
Nadin berdiri di depan pintu apartemen gavin dengan perasaan ragu. Sudah sebulan ini dia mencari info mengenai perempuan yang datang bersama Christopher Hadinata di club waktu itu. Dan betapa terkejutnya nadin saat mengetahui fakta bahwa perempuan itu memang benar selingkuhan christopher hadinata. Wanita itu adalah sekretaris christopher, yang dulu pernah menjadi runner up salah satu pemilihan kontes ratu kecantikan di Indonesia.
Berulang kali nadin membulatkan tekat untuk mengetuk pintu apartemen gavin, tapi sebagian dirinya masih mengingat dengan jelas perlakuan gavin terakhir kali mereka bertemu. Hati nadin masih merasakan sakit atas penolakkan gavin dan semua perkataan kasar nya. Nadin akui dia memang wanita bodoh, cinta memang sanggup membuat wanita bodoh. Sesakit apapun perlakuan yang nadin terima, nyatanya wanita itu masih tidak tega membiarkan gavin menderita sendiri.
Nadin menggengam erat paper bag berisi kopi espresso dan sepotong croisant yang dia beli di salah satu coffee shop ternama sebelum berangkat ke apartemen gavin. Seperti sebuah kebiasaan, nadin sudah mulai menjadikan ini sebagai kegiatan rutin nya setiap pagi . Walaupun saat ini dia berdiri dengan sneakers berwarna putih, dan bukan sepatu heels yang selalu menjadi kebanggan nya lagi. Nadin hari ini datang menemui gavin sebagai teman , bukan lagi sekretaris hanya teman yang perduli dengan keadaan teman nya.
Sejak gavin memecatnya, nadin memang belum mendapat pekerjaan lagi. Wanita itu malah memilih mencari info mengenai hubungan christopher hadinata dengan perempuan yang nadin temui tempo hari di club. Bermain menjadi mata-mata yang setiap hari membuntuti kegiatan christopher dari pagi hingga petang.
Dan pada akhirnya usaha nya membuahkan hasil. Nadin berhasil mendapatkan fakta yang mungkin akan menyakiti hati gavin lagi. Dan fakta itu membuat nadin malah tidak tega jika harus mengatakan nya pada gavin, nadin tahu persis lelaki itu pasti jadi lebih terluka.
Tiba-tiba nadin melihat pintu apartemen gavin bergerak, lelaki itu pasti sebentar lagi muncul di hadapannya. Nadin celingak-celinguk mencari tempat persembunyian yang pas, entah mengapa nyali nya mendadak ciut saat ini.Padahal sejak keluar dari coffee shop nadin sudah memantapkan hati nya untuk menemui gavin, membiarkan lelaki itu tahu fakta nya.
Krekkk....
Gavin mencul dari balik pintu apartemen nya. Wajahnya nampak lelah dan lingkaran hitam tercetak jelas di kedua mata nya. Gavin menutup pintu apartemen nya kembali, tanpa sengaja dia menendang sebuah paper bag berlogo coffee shop langganan nya di depan pintu apartemen . Gavin memungut paperbag itu, di dalam nya terdapat sebuah cup coffee dan sepotong croisant. Mendadak sebuah senyum terukir di wajah gavin, dia langsung bisa menebak siapa orang kurang kerjaan yang menaruh paper bag itu disana.
Gavin mengambil cup coffee di dalam paper bag itu. Sambil berjalan menuju lift, lelaki itu menyesap kopi hitam nya.
Berapa lama lo berdiri di depan pintu apartemen gue nad ?
Gavin bergumam dalam hati saat merasakan kopi yang dia minum sudah berubah menjadi dingin.
Nadin keluar dari tempat persembunyiannya sambil menatap gavin yang baru saja masuk ke dalam lift. " gue harap lo baik-baik aja vin " gumam nadin dalam hati.
Gadis itu berjalan menyusuri lorong apartemen, menuju lift yang terletak di ujung lorong. Setelah memencet tombol G, lift itu bergerak turun. Nadin menyandarkan punggung nya di dinding lift. Tangan kanan nya masih memegang amplop coklat yang berisi bukti mengenai perselingkuhan christopher hadinata. Nadin jadi tidak tega untuk memberikan amplop ini pada gavin, lelaki itu pasti akan sangat amat terluka jika tahu kalau apa yang selama ini gavin curigai memang benar, papah nya berselingkuh.
