
"danar mau kemana ?!!"teriak salah satu rekan kerja danar yang bingung dengan tindakan danar yang tiba-tiba saja pergi begitu saja.
Tanpa alasan yang jelas saat menuju ruangan meeting, danar pergi setelah menerima panggilan telfon entah dari siapa.
Wajah laki-laki itu juga nampak panik, bahkan beberapa orang yang bertemu danar hanya di acuhkan begitu saja oleh pria itu.
Berulang kali dia mencoba mendial nomor yang membuat dia berlari kencang ke arah parkiran seperti orang gila.
Tapi hanya suara operator yang menjawab panggilan tersebut. Danar panik , cemas , mungkin sedikit khawatir.
Walaupun menganggu hidup danar, tapi baby bukan orang jahat. Jadi tindakan danar kali ini dilandaskan karena rasa kemanusiaan.
Iya hanya itu saja
Saat danar sudah berada di dalam mobil dia bahkan tidak tahu tempat mana yang harus dia tuju.
Danar tidak mengetahui rumah wanita itu apalagi tempat-tempat yang mungkin wanita itu kunjungi. Diam-diam danar menyesali sifat nya yang terlalu cuek sehingga tidak perduli dengan siapapun dan tidak mau tahu apapun.
Tadi Pagi Wanita itu tiba-tiba saja menelfon nya dengan suara lirih sambil meminta tolong. Siapapun di posisi danar tentu akan merasa panik.
Terlebih di saat danar mencoba menghubungi baby kembali, wanita itu tidak juga menjawab telfon nya. Danar jadi membuat berbagai spekulasi sendiri. Dan dari semua spekuliasi yang dia buat, tidak ada satupun yang berujung baik.
Danar menarik nafas, di situasi seperti ini dia harus berfikir jernih. Jangan sampai bertindak gegabah karena mungkin saja baby dalam bahaya.
Mengingat profesi gadis itu adalah seorang public figure, mungkin saja kan dia punya haters di luar sana. Atau bisa jadi fans fanatik yang mau berbuat macam-macam pada baby.
Oke danar mulai lagi dengan segala asumsi nya.
"dit lo lagi dimana ?"
"di kantor lah nar, ngaco lo jam segini gue lagi dimana lagi coba "ditho terkekeh.
Danar jarang sekali menelfon apalagi hanya untuk bertanya mengenai keberadaan nya. Pasti ada hal penting yang bisa di kategorikan urgent sampai seorang danar argantara menelfon nya dengan suara seperti orang yang sedang panik.
"lo.. Punya.. Nomor baby gak ?"
Ditho menjauhkan ponsel nya lalu terkekeh, tebakkan nya benar ternyata. Danar menelfon nya memang dalam keadaan urgent.
Urgent mencari soulmate nya maksudnya.
"gak ada lah, lo kalau mau nomor baby tanya sama yang nyomblangin kalian... tuh si Gavin "
Shit
Danar mengeram sendiri. Kenapa harus berhubungan dengan laki-laki itu. Jika di dalam ponsel danar terdapat 1000 orang yang bisa dia tanyakan mengenai baby, maka dia tidak akan mau menghubungi nomor itu lagi, nomor gavin.
"sebenarnya gue punya nomor baby sih "danar pada akhirnya mengaku pada ditho.
Dia yakin ditho cepat atau lambat akan menjadikan ini sebagai bahan gibahan saat mereka berkumpul. Belasan tahun dia berteman dengan ditho dia tahu kalau teman nya itu salah satu admin lambe gibah.
Apalagi ditho sudah berkoalisi dengan bimo yang sempat dapat predikat raja julid saat SMA. Semakin jadilah mereka sebagai duo tukang gosip.
Tapi kali ini danar akan mengesampingkan efek samping jika kawan nya itu tahu prihal hubungan danar dan baby.
Danar harus menemukan baby secepatnya !
Danar butuh nomor baby yang lain, siapa tahu saja ponsel baby yang tadi menghubungi danar low bat atau di buang oleh seseorang. Lagi-lagi fikiran buruk membuat danar semakin panik.
"bimo, dia punya nomor baby pasti "ucap danar kembali.
