CEO Rese Dan Secretary Matre Nya

CEO Rese Dan Secretary Matre Nya
Episode 13


__ADS_3

Gavin Christopher


Belum lama ini gue melihat salah satu majalah bisnis dengan cover yang menampilkan pria yang paling gue kenal, Christopher Hadinata. Ya dia adalah papah kandung gue.


Gue membaca artikel yang berjudul kunci sukses bagi si tangan emas Christopher Hadinata. Gue ingin tertawa sungguh, bagaimana bisa pria itu berbicara kalau kunci sukses nya adalah hubungan yang harmonis bersama keluarga.


Sungguh rasanya gue ingin bertanya langsung apa definisi harmonis bagi pria yang nyaris gue tidak pernah temui setiap tahun nya itu. Dulu waktu kecil, kedua orang tua gue selalu sibuk, mereka beralasan demi membahagiakan gue mereka harus bekerja keras agar suatu saat hidup kami bahagia.


Tapi Kenyataannya saat bisnis papah semakin sukses, semua berubah. Papah mulai jarang berada di rumah, sedangkan mamah ... Gue menghela nafas panjang sebelum gue memulai cerita ini. Oke gue siap.


Waktu dulu saat SMA gue punya teman bernama Arya. Dia dan gue sama - sama hobi bermain basket, karena itu kami jadi akrab. Arya bahkan sering menginap di rumah gue saat akhir pekan, walaupun jarak rumah kami sangat amat dekat. Karena terlalu akrab, bahkan beberapa teman kami sempat mencurigai kami ini pasangan sejenis, gila kan mereka. Saat itu gue dan arya hanya bisa tertawa jijik satu sama lain.


Dan percaya atau tidak kami tidak pernah sekalipun bertengkar, bisa di katakan persahabatan kami minim konflik.. Gue jadi bisa merasakan rasanya punya saudara walaupun tidak sedarah. Gak pernah ada satupun rahasia yang gue dan arya sembunyikan saat itu.


Tapi suatu hari, saat gue pergi ke sebuah mall di daerah Kuningan, gue bertemu mereka. Arya dan Nyokap gue.


Menurut kalian apa yang di lakukan oleh perempuan seumuran mami gue dengan pria seumuran gue ? mami gue berbaik hati ngajak arya jalan-jalan ? Tentu tidak. Atau mami gue traktir arya makan di resto mahal karena arya ulang tahun ? Lebih tidak mungkin, mereka gak seakrab itu. Dan akhirnya gue tahu kalau mereka berdua punya hubungan khusus


Arya hanya bisa diam saat gue menghajar dia dan membuat wajah nya babak belur, mami gue mencoba melerai pertengkaran kami. Tapi gue hanya bisa menatap nyokap gue dengan perasaan kecewa sangat kecewa.


Gue nggak bisa marah saat itu sama mami, apalagi saat saat mami mengatakan alasan kenapa dia mulai punya prilaku yang menurut gue sulit untuk di terima. Perhatian, mami mengatakan dia butuh perhatian dari seorang lelaki, dan papah tidak bisa memenuhi itu.


Butuh waktu bagi gue untuk bisa memaafkan mami dan mencoba menerima prilaku mami yang menurut gue memalukan itu. Dan persahabatan gue dan arya selesai sampai di sana.


Tok tok tok


Gue mengalihkan pandangan dari berkas-berkas untuk meeting besok. Suara langkah sepatu beradu dengan lantai memecah keheningan yang selalu tercipta di ruangan gue,dan gue tahu siapa penyebabnya.


"selamat pagi pak, saya mau menyampaikan jadwal bapak hari ini. Jam 10 bapak ada meeting dengan Geronimo Corp. After lunch bapak ada meeting internal untuk membahas produk baru dengan tean R&D. Kemudian malam hari bapak christopher hadinata ingin makan malam dengan bapak"


"siapa yang mau makan malam dengan saya ?"gue mencoba meyakinkan pendengaran gue.


"bapak christopher hadinata. Papah bos gavin "nadin kembali berucap membuat gue yakin kalau pendengaran gue memang tidak salah.


Gue mencoba mengalihkan pandangan gue kembali pada berkas di hadapan gue ini. Mendengar nama pria itu di sebut entah kenapa mood gue langsung terjun bebas ke tingkat dasar.


