CEO Rese Dan Secretary Matre Nya

CEO Rese Dan Secretary Matre Nya
Episode 21


__ADS_3

Nadin Almira Queen


Minggu pagi adalah hari yang paling sejahtera bagi kami kaum karyawan yang hanya punya waktu sabtu dan minggu sebagai hari untuk bersantai. Gue sudah siap dengan pakian olahraga lengkap dengan headphone yang menggantung indah di leher gue.


Hari ini gue berniat lari keliling komplek untuk menurunkan berat badan gue yang akhir-akhir ini meningkat, seiring dengan banyak nya bujukan diskon sampai cash back yang membuat gue selalu order makanan via Ojek Online. Karena itu demi menjaga kemolekkan tubuh gue ini, suka nggak suka gue harus lari paling nggak 3 putaran untuk membakar seporsi martabak keju dan ayam bakar yang semalam gue makan.


Baru saja gue selesai mengunci pintu, mendadak sebuah panggilan telfon membuat gue mengurungkan niat untuk berangkat.Di layar ponsel gue muncul nama gavin . Gue mendengus kesal, gavin itu tahu atau pura-pura gak tahu sih sebenarnya. Sudah banyak cara gue lakukan untuk menghindari nya. Mulai dari cara yang biasa dengan sengaja berangkat lebih pagi, sampai cara teraneh dengan pergi ke kantor menggunakan pashmina yang menutup nyaris seluruh wajah gue dan jalan mengendap-endap menggunakan tangga darurat.


Segala cara sudah gue lakukan demi meminimalisir pertemuan gue dengan gavin . Tapi entah kenapa gavin seperti masa bodoh dan selalu mencari cara untuk bertemu gue. Membuat gue akhirnya menyerah dan bodo amat dengan apa yang gavin lakukan.


Ini hari minggu dan untuk apa pria itu menghubungi gue. Gue betul-betul tidak habis fikir dengan pria ini, dia sendiri yang mengatakan kalau dia nggak akan pernah catat gak akan pernah jatuh cinta sama gue karena gue matre. Dia juga pernah bilang gue cerewet dan centil.


Segala macam hinaan sudah pernah gue terima dari pria tampan yang terkadang mulutnya mengalahkan rasa bon cabe level 30 itu. Dan sialnya sampai sekarang gue masih mengagumi pria itu. Mungkin apa yang di bilang sahabat gue benar, nadin memang bucin.


Gue menggeser tombol hijau kemudian meletakkan posel di telinga gue, suara gavin yang dulu pernah gue puji mirip suara Shawn Mendes langsung mengalun merdu.


"hallo "


"selamat pagi nadin "gavin menyapa gue entah gue yang GR atau memang suara dia yang sengaja di buat lembut.


"ini hari minggu, siapa tahu bos lupa "jawab gue berusaha sedatar mungkin.


"hahha i know, itulah kenapa gue mau lo jemput gue di bandara now !"ucap gavn dengan nada bossy.


Gue berkacak pinggang dan sekarang wajah gue sudah pasti berubah seperti singa lapar yang ingin menerkam mangsa nya. Di ganggu di hari libur merupakan cobaan yang paling berat bagi seorang karyawan seperti gue. Dan sialnya gue gak cukup punya power dan gue masih butuh duit. Dengan menekan segala bentuk sumpah serapah dan maki-makian yang gue ingin lontarkan pada bos gue yang rese tapi sialnya ganteng ini, akhirnya gue menyerah dan berkata.


"oke " gue kembali memasuki rumah untuk berganti pakaian.


Entah gue salah dengar atau memang gavin sempat berkata yes di telfon. Gue tahu persis membuat gue kesal adalah salah satu daftar kegiatan gavin setiap hari nya, Dasar bos gila. Akhirnya dengan langkah berat, setelah berganti pakaian gue mengambil kunci mobil yang selalu gue letakkan di atas meja.


Gue berdoa semoga hari ini jalanan menuju bandara tidak seramai seperti biasanya, karena jika gue sampai terjebak macet, bukan cuma gue yang bertambah kesal tapi pastinya bos gue itu akan "bernyanyi" saat gue sampai di bandara nanti.