Tadinya Nadin memang berniat untuk menyerahkan amplop itu pagi ini. Dia pernah berjanji pada gavin kalau dia akan membantu lelaki itu mencari fakta mengenai papah nya. Tapi pada akhirnya saat nadin sudah mendapati fakta itu, nadin malah menyesal pernah berniat membantu gavin.
Ting ..
Pintu lift terbuka di lantai dasar, nadin keluar dari lift tanpa menyadari ada seseorang yang berdiri di depan pintu lift. Seseorang yang tangan kiri nya memegang paper bag dan tangan kanan nya memegang sebuah cup coffee.
Gue nggak suka berhutang nad
Suara Shawan Mendes menggelitik di telinga nadin. Tanpa menolehpun nadin tahu siapa pemilik suara yang menyerupai suara Shawn Mendes itu, iya dia gavin.
Nadin menoleh dan mendapati gavin berdiri di sana tepat di sampingnya. Lelaki itu tersenyum canggung. Untuk beberapa saat mereka berdua hanya saling pandang dengan fikiran mereka masing-masing. Sampai suara gavin memecah kecanggungan diantara mereka.
Coffee ?
Gavin menyerahkan sebuah cup coffee di tangannya. Nadin menerima nya dengan senang hati sambil mengucapkan terima kasih. Gavin mengedikkan bahu ke arah lobi. Nadin menganggukan kepala, wanita itu berjalan beriringan dengan gavin menuju sofa di lobi gedung tersebut.
Gavin Christopher
Rasanya nyaris gila saat semua pekerjaan mendadak bertambah 2 kali lipat dari biasanya. Tiba-Tiba perusahaan gue memenangkan banyak tender mulai dari pembangunan mall baru yang menunjuk perusahaan kami sebagai pengembangnya sampai peluncuran produk baru di anak perushaan.
Oke gue akuin semua pekerjaan itu nyaris membuat gue pulang tengah malam setiap hari nya. Gue harus mengerjakan setumpuk laporan, mengumpulkan bahan presentasi, memikirkan cara agar cost yang dikeluarkan oleh perusahaan tidak semakin besar, dan setumpuk dokumen yang sudah menanti untuk gue tanda tangani.
Semua gue kerjakan sendiri walaupun gue punya team yang mensuport semua itu, tapi tetap saja pada akhir nya semua kerjaan itu akan menumpuk di gue.
Jujur gue nyesel pake banget udah pecat nadin sebulan yang lalu. Waktu itu gue terlalu terbawa emosi dan berakhir maki-maki dia seperti itu. Dan mungkin ini sejenis azab buat gue, lihat dengan pedenya gue menyombongkan diri dan bilang ke semua orang kalau gue baik-baik saja tanpa seorang sekretaris. Gue bisa melakukan semua pekerjaan sendiri
Kenyataannya gue harus menelan bulat-bulat omongan gue itu. Gue butuh nadin, dia selalu handle jadwal pekerjaan gue, dia selalu bawaain gue makan kalau gue lembur, bahkan nggak jarang dia yang buat slide power point untuk presentasi dengan client. Memang benar apa kata orang, kita baru merasakan kalau orang itu berharga disaat kita kehilangan orang itu.
Beberapa kali Leon, manajer HRD menawarkan gue sekretaris baru. Tapi gue menolak mentah-mentah niat baik nya itu dengan alasan gue masih bisa mengerjakan sendiri. Dan puncak dari kesombongan gue itu seminggu yang lalu, gue harus terbang ke Singapura jam 1 siang demi mendapatkam tanda tangan Mr.James karena dengan bodohnya gue melupakan acara penandatanganan kontrak dengan perusahaan beliau.
Gue terpaksa merogoh kocek 50 juta hanya demi menyewa sebuah helikopter pribadi yang bisa menerbangkan gue ke Singapura siang itu juga. Disaat itu rasanya gue ingin teriak, nadin please come back to me !!!!!
