
Gelap
itulah yang gavin rasakan saat ini, tangan dan kaki nya terikat di sebuah kursi. Lelaki itu hanya bisa berteriak tapi tidak ada tanda-tanda ikatan di tangan nya akan di lepaskan. Berteriak pun sepertinya sia-sia karena suasana yang sepi membuat gavin yakin kalau tidak ada satu orang pun yang berada di ruangan ini.
Tiba-tiba terdengar suara pintu yang terbuka diiringi dengan derap langkah kaki yang semakin mendekat ke arah gavin duduk. Bulu kuduk gavin jadi berdiri semua, kejadian ini mengingatnya akan film action yang belum lama dia tonton bersama nadin.
Di dalam film itu di ceritakan si tokoh utama di culik oleh seorang psikopat karena si psikopat itu dendam terhadap si tokoh utama. Lalu kemudan si tokoh utama di tembak mati oleh psikopat itu di hadapan calon istri si tokoh utama. Cerita Selesai.
Tidak pernah gavin bayangkan di umur nya yang sudah mendekati tua ini, dia harus mengalami kejadian paling tidak ia duga. Gavin diculik.
Tiba-tiba saja saat gavin pulang dari rumah nadin, ada beberapa orang dengan pakaian hitam dan masker mengelilingi mobil gavin. Saat itu gavin masih belum menduga kalau sekelompok orang itu akan mengepung lalu membawanya ke sebua tempat yang gavin tidak ketahui karena mata laki-laki itu di tutup oleh kain.
"lo mau apa dari gue ? uang ? gue kasih "teriak gavin saat orang yang baru saja memasuki ruangan itu mendekat.
"sombong banget lo ya " jawab laki-laki si penculik gavin.
"orang ini harus kita kasih pelajaran, biar dia tahu sopan santun " sambung laki-laki lain.
"kalian mau apa dari gue ? gue gak pernah ada salah sama kalian "gavin mencoba tetap tenang walaupun ada rasa takut jika mungkin saja kawanan penculik ini membawa senjata tajam.
"gak ada salah kata lo ?"ujar salah satu dari mereka dengan nada emosi, eh tapi suara laki-laki ini kenapa mirip dengan suara seseorang yang gavin kenal ?
"emang gue ada salah apa ? gue bahkan gak kenal kalian siapa ? kita kenalan aja gimana ? abis itu kita ngopi bareng siapa tau kita bisa akrab " gavin malah tertawa mencoba untuk menenangkan jantungnya dan siapa tahu saja cara nya ini membuat para penculik itu mempertimbangkan lagi niatnya.
Tanpa di duga para penculik itu malah semakin mendekat ke arah gavin, lalu gavin merasakan sesuatu yang dingin menempel di leher nya. Jantung gavin semakin bertalu-talu, sepertinya yang sedang tertempel di leher gavin sekarang adalah pisau. Walaupun matanya tertutup gavin masih bisa merasakan kalau benda itu terbuat dari besi.
"hey.. hey kalian mau ngapain ? "gavin mulai panik karena si penculik menggesek benda itu di leher gavin, keringat dingin mulai turun dari dahi gavin.
Nadin masa kita gak jadi nikah gara-gara aku di bunuh ?
"guys guys... ini gue kasih info aja ya, gue ini belum kawin , kalian gak kasihan apa kalau gue mati dalam kondisi masih perjaka ting ting "
Suara salah satu penculik itu terdengar menahan tawa, di bagian mana lucu nya sih gavin kan sedang mencoba untuk bermusyawarah untuk mencapai mufakat.
"gue gak perduli !!"jawab salah satu dari mereka.
"harus perduli dong bro, gue sama cewek gue udah banyak baget drama nya, ya masa iya gue harus berakhir sad ending , nasib cewek gue gimana bro , dia gak bisa hidup tanpa gue " curhatan gavin malah membuat para penculik itu tertawa terbahak-bahak.
"ah udah ah lama-lama mual gue denger omongan manusia ini " ucap salah satu dari mereka, gavin semakin mengenal suara itu.
"buka aja deh buka, gak asik lagi " salah satu dari mereka ikut menimpali.
Sret..
Penutup mata gavin di tarik paksa oleh si penculik itu hingga membuat gavin sedikit terhuyung , untung saja gavin masih sempat berpegangan pada bangku, jika tidak mungkin lelaki itu sudah jatuh tersungkur di lantai.
"kampret !!!!!!!" teriak gavin saat melihat kerumunan manusia yang sedang menatap nya dengan wajah paling mengesalkan ini ternyata..