Setelah menempuh perjalanan yang untungnya tidak seburuk yang gue bayangkan, akhirnya gue tiba di bandara Soekarno-Hatta. Setelah memarkirkan mobil, gue berjalan dengan santai menuju terminal kedatangan luar negeri. Sebenernya gue bingung, gavin bukan nya gak punya duit untuk bayar taksi atau menggunakan jasa ojek online bukan ? Tapi kenapa harus gue yang jemput dia.


Gue menyapukan pandangan gue ke sekeliling, mencari sosok tinggi dan tampan di antara para turis asing yang entah kenapa hari ini jumlahnya lumayan banyak. Mendadak pandangan mata gue tertuju pada seorang pria yang berdiri di depan jendela sambil memegang cup coffee. Dilihat dari samping saja gue bisa mengenali pria itu dengan jelas.


Tanpa menghiraukan pandangan sekitar, gue berlari menghampiri lelaki yang sepertinya tidak sadar akan kehadiran gue itu.


"welcome back"gue memeluk erat lelaki itu sampai dia nyaris terjatuh ke belakang.


Lelaki itu balik memeluk gue. Bodo amat dengan pandangan orang-orang di sekitar kami yang berfikir kalau kami ini pasangan korban LDR yang baru bertemu setelah bertahun-tahun ditinggal rantau.


Ya memang gue dan lelaki yang baru saja melepaskan pelukkan nya ini memang menjalani LDR tapi bukan dalam konteks kami ini berpacaran. Lelaki bermata sipit di hadapan gue adalah sahabat gue. Namanya Praditra tapi gue biasa panggil koko padahal dia sama sekali gak ada darah chinese sama sekali. Koko hanya di anugrahi mata sipit dan kulit putih entah berasal dari mana.


"ekhm... " sebuah suara deheman menbuat gue dan koko yang sedang asik kangen-kangen an menoleh.


Oh my god gue lupa kalau ada bos rese yang harus gue jemput. Wajah gavin sudah menunjukkan ekspresi kesal. Dasar gak bisa liat orang lain bahagia.


"kamu kesini buat jemput saya, takutnya kamu lupa"ujar gavin dengan nada dingin sambil melirik ke arah ditra dengan tatapan tidak suka.


"saya tahu kok "


"bawain tas saya "gavin mendorong troli yang berisi koper-koper miliknya mendekat ke arah gue, tuh lihat kan betapa sakit jiwa nya lelaki ini, hello gue masih wanita gavin.


"biar gue aja nad"ditra mengambil alih troli yang berisi koper-koper milik gavin. Gue tersenyum lebar seraya melingkarkan tangan gue ke lengan ditra.


"koko emang paling the best"gue tersenyum lebar sambil menatap wajah ko ditra yang tinggi badan nya jauh menjulang dari pada gue.


"lo nggak berubah ya vin, masih sama dari zaman SMA "


Gavin mengerutkan dahi, gue yakin banget gavin lupa sama ditra. Jelas lah kalau kalian kenal ditra, kalian pasti juga gak akan pernah menyangka kalau cowok ganteng berbadan atletis ini pernah gemuk seperti beruang. Tapi cuma seorang nadin yang tahu bagaimana perjuangan seorang praditra berubah dari si buruk rupa menjadi tampan seperti sekarang.


"lo kenal gue ?"


"jelas kenal. siapa sih yang gak kenal seorang gavin christopher di sekolah "jawab ditra dengan santai.


"gue gak kenal lo "jawab gavin dengan pandangan yang meremehkan, dasar sok cakep eh emang cakep sih.


"gue ditra.. Cowok yang pernah lo sebut pahlawan kesiangan karena menolong seorang gadis yang lo buat nangis karena lo mempermalukan dia, ingat ? "


Gavin nampak berfikir, gue yakin dia lupa kapan dia pernah buat seorang cewek nangis. Jelas aja lupa, sesuatu yang terlalu sering di lakukan pasti lebih mudah di lupakan. Dan Membuat perempuan nangis mungkin hobi gavin dari zaman SMA.

__ADS_1


"lo si gendut !"gavin nampak membelalakan matanya, menatap takjub pada pria di samping gue ini.


