
"Vin ?"nadin memegang kedua bahu Gavin.
Laki-laki itu hanya berdiri kaku di hadapan nya. Gavin tidak tahu kenapa tiba-tiba saja dia tidak bisa berfikir apapun. Otak gavin seperti kosong saat nadin mengatakan jika wanita itu akan pergi ke paris selama 6 bulan.
"kalau kamu gak ngizinin aku bisa kok tolak tawaran itu, toh prioritas hidup aku kan kamu "nadin tersenyum walaupum hatinya berkata sebaliknya.
Gavin menaruh gelas wine yang baru dia tenggak separuh di atas meja. Sambil memijat kening gavin kembali ke meja yang tadi mereka tempati.
Nadin menyusul gavin, memperhatikan bagaimana wajah laki-laki itu yang ekspresi nya sulit nadin baca. Hanya satu hal yang bisa nadin tebak, gavin merasa shock.
"mbak saya minta bill nya "nadin mengangkat tangan memanggil seorang pelayan yang berdiri tidak jauh dari tempat mereka duduk.
"kita pulang aja ya vin "nadin menggengam tangan gavin yang berada di atas meja.
"kita obrolin lagi di rumah "nadin berusaha untuk tetap tenang, walaupun saat ini di dalam otak nya berputar segala kemungkinan yang akan terjadi.
Setelah membayar bill dengan kartu milik gavin, mereka berdua menuju lift untuk turun ke basement tempat dimana mobil mereka terparkir.
Hanya keheningan yang terjadi selama mereka berada di lift. Gavin yang tidak bersuara membuat nadin takut untuk sekedar bertanya.
Bahkan setelah keluar dari basement menuju rumah mereka, gavin masih tetap diam saja. Beberapa kali nadin melirik gavin yang sedang fokus mengemudi. Tapi laki-laki itu masih enggan membuka suara apalagi menoleh padanya.
Kebiasaan mereka yang selalu mendengarkan radio saat dalam perjalanan, hari ini tidak lagi mereka lakukan. Nadin hanya bisa menatap jalanan yang mereka lewati dengan perasaan galau, tidak enak rasanya di abaikan seperti itu.
Kerlap kerlip lampu di jakarta yang tadi hanya bisa dia nikmati dari atas gedung, sekarang betul-betul terpampang nyata di hadapan nya.
Nadin mulai memikirkan bagaimana cara membuat gavin tidak lagi mendiami nya seperti sekarang. Jika boleh memilih nadin lebih suka melihat gavin mengomeli nya dari pada mendiamkan nya seperti sekarang.
Setelah menempuh perjaanan selama 1 1/2 jam akhirnya mereka tiba di rumah. Gavin langsung masuk ke dalam rumah tanpa menunggu nadin yang baru saja menutup pintu mobil.
Nadin putuskan untuk mengganti baju nya dengan baju yang lebih santai. Wanita itu juga menghapus make up yang membuat dia terlihat lebih cantik malam ini.
Setelah selesai dengan ritual nya, nadin keluar dari kamar. Dia melihat gavin sedang duduk di mini bar dengan sebuah minuman di hadapan nya.
Laki-laki itu belum juga mengganti baju nya yang tadi dia kenakan saat makan malam bersama nadin. Stelan Kemeja Biru dongker membuat gavin terlihat menakjubkan bahkan jika di lihat dari belakang. Seandainya sedang tidak dalam keadaan seperti ini, tanpa ragu nadin akan memuji habis-habis an penampilan gavin malam ini.
Dengan langkah perlahan nadin berjalan menuju ke arah dimana gavin duduk.
"vin ... " nadin menepuk pelan bahu gavin lalu duduk di sebelah laki-laki itu.
Gavin menoleh lalu tersenyum sebentar, sebelum meminum susu coklat nya. Nadin mengeryitkan dahi, sepengetahuan nadin gavin tidak begitu menyukai susu coklat.
Lagi pula itu kan susu coklat milik nadin. Ingin rasanya nadin tertawa, gavin ini betul-betul lucu ya, lagi ngambek tapi malah mencuri susu coklat milik nadin. Jika tidak dalam mode perang dingin pastilah nadin dan Gavin akan ribut hanya karena sekotak susu coklat milik nadin itu.