TEMAN-TEMAN GAVIN SENDIRI
"jahat lo semua ya ! Bagus gue gak ngeluarin jurus karate gue " gavin menenggak lemon tea yang sudah ada di atas meja entah itu punya siapa yang jelas gavin sudah terlalu haus.
"karate apaa ? lo aja hampir mau ngompol pas gue tempelin sendok di leher lo hahaha " ditto tertawa terbahak-bahak, jad yang tadi itu bukan pisau ?
Gavin menjitak bimo dan ditto satu persatu sampai mereka berhenti tertawa, lalu saat akan menjitak danar gavin menurunkan tangan nya kembali. Merasa tidak enak hati karena meliat danar yang hanya diam saja sambil menyesap kopi hitam nya.
"lo juga disini nar ?" gavin tersenyum mencoba untuk mencairkan suasa walaupun dia tahu sikap danar tidak akan sama seperti dulu lagi.
"dipaksa " hanya jawaban itu yang danar lontarkan.
"udahlah nar.. jangan galau terus, toh lo kan udah ada yang baru " bimo merangkul pundak danar karena tahu lelaki itu tidak nyaman berada di dekat gavin.
Danar mengedikkan bahu, gavin di tempatnya hanya bisa diam saja , takut kalau berkomentar malah membuat danar emosi. Gavin diam saja danar sudah seperti ingin menenggelamkan nya hidup-hidup.
"kalian selesaikan deh sebelum kita party, gue gak mau ya kita jadi canggung dan gak asik kayak gini "ditto bangkit dari tempat duduk kemudian pergi meninggalkan mereka, di susul oleh bimo di belakangnya.
10 menit sudah berlalu, danar dan gavin masih enggan untuk memulai pembicaraan satu sama lain. Mereka masih sibuk dengan ponsel mereka masing-masing, padahal yang mereka lakukan hanya sekedar melihat postingan orang-orang di Instagram
"oke gue minta maaf danar " akhirnya gavin mulai membuka percakapan, berada di ruangan ini berdua dengan danar lama-lama membuatnya semakin canggung.
Danar menatap gavin sekilas, laki-laki itu memang masih sangat emosi dengan gavin yang tiba-tiba saja merebut nadin lalu ingin menikahi gadis itu.
"gue tahu gue munafik "
"..."
"perbuatan gue mungkin gak bisa lo maafkan "
"gue gak setia kawan "
"..."
"tapi gue setia kawin "
Danar mendengus kesal melihat gavin yang tidak terlihat serius padahal ini kesempatan terakhir mereka untuk memperbaiki hubungan sebagai sahabat.
"oke, sekarang gue tanya sama lo , jawab yang jujur kalau lo laki-laki "
gavin mengangguk yakin."apa yang mau lo tahu ?"
"sejak kapan lo naksir nadin ?"
"sejak SMA , gue naksir nadin sejak dia kasih gue cake di hari ulang tahun gue "
__ADS_1
"kenapa lo gak berani nembak nadin ? jelas semua orang tahu dan lo pasti lebih tahu bagaimana perasaan nadin sama lo ?!"
"gue punya alasan kenapa gue gak bisa nembak nadin atau jujur sama perasaan gue saat itu, dan itu rahasia pribadi gue "
"waktu pertama kali kita reuni dan gue bilang kalau gue mau balikkan sama nadin, kenapa lo gak mencegah gue ? lo bahkan malah menyemangati gue untuk kembali sama nadin ? lo gila vin "
"i know. gue tahu gue pengecut banget saat itu nar. gue fikir dengan merelakan lo sama nadin , wanita itu bisa lebih bahagia dari pada bersama gue "
"tapi ada satu moment yang buat gue sadar nar, i can't live without her "
Bugh
Gavin jatuh tersungkur ke lantai dengan ujung bibir yang sedikit mengeluarkan darah. Tanpa perlawanan gavin hanya diam saja saat danar melayangkan sebuah tinju padanya. Gavin tahu cepat atau lambat dia akan menerima ini, konsekwensi dari merebut milik orang.
"Lo brengsek vin "umpat danar.
"gue tahu gue gak berhak ngomong ini sama lo nar, gue minta maaf "gavin berujar sambil menatap mata danar yang masih menampakkan emosi.
"sumpah nar, kali ini gue gak akan menyia-nyiakan nadin lagi , lo bisa pegang kata-kata gue "
Danar masih menatap gavin dengan wajah penuh emosi, lalu kemudian di layangkan lagi satu pukulan di wajah gavin. Laki-laki itu masih diam saja tidak membalas pukulan yang danar berikan.
