
Nadin meminum susu coklat sambil membaca secarik kertas dengan tulisan tangan rapih di sana. Senyum wanita itu tidak bisa hilang saat membaca pesan yang dia temukan di bawah gelas susu coklat nya itu pagi ini. Terlebih kenyataan saat ini dia berada di tempat tidur gavin. Tentu saja nadin bisa menebak siapa orang yang sudah memindahkannya dari sofa ruang tamu ke tempat tidur yang nyaman ini. Pasti Gavin.
Pagi nadin sekretaris gue
Sebagai bos lo yang baik, hari ini gue akan kasih lo libur sehari, tapi tenang lo tetap di bayar sesuai gaji lo ( pasti lo langsung senyum-senyum sendiri ). Oh iya thanks buat semalam ( kok kesan nya kita abis ngapa-ngapain ya 🤔 ). Ah udah, apapun itu yang jelas gue berterima kasih dan gue minta maaf atas nama bokap gue tentang kejadian semalam. Lo boleh ngapain aja di apartemen gue hari ini, lebih bagus kalau lo bebersih apartemen gue 😁 .
Gavin
Nadin bangkit dari tempat tidur kemudian berjalan ke ruang tamu untuk mengambil ponsel nya yang dia letakkan di dalam tas. Nadin menghela nafas saat mendapati ponsel nya lowbat dan parah nya dia tidak membawa charger. Oh iya kenapa dia tidak meminjam milik gavin, bukankah handphone mereka sama.
Nadin berjalan kembali ke kamar gavin untuk mengambil charger. Dia membuka laci di samping tempat tidur gavin, siapa tahu saja lelaki itu menyimpan charger disana. Tapi betapa terkejut nya nadin, bukan charger yang dia temukan tapi beberapa obat dengan tabung bening disana. Kali ini nadin tidak bisa menahan diri untuk tidak keppo, dia harus tahu sebenarnya itu semua obat apa. Kalau benar gavin sakit kenapa pria itu terlihat baik-baik saja. Tapi kalau dia sehat kenapa dia mengkonsumsi semua obat ini, di lihat sekilas oleh orang awam saja jelas sekali kalau itu bukan vitamin.
Baiklah, nadin putuskan untuk menuruti insting keppo nya. Dia harus tahu sebenarnya apa yang terjadi pada gavin. Nadin segera menyambar obat-obat an itu kemudian memasukkan nya kedalam tas. Dia sudah tidak perduli lagi dengan handphone yang lowbat bahkan penampilannya sekarang.
Dia harus segera bertemu agatha, dia pasti tahu fungsi dari semua obat ini. Ya teman kuliah nya memang berprofesi sebagai dokter. Untung saja nadin masih ingat dimana teman nya itu bekerja sekarang.
Nadin sampai di sebuah rumah sakit sederhana di pinggir ibu kota. Agatha memang sengaja memilih rumah sakit itu, karena agatha tulus ingin membantu orang-orang tidak mampu di sana. Padahal agatha berasal dari keluarga yang sangat terpandang. Bahkan papah agatha memiliki sebuah rumah sakit di Singapore.
"ta.. Jadi itu obat apa ?"nadin menatap teman nya yang nampak cantik menggunakan hijab.
"ini punya siapa nad ?"agatha malah bertanya balik dan nadin tidak suka melihat tatapan mata agatha, wanita yang sering membanyol itu nampak sangat serius.
"itu... Punya bos gue "
Agatha menaikkan sebelah alisnya, wanita itu tentu saja tidak percaya. Dia kenal nadin cukup lama, dan agatha tahu persis teman nya itu tidak mungkin rela jauh-jauh datang ke rumah sakit ini hanya untuk bertanya mengenai obat boss nya. Hey semua teman yang mengenal nadin tahu perisis wanita itu tidak perduli pada apapun kecuali uang.
"pacar lo nad yang punya obat ini ?"
Nadin sedikit terkejut dengan pertanyaan agatha. Dia juga bingung harus berkata apa. Pada kenyataannya gavin memang bukan pacarnya, hanya saja... Nadin berharap suatu saat.
