
Nadin Almira Queen
"nad di sini "
Wajah gue langsung sumringah saat mendapati agatha si dokter cantik sahabat gue itu sudah duduk manis di coffe shop tempat kami janjian.
"apa kabar, duh manten baru " gue dan agatha langsung cipika cipiki heboh.
Gue duduk di depan agatha, lalu seorang pelayan menghampiri kami mencatat pesanan.
Setelah pelayan itu pergi, gue kembali terpekik girang, bisa melihat agatha sahabat gue lagi setelah dia study banding ke jepang rasanya sangat bahagia. Apalagi agatha tahu prihal penyakit gavin di masa lalu, jadi secara tidak langsung sahabat gue ini berperan juga menjadi dewi penolong di kehidupan gue dan gavin.
"gimana rasanya jadi istri gavin ? Gak sia sia dong lo nunggu belasan tahun demi dia " ledek sahabat gue ini.
"hah... Gimana ya rasanya... " gue menghela nafas panjang lalu menyenderkan punggung di sofa. " campur aduh tha "
"bagus dong kayak es campur " agatha mencoba melucu tapi kali ini candaan nya tidak mampu memperbaiki mood gue.
"tha.. emang nikah tuh gini ya ? lo sering dapat banyak kejutan " gue memulai sesi curhat gue.
"gavin sering ngasih lo kejutan ? ah beruntungnya lo nad punya suami romantis begitu " puji agatha.
Beruntung ya ? jika tidak ada kejadian itu mungkin gue akan menyombongkan diri pada agatha jika gue memang beruntung bisa memiliki gavin. Apalagi agahta tahu bagaimana bucin nya gue pada gavin dan bagaimana perjuangan gue selama ini untuk mendapatkan gavin.
"jangan bilang lo lagi berantem sama gavin ? " tebakkan ibu dokter ini betul -betul jitu.
Gue agak sedikit tersentak mendengar pertanyaan agatha apalagi cara agatha menatap gue. Ini yang disebut tidak ada yang bisa di rahasiakan dari seorang sahabat. Hanya dengan melihat ekspresi wajah gue rasanya agatha sudah bisa menduganya tanpa gue bercerta panjang lebar.
"gue nginep di rumah lo ya malam ini " gue memelas berharap sahabat gue ini mengasihani gue.
"gila lo ya !!"pekikkan si ibu dokter yang lumayan nyaring mampu membuat beberapa orang menoleh menatap kami.
"nad.. Baru 3 minggu nad lo udah perang gini sama gavin ?"agatha sampai geleng-geleng kepala.
Hah... Dia tidak tahu saja history nya bagaimana.
Flash Back
"vin ini rumah siapa ?" gue menatap bangunan megah di hadapan gue dengan sejuta pertanyaan yang berkecamuk di otak gue.
Kami baru saja menginjakkan kaki kembali ke tanah air, setelah menghabiskan satu minggu lama nya untuk bulan madu.
Awalnya gue berfikir akan pulang ke apartement gavin, mengingat semua barang-barang gue sudah di pindahkan semua kesana saat kami masih berada di maldives.
Tapi dugaan gue salah, gavin membawa mobil kami masuk ke dalam perumaham yang bisa di katakan elite.
Gue masih speachless dengan bangunan berlantai dua di hadapan gue ini. Membayangkan berapa pembantu yang harus di pekerjakan untuk membersihkan rumah ini.
Belum selesai keterkejutan gue gavin menarik tangan gue masuk ke dalam rumah itu.
"ayo kita masuk nad "
Gue hanya mengangguk mengikuti langkah lebar gavin masuk ke dalam rumah dengan pintu besar berwarna putih .
" welcome home sayang " gavin merentangkan tangannya saat kami membuka pintu utama.
"vin ini ?"
"rumah kita dong, kaget kan kamu , gak nyangka kan kalau suami kamu yang pintar ini sudah menyusun kejutan untuk istri aku yang cantik ini " cerocos gavin membanggakan diri.
Gue masih diam saja menganggumi interior rumah yang di design dengan gaya minimalis. Jatuh cinta rasanya melihat bagaimana penataan perabot di rumah ini di design seperti apa yang selalu gue lihat di acara decor rumah.
