
Nadin berdiri di depan pintu apartemen gavin , sudah hampir 15 menit gadis itu hanya memandang pintu coklat yang berdiri kokoh di hadapannya. Sesekali nadin mengangkat tangan nya ingin mengetuk pintu itu, tapi sesaat kemudian dia urungkan niatnya.
Entah setan mana yang membuat nadin mengalahkan ego dan rasa gengsi nya untuk pergi menemui gavin. Memikirkan lelaki itu sedih sendirian membuat nadin sangat mengkhawatirkan nya. Apalagi perkataan ko ditra yang mengatakan kalau orang yang sedang banyak fikiran bisa saja mengakhiri hidup nya , membuat nadin terpengaruh dan ketakutan sendiri.
Nadin tahu rasanya pasti sangat sedih saat kita harus melalui masa-masa sulit seorang diri, dia pernah ada di posisi itu. Dulu saat kepergian jerry nadin merasa terpuruk dan tidak ada satupun orang yang faham dengan kondisi nya. Sedikit banyak gavin dulu membuat nadin perlahan bangkit dari keterpurukan nya akan kepergian jerry.
Walapun gavin tidak pernah menyadari kalau diam-diam hanya mellihat gavin tertawa sudah membuat hari nadin menjadi kembali ceria. Bagi nadin, gavin dulu adalah penyemangat nya datang ke sekolah. Menggoda pria itu, diam-diam menatap pria itu saat bermain basket, dan melihat pria itu tertawa bersama teman-teman nya. Hal sederhana yang membuat sudut bibir nadin melengkungkan sebuah senyuman.
Tapi walaupun gavin pernah membuat nadin bahagia, lelaki itu juga yang menjadi alasan terbesar nadin tidak bisa merasakan cinta lagi.
Nadin memantapkan diri untuk mengetuk pintu itu, semoga saja si pemilik apartemen tidak memarahi nya atau yang terparah mengusir nya seperti gelandangan.
Tok tok..
Nadin semakin khawatir karena pintu tidak kunjung terbuka. Nadin mencoba mengetuk sekali lagi, jika ini tidak berhasil juga tidak ada cara lain selain mendobrak pintu apartemen gavin. Nadin berdoa kalau sampai dia harus mendobrak pintu itu, semoga saja gavin tidak mengomeli nya atau yang terparah nadin di tangkap security karena disangka maling.
Ceklek
Pintu perlahan terbuka, nadin menghembuskan nafas lega. Hampir saja dia mendobrak pintu itu jika tidak juga ada tanda-tanda kehidupan dari si pemilik apartemen.
Dengan kaos berwarna putih dan rambut berantakkan gavin keluar dari apartemem nya. Gavin mengerjapkan mata berkali-kali karena tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Nadin berdiri di depan apartemen nya , beberapa kali gavin mencoba meyakinkan diri kalau ini hanya halusinasi nya saja. Tapi sebanyak apapun lelaki itu mengerjapkan mata nya, dia tetap menemukan nadin berdiri di sana, tepat di hadapannya.
"hm.. gue boleh masuk ? "tanya nadin dengan nada canggung, jujur saja baru kali ini dia merasa minder melakukan hal ini.
Gavin mengangguk kemudian menggeser tubuh nya agar nadin bisa masuk ke dalam unit nya. Nadin langsung masuk ke dalam saat gavin menggeser posisi berdirinya. Dengan santai nya gadis itu langsung duduk di sofa seperti di rumah sendiri.
"udah makan vin ?"tanya nadin sambil mengamati apartemen gavin, tidak pernah berubah masih sama seperti terakhir kali dia berada disana.
Gavin duduk di sebelah nadin sambil menyandarkan punggung di sofa. Dia memijat pelipis nya yang sejak siang tadi terasa berdenyut.
"vin, udah makan belum ?"nadin mengulang pertanyaannya lagi karena sejak tadi orang yang dia ajak bicara tidak merespon perkataannya.
Gavin menggeleng, boro-boro ingat makan. Dia saja baru bangun dari tidur panjang nya sejak izin pulang dari kantor. Dan berharap apa dia sama isi kulkas di unit nya yang hanya di dominasi oleh softdrink dan air putih.