"itu kan susu coklat punya aku "nadin tidak tahan untuk tidak menggoda gavin walaupun dia tahu bercandaan nya tidak akan menbuat mood gavin berubah lebih baik.
"aku minta, pelit banget sih "sungut gavin yang tetap meminun susu coklat nya itu dengan sedotan.
Nadin bertopang dagu lalu menatap gavin. Kadang gavin yang sedang ngambek seperti ini betul-betul lucu. Dia jadi seperti anak kecil yang apapun mau nya harus di turuti.
"vin.. Aku "
"stop nad, aku tahu kamu mau ngomongin prihal kamu yang akan ninggalin aku ke paris "
Gavin membanting susu kotak yang baru saja dia tandaskan. Lalu fokus laki-laki itu sepenuhnya menatap nadin.
"jujur aku gak bisa mikir apapun, aku juga gak bisa ngasih kamu keputusan yang rasional saat ini "
"kamu kan tahu nad, aku nggak bisa LDR "
"jauh dari kamu tuh rasanya gak enak "lanjut gavin dengan wajah memelas di campur emosi.
Nadin masih membiarkan gavin meluapkan seluruh emosi yang sejak di restaurant tadi laki-laki itu tahan.
"udah ngomong nya ?"tanya nadin lalu di balas anggukan oleh gavin.
"vin.. Aku emang pengen banget kerja di majalah itu, itu sudah jadi impian aku sejak aku muda "
"tapi .. Sekarang prioritas aku bukan lagi mengejar impian vin, tapi kamu "
"jadi. Aku putuskan buat tolak tawaran itu "nadin tersenyum lebar.
"lagi pula mana bisa juga sih aku jauh dari kamu vin "nadin melingkarkan tangan nya di leher gavin.
Menatap mata gavin dengan sorot mata bahagia. Walaupun untuk menunjukan ekspresi itu nadin harus betul-betul membohongi dirinya sendiri.
"aku tahu aku mungkin egois, kamu pasti mikir aku ini penghambat impian kamu kan nad ?"
Buru-buru nadin menggeleng. "ngomong apaan sih vin ngaco "
"loh aku kan bicara fakta, karena aku kamu jadi tolak tawaran itu "
Nadin menangkup pipi gavin. " vin impian aku itu gak cuma satu, menikah sama kamu juga salah satu impian aku yang sudah terwujud ”nadin tersenyum lebar.
"jadi... Aku gak jadi ke paris oke "nadin tersenyum berusaha menenangkan gavin.
Gavin mengangguk, tiba-tiba dia tidak merasa bahagia setelah nadin memutuskan untuk menolak tawaran itu. Dia yakin wanita itu melakukannya karena terpaksa, tapi membayangkan jauh dari nadin membuat gavin merasa buruk.
"sekarang kita tidur ya aku udah ngantuk "titah nadin sambil berjalan meninggalkan gavin menuju kamar mereka.
Gavin menatap punggung nadin yang berjalan semakin menjauhi nya. Entah keputusan nya ini benar atau salah.
*****
"jadi gitu ceritanya nar " gavin menyelesaikan sesi curhat nya pada danar.
Tiba-tiba saja gavin mengajak danar untuk makan siang bersama. Danar yang kaget karena gavin tiba-tiba menelfon nya mau tidak mau mengangkat panggilan itu, walaupun terselip rasa terpaksa.
Lalu di sinilah mereka sekarang, duduk berhadapan di sebuah resto jepang.
__ADS_1
Diantata ketiga teman gavin, pria itu rasa hanya danar yang paling bisa berfikir rasional. Walaupun dia juga merasa buruk saat harus menghubungi pria yang jelas-jelas punya history bersama nadin.
"terus lo bahagia dengan keputusan nadin ?"danar akhirnya menyuarakan sesuatu setelah mendengarkan gavin yang sudah bercerita selama 15 menit.