Dan sepertinya tuhan memberhentikan penderitaan gue secara tiba-tiba. Mungkin ini hasil dari gue sholat meminta ampun tempo hari. Wanita yang paling gue butuhkan ada di hadapan gue saat ini. Gue nyaris tertawa menatap penampilan nadin yang 180 derajat berbeda dari yang biasa gue tahu. Nadin yang biasanya selalu rapih dengan style ala wanita karir, sekarang nampak santai dengan t-shirt yang di padukan dengan jaket kulit berwarna hitam dan sneakers berwarna putih.
Tapi gue gak sebodoh itu buat ngakak di depan wanita ini, bisa tambah ngamuk nadin kalau gue komentar mengenai penampilannya. Kesempatan ini akan gue gunakan untuk membujuk wanita ini kembali ke hidup gue, maksud gue ke pekerjaan nya sebagai sekretaris gue. kalian jangan salah paham dulu 😔
Jurus pertama : basa basi buat memulai percakapan.
"gue udah lama nad nggak ketemu lo , gue perhatiin lo tambah kurus " menurut penelitian cewek pasti bahagia kalau di puji begitu.
Nadin nampak mengerutkan dahi nya, ciri-ciri rayuan gue berhasil nih. Gue tersenyum menang.
"gimana gak mau kurus kalau gue sekarang pengangguran "
Nampaknya jurus pertama nggak ampuh, nadin masih marah kayaknya sama gue. Baiklah lanjut ke jurus yang kedua : berikan sesuatu yang dia suka.
"enak kan nad ice americano nya, gue sendiri loh yang pesen gak pake gula "gue tersenyum ala iklan pepsodent.
Nadin yang baru saja menyeruput ice americano nya mendadak tersedak.
"cih .. Pantesan aja pahit banget, lo campur apa ke dalam minuman ini ? " nadin nampak mengeryitkan dahi kemudian menaruh ice americano itu kembali ke atas meja.
Gue salah emang ya ? Bukannya nadin suka ice americano tanpa gula ? Eh itu kesukaan nadin apa kesukaan gue ya ? Mendadak gue jadi linglung.
"ice americano tanpa gula itu kesukaan lo, bukan gue "jawab nadin dengan nada ketus.
Baiklah sepertinya jurus pertama dan kedua masih kurang ampuh. Masa iya gue harus pakai jurus ketiga ? Aduh please jangan dong, bisa jatuh harga diri dan martabak maksud gue martabat gue. Image gue sebagai lelaki tampan nan macho bisa luntur.
Gue merasakan handphone gue bergetar sejak tadi. Ah sial gue tau banget semua pesan itu pasti reminder untuk mengingatkan gue akan meeting. Ini saat nya gue memilih harga diri atau kemungkinan mengeluarkan 50 juta hanya demi helikopter prubadi. Dan gue memilih.....
"nad gue minta maaf, gue tau gue salah udah maki-maki lo, mempermalukan lo bahkan pecat lo tempo hari. Gue nyesel nad .. Gue khilaf waktu itu. Please nad balik jadi sekretaris gue lagi. Gue gak bisa kalau nggak ada lo " dalam satu tarikan nafas akhirnya gue berhasil menyelesaikan kalimat-kalimat itu, dan tentu saja semua itu gue tutup dengan tampang gue yang sok di imut-imut in.
__ADS_1
Gue langsung meminum kopi gue lagi, ah kalau bukan demi bujuk nadin, gue gak mau melakukan itu tuhan. Gue harap-harap cemas menunggu reaksi nadin. Perempuan itu nampak berfikir sambil mengerutkan kening.
Awas aja kalau dia sampai nolak balik jadi sekretaris gue setelah semua kelakuan absurd yang gue perlihatkan di depan dia. Kenapa tadi gue gak bujuk dia pakai tas mahal keluaran terbaru atau lipstik mahal yang biasa dia pakai. Pasti dia langsung setuju.
Sedetik
Dua detik
Tiga detik
Empat lima enam tujuh delapan sembilan sepuluh detik berlalu dan nadin masih tidak bergeming. Gawat masa iya nadin nggak terbujuk dengan wajah imut gue yang orang bilang mirip Ji Chang Wook.
"nad.. Kok lo diem aja sih ? Gue artiin diem lo berarti lo setuju balik jadi sekretaris gue ya ?"
"......"
"nad... Ayolah kasih gue kepastian, jangan gantung in gue gini dong "bujuk gue dengan mata puppies.
