
Gavin Christopher
BRAK
Suara pintu yang tertutup sangat amat kencang membuat gue tahu siapa oknum penyebab nya. Pasti nadin.
Gue panik
Buru-buru gue menempelkan plester untuk meredakan demam di dahi, properti yang sudah gue siapkan untuk mendukung akting sakit gue ini. Kemudian gue bergulung di dalam selimut.
"vin !"suara nadin yang berteriak di depan pintu kamar membuat gue refleks pura-pura batuk-batuk.
"nad... "ucap gue dengan suara yang sengaja di buat serak.
Gue melihat wajah nadin panik, istri gue itu sampai setengah berlari menghampiri gue yang masih berbaring di tempat tidur.
High heels yang dia gunakan belum juga dia lepaskan, gue yakin dia bahkan tidak sadar jika berlari menggunakan sepatu setinggi 10 Cm itu.
Gue jadi tidak enak hati, kalau sampai nadin tahu gue pura-pura sakit mungkin istri gue itu akan murka. Jadi vin lo harus berakting sebaik mungkin.
"kamu kenapa ? Sebelum nya baik-baik aja ?"nadin sudah duduk di tepi tempat tidur, clutch yang tadi dia bawa di lemparkan begitu saja di lantai. Kasian clutch seharga motor itu.
"gak tau, badan aku rasanya menggigil nad uhuk uhuk "ucap gue masih dengan suara yang sengaja di buat serak.
Nadin meraba kening lalu turun ke pipi hingga leher gue. "tapi badan kamu nggak panas "
"terus ini plester kompres demam kamu beli sendiri ?"
Gue mengangguk. "aku tadi nyetir mobil sendiri padahal kepala aku pusing nad "
Nadin mengelus puncak kepala gue, asik akting gue berhasil sepertinya.
"untung kamu gak kenapa-kenapa vin "
"terus.. Uhuk uhuk.. Acara fashion show uhuk uhuk.. Kamu gimana ? "
Nadin menggeleng. "acara fashion show itu gak sepenting kamu vin "nadin tersenyum tipis.
Gue jadi semakin tidak enak hati. Nadin sangat menantikan acara fashion show itu, nyaris setiap hari dia bercerita mengenai acara fashion show itu.
Dan gue... Merusak sedikit kebahagiaan nadin.
Bukan tanpa alasan gue melakukan ini semua. Kalau saja si kampret akbar tidak berulah, gue tidak akan mau bertingkah kekanakan seperti ini dan mengorbankan acara nadin.
*3 jam yang lalu
"hallo ?"
"kok lo yang angkat ?"maki gue saat mendengar bukan nadin yang menjawab telfon gue melainkan si kampret akbar.
"nadin lagi di toilet "jawab nya singkat.
"oh.. "
"by the way, sepertinya gue gak bisa kembalikan nadin ke rumah tepat waktu "
Mata gue langsung melotot. "lo jangan macam-macam !"
Pria itu terkekeh. "lo sensi banget sih sama gue "
"sejak kapan lo pake bahasa informal sama gue ?"tanya gue baru menyadari.
"lo duluan yang pakai bahasa informal, lupa ?"jawab akbar.
Gue mengeram, yakin jika wajah pria itu sekarang pasti sudah sangat menyebalkan.
"gue sih cuma info aja, bukan minta izin sama lo "akbar kembali bersuara.
"heh ! Lo jangan macam-macam. Itu istri gue !"teriak gue yang sudah tidak bisa menahan emosi.
Pria itu kembali tertawa. "vin vin.. Lo ngomong begini seolah lo orang bener aja "
"maksud lo apa !"gue semakin geram.
"lo juga dulu nyaris jadi pebinor "
Gue kembali terduduk di atas tempat tidur. Apa gue tidak salah dengar ? Kenapa akbar bisa tahu ?
"gue kenal hans jika lo penasaran gue tahu dari mana "
Gue tidak bisa menjawab saat akbar mengatakan hal yang membuat gue kaget. Baru gue sadari istilah dunia ini sempit memang benar adanya.
