CEO Rese Dan Secretary Matre Nya

CEO Rese Dan Secretary Matre Nya
Episode 40


__ADS_3

Nadin Almira Queen


Wangi aroma nasi goreng mulai terendus oleh indra penciuman gue yang memang tajam jika di hubungkan dengan makanan enak. Mata gue perlahan terbuka menyesuaikan cahaya yang masuk melalui celah gorden.


Lalu gue Menatap kesekeliling kamar yang di dominasi oleh warna hijau tosca ini. Ah barulah gue sadar jika gue tidak sedang berada di rumah.


Gue bangkit dari tempat tidur kemudian berjalan menuju ke sumber aroma harum yang gue yakini berasal dari dapur.


"lo udah bangun ? " tanya si pemilik rumah saat menyadari gue berjalan mendekatinya.


"gue gak bisa tidur , lo liat nih mata gue bengep udah kayak bola kasti "


Bukannya mengasihani kondisi gue, agatha malah terkekeh sambil meletakkan nasi goreng yang baru saja selesai dia masak ke atas piring.


"lo sih childist banget, berantem sama gavin aja sampe mohon mohon nginep di rumah gue "


Gue memainkan sendok di atas piring memutar-mutar benda tersebut membentuk pola abtrak. Mata gue masih terasa panas akibat menangis semalam.


"suami lo pulang kapan tha ?"gue mencoba mengalihkan pembicaraan.


Mood gue langsung drop jika nama itu di sebut. Sensitif gitu kalau kata anak-anak ABG zaman now.


"suami gue pulang besok, kenapa mau ada rencana memperpanjang masa liburan lo di rumah gue kan ?"


Dasar kalau udah sahabatan banget ya seperti gue dan agatha gini. tanpa bicara pun kami sudah tahu isi fikiran masing-masing.


"hehe gak di kenain sewa kan ? gratis "gue tersenyum lebar yang hanya agatha balas dengan sebuah sentilan di kening gue.


"lo yakin gavin selingkuh nad ?"sahabat gue itu sudah duduk manis tepat di sebrang gue.


Gue mengangguk. " nih lo fikir aja, ngapain gavin wangi banget mau ke kantor doang ?"


"...."


"terus gue masih belum budeg ya, jelas jelas gue denger di telfon kalau dia janjian sama cewek yang dia panggil ' beb ' "gue semakin nge gas berkata pada agatha, dia duluan sih mancing-mancing emosi gue.


Gue mulai merasakan mata gue kembali berkabut, sepertinya air mata enggan berhenti mengalir. Berulang kali gue berusaha untuk tidak menangis, selain karena gue sudah lelah, gue juga tidak mau jadi hachi si lebah madu yang nangis terus karena mencari mamah nya. Anak generasi 90 an pasti tahu kartun paling menguras air mata itu.


"lo udah tanya gavin ?"


"gak mau !! Gimana gue mau nanya kalau dia aja kemarin malam pulang jam 4 pagi. Coba lo jadi gue, gimana perasaan lo "gue kembali terisak.


"belum ada sebulan hiks. .. Apa dia gak bener-bener cinta gue ya tha ?"


Sahabat gue itu menghela nafas panjang sebelum memberikan sebuah wejangan yang gue percayai, mengingat  sahabat gue itu memang sudah lebih dulu menikah.


"gue gak tau kejadian yang sebenernya itu gimana, tapi lo gak berhak juga nuduh gavin hanya berdasar pada alasan-alasan yang lo sebutin tadi "


"nad.. Lo sama gavin nikah belum ada sebulan loh, wajar kok kalau kalian masih saling menyesuaikan diri. Tapi inget pesan gue "


"komunikasi itu hal yang paling penting dalam sebuah hubungan "


"tapi gavin ..."


"nad, percaya gue . Gavin cinta sama lo pake banget "


"kok lo bisa seyakin itu sih ? Lo kan gak begitu kenal gavin "kilah gue menyangkal nasihat agatha.


"cukup denger dari cerita lo, gue udah bisa tebak kok gavin orang yang seperti apa "


Gue menunduk meresapi nasihat sahabat gue yang mungkin ada benarnya juga. Belum ada sebulan gue dan gavin menikah, masa hal spele seperti ini saja emosi.


Tunggu, sebetulnya ini bukan hal spele. Jika itu menyangkut orang ketiga wanita mana yang tidak akan murka.


"udah lebih baik sekarang lo mandi terus dandan deh "


"gak mood "gue menidurkan kepala di atas meja.


