CEO Rese Dan Secretary Matre Nya

CEO Rese Dan Secretary Matre Nya
Episode 29


__ADS_3

"kamu cantik seperti biasanya "pria itu tersenyum kemudian membelai lembut puncak kepala nadin.


"thanks "nadin tersenyum berusaha terlihat baik-baik saja di depan lelaki itu.


Nadin menoleh saat mendengar danar baru saja memuji dirinya. Wanita itu lalu tersenyum menanggapi pujian dari danar yang entah untuk keberapa kali nya malam ini. Tiba-tiba saja danar menelfon nadin, menanyakan kabar hingga modus untuk mengajak nadin pergi ke pesta pertunangan vero bersama. Awalnya nadin enggan menanggapi danar karena nadin tahu, di balik mantan yang menanyakan kabar terdapat modus ingin balikan.


Kondisi nadin yang baru saja mengalami patah hati hebat, pasca mendengar pembicaraan bimo dan gavin , membuat wanita itu menyetujui untuk menerima ajakan danar. Mungkin saja dengan danar nadin bisa sedikit melupakan patah hati nya.


Nadin duduk manis di kursi penumpang setelah sabuk pengaman sudah terpasang sempurna. Satu jam yang lalu seorang pria mengenakan mobil Lexus datang menjemputnya untuk menghadiri sebuah pesta. Lelaki itu nampak gagah dengan stelan tuxedo mahal yang nadin yakini di rancang oleh salah satu designer kondang di Indonesia.


"kamu udah tahu kan tempat nya dimana ?"


Nadin mengangguk."vero ngirimin aku alamat nya kok "


Lelaki itu kembali konsen menyetir dengan tangan kiri yang sesekali menggenggam jemari nadin. Sebuah cincin bertahtakan berlian melingkar sempurna di jari manis nadin. Lelaki itu mengusapnya kemudian mengecup cicin limited edition yang sengaja dia pilih untuk nadin.


Cicin itu seolah menegaskan kalau nadin adalah milik nya sekarang. Sesekali nadin menanggapi perilaku lelaki itu dengan senyuman. Kemudian pandangan nadin kembali teralih, menatap jalanan yang di penuhi oleh kerlap kerlip lampu.


"thanks "nadin tersenyum saat pria bernama danar itu membukakan pintu mobil kemudian mengulurkan tangan untuk membantu nadin.


"sama-sama cantik "danar kembali tersenyum, entah untuk keberapa kali nya dalam hari ini pria itu selalu tersenyum.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang karena lokasi pertunangan vero yang di adakan di luar kota, akhirnya mereka berdua sampai di sebuah garden yang memang disulap menjadi venue pertunangan. Lampu-lampu cantik di lengkapi bunga-bunga membuat siapapun yang hadir di sana menatap kagum padaa dekorasi yang pasti berbuget luar biasa.


Foto Vero dan Atmaja-Tunangan vero , menjadi pembuka kala nadin dan danar menginjakkan kaki di pintu masuk. Cuaca yang lumayan dingin membuat nadin harus merasakan hembusan angin di punggung nya yang terbuka. Dia jadi menyesali memilih gaun dengan model seperti itu.


Danar dan nadin berjalan bersama dengan tangan nadin yang melingkar di tangan danar. Lelaki itu tentu merasa bangga bisa membawa gadis paling cantik di sekolah nya apalagi kemungkinan bertemu dengan teman lama mereka sangat besar di pertungan vero ini.


Danar merasa memenangkan sesuatu yang dia sendiri tidak tahu itu apa. Yang jelas menggandeng tangan nadin menuju venue pernikahan vero, membuat seulas senyum tidak juga lepas dari wajah tampan nya. Perasaan bahagia sekaligus bangga yang danar rasakan saat semua mata pria pesaingnya dulu menatap danar dengan tatapan iri karena berhasil membawa si primadona sekolah.


Tapi berbeda dengan danar yang penuh dengan senyuman karena berhasil mengajak nadin, wanita itu berusaha untuk menahan rasa sedih karena kemungkinan bertemu dengan teman-teman SMA mereka membuat nadin teringat lagi pada Gavin.


