
Gavin Christopher
Kamu hari ini pulang sendiri ya nad, aku di ajak ngumpul bareng bimo
Selesai mengetik pesan untuk nadin gue kembali memasukkan handphone ke dalam saku celana.
Gue berjalan mengikuti langkah lebar bimo menuju tempat di mana pria itu memarkirkan mobil nya tentu saja.
Setelah sekian lama bimo tiba-tiba menghubungi gue lagi, tentu saja dengan maksud untuk mengajak perusahaan kami kolaborasi untuk sebuah project untuk pameran seni.
Bimo berkerja di salah satu perusahaan Interior design yang namanya cukup terkenal di Indonesia.
Pantas saja penampilan lelaki itu betul-betul berubah. Bimo bukan lagi si pria lambe yang kemayu, dia menjelma menjadi sosok eksekutif muda dengan kemeja slimfit dan tatanan rambut klimis.
Nyaris saja gue tidak mengenali penampilan bimo saat pria itu gue pergoki sedang duduk di depan meja nadin.
Hampir saja gue mengira kalau bimo adalah salah satu gebetan baru nadin, tapi untung saja suara cempreng lelaki itu tidak berubah. Jadi gue bisa langsung mengenali kalau pria yang berbicara dengan nadin itu adalah bimo.
Entah apa saja yang sudah bimo bicarakan dengan nadin, tapi mengingat track record bimo sebagai tukang gossip. Gue seratus persen yakin kalau apapun yang di katakan bimo, bukan sesuatu yang baik. Firasat gue kok tidak enak ya ?
"siapa aja yang datang bim ?"Tanya gue sesaat setelah selesai mengenakan sabuk pengaman.
"gak banyak sih, ya yang bales chat gue cepet aja"
"hah gue faham sih, ngajak anak-anak buat kumpul tuh susah nya ngalahin ngumpulin 7 bola dragon ball "
"emang, lo tau gak setiap kali gue ajak mereka kumpul, jawaban nya sih ayo aja, tapi ujung-ujung nya jadi wacana doang " curhat bimo tepat setelah dia memberhentikan mobil karena lampu merah.
"lo sendiri masih sering vin ketemu teman SMA kita ?"bimo menoleh ke arah gue.
" gak pernah sih, kebetulan gue belum lama balik ke Indonesia "
"oh.. gimana rasanya balik ke Indonesia langsung ketemu nadin, bahagia dong lo " ujar bimo dengan ekspresi wajah minta di tabok.
"tuh lo liat udah lampu hijau, gossip aja kerjaan lo " gue menunjuk lampu lalu lintas yang kebetulan memang sudah berubah hijau.
Gue menghela nafas sejenak, setidaknya gue bisa menghindari topik tentang nadin. Jangan sampai gue salah ngomong lalu berujung pada bimo yang menyebarkan rumor yang tidak-tidak.
Ingat vin lo lagi jalan sama admin utama akun lelambean.
Tidak butuh waktu lama untuk sampai di sebuah cafe yang terbilang cukup ramai. Bimo memarkirkan mobil nya persis di depan cafe, setelah ada mobil lain yang baru saja pergi meninggalkan pelataran café.
Kami berdua masuk ke dalam café yang terbilang cukup berkelas dengan dekorasi bergaya vintage.
Beberapa lukisan terpajng di sepanjang dinding, pencahayaan yang di buat lebih redup di tambah dengan alunan musik jazz membuat kesan vintage begitu terasa saat pertama kali gue menginjakkan kaki di tempat ini.
Aroma coffee langsung tercium saat pertama kali gue membuka pintu cafe ini. Gue jadi ingat nadin, dia pasti akan bahagia jika gue mengajak nya ke tempat ini. Ingatkan gue untuk mengajak nadin suatu saat.
"di sini bro " seseorang melambaikan tangan saat kami sedang celingukkan mencari kawan-kawan kami yang katanya sudah lebih dulu tiba.
Gue dan bimo berjalan menghampiri beberapa pria yang duduk di sebuah meja berbentuk oval. Setelah berada dalam jarak yang dekat barulah gue mengenali pria-pria itu. Dito dan Danar.
Mereka adalah teman-teman gue semasa SMA, berbeda dengan bimo yang perubahan nya sangat significant .Tidak banyak perubahan yang gue temukan dari kawan-kawan gue yang lain.
