CEO Rese Dan Secretary Matre Nya

CEO Rese Dan Secretary Matre Nya
Episode 9


__ADS_3

Gavin Christopher


Kalian tau, gue bukan pria yang punya banyak pengalaman dalam berhubungan dengan makhluk yang namanya cewek. Oke gue akuin selama ini banyak cewek yang terang-terangan bilang suka dan bahkan ada yang nekat grepe-grepe gue waktu dulu gue kerja di club.


Gue gak tau cewek sekarang kebanyakan makan micin atau kebanyakan nonton adegan begituan sampai-sampai tingkah laku mereka semakin mirip kucing betina yang ganas kebelet kawin, ow takut.


Oke kembali ke laptop ...


Setelah nyaris saja gue ciuman sama pintu kamar nya nadin, gue putuskan untuk kembali ke kamar gue. Gue merebahkan diri di kasur sambil menatap langit-langit kamar , siapa tau aja gue dapet ide, cara untuk meyakinkan nadin kalau gue tulus minta maaf sama dia.


Gue heran, betul-betul heran dengan hubungan gue dan nadin sejak  SMA. Kenapa sih gue selalu terlibat hal-hal ribet yang buat hidup gue susah setiap kali gue sama nadin. Hubungan gue sama dia nggak pernah bisa disebut teman tapi juga gue ogah menyebut ini sebagai hubungan percintaan. Bisa besar kepala tuh si lintah darat penyedot harta.


Tuh kan mulut lo mulai lagi vin, gue memukul bibir gue sendiri yang terkadang gak bisa banget memilah omongan yang gak nyakitin perasaan orang.


Hubungan gue sama aurora  selalu mulus aja tuh, gak pernah sekalipun gue berantem dan aurora ngambek ke gue.  Bisa dikatakan Hubungan gue dan aurora mulus bagaikan tol cipali. Tanpa hambatan dan tanpa bebatuan, ya walaupun jelas ada jurang pemisahnya siapa lagi kalau bukan pangeran kodok hans.


Jadi gue bener-bener frustasi saat harus mikirin gimana cara nya gue buktiin ke nadin kalau gue tulus minta maaf sama dia. Ayo dong gavin pakai otak cerdas lo buat mikir


Aha


Please deh vin ini kan 2018, lo bisa cari apapun yang lo mau di mesin pencarian yang di sebut Google. Kenapa gue gak kefikiran dari tadi ya ? Gue terkekeh sendiri. Langsung saja gue ambil handphone di dalam saku celana, kemudian mengetikkan keyword "cara untuk minta maaf pada wanita ".


Sip gue dapet beberapa situs yang menjelaskan bagaimana cara meminta maaf pada wanita. Tapi gue heran kenapa mayoritas membahas hubungan percintaan ya?  Emangnya cewek dan cowok gak bisa punya hubungan lain selain percintaan?  Ih gue jadi merinding disko.


Gue buka yang paling awal aja deh, kayaknya lebih masuk akal. Oke menurut situs wiki how langkah-langkah untuk minta maaf pada wanita :


1. Ketahui bahwa meminta maaf merupakan cara untuk menyelesaikan masalah.


Gue kan udah minta maaf, dia nya aja yang gak percaya sama omongan gue.


2.Pahami kenapa dia marah.


Gue faham banget kenapa dia marah


3.Minta maaflah dengan tulus.


Jangan terlalu tulus deh, nanti pamit  lah kenapa jadi salfok gue


4.Tunggu saat yang tepat.


Hm kalau nungguin saat yang tepat keburu nadin resign dari kantor dong


5.Dekati dia dengan sungguh-sungguh.


Gimana mau dekati, kalian liat kan nyaris saja hidung mancung gue nempel di depan pintu.


6.Sampaikan cerita dari sisi Anda.


Udah, tapi dia gak percaya. Dia bilang apapun yang gue omongin gak akan dia percaya.


7.Tunjukkan empati.


Hem, bisa sih tapi agak sulit kayaknya


8.Peluk dia.


What?  Yang ada bisa di gampar gue sama si macan garong itu


9.Tebus kesalahan melalui tindakan positif.


Gimana mau postif kalau ena ena sama dia aja gak pernah, eh tuh kan salfok lagi gue.


10.Donasikan uang atas namanya.