"gue mau ajak nadin dinner, gue bilang sama dia kalau salah satu designer favourite nadin yang ajak.. "
Gue mencengkram permukaan bedcover. Ingin rasanya gue melemparkan ponsel gue yang baru berumur 3 hari ini di lantai kamar.
Tapi gue urungkan niat itu, mengingat betapa gue berjuang untung mendapatkan ponsel limited edition ini.
"lo ngomong gini seolah gue bakalan emosi ? Haha akbar akbar, lo gak tahu seberapa nadin cinta mati sama gue "ucap gue dengan penuh percaya diri.
Tentu saja gue sangat amat percaya kalau nadin tidak akan pernah berselingkuh. Gue dan nadin itu jodoh semua orang tahu itu, buktinya wajah kita saja mirip.
"haha , oke gue percaya. Tapi lo pernah denger istilah... "
Ada jeda sebelum si kampret itu melanjutkan pembicaraan nya, yang sukses membuat mata gue melotot.
"cinta datang karena terbiasa "
"shit !"umpat gue tanpa sadar.
"gue akan terus terang sama lo vin, gue suka nadin "
"....."
"gue cuma kasih tahu lo aja "ucap akbar dengan entengnya.
"sialan !!!"
Pltak..
Gue melotot lalu buru-buru mengambil benda persegi yang baru saja gue jatuhkan ke lantai.
Gue mengelus-elus permukaan layar yang untungnya tidak pecah sama sekali, gue bisa bernafas lega.
"20 juta gue... "ucap gue dengan nada lirih dan tangan yang masih mengelus permukaan ponsel gue itu.
Untung saja si breng*** akbar itu tidak mendengar rintihan gue akibat ponsel kesayangan gue yang gue lemparkan ke lantai.
Gue yakin dia akan menertawakan gue habis-habis an jika mendengarnya. Dengan gontai gue berjalan menuju tempat tidur lalu menjatuhkan diri di atas nya.
Dugaan gue memang tidak pernah meleset saat menebak jika akbar punya rasa yang berbeda pada nadin. Harusnya gue rekam saja semua percakapan gue dan akbar tadi.
Lalu setelahnya gue perdengarkan pada nadin, biar istri gue itu percaya kalau bos nya yang dia puji memiliki sikap santun. Nyatanya tidak lebih dari srigala berbulu domba.
Gue kembali memikirkan cara yang tepat supaya nadin mau meninggalkan acara itu dengan sukarela.
Paksa nadin pulang ?
Gue menggeleng, pasti gue akan di omeli habis-habis an oleh nadin. Di tambah ledekan dari nadin yang mengatakan gue suami yang kekanak-kanakkan.
Telfon nadin suruh dia pulang ?
Hem.. Bisa sih, tapi harus ada alasan dong secara nadin belum lama pergi nya, dia pasti ngoceh lalu mengatakan. Dia belum bertemu si A lah sih B lah dan semua nama orang-orang di industri fashion yang tidak gue ketahui.
Otak gue mulai buntu, mengingat gue bukanlah tipe cowok yang mudah beralasan. Apalagi pakai trik-trik untuk mengelabuhi wanita, duh bukan gue banget.
Bahkan setelah pencarian di situs yang di sebut google, yang orang bilang bisa menemukan apa saja, masih juga belum bisa menemukan cara membuat nadin pulang ke rumah dengan suka rela.
Hah...
Baiklah mungkin sedikit penyegaran melihat timeline instagram bisa membuat gue menemukan ide.
__ADS_1
Isi timeline gue tidak terlalu buruk, gue bisa melihat teman-teman gue disana. Ada yang baru menikah, ada yang sedang berlibur.
Ada yang baru saja memiliki anak.
Tanpa sadar gue meraba foto bayi yang di pajang oleh salah satu teman gue. Bayi itu sangat cantik dengan pipi yang merah, mungkin saja foto itu di ambil setelah bayi itu selesai di jemur di bawah sinar matahari.
Mendadak perasaan itu muncul kembali, gue berharap gue dan nadin juga segera di percaya tuhan untuk memiliki anak.
Pasti akan sangat lucu memiliki versi mini dari gue ataupun nadin bahkan bisa jadi perpaduan antara kami berdua.