Wajah mereka masih bisa gue kenali, walaupun penampilan nya lebih rapih di bandingan dulu zaman SMA.
Maka di sinilah kami berempat singgah. Cafe milik dito, menjadi tempat kami mengadakan reuni dadakan ini. Selain karena rasa kopi yang memang enak, tentu saja karena alasan gratisan.
"apa kabar lo vin.. sombong ya gak pernah kumpul bareng " dito menjabat tangan gue terlebih dahulu.
gue membalas jabatan tangan dito"gue baik, haha gak sombong lah, gue baru banget balik ke indonesia "
"lo kerja di mana sekarang vin ?"giliran danar yang bertanya pada gue.
"gue meneruskan usaha bokap gue, ya kalian tahu deh nasib anak tunggal nggak bisa milih "
Bimo menggelengkan kepala"dasar lo gak bersyukur vin, gue aja kalau punya bokap setajir bokap lo udah tinggal buat daftar list Negara mana yang mau gue jelajahi "
"ngayal mulu lo bim, bokap nya gavin mana mau punya anak macam lo " timpal dito di iringi dengan tawa oleh gue dan danar.
Pembicaraan kami mengalir begitu saja, mulai dari nostalgia masa SMA sampai membicarakan tentang pekerjaan. Celotehan bimo yang terkadang garing semakin membuat suasa menjadi lebih menyenangkan.
Walaupun pada akhirnya membully bimo menjadi alasan gue, danar dan dito tertawa terpingkal-pingkal.
"by the way CEO yang sukses ini udah punya pacar belum ?"dito menaik turunkan alis nya, wajah nya ngeledek banget minta di tampol.
Gue Cuma bisa tersenyum, bingung mau jawab apa karena fakta nya , sampai saat ini gue memang masih menyandang status jomblo. Walaupun secara status gue jomblo tapi hati kan udah taken sih.
"nah kan gue baru inget "bimo menepuk tangannya membuat perhatian kami kini tertuju padanya, kok firasat gue gak enak ya.
"kalian tau nggak siapa sekretaris bapak CEO kita yang terhormat ini ?"bimo dengan gaya jumawah menyilangkan tangan di depan dada.
"siapa ? model ya ? atau siapa ?"Tanya dito yang mulai ketularan penyakit keppo nya bimo.
"penasaran ya ? " Tanya bimo menunjuk kami satu persatu.
Gue hanya bisa menelan saliva, pasrah dengan apapun yang akan bimo katakan pada dito dan danar nanti.
"bunga sekolah kita, NADIN ALMIRA QUEEN " perkataan bimo membuat dito dan danar membelalakkan mata menatap gue.
"beneran vin ?"Tanya danar dengan ekspresi wajah yang tidak biasa.
Gue mengangguk."iya, kenapa emang ?" jawab gue berusaha stay cool seolah tidak ada hal apa-apa yang terjadi.
"lo sama nadin ? tom and jerry yang kerjaan nya berantem terus bisa akur ? luar biasa ! mau kiamat kayaknya saudara-saudara " timpal dito dengan bahasa yang hiperbolla.
"gak ada yang aneh, gue sama nadin bersikap professional layaknya bos dan sekretaris nya "gue berusaha memasang wajah sedatar mungkin, jangan sampai mereka menyadari kalau kaki gue udah gemeteran takut di introgasi lebih lanjut.
"lo biasa aja vin setiap hari ketemu nadin ? gak ada perasaan apa gitu ?" Tanya danar.
"biasa aja nar, emang mau rasa apa ? coklat ? strawberry ? lebay deh kalian "gue menyeruput ice Americano untuk mengilangkan rasa gugup.
"bego lo vin , nadin cantik begitu lo anggurin gitu aja"umpat bimo.
"geblek, lo bener-bener menyia-nyiakan ciptaan tuhan paling indah tau nggak ! "sambung danar.
"menyia-nyiakan rezeki "timpal dito
Gue hanya bisa menghela nafas, merasa jadi tersangka dalam kasus yang gue sendiri gak tahu kasus apaan.
Menanggapi rentetan kalimat yang ketiga teman gue lontarkan sudah cukup membuat gue merasa sebagai manusia paling tidak bersyukur.
