CEO Rese Dan Secretary Matre Nya

CEO Rese Dan Secretary Matre Nya
Episode 43


__ADS_3

Danar Argantara


"jadi udah bisa jelasin maksud lo ngerjain gue hari ini ?"gue bertanya pada baby yang sejak tadi tidak mau berbicara sama sekali.


"lo tahu persis ini hari apa beb ?"


"lo tahu pekerjaan gue bukan bahan bercandaan ?"


Gue masih nenatap baby yang sejak tadi hanya menunduk tanpa mau melihat gue. Entah karena dia takut atau merasa bersalah. Yang jelas perbuatan nya hari ini betul-betul keterlaluan.


"lo sendiri yang bilang kalau gue harus lebih mengenal lo kan ?"


Gue melihat baby mengangguk walaupun dia masih menuduk.


"kalau begitu tanpa mengenal lo lebih jauh gue bisa menilai kalau lo cewek yang kekanak-kanakkan "


Perkataan gue berhasil membuat baby berbalik menatap gue. Tapi fokus gue malah tertuju pada mata nya yang sudah mulai berkaca-kaca.


Shit


Gue benci perempuan yang menangis di depan gue, apalagi jika gue yang jadi penyebab nya. Mami selalu menasehati gue, jika gue sampai membuat wanita menangis maka sama saja gue menyakiti hati beliau.


Gue merasa kesal, bukan pada baby tapi pada keadaan yang seolah berbalik menyudutkan gue.


"jangan nangis "ucap gue.


Baby malah menangis sesenggukkan. Bukan hanya menangis, dia malah memaki gue, dia bilang gue jahat, bermulut pedas, dan gak punya perasaan.


Gue jadi bingung apa yang harus gue lakukan. Dulu saat mendiamkan nadin yang menangis karena si breng. .. Oke maksud gue gavin, gue langsung memeluk nadin sampai dia berhenti menangis.


Tapi itu dulu gue lakukan kan dalam rangka modus, supaya nadin tahu kalau gue jauh lebih perhatian dari pada gavin. Dan sekarang gue di hadapkan pada perempuan ini.


Perempuan yang tidak pernah gue berniat modusin dengan cara apapun.


"beb, kok lo malah nangis sih "gue mengacak rambut gue sendiri merasa semakin bingung apa yang harus gue lakukan.


"danar jahat huaaa.. "baby malah semakin menangis kencang.


Untung saat ini kami sedang ada di dalam mobil gue, coba bayangkan kalau wanita ini menangis di muka umum, gue yakin pasti gue sudah di keroyok warga karena di kira menghamili anak gadis orang.


"udah ya cup cup .. Gue .. Gak marah cuma kesel aja "


"aku gak bermaksud buat kamu ninggalin meeting nar "suara tangisan baby mulai sedikit berhenti.


Srotttt


Baby membuang tissue bekas dia mengelap lendir dari dalam hidung nya. Membuat gue miris menatap tempat sampah mobil gue yang sudah penuh menampung tissue-tissue itu.


Baiklah sepertinya besok gue harus pergi ke tempat cuci steam, mobil ini sudah betul-betul terkontaminasi kuman.


Baby ini perempuan bukan sih, katanya public figure, tapi bisa-bisa nya wanita ini tidak punya malu di depan gue.


"lo tau kan kalau bercandaan lo itu gak lucu sama sekali ?"


Baby mengangguk, nafas nya masih putus nyambung akibat menangis. Lagian sih pakai nangis segala, padahal gue belum keluarin seluruh sumpah serapah bin makian gue dia sudah begitu. Lemah dasar.


"aku minta maaf danar "baby menatap gue dengan tatapan memelas, ya tuhan gue jadi gak tega buat marah lagi ini sih.


"yasudah besok-besok jangan di ulangin lagi, gue gak suka kalau lo ... "


Belum sempat gue menyelesaikan kalimat gue, baby sudah lebih dulu memeluk gue dari samping. Wanita itu bahkan tanpa tahu malu bersandar pada pundak gue.