Ditra mengedikkan bahu nya. Koko gue ini memang selalu berlaku cool pada siapa saja, cool dalam artian keren ya bukan kulkas satu pintu kayak si gavin ini. Gavin tertawa kencang sambil menunjuk-nunjuk ditra, gue dan ditra tentu saja hanya diam melihat kelakuan aneh gavin yang seperti orang kerasukan. Gue bacain ayat kursi baru nyaho kali si gavin.


Karena kesal dengan perlakuan gavin yang malah tertawa terbahak-bahak sambil menunjuk-nunjuk ditra, entah setan dari mana yang merasuki tubuh gue. Gue maju mendekat ke arah gavin, lelaki itu sempat berhenti tertawa karena jarak kami yang begitu dekat. Tapi jangan berbahagia dulu ganteng, karena detik berikutnya lelaki itu jatuh tersungkur sambil memegangi kaki nya yang baru saja dapat kiss dari heels gue yang tinggi nya 8 CM.


Gue dan ditra melakukan hi five sambil melihat gavin yang masih berbaring di lantai sambil mengumpat ke arah kami. Kami bahkan mengabaikan pandangan orang-orang yang menonton kami seolah kami ini artis yang sedang melakukan shooting FTV.


"nadin !!!!!!"gavin berteriak saat gue dan ditra meninggalkan dia yang masih berbaring di lantai, rasakan pembalasan gue gavin.


Kami bertiga duduk di dalam mobil dalam keadaan hening. Gue yang memegang kemudi sementara dua pria yang sedang perang dingin ini baru saja selesai dengan perdebatan mereka tentang siapa yang duduk di depan alias di samping gue.


Karena gue kesal dengan tingkah mereka yang seperti bocah SD itu, akhirnya gue menyuruh mereka berdua untuk sama-sama duduk di bangku belakang. Gue taruh paperbag  milik ditra di samping gue supaya mereka berdua tidak lagi ribut mengenai siapa yang duduk di depan dan siapa yang duduk di belakang.


"nad kita makan pasta yuk, gue tahu restaurant pasta yang enak. Gue traktir deh "ditra memang paling pengertian, tahu banget kalau jam segini cacing di perut gue sudah mulai berdemo.


"gak bisa ! Lo masih kerja sekarang, dan tugas lo antar bos lo ini dengan selamat ke rumah nya "gavin tiba-tiba menyela pembicaraan gue dan ditra, memang paling jago lelaki itu merusak suasana.


"bos kan bisa naik taksi atau naik ojek online. Lagi pula ini hari minggu dan setahu saya ini waktu nya saya libur"gue berbicara dengan penuh penekanan supaya bos gue yang rese ini tahu kalau gue punya hak sebagai karyawan.


"saya mau nya kamu yang antar saya nadin "suara gavin sedikit melunak, entah perasaan gue doang atau memang gavin seperti anak kecil yang minta di ajak main.


"bisa nggak bos nggak merusuh terus di hidup saya, nggak cukup senin-jumat ketemu saya terus. Bos sendiri kan yang bilang kalau bos tidak menyukai saya !"nada bicara gue mulai meninggi, gerah juga lama-lama dengan kelakuan gavin yang suka berubah-ubah. Dasar ababil.


Di luar dugaan gue, gavin tidak membalas perkataan gue. Dia malah diam sambil menatap keluar jendela. Gue pun tidak melanjutkan makian gue pada gavin, lebih baik gue konsentrasi pada jalanan dari pada gue harus ngomel-ngomel menghadapi tingkah gavin yang aneh.


Kami bertiga duduk di sebuah restaurant yang ditra rekomendasikan. Sebuah restaurat dengan dominasi kayu membuat suasanya menjadi nyaman, diam-diam gue merasa restaurant ini sangat mencerminkan ditra, selalu membuat nyaman.


"jadi.. Jelaskan pada gue kenapa koko bisa ada di jakarta, dua hari yang lalu kita baru video call dan koko gak cerita apapun "


Ditra tertawa sambil mengacak rambut gue, rasanya sudah lama sejak terakhir kali ditra melakukannya ke gue. Mungikin terakhir kali saat gue mengantarkan ditra ke bandara saat lelaki itu mau melanjutkan sekolah di Amsterdam.