"gue bawa bubur "nadin menggeser bungkusan yang tadi dia letakkan di atas meja.
Gavin yang awalnya tidak bernafsu makan menjadi tidak enak hati. Sejujurnya melihat nadin yang tiba-tiba datang ke apartemen nya saja sudah membuat hati gavin melompat-lompat. Apalagi di tambah dengan sebentuk perhatian yang nadin bawakan dalam semangkuk bubur ayam, tambah besar kepala lah gavin dibuatnya.
"makasih "gavin membawa mengkuk bubur nya ke atas pangkuan, perlahan lelaki itu menyuap bubur ayam yang nampak terlihat lezat.
Nadin menatap gavin yang sedang menikmati bubur ayam nya. Jujur saja walaupun gavin dengan penampilan yang bisa di bilang acak-acakkan, tapi tidak juga mengurangi ketampanannya sedikitpun. Diam-diam nadin tersenyum, untung saja dia nekat memberanikan diri menghampiri gavin, jika tidak mana mungkin dia melihat penampilan gavin yang tidak biasa ini.
"bubur nya enak, beli di mana nad ?"gavin berujar saat baru saja menghabiskan suapan terakhirnya.
"jelas enak lah, secara yang masak chef terkenal "
"demi bawain gue bubur lo sampai nyuruh chef buat masak?"gavin membelalakkan mata, hanya demi semangkuk bubur nadin meminta tolong pada seorang chef terkenal ? Sungguh ini nadin betul-betul cinta gavin ya ?
"iya.. Enak kan ? Itu dari resto punya nya Ditra , dia baru buka resto di kemang"
Praditra Erlangga Putra
Gavin terdiam saat nadin baru saja menyebutkan sebuah nama yang kemarin berhasil membuat emosi nya naik sampai ubun-ubun. Bahkan ingin rasanya gavin memuntahkan isi di perutnya karena tahu kalau koki gendut yang sialnya berubah tampan itu yang memasak.
Nadin yang menyadari perubahan wajah gavin cukup heran. Kenapa gavin seperti sangat tidak menyukai ditra, seperti punya dendam pribadi yang di tahan-tahan hingga jadi sebuah kebencian seperti itu.
Fikiran nadin menjadi berkhayal pada sesuatu yang tidak sepantasnya dia khayalkan. Dalam imajinasi nya gavin dan ditra merupakan pasangan yang putus karena salah satu dari mereka ketahuan selingkuh. Tapi lama-lama membayangkan nya membuat nadin merinding sendiri, gavin gay ? Ditra gay ? OMO !
"kok diem vin ? Bubur nya enak kan ?"
"tau yang masak si koki gendut udah gue lepehin dari tadi nad"ujar gavin sambil menenggak air putih nya hingga tandas.
"sensi banget sih lo kalau sama ditra"
"ya jelas sensi lah, soalnya dia....."gavin nyaris saja mengucapkan kalimat yang mungkin membuat dia malu setengah mati.
Deket sama cewek yang gue suka, dia buat cewek yang gue suka ketawa sementara gue cuma bisa buat cewek itu nangis doang, Gumam gavin dalam hati.
Dan sialnya gavin bahkan nggak bisa mencela ditra yang sekarang, karena dia nyaris sempurna, walaupun berat, gavin harus mengakuinya. Ditra mampu membuat gavin yang notabene orang yang punya tingkat kepercayaan diri yang maksimal harus turun drajat ke kasta paling bawah.
Gavin berteriak dalam hatinya, semua perkataan yang tadi dia ocehkan di dalam hati, nyatanya hanya mampu dia fikirkan tanpa bisa di ucapkan.
"jadi tujuan lo ke sini apa nad ? Nggak mungkin kan jenguk orang sakit ?hehe " gavin merasa de'javu, pertanyaan ini pernah dia tanyakan saat menjenguk nadin yang tiba-tiba tidak masuk kantor karena sakit.
"kalau gue bilang gue kangen sama lo, emang lo bakal percaya "nadin menaik turunkan alisnya, entah kenapa hari ini dia ingin sekali menggoda gavin.