Nadin menggeleng. "beneran bukan ta "
Agatha terkekeh pelan karena nadin masih belum berubah rupanya. Gadis itu masih polos seperti dulu. Bahkan dia tidak bisa berbohong dengannya. Kali ini agatha mengalah, mungkin nadin belum mau bercerita tentang lelaki ini padanya. Tapi cepat atau lambat agatha yakin nadin akan menceritakan prihal lelaki itu. Karena seorang nadin akan sangat amat bawel saat dia menceritakan pria yang bisa menarik simpati nya.
Dulu agatha ingat, nadin pernah mengajak nya menginap di sebuah hotel hanya demi menceritakan prihal lelaki itu. Lelaki yang pernah membuat seorang nadin nyaris gila karena nya. Tapi sayang agatha lupa nama lelaki itu, yang dia ingat hanya lelaki itu menolak cinta nadin, lalu membuat nadin sakit hati. Dan itu pertama kalinya agatha menyaksikan sendiri seorang nadin menangis hanya karena seorang laki-laki.
" tha, lo jangan bikin gue makin penasaran deh, buruan jelasin itu obat apa "suara cempreng nadin membuat kesadaran agatha kembali.
"okey.. Okey.. "agatha kembali menunjukkan wajah serius.
"jadi.. Ini obat tidur nad"agatha menunjuk tabung bening dengan pil merah di dalam nya. "dan yang ini.... "agtha masih memandang tabung berisi pil berwarna putih.
"apaan ta ?"
"obat anti depresan "
Gleg...
Nadin mencoba mencerna semua perkataan agataha. Jadi inti dari semua obat ini adalah gavin depresi. Wajah nadin langsung berubah pucat. Kenyataan bahwa gavin mengalami depresi yang hebat membuat nya begitu terpukul. Wah sepertinya nadin harus betul-betul memuji kemampuam akting gavin. Lelaki itu pandai sekali menyembunyikan perasaan nya.
"jadi cowok lo harus di tangani nad, kalau nggak dia bakal lebih parah "ujar agatha, nadin masih terpaku di tempat nya.
"gue nggak nyangka ta segitu parah nya kondisi dia "
"depresi itu masih bisa di sembuhin kok nad, tapi dia harus ke psikiater. Lo harus selalu perhatiin dia nad.. Karena dalam beberapa kasus orang yang mengidap depresi bisa sampai..."
"sampai apa ta ?"ujar nadin yang nampak mulai panik.
"bunuh diri "
Sebuah kalimat dari agatha berhasil membuat nadin seperti tersambar petir di siang bolong. Kenyataan bahwa kondisi gavin ternyata begitu mengkhawatirkan membuat nadin semakin yakin untuk menjaga lelaki itu, entah sebagai sekretaris,teman atau sebagai wanita yang masih mencintai gavin. Dengan ini nadin yakin pertahanan nya runtuh seketika, usaha move on yang selama ini nadin lakukan sia-sia saja.
Nadin Almira Queen
Entah apa yang membuat gue saat ini duduk di coffee shop di dekat kantor untuk menemui gavin. Perkataan agatha tadi siang mengenai kondisi gavin, membuat gue semakin ingin melindungi lelaki itu. Mempengaruhi otak dan logika gue sampai akhirnya gue memutuskan untuk duduk disini di temani secangkir espresso panas dan sepotong cheesecake.
Beberapa menit yang lalu gue mengirimkan sebuah pesan untuk gavin. Gue mengatakan kalau gue ingin bertemu dengan nya sepulang kantor. Sejujurnya gue juga bingung dari mana gue harus memulai berbicara pada gavin nanti, apakah gue harus berbicara tentang misi kita untuk mencari tahu kebenaran di keluarga gavin atau mulai dari gue yang berniat menyembuhkan depresi gavin.
Ah kenapa disaat seperti ini otak cerdas gue tidak lagi berfungsi sih. Baru saja di bicarakan gavin sudah muncul dari pintu masuk. Oke untuk beberapa saat gue terpana melihat gavin yang nampak acak-acakkan tapi masih terlihat tampan di mata gue.
"hai nad "gavin langsung duduk di hadapan gue, astaga kenapa jantung gue gak bisa di kontrol
Jedag jedug
"jadi .. Setelah libur seharian sepertinya lo lebih baik "gavin tersenyum.
__ADS_1
"ahh.. Gak ada yang lebih bahagia dari libur yang di gaji, terima kasih bos gavin "gue mengedipkan sebelah mata.