Lelaki itu masih saja menjadi pemeran utama di dalam fikiran nadin, sekalipun danar berada di samping nya. Apalagi malam ini untuk pertama kali nya nadin menggunakan sepatu pemberian gavin. Sepatu yang dia fikir milik aurora ternyata secara ajaib menjadi milik nya.


Nadin ingat tulisan yang ada di dalam kotak sepatu itu.


beautiful shoes will bring you to beautiful places


Memang benar sepatu itu benar-benar membawa nya ke tempat indah dengan suasana yang begitu romantis. Tapi sepatu cantik itu tidak bisa membawa nadin menemui pangeran nya. Ternyata dongeng dan realita memang sangat berbeda.


Dulu nadin pernah mendengar sebuah mitos yang pernah dia sebut tidak masuk akal yaitu, jika seseorang memberikan hadiah sepatu maka orang itu akan pergi dan sekarang harus nadin akui mitos itu ternyata benar.


"jadi udah officially nih bro "bimo si mulut lemes langsung menghambur ke arah pasangan yang sedang jadi pusat perhatian.


"tentu "dengan bangga danar memamerkan cicin platina yang melingkar di jari manis nya.


Beberapa pasang mata yang memang sejak tadi memperhatikan nadin dan danar langsung berkasak kusuk membicarakan hubungan mereka. Nadin hanya bisa tersenyum, menanggapi beberapa teman lama nya memberikan selamat atas hubungan nya dengan danar.


Diam-diam Mata nadin mencari sesosok pria yang sudah berkeliaran di dalam fikirian nya. Entah kenapa karena bertemu dengan banyak teman-teman SMA, membuat nadin diam-diam berharap gavin akan datang juga ke pesta ini.


Saat nadin mengedarkan pandangan nya ke sekeliling saat itu manik mata nya bertemu dengan manik mata pria yang dia cari. Gavin berdiri di pojok ruangan dengan segelas champagne di genggaman nya.


Lelaki itu tidak sendiri, sesosok wanita cantik nampak sedang berbisik sesuatu di telinga gavin. Membuat gesture seolah-olah mereka berdua memiliki kedekatan yang cukup serius, walaupun tanpa wanita itu sadari pria yang sedang dia bisiki sedang menatap wanita lain.


Nadin geram di buatnya, harus dia akui kalau rasa cemburu itu berhasil membuat nadin ingin menangis lagi. Perasaan nadin ingin mengutuk lelaki yang dengan tidak tahu malu nya bermesraan dengan wanita lain setelah berhasil mematahkan hatinya . Tapi keyataan bayangan pria itu masih belum juga hilang dari fikirian nadin memang benar adanya, nadin masih sangat mencintai pria itu.


Gavin menatap nadin sambil sesekali meminum champagne. Suara lembut friska yang berbisik di telinga nya hanya dia tanggapi dengan tertawa ringan saja. Tidak ada yang special, sama seperti arti friska untuknya. Gavin tahu dia pasti akan bertemu nadin di pesta ini. Karena itu dia sengaja mengajak friska sebagai kedok agar nadin semakin membenci nya.


Melihat pinggang nadin di rangkul mesra oleh danar, sungguh rasanya gavin ingin berlari dan menghadiahi pria itu dengan sebuah pukulan maut miliknya. Tapi sayang itu hanya terjadi di fikirannya saja. Kenyataannya gavin selalu menjadi gavin yang pengecut. Pria yang hanya bisa diam-diam menangis melihat wanita yang paling dia cintai di klaim sebagai milik orang lain.


\~\~\~\~\~\~\~\~🐱🐱\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Nadin merasa dirinya sudah mulai kelelahan. Suasana pesta yang begitu ramai di tambah sepatu hak tinggi, membuat penyakit darah rendah nya kembali kambuh. Kepala nya terasa pusing dan mendadak badan nya terasa lemas.


Nadin meminta izin pada danar untuk pulang terlebih dahulu. Awalnya danar bersikeras ingin mengantarkan nadin, tapi wanita itu menolak dengan alasan teman-teman mereka masih ingin bersama danar. Nadin berusaha membujuk danar agar mengizinkanya pulang menggunakan taksi saja. Akhirnya danar setuju dengan syarat saat tiba di rumah nadin harus segera mengabarinya.