Sahabat gue itu beranjak dari kursi lalu berjalan entah kemana. Selang beberapa lama gue merasakan ada tangan yang mengelus puncak kepala gue.


Sahabat gue pasti yang melakukannya.


"udahan ya nad ngambeknya "


Suara itu sangat gue kenali, gue pun menoleh kebelakang. Lalu gavin berdiri disana dengan wajah innocent nya.


Gavin menyodorkan sebuket bunga mawar sambil tersenyum. Jangan lemah nadin inget harga diri. Masa di sogok sama bunga dan senyuman nya gavin saja langsung luluh lantak.


"ngapain disini ?"tanya gue tanpa mau menatap wajahnya, bisa lemah pertahanan gue kalau lihat wajah gavin.


"ya jemput kamu lah sayang, jangan berantem lagi dong nad "


"bodo.. "


Gavin terdengar menghela nafas,lalu dia duduk di hadapan gue.


"kemarin kamu ngunciin aku di luar rumah aku gak marah "


"itu kan salah kamu sendiri ! Udah punya istri masih aja kelayapan sampai jam 4 pagi "jawab gue tidak mau kalah.


Enak saja gavin malah play victim. Istri mana yang tidak murka kalau suami mereka pulang jam 4 pagi. Apalagi jelas itu bukan karena pekerjaan.


"aku pergi sama bimo, ditho sama danar juga "


Danar ? Walaupun masih kesal akhirnya gue memberanikan diri untuk menatap gavin. Mencari tahu apakah pria itu sedang berbohong atau tidak.


Tapi tunggu, tadi gavin menyebut danar ? Mereka sudah damai ?


"aku sama danar udah damai kalau itu yang ada di fikiran kamu " gavin menjawab seperti sudah bisa membaca fikiran gue.


"kamu nggak kerja hari ini ?"


Gavin menggeleng. "aku bolos, lebih tepat nya cuti dadakan " gavin menekankan kata dadakan seperti dia sedang menyidir sebab akibat dari tindakan gue.


"pulang yuk nad... Aku Gak enak sama sahabat kamu "


"dia aja nggak masalah, kok kamu yang keliatan nya bermasalah "


Gavin kembali menghela nafas, dia tahu tidak semudah itu memadamkan api emosi yang sudah terlanjur gue kobarkan.


"yauda gini aja deh, kamu mau maki-maki aku lagi terserah, mau ngomel seharian sampe kamu puas terserah, mau kamu belanja dari mall buka sampai mall tutup juga terserah "


Gue masih mengamati gavin yang sedang berusaha membujuk gue. Sebetulnya gue tidak tega apalagi jelas tindakan gue ini terlalu kekanankan untuk umur gue yang tidak muda lagi.


"maafin aku please... "gavin mengatupkan tangannya di depan wajah.


"please nadin almira queen istri aku yang cantik dan baik "gavin tersenyum manis.


Astaga udah udah gue tidak kuat di hujani rayuan rayuan seperti ini.


"yauda "

__ADS_1


Dengan wajah pura-pura masih marah gue meninggalkam gavin untuk mengambil tas gue di kamar tamu.


Kami berpamitan dengan agatha bahkan gavin sampai meminta maaf pada sahabat gue itu karena sudah mau menampung gue.


Keheningan menyelimuti kami dalam perjalanan menuju rumah. Gue tentu saja tidak mau memulai percakapan duluan. Gengsi dong


Gavin sengaja memutar lagu favourite gue, suara shawn mendes yang dulu sempat gue sebut-sebut mirip suara gavin sekarang jadi tidak lagi sama. Baru gue sadar kalau suara shawn jauh lebih merdu, suara gavin sih lebih mirip suara shaun the sheep.


mbekkk


"kamu udah makan nad ?"itu suara gavin, akhirnya dia mengalah .


Gue menggeleng, boro-boro mau makan rasanya nafsu makan gue sudah hilang jika sedang emosi begini. Nasi goreng buatan sahabat gue saja tidak sampai gue makan karena gavin yang tiba-tiba datang.


"sarapan yuk, aku lapar banget nih belum makan dari semalam "


Gue menoleh, ini gavin gak lagi bohongin gue kan ? Gavin kan cepet lapar cepet kenyang. Mana mungkin dia kuat menahan lapar dari malam sampai pagi.


"bohong ! mana mungkin kamu kuat nahan laper "


"beneran nad "


"di kamar kita kan ada cemilan "


"gak aku makan "


Gue melirik gavin dengan tatapan mengejek. Mana mungkin gavin kuat menahan lapar. Satu fakta yang baru gue tahu sejak menikah dengan gavin, pria itu tidak pernah merasa kenyang.