Danar mengulurkan tangannya." ayo bangun, ditto dan bimo sudah menunggu kita "
Gavin tersenyum merasa senang karena danar setidaknya sudah bisa menerima keputusan gavin kali ini. Tanpa ragu gavin menyambut uluran tangan danar, lalu merangkul pria itu .
"lepasin vin, orang nanti mikir kita homo " Danar memberontak saat gavin semakin mengeratkan pelukkan nya.
"bodo amat ! thanks nar , lo sahabat gue "Gavin tersenyum lebar di balik punggung danar.
"dan lo musuh abadi gue vin "walaupun itu sebuah umpatan tapi danar mengatakannya dengan nada yang santai, menandakan kalau laki-laki itu sudah bisa memaafkan gavin.
CEKLEK
Kilatan lampu blitz kamera membuat gavin dan danar melepasakan pelukkan mereka. Dua orang pria sudah tertawa terbahak-bahak sambil memotret mereka berdua dengan ponsel mereka masing-masing.
"ciyee balikkan ciyee "seloroh bimo yang diikuti tertawa setan oleh ditto.
"kampret lo berdua !! hapus !!" jawab danar dan gavin yang kompak berlari menghampiri bimo dan ditto yang masih tertawa cekikikan.
Mereka berempat saling memiting satu sama lain sambil tertawa terbahak-bahak. Malam itu mereka memutuskan untuk menyewa sebuah hotel yang di jadikan lokasi pesta lajang ala mereka. Tidak ada lagi kecanggungan di antara mereka, semua sudah kembali lagi.
Danar dan Gavin saling bersulang di balkon, dua kaleng bir menemani pembicaraan mereka malam itu. Mereka tertawa bersama membicarakan drama percintaan mereka malam itu. Tidak ada lagi emosi maupun dendam.
Hanya dua orang sahabat yang sudah mengibarkan bendera putih di antara mereka.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~ 🐱🐱\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
SAH
Setelah berhasil mengucapkan ijab qabul dengan satu tarikan nafas, maka dengan ini gavin dan nadin sudah resmi menjadi suami istri. Setelah bertukar cincin gavin memberikan nadin sebuah kecupan manis di dahi, sebagai stampel kalau mulai saat ini nadin almira queen SAH menjadi miliknya.
Pernikahan mereka benar-benar di adakan hari minggu. Tepat sebulan setelah gavin memboyong orang tua nya untuk resmi melamar nadin di rumahnya.
Setelah berbagai drama dalam persiapan pernikahan , akhirnya semua nya betul-betul sempurna di mata nadin. Mata Gadis oh maksudnya gadis yang sebentar lagi tidak berstatus menjadi gadis itu masih berkaca-kaca menatap kebun yang betul-betul di sulap sesuai keinginannya.
Garden party yang jadi impian nadin bahkan terwujud. Entah dari mana gavin tahu kalau nadin menginginkan pesta kebun sebagai tempat pernikahan mereka. Karena memang gavin pernah sekali membohongin nadin mengenai lokasi pernikahan mereka.
Awalnya gavin mengatakan kalau mereka akan mengadakan resepsi di salah satu hotel di Jakarta. Gavin bilang kalau banyak kolega bisnis yang akan datang, sehingga akan sulit jika mengadakan pesta kebun. Saat itu nadin sudah pasrah karena harapan nya untuk menikah ala garden party tidak akan terlaksana.
Tapi sehari sebelum di adakan nya ijab kabul, malam hari nya gavin membawa nadin ke venue pernikahan mereka . Dengan alasan nggak kuat berlama-lama tidak bertemu setelah satu minggu di pingit, nadin mau untuk diam-diam pergi bersama gavin.
Saat itu nadin tidak mengetahui kemana mobil gavin melaju, sampai dia tiba di sebuah kebun yang sudah di sulap dengan berbagai lampu warna-warni. Di dekat pintu masuk jelas tertera nama mereka berdua, yang menandakan tempat ini akan jadi venue pernikahan mereka esok hari.
Nadin yang terlalu bahagia memeluk gavin sampai lelaki itu terhuyung ke belakang. Ungkapan cinta selalu nadin ucapkan sambil mengecup pipi kiri dan kanan gavin secara bergantian.
"ini semua kamu yang...." nadin menutup mulutnya masih merasa speechless dengan kejutan yang gavin berikan untuknya.
