CEO Rese Dan Secretary Matre Nya

CEO Rese Dan Secretary Matre Nya
Episode 19


__ADS_3

"bos ?"


Nadin masih tidak percaya dengan pemandangan di hadapan nya ini. Seorang gavin christopher berdiri di depan pintu kamar nya, tersenyum padanya sambil membawa keranjang buah. Setiap orang yang melihat tingkah bos nya itu pasti berasumsi kalau pria ini merupakan bos idaman, karena begitu perhatian pada karyawan nya. Atau asumsi kedua yang mengatakan kalau bos tampan nya ini sudah jatuh hati padanya, hoel itu sangat tidak mungkin.


"nad... Ini gue berapa lama lagi berdiri di depan pintu ?"suara gavin membuat nadin tersadar.


"dalam rangka apa bos kesini ? Kalau tentang pekerjaan ? Masa iya saya lagi sakit masih disuruh kerja "umpat nadin.


"hahaha... Gue gak sejahat itu nad "


"jadi jelaskan kedatangan bos kesini ? "


"bisa masuk dulu gak ? Gue pegel berdiri terus disini nadin "


Nadin menggeser posisi tubuhnya dari ambang pintu. Memberikan akses bagi gavin agar mudah masuk ke dalam kamar nya. Dan Dengan tidak tahu diri nya gavin duduk di atas tempat tidur nadin. Nadin heran, gavin ini mungkin tipikal orang tidak tahu malu atau dia mudah beradaptasi dengan tempat baru.


"so.. Jelaskan pada saya kedatangan bos kesini ?"nadin melipat kedua tangannya di depan dada, gadis itu menatap gavin dengan tatapan menyelidik.


"santai santai.. Gue kesini berniat baik kok , jenguk karyawan gue yang sakit "


"berdusta "cicit nadin dengan suara yang nyaris tak terdengar.


"jadi lo sakit apa nad ?"


"magh"


"kok bisa ?"gavin membawa boneka teddy bear milik nadin kei atas pangkuannya.


"perlu saya jelaskan kronologis nya ?"


Gavin mengangguk."tentu.. Gue berhak tahu "


Nadin berjalan ke arah kursi malas nya, kemudian duduk nyaman di atas bantalan sofa berwarna merah muda.


"jadi... Ada seorang bos yang hobi nya mencari gara-gara pada sekretaris nya, dia selalu memerintah saya yang aneh-aneh sampai akhirnya saya jatuh sakit seperti ini. Cerita selesai "


Gavin mengangguk-angguk. "hm pasti bos lo itu ganteng deh"


"huek"nadin mempraktekkan gaya mual yang membuat gavin semakin terkikik.


Mereka berdua kembali terdiam. Nadin memperhatikan gavin yang sedang menatap keseliling kamar nya. Lelaki yang sedang memangku teddy bear itu nampak berbeda, dan nadin akui walaupun dia sangat terkejut akan kehadiran gavin, tapi diam-diam gadis itu tersenyum melihat pria yang di cintai nya berada di hadapannya.


Gavin meneliti ke sekeliling kamar nadin. Memperhatikan setiap benda dan interior yang mencerminkan si pemilik kamar. Gavin tidak pernah menyangka kalau kamar nadin cukup polos. Dindingnya di cat putih dengan wallpapper bergaya victorian.


"kamar lo oke juga "setelah sekian lama bungkam gavin mulai buka suara.


"makasih"


"ada TV , DVD player, Laptop, Kulkas, Dispenser ah ...  Kenapa nggak sekalian aja di taruh kompor disitu nad ?"gavin menunjuk pada meja kosong yang terletak di pojok kamar nadin.


"jadi maksud dan tujuan bos kesini mau mendata isi kamar saya ?"


Gavin berjalan pelan menghampiri meja belajar nadin, yang sejak tadi menarik minat nya. Lelaki itu memperhatikan berbagai macam penghargaan yang pernah nadin dapatkan semasa sekolah.


