
Danar Argantara
Gue menatap langit yang hari ini tidak cerah seperti biasanya, awan gelap perlahan mulai memenuhi langit jakarta siang ini. Ditemani secangkir cappucino gue menatap langit sambil mendengarkan lagu patah hati. Lucu bukan seorang lelaki dengan penampilan macho seperti gue ini harus berdiri di depan jendela sambil menatap langit.
Seperti orang galau
Gue memang patah hati setelah nadin berkata kalau hubungan kami tidak bisa lebih dari sekedar sahabat. Entah racun apa yang sudah gavin berikan sampai membuat nadin begitu menggilai lelaki itu.
Gue mengenal gavin cukup baik, dan gue yakin dulu lelaki itu sangat amat membenci nadin. Saat itu gue menganggap kalau gavin sahabat yang sangat solid. Walaupun tidak pernah berhubungan dengan nadin, tapi lelaki itu ikut berempati dengan barisan mantan nadin yang sudah rela mengeluarkan uang banyak demi menarik simpati nadin.
Bahkan setelah acara reuni yang di adakan bimo waktu itu, gue masih percaya gavin masih menjadi gavin yang gue kenal, pria yang sangat setia kawan sampai ikut membenci nadin. Gue pribadi yang notabene sebagai salah satu mantan nadin memang tidak ikut membenci nadin.
Apa yang dulu gue keluarkan untuk nadin murni karena gue ingin menyenangkan wanita yang gue sayang, walapun gue harus merogoh kocek yang tidak sedikit. Bagi gue kebahagiaan nadin jauh lebih penting dari pada uang.
Jika tadi gue mempertanyakan cara gavin meracuni nadin sampai membuat wanita itu menggilainya, sekarang gue jadi mulai ikut mempertanyakan bagaimana nadin bisa membuat gue begitu menyayangi wanita itu.
Gavin dan Nadin mungkin memang berjodoh sejak awal, kemiripan wajah mereka membuat mereka selalu di jadikan bahan ledekkan oleh teman-teman sekolah kita dulu. Awalnya gue memang kurang mempercayai mitos itu.
Jika dua orang yang berlawanan jenis memiliki wajah yang mirip, mereka pasti jodoh.
Gue mati-matian menyangkal mitos itu karena gue tipikal orang yang lebih percaya realita, seperti usaha tidak mengkhianati hasil.
Itu juga yang membuat gue diam-diam mencari tahu kegiatan nadin, gue mulai jadi stalker mencari info apapun mengenai nadin dari orang-orang terdekatnya. Sampai suatu hari keberuntungan berpihak pada gue.
Saat itu gue sedang mengantarkan amanda kakak gue yang akan menikah dengan pacarnya yang baru dia kenal di sosial media. Gue bingung kenapa amanda begitu bodohnya mempercayai orang yang baru dia kenal, ayolah menikah bukan sebuah permainan. Bukan juga sebuah undan yang kita tidak tahu menang atau kalah.
Lupakan soal amanda dan calon suami nya itu, keterpaksaan gue mengantar amanda ke salah satu butik ternama di jakarta membuat gue mengenal sosok tama, designer yang ternyata berteman baik dengan nadin.
Saat itu tanpa sengaja gue mendengar tama dan nadin sedang berdiskusi mengenai ajakan tama yang ingin nadin menjadi model di acara fashion show nya di kuala lumpur. Tanpa fikir panjang gue langsung memesan tiket menuju negara Malaysia.
Kali ini gue betul-betul akan memperjuangkan nadin walapun harus mengejar wanita itu sampai ke negeri sebrang. Membuat skenario seolah-olah gue dan nadin tanpa sengaja bertemu lalu membuat nadin mempercayai kalau kami memang berjodoh.
Entah apa yang gue lakukan ini benar atau salah, karena yang gue tahu saat kita memperjuangkan seseorang yang kita benar-benar cinta maka kita tidak mengenal lagi apa itu logika.
Saat gue mempertanyakan pada nadin apakah gue bisa menggantikan posisi gavin di hatinya, wanita itu hanya diam saja. Gue tahu diam nadin bukan karena dia memperbolehkan gue menggantikan gavin di hatinya.