Nadin mengangguk, setelah berpamitan dengan danar dan beberapa teman lama mereka nadin keluar dari gedung pesta. Wanita itu nampak kesusahan karena hells dan baju yang dia kenakan. Nadin berdiri di pinggir jalan untuk memberhentikan taksi. Tapi padat nya jalanan membuat nadin kesulitan menemukan taksi.


Tiba-tiba nadin merasakan sesuatu yang hangat melingkupi badan nya. Nadin menoleh dan mendapati gavin berdiri di sampingnya.


Sosok yang dia rindukan sekaligus sosok yang paling dia tidak ingin temui sekarang berdiri di samping nya. Jas lelaki itu bahkan membungkus tubuh bagian atas nadin dengan sempurna. Rasanya hangat sama seperti dulu yang dia rasakan saat pria itu masih ada di hidupnya.


"pakai aja itu buatan designer ternama kok "gavin berucap tanpa sedikitpun menoleh kepada nadin.


Nadin ingin tertawa rasanya. Setelah sekian lama mereka tidak saling berbicara, tidak nadin sangka kata-kata itu yang terlontar dari bibir yang dulu selalu mengecup nadin dengan lembut.


"kalian terlihat serasi "ucap gavin dengan sedikit sinis.


"kalian juga terlihat serasi "balas nadin.


"aku seneng kamu bisa bersama dengan lelaki yang lebih baik dari aku "


"kalau tujuan kamu ada di sini cuma buat ngajak aku berantem, lebih baik kamu pergi. Kasian wanita kamu itu jika dibiarkan menunggu terlalu lama "Nadin sedikit menekankan perkataannya.


Gavin menoleh. "kamu cemburu ?"


Nadin melipat kedua tangannya di depan dada. Udara dingin mulai membuat bulu kuduk nya sedikit meremang.


"untuk apa aku cemburu ?"nadin balik bertanya.


"ya karena kamu masih cinta kan sama aku ?"jawab gavin dengan polos nya.


Nadin tertawa."oh bukan nya kamu yang cinta sama aku tapi gak mau ngaku ? Dasar munafik "sindir nadin.


Munafik


Satu kata itu yang selalu menghantui dia sejak memutuskan merelakan nadin untuk pria lain. Tapi mendengar nadin mengatakan kata itu, gavin tidak bisa berkutik lagi.


"bener kan ? Jadi perasaan aku dulu gak bertepuk sebelah tangan "perkataan nadin yang terlalu blak blak an mampu membuat wajah gavin mulai memerah menahan malu.


"jawab aku gavin !!"suara nadin mulai meninggi.


Gavin Christopher


Sejak nadin datang pandangan semua orang tertuju padanya, nadin tampak sangat cantik dengan gaun berwarna biru muda dengan punggung mulus yang terekspose sempurna. Gue tersenyum lebar menatap wanita yang berhasil merebut hati gue itu. Tapi kebahagiaan gue tidak berlangsung lama saat melihat tangan danar dengan berani nya merangkul nadin.


Lelaki itu seolah menegaskan kalau nadin itu sekarang miliknya. Membuat teman-teman SMA kami meberikan ucapan selamat pada pasangaan itu. Saat pandangan mata nadin tanpa sengaja bertabrakkan dengan gue, saat itu gue tahu betapa wanita itu masih mencintai gue.


Tatapan nadin memang masih menunjukkan betapa gue sangat berarti baginya, tapi bukan hanya tatapan cinta yang masih nadin perlihatkan. Wanita itu juga sangat membenci gue sekarang. Malam ini gue sengaja mengajak friska, wanita yang dito perkenalkan sebagai adik iparnya.


Sepanjang pesta tatapan gue hanya tertuju pada nadin, memperhatikan bagaimana tidak nyaman nya wanita itu saat danar berniat mengecup nya. Beberapa kali gue lihat nadin menghindar dengan berpura-pura mengambil minuman atau sekedar bercakap dengan kawan-kawan lama kami.


