
Gavin berulang kali menatap pantulan dirinya di cerimin. Senyum nya tidak pernah lepas dari wajah tampannya itu sejak pagi hari. Ya, hari yang dia nantikan akhirnya tiba juga hari dimana Aurora mengajak nya untuk berkeliling Jakarta. Bagi gavin ini kesempatan yang sangat langka bisa di katakan gavin menganggap ini sebuah kencan, walaupun pasti aurora tidak berfikir begitu.
Setelah merasa dirinya sudah cukup tampan, Gavin meraih kunci mobil yang dia letakkan di atas nakas. Sambil bersiul Gavin berjalan menuju parkiran mobil yang terletak di basement apartemen nya.
Cuaca hari ini sepertinya mendukung acara 'kencan' nya bersama Aurora. Matahari bersinar terang dan burung-burungpun ikut bernyanyi sepertinya itu yang ada di fikiran gavin dan semua laki-laki yang sedang jatuh cinta.
Aurora mengatakan kalau dia akan menunggu Gavin di taman kompleks perumahannya. Tentu saja Gavin tau alasannya kenapa, jika Gavin menjemput Aurora di rumahnya. Jika dia berani melanggar aturan itu, maka jangan harap Gavin masih bernafas esok hari, iya kalian taulah kalau di rumah Aurora ada anjing herder nya alias suami aurora, Hans.
Gavin tau aurora terpaksa menikah dengan lelaki blasteran itu, Tanpa Cinta sama sekali. Karena itu alasan gavin sampai sekarang masih berharap bisa merebut Aurora kembali. Gavin yakin jika aurora bersamanya maka wanita itu akan jauh lebih bahagia. Kalian tau hal gila yang pernah Gavin fikirkan? Menjadi seorang pebinor alias perebut bini orang. Gavin berprinsip memangnya hanya wanita saja yang bisa jadi pelakor? Laki-laki Juga bisa dong.
Maka dikarenakan itu, sejak pertemuannya dengan aurora tempo hari di kantor, membuatnya semakin yakin kalau tuhan dengan baik hati memberikan kesempatan untuk merebut Aurora kembali. Aurora harus jadi milik Gavin apapun yang terjadi.
Gavin Christopher
Kalian tau rasanya saat kencan pertama? Berdebar-debar dan bingung harus melakukan apa. Gue bukan ABG lagi yang harus mikir apa yang harus gue perbuat saat kencan pertama. Tapi nyatanya saat melihat cewek cantik dengan dress hijau muda yang sekarang duduk manis di samping gue ini, gue mendadak kehilangan akal.
Bahkan dinginnya Air Conditioner yang berhembus di dalam ruangan museum ini nyatanya gak bisa menghentikan gue buat nggak keringat dingin malah sepertinya memperparah keadaan.
Aurora mengajak gue mengunjungi sebuah museum yang dia bilang lagi hits di Jakarta. Jujur gue bukan pecinta seni dan gak faham sama berbagai lukisan abstrak yang sedang gue dan Aurora tatap ini. Kalau bukan karena permintaan Aurora gue gak mungkin mau pergi ke tempat ini, bukan Gavin banget.
"Vin.. Kamu tau gak pelukis ini dapet inspirasi dari kisah kelaparan di afrika sana loh, sumpah ini bener-bener bikin aku merinding karena kagum "
Gue cuma bisa cengar-cengir, gue mencoba memperhatikan lukisan anak kecil yang banyak coretan warna warni di sekelilingnya. Ini gue yang bego atau gimana sih kenapa gue gak nangkep ya hubungan antara penjelasan aurora dengan lukisan di hadapan gue.
Tapi demi membuat aurora terkesan gue lebih baik senyam-senyum saja lah sambil sesekali memuji pengetahuan dia. Malu dong kalau Aurora tau pengetahuan gue akan lukisan-lukisan di museum ini nol besar.
"Kamu sampai kapan ra tinggal di Indonesia? "
Oke gue mencoba mencari topik pembicaraan lain supaya Aurora berhenti berbicara tentang sejarah lukisan yang gue gak tau menau itu. Aurora menaik turunkan bahunya, terlihat sekali ada raut kekesalan saat gue membahas masalah itu. Mati gue salah ngomong dong?
"Lo tau lah vin, gue sama hans lebih sering bertengkar dari pada ngobrol normal. Jadi gue gak tau sampai kapan dia ada di Indonesia "
Aurora dan gue memutuskan duduk di sebuah cafe yang terletak di luar museum. Akhirnya gue bebas dari tempat yang bikin gue pusing itu. Aurora dan gue sama sama menyukai espresso. Kalian heran kan kenapa wanita seperti aurora menyukai kopi yang notabene lebih disukai kaum pria itu.