Hmm bisa di coba sih, tapi pasti nanti dia bilang gue sombong dan tukang pamer harta. Berantem lagi deh


Ahh makin pusing, gue lempar aja handphone gue ke sembarangan arah.  Bodo amat deh mau rusak kek atau apa kek. Gue pusing mikirin cara minta maaf sama nadin.


Tok tok tok


Siapa lagi yang ngetok kamar gue, gak liat jam apa ini udah jam 10 malam. Waktunya bobo cantik woy


Tok tok tok


Suara ketukannya makin terdengar nyaring. Mau nggak mau dengan langkah malas gue seret kaki gue menuju gagang pintu. Pintu terbuka dan seorang cewek berdiri membelakangi gue, cewek itu mengenakan cardigan hitam dan celana pendek biru dongker . Shit itu kaki licin banget kayak jalan tol. Hus gavin jangan mikirin yang aneh-aneh deh.


"Vin...  !!"


"Nadin? "


Ini gue gak mimpi kan? Apa nadin udah maafin gue?


"Nad lo udah maafii... "


"Gavin anaknya mr. Matsumoto hilang dan dia gak bisa bahasa Indonesia "


"What!!!! "


"Ayo buruan kita cari vin, gue takut. ini udah malem kalau dia sampai di culik gimana "


"Oke bentar gue ambil kunci mobil dulu lo tunggu disini "


Sekilas gue melihat nadin mengangguk. Gue langsung berlari ke dalam kamar mengambil kunci mobil yang gue letakkan di atas jaket. Menyambar kedua benda itu kemudian menghampiri nadin yang nampak berdiri dengan gelisah di luar sana.


"Ayo buruan vin "nadin langsung menyambar tangan gue, dan kami berdua berlari menuju parkiran tempat dimana gue menaruh mobil gue disana.


             \~\~\~\~\~\~\~\~ 🦁🦁\~\~\~\~\~\~\~


"Vin ngebut dong vin buruan!!! "Suara nadin mulai meninggi.


"Sabar dong nad ini gue sambil nyari "sambil mengemudikan mobil gavin menyapukan pandangannya ke sekeliling jalan mencari bocah peranakkan Jepang yang mungkin sedang menangis di pinggir jalan.

__ADS_1


Gavin dan nadin berkeliling di kawasan Kuta dan Legian tapi tidak juga menemukan bocah yang dia cari.  Nadin bahkan mulai menangis sambil terus meneriakki nama bocah laki-laki itu di sepanjang jalan. Akhirnya Gavin dan Nadin memutuskan untuk berkeliling pantai sambil berjalan kaki. Mungkin saja bocah yang mereka cari sedang asik bermain istana pasir atau duduk santai sambil merasakan hembusan angin.


"Viin kalau hirata gak ketemu gimana vin "


Nadin semakin terisak, wajah nya terlihat begitu putus asa. Berbeda sekali dengan nadin yang selama ini gavin kenal. Entah bisikkan dari mana gavin sudah menarik nadin ke dalam pelukkan nya kemudian dengan lincah tangannya membelai rambut nadin mencoba menenangkan gadis yang dari tadi tampak begitu panik.


"Hirata pasti ketemu nad, percaya sama gue "


"Vin tapi dia masih kecil, ini Bali vin .  Dia bahkan baru sekali kesini, apalagi dia gak bisa bahasa Indonesia..  Kalau dia diculik gimana gavin "


"Nggak ada yang bakalan di culik, kita cari lagi ya,kalau perlu sampai pagi "


Nadin mengangguk. "Vin "


"Apa? "


"Tumben lo bisa baik "


"Nad jangan memulai peperangan deh "


"Oke "


Gavin dan nadin memutuskan kembali berjalan menyisiri pantai, sesekali mereka bertanya pada penduduk lokal dan turis asing yang mereka jumpai di sepanjang bibir pantai. Karena kelelahan mereka pergi ke sebuah mini market untuk membeli air mineral.


"Nad kita cari kemana lagi nih? "Gavin menenenggak habis air mineralnya kemudian melemparkan botol kosong itu tepat di dalam tempat sampah.


"Gue buntu vin gak ada ide "


Gavin berfikir sejenak, kemana ya kira-kira bocah seumuran hirata jika kabur dari orang tua nya?  Tiba-tiba gavin terfikirkan sesuatu.


"Nad kayaknya gue tau deh hirata dimana "


Tanpa aba-aba gavin menarik tangan nadin menuju mobil yang terparkir di depan mini market. Nadin yang bingung hanya bisa mengikuti langkah lebar milik gavin.