Entah kapan tuhan mempercayakan kami untuk memiliki anak. Walaupun kami sudah berusaha, tapi jika memang tuhan belum memberikan kami bisa apa.
Sudah tidak lagi terhitung berapa banyak orang yang mendoakan kami untuk memiliki anak, dan tentu saja tidak sedikit orang juga yang menyindir karena kami belum juga memiliki anak di usia pernikahan kami yang sudah lumayan lama.
Gue menggeleng, sudah vin jangan dengarkan apa kata mereka. Toh selama ini gue dan nadin hidup bahagia. Anggap saja tuhan memperpanjang masa pacaran kami.
"bimo !!!"gue tanpa sadar berteriak saat melihat foto bimo yang sedang tersenyum lebar sambil memegang bola basket.
Belasan tahun gue berteman dengan lelaki lambe itu, tapi baru kali ini gue merasa teramat bahagia melihat foto nya yang sok ganteng itu.
Gue langsung mencari kontak lelaki itu di phone book lalu mendial nomor nya. Masih terdengar nada sambung untuk beberapa saat lalu berganti dengan suara serak orang yang baru bangun tidur.
"hallo bim "
"siapa nih ?"tanyanya, mungkin dia bingung.
"gavin masa lo lupa "
"oh gavin, sorry gue gak save nomor lo "
"sahabat macam apa lo, nomor gue gak lo save "
"baper lo ! Lo kayak gak tahu nomor kalian semua kan bisa mendadak ilang, jika macan betina gue lagi ngamuk "penjelasan bimo sukses membuat gue terbahak-bahak.
Membayangkan bimo berjongkok di pojok ruangan dengan wajah yang ketakutan, membuat gue tidak bisa berhenti tertawa.
Entah apa yang bimo perbuat di masa lalu, sampai dia harus memiliki kehidupan pernikahan yang seperti medan perang.
"ngapain lo telfon gue malem-malem, gak tau apa lo gue capek abis nyuci popok anak gue "bimo kembali curhat yang semakin membuat gue tertawa.
"lo bener bener di perbudak sama istri lo ya bim hahaha , pembantu lo kemana emang ?"
"pulang kampung anak nya sakit "
"oh, terus kenapa gak di laundry aja "
"istri gue gak mau perlengkapan anak gue di cuci orang lain yang gak di kenal, dia bilang gak steril lah, takut kecampur sama punya orang lain lah.. Padahal gue yakin itu sih alibi dia buat ngerjain gue "
Gue kembali terbahak mendengarkan keluh kesah bimo. Pria itu emang dasar nya mulutnya sudah lemes dari orok kali ya, di pancing sedikit langsung deh keluar semua curhatam nya.
"gue turut prihatin bro, gue bantu doa aja "
"awas lo vin, suatu saat lo pasti ngerasain gimana repot nya punya bayi "
Gue tersenyum membayangkan apa yang bimo katakan. Mungkin jika ada di posisi bimo gue juga akan mengeluh, merasa kerepotan, tapi gue bahagia luar biasa.
"jadi lo ngapain telfon gue jam segini ? Gue mau tidur , rontok badan gue seharian jadi babu "
Gue menghela nafas sesaat. "lo kalau berantem sama istri lo gimana cara baikan nya ?"
"lo sama nadin berantem ?!"bimo memekik tapi yang gue dengar ada nada bahagia disana.
"hahaha emang enak, apa gue bilang istri itu awalnya manis, lemah lembut lama-lama berubah jadi kucing garong "
Jawaban bimo yang begini nih, membuat gue terkadang malas curhat sama lekaki lemes satu ini. Selalu saja dia menyimpulkan sesuatu yang di sambungkan dengan curahan hati pribadi.
"gue gak berantem ya, kan gue cuma nanya. Gue sama nadin sih adem ayem aja "kilah gue walaupun memang faktanya gue tidak atau belum bertengar dengan nadin.
"terus ngapain lo tanya gue resep berdamai saat bertengkar dengan istri ?"tanya bimo penuh selidik.