"gimana kalau hari ini aku yang masak ?"ujar gavin dengan penuh percaya diri.


"kamu ? Masak ? Hahhaa jangan bercanda, gak inget terakhir kamu masak indomie dapur kita nyaris kebakaran ?"


Gavin menggaruk kepala sambil tertawa, pasti dia membayangkan ulah yang dia buat tempo hari.


Saat itu gavin tiba-tiba saja berteriak panik saat tengah malam. Gue langsung lari dengan baju yang asal gue ambil dari atas tempat tidur.


Lalu gue menemukam gavin sedang melompat-lompat di dalam dapur. Awalnya gue belum menyadari alasan kenapa gavin tengah malam begini malah lompat-lompatan.


Tapi pertanyaan gue itu langsung terjawab saat gue berdiri di samping gavin. Gue langsung mematikan kompor saat melihat apa yang sedang gavin masak menyebabkan air nya tumpah kemana-mana, membuat sedikit percikan api yang menyebabkan gavin panik.


"kamu bikin apa sih vin ?"omel gue setelah berhasil memadamkan api.


"aku bikin mie rebus pake telor, aku gak tahu kalau telur nya bakalan meluap luap begitu nad "gavin menjelaskan dengan wajah polos.


Ingin rasanya gue tertawa melihat cara gavin berbicara pada gue. Wajahnya Seperti anak kecil yang sedang ketakutan karena di omeli mamah. Ah menggemaskan sekali suamiku ini.


Sambil mengelus puncak kepala gavin gue berkata. "lain kali kamu kan bisa bangunin aku kalau laper "


"aku gak tega, abis kamu kayaknya kecapean banget nad habis olahraga sama aku "


Wajah gue pasti sekarang sudah memerah, gavin ini terkadang kalau bicara gak ada filter nya sih.


"yauda.. Sekarang kamu duduk yang manis, aku buatin mie buat kamu "


"yes... "gavin bersorak . "makasih sayang "gavin melayangkan sebuah kecupan singkat sebelum pria itu berlari menuju sofa.


"telor nya setengah mateng ya nad pake sayur sama cabe potong " teriak gavin.


"emang kamu fikir aku mbak mbak warmindo, banyak banget mau nya "ucap gue tidak kalah berteriak.


Itulah gavin, jika satu keinginan nya sudah terpeniuhi maka akan ada teman-teman yang menyusul nya.


"hem jadi ini yang mana duluan nad yang aku potong ?"gavin menatap bahan-bahan makanan yang ada di depannya.


Gue beranjak dari sofa lalu berjalan menghampiri gavin. Padahal tadi dia yang paling ngotot mau masak makanan untuk kami, dia bilang sebagai penebus dosa .


Tapi kalau begini ceritanya tetap saja gue yang ikutan kebagian repot.


"emang kamu mau masak apa sih ?"tanya gue memperhatikan bahan-bahan makanan di atas meja.


"hem.. Spagethi ?"jawab gavin dengan ragu.


Ingin rasanya gue tertawa, saat gavin mengatakan mau memasak spagethi , Masak mie instan saja tidak bisa apalagi spagethi.


"yauda aku liatin kamu, coba cari tutorial memasak spagethi di youtube"perintah gue.


Gue mengambil bangku lalu duduk di hadapan gavin yang nampak masih bingung dengan apa yang harus dia lakukan. Jadi begini rasanya jadi juri masak, gue melihat gavin masih bingung membedakan antara bawang bombay atau bawang putih yang harus dia iris.


"nad.. Ini kamu beneran cuma liatin aja nggak mau bantuin aku gitu ?"


Gue menggeleng. "aku mau lihat usaha kamu, ya aku disini kan tugas nya hanya menjaga supaya dapur kita gak kebakaran lagi "


Gavin menghela nafas pasrah. Lalu Gue melihat gavin berusaha mengolah bahan-bahan itu menjadi sebuah sajian yang di sebut spagethi. Sesekali lelaki itu melihat video cara memasak spagethi di youtube dengan tangan yang sibuk dengan spatula.


30 menit kemudian sebuah hidangan sudah tersaji di hadapan kami. Gavin melepaskan apron lalu ikut bergabung bersama gue di meja makan.


Gue menatap maha karya gavin dengan tatapan bingung. Penampakkan spagethi yang tersaji di hadapan gue ini sebetulnya lebih mirip mie tek tek.


Tapi tentu saja gue tidak mungkin jujur, apalagi melihat wajah gavin yang harap-harap cemas menunggu penilaian gue.