Gue tersenyum mengingat kembali saat dulu nadin pernah mengatakan kalau gue sudah mencuri ciuman pertamanya. Dulu gue tidak percaya, mengingat pergaulan nadin yang begitu bebas membuat gue ragu akan ucapan nadin yang mengatakan dia tidak pernah berciuman dengan lelaki manapun sekalipun deretan mantan nadin tidak terhitung.


Saat gue lihat nadin berjalan keluar gue fikir ini jadi kesempatan terakhir gue untuk berbicara pada nadin. Karena itu gue putuskan untuk pamit pada friska dengan alasan kalau gue tiba-tiba saja mendapat panggilan dari kantor. Untung saja gadis itu percaya lalu membiarkan gue pergi dari sana.


Gue melihat nadin berdiri di pinggir jalan sambil melambaikan tangan berniat memanggil taksi. Gaun nadin yang terbuka membuat wanita itu berulang kali memeluk dirinya sendiri. Ingin rasanya gue peluk nadin saat ini juga, tapi hanya jas mahal gue yang berhasil membungkus tubuh nadin.


"pakai aja itu buatan designer ternama kok "


Bodoh kan gue, dari sekian banyak kata kenapa harus kalimat dengan nada sombong yang gue lontarkan. Yakin gue pasti sebentar lagi nadin akan tersinggung.


Tapi dugaan gue salah, nadin tidak berkata apa-apa hanya menatap gue dengan tatapan marah.


"kalian terlihat serasi " ucapan gue yang paling bulshit karena dalam hati gue mengatakan sebaliknya.


"kalian juga terlihat serasi "balas nadin entah dia tulus atau tidak.


"aku seneng kamu bisa bersama dengan lelaki yang lebih baik dari aku "kembali gue menggaungkan kebohongan yang berhasil membuat hati gue berantakan.


"kalau tujuan kamu ada di sini cuma buat ngajak aku berantem, lebih baik kamu pergi. Kasian wanita kamu itu jika dibiarkan menunggu terlalu lama "Nadin sedikit menekankan perkataannya.


"kamu cemburu ?"ingin rasanya gue bersorak kegirangan karena rencana gue berhasil membuat nadin cemburu.


Nadin melipat kedua tangannya di depan dada. Sebentar lagi akan ada yang murka nih


"untuk apa aku cemburu ?"nadin balik bertanya.

__ADS_1


"ya karena kamu masih cinta kan sama aku ?"


Nadin tertawa."oh bukan nya kamu yang cinta sama aku tapi gak mau ngaku ? Dasar munafik "sindir nadin.


Skat Mat, seolah nadin menghujam gue dengan sebuah belati hanya dengan rentetan kalimat nya. Gue terdiam.


"bener kan ? Jadi perasaan aku dulu gak bertepuk sebelah tangan "perkataan nadin yang terlalu blak blak an mampu membuat wajah gavin mulai memerah menahan malu.


"jawab aku gavin !!"suara nadin mulai meninggi.


Entah fikiran apa yang sudah merasuki gue sampai dengan beraninya gue mencium nadin saat itu juga. Dia berusaha memberontak sambil melepaskan diri dari ciuman gue yang semakin gue perdalam seiring dengan penolakkan nadin.


PLAK


Tamparan keras baru saja nadin layangkan saat dia berhasil melepaskan diri dari ciuman kami. Gue terdiam menatap mata nadin yang berkaca-kaca.


"brengsek !"


Sebuah taksi baru saja membawa nadin pergi dari hadapan gue, tubuh gue luruh ke tanah. Nadin pasti sedang menangis saat ini, dan lagi-lagi gue penyebabnya.


                                                                              \~\~\~\~\~\~\~\~🐱🐱\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Gavin Christopher


With great pleasure


Danar Argantara & Nadin Almira Queen


Invite you to join them


at the celebration of their marriage


Saturday, the fifth of October two thousand nineteen


at two o’clock in the afternoon


Brak !!