Aurora pernah bilang kalau dia mulai menyukai espresso sebagai pengingat kalau ada rasa yang sama pahitnya dengan kehidupannya. Karena itu dia mulai terbiasa meminum kopi hitam tersebut.
"Aku denger kamu sekarang jadi CEO di perusahaan keluarga kamu? "
Aurora mulai membuka percakapan setelah pelayan selesai mencatat pesanan kami. Kalian tau, suara Aurora bahkan lebih Indah dari pada nyanyian Raisa Adriana itu sih menurut gue.
"Sama kayak kamu yang gak bisa memilih hidup ra, aku juga berakhir jadi boneka papah "
Gue tersenyum miris. Ya jika kalian menebak kalau salah satu alasan yang membuat gue gak bisa move on dari Aurora karena nasib kita sama, maka segera kirimkan nomor rekening kalian karena jawaban kalian 100% benar.
"Miris ya vin hidup kita, punya banyak uang tapi gak bahagia "aura terkekeh, gue tau ketawa dia palsu.
"Begitulah ra, lo sama gue sama-sama hidup dalam dunia yang palsu. Bahkan sering kali kita berurusan sama orang yang palsu juga kan haha "
"Iya, gue iri loh vin sama orang yang bisa punya temen sejati. Gue pengen ngerasain pajamas party sama sahabat-sahabat cewek, camping bareng temen sekolah, pergi shoping bareng ah bagi gue itu bener-bener mimpi yang Indah "
Aurora tersenyum sambil meminum kopi nya perlahan-lahan dengan gaya angggun. Duh my princess lagi minum aja cantik banget.
"Lo bisa kok dapetin itu semua ra "
Aurora mendelik, menatap gue seolah-olah pernyataan gue barusan hanya sebuah candaan.
"Gue gak bercanda kalau lo mikir begitu "
"Gak mungkin gavin, seluruh dunia tau gue istrinya Hans Anderson dan wajah gue lo liat "aurora menunjuk pada sebuah billboard besar yang terpampang di sebuah pusat perbelanjaan.
"Lo fikir orang-orang bakal bisa nggak kenal sama gue kalau wajah gue jelas-jelas terpampang disana "
Aurora benar, gue rasanya ingin melempar billboard iklan sebuah perhiasan ternama itu dengan batu besar. Gue bahkan sengaja pura-pura gak liat jika kebetulan melintas di jalan ini.
"Betul juga , gue bahkan yakin seluruh mata yang lagi keppo sama kita berdua ini, pasti abis ambil foto kita di handphone mereka. Dan besok foila kita akan jadi bahan pembicaraan di account gosip lambe itu "
Gue dan aurora bukannya nggak sadar kalau sejak kami masuk ke cafe ini seluruh mata tertuju pada kami. Lihat saja besok akun lambe itu akan menampilkan foto gue dan Aurora yang sedang jalan bersama . Ya gue harap si Hans itu menceraikan Aurora karena skandal ini, dan fuila Aurora jatuh ke pelukkan gue.
Wahahaha, boleh dong gue ketawa jahat lagi.
"Vin tapi gue rasa gue bakalan punya sahabat deh "
__ADS_1
"Siapa? Pengawal lo yang badan nya gede banget itu? Atau dayang-dayang lo di istana mungkin "
"Hahaha gavin gavin kenapa sih lo kalau ngomong selalu ngaco, nggak mungkin lah mereka "
"Terus? "
Aurora membetulkan posisi duduknya. Dari binar di mata dia gue tau kalau hal yang akan dia ceritakan ini bener-bener penting. Oke gue mulai menyimak dengan seksama.
"Inget kan tempo hari waktu kita ketemu gue bilang kalau gue habis antar temen gue "
Gue mengangguk. "Terus? "
"Percaya gak sih fin, setelah gue inget-inget dia mirip banget sama lo. Sumpah gue seperti melihat lo tapi dalam versi cewek "
"Hah? "
Ini aurora bukan lagi nyeritain si Nadin kan? Masa iya ada orang lain lagi yang wajahnya mirip gue? Segitu pasaran nya kah wajah ganteng gue ini? Tapi kalau sampai orang yang di maksud aurora itu Nadin. Sumpah abis ini gue harus mandiin Aurora pakai antiseptik. Fungsinya? Ya supaya Aurora terbebas lah dari lintah darat penyedot harta itu
Eh tapi kok jadi niat mandiin aurora sih, gue kan jadi mikir yang aneh-aneh. Gue jadi membayangkan kalau aurora... Gavin berhenti berfikiran mesum.