Gavin tidak pernah menyangka nadin pernah juara olimpiade matematika waktu dia duduk di bangku smp. Gadis itu bahkan pernah menjadi pemenang salah satu pemilihan cover majalah remaja. Belum lagi prestasi di bilang atletik, medali yang berjejer rapih di samping piagam penghargaan itu menjelaskan semampu apa nadin dalam bidang olahraga.


Tiba-tiba pandangan gavin tertuju pada salah satu foto paling kecil yang terletak di bawah medali perlombaan renang. Sebuah foto dengan figura berwarna putih, menampilkan seseok gadis kecil dengan pipi gembul.


Dalam sepersekian detik gavin langsung bisa menyadari siapa gadis di foto itu. Dan saat itu juga pria itu hampir menyemburkan tawa mengejek nya, tapi gavin berusaha menahan tawa nya agar nadin tidak curiga.


Nadin yang sejak tadi memperhatikan gelagat gavin, dia mulai merasakan firasat buruk jika sudah berhubungan dengan gavin. Lelaki itu pasti sedang meneliti hal-hal yang bisa gavin jadikan bahan untuk membully nadin, mengingat betapa rese nya gavin itu membuat nadin selalu menaruh rasa was-was pada gavin. Gadis itu menghampiri gavin kemudian berdiri di sampingnya. Jujur saja nadin penasaran dengan apa yang sejak tadi membuat gavin memicingkan mata sampai berkali-kali.

__ADS_1


"nad itu lo ?"gavin menunjuk figura foto itu dan nadin secara bergantian.


"iya "


"pft.. Hahahhaha gue fikir itu si penyanyi bolo-bolo "tawa gavin pecah sampai membuat seisi ruangan menjadi gaduh.


"gue nggak nyangka lo pernah gendut banget, gue fikir itu buntelan. Nad nad itu lo kalau makan bakpao di kunyah dong jangan di taruh di pipi "gavin semakin semangat melontarkan ejekkan-ejekkan yang sebentar lagi akan membuat nadin naik darah.


Nadin paling benci dikatain gendut. Cukup periode TK-SD Harus dia jalani dengan julukkan si pipi bakpao. Dia lupa kalau foto aib itu masih belum dia buang ke tempat sampah. Dan sialnya kenapa harus gavin yang melihat !! . Seperti yang kita ketahui hobi gavin  membuat nadin emosi,dan berkat foto itu rencana gavin berhasil.


"mamah.. Bolo-Bolo.. Papah Bolo-Bolo"gavin memutar kepala nya ke kiri dan ke kanan, lelaki itu seolah menggoda nadin dengan mempraktekkan salah satu gaya yang di populerkan oleh penyanyi cilik tahun 90 an.


Habis sudah kesabaran nadin. Jika ini di film kartun, mungkin sekarang asap hitam sudah menguar di sekeliling kepala nadin. Wajah gadis itu sudah merah padam menahan malu sekaligus emosi pada pria gila hadapannya ini.


Cukup sudah. Walaupun pria ini dia cintai, tapi menghadapi kelakuan nya yang super rese itu membuat nadin lama-lama jengah. Gadis itu heran, apakah gavin itu masih punya otak ? Bahkan nadin menebak kalau besaran otak gavin hanya sebesar otak ayam.


Nadin yang sudah mulai emosi melihat ke sekeliling kamar nya, mencari benda apa yang bisa dia jadikan alat untuk membungkam mulut gavin yang tak kunjung berhenti tertawa meledeknya.. Gadis itu membawa bantal sofa yang sejak tadi dia peluk. Gavin yang menatap nadin tak urung menghentikkan tawanya. Justru dia menganggap kalau nadin mengajak nya bercanda saat ini.


"nad, mau ngapain ?"


"mau ngapain ?!"suara nadin mulai meninggi. Gadis itu berjalan semakin mendekat ke arah gavin sambil melayangkan bantal di udara.