"lo tau sendiri isi ponsel bimo cuma ada istrinya si macan tutul, nomor lo, gue sama gavin "
Danar mengangguk-anggukkan kepala, dia baru ingat kalau bimo hanya punya 2 ponsel. Satu ponsel pribadi dengan isi kontak yang ditho sebutkan tadi. Lalu ponsel kedua berisi kolega bimo yang sialnya ponsel itu di pegang oleh istri bimo.
Baiklah sepertinya tidak ada lagi jalan keluar, dia harus menemukan baby secepatnya.
Hanya menatap deretan nomor yang sudah sangat lama tidak pernah danar hubungi ini mampu membuat jantung danar berdegup kencang.
Kalian jangan mikir danar deg-deg an karena jatuh cinta dengan gavin. Amit-amit ..
Bahkan jika benar danar itu penyuka sesama jenis, gavin akan dia tendang dari list pria idaman nya.
Membayangkan nya saja sudah membuat danar merinding.
Perasaan ini lebih seperti menghubungi mantan pacar, ada rasa kesal tapi di campur rasa rindu. Oke udah semakin ngaco sepertinya otak danar.
Panggilan pertama gavin belum juga menerima, lagi-lagi suara operator sejuta umat yang menjawab nya.
Heran kenapa hari ini suara operator sejuta umat itu terdengar dimana-mana. Danar mencoba peruntungan nya lagi, kembali dia hubungi nomor itu.
"hallo "suara gavin membuat danar diam untuk beberapa detik.
"hallo danar ? "kali ini gavin menyebut namanya, danar fikir gavin sudah menghapus nomor nya, ternyata tidak.
Walaupun hubungan mereka sudah membaik, tapi untuk berbicara satu sama lain di telfon seperti ini memang tidak pernah mereka lakukan.
Masih ada perasaan canggung yang membuat hubungan pertemanan mereka seperti berjarak.
"vin.. Lo punya nomor telfon baby ?"
Danar merutuki kebodohannya sendiri, jelas-jelas gavin dan baby itu berteman akrab mustahil dia tidak punya nomor baby. Kenapa danar jadi bodoh begini.
Pasti sekarang gavin sedang berfikir macam-macam. Walaupun tidak separah bimo dan ditho tapi gavin ini juga memiliki sifat keppo akut yang berujung pada gosip.
Tapi hanya gavin satu-satu nya orang yang mungkin tahu nomor baby yang lain. Kali ini danar akan mengesampingkan rasa gengsi nya, ada hal yang jauh lebih penting.
"lo nyari baby ? "gavin malah kembali bertanya.
"dia ada di rumah gue "
Seketika danar mulai menemukan titik terang, yang sialnya membuat danar merasa dia sedang di kerjai oleh wanita itu.
Danar mengeram sendiri, bisa-bisa nya dia percaya dengan kata-kata wanita itu. Bahkan danar melarikan diri dari meeting penting hanya karena ini !
Damn !
Danar betul-betul harus bertemu dengan baby, pembalasan dendam ini tidak akan mudah.
Lihat saja, baby fikir menyenangkan mengerjai seorang danar argantara.
****
"beb, lo kedatangan tamu sepertinya "gavin setengah berteriak agar baby yang sedang ketawa cekikikkan itu bisa mendengar ucapannya.
"gue boleh masuk ?"tanya danar dengan ekspresi wajah seolah mengatakan minggir gue mau ketemu sama cewek itu .
Gavin berjalan menuju ke ruang tamu dengan danar yang mengekor di belakang.
Setelah sampai ruang tamu , baby belum juga menyadari kalau ada seseorang yang berdiri sambil bersedekap dengan tatapan laser yang siap menghujani nya dengan kata-kata makian.
Tertawa bersama nadin membuat baby lupa segala nya. Mereka tiba-tiba saja langsung menjadi akrab sejak baby membocorkan rahasia gavin.
Mereka langsung memutuskan untuk berkoalisi untuk menjadi sahabat. Tentu saja dengan asaz saling menguntungkan, dimana nadin dapat info tentang gavin dan baby tentu saja info tentang danar.