"bilang sama dia saya gak bisa. Saya harus siapkan presentasi buat besok"


"tapi bos .. "


Gue menatap nadin. "saya bilang saya sibuk " gue sengaja memberikan penekanan di tiap kalimat itu, dan bisa gue lihat  nadin mengerutkan dahi, dia bingung mungkin.


"baik bos saya akan sampaikan pada beliau, saya permisi "nadin membalikkan badan hendak meninggalkan ruangan.


"nad "


"iya "


"bisa tolongin gue ?"


"apa ?"


Gue menuliskan sesuatu di kertas kemudian menyerahkannya pada nadin, gue harap nadin gak keppo dengan isi kertas itu.


"tolong pergi ke apotik di sebrang jalan , kasih aja kertas ini "


Nadin menerima kertas itu sambil menatap gue bergantian.


"bos sakit ?"


Gue menggelengkan kepala, dia gak boleh curiga.


"cuma vitamin nad "


"oh gitu.. Okey ada lagi yang bisa saya bantu bos ?"


"tidak terima kasih "


"baik saya permisi "


Nadin berbalik badan, suara ketukan sepatu heels nya kembali menggema di ruangan ini. Setelah pintu ditutup semua kembali seperti semula, sepi dan hanya ada gue dengan setumpuk berkas yang enggan gue kerjakan.


Nadin Almira Queen


Gue duduk di ruang tunggu apotik memperhatikan orang yang datang lalu pergi membawa obat di tangan mereka. Baru saja gue nenyerahkan selembar kertas yang gavin berikan tadi pada si mas apoteker. Dan si mas itu malah menatap gue sambil bertanya.


"mbak siapa nya pak gavin ?"tanya apoteker itu sambil menatap gue dengan tatapan intense.


"kok mas tau kalau ini buat gavin ?"


"pak gavin lumayan sering ke sini, dan pasti beliau membeli obat ini "


"emang itu obat apa mas ?"


Gue keppo melihat ekspresi si mas apoteker yang menatap gue sambil berfikir. Cukup lama dia tidak menjawab pertanyaan sederhana gue itu, sepertinya pria itu sedang berfikir untuk menjawab pertanyaan gue.


"oh.. Itu.. Vitamin mba , yauda saya ambilkan dulu ya "


Si mas apoteker langsung menghilang di balik pintu yang gue tebak pasti itu ruangan penyimpanan obat. Tingkah laku mas apoteker itu membuat gue mencurigai ada sesuatu yang tidak gue ketahui mengenai Gavin.


"atas nama bapak gavin " panggil si mas apoteker itu lagi.


"ya "


Gue langsung berdiri menghampiri si mas apoteker tadi. Heran, vitamin apa sih sampai harus memakan waktu 30 menit untuk meraciknya ?


"ini mbak obat nya "


"makasih ya mas "gue tersenyum sambil mengeluarkan beberapa lembar ratusan ribu.


"mba.. Siapa nya pak gavin ?"apoteker itu kembali bertanya sambil menyerahkan uang kembalian.


Gue heran kenapa ini mas-mas keppo banget, jangan-jangan dia naksir gue lagi. Apa jangan-jangan naksir gavin . Oh astaga gue mikir apa sih.


"saya sekertaris nya mas "jawab gue


"oh, saya fikir mba pacarnya pak gavin "


"kenapa emang ?"


"soalnya.. Pak gavin pasti percaya sama si mba makanya di suruh kesini "


Gue mengeryitkan dahi. Sumpah gue gak faham apa korelasi antara vitamin-gue-dan gavin yang percaya sama gue. Si mas ini kebanyakan nonton sinetron kayaknya.


Setelah selesai dengan urusan bersama si mas apoteker yang tingkat keppo nya udah maksimal itu, gue kembali ke kantor. Suasana kantor sudah lumayan sepi karena ini memang sudah jam nya pulang kantor.


Gue melangkahkan kaki menuju ruangan gavin, semoga saja dia masih berada di ruangan nya, menunggu gue Atau obat nya mungkin.


Jujur gue keppo dengan benda yang berada di tangan gue ini. Sebuah tabung kecil dengan pil berwarna merah di dalam nya. Apa betul ini hanya sekedar vitamin ?. Ah tapi untuk apa gue perduli, toh kalau ini bukan vitamin gak ada untung atau rugi nya untuk gue.


Tok Tok


"masuk "ujar suara yang dulu pernah gue puji mirip suara Shawn Mendez, duh nyesel gue inget nya.