Sebagai pria yang sudah lama tidak dapat belaian, jantung gue mendadak dag dig dug. Sumpah ini bukan karena efek baby yang tiba-tiba memeluk gue.


Nggak !


Kalian sebagai laki-laki pasti faham dong saat ada wanita yang tiba-tiba saja memeluk kalian. Gue laki-laki normal yang masih merasa nafsu pada wanita, walaupun sudah lama menjomblo gue ini masih normal.


"beb.. Bisa lepasin gak ?"ucap gue pada baby yang sekarang malah mendusel-dusel di sekitar leher gue.


Ya Allah cobaan macam apa ini, di siang hari yang panas, apa yang baby lakukan semakin membuat panas.


"ups.. Sorry abis pundak kamu sandarable banget sih nar, aku kan jadi pengen nyender terus "baby tersenyum lebar.


Gue hanya bisa menanggapi ucapan nya itu dengan tersenyum canggung. Tarik nafas buang nafas baiklah kondisi jantung gue sudah kembali normal.


"berhubung kamu udah terlanjur bolos kerja, kita kencan aja yuk nar "baby setengah memohon dengan wajah berbinar.


Wanita ini betul-betul di ciptakan untuk merempongkan hidup gue sepertinya. Baru saja gue berbaik hati memaafkan dia karena membuat gue terpaksa bolos sehari.


Sekarang dia malah minta gue untuk berkencan dengan dia. Wanita ini betul-betul ngelunjak.


"danar, aku anggap diam kamu itu tanda setuju yaa "baby nampak begitu bahagia dengan senyuman nya itu.


Baiklah sepertinya tidak ada salah nya sesekali bersantai. Kalau di fikir-fikir gue tidak pernah sekalipun bolos kantor.


Untuk menggunakan jatah cuti tahunan saja tidak pernah. Absensi gue selalu 100%, itulah kenapa dalam kurun waktu 3 tahun gue sudah bisa memegang posisi sebagai general manager.


"emang kita mau kemana ?"gue bertanya karena terus terang tidak ada ide sama sekali.


Baby nampak berfikir lalu mengeluarkan ponsel dari dalam tas nya. Saat gue melirik ke arah ponsel itu, baby terlihat sedang membuka sebuah situs entah apa.


Lalu sejurus kemudian baby menatap gue, entah kenapa gue punya firasat tidak enak dengan tatapan baby yang terlihat seperti sedang merencanakan sesuatu.


****


"nad.  Kamu masih marah ?"gavin memeluk nadin dari belakang saat wanita itu sedang sibuk membuat teh untuk diet.


"nggak"


"nggak marah tapi dari tadi aku di cuekin terus "


"ya males aja ngomong sama kamu"jawab nadin.


Gavin menghembuskan nafas, melirik  deretan stick note yang menempel di dinding kulkas. Kejadian ini jadi  mengingatkan gavin pada zaman dulu, saat nadin marah lalu wanita itu hanya mau berbicara melalu stick note.


Setidaknya berbicara dengan stick note masih lebih baik, dari pada gavin harus mendirikan tenda di depan rumah karena nadin mengusir nya.


Kring...


"vin lepasin aku mau angkat telfon "


Gavin melepaskan pelukkan nya lalu menatap punggung nadin yang menjauh pergi menuju ruang tamu. Wanita itu terlihat sibuk berbicara di telfon, entah dengan siapa yang jelas saat wanita itu menutup telfon, dia langsung memekik girang.


Gavin yang merasa bingung dengan sikap nadin yang tiba-tiba saja berteriak Yes Yes Yes beberapa kali, memutuskan untuk menghampiri nadin.


"kenapa sih nad ?"

__ADS_1


"vin, aku berhasil.. "nadin merangkum kedua pipi gavin.


Wajah nadin betul-betul terlihat bahagia, jauh berbeda dengan beberapa menit yang lalu.


"berhasil apa ? Kamu menang undian ? "tanya gavin yang masih belum menangkap maksud nadin apa.