"jadi lo beneran nggak jadian sama nadin ?"dito kembali berucap.
__ADS_1
Entah perasaan gue aja atau memang dito sudah berubah banyak, lelaki itu lebih cerewet dari yang gue kenal dulu.
Gue menggeleng."kami hanya berteman, lagi pula hubungan asmara di kantor nggak baik untuk profesionalitas "
"prifesionalitas gundulmu !"bimo melemparkan tisue bekas yang habis dia pakai untuk mengelap meja, sial.
"lo nyia-nyia in cewek secantik nadin ? Gue curiga jangan-jangan lo homo ya vin ?"giliran danar yang berbicara, terus aja semua orang mojokin gue.
Gue menyesap ice americano, cairan itu langsung terjun bebas di kerongkongan gue. Menciptakan rasa pahit dan segar di saat yang bersamaan.
Sama seperti kisah cinta gue dan nadin yang pait pake banget.Jujur saja bukannya gue tidak mau menjadikan nadin pacar gue.
Gue mau ! Jangankan jadi pacar, gue bahkan pernah mimpi punya anak perempuan yang mirip nadin, iya gue mau banget nadin jadi istri gue.
Tapi nyatanya gue nggak berani mengatakannya pada nadin. Bukan karena gue nggak cinta sama nadin, gue cinta nadin. Gue bahkan nggak bisa menjelaskan alasan kenapa gue cinta dia.
Semua mengalir begitu aja, gue bahkan lucu sendiri kalau mengingat betapa antipati nya gue pada wanita itu dulu. Dan sepertinya tuhan sedang menghukum gue dengan karma nya.
Sekarang wanita itu adalah wanita yang bisa membuat hidup seorang gavin christopher jumpalitan.Gue tahu gue pengecut.
Nadin, teman-teman gue dan semua orang yang mengetahui hubungan kami pasti berfikir gue ini pria PHP alias pemberi harapan palsu.
Jujur saja, kegagalan pernikahan orang tua gue, sedikit banyak menjadi alasan kuat kenapa gue takut memiliki komitmen. Gue takut gak mampu membahagiakan nadin.
Apalagi mengingat perbuatan gue dulu yang selalu buat dia menangis. Dan dengan semua faktor itu membuat gue mengalami trauma.
Saat gue dan di bimo sedang berbicara di ruangan gue tadi siang, tanpa sengaja gue melihat nadin sedang berdiri di celah pintu.
Gue yakin dia mendengar semua percakapan gue dan bimo. Termasuk perkataan gue tentang merelakan nadin apabila dia menemukan pria yang jauh lebih baik dari gue.
Gue serius mengatakan itu. Gue selalu merasa gue ini tidak pantas mendapatkan wanita seperti nadin, gue selalu takut gue tidak mampu membahagiakan dia.
Tapi kalau boleh jujur, hati kecil gue juga tidak rela kalau harus melihat nadin bersama pria lain. Membayangkan nadin memperlakukan pria lain, seperti nadin memperlakukan gue sekarang, rasanya jantung gue sakit, walau itu hanya imajinasi gue.
Apalagi kalau sampai benar-benar di depan mata gue, gue melihat lelaki itu memeluk nadin atau bahkan menciumnya, demi tuhan gue rasa gue nggak sanggup.
"kalau lo nggak mau sama nadin, mending buat gue aja vin "ujar danar membuat gue menatap lelaki itu lekat-lekat.
Entah karena bercanda atau memang serius, perkataan danar barusan betul-betul menohok hati gue.
Labil kan gue, baru beberapa jam yang lalu gue bilang ke bimo kalau gue rela aja kalau nadin sama pria yang lebih baik dari gue, nah sekarang giliran benar-benar ada yang berkata seperti itu, kenapa gue yang jadi nggak ikhlas gini sih, kayak ada nyesek nyesek nya.
"tikung aja nar, lo kan cakep, tajir nggak usah ditanya,, secara lo Manager di perusahaan minyak negara " timpal bimo semakin mengompori.
Gue jadi heran bimo ini dukung gue atau danar sih.
"iyalah, apalagi nyoakap lo udah pernah kenal nadin "dito ikut menimpali.
Gue langsung menatap danar lagi , lelaki itu hanya cengar-cengir sambil memainkan ponsel pintarnya.
