CEO Rese Dan Secretary Matre Nya

CEO Rese Dan Secretary Matre Nya
Episode 48


__ADS_3

Berkali-kali nadin menatap pantulan dirinya di cermin. Gaun berwarna biru gelap yang menjuntai hingga mata kaki sukses membuat nadin menjadi wanita paling anggun, setidaknya di mata gavin.


Sambil berbaring di tempat tidur gavin memperhatikan nadin yang sedang berputar ke kiri dan ke kanan untuk memastikan jika penampilan nya sudah sempurna.


"nad.. Kenapa sih harus malam minggu, ini kan waktunya kita pacaran "protes gavin.


"kan gak setiap malam minggu sayang, kamu tahu dong acara fashion week ini penting buat aku "


Gavin mendengus, tidak lagi dia tatap nadin yang sedang bercermin. Langit-langit kamar sepertinya lebih baik, dari pada melihat nadin.


Bukan karena gavin tidak suka, hanya saja gavin sedikit cemburu mengingat nadin berpenampilan cantik tapi bukan akan pergi bersamanya.


"nad.. Jangan pakai baju itu deh "saran gavin saat posisi pria itu kembali menatap nadin.


Nadin berbalik badan lalu menatap gavin.


"emng kenapa ?"sebelah alis nadin terangkat, sedikit bingung dengan saran gavin mengingat pria itu sendiri yang membelikan nya gaun malam itu.


"setelah aku lihat kamu jadi kelihatan lebih tua "


"jadi mirip tiang listrik berjalan "


"warna baju nya gak pas di pakai malam-malam, jadi kelihatan gelap aura nya "gavin masih mengomentari walaupun tatapan nya tidak pada nadin.


Nadin membelalakkan mata. "kemarin kamu bilang aku bakalan cantik banget pakai gaun ini "protes nadin hanya di balas cengiran lebar oleh gavin.


"ya itu kan biar kamu seneng aja "gavin beralasan.


Nadin memicingkan mata, gavin bukan tipe pria yang asal memuji atau menghina. Dia tahu persis laki-laki itu akan berkomentar pedas jika memang sesuatu itu buruk, tapi dia akan memuji habis-habisan jika memang itu bagus.


Satu kelebihan gavin yang semakin membuat nadin merasa beruntung memiliki gavin di dalam hidup nya. Laki-laki itu punya sifat yang jujur, walaupun kadang wanita lebih suka di bohongi. Terutama masalah penampilan dan berat badan.


Nadin bertolak pinggang, sepertinya dia sudah mulai faham dengan sikap gavin yang mendadak jadi menyebalkan itu.


"jawab pertanyaan aku vin "


Ada jeda selama beberapa detik sebelum gavin mengangguk.


"kamu gak suka aku pakai gaun ini.. Atau..... "nadin tersenyum miring. "kamu gak suka aku pergi sama akbar ?"


Gavin mempertimbangkan pertanyaan nadin. Walaupun dalam hati gavin jelas sudah tahu jawaban nya. Tapi gavin masih menimbang-nimbang apa reaksi nadin jika tahu kalau gavin masih merasa cemburu pada bos nadin yang sial nya harus gavin akui, dia tampan.


"pasti karena akbar kan ?"tebak nadin langsung tepat sasaran, karena gavin tidak menjawab nya.


Nadin kembali menatap pantulan diri nya di cermin sambil memasang anting mutiara di telinga nya.


"vin... Mau sampai kapan sih kamu cemburu sama akbar, jangan kaya anak ABG deh "jawab nadin.


Gavin seolah sudah tahu jika nadin akan bereaksi seperti itu. Istrinya itu memang terlalu polos untuk dapat menilai mana serigala berbulu domba  dan mana kucing tak berdosa.


Bukan hanya sekali gavin protes mengenai kehadiran akbar yang entah kenapa membuat gavin memiliki fikiran buruk.


Memang gavin merasa akbar akan menyakiti nadin atau memberikan istrinya itu pekerjaan menumpuk seperti bos-bos lain.


Tapi Sebagai sesama lelaki, sebut saja gavin punya insting yang kuat jika bos nadin itu tertarik pada nadin, dan sialnya nadin tidak juga menyadarinya.