Nadin malah menatap gue sambil minum ice americano nya, nadin nampak nya sedang mempertimbangkan untung dan rugi nya jika dia menerima tawaran gue , untuk kembali kerja menjadi sekretaris gue. Harusnya nadin cukup pintar, jelas kembali menjadi sekretaris gue adalah sebuah kesempatan emas, bayangkan di gaji dengan nominal yang fantastis di tambah setiap hari bisa lihat wajah tampan gue ini. Wanita mana yang menolak, apalagi nadin pernah jadi salah satu fans gue, harusnya dia tanpa fikir panjang langsung berkata YA.
"vin... "
"pasti lo mau kan nad ? "gue langsung sumringah mendengar nadin akhirnya bersuara.
"gue akan balik jadi sekretaris lo dengan 3 syarat "
Gue mengangguk-anggukkan kepala seperti boneka anjing di dashboard mobil. Tersenyum lebar supaya nadin makin terpesona dan dengan senang hati mau kembali menjadi sekretaris gue.
"apapun syarat dari lo gue bakal terima "
Nadin nampak tersenyum lebar, gue yakin banget dia lagi gede kepala karena berhasil membuat seorang gavin christopher begini.
"syarat pertama ... Gue mau gaji gue naik "
Gue menganggukkan kepala menyetujui syarat yang nadin ajukan, sudah gue duga dia akan minta naik gaji.
"syarat kedua... Gue mau jadi karyawan tetap bukan kontrak lagi "
Gue kembali mengangguk, syarat dari nadin terlalu mudah gue prediksi.
"oke.. Sebutin aja syarat ketiga nya pasti gue kabulkan "gue tersenyum tanda kemenangan sebentar lagi di depan mata gue.
Nadin menatap gue tepat di manik mata gue. Astaga kok gue jadi grogi gini ya di tatap nadin. Bahkan untuk sekedar menelan saliva saja sepertinya sulit gue lakukan.
"syarat ketiga... Gue mau lo sembuh vin "
Gue langsung diam mendengar permintaan ketiga nadin. Wanita itu mungkin lupa hal yang sudah membuat kita bertengkar terakhir kali. Gue menghembuskan nafas berat, gue laki-laki yang harus membuktikan apa yang sudah gue katakan. Walaupun berat gue akhirnya mengangguk menyetujui syarat ketiga nadin.
"iya nadin, ketiga syarat lo akan gue penuhi jadi... Mulai hari ini lo balik ya jadi sekretaris gue "
Nadin mengangguk, mata nya berbinar-binar. Dia semakin cantik walaupun dandanan nya nggak semenor biasanya. Dan entah kenapa gue .. Suka melihatnya. Entah nadin sadar atau nggak tapi sepertinya syaraf di sekitar bibir gue menuntun gue untuk tersenyum lebar.
Welcome back nadin 😊
Nadin Almira Queen
Gue bersiul-siul sambil bernyanyi di kamar mandi. Menyanyikan lagu Raisa yang judul nya kali kedua. Nggak tahu kenapa setiap kali gue nyanyi di kamar mandi gue ngerasa suara gue lebih merdu dari pada biasanya. Coba aja ada produser rekaman yang lewat, mungkin sekarang gue udah ditawarin bikin album hahha
Sehabis mandi yang di iringi konser dadakkan, gue memilih beberapa pakaian di lemari gue. Menimbang-nimbang outfit apa yang harus gue pakai di hari istimewa ini. Ini hari pertama gue kembali bekerja di perusahaan gavin, kembali menjadi sekretaris nya jadi untuk merayakan hari ini gue akan berpenampilan semenarik mungkin. Akhirnya pilihan gue jatuh pada sebuah blouse putih dengan pita hitam di tengah nya, rambut gue yang bergelombang sengaja gue urai, dan bibir gue yang cipokable ini gue pulas dengan lipstik berwarna pink merk salah satu brand ternama.
Sempurna... Gue senyam-senyum sendiri menatap pantulan gue di cermin. Lihat kan betapa cantiknya Bae Suzy Kw super ini. Gue terkekeh lagi, sampai sebuah pesan masuk ke handphone pintar gue. Nama si ganteng muncul di layar. Tanpa fikir panjang gue langsung membaca pesan dari pria itu.
Nad, hari ini kita meeting di puncak. Saya sudah berangkat duluan bareng dirga. Kamu nyusul ya , alamat nya saya kirim di whatsapp.