Nadin melepaskan rangkuman tangannya di pipi gavin. Lalu wanita itu menggandeng tangan gavin untuk mengikutinya duduk di sofa.


"tapi janji apapun yang aku bilang ke kamu, kamu akan dukung aku apapun itu "


Gavin mengangguk dengan mantab."jadi kamu kenapa ?"


"vin, aku ... Diterima di majalah high fashion !!! "


"tunggu dulu, ini maksud kamu malajah yang dulu kamu sebut sebagai majalah hits itu kan ?"


Nadin mengangguk sorot matanya menggambarkan jika wanita itu benar-benar merasa bahagia.


"kamu tahu kan kalau ini impian aku vin, kerja di industri fashion. Ini tuh seperti mimpi yang jadi nyata vin "nadin menggenggam tangan gavin dengan erat.


Nadin sepertinya lupa jika dia dalam mode sedang mendiamkan gavin akibat insiden terbongkar nya rahasia laki-laki itu.


"selamat ya sayang, kamu hebat "gavin memeluk nadin dengan erat dia sangat bahagia melihat wanita yang dia cintai berhasil meraih impian nya.


"makasih sayang, aku sampai mau nangis ini vin "nadin semakin mengencangkan pelukkan nya saat dia merasa air mata nya sebentar lagi akan jatuh.


"jangan nangis dong, kita harus merayakan ini pokok nya. Gimana kalau kita candle light dinner di skye ?"gavin mengusap bulir air mata yang sudah mengalir di pipi nadin


Nadin mengangguk, tentu saja dia sangat antusias merayakan keberhasilan nya hari ini. Bertahun-tahun dia memendam keinginan nya untuk bekerja di majalah itu.


Dan betapa beruntungnya nadin bisa merealisasikan apa yang dulu dia impikan . Padahal nadin tidak berharap banyak saat majalah itu membuka open recruitment di seluruh dunia.


Dan tanpa sepengetahuan gavin nadin ikut ambil bagian dari recruitment besar-besar an itu.


"kalau gitu kita siap-siap ya.. Aku hari ini pakai baju apa ya vin ?"tanya nadin yang berjalan sambil bergelayut manja di lengan gavin.


"aku sih lebih suka kamu gak pake baju sebetulnya "gavin menaik turunkan alisnya.


Nadin mencubit pinggang gavin"mesum banget sih astaga "lalu wanita itu tertawa bersamaan dengan gavin yang juga ikut tertawa.


****


Setelah menempuh 1 1/2 jam perjalanan, gavin dan nadin akhirnya tiba di restaurant yang terkenal dengan pemandaan indah dari atas roof top nya itu.


Mereka berdua duduk di meja yang sebelum nya sudah gavin reservasi terlebih dahulu. Seorang pelayan menghampiri mereka berdua untuk mencatat pesanan.


Gavin memilih untuk makan Asian Beef Tartare sementara nadin yang mengaku sedang diet tentu saja memilih Sesame Chicken Salad. Lalu mereka memustuskan untuk memesan juga sebotol White Wine sebagai simbol untuk perayaan malam ini.


"langit nya bagus ya vin, aku selalu suka pemandangan di sini " nadin tersenyum menatap langit.


"iya, tapi aku lebih suka lihat kamu nad dari pada lihat langit "gavin mencoba peruntungan nya untuk menggombali nadin.


Terlalu banyak bergaul dengan ditho dan bimo membuat gavin jadi tertular virus-virus gombal. Tapi kalau yang di gombalin istri sendiri gak apa-apa dong.


"kamu cantik banget sih nad, pasti kamu ini bidadari ya bukan manusia "gavin masih berusaha.


Dia yakin kalau nadin akan bahagia jika dia gombalin seperti itu. Kata bimo sebagai pria yang mengaku pakar cinta, semua perempuan itu suka di gombalin.


Terbukti dengan nadin yang beranjak dari tempat dia duduk, lalu nadin berjalan menghampiri gavin. Lihat sebentar lagi gavin akan dapat hadiah sun sun manja ini sih.