Tapi wanita itu tidak enak untuk menolak gue. Jadi dengan berat hati gue berpura-pura baik-baik saja di hadapan nadin. Mengajak nadin makan bersama menjadi satu-satu nya solusi yang saat itu terfikirkan oleh gue demi memecahkan kecanggungan di antara kami.
Jadi gue putuskan untuk mundur, kali ini usaha gue gagal. Mungkin gue harus meralat perkataan gue, sekalipun sudah berusaha jika tuhan memang tidak mentakdirkan itu untuk kita maka usaha apapun yang kita lakukan tidak akan berhasil.
"dan..."
gue menoleh mendapati resya berdiri di ambang pintu dengan menenteng sebuah paper bag lalu satu tangan nya dia sembunyikan di balik punggung.
"hai res..."
wanita itu berjalan menghampiri gue dengan senyuman seperti biasa, dia nampak cantik dengan potongan rambut baru nya.
"happy birthday danar " resya mengulurkan sepotong cake dengan lilin kecil di atasnya.
Gue menatap resya, gue betul-betul melupakkan kalau hari ini gue genap berusia 29 tahun. Tapi wanita ini, setiap tahun selalu melakukan hal yang sama merayakan ulang tahun gue yang hampir gue lupakan.
Gue merapatkan jarak di antara kami, kemudian tiba-tiba saja gue merengkuh resya ke dalam pelukkan gue. Entah apa yang akan terjadi setelah ini tapi yang jelas mulai sekarang gue akan mulai lembaran baru, entah resya atau wanita lain. Gue percaya rencana tuhan akan selalu indah pada waktunya.
"terima kasih resya " bisik gue di telinga gadis itu yang hanya di balas dengan anggukkan.
Gavin Christopher
"beautiful shoes will bring you to beautiful places "
Gue mengulurkan sebuah sepatu yang langsung gue pesan dari paris. Nadin masih menatap gue dengan binar bahagia. Gue harus berterima kasih pada ide konyol nya bimo yang sempat gue hina-hina.
Bimo mengatakan kalau memenangkan hati wanita itu perkara mudah, sebenarnya. Wanita mudah tersentuh dengan kejutan manis. Seperti makanan favourite nya, bunga kesukaanya, dan candle light dinner.
Bukan tentang seberapa banyak uang yang di habiskan oleh seorang pria untuk seorang wanita. Tapi lebih ke bagaimana lelaki itu memperlakukan wanita nya dengan tulus. Begitu nasihat bijak dari bimo yang mengaku sudah pakarnya dalam urusan percintaan.
Baiklah .. Kembali ke gue dan nadin.
Bak pangeran di negeri dongeng, gue memasangkan sepatu yang sangat pas di kaki nadin. Kenapa gue bisa tahu ukuran sepatu nadin ? , ya tentu aja dari nyokapnya. Itulah gunanya deket sama calon mertua. Eh udah GR aja gue.
"makasih "nadin masih tersipu malu dengan wajah yang memerah. Duh bikin makin gemes gak sih.
Gue kembali berdiri setelah berhasil memasangkan sepatu di kaki nadin. Lama-lama kesemutan juga rasanya kalau kelamaan berlutut seperti tadi. Gue harus acungin jempol buat para pangeran yang sering mempraktekkan adegan itu.
Gue mengulurkan tangan yang langsung di balas oleh genggaman tangan nadin. Kami berdua berjalan menuju satu meja yang terletak di dekat kolam. FYI gue menyewa satu restaurant ini hanya demi memberi kejutan untuk nadin. Gila gue emang boyfriend material banget kan.
Setelah menarikkan bangku untuk nadin, gue duduk tepat di sebrangnya. Dia sangat cantik dengan gaun rancangan oskal. Gak sia-sia gue berteman lama dengan dia. Oskal mampu membuat nadin yang sudah cantik jadi semakin cantik. Oskal harus tanggung jawab, mata gue gak bisa lepas memperhatikan penampilan nadin, rasanya mau gue bawa pulang aja. Eh
"so tell me... "nadin mulai membuka suara, saat seorang pelayan baru saja menuangkan champange di gelas kami.