Gavin yang baru saja di goda seperti itu langsung salah tingkah. Ini serius nadin baru saja menggoda nya, ah baru kali ini gavin beruntung bolos kerja. Seharusnya dia berterima kasih pada papah nya yang sudah membuat kepala nya nyaris pecah karena perkataan lelaki itu tadi siang.
Flashback
"vin.. Papah mau ngomong sama kamu "christopher hadinata duduk di hadapan gavin.
"apa ?"gavin nampak tidak berminat meladeni perkataan papah nya, jangankan meladeni perkataan lelaki itu, kehadirannya secara tiba-tiba saja sudah membuat gavin malas berbicara.
"papah sama mamah ... Memutuskan untuk bercerai "
Gavin terdiam, papah dan mamah nya bercerai adalah sesuatu yang gavin inginkan sejak lama. Tapi jujur dalam lubuk hatinya yang paling dalam dia tidak ingin kedua orang tuanya bercerai.
"oh bagus dong "gavin tersenyum miris, sebentar lagi dia akan menyandang predikat anak broken home.
"kamu nggak keberatan kan ?"
"papah masih tanya pendapat aku ?"gavin menatap papah nya dengan tatapan tajam. Pria di hadapannya ini bukan hanya membuat ibu nya menangis, tapi meninggalkan trauma mendalam bagi gavin.
"kamu masih anak papah, setidaknya kita masih punya hubungan darah"
"hahaha hubungan darah ? "gavin berjalan mengitari meja kerja nya, kemudian berhenti tepat disamping papahnya.
"aku bahkan udah lupa gimana rasanya punya papah"jawab nadin dengan nada sarkas sambil menatap tajam ke mata papah nya.
Christopher hadinata berdiri dari duduknya,menatap tajam anak laki-laki nya yang sudah sangat jarang dia temui. Anak lelaki satu-satunya ini sudah terlalu kurang ajar padanya.
"kamu berbicara seolah-olah papah ini jahat "jawab christopher dengan datar.
"bagus kalau papah sadar"
"asal kamu tau vin,papah nggak akan begini tanpa alasan. Coba tanya mamah kamu"
Gavin muak benar-benar muak dengan papahnya dan semua drama yang di ciptakan lelaki itu. Tidak cukupkah dia membuat keluarganya berantakan. Sekarang lelaki itu malah menyalahkan ibunya yang jelas-jelas memang korban disini.
Emosi gavin memuncak, tanpa sadar dia memukul meja kerja nya, Cukup keras sampai membuat suara gaduh di ruangan yang hanya berisi gavin dan papahnya.
"bagus ! kamu semakin kurang ajar ya sekarang. Apa ini karena sekretaris kamu itu ?"perkataan christopher hadinata betul-betul tidak bisa di tolerir, sekarang bahkan lelaki itu menyalahkan nadin yang notabene hanya orang luar.
"berhenti menyalahkan orang lain pah. Lebih baik papah berkaca. Apa perlu aku belikan kaca supaya papah tau siapa yang salah di sini"
Gavin kembali duduk di kursinya, dia memilih kembali memeriksa berkas-berkas yang menumpuk di meja kerja nya. Meladeni christopher hadinata dan semua dramanya benar-benar membuat kepala gavin terasa berdenyut. Bahkan semua laporan yang harus dia baca pun menjadi tidak jelas dimatanya.
"kalau papah udah selesai ngomong. Pintu keluar di sebelah sana "gavin mengacungkan tangannya menuju arah pintu, tanpa sedikitpun mau melihat papahnya.
Christopher Hadinata memilih diam menghadapi kelakuan anak semata wayangnya. Walaupun sudah menduga putra nya akan bersikap seperti itu, tapi sungguh jauh dalam hati christopher dia masih menyayangi gavin.
"vin.. Jangan bengong deh. Ayam tetangga bisa mati"suara nadin membuat gavin tersadar dari lamunannya.
"gue lagi mikirin lo nad "
"oke gue pura-pura percaya "nadin tersenyum sambil mengacungkan jempolnya.