"gini deh, kalau kamu gak percara kalau akbar itu gak punya perasaan apa-apa sama aku, kamu ikut aku ke bali minggu depan "


Gavin menimbang-nimbang lalu memikirkan jadwal pekerjaan nya minggu depan. Sepertinya tidak ada hal yang betul-betul penting yang harus dia hadiri.


"tapi kan itu acara kantor kamu, aku gak mau ah jadi orang asing, nanti di cuekin lagi "


Nadin memutar bola mata merasa jengah dengan sikap gavin yang luar biasa manja akhir-akhir ini.


Mau nya harus selalu di turuti, terlebih nadin harus menemani laki-laki itu kesana kemari walaupun bukan mencari alamat, seperti lagu dangdut yang di populerkan oleh ayu ting-ting.


"vin... Jangan mulai deh. Aku gak mau ya mood aku rusak karena kamu "nadin bertolak pinggang sambil menatap gavin yang masih menggulung badan nya dengan selimut.


"maaf deh, iya aku tahu aku kekanak-kanakkan , udah sana kamu pergi aja sama bos kamu itu "


Gavin menutup seluruh tubuh nya dengan selimut. Lebih baik dia tidur saja dari pada melihat nadin yang sudah berpenampilan cantik, tapi pergi bersama pria lain. Apalagi nadin akan pergi dengan musuh baru gavin, Akbar.


Mendadak gavin merasakan tempat tidur nya sedikit bergerak. Sudah bisa di pastikan siapa oknum yang saat ini sedang menepuk-nepuk pundak nya.


"vin, kamu marah ?"


Gavin tidak bergeming malah semakin merapatkan selimut sambil memejamkan mata.


"vin.. Masa kamu gak percaya sih sama aku "


Gavin hanya menjawab pertanyaan nadin dengan gumaman. Berdebat dengan nadin tidak akan pernah ada habisnya, wanita itu pasti akan selalu punya jawaban atas perkataan gavin.


"yauda kalau kamu terus ngambek, besok aku males ah CFD sama kamu "ancam nadin.


Dan berhasil, gavin membuka selimutnya walaupun tidak sepenuhnya. Wajah gavin berubah panik saat mendengar niat nadin yang mau membatalkan acara CFD mereka.


"jangan dong, acara CFD besok harus jadi pokok nya "


"ya habis kamu begitu cemburu gak jelas, lagi masa puber kedua ya "


"nad.. Aku tuh bukan cemburu cuma was was , ah kamu mah gak faham "


Gavin lalu bersandar pada kepala tempat tidur. Sepertinya dia memang harus berdebat dengan nadin.


"aku percaya kamu gak akan punya perasaan apa-apa sama bos kamu itu "


"..."


"tapi aku gak percaya kalau bos kamu itu gak punya rasa apa-apa sama kamu, ini insting lelaki nad "


"ya terus aku harus gimana ? Aku gak mungkin kan setiap ketemu akbar aku tutup wajah "


Gavin menghembuskan nafas kasar, dia juga masih bingung solusi apa yang bisa di ambil di saat seperti ini.


Nadin tersenyum lebar. "lagi pula... Harusnya kamu bangga dong istri kamu yang cantik ini banyak yang naksir "


Gavin tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan nadin. Sepertinya penyakit percaya diri akut sudah betul-betul menular pada nadin setelah berbulan-bulan mereka menikah.


"udah ya jangan ngambek lagi, janji deh cinderella akan pulang sebelum tengah malam "ucap nadin diiringi dengan kedipan mata.


"awas ya sampai kamu pulang lewat tengah malam, kereta kencana kamu bakalan berubah jadi labu "


"asik dong kalau berubah jadi labu tinggal di buat kolak "nadin terkekeh sampai suara ketukan pintu membuat mereka menoleh.


"nyonya ada tamu, kata nya namanya pak akbar "suara bibi membuat gavin dan nadin saling tatap.