Gue menimbang-nimbang apakah harus menceritakan tentang si kampfreto akbar atau tidak.
Lalu jika gue tidak bercerita, gue rasa gue tidak akan punya solusi atas permasalahan yang mungkin timbul nanti. Terlebih hanya bimo satu-satu nya master yang paling berpengalaman menghadapi istri yang super galak.
"gue cuma jaga-jaga aja.. "jawab gue pada akhirnya tidak sepenuhnya bohong kan.
"nggak mungkin, gue kenal lo cukup lama ya vin.. Seorang gavin gak mungkin telfon orang malem-malem cuma buat iseng "
Well, gue lupa selain memiliki mulut lambe bimo ini pakar nya dalam menganalisis polah tingkah seseorang. Pria itu seperti di anugrahi jiwa detektif. Gak heran kan kalau sifat keppo nya mendarah daging.
"fine. Gue mau nyuruh nadin pulang ke rumah, dia lagi ada di acara fashion show "jawab gue setelah menghela nafas.
"bukan itu kan masalahnya "tembak bimo.
"masalahnya disana ada penyihir yang mau bawa nadin pergi ke dunia lain "
"sakit nih orang "jawab bimo sambil berdecak. "perasaan gue yang setiap hari nonton kartun princess, kenapa jadi lo yang keracunan ?"
"nular mungkin, kan racun nya dari lo "
"sue lo vin, lo kira gue keong racun. Gue tutup ya lo ganggu waktu tidur gue yang limited !"
"ehhhh bim bim, gue serius nih gue butuh saran buat nadin pulang ke rumah tanpa dia harus marah karena gue ganggu acara dia "
Ada jeda untuk beberapa saat sebelum bimo menyuarakan pendapatnya. Semoga aja saran dari bimo tidak membawa gue ke jalan sesat, mengingat bimo sepertinya punya dendam pribadi untuk mengerjai gue habis-habis an.
"hem.. Ini kasus yang lumayan beresiko kawan "
"...."
"bisa jadi resiko nya lo tidur di teras rumah lagi kayak waktu itu "
Gue menghela nafas, mendadak menyesal bercerita pada ditho mengenai tragedi tidur di teras itu. Gue lupa kalau ditho dan bimo 11:12 dalam hal per gosip an.
"buruan gue butuh saran, keburu penyihir itu nyulik nadin "
"vin.. Sumpah denger lo ngomong gini bulu kuduk gue langsung merinding "ucap bimo diiringi tertawa yang cukup kencang.
"bimo !!! Jangan teriak teriak, kendra baru tidur !!!"
Suara cempreng nan galak milik istri bimo tiba-tiba saja terdengar, membuat gue puas menertawakan bimo kembali. Ini nih yang namanya karma di bayar kontan.
"puas vin ketawanya puas "ucap bimo yang gue yakini wajah nya saat ini gondok setengah mati.
"oke oke gue diem, makanya buruan kasih saran kelamaan lo deh "
"ada sih cara paling ampuh, dan terbukti istri gue yang ... Galak , aja mempan "
Dengan semangat gue bangkit dari tempat tidur, memang tidak di ragukan bimo ini punya ilmu mengenai hubungan percintaan sangat banyak. Jam terbang dia sangat tinggi .
"pura-pura sakit "
"hah ?!"gue kembali menaruh kunci mobil di atas nakas lalu duduk kembali di atas tempat tidur.
"lo gak salah ?"
"lo tau kan, cewek itu makhluk yang paling punya hati lembut ( sebenarnya ) "
"...."
"mereka tuh paling gak tegaan, apalagi menyangkut orang yang mereka sayang "tutur bimo penuh keyakinan.
"benang merah nya dimana bimo ??"
"denger dulu makanya, nih lo pura-pura sakit, lo telfon nadin pakai suara yang di serak serak in biar nadin percaya "
"gue kan gak jago bohong, mana bisa gue akting begitu "
"usaha dong makanya ! Cuma itu cara paling ampuh buat nadin pulang ke rumah sekarang juga "
"baiklah, tapi kalau cara ini gak berhasil lo mau kasih gue apa ?"