"nggak nad aku sehat "


"terus maksud perkataan kamu barusan itu lagi gombalin aku kan ?"


Gavin mengangguk."iyalah barusan kan aku lagi gombalin kamu "


"Fix kamu pasti demam. Gavin dalam mode normal gak mungkin gombalin aku "


"hah ?"


"yuk kita pulang aja vin kalau kamu sakit "nadin malah menarik tangan gavin untuk beranjak dari tempat duduk nya.


"apaan sih nad, kebiasaan deh ngerusak suasana. Aku kan lagi gombalin kamu. Modusin kamu. Kata bimo kamu bakalan seneng kalau aku gombalin gitu "


Beberapa detik nadin terdiam sebelum akhirnga gadis itu tertawa terbahak-bahak lalu kembali ke temat duduk nya.


"vin vin.. Kayaknya kamu salah guru. Kalau kamu begitu lagi aku nanti jadi mikir kamu ini playboy kayak bimo loh "


"yah aku kan usaha buat kamu bahagia nad, walaupun jijik juga sih aku ngomong gombal begitu "


"oh jadi kamu gak mau muji aku gitu ? Gak mau gombalin aku gitu "


Gavin menggaruk kepala nya yang tidak gatal. Kenapa memahami kemauan wanita itu begitu rumit.


Baru saja nadin bilang secara tidak langsung jika dia tidak suka di gombalin. Dia bilang nanti dia akan merasa gavin playboy.


Eh sekarang dia malah berkata seperti itu. Ya tuhan bahkan orang terjenius di dunia ini saja mungkin masih sulit memecahkan rumus keinginan wanita.


Pelayan datang membawakan pesanan gavin dan nadin. Baru kali ini gavin merasa bersyukur bertemu dengan dua orang yang sedang menyiapkan makanan di meja mereka itu.


Ingatkan gavin nanti untuk memberi kedua pelayanan itu tips yang besar, karena berkat jasa mereka gavin terhindar dari amukan nadin.


"kamu yakin kenyang makan salad doang nad ?"


Nadin mengangguk. "aku udah ngerasa aku gemuk vin, kemarin aku nimbang berat badan aku naik 5 kilo. Ya tuhan vin aku rasanya mau sedot lemak aja "curhat nadin sambil menyuapkan sayuran-sayuran itu kedalam mulutnya.


Gavin menggeleng tidak mengerti dengan jalan fikiran nadin dan wanita di luar sana yang selalu takut untuk gemuk.


Nadin bahkan bisa menggantikan Gigi Hadid jika dia mau. Dengan proporsi tubuhnya sekarang, gavin yakin nadin akan bisa melenggang di paris fashion week. Jadi nadin sama sekali tidak gemuk.


"aku cinta kamu apa adanya kok nad, bahkan kalau kamu naik 10 kali lipat sekalipun "gavin menunduk sambil memotong daging di atas piring nya.


Gavin tahu persis jika sudah berbicara mengenai berat badan nadin akan langsung menjadi sensitif. Tidak mau di nasehati apalagi di bantah.


"bahkan aku akan makin cinta sama kamu kalau kamu jadi gemuk setelah melahirkan anak kita "ucapan gavin membuat nadin menghentikan gerakan makan nya.


Wanita itu menatap gavin dengan tatapan yang tidak bisa terbaca. Entah kenapa setiap kali membahas prihal anak perasaan nadin jadi langsung sedih.


Sudah beberapa bulan mereka menikah, tapi nadin tidak juga merasakan tanda-tanda kehamilan.


"ah kamu mah gombal terus vin "nadin tertawa demi membuat susana yang menyenangkan ini tidak berakhir sedih hanya karena menbahas anak.


"tapi kamu suka kan aku gombalin "gavin menaik turunkan alisnya dengan senyum menyebalkan.


"iya iya, udah makan lagi "


Merekapun makan sambil berbincang mengenai hal apa saja, mulai dari politik sampai gosip artis yang sedang hot di infotainment.