*****


Gavin menatap pria di hadapan nya dengan tatapan sengit. Harus dia akui pria itu memang tampan walaupun tidak setampan dirinya tentu saja. Tapi gavin berani bertaruh, jika nadin masih lajang pasti wanita itu akan tergila-gila pada laki-laki ini.


Mengingat nadin merupakan tipe wanita yang mudah luluh dengan pria tampan binti kaya. Untung saja gavin sudah menetapkan hak kepemilikan pada nadin, sehingga wanita itu tidak akan pernah di miliki siapapun kecuali dirinya.


"jadi acara nya sampai jam berapa ?"tanya gavin sambil tangan nya merangkul pundak nadin seolah menegaskan pada akbar jika nadin adalah miliknya.

__ADS_1


"sampai jam 10 mungkin "sebuah senyuman yang gavin jelas tahu bukan jenis senyuman ramah tamah tersungging dari bibir akbar.


"oke, nad ingat ya kita lagi program.."gavin melirik nadin sekilas sebelum kembali menatap akbar. "hamil.. "sambungnya.


Nadin menyikut pinggang gavin, bisa-bisa nya laki-laki itu membicarakan sesuatu yang vulgar di depan akbar.


Akbar terkekeh sambil memasukan kedua tangan di saku celana, pria itu nampak santai menanggapi sikap gavin yang jelas sekali tidak menyukai nya.


"tenang kami profesional kok "jawab akbar seolah menenangkan hati gavin.


"ayo nad kita berangkat, pasti akan macet banget mengingat ini kan malam minggu "sambung akbar, laki-laki itu menatap penampilan nadin dari atas hingga bawah, nyaris saja kata sempurna meluncur dari bibir nya jika dia tidak ingat kalau di samping nadin ada anjing penjaganya.


"ini malam minggu nad.. "akbar melirik gavin. " jadi banyak orang yang pacaran jadi macet kan jalanan "ucapan akbar seakan sedang menyindir gavin.


Di dalam otak gavin sudah bermunculan berbagai macam sumpah serapah beserta kata-kata kasar yang ingin sekali dia ucapkan pada laki-laki itu, tapi dia memilih diam.


"vin.. Aku berangkat ya sama akbar "nadin memeluk gavin lalu mendaratkan sebuah kecupan di pipi gavin.


Gavin mengangguk berusaha tersenyum walaupun rasanya ingin sekali gavin memborgol tangan nadin agar tidak bisa lari kemana-mana.


"kamu hati-hati ya nad, banyak orang jahat di luar sana "gavin melirik sinis pada akbar.


Akbar hanya tersenyum miring, tidak perduli dengan perkataan gavin yang jelas-jelas sedang menyindirnya.


"vin.. Saya berangkat sama nadin ya... Tenang nadin aman kok sama saya "ucap akbar.


Gavin hanya mengangguk, justru gavin lebih takut pada orang seperti akbar dari pada perampok atau begal.


Akbar itu bukan orang biasa, dia itu berpotensi jadi Domba yang bisa menjadi serigala suatu saat nanti.


****


"perkenalkan saya nadin, fashion consultan "nadin berjabat tangan pada salah satu artis yang wajah nya sering wara-wiri di televisi.


"saya geana mbak, untuk pemotretan bulan depan saya rasa kita akan bertemu lagi "geana membalas jabatan tangan nadin.


Artis itu nampak ramah seperti apa yang selama ini orang-orang bicarakan di televisi.


"mohon bantuan nya ya mbak nad" geana tersenyum lagi entah untuk keberapa kali sejak perkenalan mereka.


Nadin mengangguk rasanya dia sangat bersemangat bekerja sama dengan artis papan atas yang rendah hati seperti geana.


"nih minuman kamu nad "akbar menyerahkan segelas white wine pada nadin.


"thanks "nadin sedikit memutar gelas lalu menghirup aroma minuman itu sebelum meminum nya secara perlahan.


"kalian sepertinya akrab "geana tersenyum lalu menatap akbar dan nadin secara bergantian.


"kami hanya rekan kerja "nadin memberikan klarifikasi sebelum geana berfikir macam-macam mengenai hubungan nya dengan akbar.


"oh ya ? Kalian terlihat serasi soalnya "geana menatap akbar.


