
Nadin bolak balik menatap jam tangan baby-G yang melingkar di pergelangan tangan sebelah kirinya. Ini sudah hampir jam 8 dan gavin belum Juga menunjukkan Batang hidungnya. Padahal penerbangan mereka ke Bali tinggal 30 menit lagi.
Berulang kali dia mendial nomor gavin di ponsel nya, tapi yang menjawab selalu operator telfon yang mengatakan hal yang sama nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Nadin mulai cemas, bagaimana kalau mereka ketinggalan pesawat? Ujung-ujungnya pasti nadin juga yang jadi repot. Dan gavin mana mau di salahkan, peraturan nomor satu bos selalu benar.
"Gavin... Lo dimana sih??? "Nadin memperhatikan sekeliling mencari wajah yang sudah dia sangat ingin pendam ke tanah.
Nadin memicingkan mata saat melihat seorang pria yang dengan santai nya berjalan seolah dia sedang berjalan di pinggir pantai. Pria itu menggunakan kemeja biru bergaris dengan topi baseball di kepalanya, kedua telinganya seperti nya tersumbat headset, sial itu gavin.
Dengan cepat Nadin berlari ke arah pria itu, tidak lagi dia perdulikam koper yang tergeletak di lantai. Yang Nadin fikirkan sekarang adalah dia ingin sekali menjambak rambut bos nya itu.
Nadin Almira Queen
Kalian tau apa hal terkurang ajar yang pernah dilakukan karyawan terhadap bos nya? Ya hal itu yang sedang gue lakukan sama bos gue yang paling gak tau diri ini.
Gue sengaja berangkat lebih awal dari rumah menuju bandara, tapi hasilnya gue harus nunggu si kunyuk ini selama 2.5 jam. Bahkan sampai speaker yang mengumumkan keberangkatan pesawat tujuan Bali berbunyi untuk yang terakhir kali nya. Bocah itu masih belum Juga menampakkan Batang hidungnya.
Saat gue nyaris saja mau nangis takut ketinggalan pesawat, dengan santainya Gavin berjalan seolah dia sedang ada di sebuah fashion show. Emosi gue udah di ujung tanduk saat gue melihat dia masih bisa-bisa nya mendengarkan musik di saat seperti ini.
Gue lari menghampiri dia tanpa memperdulikan koper gue yang tergeletak mengenaskan di lantai. Saat sudah berada di hadapan gavin tebak apa yang dia ucapkan.
"Hai nad "sambil tersenyum ala iklan pasta gigi.
Lihat emosi jiwa gak sih kalau kalian punya bos seperti Gavin? Entah bisikan setan dari mana yang merasuk jiwa gue. Dengan cepat gue tarik sebelah kupingnya, Gavin langsung meringis sambil teriak-teriak minta di lepaskan.
Gue pura-pura tuli dan langsung menggeret dia menuju tempat check-in. Beberapa orang memperhatikan kami karena teriakkan Gavin yang meminta tolong berhasil membuat kami jadi pusat perhatian. Seorang wanita paruh baya tiba-tiba saja menghampiri kami, dari gelagatnya sepertinya dia mau menegur gue.
"Mba suami nya jangan di kasarin dong kasian kan, wajahnya sampe merah begitu "
See gue benar kan wanita ini menegur gue, tapi bukan Nadin namanya kalau gue terpengaruh hanya karena perkataan ibu ini. Lihat dan saksikan betapa jago akting gue.
"Ibu gak tau sih, suami saya ini baru ketauan selingkuh bu sama pramugari , padahal saya lagi hamil muda "
Gue membuat ekspresi seolah-olah ingin menangis sambil sesekali mengelus perut rata gue. Pelajaran pertama yang gue dapat dari sinetron, peran terintimidasi selalu dapat simpati ibu-ibu.
Ekspresi si ibu itu langsung berubah, yes gue menang.
"Maaf mba saya gak tau "si ibu itu mengelus pundak gue.
"Dasar ya lelaki emang, buatnya doang yang mau tanggung jawab gak mau! Percuma ganteng kalau kelakuannya begitu "si ibu-ibu itu memukuli pundak Gavin.
Demi tuhan gue mau ketawa ngakak rasanya liat Gavin disiksa sama ibu-ibu itu. Gavin cuma bisa bilang "ampun bu saya gak salah" gitu terus sampai ketawa gue di dalam hati reda.
Oke sebelum gue kelepasan ngakak di depan ibu-ibu ini lebih baik kita hentikan pertunjukan nya. Gak lucu dong kalau gue mendadak ngakak di depan ibu ini, bisa ketauan kalau gue cuma akting.
"Bu udah bu, makasih udah belain saya "
"Sama-sama neng, udah kalau suami neng macem-macem di sunat lagi Aja anu nya biar abis sekalian "
"Iya bu, makasih ya saya pergi dulu "
Setelah melambaikan tangan pada si ibu baik hati itu gue melanjutkan perjalanan menunju counter check-in. Telinga gavin masih Setia nangkiring di jinjingan tangan gue.