__ADS_1


Nadin jadi semakin merasa beruntung menikah sama gavin, suaminya itu betul-betul memiliki wawasan yang luas. Sehingga tidak pernah sekalipun mereka kehilangan topik untuk di bicarakan.


Coba cari di luaran sana sosok suami yang mau di ajak bergosip mengenai artis, pasti tidak ada kan.


Setelah selesai dengan makanan mereka, gavin dan nadin memutuskan untuk beranjak dari kursi lalu berjalan menuju balkon yang langsung menyuguhkan pemandangan kota jakarta di malam hari.


Sambil menyesap wine pandangan nadin menerawang jauh. Baru kali ini dia merasa jakarta betul-betul indah saat malam hari. Seperti ada sihir yang membuat kota yang biasanya di padati kendaraan dan polusi ini, menjadi cantik di pandang dari atas.


"neng sendirian aja, abang temenin ya "gavin berdiri di samping nadin.


Nadin menoleh menatap gavin yang memakaikan nadin jas karena udara yang mulai membuat nadin sedikit merasa kedinginan.


Kenapa disaat seperti ini gavin jadi berubah jadi lebih romantis. Nadin jadi merasa ragu dengan keputusan nya.


"makasih vin "laki-laki itu mengangguk lalu ikut menikmati pemandangan yang juga sedang nadin nikmati.


"biasanya aku lagi terjebak macet tuh disana "gavin menunjuk pada satu arah di mana jalanan nampak begitu padat oleh kendaraan.


"aku gak menyesal hari ini cuti demi kamu "gavin menatap nadin sekilas lalu kembali menatap jalanan ibu kota.


"sejak kita bertengkar aku jadi banyak intropeksi nad, aku yang terlalu sibuk dengan kerjaan, kita yang masih harus beradaptasi satu sama lain .. "


"... Ternyata banyak hal yang baru kita ketahui setelah kita menikah, dan aku bahagia "gavin tersenyum sekelebat bayangan masa lalu nya dengan nadin membuat dia merasa sudah banyak waktu terbuang sia-sia.


"maafin aku ya vin sempat nuduh kamu selingkuh.. "


Gavin mengangguk lalu mengelus puncak kepala nadin. "it's okay walaupun efek nya aku harus merasakan dingin nya udara di luat rumah "


"ya habis kamu gak inget istri di rumah, pulang jam 4 pagi berasa masih bujangan ya ?"sindir nadin yang di balas kekehan oleh gavin.


"ya maaf deh, aku kan lupa kalau aku pulang telat ada yang nungguin aku di rumah "


"nanti kalau aku gak ada, kamu bakalan pulang jam 4 pagi karena gak inget punya istri gitu ?"sindiran nadin malah membuat gavin semakin tertawa.


"jangan mengada-ada deh sayang. Kamu kan akan selalu ada di rumah nungguin aku pulang kantor, iya kan.. "


Gavin tidak menyadari jika ucapan yang baru saja dia lontarkan membuat nadin harus di tampar pada kenyataan yang mungkin akan berakibat pada pernikahan mereka.


Walaupun rasanya ingin menangis, tapi nadin berusaha untuk tetap baik-baik saja di depan gavin. Dia perlu persiapan untuk memberitahu gavin sesuatu.


"eh nad.. Lagu ini kan yang ada di acara wedding kita, ingat gak ?"gavin menatap nadin dengan tatapan berbinar saat lagu itu baru saja mengalun.


Nadin mengangguk." iya.. Kalau gak salah judul nya Beautiful in white kan ? "


"mau dansa sama aku nadin ? "gavin sudah mengulurkan tangannya.


Nadin menerima uluran tangan gavin lalu mereka berdua mulai berdansa. Gavin melingkarkan tangannya di pinggang nadin, sementara wanita itu membalas nya dengan ikut melingkarkan tangan nya di pundak gavin.