"makan dulu nad "
Dua orang pelayan datang ke meja kami dengan menu yang sebelum nya sudah gue pesan. Setelah mengucapkan terima kasih pada kedua pelayan itu, mereka berdua meninggalkan kami.
"cheers "ucap kami berbarengan sambil mengangkat gelas champange.
"vin.. "
"iya nad ? "
"ini semua .. Hadiah atas pemecatan gue ?"
"bisa gak kita pakai bahasa aku-kamu lagi. Seperti dulu "
Nadin terkekeh sebentar kemudian mengangguk.
"jadi.. Ini semua gak di potong dari kompensasi aku , karena kamu pecat kan ?"
Gue mendelikkan mata, oke gue harus akui kebodohan waktu di rumah nadin itu. Awalnya gue gak sengaja pecat nadin. Waktu itu gue grogi karena mau nembak nadin. Tau sendiri kan di saat orang lagi grogi kadang malah semakin memperburuk suasana.
Sepulang dari rumah nadin, gue langsung pergi ke kantor bimo. Gue panik waktu itu. Gue tahu banget, efek dari keceplosan gue akan berdampak pada...
Tuh kan gue bener, lo emang naksir nadin
Parah lo, nikung danar. gue gak nyangka vin
Hahaha lo gak bisa nembak nadin karena grogi ? Kalah lo sama bocah SD
Wagila ! Lo mecat nadin !! Udah gak tertolong lo vin. Untung lo datang pada gue, pakar dari masalah percintaan
Kira-kira itu rentetan kalimat yang bimo lontarkan saat gue baru tiba di kantornya, dan menceritakan semua tanpa gue sensor. Yah walau setelah itu bimo mengusulkan ide yang awalnya gue gak setuju. Tapi bimo berani jamin ide nya akan berhasil, jika sampai nggak berhasil, mobil BMW yang baru saja dia beli akan jadi milik gue.
Dan bimo beruntung
"hm... Nyangka gak nad kalau aku yang kasih kejutan ini ?"ujar gue mencoba mengalihkan pembicaraan.
"mau jawaban jujur apa bohong ?"
"ya jujur lah nadin "
Nadin meletakkan sendok dan garpu yang baru saja dia gunakan. Menyingkirkan piring di hadapannya kemudian meletakkan kedua tangan di atas meja. Mata cantik yang di anugrahi dengan bulu mata lentik itu, kini menatap gue dengan intens. Oke jantung gue sepertinya mulai jumpalitan.
"oke aku jujur. Ehm... Awalnya aku menyangka orang yang menyamar jadi ji chang wook ini pasti orang kurang kerjaan "
"aku sempat menebak kalau.. Danar yang melakukannya "
__ADS_1
"what !!"gue reflek membelalakkan mata, enak aja gue di kira danar.
"aku belum selesai cerita vin"
"oke"
"aku juga sempat menebak kalau mungkin aja ji chang wook ini stalker ? Atau raja minyak yang terpikat sama kecantikan aku "
Gue berusaha menahan tawa, ternyata nadin punya sisi narsis yang gak tertolong. Sama seperti gue (kadang).
"terus kamu gak kefikiran kalau yang nyamar jadi ji chang wook itu aku ?"
"em.. Sempat sih. Tapi .. Tahu diri lah aku. Kamu aja baru pecat aku. Di tambah kamu kan benci sama cewek matre, mana mungkin kamu rela mengeluarkan budget yang gak sedikit buat kasih kejutan ke aku seperti ini "wajah nadin berubah sendu, bahkan sekarang gadis itu merunduk.
Gue berdiri dari bangku yang gue duduki, perlahan tapi pasti gue berjalan menghampiri nadin. Kemudian gue berjongkok di depan wanita itu, pelan-pelan gue menggenggam tangan nadin. Ini adegan yang selalu gue pelajari dari drama korea, oke gue gak tahu ini akan berhasil atau nggak. Let's we try.
"hey.. Listen to me "gue menyentuh dagu nadin agar gadis itu menatap gue.