"gue juga gak tahu , gue gak bisa jauh dari nadin "
"bucin dasar "ledek danar walaupun setelahnya dia merasa menyesal karena perkataan nya juga seperti menyindir dirinya.
"gue bingung nar, di satu sisi gue gak bisa jauh dari nadin tapi di sisi lain.. Gue tahu itu impian nadin banget "gavin menghabiskan seluruh isi teh ocha sebelum meminta refil pada pelayan disana.
"gue gak pernah Menjalani LDR , terlebih nadin kan cantik, di sana pasti banyak yang naksir "
"bagus dong, jadi mudah buat gue tikung lo kalau nadin jauh, terus nadin balik deh sama gue "ucapan danar yang asal langsung di hadiahi lemparan serbet oleh gavin.
"kampret, gue lagi curhat ya bukan mengumumkan kalau nadin bisa lo rebut, amit-amit jangan sampai deh "
Danar terkekeh juga pada akhirnya, dulu omongan seperti itu betul-betul muncul dari dalam hatinya. Tapi saat ini berbicara pada gavin seperti itu danar betul-betul merasa itu sesuatu yang patut untuk di tertawakan.
"terus lo ada solusi nggak nar ?"gavin kembali bertanya.
Danar hanya mengedikkan bahu sambil menikmati sashimi. "itu kan masalah lo " jawab danar dengan cueknya.
Gavin mendegus."gak fungsi banget sih lo jadi temen "
"udah tahu nggak fungsi, kenapa lo ngajak gue makan bareng terus lo curhat panjanga lebar "
Mau tidak mau gavin membenarkan perkataan danar, faktanya walaupun tahu danar akan bersikap demikian tapi gavin masih berfikir positif dengan mengajak danar berdiskusi mengenai masalah nya. Gavin bahkan lupa dengan sifat danar yang cuek dengan lingkungan sekitar KECUALI sesuatu yang betul-betul pria itu perdulikan.
Dering ponsel di atas meja memmbuat gavin dan danar menoleh ke sumber suara. Danar menghela nafas panjang saat menyadari jika ponsel yang sejak tadi berdering itu adalah miliknya. Lebih malas lagi saat membaca caller ID yang tertera disana, My Baby.
"ciyee. jadi lo sama baby beneran jadian ? caller id nya aja udah pakai my baby segala, mirip salah satu merk bedak bayi "ledek gavin yang langsung mendapatkan pelototan tajam oleh danar.
"dia sendiri yang ganti namanya di handphone gue "bela danar merasa tidak terima karena gavin menuduhnya.
"beneran jadian juga gak apa-apa .. "
"ogah, lo tuh kalau ngenalin cewek yang beneran dong vin, masih dendam ya lo sama gue ?!"
"itu udah stock terbaik yang gue punya, lo beruntung ya .. jutaan pria di luaran sana antri buat jadi pacar baby "
"selera mereka aneh, buat apa mereka nge fans sama petasan jangwe kayak baby, cerewet nya minta ampun "
"ya kalau perkara cerewet sama lah sama nadin dia juga cerewet , tuh lo bisa naksir "tanpa sadar gavin berkata demikian.
"ya nadin kan beda, dia itu apa adanya, cantik, baik, pokonya gak bisa ya lo nyama-nyamain nadin sama baby, mereka beda jauh "protes danar merasa tidak terima.
"heh ! istri gue itu yang lagi lo omongin "
Mereka berdua sama-sama menghela nafas, jika sudah membawa-bawa nama nadin, memang mereka berdua jadi lebih sensitif lalu berakhir saling berdebat seperti sekarang.
"gue masih bingung nar gue harus gimana , 6 bulan itu gak sebentar loh , 1 smester nar "
"masih bagus 1 smester belum juga 1 windu apalagi 1 abad "
"ya emang gue gak tahu, kan calon istri gue lo rebut "
Gavin hanya bisa memegangi kepalanya yang mendadak pening akibat ulah danar. Pria itu sama sekali tidak membantunya, yang ada malah mengajak nya berdebat mengenai masa lalu mereka.