Gue merasakan gavin memukul pergelangan tangan gue, cukup keras sampai meninggalkan bekas merah.
"Sakit titisan medusa!! "Gavin melotot oow bos gue marah, kabur.
__ADS_1
Setelah pesawat take-off gue berniat memejamkan mata sejenak. Jujur saja sudah lama gue gak pernah berpergian menggunakan pesawat, apalagi ini kelas bussiness. Kebayang dong seberapa nyaman nya pesawat ini.
Gue ngantuk berat karena tadi pagi gue bangun jam 4 pagi dan langsung jalan menuju bandara. Kampret emang si gavin, dia yang nyuruh gue jangan sampai telat dia sendiri nyaris telat.
Saat gue baru saja akan memejamkan mata, tepat di saat itu juga Gavin colek-colek tangan gue. Gue tau firasat gue pasti gak enak, Gavin pasti gak mungkin ikhlas gitu aja atas kejadian tadi di bandara.
"Siapa yang suruh lo tidur nad! "
"Vin, please gue butuh tidur. Gara-gara siapa emang gue harus bangun pagi terus berangkat ke bandara? "Gue sudah bersiap dengan penutup Mata di atas kepala gue.
Gavin diem aja, oke mungkin dia ngerasa bersalah dan menyadari kesalahannya itu. Bagus lah dia masih punya otak. Gue menurunkan penutup mata dan langsung membuat posisi duduk gue nyaman untuk tidur.
Semenit dua menit tiga menit
"Nad !"
Oh my god, ini kaca pesawat bisa gak sih gue buka? Gue gatel banget mau buang bangke cicak di sebelah gue ini.
"Apalagi sih gavin! "Gue sadar suara gue cukup tinggi sampai membuat penumpang di depan kami menoleh, gue mengucapkan kata maaf Dengan pelan sambil tersenyum.
"Gavin gavin berapa kali sih gue harus ngajarin lo, panggil gue bos B-O-S yang kayak gitu masih perlu gue ajarin ya? "
Gavin menunjukan wajah seolah dia bos galak, dikiranya gue takut kali sama dia. Gue jadi punya ide jahil, gue mau lihat kalau gue keluarkan tatapan ala bae suzy gue gimana ya reaksi gavin.
Mari kita perhatikan saudara-saudara
Gue membuka perlahan cepollan rambut gue, mengibaskan rambut panjang gue ke kiri dan ke kanan.
"Lo mau ngapain nad? "
Gue melihat gavin menatap gue dengan tatapan mupeng, gue bisa lihat dia menelan salivanya saat jakunnya naik turun. Dan Fase terakhir ini, gue yakin pria mana yang akan menolak gue.
Gue mengeluarkan tatapan tajam andalan gue, gue mendekat mendekat sampai gue berhenti tepat di samping telinga gavin. Dengan lembut gue berbisik.
"Please.. Gue mau tidur gavin jangan ganggu gue ya "
Dan... Berhasil berhasil berhasil hore
Gue pinjem dulu ya dora jinggle nya.
Gue lihat gavin membeku di tempatnya, dia gak bergerak ataupun ngomong seperti yang dia biasa lakukan. Gue menjauhkan badan gue yang udah mepet banget sama badan gavin, senyum kemenangan langsung terpancar begitu saja.
Lihat kan? Bahkan seorang Gavin Christoper yang dulu nolak gue sekarang terpesona dengan gue. Oke gue sekarang bisa pakai penutup mata gue dan bobo dengan nyenyak.
Baru juga gue akan memejamkan mata tiba-tiba gue merasa badan gue ditarik ke samping dan... Oh my god gue merasakan benda yang kenyal dan lembab menempel sempurna di bibir gue, benda ini mirip.. Bibir seseorang, dan kalau di lihat dari posisi gue sekarang yang condong ke kanan berarti.. Ya tuhan yang duduk di sebelah kanan gue kan gavin? Berarti bibir yang sekarang sedang menempel di bibir gue ini, bibir nya gavin dong? Akkk
Gavin Christopher
Dulu waktu umur gue 5 tahun gue pernah nangis karena bokap gue gak mau membelikan gue mainan robot-robot an seperti milik kakak sepupu gue. Waktu itu dengan bodoh nya gue kabur dari rumah, sambil bawa uang sebesar 5 ribu yang gue fikir jumlahnya besar banget.
Dan kalian tau kemana tujuan bocah laki-laki umur 5 tahun saat kabur dari rumah? Ya toko mainan. Gue berdiri di depan toko mainan sambil menatap mupeng anak-anak yang keluar masuk dari sana sambil nenteng mainan dan di gandeng oleh orang tua mereka.
Waktu itu gue lebih fokus sama benda yang mereka bawa, sebuah replika robot super hero iron man tokoh favourite gue. Gue cuma bisa menatap melas duit goceng yang gue bawa, karena gue gak mengerti duit pada saat itu. Kemudian dengan pede nya gue masuk ke dalam toko itu dan mengambil mainan robot yang gue mau.