"ya gak jadi kejutan dong kalau gue bilang "


"betul juga ya ... Terus selama di jakarta tinggal di rumah lama ?"


Ditra mengangguk."iya dong.. Gue kan nggak mau pisah sama lo lagi "ditra tersenyum lebar membuat wajahnya semakim tampan menurut gue.


"ekhm... Masih ada orang di sini "suara gavin membuat mood gue langsung hancur ke tingkat paling dasar.


"udah selesai kan makan nya ? Pulang yuk nad "ujar gavin dengan wajah tanpa dosa.


Gue mengatur nafas gue demi meredam emosi yang sebentar lagi meledak. Kenapa hari ini gavin berubah jadi orang yang super nyebelin sih. Oke gavin emang nyebelin hampir setiap hari dia menyebalkan. Tapi ini, bisa nggak dia baca situasi kalau gue sedang bersama dengan orang lain.


"anterin dia aja dulu nad, nanti gue tunggu di rumah "


Tiba-tiba gavin berdiri sambil menatap tajam ke arah gue dan ditra. Bulu kuduk gue sampai berdiri melihat wajah gavin yang sudah merah padam, kenapa juga dia harus marah. Apalagi salah gue kali ini ?


"kalian tinggal serumah ?!"


"kami tetangga, ah pasti lo gak tau kan "tiba-tiba ditra merangkul pundak gue, kebiasaan dari dulu dia memang selalu begitu.


"itu tangan bisa lo lepasin nggak !"gavin menunjuk pada tangan ditra yang masih setia merangkul pundak gue.


"kenapa ? Lo cemburu ? Lo kan bukan siapa-siapa nya nadin. Hanya bos, dan ini hari minggu , jadi nadin gak harus bersikap hormat sama lo "gue menatap takjub pada wajah ditra yang nampak tenang menangagapi perkataan gavin.


"kalian tuh kenapa sih !? "gue menatap ditra dan gavin bergantian.


"diem nad !! "jawab ditra dan gavin secara berbarengan, wah jangan-jangan mereka jodoh.


Gue gak bisa diam-diam aja membiarkan dua orang yang bertengkar seperti tom&jerry ini. Dengan pertimbangan yang matang dan mengumpulkan segala nyali, akhirnya gue sudah punya jalan keluar.


"gue anter gavin dulu ya ko.. Nanti malam kita ketemu lagi "


"okay.. Hati-hati di jalan ya nad"


Gue mengangguk, see koko gue satu ini bukan cuma ganteng tapi super baik. Gak heran kalau dulu ada orang yang gak bisa move on dari lelaki ini.


Gue melihat gavin sedikit tersenyum. Pasti dia bahagia karena berhasil membuat gue kesal, merusak acara gue dan koko dan yang paling penting  pada akhirnya gue memilih untuk mengantarkan dia pulang ke apartemen nya.


Sepanjang perjalanan menuju apartemen gavin, gue sama sekali nggak berniat membuka percakapan ataupun menanggapi semua ocehan yang gavin lontarkan. Gavin terus-terus an bertanya prihal hubungan gue dan ditra. Sejauh mana gue kenal dia. Dan yang paling bikin gue shock saat gavin bertanya, barang-barang mahal apa saja yang ditra sudah berikan pada gue.

__ADS_1


Ingin rasanya gue menurunkan lelaki di samping gue ini di pinggir jalan. Mumpung kami sedang berada di tol dan mustahil ada ojek online yang lewat sini, kecuali gavin cukup hoki buat lolos dari kejaran polisi.


"nad jawab dong "ocehan gavin yang sejak tadi dia lontarkan sekarang malah bertambah dengan aksi menarik-narik ujung baju gue.


"berisik bos ! saya lagi konsentrasi nyetir nggak liat !"


"maaf, gue kan cuma penasaran kenapa cowok itu bisa akrab banget sama lo nad "


"kalau dia akrab sama saya itu urusan saya, kalau dia dekat sama saya itu karena dia baik dan gak rese. Beda sama seseorang "


"lo nyindir gue ?"