"haha jangan marah-marah nanti lemak nya luntur "gavin semakin terkikik.


"LEMAK !!"nadin semakin maju mendekat semantara gavin semakin mundur ke belakang.


Gavin mulai sedikit takut melihat nadin yang berjalan ke arah nya sambil membawa bantal di tangannya. Dia langsung terbayang adegan pembunuhan yang dia tonton di tv kemarin malam. Dalam film yang dia tonton, si wanita membawa bantal kemudian menyumpal wajah si korban sampai si korban kehabisan nafas dan akhirnya mati.


"nad.. Istighfar nad pasti lo kerasukan setan"gavin semakin melangkah mundur ke belakang sementara nadin semakin melotot ke arahnya.


"iya, setannya lo ! Gavin !"luntur sudah mode 'sopan santun' nadin terhadap bos. Oh ayolah kalau kalian punya bos seperti gavin apakah kalian masih bisa sopan ?!


"kenapa ? Takut ya gue bunuh "nadin mengunci gavin dengan kedua tangannya.


Gavin menatap wajah nadin yang sekarang sudah berada tepat di depan wajah nya. Wajah gadis itu sudah memerah dan mata nya sudah melotot , gavin sampai ciut di buatnya. Gavin yang sudah terpojok mulai meneliti sekekeling nya, mencari benda yang dapat menolong nya keluar dari cengkraman nadin.


Tepat saat itu, matanya menemukan sebuah buku bersampul biru yang di letakkan di atas laptop nadin. Dengan cepat gavin langsung menyambar buku tersebut kemudian menaruh di depan wajahnya sendiri.


Tiba-tiba selembar foto terjatuh dari dalam buku tersebut, dan sial nya foto itu mendarat sempurna di atas kaki gavin. Pandangan mata gavin dan nadin ikut terjatuh ke arah selembar foto yang baru saja mendarat di atas kaki gavin itu.


Nadin langsung terdiam begitu menyadari foto yang baru saja terjatuh ke atas kaki gavin itu. Wajah nya yang memerah kini berubah pucat seiring dengan jantung nya yang berdetak semakin cepat. Sekarang giliran nadin yang merasa terpojok, gadis itu seperti seorang maling ayam yang baru saja ketahuan mencuri oleh warga. Dan warga yang dimaksud tidak lain tidak bukan adalah pria yang kini menatap nadin dengan berbagai pertanyaan di kepalanya.


Nadin mematung tanpa berani mendongakkan kepala. Gadis itu hanya memandang foto yang sudah dia simpan sejak zaman SMA.


Goodbye my first love


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~ 🐱🐱 \~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Nadin hanya bisa terdiam di bangku belajarnya sambil menatap gavin yang nampak serius membaca lembar demi lembar buku diary nya. Kejadian foto terjatuh itu pada akhirnya berimbas pada buku diary nadin yang di tahan oleh gavin.


Nadin tidak dapat berkutik saat pria itu mengatakan kalau nadin pasti sudah menulis yang nggak-nggak di dalam buku diary wanita itu tentang dirinya.


Dan demi membuktikan perkataan gavin itu tidak benar, nadin memperbolehkan gavin membaca hanya 3 lembar buku diary nya. Itupun harus di depan nadin, nadin ragu gavin akan membaca lebih dari 3 halamam apabila lelaki itu tidak di awasi oleh nya.


Bagi nadin buku diary itu adalah buku sejarah nya. Semua rahasia nadin tertulis jelas di buku bersampul biru itu. Rahasia mengenai keluarga nadin yang berantakkan, rahasia mengenai alasan kenapa nadin menjadi wanitra matre, alasan kenapa dia tidak punya teman dan yang terakhir alasan kenapa nadin menjadikan gavin sebagai cinta pertama nya.