"ehm.. "danar sengaja mengeraskan suara nya supaya membuat dua wanita yang sedang tertawa itu menyadari keberadaannya.
"beb.. Beb.. Ada yang nyariin itu "nadin menunjuk seseorang yang berdiri di belakang baby.
__ADS_1
"ups.. "baby tersenyum lebar saat tatapan mata nya bertemu dengan tatapan mata danar yang sudah terlihat murka.
Danar mulai mengatur nafas, emosi nya sudah memuncak sejak dia menyadari kalau wanita yang sedang tersenyum bodoh di depan nya ini sedang mengerjai nya.
Dengan menggunakan ibu jari nya menginstruksikan baby untuk berjalan mendekatinya.
Baby menggeleng, wanita itu malah berpegangan pada kaki sofa tempat terdekat yang bisa dia pakai untuk melindungi diri dari amukan danar.
"beb, udah nurut aja danar gak gigit "ucap nadin yang masih duduk di hadapan baby.
"gak gigit gimana ? Itu liat aja dia udah melotot ke arah aku ka , pasti aku mau di buang ke lumpur lapindo sama dia "
"bawa aja nar bawa, di rumah ini dia jadi hama wereng, buat gue sama nadin ribut terus "gavin semakin mengompori.
Rasa dendam nya terbalaskan sudah pada baby. Wanita itu memang butuh pawang untuk menghadapi prilaku nya yang terkadang bar bar.
Dan danar sepertinya orang yang tepat.
"baby ariestya azalea .. Kesini gak !"ucap danar dengan nada datar.
Bukan nya merasa takut, baby malah di buat meleleh saat danar menyebutkan nama panjangnya dengan gaya yang luar biasa kharismatik.
Entah kenapa baby jadi berimajinasi sendiri. Danar baru menyebutkan nama lengkap nya saja hati baby di buat jungkir balik.
Apalagi kalau danar mengucapakan nama baby pake embel-embel saya terima nikahnya baby ariestya binti bla bla bla lalu semua orang berkata SAH. Pingsan di tempat pasti baby.
"beb.. Itu di panggil danar "guncangan di bahu baby membuat kesadaran nya kembali.
Di tatap nya danar yang masih memasang mode anjing galak di jidad nya. Baby beranikan diri untuk menghampiri danar.
Apapun yang terjadi danar tidak mungkin kan sampai memukul baby. Paling laki-laki itu akan ceramah sepanjang jalan di iringi dengan makian-makian tajam.
Semakin dekat jarak antara baby dan danar malah membuat baby ciut. Danar yang sedang dalam mode marah ternyata lumayan menyeramkan.
"kenapa ?"baby masih menunduk keberaniannya untuk hanya sekedar menatap danar hilang entah kemana.
"jadi bisa jelasin ke gue maksud telfon lo apa ?"ucap danar dengan nada dingin.
Danar dalam mode marah betul-betul membuat baby tidak bisa berkutik. Danar menyeramkan jauh lebih menyeramkan dari pada pak polisi yang sedang mengintrogasi maling ayam.
Gavin dan nadin hanya bisa menatap pasangan itu tanpa mau berkomentar apapun. Gavin yang bisa menbaca situasi langsung merangkul pundak nadin. Kesempatan untuk berdamai dengan istrinya.
"jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan "bisik nadin dengan tatapan setajam silet.
Gavin langsung melepaskan pelukannnya lalu duduk agak menjauh, sebab nadin menginstruksikan laki-laki itu untuk menjauh.
Ya tuhan, mendapatkan maaf nadin ternyata sangat sulit.
"jawab gue baby !"suara danar semakin meninggi, baby tidak juga mengatakan apapun , gadis itu masih menunduk di hadapannya.
"danar, kalian bisa bicarakan ini baik-baik nar "saran nadin.
Danar menoleh ke arah nadin, di tatap nya wanita yang dulu pernah danar cintai setengah mati itu.
Perasaan danar menjadi kacau, bisa-bisa nya jantungnya masih berdebar saat menatap nadin.
Bahkan danar seolah mengabaikan gavin yang ada di dekat nadin. Gavin yang jelas berstatus sebagai suami sah nadin. Dan tempat yang sekarang danar datangi adalah rumah mereka.