Nadin Almira Queen


Gue hanya bisa diam sambil menatap jalanan di sepanjang pantai Kuta yang di padati oleh turis asing. Dan baru gue sadari kalau hari ini hari sabtu, pantas saja walaupun jam sudah menunjukkan pukul 11 malam tapi suasananya terasa seperti masih sore.


Gavin masih konsen mengemudikan mobil sambil menatap kiri dan kanan jalan. Mencari seorang bocah yang membuat gue lompat dari tempat tidur tadi.


Jadi gini ceritanya, sepeninggal gavin dari kamar gue untuk minta maaf. Gue memutuskan untuk mandi dan segera bobo nyenyak, gue capek banget hari ini rasanya. Entah karena capek badan atau capek hati gue gak bisa membedakan.


Waktu gue hampir memejamkan mata, tiba-tiba handphone gue berdering. Saat gue melihat di layar, ternyata Mr. Matsumoto  yang menelfon gue . Panik ?  Tentu saja lah, berbagai pertanyaan langsung bergumul di otak gue. Untuk apa coba  seorang pengusaha seperti Mr. Matsumoto menelfon gue di jam segini.


Awalnya gue fikir jangan-jangan dia terpesona sama kecantikan gue yang pesonanya susah di tolak ini , tapi saat dia mengatakan kalau anaknya hilang. Kalian tahu?  Gue langsung lompat dari tempat tidur dan berlari secepat yang gue bisa menuju kamar gavin. Gue bahkan lupa kalau gue masih marah sama dia tadi siang.


"Vin lo yakin hirata ada di sini  ?"


Gue mengernyit kan dahi menatap gavin yang dengan pede nya bilang kalau kemungkinan hirata berada di toko mainan.


"Yakin nad "


"Tapi ini udah tutup vin lo liat gak ada orang "


"Hirata!!! "


Tanpa menghiraukan gavin, gue buru-buru lari menghampiri bocah kecil yang mungkin saja saat ini sedang ketakutan itu.


"Doko kara demo Hirata?" ( hirata kamu dari mana saja? )


"Watashi wa omocha o mitsukeru tame ni sanpo ni dete imasuga,-gaeri no papa ga nai toki wa " ( Saya habis jalan-jalan mencari mainan, tapi saat kembali papah sudah tidak ada)


"Anata wa ima, Hirata-san ni wa anzendesu. Papa o mite mimashou"


( sudah tidak apa-apa kamu aman sekarang hirata.  ayo kita menemui papah)


Hirata langsung berhenti menangis, gue memeluk hirata sangat erat. Hirata mengingatkan gue pada Jerry waktu bocah itu hilang di Dufan. Karena itu saat Mr. Matsumoto menelfon gue memberitahu kalau Hirata hilang, gue bener-bener panik. Karena gue tahu persis bagaimana rasanya kehilangan orang yang paling kita sayang.


Gue bisa bernafas lega karena melihat hirata dan Mr. Matsumoto berpelukkan. Ah betapa bahagia nya melihat interaksi antara papah dan anak itu, sesuatu dalam diri gue mendadak mellow. Gue rindu papah dan mamah, apa kabar ya mereka?  apa mereka akan cari gue juga kalau gue hilang seperti hirata?


Udah nadin jangan cengeng, jangan jatuhkan harga diri lo lagi apalagi lo sekarang lagi sama gavin. Berbicara tentang gavin gue melirik jam tangan digital yang sedang gue gunakan.


Hari ini tanggal 3 Juli, gue melirik gavin yang terlihat sudah mulai lelah. Beberapa kali lelaki itu menguap tapi tetap berusaha senyum waktu gue pergokin dia. Entah lelaki itu ingat atau tidak hari ini hari apa.


Diam-diam gue tertawa dan kembali teringat peristiwa yang gue mulai lupakan. Sebuah momen memalukan yang terjadi waktu gue masih nadin si gadis labil, iya semua itu terjadi beberapa tahun silam di tanggal ini 3 july 2001.


3 July 2001


Bagi seorang gadis remaja yang baru merasakan debaran aneh pada lawan jenis, gue mencoba segala cara untuk dapat perhatian dari kakak kelas gue yang super ganteng itu. Gavin Christopher.


Gue bahkan sengaja ikut kursus cara membuat kue kilat hanya untuk membuat sebuah kue tart mungil yang akan gue berikan saat gavin berulang tahun besok.