Sambil tersenyum gue mengetikkan balasan untuk gavin.
Siap bos, meluncur 🚗
Kalian pasti bingung kenapa gue tiba-tiba sebut gavin si ganteng. Gue cuma niru perkataan banci yang kalau ngamen di kasih seribuan sama cowok terus itu cowok di puji ganteng.
Bingung kan.. Gini simple nya gue puji gavin ganteng karena dia udah kasih gue uang lebih tepat nya dalam bentuk kenaikan gaji yang bisa menjamin pasokan lipstik mahal gue selalu ada setiap hari nya.
Gimana gak mau sumringah saat mendapati nominal gaji di rekening lo yang jumlah nya WOW. 🤑 nadin matre emang.
Gue mengendarai si manja, mobil Mini Cooper gue yang sudah setia menemani gue sejak zaman gue nguber dosen pembimbing. Gue pacu si manja dengan kecepatan sedang di Tol Jagorawi. Untung saja jalanan nggak ramai seperti di akhir pekan. Hanya terdapat mobil dan beberapa container yang menemani gue menuju Bogor.
Akhirnya gue tiba di sebuah hotel yang gavin sebutkan di pesan whatsapp nya. Gue berdecak kagum melihat bangunan super megah yang terpampang di hadapan gue ini. Padahal saat gue menuju ke hotel ini, gue harus melewati jalan sempit yang hanya bisa di lewati satu mobil saja. Dan gue nggak sangka kalau jalanan itu membawa gue ke sebuah gedung dengan halaman yang super luas, rasanya seperti bukan berada di Bogor,
Setelah bertanya pada reseptionis, gue mendapat info kalau gavin sedang bermain golf bersama dengan Bapak Pramodya, salah satu CEO pemilik kerajaan properti yang wajah nya sering nongol di majalah bisnis.
Dengan mantap gue berjalan bak super model di catwalk menuju lapangan golf yang letak nya sudah di jelaskan oleh si mbak receptionis. Beberapa orang yang berpapasan dengan gue terang-terangan menatap gue, iya gue tau sih gue emang cantik pake banget.
Gue membawa berkas-berkas yang sebelum nya gavin sebutkan di pesan whatsapp nya. Akhirnya gue melihat sebuah lapangan hijau yang terhampar luas. Gue menatap sepatu mahal gue dengan nanar, hak sepatu yang setinggi 10 cm ini gue fikir akan berbahaya jika di pijakkan pada hamparan rumput jepang. Membayangkan hak sepatu gue menancap di tanah lalu gue jatuh terjungkal , bukan sakit yan gue takutkan tapi malu apalagi kalau sampai gavin melihatnya, di jamin lelaki itu tidak akan berhenti tertawa.
Sial si gavin, kenapa dia nggak bilang kalau dia mau main golf, gue kan pasti akan bawa sepatu olahraga, ini sih namamya gue saltum. Gue jadi mulai suuzon kalau gavin sengaja nggak memberitahu gue karena lelaki itu berniat mengerjai gue. Harusnya gue mencurigai niat gavin meminta gue kembali menjadi sekretaris nya.
Disaat gue sedang gundah gulana bin galau dengan adegan saltum gue, dengan wajah sumringah gavin malah melambaikan tangan pada gue. Gue yakin dia pasti bahagia banget liat gue saltum begini.
__ADS_1
Gue berjalan super hati-hati berusaha agar hak sepatu sial ini nggak nancep di tanah. Kalian bisa membayangkan kan gimana liat orang jalan sambil berjinjit di atas rumput jepang. Harus tetap mempertahankan citra wanita elegant dan selalu tersenyum. Ya tuhan hambamu tersiksa ini.
"akhirnya datang juga.. "ujar gavin saat gue sudah berada di sampingnya.
"pak pram.. Perkenalkan ini nadin sekretaris saya "
"nadin pak "gue mengulurkan tangan yang langsung di sambut oleh pak pram, sepertinya dia orang yang ramah.
"oh jadi ini yang namanya nadin, bener vin dia mirip sama kamu hahaha "pak pram tertawa di susul gavin yang juga ikut tertawa.