"aku tahu... Permitaan maaf aku gak akan bisa membuat kamu lupa pada semua perkataan buruk yang dulu pernah aku ucapkan "
"berlutut di depan kamu seperti ini juga gak bisa buat kamu menghapus perlakuan buruk yang dulu pernah aku lakuin ke kamu "
"nadin, aku tahu aku bukan pria sempurna. Aku pernah menyakiti hati kamu. Dan aku menyesal "
"......"
"kita udah terlalu lama buang-buang waktu. I know itu semua karena aku"
Nadin masih menatap gue lekat-lekat, tatapan mata polosnya itu semakin membuat gue merasa gemas sekaligus gak tega pada wanita ini.
"aku.. Bukan pria romantis yang mudah mengatakan perasaan aku, aku juga gak bisa gombal kayak mantan-mantan kamu, bahkan untuk mengatakan perasaan saja, aku harus melewati banyak drama"
"jadi intinya apa vin ?"
Gue malah menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Ternyata nembak cewek membuat gue lebih grogi di bandingkan dengan presentasi di depan investor. Oke mari kita anggap nadin ini salah satu investor. Yang akan menanamkan investasi triliunan.
"vin.. "nadin mengibaskan tangan di hadapan wajah gue, kebiasaan kan gue selalu jadi bodoh di depan cewek yang gue suka. Nadin pasti ilfill.
"jadi intinya apa ? "nadin kembali mengulang pertanyaan yang sama.
Oke vin tarik nafas buang nafas, loh kok gue jadi kayak mau ngelahirin gini sih.
Ayo vin lo gak boleh salah ngomong. Tatap matanya, inget perkataan bimo, satu detik akan merubah semuanya. You just say " i love you ".
"ah kelamaan deh. Buruan vin tembak gue !!!"nadin menghentakkan tangan gue dari genggaman nya.
Rusak sudah momen romantis gue, hancurlah harga diri gue. Benar kata nasihat guru bimo, perempuan paling gak suka menunggu. Dan nadin termasuk perempuan.
"kalau aku nembak kamu nanti kamu mati dong nad "
Ini yang di sebut antara mulut dan otak gak singkron. Besok-besok mulut gue harus di les in deh, biar pinteran dikit. Kok ya bisa-bisa nya dari sekian banyak jawaban, gue memilih kalimat yang bahkan anak SD jaman sekarang aja males pakai kalimat itu.
"vin.. Kamu tahu nggak sejak SMA aku udah nunggu moment ini, kalau di ibaratkan orang nyicil rumah. Udah lunas kali vin karena terlalu LAMA "sindir nadin dengan mata yang dia picingkan.
Duh kok gue berasa di omelin ibu tiri gini sih. Nadin kalau lagi marah ternyata serem juga. Gue sekarang faham bagaimana rasanya jadi bimo yang istri nya galak nya minta ampun.
"vin.. Sekarang aku tanya sama kamu "
Gue mengangguk, apapun akan gue lakukan supaya nadin gak marah lagi. Kalau perlu gue akan nari balet di depan wanita ini. Ah kenapa nggak sekalian aja gue nari pake lagu super junior yang sorry sorry itu. Di jamin deh nadin.. Muntah liatnya.
"jawab jujur "
Gleg.. Entah kenapa gue jadi super grogi gini. Rasanya tuh kayak mau di tanya sama dosen penguji, untung ruangan ini AC nya dingin, kalau tidak .. Di jamin pasti wajah dan badan gue bakalan mandi keringat.
"kamu angap hubungan kita apa ?"
"hm, kamu mau nya dianggap apa ?"
Mati gue, nadin malah memelototi gue. Mami tolong gavin mih ...
Nadin beranjak dari bangkunya, sambil bertolak pinggang gadis itu menatap gue tajam. Oke gavin fix lo emang lebih payah dari pada anak SD yang udah pinter nembak cewek.
"astaga vin, jawab pertanyaan aku itu aja kamu gak bisa. Apalagi aku tanya. Gavin mau nggak kamu nikah sama aku ? Bisa pingsan kali kamu kalau aku tanya begitu "nadin sedikit terkekeh, wajahnya gak seseram tadi.
Gue berdiri mensejajari nadin, sambil memegang kedua pundak wanita itu , gue berkata.
"kata siapa ?"
"heh ?"
"kata siapa aku gak berani ngomong gitu ?"ulang gue dengan yakin.