Gue melemparkan sepucuk surat yang baru saja nadin antarkan untuk gue pagi ini. Dengan wajah yang nampak tenang, nadin mengatakan kalau dia dan danar akan menikah 2 minggu lagi.


Nadin mohon undur diri, setelah menyerahkan benda yang gue yakini setengah isi dari kantor gue sudah nengetahuinya. Gue memperhatikan undangan berwarna putih gading itu dengan seksama. Membaca nya berulang-ulang sambil berharap kalau nama mempelai pria nya bukan Danar Argantara melainkan gavin christopher.


Suatu kebodohan yang gue lakukan selama nyaris 30 tahun gue hidup di dunia ini. Melepaskan wanita yang paling gue cintai, hanya karena ketakutan gue akan sebuah komitmen.


“nad maksudnya ini apa ?”gue menyusul nadin yang sudah duduk di meja kerja nya.


“bos nggak bisa baca ? itu undangan ?”jawab nadin dengan wajah datar.


“aku tahu ini undangan ! kamu benar-benar berniat ninggalin aku nad ? demi Danar ! “ gue mengacak rambut merasa frustasi dengan situasi ini.


“as your wish vin, bukankah ini yang kamu mau ? aku bahagia bersama laki-laki yang mencintai aku “


Jawaban nadin betul-betul menohok sudut hati gue yang paling dalam. Kata-kata bulshit itu selalu gue gaungkan demi menutupi sifat pengecut gue. Tapi saat mendengar nadin berkata demikian, gue menyesal pernah berniat merelakan nadin untuk pria lain.


“tapi aku…”


“terlambat vin.. kamu benar, mungkin aku memang pantas bersama dengan laki-laki yang jelas lebih mencintai aku “


“tapi kamu gak cinta dia .. “ nada suara gue perlahan mengecil seiring dengan tatapan tajam nadin tepat di manik mata gue.


“lebih baik di cintai vin dari pada mencintai, tenaga aku udah habis kalau aku harus menghadapi drama hubungan kamu “


Gue hanya bisa menunduk, mata gue terasa panas, rasanya seperti ada cairan yang akan keluar dari sudut mata gue saat ini.


“maaf nad “hanya kata itu yang bisa gue ucapkan.


“gak ada yang perlu di maafin vin, aku permisi dulu “


Nadin beranjak dari tempat duduk nya, mata gue hanya bisa memandangi nadin dari belakang saat gadis itu berjalan melewati gue begitu saja. Gue sudah kehilangan nadin.


Setelah kembali ke ruangan gue, undangan berwarna putih gading itu gue pandangi lagi. Rasanya bagaikan mimpi buruk mendapati orang yang paling gue cintai bersanding dengan pria lain akibat kebodohan gue sendiri.


Tapi kali ini lawan gue danar argantara, pria yang pernah menjalin hubungan resmi dengan nadin, pria yang sangat mencintai nadin, dan pria yang berkesempatan besar membuat nadin bahagia.


Gue tidak sebanding dengan dia


Gue beranjak dari meja kerja gue menuju kulkas yang ada di sudut ruangan. Mungkin dengan sekaleng beer bisa melegakan perasaan gue yang carut marut berkat undangan pernikahan nadin. Walapun efeknya tidak selalu berakhir baik.


Ingatan gue kembali mengulang pertengkaran hebat yang terjadi antara gue dan nadin tempo hari. Nadin mengabaikan semua pesan gue , berkali-kali gue menelfon nya tapi wanita itu tidak juga mau mengangkat. Gue bahkan pergi ke rumahnya karena nadin selalu menghindari gue di kantor. Nyaris setiap hari kami kucing-kucingan agar tidak bertemu satu sama lain.


Akhirnya pagi itu saat nadin baru saja tiba di kantor, gue langsung menarik paksa lengan nadin, membawanya menuju tangga darurat tempat satu-satu nya yang gue fikir paling aman di kantor ini.


Flash Back


"lepas "nadin menghentakkan tangannya, gue melihat pergelangan tangan nadin memerah, wanita itu mendelikkan mata sambil mengusap lengan nya sendiri.


"maaf "desis gue, tangan gue berniat menyentuh bekas kemerahan yang tercetak jelas di pergelangan tangan nadin, tapi wanita itu menepisnya.