Untung gavin di hadapkan dengan juri seperti gue yang kalau komentar tidak seperti si juri ganteng itu, yang sekali komen nyelekit hati. Untung dia ganteng.


Gue mencoba berpositif thinking, ada kan masakan yang penampakan nya amburadul tapi rasanya enak. Ya anggap saja kesan pertama gue akan masakan gavin begitu.


Satu suapan masuk ke mulut gue, pelan-pelan gue kunyah sambil mencoba berfikir ini spagethi atau mie goreng ?


"gimana nad ?"wajah gavin sudah harap-harap cemas sambil mengatupkan tangannya di depan wajah.


Satu detik


Dua detik


Tiga detik


Gue masih mencoba mencari kalimat yang tepat untuk menggambarkan rasa masakan gavin, hasil tutorial dari youtube.


"nad gimana ??"tanya gavin lagi dengan nada yang lebih nge gas dari tadi.


"hem.. Gimana ya ? Spagethi nya sih lumayan belum mateng vin "


Wajah gavin langsung berubah murung, jadi gak tega gue kalau gue komentarin lagi rasa masakaknya.


"terus kalau rasanya gimana ?"tanya gavin lagi dengan suara yang sudah lebih pelan dari tadi.


"rasanya ya ? Not bad lah setidaknya kamu udah bisa buat mie goreng tek tek "


Dahi gavin mengernyit. " nad aku masak spagethi loh bukan mie tek tek "


"ya setidaknya masakan kamu layak makan lah vin " ucap gue sambil menyuapkan kembali spagethi rasa mie tek tek itu.


"gagal dong aku nad " gavin menangkupkan wajahnya di atas meja.

__ADS_1


Gavin berjalan meninggalkan gue yang masih menikmati spagethi rasa mie tek tek ini. Laki-laki itu terlihat duduk di sofa sambil menonton kartun kesukaan nya, spongebob squarepants.


Masih sambil menikmati masakan gavin gue mulai menimbang-nimbang, apakah gue harus memaafkan gavin atau tidak. Tapi gavin sudah susah payah minta maaf bahkan sampai masak untuk gue.


Walaupun bukan spagethi seperti yang gue bayangkan, setidaknya masakan gavin masih layak di makan walaupun rasanya.... Asin banget.


"vin " gue memegang pundak gavin lalu lelaki itu menoleh.


"udah makannya ? " tanya gavin yang sudah kembali fokus melihat televisi.


Gue menganggukan kepala lalu memutuskan untuk duduk di samping gavin. Kami berdua sama-sama diam, hanya suara tertawa spongebob squarepants yang menggema di ruangan ini.


"besok aku ada pertemuan di Singapura nad " ucapan gavin membuat gue menoleh sepenuhnya.


"satu bulan " gavin kembali berucap.


Oh tidak ! gue memang masih kesal dengan gavin yang masih gue curigai sedang berselingkuh, tapi membayangkan tinggal di rumah ini hanya sendiri itu lebih menakutkan. 


"emang nggak bisa orang lain yang gantiin vin "ucap gue berusaha tegar padahal hati sudah galau luar biasa.


"gak bisa nad, ini harus aku yang kesana langsung " 


Oke nad lo kalah kali ini...


Gue Melingkarkan tangan gue di lengan gavin lalu tentu saja gue memasang aksi ngedusel-dusel seperti anak kucing (jurus pertama). Biasanya cara itu akan ampuh untuk memohon sesuatu pada gavin selain jurus puppy eyes dan tatapan ala bae suzy unnie.


"jangan pergi " ucap gue sangat amat pelan yang gue yakini gavin tidak akan dengar.


"nggak bisa nad.. kamu tahu kan resiko kerjaan aku apa , nanti kamu gak bisa beli tas mahal loh kalau aku bangkrut " ucap gavin sambil terkekeh.


Bisa-bisa nya gavin malah bercanda di saat gue sudah nyaris menangis karena membayangkan tinggal di rumah ini seorang diri. 


"aku udah maafin kamu kok, jadi jangan pergi ya ya " gue menatap gavin dengan tatapan puppy eyes ( jurus kedua).


Bukannya terbujuk gavin malah melepaskan tangan gue dari lengannya, lalu laki-laki itu beranjak meninggalkan gue menuju kulkas. Mata gue tidak bisa melepaskan sedikitpun pergerakkan gavin. 


Saat laki-laki itu Membuka kaleng minuman saja di mata gue terlihat sungguh menakjubkan, rasanya seperti melihat ji chang wook yang sedang melakukan adegan iklan di TV. 