Sofa malas, bean bag , karpet bulu-bulu , bahkan ada sebuah aquarium besar di tengah ruangan. Suara percikan air membuat ruangan luas ini terasa begitu dingin walaupun tanpa Air Conditioner.
"nad.. Kamu gak suka ya ?"tanya gavin.
Mungkin gavin heran melihat gue hanya diam saja tanpa berkomentar apapun. Tidak tahu saja gavin kalau gue sedang menatap kagum pada ruang keluarga yang di design sangat nyaman itu.
ide ide untuk menghabiskan waktu bersama gavin langsung bermunculan di otak gue ini. Menonton film bersama sambil makan popcorn, bercerita tentang kegiatan sehari-hari , rasanya begitu banyak hal yang ingin sekali gue lakukan bersama gavin.
"nad ?"gavin kembali bersuara.
Tanpa berkata apa-apa lagi gue menubruk gavin, memeluk laki-laki itu seerat mungkin.
"makasih sayang " gue ciumi pipi kanan dan kiri gavin bergantian membuat lelaki itu terkekeh karena merasa geli.
"kamu suka ?"tanya gavin saat kami berdua sudah duduk di sofa ruang keluarga.
"banget.. Ini siapa yang design, terus perabotan ini ? Vin kamu bener-bener jin ya ?"gue terkekeh sambil menatap gavin.
"enak aja "gavin menghadiahi gue sebuat cubitan di hidung.
"percaya gak kalau rumah ini memang aku beli untuk kamu ?"
Gue menggeleng."bohong nih pasti "
"kapan aku pernah bohong sih nad ?"
"perlu aku tulis daftar kebohongan yang kamu buat, terus aku jilid biar jadi makalah "
Gavin terkekeh."kreatif banget kamu kalau udah menyangkut begini"
"aku bener-bener beli rumah ini buat kita, sejak aku rasa aku harus punya hubungan serius sama kamu aku udah rancang semua dari A-Z "gavin memulai penjelasannya, gue hanya menyimak dengan seksama.
"rumah , tabungan , asuransi , semua udah aku fikirin "
"...."
"bahkan... Aku udah prepare kalau-kalau kamu langsung isi waktu kita pulang honeymoon "
Wajah gue langsung memerah saat gavin menyebut kata honeymoon. Fikiran gue jadi mengingat pristiwa bersejarah yang terjadi di detik-detik sebelum masa honeymoon kami usai.
Ya, gue sudah resmi menyandang status nyonya gavin dalam arti sebenarnya. Bukan lagi nadin Almira queen si gadis imut. Tapi nyonya nadin almira queen christopher.
Mengingat bagaimana pada akhirnya gue memberikan gavin sesuatu yang sudah sejak lama gue jaga, rasasanya gue tidak akan menyesalinya. Gue sangat amat yakin, laki-laki ini orang yang tepat.
"vin... Jangan sebut honeymoon dong, aku kan malu "gue menutup wajah gue yang pastinya sudah berubah merah ini dengan bantal.
Gavin terkekeh lalu menyingkirkan bantal yang menutupi wajah gue.
"kok malu sih, kan kita udah halal. Dulu aja kamu liat aku selesai main basket terus telanjang dada biasa aja "
"itu beda ya, lagian kata siapa waktu pas kamu ngelakuin itu aku biasa aja "
"pasti kamu ngiler kan liat roti sobek aku "gavin menaik turunkan alisnya merasa menang sudah membuat gue tersipu malu.
"ngiler sih nggak, cuma aku jadi makin inget Tuhan "
"maksudnya ?"
"iya aku selalu istighfar setiap kali kamu buka baju di tengah lapangan, tapi.. "
"habis itu aku bilang, Alhamdulillah rezeki anak sholehah "
__ADS_1
Gavin langsung tertawa kencang mendengar cerita gue. Di bagian mana lucu nya sih ? Pada saat itu yang melakukan hal itu nyaris seluruh wanita satu sekolahan vin !
"emang dulu aku segitu mempesona nya ya sampai kamu begitu ?"
Gue memgangguk "wajahmu mengalihkan duniaku "
"kayak judul lagu aja "gavin tertawa lagi walaupum tidak seheboh tadi.
"tau nggak vin .. "
"nggak "
"ngeselin deh " gue mengerucutkan bibir, terkadang gavin itu ngeselin di saat yang gak tepat.
gavin malah tertawa,"yauda apa apa nadin almira queen ??"gavin mengelus puncak kepala gue.