"buruan bos, saya tidak punya waktu. To the point aja "nadin berbicara tanpa sedikitpun menatap mata gue, seperti yang biasa wanita itu lakukan.


"nad.. Kenapa kamu nggak bales WhatsApp aku ? Kamu reject semua panggilan telfon dari aku, dan kamu selalu menghindar dari aku setiap kali kita bertemu di kantor. Kenapa ?"


Seketika tatapan nadin beralih pada gue, mata yang dulu memancarkan aura bahagia, sekarang menatap gue dengan penuh kebencian. Apa segitu parahnya gue membuat nadin terluka ?


"saya rasa hubungan kita hanya sebatas bos dan sekretaris nya. Jadi saya tidak memiliki kewajiban untuk membalas apapun di luar lingkup pekerjaan saya "jawab nadin dengan menekankan setiap kalimat yang dia lontarkan, seolah menegaskan kalau hubungan kami memang sebatas itu.


"kamu marah ?"


"ck.. Untuk apa ? Apa sekretaris seperti saya berhak untuk marah kepada bos nya ?"jawab nadin dengan nada sarkas, wanita itu kembali mengalihkan pandangannya.


Gue menyugar helaian rambut gue, kemudian membuang nafas dengan kasar. Jujur saja bukan ini yang gue mau. Nadin membenci gue dan hubungan kami berantakan begitu saja. Setidaknya walaupun tidak bisa jadi kekasih, kami masih bisa berteman. Itu satu-satu nya hal yang gue fikirkan setelah memutuskan untuk melepaskan nadin, jika wanita itu memang menemukan pria yang lebih baik dari gue.


Walaupun pertemanan yang normal tidak berlaku bagi gue dan nadin, mungkin friends with benerfit lebih cocok untuk menggambarkan hubungan kami.


Entah karena merasa sudah frustasi atau ego gue yang mendorong gue untuk melakukannya. Tanpa di komando, gue berlutut di depan nadin, gue berharap cara ini dapat membuat nadin kembali membina hubungan baik dengan gue, sebagai teman.


Reaksi nadin nampak terkejut melihat gue yang mendadak berlutut di depan dia. Katakanlah gue pria egois, gue menyakiti hati nadin, tidak ingin menjadikan dia kekasih gue, tapi gue berharap masih bisa membina hubungan baik dengan nadin. Sungguh gue lelaki yang pantas di caci maki.


"vin bangun "nadin nampak ragu-ragu ingin menyentuh pundak gue.


"aku minta maaf nad, aku tahu aku pria brengsek, aku selalu buat kamu nangis "gue menundukkan kepala, jujur saja gue tidak berani menatap nadin saat ini.


"gavin bangun "


Gue menggeleng.


"bangun gavin "ulang nadin masih dengan nada dingin.


"bangun atau aku akan benar-benar pergi dari hidup kamu"


Seketika gue terkesiap, membayangkan tidak bisa melihat nadin lagi sungguh membuat hati gue sakit.


Walaupun posisi gue sekarang berdiri di hadapan nadin, tapi tetap saja gue terlalu takut untuk menatap mata nadin. Gue yakin kalau gue menatap mata itu sekali lagi, perasaan bersalah semakin menjalari gue.


"kita duduk aja "gue mengikuti nadin duduk di tangga darurat, kami duduk bersisian.


"jelaskan "


"apa ?"


"semuanya, tanpa harus ada yang di tutupin lagi "ucap nadin.


Gue menghela nafas panjang, sebelum gue mengungkapkan sebuah rahasia yang tidak pernah gue katakan langsung pada nadin. Bukan karena gue tidak percaya nadin, gue hanya tidak ingin melihat wanita yang gue cintai ikut merasakan penderitaan yang gue alami.


"jujur sama aku, kamu anggap aku apa ?"pertanyaan pertama terlontar begitu saja dari bibir nadin.


"more than anything "

__ADS_1


"jangan gombal, aku serius "


"aku gak gombal, ini serius "nadin nampak diam saja, entah dia percaya atau tidak tapi ucapan gue itu memang benar adanya.


