
Nadin menatap pria yang sedang berbicara mengenai konsep sebuah apartemen dengan penuh semangat. Pandangannya terus mengikuti kemana lelaki itu bergerak. Sesekali lelaki itu juga menatap ke arahnya, dan akibat dari perbuatannya itu jantung nadin langsung jumpalitan dibuatnya. Tatapan nadin benar-benar menunjukkan kalau wanita itu sangat menganggumi sosok pria yang dengan percaya diri nya melakukan presentasi di depan calon investor mereka, nadin melirik pergelangam tangannya yang di balut jam tangan keluaran terbaru dari sebuah brand dari Swiss.
Pukul 11:00 gavin selesai dengan presentasi nya mengenai konsep apartemen yang akan menjadi project terbaru perusahaan gavin. Pak pram dan beberapa orang yang hadir di meeting itu berdecak kagum kemudian bertepuk tangan saat gavin selesai dengan presentasi nya. Tentu saja pak pram langsung setuju untuk berinvestasi di project tersebut. Pak Pram memang sangat menyukai pebisnis muda seperti gavin, dan diam-diam dia berharap kalau gavin bisa jadi menantu nya. Tapi Melihat interaksi antara gavin dan nadin pak pram harus menelan bulat-bulat keinginan nya itu.
Setelah bersalaman dengan pak pramodya, gavin mohon undur diri. Pria itu berjalan menuju kamar nya yang terletak di lantai 3. Nadin berjalan mengekori gavin sampai di depan kamar nya, kamar mereka memang bersebrangan karena itu mau tidak mau mereka berjalan bersama menuju kamar mereka.
Gavin nampak terliat lelah, lelaki itu beberapa kali melakukan peregangan otot untuk menghilangkan rasa lelah nya yang sudah menumpuk sejak kemarin. LIngkaran hitam yang menghiasi mata gavin nyaris saja membuat nadin berniat menawarkan concealer miliknya, tapi tentu saja nadin tahu kalau dia lakukan itu gavin akan ngomel-ngomel .
"lo hebat vin "ujar nadin sambil mengacungkan kedua jempol nya.
Gavin terkekeh."practice make perfect nad, kalau bukan karena berlatih gue juga gak bisa "
"gimana rasanya harus kerja sendiri tanpa gue ? pasti lo repot ya ?" akhirnya nadin berhasil menyuarakan apa yang ada di fikiran nya sejak melihat kondisi gavin.
gavin menoleh. " biasa aja, gue bisa tuh ngerjain semua nya sendiri, gue kan titisan superman " ujar gavin sambil membusungkan dada nya.
Nadin terkekeh sambil memukul pelan lengan gavin. " gak usah sok kuat deh, liat tuh kantong mata udah ngalahin punya nya panda "
" ini tuh efek insomnia ya ! gue kan susah tidur bukan karena begadang karena sibuk buat Power Point , apalagi meriksa dokumen setiap malam, terus gak mungkin lah gue tidur jam 3 pagi karena mikirin konsep, apalagi ngitung cost " cerocos gavin yang lebih terdengar seperti curhatan di telinga nadin.
Nadin hanya bisa tertawa dalam hati mendengar curahan hati gavin. Laki-laki itu memang selalu bertingkah sok kuat dan selalu saja merasa bisa mengerjakan apapun sendiri. Pada akhirnya dia sendiri kan yang jadi kerepotan. Siapa suruh kalau ngomong suka gak di fikir dulu, main pecat orang sembarangan ketulah kan sekarang.
Nadin mengangguk membenarkan perkataan gavin."besok kita pulang ke jakarta jam 3 sore ya vin "
"hoammm nggak bisa di perpanjang ya nad, gue butuh libur "gavin menguap sambil sesekali menggerakkan kepala nya ke kiri dan kanan.
"sabar ya vin, mungkin satu bulan lagi sampai kita bener-bener bisa menyelesaikan project ini "Nadin tersenyum manis mencoba untuk menenangkan gavin.
Gavin mengangguk kemudian balas tersenyum pada nadin, dalam hati laki-laki itu merasa lega nadin ada di samping nya saat ini.