Gue membuka handle pintu kemudian melongok ke dalam. Gavin masih sibuk dengan tumpukkan berkas nya, dan beberapa kaleng soda  tercecer di pinggir meja.


"bos... ini obat nya "


Gue meletakkan bungkusan berwarna putih itu di hadapan gavin. Kemudian gue melirik kaleng-kaleng soda yang ternyata banyak bercecer di sekitar meja gavin, entah sudah berapa litter yang dia minum.

__ADS_1


Gue melirik jam tangan gue, pukul 19:00 . Jam kerja kami sudah berakhir, jadi gue bisa bersikap lebih santai pada gavin, bukan lagi sebagai bos dan sekretaris nya.


Sambil menghela nafas gue singkirkan kaleng-kaleng yang bercecer di sekitar gavin, membuang nya ke tempat sampah kemudian mengganti nya dengan air mineral.


"kalau sakit jangan minun soda vin "


Gavin mengalihkan tatapannya dari dokumen, kemudian menatap gue. Kenapa gue merasa ekspresi wajahnya seperti anak anjing yang minta di kasihani. Nggak nadin jangan jadi bego, jangan kasian sama dia, dia udah sering nyakitin hati lo. Gue bermonolog dalam fikiran gue.


"nad.. "panggil gavin dengan suara yang amat pelan, nyaris saja gue tidak mendengarnya.


"kita teman kan ?"


"bukan "gue menggeleng tanda tidak setuju.


"musuh ?"


"nggak juga "gue menggeleng lagi,semakin aneh saja pria di samping gue ini.


"atau mantan pasangan cie cie ?"


Duh pengen gue pelintir itu bibir, sembarangan aja kalau ngomong. Gue kan jadi...


"malam ini... Lupakan apapun hubungan di antara kita "


Gue mengernyitkan dahi, setahu gue gavin hanya meminum berbotol-botol cola. Tapi kenapa dia terlihat seperti orang mabuk ? Apa cola jaman sekarang ada alkohol nya ?


Gavin menatap gue yang sedang berdiri di samping nya. Pernah punya rasa sama gavin, membuat gue bisa membaca kalau pria di samping gue ini tidak sedang baik-baik saja, sebut saja insting seorang fans.


Gavin bertopang dagu, masih menatap gue . Shit.. Kenapa jantung gue masih gak bisa diajak kompromi sih setiap kali gue menatap mata coklat itu, istighfar nadin istighfar.


"nad... "


"......"


"malam ini, jangan tinggalin gue sendiri please. Gue butuh temen "


Dan gue mengutuk diri gue, jantung dan otak gue yang gak bisa diajak bekerja sama. Sederet kalimat yang gavin lontarkan barusan, mampu membuat pertahanan gue runtuh seketika, fix gue masih ada rasa sama gavin.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~ 😺😺 \~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Nadin menatap gavin yang masih saja berkutat dengan laptop dan beberapa dokumen yang sedang dia periksa. Sudah lebih dari 2 jam sejak gavin mengatakan kalau dia tidak ingin sendirian. Ada apa dengan lelaki itu sebenarnya ?


Gavin sempat menoleh ke arah nadin yang duduk di sofa sambil selonjor di atasnya. Kaki jenjang nadin sudah tertutup oleh jas milik gavin. Membuat gavin ingin tertawa karena mengingat pristiwa beberapa waktu yang lalu.


"lo gak punya temen lain ? atau lo takut hantu ?"pertanyaan itu meluncur bebas dari bibir nadin saat gavin memohon untuk ditemani.


Gavin mengedikkan bahu."mungkin keduanya "


"dan terus lo minta gue di sini buat nemenin lo, terus kalau hantu nya muncul di depan gue gimana ?"


"gak akan "


"kenapa ?"


"ya karena lo lebih serem dari setan "


"sialan "umpat nadin tidak terima dengan perkataan gavin barusan.


Setelah itu mereka larut dalam kegiatan masing-masing. Gavin dan berkas nya sedangkan nadin dengan smartphone nya. Detik berganti menit, menit berganti jam tanpa terasa sudah 1 jam berlalu.


Gavin melihat nadin sedikit meringkuk di atas sofa,kaki nya pun dia rapatkan bersama dengan kedua tangannya yang memeluk tubuhnya sendiri. Gavin bisa menebak kalau AC di ruangan ini yang membuat wanita itu kedinginan.