Danar tersenyum menatap nadin, wanita itu balas menatap nya. Gavin yang pandai membaca situasi tentu saja langsung melayangkan aksi nya. Istrinya itu langsung dia rengkuh ke dalam pelukkan nya.
Dengan gesture sombong gavin menegaskan jika nadin sudah SAH menjadi miliknya. Tidak akan dia biarkan danar menjadi pebinor, walaupun dulu predikat itu pernah gavin miliki.
Senyum danar langsung memudar . Dia cukup tahu diri untuk tidak merebut sesuatu yang bukan miliknya. Walaupun berulang kali niat itu ada di benak danar, tapi laki-laki itu tidak segila gavin. Dia tidak mau di cap sebagai perebut bini orang.
"sorry kalau kedatangan gue buat kacau di rumah kalian "ucap danar.
"emang boleh ?"danar melirik gavin seolah meminta izin.
Nadin yang sadar akan maksud danar langsung berdiri lalu menghampiri danar dan baby.
"iya.. Bagaimanapun kalian tamu di rumah gue, dan gue bahagia banget kalau kalian... "nadin melirik danar lalu melirik baby.
"bisa sering-sering kesini sama-sama"
Danar bukan nya tidak menangkap ucapan nadin, dia tahu maksud wanita itu secara tidak langsung mendukung hubungan nya dengan baby.
Tapi apa danar bisa jatuh cinta lagi ?
****
"kak nad kita masak apa ? "baby terlihat antusias setelah mengenakan apron yang sama persis seperti yang dipakai nadin.
Mereka berdua terlihat seperti kakak beradik. Nadin jadi merasa menyesal sempat berprasangka buruk pada baby.
"hem... Kita masak.. Ayam bakar bumbu rujak aja gimana ?"
"wow, aku gak pernah tuh masak itu. Aku cuma bisa masak nasi goreng kayaknya hehe "baby tertawa lalu berjalan menuju kulkas.
"kak ini aku ambil bahan nya apa aja ?"tanya baby yang sedang mengagumi isi kulkas nadin yang sangat amat lengkap dan rapih.
"kamu ambil ayam di rak paling atas di wadah yang warna nya bening, terus bumbu-bumbu nya ada di rak nomor 3 ada wadah yang warna nya ungu muda beb "ucap nadin sambil menuangkan air ke dalam panci.
Setelah memasukkan ayam ke dalam panci untuk di rebus baby dan nadin memutuskn untuk menunggu di bangku pantry.
"dimakan beb "nadin meletakkan sepiring semangka di hadapan mereka.
"astaga kak, kalau aku tinggal di rumah ka nadin bisa gemuk nih aku makan mulu. Pantes gavin cinta mati sama kakak "protes baby walaupun semangka itu dia lahap juga.
Nadin tersenyum lebar lalu memasukkan satu potong semangka ke dalam mulutnya juga.
"kamu gak tau aja beb history aku sama gavin itu gimana "
"emang gimana kak ? Duh aku keppo nih "baby kembali memasukkan sepotong semangka ke dalam mulutnya.
"dulu aku sama gavin itu.. Saling benci, lebih tepatnya gavin sih yang benci aku "
Baby mendelik. " cewek sempurna kayak kak nadin gini di benci gavin ? Betul-betul harus di pukul tuh kepala gavin pakai panci biar waras "ucap baby dengan gaya berapi-api.
Nadin tertawa terbahak-bahak, sepertinya dia betul-betul menemukan sekutu untuk melawan gavin suatu saat jika laki-laki itu macam-macam.
"terus aku juga gak tahu sejak kapan gavin jadi cinta sama aku, ya mungkin betul kali ya istilah dari benci jadi cinta "
Baby mengangguk menyetujui perkataan nadin. Lalu dia langsung menundukkan kepala, memainkan semangka yang masih tersisa beberapa potong di atas piring.
Jika benar dari benci bisa menjadi cinta, apa itu juga akan berlaku padanya. Apa suatu saat danar juga akan berbalik mencintainya ?