"jijik gue dengernya "gavin terkekeh, gue tau dia gak berniat berbicara seperti itu.
"itu espresso ya ?"gavin langsung merebut kopi yang belum gue sentuh karena tadi masih panas. Dan gue cuma bisa pasrah saat gavin menenggak cairan hitam itu di hadapan yang punya.
"enak.. Lo tau banget selera gue "
"itu punya gue... "gue berkata lirih, melas banget gue udah nunggu itu kopi sampai sedikit dingin eh malah diminum sama pria kurang ajar ini.
Rasanya tuh kayak lo udah pacaran lama eh pacar lo malah nikah sama orang lain, ea ea..
"hahah.. Yauda gue pesen lagi, gitu aja sensi. Pantes masih jomblo "
Gue mendelik."nggak ada hubungan nya ya ! Dan apa lo gak ada kaca di rumah ? Jomblo ngatain jomblo "gue mendengus, sialan gavin dia gak tau apa kalau di katain jomblo bisa buat darah tinggi gue naik.
Gavin malah terkekeh."haha... Makanya kalau nyari cowok nggak usah deh yang terlalu sempurna nad. Harus ganteng lah, kaya lah, baik lah. Cowok kayak gitu cuma lo bisa temui di drakor "
Ini kenapa gavin jadi nyebelin banget sih, niat gue untuk bantu ini orang rasanya mau luntur kalau liat kelakuan dia yang nyebelin parah begini. Untung ganteng.
"lo gak usah sok tau deh sama selera gue "gue berkata datar, gue beneran kesel sama perkataan gavin sumpah.
"loh gue gak salah dong ? Lo emang cari pria Tampan,Kaya,dan baik kan ? "
"kalau lo masih mau ngeledek gue, mending gue pulang "gue baru saja berdiri dari bangku, gavin memegang lengan gue.
"iya gue minta maaf "gavin berkata dengan nada lembut.
Ini gue gak salah denger kan ? Gavin minta maaf dengan nada yang lembut , sama gue ?
Gue kembali duduk di hadapan gavin, pria itu kembali tersenyum.
"gitu dong "ujarnya sambil tersenyun lebar.
Okeh gue mulai GR , entah sudah berapa kali pria ini tersenyum sejak melangkahkan kaki di coffee shop ini. Kalian pasti mikir gue lebay ? Masa cuma karena gavin tersenyum saja gue langsung GR. Tapi asal kalian tau, sejak kenal gavin sampai jadi sekretaris nya, gue dan gavin memang jauh dari kata akur. Gue juga gak tau kenapa cowok ini sensi banget sama gue hanya karena gue matre.
Gue baru sadar sekarang, kenapa juga gavin terkesan membenci gue ya dulu ? Toh dia bukan salah satu mantan pacar gue yang rugi karena gue jadikan ATM berjalan. Jadi gavin nggak pernah gue buat rugi dong harusnya.
Coffee pesanan gavin tiba, si mbak-mbak yang mengantarkan kopi nya sengaja banget pake gerakkan slow motion cuma buat taruh kopi di meja doang. Bisa gue liat si mbak lagi curi-curi pandang ke arah gavin.
"nih.. Kopi punya nona nadin "gavin mendorong cangkir kopi itu mendekat ke arah gue.
Gue memutar bola mata, kenapa gavin dari tadi bicara nya seperti itu sih menjurus menjurus modus. Gue harus pasang prisai anti baper kan.
"jadi gini.. Ini tentang papah lo vin "
Wajah gavin langsung berubah saat gue menyinggung prihal papah nya. Gue bisa tebak gavin tidak suka dengan pembicaraan ini. Wajah gavin terlalu mudah terbaca.
"gue.. Gak suka lo bahas ini, walaupun semalam kita sudah berbicara mengenai papah. Tapi jujur nad gue belum siap "tanpa sadar gavin kembali meminum kopi milik gue untuk yang kedua kalinya, oke kali ini gue biarkan aja lelaki ini, gue maklum.
"tapi vin, kalau nggak sekarang mau kapan lo mulai ... "gue menatap gavin walaupun pandangan lelaki itu hanya tertuju pada cangkir kopi nya.