Gavin nampak serius membaca hal-hal yang tertulis di dalam buku diary nadin, sesekali lelaki itu menoleh pada nadin yang masih tidak berani menatap nya. Nadin yan tadi marah-marah mendadak menjadi diam tanpa suara karena foto dan buku diary itu. Awalnya gavin tidak berniat untuk menyelidiki apa yang nadin tulis di dalam buku itu, tapi rasa penasarannya muncul saat membaca sebuah tulisan di belakang foto dirinya yang terjatuh tadi. Good Bye , My First Love itu adalah tulisan tangan nadin yang dia baca di balik foto itu.


Gavin menutup buku diary nadin, kemudian mengembalikkan pada pemiliknya yang sejak tadi nampak was-was mengawasi nya walaupun wanita itu masih menunduk dan tidak berani menatapnya. Gavin tahu nadin sedang merasa takut dan terpojok saat ini. Tidak seharusnya gavin mengobrak abrik hal yang memang menjadi privasi nadin, tapi berhubung gavin juga terlibat di dalam nya dia juga berhak bukan. Wanita itu masih menunduk saat buku bersampul biru itu sudah kembali padanya.


3 lembar yang gavin baca cukup membuat gavin menjadi lelaki brengsek seutuhnya. Iya mungkin ini aneh, tapi baru pertama kali gavin merasa bahagia dan sedih dalam saat yang bersamaan.

__ADS_1


Sesungguhnya gavin ingin meminta penjelasan langsung dari orang yang sudah menulis sebuah cerita yang baru saja dia baca. Tapi Gavin buru-buru menggeleng, dia melihat nadin yang sejak tadi nampak menunduk sambil memainkam ujung sweater nya. Gadis itu tidak berbicara sedikitpun atau memandangnya, dan itu semua  membuat gavin urung meninta penjelasan dari nadin.


"nad.. Gue minta maaf "


".... "


"terima kasih"


"....."


Gavin berdiri tepat di hadapan nadin,gadis itu masih menunduk. "cepet sembuh. Besok masuk kerja kalau nggak gaji lo gue potong "


Gavin berlalu meninggalkan nadin yang masih tidak beranjak dari tempat nya. Bunyi pintu kamar nadin yang kembali tertutup membuat gadis itu berani untuk melongok ke sekeliling, gavin sudah tidak ada lagi.


Gavin Christopher


Suara gemericik air berpadu dengan alunan musik klasik menggema di kamar mandi gue. Percaya atau tidak gue sering mendengarkan musik di dalam kamar mandi. Perpaduan antara rasa air hangat yang menyentuh kulit dengan alunan musik klasik yang menenangkan jiwa, mampu membuat seluruh beban fikiran gue hilang begitu saja.


Setelah mandi, gue memutuskan untuk duduk di depan tv. Mencari beberapa acara tv yang di tayangkan tengah malam. Pilihan gue jatuh pada pertandingan bola luar negeri, entahlah sebenernya gue tidak begitu suka menonton pertandingan sepak bola, tapi untuk malam ini gue butuh tontonan yang bisa membuat ruangaan ini menjadi ramai.


Gue menenggak rootbeer yang sejak tadi duduk manis di atas meja. Merasakan sensasi aneh yang mengalir di tenggorokkan gue, membuat kesadaran gue kembali pulih. Gue masih ingat rangkaian kata yang nadin tulis di buku diary nya. Seperti naik ke atas mesin waktu doraemon, semua hal yang di tulis nadin seperti kejadian yang gue alami di masa lalu tapi dalam sudut pandang berbeda.


Ingatan gue kembali melayang pada pristiwa saat hari kelulusan gue. Ya gue pasti tidak salah ingat, karena foto itu buktinya. Memori gue kembali memutar peristiwa yang hampir gue lupakan.


Flash Back


Seluruh siswa berkumpul di lapangan upacara bendera. Hari ini akan di bacakan hasil ujian nasional, yang sudah diikuti oleh seluruh siswa kelas 3 selama 3 hari. Beberapa wajah nampak terlihat cemas menantikan pembacaan hasil ujian nasional, sementara barisan murid paling belakang nampak terlihat cuek sambil tertawa menggoda teman di sebelahnya.