"kamu tahu kan bagaimana perasaan aku vin ?"


Gue mengangguk, tentu saja gue tahu persis kalau nadin sangat menyayangi gue.


"kamu tahu vin, apa yang lebih aku suka dari pada tas mahal, baju branded dan semua aksesoris itu ...??."


Gue menggeleng, karena gue memang tidak tahu apa yang benar-benar nadin sukai selain semua barang yang dia sebutkan itu. Tidak mungkin gue kan jawabannya ?


"kepastian vin "jawab nadin nyaris tanpa emosi di dalamnya.


Gue pun menoleh."maksudnya ?"


"kepastian , gue cuma butuh kepastian vin atas hubungan kita "nadin kembali bersuara.


"hubungan kita itu abu-abu. Kita bukan sepasang kekasih, tapi apa yang selama ini kita jalani juga bukan hubungan pertemanan vin "


Gue kembali menunduk menatap lantai yang sudah nampak memudar. Perkataan nadin betul-betul tepat sasaran. Gue mati kutu dibuatnya.


"kita bukan ABG lagi vin yang menjalani hubungan tanpa status. Aku bahkan bingung apa yang harus aku jelaskan saat orang lain bertanya aku dan kamu punya hubungan apa ? "


Gue kembali terdiam, gue akan mendengarkan apapun yang akan nadin katakan. Mungkin dengan cara itu dapat membuat nadin merasa lega.


"maaf nad, aku tahu aku egois "jawaban itu lolos begitu saja dari bibir gue.


"maaf kamu nggak menyelesaikan masalah gavin "


"lebih baik kamu bersama pria yang lebih baik nad dari aku, mungkin danar atau siapapun itu . Aku gak pantas untuk kamu . Kamu berhak bahagia bersama orang lain"


Nadin menoleh, menatap gue dengan sebuah senyuman. Bukan senyuman yang dulu gue temukan setiap pagi saat gue menjemputnya di rumah. Senyuman nya berbeda.


"tahu apa kamu tentang kebahagiaan aku ? Tahu apa kamu siapa yang pantas dan nggak pantas untuk aku ?!"nada suara nadin mulai meninggi.


Gue terkesiap saat mendengar suara nadin yang mulai terisak. Lihat bukankah gue betul-betul pria jahat yang hanya bisa membuat wanita yang gue cintai menangis.


"kamu pengecut vin "


"iya nad, aku memang pengecut "gue membenarkan perkataan nadin.


"lepasin aku vin "ucap nadin.


"nggak "


"jangan egois vin, nggak ada pria dan wanita yang bisa bersikap biasa aja di saat salah satu dari mereka memiliki perasaan cinta. Jangan siksa aku lagi vin kalau kamu emang gak cinta sama aku "


Gue cinta lo nadin almira queen, ingin rasanya gue berteriak mengakui fakta yang sialnya selalu tak mampu gue ucapkan.


Nadin bangkit hendak meninggalkan gue, buru-buru gue menggenggam tangan itu. Setidaknya ini untuk yang terakhir kali.


Mata kami sama-sama terpejam, saat bibir kami saling bertemu. Nadin tidak menolak saat gue melingkarkan tangan di pinggang nya. Bahkan kini, kedua tangan nadin melingkari leher gue. Sesaat kami nyaris lupa dengan segala nya, hanya karena sebuah ciuman.


Nadin melepaskan tangannya, kali ini dia benar-benar akan pergi meninggalkan gue.


"jangan salah paham, yang tadi hanya goodbye kiss "


Bedebam


Suara pintu yang tertutup membuat gue tersadar kembali. Nadin sudah tidak ada di hadapan gue. Tanpa gue sadari setetes air mata terjun dari mata gue. Untuk pertama kalinya gue menangis karena seorang wanita.


\~\~\~\~\~\~\~\~ 🐱🐱 \~\~\~\~\~\~\~


"gavin "


"gavin "


"gavin !!!!!!"


Gavin terbangun dari tidur nya dengan keringat yang bercucuran. Kepalanya bahkan sempat terpentok meja sampai menimbulkan sedikit benjolan di pelipis atas nya.