"Saat pertama kali liat kamu kok aku kayak ngerasa kamu itu jodoh aku ya ?"
"masa ? bukannya kamu murka banget pas aku tanya kamu itu anak selungkuhan papah ?"
"hahaha iya sih pada saat itu emang aku murka "gue terkekeh sendiri jika mengingat masa-masa itu.
"hanya karena wajah kita mirip, aku fikir mitos itu bisa jadi betul. kata orang kan gitu kalau wajahnya mirip berarti jodoh "
Gavin masih menyimak sambil kepala nya manggut-manggut entah apa yang dia fikirkan, tapi tangan kirinya malah sibuk memutar-mutar ujung rambut gue.
"...seperti ada bisikan kalau kamu itu bakalan jadi suami aku suatu saat " gue menerawang membayangkan moment pertama kali gue sadar gue jatuh cinta pada gavin.
"ah masa... Ini kamu ngomong begini kok aku jadi curiga ya ?"
Dahi gue mengernyit"curiga kenapa ?"
"gak biasanya kamu jinak begini, pasti nih ada mau nya. Tas baru yang limited edition itu kan ?"tebak gavin.
Gue langsung cemberut. "enak aja ! Kamu fikir aku ngomong begitu karena aku mau minta di beliin tas !"ucap gue dengan berapi-api.
"kamu fikir aku ini istri yang hobi nya suka menghambur-hamburkan uang suami nya !"
"..... "
"kamu masih mikir aku matre ?!"
"....."
"oke ayo !"
Gavin mengeryitkan dahi. "ayo kemana ?"
"ayo kita jemput tas limited edition itu !"ucap gue dengan semangat 45.
"aku juga ngerasa aku jodoh sama tas itu vin !"
Gubrak
Gavin terkulai lemas di atas karpet bulu-bulu di bawah sofa. Bukan nya berdiri gavin melah tertawa terbahak-bahak.
"tuh kan bener tebakkan aku "
Gue hanya bisa tersenyum lebar sambil pura-pura bergaya imut. Kalau kata istilah orang korea aegyo.
"ayo oppa "
*Masih sambil tertawa gue memaksa gavin untuk berdiri. *
Minta jatah
Sejak kejadian di maldives itu gavin betul-betul berubah jadi mesum, ada saja akal akal an laki-laki itu supaya gue mau menuruti keinginan nya.
"nad.. "wajah gavin semakin memelas, kelemahan gue ini sih.
"oke... Tapi beli tas dulu ya oppa "gue mengerjap-ngerjapkan mata sebagai bentuk senjata melawan wajah memelas gavin.
Gavin mengangguk. " oke, tapi abis itu kita.... "
"iya oke berapapun ronde nya aku ikut"gue menarik tangan gavin supaya laki-laki itu segera bangkit dari sofa.
Hari itu gavin betul-betul menepati perkataan nya, membelikan gue sebuah tas limited edition yang betul-betul butuh perjuangan juga untuk mendapatnya.
Perjuangan gavin maksudnya
Dia rela antre berjam-jam berasama dengan para wanita dan pria yang mungkin bernasib sama seperti gavin.
Lalu dimana gue ?
Duduk santai sambil menikmati boba milk tea sesekali dadah dadah pada gavin lalu melakukan gerakkan memberi semangat..
Gue tahu persis wajah gavin sudah geram menahan emosi, tapi dengan iming-iming main kuda-kudaan, gavin pasrah tidak bisa melawan.
Saat itu gue bertul-betul merasa, wanita selalu menang.
2 Minggu kemudian..
"nad, dasi aku mana ?"gavin berteriak kencang di dalam walk in closet.
"di lemari nomor 3, di laci paling atas vin " jawab gue tidak kalah berteriak.
Pagi ini sengaja gue bangun subuh demi membuatkan gavin bekal makan siang. Kemarin saat siang hari, gue melihat salah satu program tv yang menyiarkan acara masak memasak.
Di pandu oleh host yang luar biasa buat gue salah fokus, gue harus membagi konsentrasi atas masakan yang di ajarkannya dengan roti sobek di hadapan gue.
Memang paling bisa ya tv zaman sekarang, memasang chef tampan untuk jadi host supaya ibu-ibu zaman sekarang jadi suka memasak. Kenapa begitu ?