"thanks "akbar tersenyum lalu sedikit mengangkat gelas nya sebagai tanda terima kasih atas pujian geana.


"saya sudah menikah ge.. "nadin memamerkan cincin yang tersemat di jari manis nya dengan senyuman lebar.


"ups.. Maaf mbak nad saya gak tahu kalau mbak nad sudah menikah "


Nadin menggeleng memaklumi, karena bukan hanya geana saja yang sering mengira nadin masih lajang.


"tapi mbak nad.. Hati-hati. Zaman sekarang lagi trend loh .. Perebut istri orang "geana memberikan tatapan sinis pada akbar.


"saya orang nya setia kok "nadin sedikit terkekeh.


"saya percaya mbak nad wanita yang setia "geana kembali tersenyum.


"perumpamaan kamu ini aneh banget gea "nadin ikut terkekeh, hanya akbar yang diam saja mendengar celotehan geana.


"saya pergi kesana dulu mbak, sampai jumpa di photoshoot bulan depan "geana berlalu menemui sekelompok artis yang sedang bercengkrama di depan pintu.


Sepeninggalan geana akbar membawa nadin berkeliling untuk di perkenalkan pada orang-orang yang berpengaruh di industri fashion.


Mulai dari designer, make up artist, fotographer ternama hingga beberapa  kaum sosialita semua di perkenalkan oleh akbar.


Jelas sekali koneksi yang di miliki pria itu tidak main-main. Nadin harus acungi jempol pada bos nya , di usia dia yang masih terbilang muda. Pria itu bukan hanya sukses, tapi sangat populer di kalangan industri fashion.


Nadin merasa sangat bahagia bisa berada di tempat dimana semua orang memiliki fikiran yang sama dengan dia.


Dunia fashion yang nadin cintai.


Sampai mata nadin menangkap dua orang yang sangat nadin kenali, mereka sepertinya sedang bertengkar di lihat dari ekspresi wajah kedua nya yang terlihat kesal.


"bar.. Saya kesana sebentar ya "nadin menunjuk pada sudut dimana terlihat dua orang yang sedang berdiri berhadapan.


Akbar mengangguk lalu kembali sibuk berbincang dengan salah satu wartawan.


Nadin berjalan perlahan mengamati pasangan yang sepertinya sebentar lagi bisa saling melempar gelas, jika nadin tidak segera melerai mereka.


"jangan egois beb !"suara pekikan itu terdengar begitu jelas di telinga nadin saat wanita itu mendekat.


Untuk beberapa saat nadin terdiam mengamati danar yang malam itu begitu terlihat emosi. Selama mengenal danar, nyaris tidak pernah nadin melihat danar marah apalagi dengan perempuan.


Sementara baby di hadapan laki-laki itu sudah nampak berkaca-kaca. Mata yang biasa selalu nampak berbinar bahagia itu sebentar lagi akan menangis, ya nadin sangat yakin.


"kalian kenapa ?"


Pertanyaan nadin sukses membuat baby dan danar menoleh. Wajah mereka nampak terkejut mendapati nadin berdiri di samping mereka, menyaksikan pertengkaran mereka.


Danar mengalihkan tatapan nya dari nadin, gesture tubuh nya mengatakan kalau dia tidak nyaman mendapati nadin mengetahui sisi lain dirinya.


Baby tersenyum melihat nadin, bisa nadin simpulkan ada sorot mata kelegaan yang terpancar di mata baby saat mendapati nadin berdiri di sampingnya.


Lalu dalam sepersekian detik ekspresi baby berubah. Senyuman lebar dia tunjukan pada nadin.


"kak nad disini juga ? "baby sedikit menggucang lengan nadin.


"iya kantor aku di undang di acara ini "jawab nadin balas tersenyum pada baby.


"kak nad aku laper nih, mau nemenin aku makan gak ?"pinta baby yang terdengar seperti kode tersembunyi.


Nadin mengangguk lalu menggandeng tangan baby menuju stand tempat berjajar nya makanan. Sementara danar tidak berkomentar apapun, apalagi bersuara.