Gue tahu gue udah gila karena merasakan debaran ini sama cowok  yang pernah nuduh gue sebagai anak selingkuhan bokapnya. Tapi ternyata semakin besar kamu membenci seseorang maka semakin kuat pula nama dia ada di otak dan hati kamu. Dan benar adanya jarak antara benci dan cinta itu memang sangat tipis.


Shit, gue fikir istilah benci Jadi Cinta itu gak pernah ada. Sekarang gue jadi yakin kalau kita gak boleh sembarangan ngomong.


Pagi hari akhirnya tiba, gue sengaja bangun pagi-pagi. Dandan secantik mungkin bahkan mengenakan bando berwarna biru. Kalian tau alasan kenapa gue suka banget sama gavin, simple aja karena gue suka pria tampan dan kaya. Gavin adalah calon potensial yang gue harap akan jadi suami gue kelak, dia memenuhi semua syarat.


Pagi-pagi gue mengendap-endap masuk ke kelas gavin. Sebagai pengaggum rahasia gavin, gue tentu aja hafal di mana letak cowok idola gue itu duduk. Dia selalu duduk di barisan nomor dua dari depan.


Gue menaruh kotak kecil berwarna pink yang berisi kue tart hasil karya gue, yang buat gue semalaman harus begadang dan melupakan ujian matematika gue hari ini.


Setelah kue itu ada di atas meja gavin, gue kembali ke kelas gue dengan senyum yang gak pernah lepas dari wajah cantik gue. Gue yakin 100 % kalau gavin gak akan menolak gue, gue bisa jadikan kepopuleran gue sebagai taruhannya.


Jam pulang sekolah, seluruh siswa berhamburan keluar kelas. Semua orang pusing akibat ujian matematika yang super duper susah dari bu Emi. Sementara gue memutuskan untuk tetap duduk di kelas sambil menunggu kemacetan reda.


Tiba-tiba gavin muncul bersama teman-teman nya. Dan gue perhatikan gavin membawa kue tart yang gue buat untuk dia. Perasaan gue langsung berbunga-bunga dan yakin banget kalau gavin akan menerima perasaan gue.


"Nad ikut gue sebentar yuk "


Tuh kan bahasanya udah menjurus nih, tenang nadin lo harus tetap stay cool walaupun jantung lo udah berdebar-debar terus.

__ADS_1


"Kemana? "


"Ikut aja "


Gavin dan gue berjalan bersisian di sepanjang lorong. Tidak ada satupun yang berniat membuka percakapan sampai kami tiba di tengah lapangan. Suasana lapangan masih ramai karena ini memang masih jam bubaran pulang sekolah.


Beberapa anak yang tadinya berniat pulang jadi berputar balik karena melihat gavin dan gue yang berdiri di tengah-tengah lapangan. Tiba-tiba banyak temen-temen sekolah yang Sudah mengerubungi kami, mungkin gak sih gavin mau nembak gue di tengah lapangan?


Duh jadi gini ya rasanya jadi pemeran utama di sebuah sinetron?  Gue malu tapi seneng karena banyak mata yang memperhatikan kami apalagi fans-fans gavin yang jumlahnya gak terhitung itu.


"Guys..  Kalian tau nggak? "Ujar gavin setengah berteriak supaya semua orang yang ada di lapangan ini mendengarnya.


"Hari ini gue dapet sebuah kue tart dari cewek paling cantik di SMA Garuda "


"Ciyeee..... " suasana menjadi riuh, gue tau banget pasti wajah gue sudah memerah sekarang.


"Cewek yang katanya bunga nya SMA Garuda ini bukan cuma ngasih gue kue loh.. "


"Ciyeeee..... "


"Dia bilang dia Cinta dan sayang sama gue "


"Ciyeee...... "seloroh seluruh murid yang memperhatikan kami.


"Terus apa jawabannya nih vin? "Celetuk salah satu murid yang gue tahu dia anak IPS 2.


"Kalian mau tau jawabannya???? "


"Jawab jawab jawab "dengan kompak seluruh orang berkata seperti itu.


"Jawabanya...  "Gavin melirik gue.


"Tentu aja nggak lah, gila kali gue mau terima cewek gold digger ini jadi pacar gue. Cewek ini gak lebih dari seorang cewek matre yang cuma mau sama kekayaan gue aja "


Jleb, gue cuma bisa diam meresapi perkataan gavin. Kalian tau rasanya di posisi gue gimana?  Malu bercampur sakit hati. Dan catat perkataan gue, mulai sekarang bagi gue gavin christopher gak lebih dari seorang pecundang yang gak punya hati.