"lo gak pernah ada di posisi gue nad, bertahun-tahun gue hidup begini, maksud gue lo tau.. Gimana rasanya jadi anak yang hadir cuma sebagai alat pewaris orang tua nya. Sakit nad "gavin berkata lirih, gue tahu nggak mudah bagi nya untuk jujur seperti itu.
"vin... Lo itu penting bagi semua orang, setidaknya bagi semua karyawan di kantor "spontan gue jawab begitu.
Gavin menatap gue sambil tersenyum tipis."iya sih .. Kalau nggak ada gue siapa yang gaji lo ya nad "
"betul betul "gue mengangguk-angguk. "lebih dari semua itu vin.. Gue mau lo .. Sembuh "
Wajah gavin berubah lagi,kali ini ekspresi wajahnya sulit gue baca.
"maksud lo apa nad ? Gue gak sakit . Ngaco "gavin tertawa sambil mengalihkan pandangannya, gue tahu dia menghindari tatapan gue.
"iya lo emang gak sakit, jadi lo gak butuh semua obat tidur dan obat anti depresan itu "tanpa sadar gue mengucapkan hal itu, padahal sebelum bertemu gavin gue sudah mewanti-wanti pada diri gue sendiri untuk tidak mengatakannya.
Gavin menatap gue tajam, oke nad lo harus siap dengan resiko di benci gavin karena ini.
"lo.. Buka laci kamar gue ? Lo ... "
"gue nggak sengaja "
"lo nggak usah ikut campur deh nad dengan kehidupan gue, lo nggak lebih dari sekretaris gue dan kita gak punya hubungan lebih dari itu ! "gavin setengah berteriak, membuat beberapa pengujung cafe menatap kami.
"kalau lo berfikir hanya karena hal-hal yang akhir-akhir ini gue lakukan atas dasar karena gue suka sama lo. Lo lebih baik bangun nad ! Dan mulai sekarang lo gue pecat " gavin berdiri kemudian berjalan meninggalkan cafe.
__ADS_1
Gue menatap punggung gavin yang semakin menjauh sampai menghilang di balik pintu. Tanpa gue sadari sebulir air mata menetes dan semakin lama semakin deras mengalir di pipi gue.
Beberapa pengunjung cafe menatap gue dengan tatapan iba. Iya gue tahu, mereka pasti berfikir kalau gue adalah wanita yang baru saja di putusin pacar nya. Padahal kenyataan nya gue hanya wanita yang baru saja jadi pengangguran. Kehilangan pekerjaan dan kehilangan pria yang masih gue sayangi.
Gue menaruh beberapa lembar uang seratus ribu di atas meja. Kemudian gue menyambar tas dan handphone yang tergeletak di sana. Disaat seperti ini gue butuh pelampiasan, gue nggak mau sendirian hari ini. Satu nama langsung muncul di otak gue, Tristan. Cuma dia satu-satu nya yang pasti akan mengangkat panggilan gue di jam segini. Drakula itu pasti sekarang sedang berada di salah satu club di Jakarta, berjoget di sana sambil meminum alkohol.
"tris .... "
"yes baby... " suara riuh terdengar di telfon tristan. "tumben telfon gue lagi, ada perlu nih pasti " tristan terkekeh di sebrang sana.
"well .. I'am just miss you "
"i know you nadin.. Cepetan gue lagi asik nih "
"lo dimana ?"
"tempat biasa "
"20 menit lagi gue kesana "
"oke "
Sambungan telfon terputus, gue langsung memesan taksi online karena hari ini mobil gue terpaksa masuk bengkel karena menabrak separator busway tadi siang. Kurang sial apalagi gue hari ini, ingin rasanya gue melempar semua tagihan yang gue keluarkan hari ini hanya karena seorang gavin.
Gue memicingkan mata berusaha mencari sosok pria tinggi dengan perawakan blasteran german-manado, ya dia tristan. Suasana club malam ini ramai seperti biasanya, semua orang berjoget di lantai dansa dan beberapa hanya duduk sambil menikmati minuman mereka. Untungnya mata gue cukup tajam untuk menemukan tristan di kerumunan orang yang sedang menggoyangkan badan mereka di dance floor.
"tris... "gue menepuk pundaknya,pria itu menoleh.
"baby... "tristan langsung memeluk gue cukup erat, bau alkohol langsung menyengat di indra penciuman gue.