Mereka berdua akhirnya tiba di pintu kamar mereka masing-masing.
"good night vin "nadin membuka pintu kamar nya dengan key card yang diberikan pihak hotel.
"night nad "gavin masuk ke kamar nya.
Baru beberapa menit nadin masuk ke kamar nya, tiba-tiba gadis itu berbalik badan. Dia baru ingat dengan misi nya untuk menyembuhkan gavin.
Tok tok tok...
Gavin muncul dari balik pintu dengan handuk di leher nya. Wajahnya sudah segar sampai nadin bisa menghirup aroma facial foam yang gavin gunakan. Walaupun lingkran hitam di mata gavin masih terlihat , tapi melihat gavin seperti itu nadin masih saja merasa terpesona, dan merutuki dirinya sendiri yang sudah menjadi Bucin alias Budak Cinta.
"ada apa nad ?"
"vin.. Inget kan janji kita ?"
"janji yang mana ?"
"janji kalau lo bakal sembuh"
Gavin terdiam.
"vin... "
"iya iya nad, lama-lama lo bawel deh ngalahin nyokap gue "gavin terkekeh pelan, kali ini dia tidak merasa tersinggung mendengar nadin mengatakan itu.
"jangan minum obat-obat an itu lagi inget ?"
Gavin menyilangkan jari nya di balik punggung."iya nad "
"inget ya vin laki-laki itu yang di pegang perkataannya "ancaman nadin sukses membuat gavin terkekeh.
"nad astaga iya, lo kanapa sih mau banget gue sembuh ? Lagian gue gak sakit "
"ya karena..... " gue cinta lo gavin , gumam nadin dalam hati.
"karena lo cinta sama gue ya ?"jawaban gavin sukses membuat wajah nadin merah bagai kepiting rebus.
Gavin ini mungkin ada keturunan cenayang atau peramal mungkin ya, dia bisa menebak isi kepala nadin. Besok-besok mungkin gavin bisa menebak warna underware apa yang nadin sedang gunakan. Mendadak nadin diliputi rasa waspada. Bagaimana bisa gavin bisa menebak apa yang saat ini sedang nadin fikirkan .
__ADS_1
"hahaha gue bercanda kali nad "gavin tertawa kencang, dia nggak menyadari kalau wanita di hadapannya ini baru saja dilanda panik setengah mati.
"udah sana tidur "
"lo aja duluan sana, anak gadis gak baik begadang jam segini "gavin menyenderkan punggung nya di pinggir pintu.
"gue harus memastikan kalau bos gue bisa tidur "nadin berkacak pingging.
Gavin berusaha menahan tawa nya keluar melihat kelakuan nadin yang memperlakukannya seolah gavin anak umur 5 tahun.
"buruan sana tidur "nadin mendorong gavin agar masuk ke dalam kamar.
"iya mami "ledek gavin, membuat nadin melepaskan tangannya yang berada di pundak gavin.
"gue bukan nyokap lo !"sergah nadin merasa nggak terima, dia gak setua itu untuk mendapat julukan ibu nya gavin.Tapi kalau di panggil mami karena nadin jadi ibu dari anak-anak nya gavin dia sih mau banget.
"mungkin lo akan jadi ibu dari anak-anak gue "perkataan gavin berhasil membuat wajah nadin merah padam, sial beribu sial kenapa gavin semakin berani menggoda nadin.
"no... !!!"nadin menggelengkan kepalanya, walaupun diam-diam dalam hati nya wanita itu mengamini perkataan gavin.
"hahaha yauda gue tidur good night dear "gavin menowel dagu nadin kemudian langsung menutup pintu kamarnya sebelum wanita itu mengamuk.
Gavin Christopher
Gue merebahkan diri di kasur sambil menatap langit-langit kamar hotel ini. Entah kenapa mood gue membaik sejak nadin kembali menjadi sekretaris gue. Mungkin karena nadin wanita cerdas yang berkompeten, gue jadi percaya dia bisa membantu gue menangani pekerjaan .