Gavin menggandeng tangan nadin semakin masuk ke dalam kebun, dimana disana sudah terdapat sebuah meja yang di hias dengan begitu cantik lengkap dengan sebuah lilin di tengah meja. Gavin mempersilahkan nadin untuk duduk saat dia baru saja menarik kursi untuk wanita itu.
"terima kasih, sayang "ucap nadin yang langsung di balas kecupan di puncak kepala gadis itu.
"you're welcome "jawab gavin yang kini sudah duduk di sebrang nadin.
Mereka berdua makan malam sambil membahas mengenai acara pernikahan mereka esok hari. Bagaimana gugup nya nadin dan gavin yang masih belum menghafal bacaan ijab qobul nya. Sampai ke acara inti dimana gavin mengajak nadin untuk berdansa ala ala saat lagu Beautiful In White milik Shane Filan mengalun.
Di ambilnya tangan gadis yang esok hari resmi menjadi miliknya itu dengan lembut, lalu sebuah kecupan di punggung tangan gadis itu membuat rona merah tercetak jelas di pipi nadin.
"nad.. "
"iya vin "
"aku punya sulap "
"kita kan lagi dansa gini masa kamu mau sulap , aneh deh kamu vin " nadin tertawa kecil.
"beneran.. kali ini aku jamin sulap nya pasti bikin kamu kaget "
"coba mana aku mau lihat, kalau aku gak kaget beliin aku tas Chanel ya "
gavin menjawil hidung nadin."astaga.. matre sekali kesayangan aku ini "gavin tertawa.
"tapi cinta kan "nadin menaik turunkan alisnya.
__ADS_1
"iya dong, kalau gak cinta mana mungkin aku kawinin "
nadin menginjak kaki gavin sampai lelaki itu mengaduh."nikah gavin bukan kawin"pipi nadin memerah.
"sama aja sayang, nikah sama kawin kan satu kesatuan "gavin tersenyum lebar membayangkan yang iya iya.
"udah ah aku mau sulap nih, perhatinn baik-baik ya "
Gavin mengadahkan telapak tangannya."kosong kan nad gak ada apa-apa ? "
Nadin mengangguk.
Gavin mengeluarkan sapu tangan dari dalam saku celana kemudian mengibaskan sapu tangan itu di atas telapak tangannya.
"bimsalabim fiuhh " gavin mengucap mantara sambil meniup telapak tangannya." tara....." gavin tersenyum lebar tanpa melihat lagi telapak tangannya.
Gavin heran melihat reaksi nadin yang biasa saja, malah gadis itu menatap lekat-lekat telapak tangan gavin. Sesuatu yang tidak beres sedang terjadi sepertinya.
"kamu lagi ngelawak ya vin ? orang gak ada apa-ap gini ?"nadin membolak-balikkan telapak tangan gavin.
Gavin mulai pucat pasi, jangan bilang kejutan nya untuk nadin hilang. Dia rogoh saku celana dan juga saku kemeja nya. Nihil , benda mungil itu betul-betul tidak ada.
"tuh kan , pasti kamu mau ngerjain aku doang kan ?"nadin sudah tersenyum tanpa menyadari gavin yang sedang celingukkan mencari benda mungil itu.
"nad.. ini gawat nad gawat "gavin mulai panik, bisa di gantung nyai ratu kalau dia tahu cincin turun temurun dari eyang nya hilang.
Nadin mulai menyadari ada sesuatu yang tidak beres dari tingkah gavin, dia yakin sekali kalau calon suami nya ini baru saja berulah.
"kamu nyari apa sih vin ?"Nadin ikut celingukkan walaupun dia tidak tahu apa yang gavin cari.
"benda.. kecil.. " ujar gavin masih mencari-cari cincin itu sambil berjongkok di atas rumput.
"vin.. vin "nadin menepuk - nepuk pundak gavin.
"apaan sih nad, ini aku harus ketemu benda itu kalau nggak.."
"gavin itu putih-putih apa ya ?"
Gavin menghentikan pencarian cincin di atas rumput, kemudian dia berdiri di hadapan nadin.
"nad.. kamu jangan nakut-nakutin deh " gavin yang parno mulai berfikir kemana-mana.
"apaan sih, siapa yang nakut-nakutin beneran itu aku tanya, itu ada putih-putih apaan ?" tunjuk nadin pada sesuatu di belakang gavin.
"nad, kamu bisa ngeliat hantu ?"fikiran gavin yang ngaco malah semakin memperburuk suasana.
Nadin yang sudah penasaran dengan benda putih berkilauan itu, maju mendekat untuk memperjelas benda yang di lihat nya di belakang gavin. Gavin yang ketakutan mengikuti nadin dari belakang sambil memegang ujung dress milik nadin.