__ADS_1
"dih, yang butuh siapa yang rugi siapa "
"hahaha bercanda kawan.. Lo sensi lo sekarang, ketularan istri lo pasti "
"heh.. Gitu-gitu istri gue pernah menang kontes ratu kecantikan ya "
"tau deh yang bangga punya istri cantik luar biasa, tapi di rumah garang nya juga luar biasa "gue kembali tertawa tidak tahan rasanya jika mengingat bagaimana nasib rumah tangga bimo.
"bener-bener lo ya vin, gue sumpahin lo ribut mulu sama nadin , gue kasih tau ya doa orang yang teraniaya biasanya cepet di kabulin "
"teraniaya istri lo maksudnya hahahhaha "
Tut.. Tut.. Tut*...
"kenapa kamu senyam-senyum begitu ?"suara nadin membuat gue kembali tersadar.
Istri cantik gue itu sudah berganti baju mengenakan piyama satin warna merah maroon. Rambut panjang nya dia gulung ke atas. Wajah nya juga sudah bersih dari make up.
Diam-diam gue bersyukur menikah dengan nadin. Pantas dulu dia jadi primadona sekolah, tanpa make up aja cantik banget begitu.
Untung dia udah gue beri hak paten jadi punya gue, coba kalau gue gak gerak cepat bisa-bisa nadin di mangsa sama buaya darat, seperti akbar itu.
"besok kamu gak usah kerja ya ? Istihlrahat aja di rumah "nadin menempelkan telapak tangan nya di kening gue.
"tapi kamu udah gak demam vin "
Gue mengangguk dengan wajah memelas, gue misuh-misuh mendekati nadin bagai kucing yang minta makan pada majikan nya.
"mungkin berkat pleseter kompres demam itu kali nad "tunjuk gue pada plester bergambar bayi yang sebelum nya gue taruh di atas nakas.
"aku buatin kamu bubur, gak tau sih enak apa nggak "nadin menatap mangkuk yang dia bawa.
Gue duduk lalu bersandar di kepala tempat tidur. Lalu membawa bubur buatan nadin ke atas pangkuan gue.
"kalau rasanya aneh, gak usah di makan. Aku gak mau kamu makin sakit "nadin mengelus puncak kepala gue.
Duh, pantas aja ya perempuan tuh suka di elus kepala nya, jadi gini toh rasanya. Gue mengangguk lalu mulai menyuapkan bubur buatan nadin ke dalam mulut.
Lumayan enak ternyata, walaupun rasa penyedap rasa ayam yang mendominasi. Untung gue hobi makan mecin.
"vin.. Tadi aku banyak ketemu orang di industri fashion, rasanya gak nyangka bisa jadi bagian dari mereka "wajah nadin berbinar saat mencerirakan pengalaman nya itu, membuat gue merasa tidak enak hati sudah merusak moment berharga nadin.
Walaupun istri gue itu tidak tahu dan pasti gak akan pernah tahu. Jujur saja gue belum siap di amuk nadin, apalagi sampai tidur di teras seperti waktu itu.
"aku seneng kamu enjoy sama kerjaan kamu, tapi inget ya kamu juga harus fikirin kesehatan kamu nad "saran gue hanya di balas anggukan kepala oleh nadin.
Nadin duduk di samping gue lalu melingkarkan tangan nya di lengan gue. Entah kenapa sikap manja nadin yang tiba-tiba begini, membuat firasat gue tidak enak.
Gue mencium adanya udang di balik bakwan.Entah kali ini korban nya saldo ATM gue atau bahkan gue sendiri.
"vin.. Sebenernya aku ada permintaan .. "
Tuh kan betul dugaan gue
"tapi kalau kamu gak mau ngabulin gak apa-apa sih, aku faham kok "
"emang kamu mau minta apa ?"tanya gue mulai penasaran juga dengan permintaan nadin.
Nadin semakin mengeratkan pelukkan nya pada lengan gue, kepala nya pun ikut bersandar di bahu gue. Bukan nya bahagia, firasat gue semakin tidak enak.