"Serius gavin, dia orangnya baik keliatannya dan entah kenapa feeling gue mengatakan kalau gue sama dia bakalan cocok jadi sahabat "
"Ah lo kan baru ketemu dia sebentar, lo gak bisa dong nilai orang secepat itu "
"Feeling gue gak pernah salah "
"Aurora, kalau feeling lo bener, lo pasti milih gue dari pada hans si pangeran kodok itu " gue berbicara dalam hati, untung aurora gak mungkin denger.
"Gue harus ketemu lagi pokoknya sama dia "
Aurora terlihat sangat antusias menceritakan teman barunya itu. Ya semoga saja orang yang aurora bilang itu gak seperti teman-teman aurora yang lalin, memanfaatkan kekayaan dan ketenaran aurora doang.
Aurora Sharira
Gue tiba di rumah tepat pukul 8 malam. Gue sengaja minta Gavin buat gak mengantar gue, karena kalau sampai dia ketemu hans, gue yakin pria itu gak mungkin diam saja.
Gue tau jam segini hans pasti gak mungkin ada di rumah. Pasti dia sedang pergi ke club bersama dengan para jalang-jalang nya itu. Gue jadi ingat perkataan dia tempo hari, dia sebut gue ibu yang gak becus urus anak. Coba kalian fikir apa pantas dia berkata begitu di saat dia bukan suami yang baik.
Gue masih inget waktu dia kasih gue buket bunga Mawar yang super besar di acara launching produk perhiasan yang menjadikan gue dan dia sebagai brand ambasador nya. Dia berakting sebagai cowok super romantis dan suami yang sayang istri di depan semua awak media yang meliput acara itu.
Kalian penasaran reaksi gue gimana waktu acara itu? Oke demi kepentingan sebuah gambar tentu aja gue pura-pura bahagia dengan senyum lebar ala iklan pasta gigi. Tapi yang terjadi setelahnya saat pulang menuju rumah, dengan mudahnya gue membuang buket bunga Mawar itu ke tempat pembuangan sampah saat kami melintasinya.
Hans hanya diam dan tidak menoleh saat gue membuang buket bunga itu seolah dia tau kalau cepat atau lambat gue akan membuang benda yang gue anggap sebagai sampah.
"Dari mana aja kamu? "
Sial itu suara hans, gue menengok ke sumber suara. Hans berdiri di depan kamar justin, sepertinya pria itu baru saja dari dalam sana.
"Jawab aurora, kamu dari mana saja?! "
Nada suara hans mulai meninggi, gue yakin habis ini dia akan mencaci maki gue dengan kata-katanya yang kasar. Tenang saja gue sudah kebal.
"Aku dari mana aja itu bukan urusan kamu hans "
Gue berjalan melewati dia menuju kamar gue yang terletak di ujung lorong. Kalian pasti mikir kan kenapa gue menyebut kamar gue, karena gue sama hans gak tinggal di kamar yang sama.
"Berhenti "
Gue tetap berjalan tanpa perduli perkataan hans. Terus terang gue capek dan butuh berendam di air hangat. Terlebih kalau gue harus mendengar ocehan hans, bukan cuma badan tapi mental gue juga ikut capek.
"Aku bilang berhenti aurora! "
Hans mencengkram tangan gue, mau gak mau gue berbalik menghadap dia. Entah kesalahan apalagi yang gue perbuat kali ini.
"Aku capek hans, bisa gak sehari aja kita gak berantem "
Hans melepaskan cengkraman tangannya. Kemudian menatap gue dengan ekspresi yang sulit gue tebak.
"Masih berani kamu ketemu dia? Cih murahan sekali ya kamu berani-berani nya ketemu cowok lain di saat status kamu sudah menjadi istri aku "
Gue menghela nafas panjang, membutuhkan energi banyak memang untuk membalas perkataan sampah ini.
__ADS_1
"Haha lucu ya kamu berbicara seperti itu, seolah kamu adalah cowok paling suci di dunia ini "
"...."
Gue maju selangkah memangkas jarak diantara kami. Gue beranikan diri untuk menatap matanya yang sedang menatap gue dengan sangat tajam.
"Dengar baik-baik tuan hans anderson yang terhormat. Saya menikah dengan anda sama sekali bukan di dasari atas Cinta. Bukankah setelah saya melahirkan justin tugas saya sebagai istri anda berakhir ?"
Hans masih terpaku di tempatnya, gue heran kenapa kali ini dia diam saja. Biasanya dia akan mengeluarkan bisa ular yang bisa menyakiti hati siapapun yang mendengar ucapannya.