"tumben kesini ? Nggak mungkin karena kangen sama gue kan ?"tristan terkekeh, pria ini memang selalu ceplas ceplos seperti dulu.
"gue lagi bete "gue mengikuti gerakan tristan, kami ikut euforia orang-orang yang menikmati dentuman suara musik yang di mainkan oleh sang DJ.
"haha kenapa ? Lo abis di labrak ? Atau ada cowok yang gak ngasih lo duit ? Atau lo abis kena semprot istri bos lo gara-gara jadi pelakor ?"sindir tristan, sial.
"nggak lah.. Gue kan cinta nya sama lo doang tris "
"gue percaya lo serigala "tristan terkekeh.
Gue dan tristan kembali menikmati alunan lagu sambil menggoyangkam badan kami. Setidaknya untuk malam ini gue mencoba lupa, lupa kalau mulai besok gue pengangguran, lupa kalau gue di benci sama gavin, lupa kalau gue masih cinta lelaki itu.
Jika kalian kenal jasa cuci otak dan hati, please kasih gue nomor telfon nya. Gue betul-betul membutuhkan jasa pencucian itu.
Setelah hampir setengah jam gue berjoget bersama tristan, kami memutuskan untuk menepi di mini bar. Kami berdua memesan minuman yang sama pada si mas bartender yang sepertinya baru berumur 20 tahunan.
"jadi gimana ? Udah hilang belum BT lo ?"
"lumayan berkurang, lo emang paling tahu cara bersenang-senang. cheers " gue dan tristan saling membenturkan gelas kami sebelum meminumnya.
"tentu.. Gue kan selalu jadi one call away lo "tristan terkekeh.
Gue meringis karena membenarkan perkataan tristan. "jadi setelah putus sama gue, lo gak pernah punya pacar tris ?"
"gue ? Hahahhaa pertanyaan lo lucu "
"di bagian mana lucu nya sih ?"
"ya mana mungkin lah cowo tampan dan tajir kayak gue lama-lama jomblo, lo fikir gue betah "
"terus mana cewek lo ?"
"tuh yang lagi mandangin lo sambil melotot "tristan menggedikkan bahu ke arah wanita yang berambut pirang di belakang gue.
"gue mau lihat apa rambut lo cukup kuat buat tahan jambakkan dia ? Hahaha "tristan tertawa terbahak-bahak. Sial sepertinya pria ini masih dendam sama gue.
"tristan !!!! "gue melotot ke arah tristan yang masih tertawa terbahak-bahak, ingin rasanya gue sumpal mulut nya itu dengan gelas di tangan gue.
Lebih baik gue pulang sebelum si wanita pirang itu mendatangi gue kemudian menjambak rambut gue. Membayangkan menjadi tontonan satu club dan jadi bahan tertawaan tristan membuat gue bergidik ngeri. Sebelum itu terjadi gue beranjak dari kursi, meninggalkan tristan yang memanggil-manggil nama gue.
Langkah gue mendadak terhenti saat hampir menuju pintu keluar. Gue membelalak kaget saat melihat seorang pria berumur yang menggandeng tangan gadis ABG. Mereka berdua baru saja masuk ke dalam club, gue buru-buru menyembunyikan diri di balik pot besar yang di tanami pohon mini palm.
Mata Gue mengekori pasangan beda generasi itu. Mereka berdua duduk tidak jauh dari tempat yang tadi gue tinggalkan. Tangan si wanita meligkar dengan mesra ke lengan si pria. Membuat gue merinding melihat bagaimana wanita itu berlaku ke pria yang lebih pantas di sebut bapak nya.
Dengan ragu gue memotret pasangan itu. Gue tahu sekarang bisa saja gue mengirimkan ini ke lambean atau ke infotainment. Membuat gue mendapatkan sedikit upah karena membongkar kedok seorang public figure.
__ADS_1
Tapi entah mengapa gue malah memilih untuk memasukan posel gue ke dalam tas. Ada perasaan seseorang yang harus gue jaga. Gue berjalan keluar dari club, untung saja ada sebuah taksi yang baru saja menurunkan penumpangnya. Gue masuk ke dalam taksi tersebut, setelah menyebutkan alamat nya gue sedikit memejamkan mata saat taksi itu mulai berjalan keluar area club.
Bersambung