Sebenarnya danar dan nadin ini pernah punya history apa sampai nadin bisa kenal dengan ibu nya danar ?
"gak usah shock gitu vin, danar kan mantan nya nadin "
JEDER !!!
Gue sekarang percaya istilah petir di siang bolong itu ternyata memang benar adanya. Fakta ini bahkan mengalahkan skandal artis yang belum lama ketahuan punya istri lebih dari satu padahal dia seorang ustadz.
Gue langsung diam di tempat duduk gue, masih menatap danar yang nampak nya santai aja dengan pernyataan dito barusan.
"yah.. awalnya gue sempet kaget sih waktu bimo cerita lo sama nadin deket sekarang, padahal gue tahu dulu lo benci banget sama dia. Gue fikir lo cowok munafik vin yang bilang nya nggak suka padahal dalam hati suka. Lo gak gitu kan bro ?"
Entah perasaan gue doang atau cara danar merangkul pundak gue seperti menyiratkan kalau lelaki itu sedang menyindir gue secara halus.
Munafik
ya danar benar, gue memang lelaki munafik
"gue ? gila kali. masa gue naksir sama nadin sih .. dia kan matre "
Teruskan gavin bermain jadi pria jahat, sepertinya lo mulai terbiasa, terbiasa berbohong menciptakan alibi-alibi yang pada akhirnya akan lo sesali sendiri. Gumam gue dalam hati.
"jadi kapan lo mau deketin nadin lagi nar ?"bimo nampak paling bersemangat mengompori danar.
Padahal beberapa jam yang lalu lelaki itu sepertinya mendukung hubungan gue dan nadin. Dasar pria gak konsisten.
"mulai malam ini . gue baru aja dapet invitation tunangan salah satu temen nya nadin. setahu gue mereka dulu akrab, dan pastinya nadin bakalan datang di acara itu. " danar nampak bersemangat, jadi itu yang dari tadi buat dia sibuk sama handphone-nya.
"jadi... gue bakalan ajak dia buat datang kesana, well thanks vin berkat lo gue jadi inget nadin lagi "danar menepuk pelam pundak gue sambil tersenyum lebar.
Gue balas tersenyum walaupun sangat terpaksa.
"good luck bro " gue menepuk pundak danar, padahal dalam hati gue nyeri nya bukan main.
Kalian tahu, ini sudah kedua kalinya gue di tikung orang lain. Mami pasti ketawa ngakak kalau tahu anaknya kena tikung lagi.
Tapi kan vin, lo sendiri yang nyari perkara.Jelas-jelas nadin suka nya sama lo, kenapa juga lo pakai bilang ngerelain nadin buat lelaki lain ? cobalah vin, bego jangan di pelihara.
Ketahuan melihara ayam, bertelor bisa dapet duit. Bahkan sekarang batin gue ikut menyalahlan gue .
"perlu gue kasih nomor telfon florist yang bagus gak bro " dito yang tadi diam sambil menyimak percakapan kami, sekarang mulai ikut mendukung danar.
hello diantara kedua makhluk bernama bimo dan dito nggak adakah salah satu nya yang mendukung gue !!
Danar menggeleng." nadin nggak suka bunga, dia lebih suka gue kasih jam tangan guess model terbaru atau sepatu jimmy choo "
Gue yakin banget dengan sogokan jam tangan guess atau sepatu jimmy choo nadin pasti akan luluh. Bau bau kekalahan gue sepertnya sudah mulai tercium.
Bahkan gue mulai merasa kalah, padahal gue belum bertanding.
"see.. nadin mau nerima ajakan gue untuk datang ke pesta pertunangan vero " dengan bangga nya danar memperlihatkan isi percakapannya dengan nadin yang tertera di layar ponsel nya.
Gue hanya bisa tersenyum lebar, pura-pura ikut bahagia padahal dalam hati sudah berantakan. Tuh lihat kan vin akibat sifat pengecut lo, nadin bakalan betul-betul di ambil orang lain.
Sok sok an sih pakai bilang rela kalau nadin sama lelaki lain, jadi kenyataan kan.
"lo mau ikut nggak vin ?"
"hah ?"