Gavin nampak berfikir, kalau dia menyelimuti tubuh nadin seperti di drama-drama, nanti wanita itu akan besar kepala dan berfikir kalau gavin suka padanya.


Tapi kalau gavin nggak segera bertindak, pasti besok nadin akan terserang flu dan membuat gavin susah sendiri nantinya. Ah bodo amat deh toh gavin bos nya nadin, tentu dia gak ingin karyawan nya sakit.


"pake tuh jas gue "gavin sedikit melemparkan jas ke atas sofa, dan baru pria itu sadari kalau ada kaki jenjang nan mulus berada disana.


Nadin tampak mendelik menatap gavin yang dengan entengnya melemparkankan jas nya begitu saja, tapi dia tidak punya pilihan selain menerima jas pemberian gavin. Sekujur badan nadin nyaris beku karena AC di ruangan ini terlalu dingin untuk ukuran 2 orang.


"thanks "


Nadin tersenyum sekilas sebelum melebarkan jas gavin menutupi kaki nya. Sialnya kaki nadin terlalu panjang, tidak sebanding dengan jas yang gavin berikan, di situlah nadin kesal punya badan tinggi.


"vin .. Lo udah belom sih kerja nya ? Gue ngantuk banget nih " suara nadin yang setengah parau membuat gavin kembali menoleh.


Nadin beberapa kali menguap bersamaan dengan mata nya yang tertutup kemudian terbuka kembali. Gavin tidak tega sebenarnya, egois memang memaksa nadin untuk kerja lembur hanya demi menemani gavin menyelesaikan bahan untuk presentasi nya besok. Tapi jujur untuk saat ini gavin memang butuh orang lain, dan tidak mungkin kan gavin menghubungi aurora .


Sejak peristiwa penolakkan di Bali itu, gavin dan aurora memang jarang berkomunikasi. Lebih tepatnya gavin yang berusaha menjaga jarak. Pria itu hanya mencoba menata hidup setelah harapannya di porak porandakan oleh wanita yang membuatnya kehilangan akal sehat.


"oke kita pulang "gavin menutup laptop nya dan membereskan beberapa kertas yang tercecer di atas meja nya.


Sudut mata gavin menangkap kalau nadin sudah tertidur pulas dengan kepala yang bersender pada sisi sofa. Gavin berjalan mendekat sambil memainkan kunci mobil di tangan kanan nya.


Nadin tidur seperti bayi, wajahnya terlihat damai dan harus gavin akui setelah dua kali melihat nadin tertidur seperti itu, membuat gavin mati-matian berusaha tidak mengakatakan kalau nadin sangat cantik. Walaupun akhirnya harus gavin akui, nadin memang cantik.


Gadis itu nampak polos saat tertidur, tidak ada lagi pemandangan wanita matre dengan berbagai brand mahal di sekujur badan nya. Hanya seorang gadis yang terlihat kelelahan sampai jatuh tertidur di sofa. Tanpa gavin sadari sebuah senyum sudah melengkung indah di wajah nya.


"nad "


"....."


"nadin "gavin menepuk pundak nadin.


" 5 menit lagi ..."gumam nadin dengan suara parau.


Gavin berjongkok di hadapan wajah nadin. Jarak mereka cukup dekat, sampai membuat gavin dapat melihat dengan jelas bulu mata lebat yang membingkai mata nadin. Bibir mungil nadin.. Astaga gavin masih ingat saat dia mencicipi bibir mungil yang terasa seperti strawberry itu.


Tiba-tiba nadin membuka matanya, sontak gavin langsung terjungkal kebelakang.


"astaga nadin lo ngagetin tau nggak !!"gavin setengah berteriak sambil mengelus-elus dada.


"lo ngapain ? Astaga jangan-jangan lo mau.... "


Gavin menggeleng. "jangan mimpi deh, ayo pulang nanti lo balik jadi upik abu lagi "


Gavin berjalan menuju pintu sementara nadin mengikuti di belakangnya.


"lo harus bayar gue mahal karena udah buat gue lembur sampai tengah malam "desis nadin di belakang gavin, diam-diam gavin malah tersenyum bahkan nyaris tertawa, untung dia bisa menahan nya.


"oke oke, bulan depan cek rekening lo puas "


"yipie... Thanks bos "nadin menepuk pundak gavin, mereka berjalan beriringan menuju parkiran mobil.