Pada saat pergi ke kasir, gue menyerahkan duit yang gue bawa dan robot mainan itu ke si penjaga kasir nya. Si penjaga kasir nya itu malah ketawa sambil ngacak rambut gue, gue sebel rambut gue di gituin.
__ADS_1
Kalian tau alasan penjaga kasir itu ketawa? Iya karena dia fikir gue bercanda ngasih dia duit segitu untuk sebuah mainan robot yang ternyata harganya 4 kali lipat dari uang yang gue bawa.
Si penjaga kasir nya celingukkan nyari orang tua gue, dia fikir gue dateng kesini bareng orang tua gue. Dia bertanya pada gue kemana orang tua gue, ya gue cuma bisa geleng-geleng kepala lah.
Tiba-tiba tangan gue di sentuh oleh seseorang, gue menoleh ke arah samping. Seorang cewek dengan ikat kuncir kuda sedang senyum ke arah gue, gigi tengah nya ompong, pasti dia kebanyakan makan coklat.
"Nih buat kamu aja aku nda boleh main lobot sama mami "
Gue berjingkrakan sambil berujar terima kasih pada cewek itu. Cewek itu ikut tertawa melihat tingkah gue. Tanpa sengaja gue menginjak rok nya dan membuat kami berdua terjatuh di lantai dengan posisi gue berada di atas gadis itu, dan sumpah gue gak sengaja asli. Gue mencium bibir cewek itu dan pada saat itu perasaan gue biasa aja , di umur segitu mana ada sih kefikiran sama nafsu bray.
Oke kita balik ke kehidupan gue sekarang, sejak peristiwa di pesawat itu Nadin nggak juga mau ngomong sama gue satu kata pun. Dia terus ngediemin gue dan hanya menuliskan sesuatu di post-it jika terpaksa harus ngobrol sama gue. Gila kali ya si Nadin masa gue harus berkomunikasi sama post-it.
Meeting berjalan dengan sempurna, Mr. Matsumoto bersedia untuk berinvestasi sebesar 1 T ke perusahaan gue. Gue patut berbangga hati karena memiliki kemampuan membujuk investor dengan sempurna.
Tapi sumpah membujuk wanita yang sedang makan di hadapan gue ini betul-betul sulit. Berkali-kali gue menjelaskan kalau gue gak sengaja ngelakuin itu dan dia masih nggak mau maafin gue.
Lihat saja berbagai lembar post it yang nempel di sekeliling meja makan gue. Ada bentuk love, bebek sampai babi tentu aja dengan berbagai varian warna. Sejujurnya gue pengen ketawa ngeliatnya, cara bertengkar nadin terlalu kreatif memang.
"Nad masih marah? "
"......"
"Gue minta maaf nad, sumpah gue khilaf "
"....."
"Lo kok diem aja sih? Gue anggap diam lo berarti lo udah maafin gue ya? "
"...."
"Nad, gue kasih 500 ribu deh "
Bodoh lo vin 500 ribu buat ngebujuk nadin wkwkw diketawain lo sama tas mahal nya dia.
"Oke naik di angka 1.5 juta deh "
Hah? 1.5 juta hm hm lihat jam tangan nadin vin keluaran terbaru. 1.5 juta sih cuma buat ganti baterai nya doang kali.
"Oke ini tawaran terakhir, mengingat kita udah kenal lama dan gue akuin peristiwa di pesawat itu gue yang salah jadi.. 10 juta yes or no "
Prok prok prok gavin lo kesambet apa sih, serius mau ngasih nadin 10 juta supaya dia gak ngambek lagi?
Berhasil, perkataan gue membuat nadin mengalihkan pandangannya dari salad itu jadi menatap gue. Tapi tunggu ini tatapan nadin kenapa kayak dia mau bunuh gue gitu ya.. Mendadak gue ngeri apalagi di samping nadine ada pisau roti. Oow pisau yang biasa buat ngoles selai roti gak tajam kan?
Gue beranikan diri buat menatap nadin, cewek itu lagi-lagi nulis sesuatu di post-it nya. Beberapa saat kemudian dia berjalan mendekat ke arah gue, sambil menyunggingkan senyum dia menempel post-it itu di kening gue, kemudian pergi begitu aja tanpa ngomong apapun.
First Kiss gue gak semurah itu brengsek
Gue langsung menatap horor si babi pink yang berisi tulisan nadin yang rapih tapi penuh makna.
Jadi ciuman tadi itu first kiss dia? Dan first kiss dia sama gue? Matilah gue di ladang ubur-ubur. Tulisan nadin yang rapih itu lebih mirip ancaman dari pada godaan. Firasat gue kok gak enak ya? Gue kayaknya harus mulai tambah polis asuransi gue deh.
Nad maafin gue nad kan kita frienemy 😂✌
Bersambung
__ADS_1