Gue cuma bisa tersenyum menanggapi dua orang pria yang entah tertawa karena apa. Tapi insting gue mengatakan gavin pasti cerita macem-macem ke pak pramodya. Awas nanti gue introgasi bos gue yang rese itu.
"kalau saya punya sekretaris cantik begini ya vin, gak ragu-ragu lah sekalian saja saya jadikan istri " perkataan pak pram sukses membuat gue blushing, ingin rasanya gue bilang saya juga mau pak jadi istri CEO tampan di samping saya ini.
Gavin malah terkekeh, udah gue duga dia pasti anggap ini lucu. Padahal gue harap dia bilang "saya juga mau pak dia jadi istri saya " gue bermonolog dalam hati. Tiba-tiba Gue merasakan ada sebuah tangan melingkar di pundak gue, gue telusuri pemilik tangan itu dan berakhir pada pria yang berdiri di samping gue, Gavin.
"saya dan nadin teman akrab pak "gavin tersenyum menatap gue, ya lord bisa diabetes gue di tatap dengan jarak sedekat ini sama ji chang wook KW.
"semua orang awal nya juga berteman vin "pak pram mengayunkan tongkat golf nya, bola melesat sangat jauh.
"jangan terlalu jadi workaholic vin, uang banyak nggak akan bikin kamu bahagia .. Coba kalau kamu mau punya pasangan, kan enak setiap hari ada yang buatin makan, kalau sakit ada yang ngerawat, dan yang paling penting .. Kebutuhan biologis terpenuhi hahaha " pak pram tertawa sangat keras.
Gue menepuk pelan tangan gavin yang masih setia bertengger di pundak gue. Si pemilik tangan kekar itu malah tersenyum ke arah gue. Mati gue gavin ganteng banget sih.
"hahah aduh romantis nya anak muda zaman sekarang"ujar pak pram meledek gue dan gavin.
Kami berdua hanya bisa tertawa mendengar perkataan pria yang rambutnya sudah nyaris memutih.
"papi.... " sebuah suara membuat kami semua menoleh.
Deg
Jantung gue rasanya ingin lepas saat melihat seorang gadis yang setengah berlari menghampiri kami. Entah dunia ini sempit atau memang takdir buruk selalu mengikuti kami. Wanita itu merangkul lengan pak pram sambil tersenyum lebar. Gue mulai merasakan sebuah firasat buruk.
"gavin.. Nadin.. Pekenalkan ini putri kecil saya namanya Ariska "
"hai .. saya Ariska "perempuan itu menyalami kami satu persatu, dan saat dia berjabat tangan dengan gavin ,perempuan itu seperti enggan melepaskannya.
Gavin berdehem, membuat perempuan berambut pirang itu melepaskan jabatan tangannya. Gue mencium aroma wanita ular disini. Ariska menatap gue dengan tatapan tidak suka saat melihat gavin yang masih merangkul pundak gue. Sengaja aja gue tatap balik gadis itu dengan tatapan terjutek gue, sesama wanita ular gue juga gak mau kalah dong. Jika ariska ini sejenis wanita ular cobra maka perkenalkan gue ular anaconda.
"nggak apa-apa kan kalau ariska ikut kita vin ? Bagaimanapun nantinya ariska yang akan menjadi pewaris saya "
"it's okay pak pram saya faham "gavin tersenyum lebar, bahagia mungkin dia bakalan ada cewek cantik apalagi ariska ini tipe gavin banget.
"jadi nanti malam kita bisa meeting sekaligus dinner gimana ?"tawar pak pram yang di angguki dengan semangat oleh ariska.
"boleh, dengan senang hati "jawab gavin.
Sementara gavin dan dan pak pram berbicara mengenai kerja sama mereka. Diam-diam gue memperhatikan ariska yang sejak dari tadi menatap gavin seolah-olah ingin memakan pria itu hidup-hidup. Gue yakin pakai banget kalau ariska mengagumi gavin,di lihat dari bagaimana pandangan wanita itu tidak pernah lepas menatap gavin. Ingin rasanya gue colok matanya itu, Astagfirullah ngomong apa sih gue.
"jadi nad kamu sudah membawa bahan perentasi nya kan ?"suara gavin membuyarkan lamunan gue.
"udah di bawa kan nadin ?"gavin mengulang perkataannya, sial semoga aja gavin nggak sadar kalau dari tadi gue gak menyimak perkataannya.