"emang saya ada menyebut nama bos, nggak kan "


Kami berdua kembali diam dengan fikiran kami masing-masing. Gavin tidak lagi bertanya-tanya dan gue juga gak berniat untuk mempertanyakan kenapa dia gak nanya-nanya lagi. Sampai di depan apartemen pun lelaki itu hanya menurunkan koper nya dari dalam bagasi, kemudian berjalan masuk setelah mengucapkan terima kasih pada gue. Ya setidaknya dia masih tahu cara mengucapkan terima kasih setelah membuat hari libur gue ini menjadi kacau.


Jam sudah menunjukan pukul 17:00 saat gue tiba di rumah. Gue menghela nafas menyadari kalau besok gue masih  harus di hadapkan oleh hari senin dan gavin. Habis sudah waktu liburan gue yang limited edition ini. Semua gara-gara gavin, lelaki itu punya kemampuan membuat orang lain murka. Dan sialnya walaupun gavin kelakuan menyebalkan, tapi wajah tampan nya mampu membuat orang lain luluh lantak dan mau menuruti perkataannya, dan walaupum berat hati harus gue akui gue adalah salah satu nya.


Setelah mobil terparkir sempurna, gue mencabut kunci dan berniat untuk segera keluar mobil. Tapi urung gue lakukan karena gue melihat sebuah paperbag yang tidak gue kenali. Mungkin ini paperbag milik gavin atau bisa jadi milik ditra. Tanpa berniat keppo, gue bawa masuk paperbag yang sepertinya berisi kotak sepatu itu ke dalam kamar.


Setelah bebersih gue merebahkan diri di atas kasur. Jadi supir sehari ternyata gak enak, badan seperti mati rasa, apalagi ditambah makan hati menghadapi kelakuan dua pria yang mirip bocah SD itu.


Gue mendadak penasaran dengan paperbag yang tadi gue temukan di dalam mobil. Walaupun gue bisa tebak kalau itu berisi sepatu, tapi tetap saja gue penasaran sama isi nya. Ah sial tadi gue udah berniat gak keppo tapi kenapa sekarang gue jadi keppo. Nadin sepertinya sudah mulai ketularan penyakit nitijen zaman now. Yang kerjaannya keppo sama hidup orang terus di nyinyir.


Tuh kenapa jadi malah bahas nitijen. Oke kembali ke paperbag, pelan-pelan gue buka kardus sepatu yang gue kenal sebagai brand yang sangat mahal itu. Gue tahu persis harga sepatu keluaran brand ini setara dengan harga motor.


Diam-diam gue jadi berharap kalau sepatu ini untuk gue. Ah tapi mana mungkin, orang mereka berdua nggak bilang apa-apa tadi. Jangan GR dulu nad, walaupun lo udah ngiler liat sepatu nya. Gue langsung berdecak kagum menatap maha karya di hadapan gue ini. Sepatu seharga motor yang cantik nya luar biasa.


Ah seandanya sepatu ini untuk gue, pasti sekarang gue sudah menjadi cinderella di kehidupan nyata. Duh jangan mulai halu nad. Mengagumi sepatu cantik membuat gue tidak sadar kalau ada sebuah surat terselip diantara sepatu cantik ini. Aha siapa tau aja kan gue bisa tahu pemilik sepatu cantik ini.


Gue mengambil surat itu, sebuah tulisan tangan yang rapih tertera di dalamnya. Jika gue tidak salah, tulisan tangan serapih ini milik gavin. Iya gak salah, gue tahu banget tulisan ditra nggak serapih ini.


beautiful shoes will bring you to beautiful places


So, Would you like to go on a date with me?


Gavin


Gue membungkam mulut gue dengan kedua telapak tangan gue. Gak salah lagi pasti sepatu ini punya aurora. Karena cuma aurora satu-satu nya wanita yang gavin cintai. Jangan nangis nad, kenyataan nggak selalu seindah apa yang lo bayangkan memang.


Tapi gue salut, gavin sampai saat ini masih berniat jadi pebinor rupanya. Kapan lelaki itu akan sadar kalau ada gue wanita yang tulus cinta sama dia. Gue bisa terima semua kelakuan menyebalkan dia, gue tahan dengan semua maki-makian dan sumpah serapah yang selalu dia lontarkan. Bahkan gue mau meminjamkan pundak gue disaat lelaki itu butuh sandaran.