Suara air di dalam akuarium milik gavin menyelamatkan suasana hening yang kembali tercipta di ruangan itu. Entah kemana perginya skill bawel nadin dan gavin. Mereka malah merasa canggung dan kehilangan topik pembicaraan. Ayolah mereka bukan nya anak ABG yang baru PDKT dong yang masih malu-malu meong. Justru harusnya di umur mereka yang semakin uzur bukan lagi masa nya jadi meong ini saat nya jadi macan, aumm...
"vin.. Main truth or dare yuk"ajak nadin secara tiba-tiba.
Gavin senang bukan main nadin mulai bersikap normal kepadanya. Tidak lagi membuat tembok yang membuat mereka jadi jauh tanpa alasan yang jelas. Tapi jujur saja sikap dan perhatian nadin terlalu luar biasa menurut gavin. Luar biasa membuat gavin GR maksudnya.
__ADS_1
Bayangkan, dia masih bertengkar dengan gadis itu pagi tadi. Gadis itu masih berbahasa sopan dengan nya kemarin. Bahkan gavin masih ingat bagaimana wanita itu habis-habisan menghindarinya kemarin-kemarin. Tapi hari ini sikap nadin luar biasa berubah bukan lagi 90 derajat,mungkin perubahan sikap nadin sudah di tahap 180 derajat. gavin jadi curiga jangan-jangan nadin ini mengidap bipolar.
"TOD ? "gavin bertanya kembali, ide nadin untuk bermain TOD ada bagusnya juga, gavin jadi punya ide- ide gila untuk melancarkan aksi modus pada wanita itu.
Nadin mengambil botol soda dari dalam kulkas gavin. Gavin hanya bisa melongo melihat nadin yang dengan santainya berjalan ke dapur dan mengambil soda, seolah-olah nadin sudah hafal letak-letak gavin menaruh barang-barangnya.
Nadin menenggak habis air soda di dalam botol itu dalam satu tenggakkan. gadis itu menaruh botol soda yang sudah kosong di atas meja. Di liriknya gavin yang masih menatapnya dengan tatapan bingung. Jangankan gavin, nadin sendiri bingung dengan sikap dia.
"oke kita mulai "
Gavin mengangguk."lo jangan nyesel ya kalau gue minta yang aneh-aneh"
Nadin terkekeh, harusnya nadin yang berkata seperti itu. Toh yang ngefans sama gavin kan nadin. Yang suka sama gavin kan juga nadin, walaupun pria itu tidak menyukanya. Setidaknya itu yang selalu ada di fikiran nadin sampai saat ini.
Nadin mulai memutar botol kaca itu, dia berharap dia mendapat giliran pertama bertanya pada gavin. Bukan tanpa alasan nadin tiba-tiba ingin mengajak gavin main truth or dare. Jujur saja nadin keppo dengan alasan gavin bolos kerja hari ini. Walaupun bukan hak nya untuk bertanya, tapi berkat fikiran itu, seharian ini dia tidak konsentrasi bekerja.
Yes
Nadin memekik girang saat doanya terkabul. Ujung botol mengarah pada gavin. Lelaki itu nampak santai saja, padahal jelas dia akan di bantai dalam satu babak.
"oke .. Lo pilih truth or dare ?"
Gavin nampak serius berfikir, menimbang-nimbang pilihan yang tidak akan merugikannya.
"oke dare "
Nadin nampak kecewa, kenapa juga gavin tidak memilih truth saja. Nadin bahkan belum menyiapkan tantangan apa yang cocok untuk pria satu ini.
"jadi apa dare nya nad ?"
"hm... Berani nggak lo goyang dumang tapi sambil live di IG ?"
"gila ! Ogah ! Bisa jatuh pasaran gue di mata para fans, apalagi di depan lo fans gue paling utama "jawab gavin dengan jumawah.
Nadin memutar bola mata, terkadang perkataan gavin yang terlalu ceplas ceplos itu membuat gavin seperti pria yang tidak pernah serius.
"payah. Kalau nggak bisa nerima tantangan bayar 500 ribu"
"hanjir... Bisa bangkrut gue nad"protes gavin walaupun uang dengan jumlah segitu tidak ada artinya bagi dia.