"mikirin apa sih beb ?"tanya nadin yang terlihat sibuk mengolah bumbu di dalam blender.
"danar ya ?"tebak nadin yang langsung di balas anggukkan oleh baby.
Nadin tersenyum menatap baby, wanita itu betul-betul mengingatkan nadin akan masa lalu nya dulu.
"kak, apa aku bisa buat danar luluh ? Kakak tau kan kalau danar... Masih cinta sama kak nadin "baby mulai sesi curhat nya.
Nadin mengangguk, walaupun ada perasaan tidak enak. Fakta jika danar masih mencintai nya memang masih nadin rasakan.
Tatapan mata laki-laki itu saat menatapnya di ruang tamu, masih sama seperti tatapan yang selalu danar berikan dahulu. Hangat dan menenangkan.
__ADS_1
"kak nadin, gimana ya caranya supaya danar bisa jatuh cinta sama aku ?"tanya baby dengan tatapan berbinar.
Dari sorot matanya saja nadin sudah bisa melihat jika baby ini memang sudah jatuh cinta pada danar. Ada dua jenis tatapan yang tidak bisa di sembunyikan oleh seorang manusia.
Pertama, tatapan saat sedang jatuh cinta. Kedua, tatapan saat sedang berbohong. Dan untuk baby jelas option pertama yang jadi jawaban nya.
"cukup jadi diri kamu sendiri beb "
Baby menggeleng. "aku gak yakin kak "
"aku emang gak bisa bilang danar sudah jatuh cinta sama kamu "
Baby menunduk menatap potongan semangka yang sudah tidak beraturan akibat ulahnya. Tiba-tiba selera makan nya hilang entah kemana.
"tapi satu yang bisa aku pastiin, danar perduli sama kamu "
Baby mendelikkan mata, perkataan nadin membuatnya kembali merasa memiliki harapan lagi.
"ah kak nadin jangan PHP in aku deh "baby sedikit terkekeh, kalaupun nadin hanya menyenangkannya saja rasanya baby bahagia.
Nadin mengangguk dengan mantab. "sebetulnya ini rahasia umum semua orang yang kenal danar tahu kalau dia workaholic "
Baby masih menyimak perkataan nadin. Baby belum menemukan titik temu antara danar yang workaholic dan danar yang perduli padanya.
"dia bahkan tidak pernah menggunakan hak cuti nya sekalipun "nadin melanjutkan penjelasannya yang masih belum baby fahami.
"dimana korelasi antara danar yang workaholic dan danar yang perduli sama aku sih kak ?"
Nadin terkekeh betul-betul merasa lucu dengan baby yang ternyata jauh lebih cerewet dari pada gavin, pantas saja dua manusia itu tidak akur.
"kamu inget dong ini hari apa ?"
"senin ?"
"pasti danar pergi ke kantor gak ?"
Baby mengangguk membenarkan pertanyaan nadin yang menurutnya tidak penting. Semua orang juga tahu jika hari senin pekerja kantoran pasti bekerja.
Tunggu dulu...
"kak .. Aku tahu maksud kakak "mata baby kembali berbinar, baru dia mengerti maksud dari penjelasan nadin.
"jadi sekarang kamu percaya dong kalau danar perduli sama kamu ? "ucap nadin dengan senyuman manis nya.
Baby menutup mulutnya sebelum dia kelepasan berteriak kencang karena terlalu bahagia mengetahui fakta jika danar sedikit perduli padanya.
Baby menghambur ke pelukkan nadin. "makasih ya kak berkat kakak aku jadi semangat buat memenangkan hati danar lagi "ucao baby dengan tulus.
Nadi mengangguk tangannya menepuk nepuk punggung tangan baby yang melingkari pundak nya.
"sama-sama beb, percaya aku deh kamu gak akan nyesel memperjuangkan danar "
Baby melepaskan pelukkan nya lalu kembali duduk di hadapan nadin.
"pokoknya ya kak, aku bersumpah akan mendepak nama kak nadin dari hati nya danar "ucap baby dengan semangat 45.
Nadin tertawa terbahak-bahak melihat tingkah baby yang sudah seperti pejuang kemerdekaan saja.