Handphone danar kembali bergetar, nama baby kembali muncul di layar sebagai orang yang menghubunginya. Danar melirik sekilas lalu mengabaikannya begitu saja sampai handphone itu berhenti berdering. Panggilan tidak terjawab sebanyak 10 kali muncul di layar notifikasi ponsel danar.
"lo kenapa sih nar sama baby ? gue rasa bukan karena dia cerewet lo langsung antipati sama dia "selidik gavin yang merasa sikap danar sudah mulai keterlaluan.
Danar menatap gavin sebelum menyuarakan apa yang dia fikirkan akhir-akhir ini. Sebagai orang yang nyomblangin danar dan baby, danar rasa gavin berhak tahu mengenai hubungannya.
"gue takut vin "
"takut kenapa ?"
"gue takut kalau baby hanya gue anggap sebagai pelarian "
"sudah gue duga "gavin menyilangkan kedua tangannya di depan dada lalu menatap danar dari tempat gavin duduk.
"lo belum nyoba dan lo udah ambil kesimpulan itu ?"
Danar mengangguk."iya gue tahu gue pengecut banget kan ?"danar tertawa sarkas.
"emang, makanya nadin lebih milih gue dari pada lo "jawaban gavin yang mengesalkan membuat danar memutar matanya merasa jengah.
"pengecut ngatain pengecut "sindir danar.
"ya tapi kan setidaknya gue berani di detik-detik terakhir"gavin membela diri.
"well gue harus akui lo betul "
"gue sih cuma nasehatin lo, kadang ya nar penyesalan itu dateng nya belakangan "
"ya iyalah kalau duluan namanya pendaftaran "
"iya aja deh iya, udah gue mau balik ke kantor "gavin melirik jam di pergelangan tangannya, sudah lewat 30 menit dari jam makan siang nya, untungnya gavin boss jadi di maklumi.
"gue juga mau balik ke kantor, gara-gara lo nih gue jadi telat.. "protes danar hanya di hadiahi cengiran oleh gavin.
"thanks ya nar, berkat lo gue terhibur "gavin menepuk pundak danar saat mereka berjalan keluar restaurant.
"besok-besok kalau lo mau curhat ke mamah dedeh aja sana jangan ke gue "
"lama-lama lo ketularan baby, jodoh kalian "Gavin buru-buru masuk ke dalam mobil sebelum danar mengeluarkan bisa ular nya alias ngomel-ngomel.
****
__ADS_1
Nadin sedang duduk di kursi malas sambil melihat postingan-postingan yang ada di akun IG milik majalah High Fashion. Hatinya seakan tercubit harus menerima kenyataan jika dia melewatkan kesempatan langka dengan menolak bekerja di majalah fashion paling bergengsi itu.
Tadi pagi pihak High Fashion menelfon nya untuk mengkonfirmasi apalah nadin dapat bekerja di High Fashion secepat nya.Dengan berat hati nadin mengatakan jika dia menolak untuk bisa bekerja di majalah tersebut.
Setelah itu pihak high fashion hanya bisa menyayangkan nadin yang tidak bisa bekerja di high fashion. Lalu mereka mengatakan jika suatu saat nadin berubah fikiran, nadin dapat menghubungi mereka kembali.
Nadin menscrol semua postingan yang ada di majalah itu sampai dia berhenti pada salah satu foto seseorang yang nampak berwibawa dengan stelan Jas Mahal . Pose laki-laki itu cukup sederhana hanya bertopang dagu memperlihatkan betapa mahalnya jam tangan yang dia kenakan.
Bulu-bulu halus yang tumbuh di sekitar rahang lelaki itu membuat laki-laki itu terlihat lebih manly. Wajahnya memiliki sisi asia dan eropa , yang bisa nadin pastikan jika pria itu memiliki darah blasteran.
Akbar Gionino Olivier
Board Of Director
Nadin membaca nama pria yang harus dia akui betul-betul tampan, tatapan mata yang tajam membuat nadin yakin jika pria di foto ini pastinya tipikal bos-bos yang sering mengintimidasi karyawannya.