"ya makanya lo harus penuhi tantangan nya, gue juga akan berlaku hal yang sama kalau gue gak memenuhi dare dari lo "
Gavin menimbang-nimbang antara uang 500 ribu dan tantangan dari nadin. Oke mungkin kali ini dia akan sedikit mengalah, tapi lihat saja nanti kalau nadin kalah. Dengan sifat nadin yang sangat mencintai uang, wanita itu pasti lebih memilih mengerjakan tantangan dari pada membayar 500 ribu. Sebuah seringai jahat muncul di wajah gavin, tunggu saja nadin almira queen.
"oke gue akan lakuin dare dari lo "
Gavin mengambil ponselnya, pria itu memposisikan ponsel di atas meja kemudian menyanggahnya dengan buku. Gavin mulai membuka aplikasi instagram kemudian memilih menu live. Setelah koneksi tersambung pria itu mulai berdiri.
"liat baik-baik ya nad"
Nadin nampak serius mengamati gavin. Jujur saja ide menyuruh gavin untuk goyang dumang tiba-tiba melintas begitu saja. Dan gavin akan menyanggupinya juga tidak pernah nadin sangka. Oke ini betul-betul kesempatan langka.
"ayo guyang dumang biar hari senang fikiranpun tenang galau jadi hilang"racau gavin sambil menyanyikan lagu dangdut yang sempat hits di bawakan oleh salah satu penyanyi dangdut di indonesia.
Gavin bergoyang sambil bernyanyi, mulutnya mangap-mangap seperti ikan mas koki. Nadin tertawa terbahak-bahak sambil berguling di sofa. Demi apapun, dia tidak pernah sangka gavin akan menyanggupi tantangan darinya.
Air mata nadin sampai keluar karena terlalu puas tertawa, perutnya sampai sakit karena tertawa terlalu keras. Nadin melirik comment-comment di instagram gavin, di dominasi oleh wanita memang, mereka semua ikut terhibur dengan aksi gavin yang bergoyang dumang itu. Walaupun beberapa ada yang menghujat juga, tapi yang jelas misi nadin untuk membuat gavin malu berhasil. Anggap saja ini suatu balasan karena dulu gavin pernah mempermalukan nadin juga.
Nadin jamin, besok gavin akan dapat julukan si dumang ganteng dari para fans nya.
"udah puas "gavin kembali duduk di sofa sambil mengatur nafasnya yang sedikit terengah-engah akibat aksi goyang dumangnya.
"astaga vin.. Perut gue sampai sakit "nadin masih memegangi perutnya sambil mencoba menghentikan tawanya.
Gavin menjitak kepala nadin begitu saja, gadis itu mengaduh sambil memegangi kepalanya."udah buru puter lagi botol nya, gue mau bales dendam sama lo "
"haha oke oke "nadin kembali memutar botol, dia berdoa semoga botol itu kembali mengarah ke arah gavin, seru juga melihat aksi gavin barusan, membuatnya ingin menyuruh gavin lebih aneh lagi.
Sial
"truth or dare "
Nadin menimbang-nimbang segala kemungkinan yang mungkin akan gavin lakukan. Kalau dia memilih dare sudah pasti gavin akan menyuruh nya yang aneh-aneh, tapi kalau dia nemilih truth apalagi yang mau gavin tahu, rahasia terbesar nadin bahkan sudah diketahui oleh pria itu.
"truth"ucap nadin ada akhirnya.
"hu.. Chicken . Takut ya gue suruh yang aneh-aneh ?"tebak gavin sambil menaik turunkan alis nya.
Nadin mengedikkan bahunya."buruan apa yang mau lo tahu ?"
"apa tujuan lo jenguk gue hari ini ?"
"gue kangen sama lo "
"bohong"
"lo mau percaya atau nggak itu terserah lo "
Gavin senang bukan main dengan jawaban nadin. Tapi entah kenapa dia tidak sepenuhnya yakin, gadis itu rela menghampirinya malam-malam begini hanya karena rindu padanya.Heol nadin kan bukan dilan yang gak kuat nahan rindu.
"udah lanjutin mainnya, sekarang giliran gue... "
Nadin kembali memutar botolnya, mereka berdua nampak serius memperhatikan kemana arah botol itu berhenti.