Gavin Christopher


Setelah mengantar hirata pada Mr. Matsumoto, gue dan nadin pamit pulang menuju penginapan kami. Terus terang gue ngantuk banget dan capek kalau harus mengemudi untuk kembali ke resort. Untungnya nadin bisa baca situasi, dia menawarkan diri untuk jadi pengemudi menggantikan gue yang mata nya sudah  5 watt.


Tapi anehnya saat sudah berada di dalam mobil, rasa kantuk gue hilang begitu saja tergantikan oleh perut gue yang gak bisa diem dari tadi.


"Nad... kita mampir ke restaurant cepat saji dulu yuk, gue laper "


"Sama "


Setelah membeli dua buah burger lengkap dengan minumannya. Gue dan nadin memutuskan untuk duduk di pinggir pantai Kuta. Gila ! gue baru sadar ini waktu terlama gue begadang, rekor banget seorang gavin masih melek di jam 3 pagi. Walaupun gue insomnia, tapi jam 3 pagi sudah benar-benar batas maksimal gue begadang.


"Kok lo bisa kepikiran sih vin nyari hirata di toko mainan ??"


"Haha gue berdasarkan insting aja, dulu gue pernah begitu soalnya "


"Maksudnya? "


Gue menyeruput minuman gue sebentar sebelum melanjutkan cerita.


"Jadi  dulu gue pernah kabur dari rumah gara-gara mau beli robot iron man "


"Terus? "


"Ya terus gue ke toko mainan, cuma bawa uang 5 ribu hehe padahal harga robot itu 20 ribu "


"Terus lo sia-sia dong kabur? "


Gue menggeleng dengan cepat. "Gue tetep dapet robot iron man itu tapi dari seorang cewek "


"Playboy dasar "


"Bukan salah gue dong terlahir ganteng "gue terkekeh, lihat sebentar lagi nadin mau muntah denger omongan gue.


"Najis "


Gue terkekeh lagi dan lagi. "Buktinya lo dulu naksir sama gue "


"Itu masa lalu dan bagi gue itu AIB "


Sumpah gue bener-bener ngakak saat melihat ekspresi wajah nadin yang melihat gue seakan gue kuman yang harus dia hindari.


Lama kami diam dengan fikiran kami masing-masing. Angin pantai yang berhembus kencang membuat bulu-bulu gue meremang. Gue menengok ke samping gue, nadin hanya mengenakan celana pendek persis seperti dugaan gue.


Gue melepaskan jaket yang gue kenakan, gue menyelimuti ehm paha nadin yang terekspos bebas dan kalau boleh jujur sempet buat gue menelan saliva. Tentu aja selain supaya terhindar dari fikiran kotor, gue ngelakuin itu sebagai bentuk tanggung jawab seorang bos kepada bawahannya.


"Gue gak butuh "nadin mengembalikan jaket itu pada gue.


"Nad, anggap ini bentuk tanggung jawab gue sebagai bos lo "


Nadin berfikir sejenak, kemudian mengambil kembali jaket yang tadi dia kembalikan.


"Thanks vin eh maksudnya boss "


Gue terkekeh mendengar nadin yang bingung dengan panggilannya ke gue. Gue Juga terkadang bingung sih, gue sama dia memang pernah menetapkan aturan kalau kita menggunakan saya-anda sebagai panggilan kami saat berkomunikasi, tapi semakin lama kok jadi aneh dengan sebutan itu.


Kami kembali terdiam, gue melirik jam di pergelangan tangan gue. Kenapa waktu di Bali terasa cepat banget ya. Kok bisa sekarang sudah pukul 5 pagi. Dan hoam gue mulai ngantuk saudara-saudara. Samar-samar gue melihat cahaya matahari mulai nampak walaupun masih tertutup awan. Gue merasa kepala gue tertahan oleh sesuatu yang sedikit keras seperti bahu.


Mata gue rasanya berat banget, gue memejamkan mata tapi belum betul- betul masuk ke alam mimpi. Gue bahkan masih bisa mendengar nadin berbicara sesuatu yang membuat sudut bibir gue tertarik ke atas.


"Gavin..  Happy Birthday "


"Makasih nadin "


Dan setelah nya gue bener-bener sudah masuk ke alam mimpi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2