Tanpa sadar air mata gue mulai menetes dengan sendiri nya. Gue cemburu gavin masih mencintai auora. Gue marah karena gavin tidak pernah melihat gue. Tapi gue cukup tahu diri, gue tahu di mata gavin gue gak lebih dari cewek matre yang dia benci. Dan terkadang gue merasa peran gue hanya sebagai peran penghibur di kehidupan gavin.


Lelaki itu datang hanya untuk mencari kesenangan. Memanfaatkan perasaan gue, karena dia tahu seaneh apapun permintaan yang dia mau, gue akan nurut bak anak anjing yang baru di beri tulang. Kalian boleh menyebut gue bodoh, gue pun merasa demikian.


\~\~\~\~\~\~\~\~ 🐱🐱 \~\~\~\~\~\~\~\~\~


Gavin baru selesai mandi, dengan masih mengenakan bathrobe, gavin merebahkan badan nya di atas tempat tidur. Perjalanan dari jepang menuju jakarta sangat melelahkan, walaupun gavin menaiki pesawat kelas bussiness nyatanya badan gavin Tetap saja merasa kaku dan sampai sekarang masih merasakan jetlag.


Gavin megambil handphone nya kemudian membuka aplikasi instagram. Tidak biasanya lelaki itu membuka instagram, gavin memang punua akun instagram dengan jumlah followers yang sudah tidak diragukan lagi berapa jumlahnya. Walaupun instagram gavin hanya berisi kegiatan nya sehari-hari, jumlah likers tiap fotonya bisa mencapai angka ribuan.


Tapi kali ini bukan untuk upload foto tujuan gavin membuka instagram nya. Lelaki itu mengetikkan sebuah nama yang sejak tadi membuat dia penasaran, pria yang sudah menggagalkan acara kejutan nya untuk nadin, Praditra Erlangga Putra.


Gavin langsung mendengus saat mendapati jumlah followers ditra nyaris menyamai jumlah followers nya. Tapi beda nya jika gavin baru mengupload 35 foto dan jumlah followers nya sudah mencapai angka 3k maka ditra hanya butuh mengupload 5 foto dan foila jumlah followernya sudah mencapai angka 2k.


Praditra bekerja sebagai seorang chef di sebuah kapal pesiar mewah yang dulu pernah gavin naiki saat liburan di singapura. Praditra juga adalah seorang celebrity chef yang wajah nya terkadang ada di salah satu stasiun tv swasta.


Wajah tampan, kaya, dan polularitas yang tidak di ragukan lagi. Menbuat gavin diam-diam di landa rasa minder. Mungkin dari segi tampan,kaya dan poluritas mereka berdua bisa di katakan ada di level yang sama. Tapi satu hal yang membuat gavin minder, ditra mampu membuat nadin bahagia, tidak seoerti dirinya. Entah sudar berapa banyak air mata yang nadin keluarkan karena perbuatan gavin.


Pandangan gavin langsung tertuju pada satu foto yang menurut gavin agak mencurigakan. Foto dengam caption " i hold her hands, so she never be alone "


 


Foto dengan jumlah likes terbanyak dan jumlah comment terbanyak. Gavin membuka seluruh comment yang di utarakan oleh followers ditra. Gavin berharap bisa menemukan petunjuk mengenai hubungan ditra dengan nadin. Setidaknya jika memang benar nadin dan ditra berkencan, gavin bisa punya cara untuk memisahkam mereka. Tentu saja menjadi pebinor sudah menjadi salah satu skill yang gavin miliki.


Commentar yang di tinggalkan oleh followers ditra rata-rata mengatakan kalau mareka patah hati. Gavin tertawa mengejek dan mengatakan kalau followers ditra di dominasi oleh ABG lebay bin alay. Tapi matanya langsung panas saat melihat sebuah commentar yang di tinggalkan oleh pemilik account yang sangat dia hafal di luar kepala.


@nadinalmira12 ❤


Hanya sebuah tanda love yang nadin tinggalkan di kolom komentar instagram ditra, mampu membuat gavin membanting handphone nya ke lantai.

__ADS_1


Walaupun gengsi tapi harus gavin akui, dia cemburu.


Bersambung


__ADS_2