Laki-laki itu masih berdiri dengan tangan kiri berada di dalam saku celana, sementara tangan kanan nya memegang segelas minuman.


"danar ?"bisik nadin pada baby seolah mempertanyakan kenapa mereka tidak mengajak danar makan bersama.


Baby balas berbisik."mood nya lagi jelek, tanduk nya lagi keluar "lalu baby terkekeh pelan.


Merka berdua menuju stand tempat macaroni schotel, lalu menyantap makanan itu setelah menemukan dua kursi kosong di pojok ruangan.


"dulu kak nad pernah gak di marahin sama danar "baby mulai membuka sesi curhat nya.


Nadin ragu harus menjawab apa, jika dia bilang dia tidak pernah di marahi oleh danar nanti baby semakin sedih. Tapi jika dia berbohong jika dulu dia pernah di marahi danar, lalu dia pasti harus mengarang untuk alasannya.

__ADS_1


"aku lupa beb, kan itu udah dulu banget "jawab nadin pada akhirnya.


Baby mengangguk, gadis itu mempercayai perkataan nadin saja.


"danar.. Marah sama aku kak "


"loh kalian bukan nya memang sering berantem. Tom & Jerry couple "nadin tersenyum lebar lalu sedikit menggelitik pinggang baby untuk meledek nya.


"geli kak nad.. "protes baby dengan bibir yang mengerucut.


"masalahnya kali ini bukan berantem-berantem manja kayak biasa nya kak.. "


"terus ?"


"danar... Dia marah karena aku minta dia buat hadir di salah satu acara talk show "


"masalah nya dimana ? Bukan nya danar memang sering jadi supir pribadi kamu yaa akhir-akhir ini "nadin kembali meledek.


Memang benar apa yang di katakan nadin, danar memang selalu menemani baby kemanapun setelah dia pulang kerja dan akhir pekan.


Fakta itu di ketahui nadin dari bimo saat nadin ikut bersama gavin untuk hangout bersama geng SMA nya itu.


"tapi kali ini danar harus jadi bintang tamu di acara itu kak, dan danar menolaknya "


"sangat amat menolak sampai akhirnya kami bertengkar hebat "baby menaruh makanan nya di atas meja, rasa lapar yang baby rasakan hilang begitu saja secara tiba-tiba.


Nadin sepertinya bisa menangkap kesimpulan dari cerita baby.


"danar gak suka dia di publikasikan , itu kan maksud nya ?"


Baby mengangguk. "kak.. Percaya gak untuk bertahun-tahun karir aku sebagai artis. Baru sekali ini aku berharap aku bukan artis "


Nadin mengusap perlahan punggung baby,menyalurkan rasa nyaman yang dia miliki untuk gadis yang sudah dia anggap sebagai adik sendiri.


"danar cuma belum siap beb "


"danar bilang dunia aku sama dia berbeda kan, aneh kan maksudnya dia dari dunia lain aku dari dunia manusia itu "


Nyaris saja nadin mau tertawa mendengar bagaimana polos nya perkataan baby.


"apa aku gak cocok ya kak nad sama danar ?"mata baby kembali berkaca-kaca.


"kamu sayang sama danar ?"


"gak tahu "


"cinta sama danar ?"


"gak tahu juga.. "baby menggeleng sudut bibir nya sedikit terangkat mendengar jawaban nya sendiri.


Dahi nadin berkerut"terus kenapa kamu jadi mellow galau gini sama danar kalau kamu gak cinta dan sayang sama dia ?"


Baby menatap nadin dengan sebuah senyuman.


"bagi aku danar adalah orang pertama yang membuka mata aku mengenai sebuah komitmen "


"mungkin kedengaran nya aneh, karena aku baru mengenal danar"


"tapi aku rasa... "ada jeda beberapa detik sebelum baby kembali tersenyum lebar " i want to share my life with him, kak nadin "


Nadin menatap takjub pada baby, jika dia laki-laki sudah pasti dia akan luluh lantak mendengar pengakuan yang begitu jujur dari wanita sesempurna baby.


Ekspresi dan sorot mata gadis itu sama sekali tidak menampilkan kebohongan.