Aurora menatap gavin dengan tatapan heran, gavin tidak pernah bertingka seperti itu. Arora jadi merasa cemas sekaligus merasa khawatir terhadap kondisi sahabat nya itu.


"vin.. are you okay ?"


"aurora ? kok bisa di sini ?"gavin mengerjapkan mata sambil menghapus jejak-jejak keringat di dahi nya dengan sapu tangan.


Setidaknya gavin bernafas lega karena semua tadi hanya mimpi nya saja. Nadin masih bukan milik siapa-siapa, mimpi nya tadi cukup membuat gavin sadar kalau nadin jauh lebih penting dari pada ketakutan tak beralasan yang selama ini lelaki itu alami.


"gue tadi mau ketemu nadin tapi dia gak ada di tempat nya "


"mungkin lagi di toilet ra.. tunggu aja sebentar lagi , atau lo mau gue samperin nadin ke sana ? gue siap "


"mesum aja otak lo vin, makanya nadin buruan di lamar.. "


Gavin hanya membalas pernyataan aurora dengan sebuah senyuman.


"jangan senyum-senyum aja , lo emang nggak takut nadin di ambil orang ?"mata aurora memicing menunggu reaksi gavin.


"hemm nggak tuh " jawab gavin sambil mengalihkan pandangan kemana-mana.


Aurora tahu sahabatnya itu sedang berbohong, ayolah gavin itu harus segera di sadarkan sebelum semuanya terlambat.


"perempuan itu punya batas kesabaran vin, jangan sampai lo nyesel saat kesabaran nadin sudah habis "


Perkataan aurora berhasil menyentil ego gavin. Selama ini gavin hanya mengulur waktu karena dia masih ingin bersama nadin, tapi terlalu takut menjadikan nadin miliknya. Apa nadin akan merasa lelah ?


"gue gak tahu jalan fikiran lo yang terlalu rumit atau lo yang terlalu pengecut buat mengakui perasaan lo sama nadin. tapi vin.. lo harus tahu nadin betul-betul mencintai lo "


"..."


"cuma nadin vin satu-satu nya wanita di dunia ini yang bisa nerima sifat lo "


"..."


"cuma nadin kan yang faham dengan perasaan lo tanpa lo harus bilang "


"..."


"dan cuma nadin, yang bersedia menemani lo di saat lo susah dan lo bahagia "


Gavin bagaikan baru saja mendapatkan hidayah setelah mendengar rentetan kalimat yanga Aurora lontarkan. Semua perkataan aurora memang benar , hanya nadin satu - satu nya wanita di dunia ini yang mampu menemani nya di saat gavin susah dan senang. Apa gavin harus melepaskan wanita itu ?


TIDAK AKAN


Dengan wajah sumringah gavin berniat menemui nadin detik ini juga, dia harus segera membuat nadin resmi menjadi miliknya. Kalau perlu dia akan menari di depan wanita itu, memohon dan berlutut. Apapun akan gavin lakukan demi membuat nadin menjadi milik nya.


Gavin bangkit dari tempat duduk nya untuk menemui nadin. Karena terlalu bersemangat tanpa sengaja gavin menjatuhkan tumpukkan berkas yang tadi ada di atas meja nya.


"vin mau kemana ?"tanya aurora yang heran tiba-tiba saja gavin beranjak dari hadapannya.


Mau tidak mau gavin berjongkok untuk merapihkan kertas-kertas yang tercecer di lantai. Mata nya tiba-tiba melotot saat mendapati sebuah undangan. Undangan itu persis seperti yang ada di mimpi nya tadi.


"lo bener ra gue harus ketemu nadin "jawab gavin sambil merapihkan kertas-kertas yang berceceran akibat tindakan cerobohnya.


Wajah gavin berubah pucat saat menatap selembar undangan berwarna putih gading.


jadi yang tadi bukan mimpi !


"oh shit !!"gavin langsung berlari meninggalkan kertas-kertas yang masih tercecer di lantai.


Dia harus pergi mencari kebenarannya


Bersambung


 

__ADS_1


 


__ADS_2