Berteman dengan nadin cukup menyenangkan, gue harus menarik pandangan gue dulu, nadin nggak sejahat yang gue kira. Oke dia emang matre dan suka uang, tapi ayolah di dunia ini siapa yang nggak suka uang. Justru gue salut dengan sikap nadin yang gak munafik.
Tunggu deh, kenapa gue jadi puji nadin terus ? Ini gue nggak lagi jatuh cinta sama dia kan ? Nggak nggak dalam kamus gavin nggak ada tuh terlibat skandal dengan sekretaris sendiri, gue bukan dia ... Gue berbeda , gue bukan bokap gue.
Gue bangun dari tempat tidur berniat untuk mengambil obat tidur yang gue simpan di jaket yang tadi gue kenakan. Akhir-akhir ini mengkonsumsi obat itu bagaikan vitamin untuk gue. Tekanan perkerjaan, putus cinta dan masalah keluarga mungkin menjadi alasan kenapa gue menjadi terbiasa mengkonsumsi obat itu.
Mungkin jika nadin tahu dia akan ngomel atau mungkin dia akan kecewa. Gue tahu nadin berharap gue sembuh dari ketergantungan obat itu, dalam hati gue juga menginginkannya, tapi pada kenyataan nya ini nggak mudah.
Sudah lama gue bergantung pada obat itu, sejak mendapati fakta kalau bokap dan nyokap gue sama-sama selingkuh. Sempat terfikir gue ingin mengakhiri hidup gue, jika saja dulu aurora nggak datang menyelamatkan gue, mungkin sekarang gue sudah ada di alam baka.
Mengingat aurora membuat hati gue kembali sakit, pilihan aurora untuk tetap bersama hans betul-betul membuat gue terpukul. Gue tahu persis aurora nggak mencintai hans, dia mencintai orang lain walaupun itu bukan gue. Tapi sampai kapan aurora melupakan pria yang mungkin sekarang sudah berada di surga ? Bisakah aurora melihat gue ? Gue yang cinta dia, gue yang selalu ada buat dia, dan gue juga orang yang bisa buat dia bahagia.
Mungkin kalian menganggap cowok yang gak bisa move on itu pecundang. Pernyataan "kayak nggak ada cewek lain " . " masih banyak cewek di luar sana yang lebih baik " . " payah lo vin, di kelilingi banyak cewek tapi gak ada satupun yang nyangkut " . "jangan-jangan lo homo " . Pernyataan itu selalu gue dengar setiap gue berkumpul dengan teman-temen gue. Dari mulai kesal dengan perkataan mereka sampai akhirnya gue nyerah. Pada akhirnya mereka benar gue memang gak bisa move on.
Mata gue mulai terasa berat, sepertinya pengaruh obat tidur yang baru saja gue konsumsi mulai bekerja. Badan gue mulai terasa rilex begitupun mata gue yang muali tertutup. Terima kasih obat tidur.
\~\~\~\~\~\~ 🐱🐱 \~\~\~\~\~
Nadin berulang kali mengetuk pintu kamar gavin. Dari mulai ketukan pelan sampai gedoran yang membuat beberapa cleaning service yang sedang bertugas membersihkan ruangan menegur nadin. Nadin hanya bisa tersenyum sambil mengucapkan kata maaf dengan sangat pelan. Habis sudah kesabaran nadin, setelah dia hampir lebih dari puluhan kali menelfon gavin dan pria itu tidak juga menjawab telfon nya.
Untung otak nadin cukup pintar, sehingga timbullah ide gila yang membuat nadin sekarang sedang menangis tersedu-sedu sambil mengetuk pintu kamar gavin. Air tetesan softlense cukup membuat mata nadin sembab seolah-olah gadis itu sedang menangis tersedu-sedu.
"mbak mbak kenapa ?"seorang wanita paruh baya yang sepertinya bekerja di hotel ini menghampiri nadin.
Nadin langsung memeluk wanita itu sambil kembali terisak. Wanita yang bingung itu berusaha menenangkan sambil mengusap rambut nadin.