Sesampainya mereka di parkiran mobil gavin langsung mengeluarkan kunci mobil, dalam sekali klik suara alarm berbunyi. Mobil gavin terparkir di area khusus dewan direksi, tentu memudahkan gavin menemukannya.


"gue anter lo pulang, anggap ini kompensasi karena .. Lo udah nemenin gue "


"lembur, gue gak mau gratisan "


"whatever nona pecinta uang "


Gavin dan nadin masuk kedalam mobil, mereka berdua memasang sabuk pengaman. Kemudian gavin mulai menjalankan mobil hitam nya itu keluar dari parkiran gedung.


Jalanan sangat lenggang saat gavin mengemudikkan mobil nya menuju rumah nadin yang terletak di daerah Bintaro. Sepanjang jalan hanya terlihat tukang pecel lele atau nasi goreng tek tek yang masih setia menemani para pekerja lembur untuk mengisi perut mereka.


"thanks bos udah antar saya  pulang "


"besok jangan lupa masuk kerja "

__ADS_1


"jangan lupa juga uang lembur nya "


Gavin terkekeh, wanita di hadapannya ini betul-betul menyukai uang rupanya.


"nad... Gue minta maaf selama ini perkataan gue mungkin nyakitin banget ya buat lo "


Nadin tidak bergeming, malah menatap gavin dengan tatapan heran.   Nadin mengulurkan tangan lalu menyentuh dahi gavin.


"panas, pantes "dua kata itu membuat nadin maklum dengan semua perlakuan aneh gavin hari ini.


"buruan pulang, anak perawan gak bagus kena angin malam.. Nanti masuk angin "nadin terkekeh.


"sial... "gavin memutar bola matanya.


Nadin tertawa puas karena berhasil membuat gavin kesal. Bos nya itu nampak lucu saat dahi nya berkerut.


"eh vin... Tunggu bentar di sini gue mau ambil sesuatu "


"jangan lama-lama nad gue...."


"takut setan ? Yaelah umur lo berapa sih masih takut sama yang begituan "nadin kerkekeh kemudian berjalan menuju pintu rumah nya.


Nadin ingat kalau dia masih menyimpan obat demam. Saat nadin menyentuh dahi gavin tadi, badan pria itu memang agak hangat. Dan insting nadin mengatakan kalau gavin akan terkena demam. Karena itu nadin berniat mengambil obat demam dari dalam rumah nya .


Nadin merogoh tas nya mencari sebuah benda dengan bandul teddy bear yaitu kunci rumah nya. Mendadak nadin pucat saat dia sudah mengacak-ngacak isi tas nya dan kunci itu tidak juga dia temukan.


"mati gue ... " gumam nadin dalam hati.


Gavin melihat nadin jongkok sambil mengeluarkan seluruh isi tas nya di lantai. Feeling gavin mengatakan kalau gadis itu pasti kehilangan sesuatu. Gavin berjalan mendekat untuk memastikan dugaan nya.


"nyari apa nad ? "


"kunci vin kunci rumah gue gak ada "


"serius lo ! Coba lo inget-inget terakhir lo taruh di mana "


"di dalam tas, gue gak mungkin lupa. Tadi pagi gue sendiri yang masukin ke dalam sini "nadin masih merogoh dalam kantong tas nya, dan nihil kunci itu seperti menghilang.


"duh mati gue... Apa gue nginep di hotel aja ya ? Vin anterin gue please "


Nadin menunjukkan wajah memelas nya.


"nggak mau.. Ntar gue di kira cowok gak bener lagi, berduaan sama lo di hotel "tolak gavin langsung tanpa perduli dengan wajah nadin yang sudah memelas.


"lo kan cuma anter doang gak ikut masuk "


"tetep nggak ! Kalau ada paparazi yang motret kita, besok nama gue bisa hancur "


"ayolah lo tutupan pake apa kek biar gak ketahuan. Gue capek butuh mandi dan tidur "nadin masih berusaha membujuk gavin, bahkan gadis itu sampai menarik-narik lengan baju gavin.


"yauda ke rumah temen lo aja "


"nggak punya "


"tetangga ?"


"nggak kenal "


"saudara ?"


"jauh "


Gavin mencoba berfikir, lalu ide itu muncul begitu saja.


"aapartemen gue ?"gavin menyesal mengatakan itu, mengingat terakhir kali nadin ada di apartemen nya 'aset masa depan ' nya harus menanggung akibatnya.