Karena Ibu-ibu zaman now yang sudah mengenal yang namanya pesan makanan secara online di aplikasi, memang jadi lebih memilih untuk order saja dari pada harus berkutat di dapur dan membuat tubuh mereka bau asap.
*Bahkan gue salah satu penganut aliran lebih baik pesan makanan saja dari pada memasak, selain karena hanya tinggal berdua dengan gavin, bujuk rayu promo yang di tawarkan oleh aplikasi itu betu-betul buat gue khilaf, untung gavin kaya raya. ups
Tapi berkat adanya acara itu, sedikit banyak sangat mempengaruhi ibu-ibu zaman now. Mereka jadi hobi nonton acara masak yang lagi hits itu. Entah karena betul-betul niat belajar masak, atau memandangi sosok chef tampan lalu berkhayal setelahnya.
"kamu masak apa ?"gue merasakan pergelangan tangan gavin melingkari perut gue.
"buat sushi "jawab gue sambil menggulung nori yang sebelumnya sudah di taruh nasi,ikan dan mentimun di dalam nya.
"tumben, ada angin apa nih kamu jadi rajin begini "gavin semakin mengeratkan pelukkanya sambil sesekali mengecup pipi gue.
Dasar hobi mancing aja di pagi hari.
"kamu wangi banget vin, parfume baru ?"tanya gue sambil berbalik badan lalu mengendus baju gavin. Malah salah fokus dengan penampilan gavin hari ini kemeja slimfit biru dongker di padukan dengan celana hitam, duh kok suami gue hawt sekali.
Gavin tersenyum lebar. " iiya.. Kemarin client aku kasih oleh-oleh dari paris "
"oh.. "gue membalikkan badan lagi kembali berkutat dengan sushi yang mau gue potong-potong.
"hem nad.. Kayaknya... Malam ini aku lembur lagi deh "
__ADS_1
Gue yang sedang memegang pisau reflek membenturkan benda itu di atas talenan. Membuat suara yang lumayan nyaring seperti adegan di film-film.
Lalu setelahnya gue berbalik badan kembali menatap gavin yang terlihat sedang menundukkan kepala. Bukan lagi tatapan berbinar-binar yang sebelumnya gue tunjukkan, tapi lebih ke tatapan murka ala ibu tiri.
"lembur apalagi kali ini ?"jawab gue dengan nada datar.
"itu nad proyek pembangunan apartement ada sedikit masalah "jawaban gavin terdengar tidak yakin.
Gue mencium gelagat aneh disini. Sedikit banyak gue sudah mulai mengenal beberapa sifat gavin yang gue belum ketahui. Gavin yang terkadang suka mendengkur saat tidur.
Gavin yang tidak bisa makan kepiting, gavin yang takut film horor, dan gavin yang tidak berani menatap lawan bicaranya saat dia berbohong.
"aku temenin kamu aja gimana ?"tawar gue dengan ekspresi semanis mungkin walaupun di dalam hati ingin mencincang lelaki ini. Gue berusaha untuk bersikap tenang,
Astaga nadin, ingat baru juga 2 minggu menyandang status istri gavin. Masa iya lo tiba-tiba berubah status jadi tersangka kasus pembunuhan, lalu berakhir jadi janda kembang bangkai.
Ih amit amit
"janji deh besok aku pulang cepet, kita makan malam bareng, oh kita belanja bulanan gimana ?"gavin tersenyum lebar.
Rayuan rayuan ini sudah sering dia gunakan. Mungkin gavin lupa tapi dia pernah berjanji hal yang sama di minggu lalu.
Tapi pada akhirnya dia tidak tepati.
"oke " gue kembali memotong sushi jadi beberapa bagian lalu gue masukkan kedalam kotak bekal.
Setelah memasukkan kotak bekal dan sebotol susu ke dalam paper bag, gue menyerahkan bungkusan berwana biru itu kepada gavin.
Pria itu nampak bahagia menerima pemberian gue, lalu dia mengecup dahi gue cukup lama lalu berkata.
"makasih ya sayang "Gue mengangguk, masih merasa berdebar walaupun gavin sudah sering melakukan perbuatan manis ini.
Setelah berpamitan, gavin melajukan mobil nya keluar dari garasi. Seringai licik langsung terbit dari bibir gue.