" ke acara tunangan nya vero, disana pasti banyak cewek cantik. siapa tahu lo bisa ketemu jodoh lo " gue memandang danar, sungguh rasanya gue ingin banget nampol pria satu ini, dia ini gak bisa baca apa kalau gue lagi berusaha mati-mati an nahan cemburu.
"gue.. ada acara. makan malam sama calon investor " satu-satunya alasan yang bisa gue pakai supaya harga diri gue gak jatuh-jatuh banget ya sibuk kerja.
__ADS_1
"ah lo ya, gimana mau cepet nikah kalau yang lo fikirin kerjaan terus. Anak gue aja udah masuk SD vin, anak nya Bimo malah bentar lagi dua. Lo kapan nyusul kita jadi Pace ( PAPA KECE ) "sekarang gue tau alasan kenapa dito bawel nya minta ampun, kebanyakan main sama mak mak kompleks gue rasa.
Gue hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan dito barusan. Pernikahan memang selalu jadi sesuatu yang gue amat hindari. Bukan karena gue tidak ingin, gue hanya takut.
Entah dito ini orang kesekian yang bertanya seperti itu.Pria berumur nyaris kepala 3 seperti gue ini, biasanya memang sudah memiliki pendamping hidup, paling tidak pacar lah.
Tapi gue, di anugrahi dengan tampang yang mirip orang korea dan dompet yang tebal sekalipun, masih betah menjomblo.
Bahkan beberapa orang sudah mulai meragukan orientasi seksual gue, hello gue masih normal kali !
"apa lo mau gue jodohin sama adik ipar gue vin, beuh cakep vin mirip artis siapa tuh yang nikah sama bule.. rais.. rais "
"raisa "sambung bimo, dia paling tahu memang gosip seputar artis indonesia.
Tawaran dito sebetul nya menarik, kalau saja di hati gue tidak ada wanita yang sudah menempati. Dan tentu kalian tahu siapa wanita itu.
"iya vin, kan kita jadi bisa double date. lo sama adik ipar nya dito, gue sama nadin "danar tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya.
Nafas gue sudah mulai kembang kempis menahan emosi, tadi terang-terangan mau balikan sama nadin, sekarang ngajak gue double date, entah danar ini harus gue kasih jotos kali ya baru sadar.
"gimana vin ? lo mau nomor nya gak " dito yang sepertinya tidak tahu situasi semakin memperburuk mood gue.
Dito, Danar dan Bimo menatap gue dengan intens, menunggu jawaban gue mengenai perjodohan dengan adik ipar dito itu. Gue berasa mau di Uji dosen penguji skripsi.
"Oke fine gue ikut ! " gue yakin pasti abis ini gue bakal membenturkan kepala gue di tembok, menyesali keputusan bodoh yang baru saja meluncur dari mulut gue yang terkadang gak ada saringan nya ini.
Danar,Dito dan Bimo saling melempar senyum, mereka bertiga nampak girang dengan keputusan gue yang setuju untuk di comblangi dengan adik ipar dito itu.
Entah mau di taruh di mana muka gue di hadapan nadin.Padahal pagi tadi gue baru saja sarapan dengan masakan ibu nya, dua hari yang lalu bahkan gue... mencium nadin saat kami baru pulang makan sate kambing.
Rasanya gue masih mengingat jelas bagaimana rasa bibir itu. Oh tuhan gue gak salah kan ?!
"nanti gue kasih nomor nya adik ipar gue, namanya friska. gue jamin lo gak bakal nyesel "Lagi-lagi gue hanya bisa tersenyum menanggapi perkataan dito yang nampak sangat bersemangat menjodohkan gue dengan adik ipar nya itu.
Kalian pasti mikir, kok gavin gitu banget sih ! bukannya nembak nadin malah mau sama cewek lain.Kalian juga pasti udah ngatain gue aneh-aneh, nyumpahin gue, dan nampol gue kalau bisa.
Ya gue memang pantas mendapatkan semua itu. Demi supaya nadin bersama lelaki yang lebih baik, gue rela melakukan apapun, termasuk menerima tawaran dito untuk menerima perjodohan dengan adik ipar nya yang gue gak tahu bentukkannya macam apa.
"guys.. guys liat nadin nelfon gue " danar memperlihatkan layar ponsel nya yang menampakkan nama nadin sebagai caller id nya.