Nadin jadi tertawa membayangkan sosok CEO yang selama ini dia baca di aplikasi novel online. Mereka tampan, kaya raya, romantis, playboy, bad guy tapi harus berakhir berjodoh dengan wanita polos yang harus sakit hati dulu sebelum mendapatkan ending yang bahagia.
Handphone nadin yang dia letakkan di atas meja begetar, nomor yang tidak dia kenali muncul di layar. Anehnya nomor itu bukan nomor yang dia kenali di indonesia kode telfon di awalnya +33. Dengan perasaan yang bercampur aduk nadin menggeser tombol hijau.
"hello ?"
"hello my i speak to Mrs Nadin Almira Queen ?"
"yes i'am "nadin mendengar pria itu menghela nafas entah karena apa.
"oh.. hello Mrs Nadin, saya Akbar dari majalah High Fashion "
DEG jantung nadin berdetak, di liriknya foto pria yang beberapa menit yang lalu sedang dia komentari. Dan ajaibnya sekarang pria itu sedang berbicara dengan nya di telfon, sungguh kebetulan yang tidak terduga.
"oke, ada apa ya ? saya sudah memberitahu jika saya belum bisa bergabung dengan majalah anda sebelumnya "
"begini, bisakah saya bertemu dengan anda besok di Green Garden Cafe. ada hal yang harus saya bicarakan "
Nadin bingung harus menjawab apa, jelas-jelas tadi pagi dia sudah mengkonfirmasi prihal nadin yang tidak bisa bergabung di high fashion magazine. Tapi sungguh nadin tidak menyangka jika itu membuat nadin dapat berbicara langsung dengan Mr. Akbar Gionino Olivier, Board Of Director di High Fashion Magazine.
Walaupun merasa ini betul-betul aneh, nadin mencoba untuk mencari tahu sendiri apa tujuan pria bernama akbar itu mengajaknya untuk makan siang bersama. Nadin bahkan membuat berbagai asumsi yang membuat seorang Board Of Director seperti akbar mau bertemu dengan nya secara langsung.
"baiklah "jawab nadin.
"sampai bertemu di Green Garden cafe pukul 2 siang, terima kasih mrs nadin "
Bep
Telfon itu terputus begitu saja lalu nadin kembali meletekkan ponsel itu di atas meja. Terbersit dalam benak nadin, jika mungkin saja telfon yang tadi dia angkat adalah seorang penipu. Tapi untuk seorang penipu cara berbicara pria itu terdengar begitu santai.
Jadi demi memenuhi rasa penasaran ya nadin putuskan untuk menemui pria bernama Akbar itu besok. Jika memang dia penipu, setidaknya ilmu bela diri yang nadin kuasai cukup membuat siapapun termasuk pria yang berani macam-macam dengannya harus menginap di rumah sakit paling tidak satu minggu karena patah tulang.
****
Akbar menatap tab yang menampilkan wajah seorang wanita yang dia kenali bernama Nadin Almira Queen. Kemarin dia mendapat kabar jika wanita itu menolak kontrak ekslusif yang perusahaan nya berikan tanpa alasan yang jelas. Bukan perkara mudah menemukan seseorang yang mengerti tentang fashion dan barang-barang mewah seperti nadin itu.
Akbar yang saat itu masih berada di paris, memutuskan untuk terbang ke Jakarta untuk bertemu langsung dengan wanita yang sudah menarik perhatian nya itu. Untungnya HIgh Fashion Magazine memiliki rekanan dengan salah satu Agent yang khusus menyediakan penerbangan pribadi dengan privat Jet.
Jadi sangat mudah bagi seorang akbar untuk berpindah dari negara satu ke negara yang lain dengan menggunakan fasilitas yang High Fashion Magazine sediakan untuk mobilitas pria itu.
Kembali berbicara mengenai nadin, Akbar sudah menyukai gadis itu sejak gadis itu mengirimkan sebuah video yang menunjukan kemampuannya dalam membedakan tas asli dan tas palsu, sebagai salah satu syarat dari lowongan pekerjaan yang perusahaan nya ajukan.