"suami saya bu... Dia mau bunuh diri di dalam bu . Dia mengancam saya tadi huaaaa "
"astagfirullahalazim, kok bisa mba ?"
Nadin melepaskan pelukkannya pada wanita paruh baya itu. Sambil masih sesenggukkan nadin melanjutkan ceritanya.
"tadi saya bertengkar bu, biasa lah persoalan rumah tangga, tapi saya nggak nyangka tiba-tiba dia bilang mau bunuh diri dan tutup pintu kamar huaaa "nadin semakin mengencangkan suara tangis nya.
Kali ini bukan hanya si ibu yang terpengaruh, tapi seorang satpam yang baru saja datang karena melihat keributan ikut berjongkok di samping nadin.
"pak tolong ambil kunci cadangan ya, kasian mbak ini suami nya mau bunuh diri "
"apa ?!!!! "satpam itu langsung terlonjak kaget.
"tunggu sebentar mba saya ambil kunci cadangan dulu "satpam itu langsung berlari kencang, sementara nadin semakin terisak.
"sabar ya mba, sebentar lagi pintu nya dibuka kok, semoga suami mbak nggak jadi bunuh diri "ujar si ibu berusaha menenangkan.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian si satpam tadi kembali membawa sebuah kunci yang sepertinya sebuah master card.
Nadin langsung bangkit kemudian berdiri di depan pintu saat si pak satpam berusaha membuka kunci nya .
Ceklek..
Pintu berhasil dibuka, Nadin langsung berlari menghampiri gavin yang nampak nyenyak di dalam gulungan selimut. Si ibu tadi dan pak satpam memilih untuk memantau mereka dari depan pintu.
"sayang......!!!! "teriak nadin sambil berlari kemudian tanpa bak bik buk wanita itu memeluk gavin sambil melirik ke arah dua orang yang tadi membantu nya.
Si ibu dan pak satpam tadi jadi merasa tidak enak, melihat pasangan yang mungkin saja habis kejadian ini akan melakukan adegan 18+. Akhirnya dua orang itu menganggukkan kepala kemudian menutup pintu kamar gavin.
Melihat pintu sudah ditutup nadin berusaha bangkit dari posisi nya yang mengenakkan ini eh maksudnya tidak mengenakkan. Tapi terlambat, gavin malah menarik lengan nadin, membuat wanita itu kembali jatuh ke pelukannnya.
"5 menit lagi "ujar gavin dengan suara serak khas bangun tidur.
Nadin mengigit bibir bawahnya menahan malu. Melihat gavin dengan jarak sedekat ini membuat jantung nadin memompa di luar batas normal. Nadin memberanikan diri untuk mendongak mengagumi ciptaan tuhan yang masih memejamkan mata nya dengan sangat damai.
Gavin memiliki bulu mata yang panjang untuk ukuran pria, kulitnya tampak halus tanpa sedikitpun jerawat atau noda disana. Garis tegas khas pria dewasa nampak jelas di pipi gavin yang tirus. Pandangan nadin beralih pada bibir gavin yang .... Astaga kalau istilah anak ABG zaman sekarang Cipokable.
Nadin sampai harus menelan ludah untuk menahan godaan di hadapannya ini.
"vin ... Bangun udah pagi " nadin setengah berbisik walaupun sejujur nya dia ingin tetap berada di posisi ini.
"hm... "gavin malah semakin memperat pelukannya, lelaki itu bahkan mencium puncak kepala nadin.
Nadin hanya bisa diam merasakan sentuhan gavin yang membuat hatinya seperti melayang. Ada rasa geli bercampur bahagia di sana.
"vin bangun vin "ujar nadin kembali, ah terkutuklah meeting itu. Jika bukan karena meeting, nadin bersumpah tidak akan bersuara sedikitpun agar makhluk di hadapannya ini tidak terganggu dalam tidur nya.
"vin...."
Gavin mulai mengerang, perlahan pria itu membuka kedua mata nya. Beberapa kali mata itu mengerjap menyesuaikan cahaya lampu kamar yang mengembalikkan kesadaran nya. Gavin tersenyum mendapati seseorang yang sangat berarti bagi nya sedang tidur di pelukkannya.