Gue berusaha menahan tangan gue untuk gak merebut ponsel itu kemudian membuang nya ke kolam ikan.
"hello baby " ucap danar dengan nada yang sok di lembut-lembutin, kok gue jadi mual ya denger nya.
Diam-diam gue menatap danar yang nampak sumringah menjawab telfon dari nadin, tahan vin inget .. lo sendiri yang mau ngerela in nadin buat cowok lain.
"aku lagi ngumpul nih sama anak-anak"
"......"
"ada bimo, dito sama bos kamu nih si gavin"
"....."
"sekarang ? oke aku jemput ya "
"....."
"1/2 jam lagi aku sampai, bye "
Entah apa yang nadin dan danar bicarakan di telfon, tapi kalau dari perkataan danar, sepertinya mereka akan bertemu di suatu tempat.
Tahan gavin, jangan emosi.
"kayaknya nadin mau ngajak gue nge date "ucap danar setelah menaruh kembali ponsel nya di atas meja.
"tapi.. kenapa gue ngerasa suara nadin aneh ya. Kayak abis nangis gitu " danar kembali berujar, entah dia sengaja atau tidak tiba-tiba saja dia melirik gue.
"dia lagi pilek kali "gue yang merasa di curigai danar hanya bisa menjawab seperti itu, padahal gue tahu persis siapa pria brengsek yang sudah membuat nadin menangis.
Kali ini bukan hanya danar tapi dito dan bimo juga ikut melirik gue, sepertinya mereka mencurigai gue sebagai tersangka satu-satunya yang berpotensi membuat nadin nangis.
Ya gue tahu mereka pasti mencurigai gue, mengingat bagaimana dulu perlakuan gue terhadap nadin.
"kali ini bukan karena lo kan vin ?"ucap bimo sambil memicingkan mata menatap gue.
Kalau gue bilang semua itu karena gue apa ya reaksi mereka ?
"udah udah, mungkin emang nadin lagi pilek kali " danar tiba-tiba saja berkata demikian, padahal gue yakin tadi dia juga ikut mencurigai gue.
Dito dan Bimo yang sepertinya masih curiga mencoba mempercayai apa yang danar katakan.
walaupun gue tahu dari cara mereka menatap gue, mereka masih belum sepenuhnya percaya kalau gue tidak ada sangkut pautnya dengan nadin.
"yauda, gue cabut ya.. my baby kasian lama-lama nungguin " danar bangkit dari kursinya sambil membawa kunci mobil dan ponsel nya.
Gue, Dito dan Bimo juga ikut beranjak dari tempat duduk kami. Gue rasanya juga ingin segera kembali ke apartemen, keputusan gue hari ini untuk menerima ajakan bimo untuk reuni sepertinya salah besar.
"gue juga balik ya "ucap gue di iringi dengan tepukkan halus di pundak ketiga teman SMA gue itu.
"good luck nar , semoga kali ini lo berhasil jadiin nadin sebagai nyonya Argantara "
"pastinya, thank's bim "
"gue tunggu kabar baik nya "dito juga ikut memberi dukungan sambil menepuk bahu danar.
Oke sekarang hanya gue satu-satu nya yang belum memberi semangat pada danar.
Gue rasa hanya gue satu-satu nya lelaki di muka bumi ini yang dengan bodoh nya berkata pada rival gue untuk..
"bahagiakan nadin nar "gue tersenyum, entah itu senyum tulus atau senyum miris yang menandakan gavin christopher adalah pria paling bodoh di dunia.
"pasti vin.. "ucap danar dengan penuh keyakinan.
Gue dan danar saling berpelukkan, bukan pelukkan yang kalian bayangkan antar sepasang kekasih loh. Pelukkan gue dan danar ini lebih kepada pelukkan persahabatan.
Mungkin gue memang harus merelakan nadin untuk pria sebaik danar.Danar pasti akan membahagiakan nadin, bukan seperti gue yang selalu membuat nadin susah.
Danar pasti akan selalu membelikkan apapun yang nadin mau, bukan seperti gue yang selalu bilang nadin matre.
Dan Danar pasti akan selalu buat nadin tertawa, bukan seperti gue yang selalu buat nadin menangis
Sepertinya inilah akhir dari segala nya, cerita gue dan nadin.
__ADS_1
Bersambung