Sial
"hahah emang lo lagi bener-bener apes nad "
Nadin mengerucutkan bibir nya. Kenapa hari ini dia sangat sial.
"truth or dare ?"
"truth"
"ah payah , lo takut ya gue suruh aneh-aneh kan makanya milih truth terus "
"dengan otak lo yang penuh dengan rencana jahat buat bales dendam sama gue. Iya gue takut"
Gavin tertawa terbahak-bahak, jawaban nadin yang terlalu polos itu membuat gavin ingin mencubit pipi gadis itu saat ini juga.
"oke .. Hm gue mau tanya. Lo punya berapa mantan nad ?"
"hm coba gue inget-inget "nadin nampak berfikir. "sekitar 15 mungkin "jawab nadin dengan ragu.
Gavin ternganga mendengar jawaban nadin. "lo mau bikin group sepak bola ?"
"haha mungkin , ya gimana ya bukan salah gue dong kalau banyak yang mau sama gue, gue kan cantik "nadin mengibaskan rambutnya dengan tangan.
"okey.. Kalau untuk yang itu gue setuju "
Nadin bersorak girang dalam hati. Mimpi apa dia semalam, ini sudah kedua kalinya gavin memujinya cantik.
"puter lagi botol nya "pinta nadin.
Gavin memutar botol kembali, botol terus berputar-putar seperti tidak mau berhenti. Nadin dan gavin sama-sama meracau agar botol itu berhenti seperti doa mereka.
Yes
Nadin memekik girang sambil mengangkat kedua tangannya.
"TOD"
"dare "
__ADS_1
"lo kenapa sih hobi banget nerima tantangan dari gue, takut ya rahasia lo gue keppo in "nadin memicingkan mata.
"iya"
"chicken "nadin mengacungkan jempol kemudian membaliknya.
"udah buru tantangan nya apa, kalau cuma goyang doang gue masih sanggup "
Nadin nampak berfikir, gavin mampu menyanggupi tantangan yang nadin berikan. Bahkan sekalipun itu merusak image lelaki itu gavin rela. Apakah ada hal yang gavin tidak bisa ?
"buruan jangan kebanyakan mikir, waktu berjalan terus nona "
Kenapa nadin tidak sadar kalau saat ini jam sudah menunjukan pukul 10 malam. Sepertinya berlama-lama bersama gavin hari ini membuatnya lupa waktu.
"apa ya.. Nanti deh gue fikirin "
"kesempatan cuma dateng sekali loh nad "
Betul juga apa yang gavin bilang. Kalau nggak hari ini kapan lagi nadin bisa punya kesempatan ngerjain bos nya satu ini.
"ah ada .. "nadin menyeringai, kali ini dia yakin kalau gavin tidak sanggup menyanggupi nya.
"buruan"
"lo berani nggak godain banci yang ada di tempat makan deket apartemen lo "nadin tersenyum lebar, dia sudah mencium wangi uang 500 ribu sepertinya.
"lo gila... ! Ogah !! nggak !! No way !! "gavin memggeleng dengan cepat, membayangkannya aja udah ngeri apalagi kalau harus godain banci beneran.
"payah.. Katanya sanggup memenuhi tantangan apapun yang gue kasih "nadin semakin yakin dia menang kali ini.
"lo aja sana yang main sama itu banci, gue pernah dikejar nad sampai lift, cukup sekali dan itu menimbulkan trauma batin "gavin bergidik ngeri membayangkan persitiwa yang terjadi saat dia baru pindah ke apartemen ini.
"yes !!! Kalau gitu bayar 500 ribu "nadin mengadahkan tangannya.
"matre dasar "ledek gavin sambil mengeluarkan uang 5 lembar seratus ribu dari dalam dompetnya.
"tau lo bakal malak gue begini, mendingan gue gak izinin lo jenguk gue tadi "
"masih bagus gue inget sama bos gue yang super rese ini, harusnya lo bersyukur punya sekretaris yang cantik dan baik kayak gue "nadin tersenyum lebar sambil menghitung uang yang baru saja dia terima.
"seneng kan lo jengukin orang sakit pulang bawa 500 ribu "ledek gavin.