"good morning "gavin kembali mengecup puncak kepala nadin, membuat wajah wanita itu semakin merah padam menahan malu.
Nadin berdehem mencoba mengusir rasa canggung yang tiba-tiba menyerangnya.
"5 menit lagi ya aku masih ngantuk "gavin kembali memeluk nadin dengan erat.
Nadin berusaha melepaskan diri dari pelukkan gavin, tapi tenaga nadin tidak cukup mengimbangi lengan kekar yang melingkar posesif di punggung nya.
Nadin menghembuskan nafas pasrah, biarkan saja seperti ini, toh bukan dia yang mau. Bos nya yang tampan ini bukan yang duluan memeluk nya. Rezeki nggak boleh ditolak begitu kata orang tua. Dan bagi nadin ini sih lebih dari sekedar rezeki nomplok.
Nadin mencium aroma badan gavin, ini aneh bagaimana bisa gavin tetap wangi padahal dia baru bangun tidur. Wangi yang nadin mulai hafal dan membuat wanita itu merasa nyaman. Nadin tau persis apa yang dia rasakan sekarang pada lelaki di hadapannnya bukan hanya cinta monyet pada kakak senior seperti dulu zaman SMA.
Apa yang nadin rasakan lebih dari itu, gadis itu sudah benar-benar menjadikan lelaki di hadapannya itu separuh jiwa nya. Nadin diam-diam tersenyum menikmati posisi nya saat ini, merasakan gavin berada di dekatnya seperti ini cukup membuat nadin tahu kalau nadin memang mencintai gavin.
"vin... Kita ada meeting loh "
"iya iya, pasti kamu di kasih tahu nadin ya ? Dia bawel emang "racau gavin masih dengan mata terpejam.
"ha ?"nadin menatap gavin dengan tatapan heran. "vin vin .. Gavin "nadin menowel-nowel pipi gavin dengan tangannya yang bebas.
Pria itu kembali mengerang. "iya aurora "ujar gavin dengan suara parau.
Hati nadin langsung terjun bebas ke dasar, jadi semua perlakuan gavin tadi... Bukan untuk nadin ? Tapi lelaki itu sedang bermimpi tentang aurora ?. Bulir air mata mulai membasahai pipi nadin, wanita itu langsung melepaskan diri dari pelukkan gavin. Duduk di tepi tempat tidur sambil menyeka air mata nya.
Nadin tersenyum getir, ternyata gavin masih belum melupakkan aurora. Pria itu masih berharap pada wanita yang keberadaan nya sudah tidak diketahui sejak terakhir kali mereka pergi ke bali.
Nadin berbalik badan berniat untuk membangunkan gavin kembali, dia ingat tujuan awal dia datang ke kamar gavin memang untuk menjalankan tugas nya sebagai sekretaris gavin. Nadin langsung terperanjat saat hal pertama yang nadin lihat adalah gavin duduk di kepala tempat tidur sambil menatap nya bingung.
"nad lo nangis ?"wajah gavin terlihat panik, lelaki itu dengan hati-hati menyentuh pundak nadin.
Nadin menatap tangan kekar yang bertengger di atas pundak sebelah kanannya. Wanita itu kemudian berdiri dan berjalan menuju pintu keluar. Rasanya dia tidak bisa menjawab pertanyaan gavin, hatinya sudah terlanjur sakit saat menyadari apa yang gavin lakukan padanya tadi ternyata bukan untuknya, tapi untuk Aurora.
Wanita itu menghentikkan langkahnya saat sudah berada di depan pintu"bos sudah ditunggu di ruang meeting "ujar nadin dengan suara serak, wanita itu berusaha menahan tangis nya.
Gavin menatap punggung nadin yang baru saja menghilang di balik pintu kamar. Wajah pria itu nampak sendu.
__ADS_1
"maaf nad "ujar gavin seolah-olah nadin ada di hadapannya.
Bersambung