Gue menarik nafas panjang, oke ini akan jadi kesempatan terakhir gue mendapatkam hati nadin kembali. Wish me luck.
"nadin almira queen, aku bukan cowok romantis yang selalu bisa gombalin kamu setiap saat. Cowok gak peka yang mungkin sering buat kamu kesel. Aku juga pernah nyakitin hati kamu dulu. Kalau di hitung aku ini gak ada bagus nya sih "
gue menggaruk kepala yang tidak gatal ini. Payah lo vin, dimana-mana di situasi kayak begini lo harus bagus-bagus in image lo dong. Promoin diri lo sebaik mungkin biar bisa di terima nadin. Ini malah menjatuhkan diri sendiri. Duh kalau nadin beneran seorang investor, di jamin lo gak akan di terima.
"tapi... Aku masih ganteng dan kaya kok nad "sambung gue.
Satu
Dua
Tiga
Nadin masih mengerjapkan matanya, mungkin dia bingung dengan semua perkataan gue yang absurd tadi. Oke gue mencoba menyiapkan mental, kalau-kalau nadin nolak gue karena kebodohan gue sendiri.
Nadin melepaskan tangan gue yang masih bertengger di bahu nya. Nah kan alamat gue di tolak nih.
"vin.. "
"iya nad, udah gak apa-apa kalau kamu mau nolak aku karena perkataan aku tadi. Aku tahu kok aku gak bisa nyusun kata-kata yang bagus untuk nembak kamu. Buat menyatakan cinta sama kamu aja kayaknya aku ribet banget.. Iya nad kalau kamu mau nolak aku gak apa-apa kok. Tapi pasti aku gak ikhlas sih "
"coba ulangi lagi "
"hah ? Ulang yang mana ?"
"ulang di bagian kamu mau nembak aku dan menyatakan cinta itu "nadin sedikit tersenyum.
Gue langsung berfikir keras, apa iya ya tadi gue ngomong begitu. Kenapa gue lupa sih.
"ayo vin ulangin ... "nadin menggenggam kedua tangan gue.
Gue menggelengkan kepala."tapi aku gak inget udah ngomong begitu "
Nadin menghempaskan tangan gue dengan sedikit di sentak.
"nyebelin "
Wanita itu hendak berbalik badan meninggalkan gue. Gawat gue mencium bau-bau kegagalan nih. Gue langsung menahan pergelangan tangan nadin, duh lagi-lagi gue mempraktekan apa yang gue tonton di drama korea.
"tunggu nad "
"apa ! Aku cuma mau kamu ngom..."
__ADS_1
Cup
Entah keberanian dari mana yang gue dapatkan, gue refleks mendaratkan sebuah kecupan manis di bibir nadin. Dan hasilnya nadin langsung diam membeku di tempatnya.
Gue mengelus pipi nadin yang halus itu, kemudian beralih pada bibir nya yang baru saja dapat hadiah kecupan dari gue.
"please, stay with me nad "gue tersenyum, semoga aja nadin faham maksud perkataan gue.
"maksudnya kita kumpul kebo ? Aku masih inget dosa loh vin "
Hancur sudah suasana romantis yang baru saja berlangsung saudara-saudara. Jujur aja ini gue gak faham, apa fikiran nadin yang terlalu banyak terkontaminasi micin atau cara gue menyampakan maksud gue yang membuat nadin merasa ambigu ?
Baiklah, sepertinya gue memang harus langsung menunjukkan apa yang sudah gue persiapkan untuk nadin. Gue yakin pake banget kalau nadin akan suka. Iya semua wanita pasti akan suka pada benda berkilau yang memanjakan mata ini.
Butuh waktu bertahun-tahun atau berabad-abad untuk bisa mempunyai benda berharga ini. Untuk yang berabad-abad itu gue sedikit lebay, maaf. Baiklah.. Perlahan gue merogoh sesuatu di dalam kantong jas.
Ini akan jadi kejutan yang gak akan nadin lupakan seumur hidupnya. Gue yakin !
"ehm nadin... "gue kembali berlutut di hadapan nadin.
Nadin nampak sedikit terkejut, namun gue bisa melihat dengan jelas wajahnya mulai memerah, dan bibir nya berusaha menahan senyum.