Pak Mugiono kepala sekolah yang terkenal dengan kepala botak dan kumis tebal nya, sekarang sudah berdiri di atas podium. Mata nya menyapu seluruh barisan murid yang menantikan pengumuman hasil ujian nasional mereka. Pria 50 tahun itu memulai pidato nya dengan wejangan-wejangan yang ditujukan untuk kelas 3 yang sebentar lagi akan melanjutkan ke tahap hidup orang dewasa.


Sudah hampir 20 menit pak mugio bercerita panjang kali lebar kali tinggi. Terik matahari ditambah wejangan dari pak mugiono yang tidak selesai-selesai, membuat korban-korban mulai berjatuhan.


Beberapa wanita ada yang jatuh pingsan karena tidak kuat berdiri, sementara beberapa pria tentu berpura-pura sakit supaya bisa diantarkan oleh petugas UKS yang terkenal cantik.


Setelah menit ke 35 saat-saat yang ditunggu akhirnya tiba juga. Pak mugio terlihat membuka ampolop hasil ujian nasional tingkat SMA. Suara musik yang dimainkan oleh marching band menambah kesan menegangkan, ditambah keringat yang bercucuran akibat terik matahari.


Semua mata tertuju pada pak mugio, pria itu malah dengan sengaja menggoda para siswa yang sudah tidak sabar mengetahui hasil ujian mereka dengan banyolan yang menurut para siswa tidak lucu sama sekali. Tiba saatnya pak mugio membacakan hasil ujian nasional, semua siswa mulai merasa resah apakah mereka akan lulus atau tidak.


"jadi.... hasil ujian nya... "pak mugio menyapukan pandangannya pada seluruh siswa yang nampak was-was menantikan nya.


"ciyee ciyee pada penasaran ya "pak mugiono tertawa kencang di ikuti oleh suara protes dari pada murid yang menyoraki nya.


"hahha udah deh, dari pada saya sebentar lagi di lemparin kalian, lebih baik saya umumkan. Kalian lulus SEMUA !!!"


Seketika itu lapangan menjadi gaduh, beberapa murid bahkan ada yang sampai menangis sambil bersujud di lapangan. Gavin yang berdiri di barisan paling belakang mulai merasa muak dengan semua keriuhan yang terjadi di lapangan. Diam-diam Dia memutuskan untuk pergi ke rooftop yang berada di atas sekolah.


Tempat yang baru sebulan ini dia temukan secara tidak sengaja. Gavin berdiri di ujung tembok, melihat pemandangan kota yang nampak seperti miniatur jika dilihat dari atas atap. Gavin mengeluarkan sebungkus rokok dari dalam hoddie yang sudah dia simpan sejak semalam.


Menyalakan benda berwarna putih itu dengan sebuah pemantik. Gavin menghisap dalam-dalam rokok itu, kemudian menghembuskan asap nya di  udara seolah seluruh maslahnya hilang bersama kepulan asap berwarna putih itu.


Gavin menghela nafas panjang, masih teringat pertengkarannya dengan christopher hadinata, papah nya tadi malam. Bagaimana pria itu membentak nya, menyuruh nya untuk melanjutkan kuliah di Amerika. Pria itu bahkan mengancam, jika gavin menolak maka papah nya akan menceraikan mamah gavin detik itu juga, dan saat itu juga untuk pertama kali nya gavin melihat langsung mamah nya menangis.


Flash Back Off


Drtt drtt...


Suara ponsel yang bergetar di atas meja, membuat kesadaran gue kembali. Gue mengambil benda pipih itu, melihat siapa yang menelfon gue di tengah malam seperti ini. Dan seketika gue tercengang, melihat caller ID dari si penelfon, dia.. Aurora


Aurora Calling.....


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2