Gavin kembali ke sofa lalu menyerahkan satu kaleng soda yang tadi dia ambil dari kulkas lalu menyerahkan pada gue.


"Minum dulu, capek kan nangis terus "ucap gavin dengan begitu entengnya.


Walaupun kesal gue menerima juga minuman pemberian gavin lalu gue tenggak minuman itu hingga tetes terakhir. Antara haus dan emosi entahlah yang jelas gavin masih terlihat santai sambil melanjutkan acara nonton kartun nya yang tadi tertunda.


"nanti aku di singapore kamu  mau nitip tas ? atau sepatu ? " ucap gavin tanpa sedikitpun memandang gue yang sudah berkaca-kaca.


Gue menggeleng lalu kembali melingkarkan tangan gue di lengan gavin."aku mau nya kamu gak pergi vin " ucap gue.


Gavin menghela nafas panjang."jangan manja deh nad " 


"aku nggak manja ! aku cuma gak mau aja sendiri di rumah, nanti yang nyalain lampu siapa , aku kan takut gelap vin "


"jadi kamu cuma takut gak ada yang nyalain lampu rumah ? bukan karena takut aku pergi dari rumah terus kamu rindu ?"gavin mendelikkan matanya.


"jangan rindu vin berat biar dilan aja "


"jadi fungsi aku sebagai suami kamu cuma buat nyalain lampu rumah aja nad ?"


gue menggeleng."sama ATM berjalan juga dong"jawab gue. 


Gavin tercengang selama beberapa detik dengan wajah bloon nya, lucu sih tapi mau ketawa nggak tega. 


"yauda kalau gitu aku pergi nya malam ini aja "gavin beranjak dari kursi dengan wajah lesu.


Loh Loh kok malah gavin jadi ngambek, gue kan cuma bercanda . 


"vin.. jangan ngambek dong "


Gue menahan lengan gavin, duh kenapa jadi drama gini sih.


"vin.. Aku.... Udah maafin kamu kok "ucap gue.


Gue menatap punggung gavin yang sekarang bergetar. Perasaan khawatir mulai merasuki fikiran gue. Duh jangan jangan gavin benar-benar marah sama gue.


"vin... Kamu... "


"huahahahahahahha "


Gavin berbalik badan lalu tertawa terpingkal-pingkal di hadapan gue. Gue mulai merasa seperti nya gavin kerasukan jin atau dia sudah mulai gila.


"panik ya panik ya " ucap gavin sambil menunjuk-nunjuk gue.


Gue masih memandangi gavin yang belum juga berhenti tertawa.


"selamat anda kena prank "


"vin... "panggil gue.


"maksudnya tadi kamu bilang mau pergi sebulan itu prank ?"


Gavin mengangguk. "iya, abis kamu ngambek nya gak selesai-selesai.. Aku kan jadi ....."


"GAVIN CHRISTOPHER, SIALAN !!!! "teriak gue.


Gue mengambil bantal sofa lalu menjadikan benda itu sebagai alat untuk memukul gavin. Betul-betul rese dia setelah membuat gue nyaris nangis ternyata itu hanya sebuah PRANK.


"Nad..kdrt ini nad "gavin mencoba menghalangi gue yang mau memukul wajahnya dengan bantal.


Gue masih terus mengejar gavin keliling ruang tamu. Rasanya dendam gue belum terbalaskan jika bantal ini tidak memgenai wajah gavin yang ngeselin itu.


"nad.. Ampun nad udah "


"bodo amat, sini kamu vin jangan kabur "


"nad gak capek apa muter muter terus, aku aja udah capek ini "gavin terlihat ngos ngos an mengatur nafas.


"nggak, belum puas aku kalau belum bisa mukul kamu pake bantal. Hayo sini kalo berani " tantang gue.


"haha kamu serem banget nad kalau lagi marah, kayak nenek lampir "


Gue semakin melotot karena mendengar ucapan gavin tadi. Semakin semangat gue mengejar gavin untuk memukul wajahnya yang ngeselin itu.


Tinong


Suara bell pintu membuat gue terpaksa menghentikan aksi kejar-kejaran gue . Sambil melayangkan sebuah bogem mentah di udara sebagai lambang ancaman untuk gavim, gue berjalan menghampiri pintu.


Siapa sih orang yang bertamu siang-siang begini disaat gue dan gavin sedang perang.


Ceklek...


"oh my god "gue menutup mulut gue setelahnya.

__ADS_1


__ADS_2