"sudah"gue mengangguk walaupun sebenarnya gue gak tau apa yang gavin tanyakan.
Setelah bermain golf, pak pram meminta gavin dan gue menemani putri semata wayang nya itu. Ingin rasanya gue menolak tapi demi profesionalitas gue hanya bisa tersenyum, iya senyum terpaksa. Dan kalian tahu yang terjadi selanjutnya, perempuan bernama ariska itu mengajak gue dan gavin berenang, sial double sial gue benci renang karena gue gak bisa.
Akhirnya gue harus rela duduk di pinggir kolam renang, bersandar pada kursi malas sambil memperhatikan dua orang yang sedang asik tertawa sambil bermain air kolam. Gue menatap ariska dengan tatapan memicing, lihat pakaian yang wanita itu gunakan. Sebuah baju renang super mini yang nyaris menyerupai bikini. Gue yakin banget iler gavin pasti langsung netes liat gunung kembar di hadapannya.
Sementara gue.... Tatapan gue langsung beralih ke aset masa depan gue. Bisa di ibaratkan kalau aset milik ariska gunung fuji, kalau punya gue... Bukit teletubbies. Please kalian jangan ketawa 😡
"nad... Ayo renang payah masa diem-diem aja disini "entah kapan naik ke permukaanya tau-tau gavin berdiri di depan gue.
Gue nggak bisa berkedip melihat pahatan otot yang tercetak sempurna di depan gue. Di tambah rambut gavin yang basah dia gerakkan ke kiri dan kanan, membuat cipratan air nya sedikit terkena baju gue. Oke pemandangan ini bisa bikin iler gue netes. Berulang kali gue mengucap istighfar dalam hati tapi otak gue malah membayangkan potongan adegan film 50 Shades .
"nad nadin... "tangan gavin bergerak di depan wajah gue.
"ayo ka nadin kita berenang bareng "sial kenapa wanita ular itu juga berdiri di depan gue, ganggu pemandangan aja.
"saya.. Lagi menstruasi, tau dong tamu yang dateng tiap bulan " gue terkekeh, dalam otak gue cuma itu alasan paling ampuh. Nggak lucu kan kalau gue bilang gak bisa renang di depan gavin dan wanita ular ini.
"yah padahal kalau ada ka nadin pasti seru "ujar si wanita ular dengan nada manja, dan lihat itu tangannya seenaknya aja rangkul-rangkul lengan gavin.
Kipas,AC, Es Batu, Blower apapun deh please gue butuh sesuatu untuk mendinginkan hati gue yang kebakaran.
"maaf ya next time deh "gue tersenyum, gue yakin banget dalam hati si wanita ular lagi berlonjak bahagia karena gue nggak ikut dia dan gavin berenang.
"bos.. Saya permisi ke kamar dulu ya, mau mempersiapkan bahan presentasi "baiklah gue rasa lama-lama disini gue bisa darah tinggi.
"oke nad, gak salah emang kamu jadi sekretaris saya "gavin menepuk pundak gue.
Gue beranjak dari kursi malas menuju kamar. Sebelum pergi, gue sempat melirik gavin dan ariska yang duduk di tempat gue duduk tadi. Bodo deh gue nggak kuat lama-lama berada disana.
Sesampainya di kamar gue merebahkan diri di kasur king size yang super empuk ini. Gue menyalakan tv supaya kamar yang luas ini nggak terasa sepi. Seketika gue baru menyadari, gue jadi ingat amplop itu. Astaga gue baru ingat amplop itu kemana ya ? Mati gue di dalam amplop itu kan terdapat...
Mendadak gue kalang kabut, gue ubrak abrik tas gue sampai semua baju dan isi nya berceceran di lantai. Kemudian gue beralih ke tas tangan gue, dan hasilnya nihil. Seingat gue terakhir kali, gue masih bawa amplop itu ke rumah, pasti ketinggalan di kamar gue, iya pasti disana.Gue yakin.
__ADS_1
Gue mengacak rambut gue, membayangkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi kalau sampai amplop itu di temukan orang apalagi wartawan. Bisa mati gue balik lagi jadi pengangguran. Lebih dari itu semua, gue lebih takut kalau dia terluka mengetahui fakta itu.
Bersambung