"Cinta? Ckck "hans mundur perlahan, gue bisa merasakan emosi hans sudah sampai di ubun-ubun.
"Persetan dengan Cinta aurora !!! . Orang seperti kita gak butuh yang namanya Cinta. Tugas kita hanya menjadi panutan untuk public dan menunjukan Citra yang baik sebagai keturunan bangsawan "
Gue menghela nafas, kali ini gue betul-betul sudah lelah berbicara pada mahluk yang mungkin jiwa nya sudah dia gadaikan kepada iblis. Gue kembali berjalan menuju kamar gue, dan hans tidak mengejar guel lagi. Mungkin dia juga lelah membalas setiap perlawanan gue padanya. Tapi perkataan dia yang tiba-tiba itu membuat gue menghentikan langkah saat tangan gue sudah menggapai handle pintu.
"Justin sakit, dia sekarang sedang di periksa oleh dokter Louis "
Gue buru-buru lari ke kamar justin. Berharap kalau pria kecil itu tidak kenapa-kenapa. Ya mungkin hans benar gue memang tidak pantas menjadi seorang ibu. Maafkan mamah justin.
Nadin Almira Queen
Sudah hampir dua minggu gue bekerja sebagai sekretaris gavin. Dan gue curiga akhir-akhir ini gavin bisa bersikap kooperatif dan memperlakukan gue selayaknya bos memperlakukan sekretaris nya.
Ya gue sih seneng pake banget malah kalau cowok itu sudah lupa sama dendam masa lalu nya dan mulai bisa bersikap dewasa selayaknya pria seumur dia.
Tapi gue tetap saja was was setiap harinya. Gue selalu parno dan takut kalau di balik sikap tenang nya gavin , terdapat rencana busuk yang sudah disusun oleh lelaki yang otak nya gak ada itu.
"Nad minggu depan apa jadwal saya? "Suara gavin membuat lamunan gue buyar.
Oh iya gue lupa bilang, sekarang gue dan gavin sudah berbicara dengan kata saya dan anda.
"Minggu depan bos ada perjalanan ke Bali. Tuan Matsumoto mau meeting nya di adakan disana karena beliau tidak akan lama berada di Indonesia "
Gavin mengalihkan pandangan nya dari berkas yang baru saja dia tanda tangani. Kemudian menatap gue, tuh liat aja abis ini pasti penyakit nya kumat.
"Nad "
"Iya? "
"Bisa minta tolong ?"
Ini kuping gue yang salah atau emang gavin barusan ngomong minta tolong sama gue sih? Gue mengernyitkan dahi. Fix ada yang salah dengan otak nya gavin.
"Bisa tolong booking 3 kamar? "
"Buat? "
"Ya buat saya sama kamu lah "
"Terus yang satu nya? "
"Keppo banget sih lo ! Udah cepetan booking gak usah banyak tanya! "
Tuh kan bener apa kata gue, mana mungkin gavin taubat dari sifat bossy nya dia. Gue langsung keluar dari ruangan gavin tanpa berniat berbicara lagi. Bodo deh mau di bilang gue kurang ajar sama bos atau apapun.
Tunggu deh, berarti gue bakalan ke Bali sama gavin dong? Duh gue gak bisa ngebayangin sikasaan macam apa yang lagi menunggu gue disana. Seseorang selamatkan gue please
Tapi gue penasaran siapa ya penghuni kamar satu lagi yang gavin minta gue booking in juga. Omo apa jangan-jangan buat pacar nya gavin? Tapi selama gue kerja sama si kunyuk itu, gak pernah tuh gue liat dia sama cewek.
Lagian cewek mana yang mau sama cowok kayak gavin. Cowok yang cuma menang cashing doang. Dalemannya? Halah cuma barang KW.
Sambil membuka aplikasi untuk booking hotel gue iseng-iseng buka instagram. Lumayan lah penyegaran otak sedikit, siapa tau ada foto-foto pria tampan yang nongol di timeline gue.
Ya secara followers gue yang mencapak 3k itu 80% cowok semua. Dan pasti kalian taulah cowok seperti apa yang gue terima jadi followers gue. Saat gue lagi asik menscrol timeline di instagram, gue dibuat tercengang oleh postingan account lambe.
Gue gak salah liat kan? Ini cowok dan cewek yang sedang duduk berdua di sebuah cafe dan keliatan mesra ini.. Gavin dan aurora.
Gue langsung terperanjat, jadi cewek nya gavin itu aurora? Tapi aurora kan udah punya... Oow i got your secret gavin gue tersenyum lebar seolah menemukan senjata rahasia.
Bersambung
__ADS_1