"iya vin ?"
"maukah kamu....."
"apa vin ?"
"maukah kamu men......"
Jreng jreng
Kami berdua masih saling bertatapan, gue berlutut di hadapan nadin , tangan kanan gue masih menyembunyikan kejutan untuk nadin di balik punggung. Baiklah jantung gue mulai marathon lagi, tapi kali ini gue harus lebih pinter. Kalau gue grogi terus bisa di omelin habis-habisan gue sama guru bimo.
Dalam satu tarikkan, gue mengeluarkan kejutan yang sudah gue persiapkan untuk nadin, tepat di hadapan wajahnya. Wanita itu tercengang, gue bisa lihat dia bengong menatap benda yang sudah berada di depan matanya kini.
"vin.. "
"iya nad ?"
"itu apa ?"
"black card "gue tersenyum jumawah.
"iya aku tahu, tapi ngapain kamu kasih lihat aku itu vin ?"
Gubrak
Gue langsung berdiri mensejajari tinggi nadin. Bisa kesemutan kalau lama-lama berlutut seperti tadi.
"This is what you really want, right ?" ucap gue dengan penuh keyakinan.
Wajah nadin yang semula nampak tersipu malu, mendadak berubah datar. Aduh gawat jangan-jangan gue salah ngomong lagi nih. Baiklah wajah gue pasti sekarang sudah pucat pasi. Bahkan untuk menelan saliva saja rasanya susah, seperti ada biji kedondong yang nyangkut di tenggorokan gue.
"jadi kamu masih mikir aku ini cewek matre vin ? kamu masih berfikir kalau aku mau sama uang kamu saja ? "
Gue menggeleng - berfikir lagi -kemudian mengangguk -berfikir lagi -menggeleng lagi.
Nadin tersenyum, iya gue yakin banget itu bukan jenis senyuman bahagia seorang wanita. Senyuman nadin itu mirip seperti , senyum pembunuh bayaran. Baiklah sepertinya gue mulai keringat dingin.
"yauda kalau kamu mikir begitu. Terserah "
Terserah
Terserah
Terserah
Kata itu seperti berputar di otak gue. Terus saja berputar sampai kepala gue terasa nyut-nyutan.
Bagi seorang pria ada 3 hal yang paling dia takuti. Pertama : mobil/motor kesayangannya di rusak. Kedua : di omelin ibu nya karena ngilangin tutup tuperware. Dan ketiga, ini yang paling buat mumet, lebih mumet dari pada mikirin urusan utang negara, yaitu saat cewek bilang kata TERSERAH.
Terserah itu memiliki definisi yang luas, tapi bisa berakibat fatal jika lo sebagai cowok salah menafsirkan maksud dari kata itu. Saat cewek lo bilang terserah, di situlah tingkat intelegent lo di uji bro. Sebarapa besar IQ lo untuk bisa menebak kata paling ambigu sedunia itu.
Dan sekarang gue mengalaminya, gue harus puter otak gimana cara nya membalikkan keadaan yang sudah kacau bin carut marut ini. Jangan sampai uang sebesar Rp. 10.536.967 yang sudah gue keluarkan untuk kejutan hari ini berakhir dengan penolakkan nadin.
"nad dengerin penjelasan aku dulu "gue menahan pergelangan tangan nadin saat gadis itu hendak meninggalkan ruangan.
"oke 30 detik "
"dih kok .."protes gue tidak di indahkan nadin, gadis itu terus saja menghitung mundur. Panik gue panik
"stop nad !"
"28, 27, 26, 25 "
"oke oke ..
"20,19, 18 "
"nad... Tunggu dulu aku nafas dulu "gue masih berusaha menghentikan hitungan nadin.
"12,11,10,9 "
"fine ! Nadin Almira queen "
"6, 5, 4 "
"maukah kamu "
"2, 1 "
.
.
.
.
.
.
.
"belanja dengan black card ini bersama dengan ku ?"
"....."nadin terpaku, gue bisa lihat tatapan matanya dengan jelas.
"seumur hidup "sambung gue, dengan menunjukan senyum terlebar yang gue bisa.
Bersambung
__ADS_1