Gadis itu berhasil membuat akbar berkali-kali memutar ulang rekaman video yang berdurasi 10 menit.Sudut-sudut bibir akbar yang jarang sekali tersenyum bahkan tertarik untuk menampilakan betapa tampan nya pria itu saat tersenyum. Tapi dia harus merasa kecewa saat membaca CV nadin yang mengatakan gadis itu sudah menikah.
"sorry ? apa betul anda MR. Akbar dari High Fashion Magazine ?"suara seoarang wanita membuat akbar mengalihkan pandangan dari TAB di tangannya.
Wanita itu berdiri di hadapannya dengan kaca mata hitam yang akbar ketahui merk salah satu brand ternama di Korea. Baju formal yang wanita itu kenakan belum lama akbar lihat di salah satu peragaan busana Fashion Week di Milan. Tas Limited edtion keluaran salah satu brand asal Italia, semakin membuat akbar yakin jika wanita ini bukan wanita biasa, dia wanita berkelas.
Akbar berdiri sebelum mempersilahkan nadin duduk di hadapannya, lalu mata akbar terpana saat wanita itu melepaskan kaca mata yang di mata akbar mirip seperti gerakkan slow motion. Cantik, akbar membatin.
"so.. ada apa ya saya di minta bertemu dengan.. "
"Ah sorry, sebelumnya perkenalkan nama saya Akbar Gionino Olivier "akbar mengulurkan tangan untuk menjabat tangan nadin.
"saya nadin almira queen "
"i know.. jadi langsung saja maksud saya mengundang Mrs Nadin kesini, karena saya ingin anda mempertimbangkan untuk menerima kontrak eksklusif dari kami untuk bekerja di High Fashion Magazine "akbar langsung to the point mengatakan maksudnya.
"maaf sebelumnya, saya ingin menjelaskan alsan kenapa saya menolak tawaran tersebut "nadin mulai membuka pembicaraan.
"saya wanita yang sudah berkeluarga, jadi saya menolak tawaran itu dengan alasan tersebut "nadin mengulas senyum membuat pria di hadapannya itu terpaku untuk beberapa detik.
"saya tahu, tapi bukankah ini merupakan impian anda ? seperti yang anda katakan di video singkat yang anda kirimkan ?"
"memang, bekerja di HIgh Fashion Magazine memang impian saya "nadin kembali tersenyum mengingat betapa bahagia nya dia waktu itu saat tahu dia betul-betul diterima bekerja di High Fashion Magazine.
"Tapi.. keluarga saya adalah prioritas saya saat ini, terus terang yang menjadi alasan terbesar saya untuk menolak tawaran ini karena saya tidak bisa meninggalkan keluarga saya selama 6 bulan "
Akbar tersenyum tipis, sekarang dia faham mengapa gadis di hadapannya tetap teguh pada pendirian nya untuk menolak tawaran itu. Diam-diam akbar iri pada pria beruntung yang berhasil mendapatkan gadis sempurna seperti nadin.
"baik, jika karena pergi ke paris selama 6 bulan yang menjadi kendala anda, bagaimana jika saya menawarkan kesepakatan yang lain ?"
Dahi nadin berkerut tidak menyangka jika pria di hadapannya ini betul-betul menginginkan nadin untuk bekerja di High Fashion Magazine.
"saya akan menempatkan anda untuk bekerja di Jakarta dengan satu syarat, setiap sebulan sekali anda harus pergi keluar negeri untuk menghadiri acara fashion bersama saya "
Ingin rasanya nadin berteriak karena terlalu bahagia, bisa bekerja di Majalah impian nya, di tempatkan di Jakarta, terlabih lagi undangan mengadiri Fashion Show yang selama ini nadin impikan. Tanpa ragu nadin yang sudah terbawa euforia karena terlalu bahagia menganggu-angguk.
"baiklah, deal "ucap nadin tanpa ragu karena terlalu bahagia.
"saya akan mengirimkan email mengenai kontrak nya minggu depan "akbar menjelaskan.
Nadin mengangguk "terima kasih"
__ADS_1
"welcome to High Fashion Magazine, Mrs Nadin Almira Queen " Akbar tersenyum sambil menjabat tangan nadin dengan begitu erat.
Bersambung.