Ingin rasanya nadin merekam apa yang baru saja baby ucapkan, lalu memperdengarkan kembali pada danar.


Laki-laki itu seharusnya merasa beruntung di cintai oleh wanita yang paling di dambakan satu indonesia.


Rasa penyesalan yang dulu sempat nadin rasakan akibat lebih memilih gavin dari pada danar sekarang menguap begitu saja. Ada wanita yang jauh lebih baik dari nadin untuk danar.


Nadin memeluk baby. "aku yakin, perlahan tapi pasti danar pasti cinta mati sama kamu beb "hibur nadin.


Baby mengangguk di pelukan nadin. Baby beruntung bisa mengenal nadin yang ternyata bisa menjadi sosok kakak yang tidak pernah baby miliki. Sepertinya baby harus mengucapkan terima kasih pada gavin yang sudah mempertemukan mereka.


"kalian udah selesai ngobrolnya ?"suara yang terdengar familiar membuat nadin dan baby melepaskan pelukan nya.


Nadin tersenyum lebar mendapati siapa yang berdiri tidak jauh dari mereka, sosok yang sejak tadi menjadi topik obrolan nadin dan baby.


Danar tersenyum canggung, tangan kanan nya menenteng clutch kerlap kerlip yang sudah bisa di pastikan siapa pemilik nya.


Baby menghapus jejak air mata nya yang sudah mengalir sejak nadin yang tiba-tiba saja memeluk nya. Baby memang gadis mellow yang tidak bis di pancing dengan sikap lembut.


"nih tas lo "danar menyerahkan tas yang sejak tadi mencuri perhatian beberapa pasang mata.


Bagaimana tidak mencuri perhatian, jika seorang pria tampan dengan tuksedo hitam menenteng sebuah clutch kerlap kerlip.


"kebiasaan deh taruh barang dimana-mana "omel danar seperti biasanya.


"lain kali gue gak akan berbaik hati bawa in tas lo yang aneh itu, lo fikir gue baci apa "danar kembali ngedumel sendiri.


Bukan nya marah baby malah tersenyum, danar nya sudah kembali normal. Baby membantin.


Baby bangkit dari duduk nya lalu melingkarkan tangan nya di lengan danar. Pria itu diam saja tidak protes sama sekali.


"kamu gak laper dari tadi ngomel terus ?"tanya baby sambil menowel-nowel pipi danar yang langsung di tangkis oleh tangan pria itu karena malu mengingat nadin melihat nya.


"dan.. Jaga baby baik-baik.. Nanti dia di rebut orang lo nyesel deh "ledek nadin.


"kak nad.. Kakak mau ikut kita makan gak ?"ajak baby dengan wajah yang kembali ceria.


Nadin menggeleng. "kalian aja deh , nanti aku jadi orang ketiga dong "nadin tersenyum lebar.


"ah.. Betul juga, nanti danar malah salah fokus lagi ke kak nadin "jawab baby sambil mengerucutkan bibir nya.


Nadin tertawa melihat pasangan itu, sampai dia merasakan ponsel yang dia taruh di dalam clutch nya bergetar.


Gavin Calling...


Nadin menggeser tombol hijau lalu mendekatkan ponsel nya di telinga.


"hallo vin ?"


"nad.. Kamu mau pulang jam berapa ?"


"ya ampun vin, ini baru 2 jam loh aku pergi "nadin melirik arloji nya sebentar. "belum jam 12 ibu peri "nadin terkekeh.


Terdengar helaan nafas panjang oleh gavin. Entah apa yang sekarang sedang di lakukan pria itu, menonton tv mungkin.


"aku kesepian nih nad... Masa aku ngobrol sama hendry ikan peliharaan kita "


Nadin terkekeh membayangkan gavin sedang cuap cuap dengan ikan mas koki yang perut nya menggembung itu.


"aku masih harus liat fashion show nya vin.. Masih ada 1 show lagi "

__ADS_1


Gavin kembali menghela nafas"oh gitu yaa "suara gavin berubah pelan.


"nad.... aku sakit "lalu gavin memutuskan panggilan telfon nya begitu saja.


__ADS_2