"aku mau minta.... Maaf "
Gue menoleh menatap nadin yang sudah menundukkan kepala, tidak seperti biasanya nadin bicara tanpa melihat gue.
"minta maaf buat apa ?"
"minta maaf buat... Vin tapi kalau kamu gak mau maafin gak apa-apa, aku faham kok "nadin kembali mengulangi ucapan nya.
"sayang.. Buruan ngomong jangan buat aku penasaran deh "
"aku.. Gak sengaja ngilangin cincin pernikahan kita "
Jeder...
Gue seperti mendengar petir di malam hari. Mungkin di luar akan turun hujan badai, tapi perkataan nadin jauh lebih membuat gue kagel melebihi petir itu.
"nad, kok bisa !"tanpa sadar gue menaikkan nada suara gue sendiri.
"makanya aku minta maaf, seinget aku waktu itu aku lepas terus aku masukin di saku baju, tapi mendadak gak ada "
Mendadak kepala gue pening, agak nyut nyut an tapi belum ke taraf dimana gue harus minum obat pusing.
"nad.. Kok bisa kamu seceroboh itu sih "
"makanya aku minta maaf gavin, aku beneran gak sengaja "gue merasakan pelukkan nadin mengendur, lalu tubuh gadis itu bergetar.
"aku ganti deh cincin kita "ucap nadin dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Nah kan kalau begini ceritanya jadi gue yang tidak tega.
"emang kamu beli dimana cincin nya ? Aku beli yang sama persis deh aku janji vin hiks "nadin mulai sesenggukkan sambil mengelap cairan yang keluar dari hidung nya.
Gue mengambil sehelai tisue dari atas meja, lalu membersihkan wajah nadin yang sudah penuh dengan air mata.
"udah jangan nangis, cincin itu kan cuma simbol "ucap gue setengah berdusta padahal ada rasa sesak juga saat barang paling penting itu hilang.
Nadin menggeleng. "tapi itu cincin pernikahan kita vin, aku pernah denger mitos kalau cincin nikah hilang katanya rumah tangga kita bisa kacau vin "nadin kembali terisak.
Gue kembali membersihkan wajah nadin dengan tisue baru, dengan hati-hati gue pencet hidung nadin yang pasti sudah penuh dengan lendir.
Srotttt...
"ngapain sih kamu percaya mitos begitu, belum jelas juga kebenaran nya "gue melemparkan tisue bekas ke dalam tempat sampah.
"udah vin bilang sama aku, kamu beli cincin kita dimana ? Terus harga nya berapa "nadin tetap kokoh pada pendirian nya. Istri gue itu sekali punya mau ya begini nih.
Gue menghela nafas sebelum mengatakan ini pada nadin. Entah apa reaksi nya setelah gue katakan asal muasal cincin pernikahan kami.
"oke kalau kamu maksa "
"buruan bilang .. "ucap nadin sambil menggoncangkan lengan gue.
"cincin itu aku beli di paris "
"oke, aku bisa pakai jastip kebetulan temen aku ada yang stay di sana "nadin berucap dengan wajah yang sedikit berbinar, seperti baru mendapatkan pencerahan.
Gue menggeleng. "temen kamu gak akan bisa nemuin itu walaupun dia mengelilingi paris "
Nadin mengangkat sebelah alis nya. "kenapa ?"
"karena cincin itu limited edition nad , cuma ada 10 pasang di dunia "
Nadin tercengang. "terus harga cincin pernikahan kita itu berapa vin ?"
Gue tersenyum. "harga nya... 3 "
"3 juta ? 30 juta ? Atau 300 juta ?"tanya nadin bertubi-tubi.
"harga nya 3 Miliar nad "
Nadin berhenti berbicara, mata nya mengerjap beberapa kali. Entah kemana sikap ngotot yang tadi dia tunjukkan.
"vin... Kamu gak lagi nge prank aku kan ?"
"nggak nad, beneran "
"3 Miliar kamu habiskan buat cincin pernikahan kita ?"
Gue mengangguk. "beneran sayang, udah deh gak usah di... "
"huaaaaaaaaa "tangisan nadin kembali pecah,dan ini lebih kencang dari sebelum nya.
__ADS_1