"semangat baby, aku dukung kamu 100% "
"kak nadin rela kan tapi ?"
Nadin tertawa lagi, pertanyaan konyol macam apa itu. Jelas-jelas di hati nadin cuma ada gavin gak ada laki-laki lain yang bisa mengontrak disana.
"ikhlas lahir batin, kalau perlu aku bonusin boba biar kamu seneng "
Giliran baby yang tertawa kencang, pantas saja gavin cinta mati dengan nadin. Bukan hanya cantik dan baik tapi nadin ini betul-betul wanita yang humoris.
***
Setelah selesai dengan masakannya, baby dan nadin membawa masakan itu ke atas meja makan. Menyiapkan nasi serta lauk pauk lalu menata nya secantik mungkin.
Lalu baby berinisiatif untuk memanggil gavin dan danar. Ternyata mereka berdua sedang duduk di balkon yang langsung mengarah ke kolam renang.
Pelan-pelan baby berjalan menghampiri mereka berdua. Awalnya baby berniat untuk mengagetkan mereka berdua, tapi baru saja baby ingin membuka suara untuk memanggil mereka, suara danar membuat baby mengurungkan niat nya.
"gue tahu gue brengsek, masih cinta sama cewek yang jelas udah punya suami "ucap danar.
"mau sampai kapan nar ? Lo mau sampai kapan cinta sama nadin ?"suara gavin terdengar pelan tapi sarat akan emosi.
"gue juga gak tahu vin "
"lo jelas tahu ada wanita lain yang cinta sama lo ?"
Danar sedikit tersenyum, dia tahu siapa yang gavin maksudkan.
"kasih dia kesempatan nar, siapa tahu dia betul-betul jodoh lo "
Danar tertawa bukan karena perkataan gavin lucu, tapi karena danar tahu gavin sedang merasa terancam.
"lo takut kan nadin gue rebut ?"ucap danar lalu melirik gavin dengan tatapan mengejek.
"gue percaya nadin itu jodoh gue, jadi kalaupun suatu saat dia nyeleweng sama lo, gue yakin dia bakalan balik lagi sama gue "gavin tersenyum bangga, tumben kata-kata gavin betul.
"jodoh ? Hah... "danar menghembuskan nafas.
Jodoh ? Apa betul jodoh itu ada ? Danar sendiri tidak yakin. Buktinya disaat danar yakin jika nadin jodoh nya, wanita itu ternyata memilih jodoh yang lain.
"kasih baby kesempatan nar, buka hati lo buat dia, lo berhak buat bahagia lagi "gavin menepuk pundak danar sekilas.
Danar menoleh menatap gavin yang sedang tersenyum padanya. Senyuman gavin kali ini betul-betul mengingatkan danar saat pertama kali mereka memutuskan untuk jadi teman. Senyuman tulus seorang sahabat.
"thanks vin "jawab danar.
"jadi lo kesini buat nyamperin baby nih ceritanya ?"seringai jahil muncul dari wajah gavin
"gue rindu sama mantan gue " ucap danar dengan jujurnya tanpa perduli dengan gavin yang sudah menunjukan gelagat-gelagat murka.
"makan yuk gue laper vin, mau nyobain masakan nadin. Rindu gue sama masakan mantan calon istri gue itu "ucapan danar betul-betul membuat gavin emosi.
"keterlaluan lo danar !!"gavin bangkit dari tempat duduk nya berniat menghampiri danar untuk menghadiahi laki-laki itu sebuah jotosan.
Baru selangkah gavin menuju tempat danar, gavin melihat seseorang berdiri di ambang pintu.
"baby ?"panggil gavin.
Danar yang mendengarnya juga ikut menoleh menatap baby.
"sorry kalau aku ganggu, kalian di panggil sama kak nadin "
Gavin mengangguk lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Danar juga beranjak dari tempat duduknya untuk menyusul gavin menuju ruang makan.
Namun saat danar berjalan tepat di hadapan baby, wanita itu mencengkram tangannya. Danar menghentikan langkah lalu menunduk untuk menatap baby.
"kita harus bicara danar "
Danar mengangguk setelah itu berlalu dari hadapan baby.
__ADS_1