"nggak.. !! Gue gak mau biar kondisi apapun gue gak mau balik kesana lagi "


"yauda terus lo mau nya gimana "


"anter gue ke hotel, sekarang !"nadin malah memelototi gavin sambil bertolak pinggang.


Gavin menghela nafas, susah memang berdebat dengan wanita ini. Selalu saja mereka berdua harus tarik urat saat sedang berbicara. Pada akhirnya gavin menyerah, berdebat dengan nadin tidak akan pernah ada habisnya jika bukan dirinya yang mengalah.


Nadin dan gavin kembali masuk ke dalam mobil. Gavin menyalakan mesin mobil nya dan mobil melaju kembali ke jalan utama. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam dengan fikiran mereka masing-masing. Sampai tanpa sadar gavin melajukan mobil nya malah menuju ke apartemen nya sendiri.


"vin kok ke sini ?! "nadin keluar dari dalam mobil menyusul gavin setelah nya.


"iya ya kok kesini ya nad ?"gavin menggaruk kepala nya yang tidak gatal.


"lo sengaja kan ? Ngaku aja deh "nadin bersandar pada pintu mobil gavin sambil menatap tajam pria itu.


"terserah, gue ngantuk dan ini udah nyaris jam 3 pagi "


Gavin berjalan mendahului nadin yang masih tidak bergeming di tempatnya. Dalam hati gavin juga heran mengapa dia yang awalnya berniat mengantarkan nadin ke hotel malah berakhir di apartemen nya. Apa mungkin alien sudah mengacaukan jalan fikiran gavin ? oke ini mulai ngaco.


"vin .. Pertama, gue gak bisa tidur satu kamar sama cowok apalagi cowok itu bukan cowok yang gue suka. Kedua, gue biasanya sebelum tidur minum susu hangat dulu " cerocos nadin tanpa hanti saat mereka sudah masuk ke dalm lift.


Pintu lift terbuka saat angka sudah menunjukan lantai 15. Gavin berbalik badan, gerah juga lama-lama mendengar ocehan wanita ini.


"nadin !!! "gavin setengah berteriak sambil menghentak sepatu nya, ingin rasanya dia menyumpal mulut nadin yang cerewet nya minta ampun itu.


"apa apa !!!" nadin malah melotot ke arah gavin.


"sehari aja sehari, lo gak bawel dan bersikap anteng,diam kitu, cicing wae !! "


"mana bisa gue anteng kalau gue bakalan satu kamar sama cowok yang tingkat mesum nya udah akut kayak lo ! "


Gavin salah memang kalau berdebat dengan nadin, dia tahu persis wanita itu akan membalas setiap perkataan nya. Lalu Ide itu pun muncul. Gavin tersenyum smirk, dia tahu bagaimana cara membuat nadin tidak mampu lagi mengeluarkan semburan kebawelan nya.


"vin lo mau ngapain ?"nadin tampak memucat saat gavin mulai berlajan mendekat ke arahnya.


"lo kan nuduh gue mesum...."


"emang kenyataan "


"yauda sekalian aja gue .... "


Hap, dalam sekali tangkap gavin sudah memeluk nadin, kemudian menyeret paksa wanita itu mengikuti langkah nya.


"vin.. Lepasin !! Gue gak bisa nafas "nadin memukul-mukul lengan gavin, tapi tidak berhasil. Lelaki itu enggan melepaskan pelukkan nya.


"diem nad ! Atau lo mau gue melakukan hal lebih gila dari cuma pelukkan doang ?" gavin terkekeh.


"dasar bos gila !!"teriak nadin di telinga gavin.


Gavin menekan pasword apartemen nya, sambil lengan yang satu nya memeluk nadin. Wanita itu masih meronta minta di lepaskan dari lengan yang memeluk pundak nya. Gavin hanya bisa terkekeh melihat tingkah nadin.


Ceklek


Pintu apartemen gavin terbuka, lampu otomatis menyala. Gavin mengedarkan pandangannya, saat itu manik mata nya menatap ke arah seorang pria yang sedang duduk sambil menyilangkan kaki di atas sofa. Sontak gavin langsung melepaskan nadin begitu saja .


"papah "


Nadin mengikuti arah pandangan gavin, wanita itu langsung mematung saat melihat christopher hadinata sedang menatap nya juga.


"jadi karena wanita ini, kamu menolak makan malam bersama papah "suara bariton christopher hadinata menggema di ruang tamu.


Nadin dan Gavin sama-sama tidak bergeming.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2