Mereka berdua larut dalam lagu yang membawa kenangan mereka saat pesta resepsi pernikahan. Dimana saat itu gavin tidak pernah lepas menatap nadin yang betul-betul cantik dengan wedding gown nya yang berwarna putih.


Gavin membawa sebelah tangan nadin lalu mengecup punggung tangan wanita itu.


"i love you "ucap gavin setengah berbisik namun masih bisa di dengar oleh nadin.


Wajah nadin jadi bersemu merah dengan semua hal yang gavin lakukan. Perlahan air mata nya meluncur begitu saja, membuat gavin yang berada di hadapan nadin, di buat bingung dengan nadin yang tiba-tiba saja menangis.


"hey, kok kamu jadi nangis ?"gavin mengusap air mata nadin dengan ibu jari nya.


Nadin hanya tersenyum, dia butuh beberapa menit lagi sebelum suasana romantis ini akan rusak akibat ulah nya sendiri.


"kayaknya kita harus sering-sering dinner romantis seperti ini ya ?"


Nadin hanya bisa mengangguk, dalam hati mengamini keinginan gavin itu.


" So as long as I live I love you


Will have and hold you


You look so beautiful in white "gavin menyanyikan lirik lagu itu sambil menatap nadin.


Walaupun tidak sebagus penyanyi aslinya, tapi nyanyian gavin itu berhasil membuat hati nadin meleleh.  Entah sudah berapa ribu kali nadin seakan di buat jatuh cinta lagi dengan pria di hadapan nya itu.


"vin.. "


"iya sayang ?"


"aku mau ke paris "


"yuk, kita honeymoon lagi di sana gimana ? "gavin tersenyum lebar.


Nadin menggeleng. " bukan itu maksud aku "


"ah.. Kamu pasti mau ngajak aku belanja tas branded disana ya ? Oh oh atau ada sepatu limited edition yang lagi kamu incer ?"tebak gavin.


Lagi-lagi nadin menggeleng. "bukan vin "


"terus ? Kenapa kamu tiba-tiba mau ke paris ?"


Nadin terdiam sesaat dia yakin setelah ini segala kemungkinan bisa saja terjadi. Gavin yang melarang nya, gavin yang tidak akan setuju dengan keputusan nya, atau mungkin gavin yang akan mendukung nya.


Kali ini nadin tidak bisa memprediksi sikap apa yang akan gavin munculkan saat nadin berkata jujur pada laki-laki itu.


Nadin menarik nafas dalam-dalam, cepat atau lambat dia harus meminta izin gavin. Gavin itu suami nya sekarang.


"kamu tahu kan kalau aku di terima bekerja di high fashion vin "nadin memulai pembicaraan.


Gavin mengangguk. "terus ?"


"mereka... Mengharuskan aku ikut pelatihan "


"bagus dong, kamu kan selalu suka hal-hal yang berbau fashion "gavin nampak antusias, senyuman yang lebar itu bukti kalau laki-laki itu sangat bahagia melihat nadin.


"iya aku suka banget hal yang berbau fashion, terbukti kan koleksi tas, sepatu, kaca mata, baju  aku , lama-lama dj rumah kita aku mau buka butik sekalian "


Gavin terkekeh dia ingat sekali saat pertama kali harus membagi lemari dengan nadin. Terjadi sedikit perdebatan sampai akhirnya seluruh lemari di kuasai nadin, lalu gavin membeli lemari satu lagi.


"sebenernya kamu mau ngomong apa ?"gavin tahu nadin sejak tadi hanya berbasa basi padanya.


"mereka mau aku.. Berangkat ke paris  bulan depan "


"yauda kalau gitu aku ambil cuti terus anter kamu kesana sekalian kita honeymoon , gimana ?"


Nadin lagi-lagi menggeleng. "aku akan stay disana selama 6 bulan vin "


Gavin yang tadi terlihat sangat antusias langsung terdiam. Ekspresi wajahnya berubah tidak seperti tadi.


Gavin menjauh beberapa langkah dari hadapan nadin.

__ADS_1


__ADS_2