditangan. Suara mesin jahit beradu dengan suara detik jam diruangan jahitnya.
Bismillah ucap Vika dalam hatinya, semoga awal yang baik untuk usaha barunya. Amin gumam Vika dihatinya.
Sambil menunggu pembeli, Vika melanjutkan Jahitannya. Sudah pukul 12 siang tapi belum ada juga pembeli dihari pertama buka.
Tidak menyerah Vika tetap optimis akan ada pembeli dihari pertama toko buka gumamnya.
saat menjahit gawai Vika berbunyi, nomor baru masuk dan dengan cekatan Vika mengangkat telepon itu.
Diseberang sana suara ibu-ibu yang berbicara dengan Vika.
__ADS_1
Vika (Selamat Siang Ibu, ada yang bisa saya bantu?)
Pembeli ( Ini dengan nak Vika? Saya ibu Susi teman ibu Fatimah. Boleh saya juga dikirim ****** ***** berlusin-lusin untuk mengisi toko baru saya?)
Vika ( Tentu bisa ibu, ingin berapa lusin biar saya siapkan sekarang. Chatkan saja bu orderan dan alamat bisa saya kirim hari ini juga)
Semangat Vika mendapat telepon dari pelanggan keduanya yang memberikan orderan ****** ***** dengan jumlah besar.
Rejeki dihari pertama buka toko membuat Vika semakin optimis kalau jualannya akan laku keras.
Semangat Vika membungkus orderannya hari ini, seorang diri tidak membuat Vika putus asa.
Dirasanya sudah beres, Vika menyiapkan diri untuk mengantar orderannya itu pada ekspedisi pengiriman barang.
Memanggil tukang becak yang mangkal dipinggir jalan, Vika dibantu tukang becak juga menaikan barang yang akan diantar.
"Banyak juga kirimannya neng?"
"Alhamdulillah pa, semoga rejeki kita pejuang rupiah selalu diberkati ya pa" ucap Vika menanggapi kata-kata pa tukang beca.
Selesai mengantar orderannya, Vika kembali menaiki becak yang tadi mengantarnya.
Memberikan uang lebih sebagai ucapan terima kasih Vika pada pa tukang becak yang mau menunggunya di ekspedisi hari ini.
__ADS_1
Bersambung