"nad.. kalau misalkan beneran ada penampakan , kita baca ayat kursi ya, guru ngaji aku bilang , itu bisa buat ngusir hantu " ujar gavin masih mengikuti nadin dari belakang.
Mendengar gavin yang ketakutan membuat nadin merasa gemas sendiri. Bagaimana bisa pria dewasa yang sudah mau menikah ini berubah jadi anak umur 5 tahun hanya karena hantu . Lihat bagaimana laki-laki itu memegang ujung dress nadin begitu erat.
Mereka berdua sudah semakin mendekat ke benda yang nadin lihat mengeluarkan cahaya warna putih itu. Lalu tiba-tiba gavin lebih dulu berlari menghampiri benda itu, membuat nadin kaget dengan manuver gavin yang tiba-tiba.
"KETEMU !!!!!"Gavin berlompat-lompat sambil memegang benda yang baru saja dia pungut dari tanah.
Nadin berjalan semakin mendekat ingin bertanya benda apa yang mebuat gavin begitu bahagia saat menemukan nya. Jangan-Jangan itu berlian, insting nadin yang memang bersahabat dengan berlian jadi tidak heran jika radar nadin akan kuat jika berhadapan dengan benda itu.
Gavin memeluk nadin begitu erat saat wanita itu sudah berada di hadapannya, di cium nya wajah nadin berulang-ulang sampai gadis itu meronta minta di lepaskan dari serangan gavin yang seperti ikan pesut.
Tiba-tiba gavin berlutut di hadapan nadin, gadis itu pun semakin bingung dengan sikap gavin yang berubah-ubah. Nadin merasa de'javu dengan situasi ini, sepertnya dia pernah mengalami hal yang sama tapi kapan ya ?
"Nadin Almira Queen"
Gavin tersenyum lebar. " will you marry me ?"
Sebuah cincin bermata berlian gavin tunjukkan di hadapan nadin, mata nadin jadi berkaca-kaca. Dia ingat sekarang, gavin pernah melamarnya dengan cara paling gila. Dengan Black Card yang dia bilang akan dia habiskan seumur hidup dengan nadin.
Pantas saja nadin merasa familiar dengan situasi ini, dinner romantis lengkap dengan lamaran yang akhirnya gavin melakukan nya dengan cara yang benar. Nadin betul-betul bersyukur pada tuhan karena berkat kesabaran nadin, tuhan membalas dengan kebahagiaan yang tidak pernah nadin bayangkan,
"nad.. di terima gak nih lamaran aku ?"tanya gavin lagi yang mulai merasa kesemutan karena sejak tadi berlutut di hadapan nadin.
Bukan nya menjawab nadin malah tertawa sampai air mata mengalir dari mata wanita itu. Gavin refleks langsung bangkit lalu menghapus air mata itu dari mata nadin.
Bimo sialan, katanya nadin akan bahagia kalau gavin melamar dengan cara seperti ini. Tapi lihat sekarang nadin malah menangis walaupun itu dia lakukan sambil tertawa. Gavin akan menagih janji bimo nanti untuk memberinya paket honeymoon ke paris, saran dari teman yang mengaku pakar cinta itu gagal total.
"nad.. kok malah nangis sih ?"
"ini namanya nangis bahagia sayang"nadin menghadiahi gavin sebuah kecupan singkat di bibir laki-laki itu.
"makasih ya hari ini kamu betul-betul jadi Jin Aladin buat aku, walaupun aku bukan putri jamsmine "
"dan mana mungkin aku nolak lamaran kamu, jelas - jelas dalam waktu 10 jam dari sekarang kita sah jadi suami istri "pipi nadin merona membayangkan besok dia betul-betul jadi istri gavin.
Gavin merengkuh nadin kedalam pelukkan nya setelah sebelumnya laki-laki itu memasangkan cincin di jari manis nadin, lalu perlahan laki-laki itu mendekatkan wajahnya berniat untuk mencium nadin. Apalagi mata gadis itu sudah terpejam pertanda kalau dia tahu apa yang akan gavin lakukan. Saat bibir mereka nyaris bertemu.....
Meong Meong Grontang....
Nadin dan Gavin saling melepaskan pelukkan saat mendengar suara gaduh dari kucing orange yang sepertinya tanpa sengaja menjatuhkan drum kosong di dekat mereka, lalu mereka tertawa sambil melanjutkan aktifitas mereka yang tertunda akibat ulah kucing orange.
Bersambung
__ADS_1