Nadin mengangguk. "besok-besok gue lebih sering deh jenguk lo kalau sakit. Bisa cepet kaya gue "nadin memasukan uang yang baru saja selesai dia hitung ke dalam tasnya.
"sini botol nya, gue curiga lo jampi-jampi ini botol sampai bikin gue kalah terus"gavin mengambil botol dari atas meja.
"nggak baik suuzon sama orang"
"berisik.. Liat aja pembalasan gue.. "gavin dengan penuh emosi memutar botol itu di atas meja.
Yes Yes Yes Yes
Gavin berteriak-teriak heboh sendiri, pria itu seperti baru saja mendapatkan jackpot. Feelling nadin mulai tidak enak, ada bau-bau balas dendam di dalam seringai jahat yang terbit di wajah gavin.
"Truth Or Dare "
"Truth !"
"yakin ?"gavin menaik turunkan alisnya.
Nadin mengangguk mantab."buruan apa yang lo mau tahu dari gue "
Gavin mulai merapatkan jarak antara dia dengan nadin. Nadin berusaha bergeser tapi gavin terus saja merapatkan jarak antar mereka. Sampai pada akhirnya nadin menyerah, dia sudah berada di ujung sofa yang berarti kalau dia bergeser sedikit lagi maka dia akan berguling di karpet, dan pasti akan jadi bahan tertawaan gavin.
"so.. Nadin Almira Queen.. Ada satu hal yang mau gue tahu dari lo. Dan lo harus jawab jujur "
"buruan sih jangan pakai prolog, apalagi pakai mepet-mepet segala "protes nadin tidak di indahkan oleh gavin,lelaki itu malah menyandarkan kepalanya di sofa sambil duduk menyamping.
"nad, lo masih cinta nggak sama gue ?"
Mati
Nadin membeku di tempatnya. Kenapa gavin harus bertanya sesuatu yang jelas-jelas pria itu tahu jawaban nya. Tapi mengatakannya secara langsung bukan hal yang nadin bisa, dia masih trauma dengan penolakkan gavin dulu.
"gue pilih dare aja kali ini "jawab nadin mencoba mengalihkan pembicaraan, topik itu terlalu berbahaya.
Gavin bersorak dalam hati,rencananya berhasil.
"balikin duit gue "gavin menadahkan tangan nya.
"uang yang sudah masuk ke dalam kantong tidak bisa di kembalikan lagi "nadin memeluk tas nya tempat dia menyimpan uang hasil malak gavin.
"curang"
"bodo amat , pasal satu wanita selalu benar"nadin tersenyum lebar.
"fine ! Gue kasih lo tantangan"
"buruan bilang gue mau pulang ke rumah"
"dare dari gue itu... "gavin sengaja menggantungkan kalimatnya demi membuat nadin mengurungkan niatnya untuk pulang ke rumah.
"tetot ! Waktu habis "nadin bangkit dari duduknya menyambar tas miliknya dan berniat keluar dari unit gavin.
Gavin yang melihat gelagat nadin yang sudah mau pulang, langsung ikut bangkit dari duduknya. Mensejajarkan tingginya dengan nadin.
"nad tunggu "
"apaan , udah malem gue gak mau di cap jadi ciderella"
"lo belum denger kan tantangan dari gue"
"yauda buruan vin"nadin sudah mulai gemas menghadapi gavin yang seperti menahan-nahan kepulangannya.
"sabtu..."
"sabtu ngapain ?"
"ssabtu ini.. Pergi sama gue"ujar gavin dengan suara bergetar, kenapa dia jadi grogi gini.
"ngapain ? Meeting ?"tebak nadin.
Gavin menggeleng dengan cepat.
"terus ?"
"hm... Jalan ?"
"setiap hari juga udah sering jalan kaki kalau di kantor"
"bukan jalan yang itu nadin"
"ya terus jalan apa gavin ?!"
"maksud gue jalan itu...... Ngedate"gavin menghembuskan nafas lega karena berhasil mengucapkan dengan lancar.
Deg
Wajah nadin mendadak bersemu merah. Ini beneran gavin christopher mengajaknya berkencan ?
Bersambung
__ADS_1