It's show time
Buru-buru gue berlari ke kamar setelah melepaskan apron pink yang tadi gue kenakan. Hari ini gue harus mencari tahu apa penyebab gavin jadi hobi lembur di masa 2 minggu pernikahan kami.
Gue bukan tipe istri yang mudah curiga sebetulnya. Tapi mengingat tingkah gavin yang akhir-akhir ini mencurigakan membuat gue nekat melakukan hal gila yang tidak pernah gue bayangkan setelah resmi menyandang status istri gavin.
Menjadi mata-mata
Dengan pakaian serba hitam lengkap dengan topi dan masker, gue mengambil kunci mobil yang tergeletak di atas nakas.
Sebelum masuk mobil, terlebih dahulu gue memastikan penyamaran gue ini tidak akan gavin ketahui.
Perfect, puji gue pada diri gue yang sekarang sudah berpenampilan bak mata-mata.
Gue melajukam mobil gue menuju padatnya jalanan ibu kota. Tujuan awal gue tentu saja kantor gavin.
Perjalanan ke kantor gavin tidak semacet yang gue sangka. Sepertinya tuhan membantu gue memuluskan rencana memata matai gavin.
Gue masuk lewat pintu belakang, bertemu dengan satpam yang sudah mengenal gue , mengingat gue pernah bekerja di perusahaan ini juga dan status baru gue saat ini.
"mbak nad. Ngapain ngendep ngendep begitu ?"ujar pak parman saat gue sampai di depan pintu.
"sst.. Pak saya mau ketemu gavin tapi ini kejutan " gue terpaksa berbohong.
Pak Parman mengangguk lalu membukakan pintu. "tapi pak gavin belum datang mbak "
Gue mengeryitkan dahi, gavin belum sampai kantor ? . Jelas-jelas dia berangkat dari 2 jam yang lalu.
"yasudah saya tunggu di ruangan nya, makasih ya pak "gue melenggang masuk menuju lift khusus direksi.
Lift khusus direksi ini langsung mengantarkan gue ke tempat di mana gavin bekerja.
Pelan-pelan gue membuka pintu coklat yang dulu sering gue buka tutup ini. Ruangan gavin nampak sepi , betul apa kata pak parman. Gavin belum sampai kantor.
Gue melangkah masuk setelah sebelumnya menutup pintu perlahan. Ruangan gavin masih sama seperti terakhir kali gue menginjakkan kaki disini.
Harum aroma kopi langsung menusuk indra penciuman gue, gavin memang sangat menyukai kopi , pengharum ruangan ini buktinya. Rasanya seperti de'javu. Dulu gue setiap pagi selalu ada disini membawakan secangkir americano panas lengkap dengan croisant kesukaan gavin.
Langkah kaki gue terhenti tepat di depan meja kerja gavin. Tumpukkan kertas sudah menggunung disana, seolah mengancam gavin untuk tidak bisa pulang cepat hari ini.
Diam-diam gue merasa bersalah, jangan-jangan gavin betul-betul sibuk karena banyak pekerjaan. Bukan karena hal-hal buruk yang akhir-akhir ini gue pikirkan.
Gue mengitari meja itu lalu duduk di kursi kebesaran gavin. Sangat nyaman rasanya apalagi wangi gavin masih menempel di sana.
Lalu tatapan gue teralih pada sebuah bingkai foto yang gavin letakkan di sudut meja. Sebuah foto yang berhasil membuat gue tersenyum lebar dangan amat lebar sampai rasanya ingin menangis.
Foto kencan pertama kami
Gue mengambil figura foto itu, menatap nya lekat-lekat sambil mengenang memori kencan pertama kami.
Rasanya masih tidak percaya pria yang dulu sangat amat membenci gue ini, sekarang malah sangat amat tergila-gila pada gue.
Lalu kembali pandangan gue teralih pada satu foto yang tidak asing. Gue mengambil figura berwarna biru tua itu. Mengamati sosok wanita yang ada di foto itu.
" itu gue !!! " gue menutup mulut saat menyadari kalau gadis di foto itu gue.
Gue ingat sekarang, gerakan dance dan baju itu gue gunakan saat mengikuti sebuah audisi pencarian bakat di sekolah.
Jadi gavin ada disana waktu itu ? Berarti gavin....
Mata gue semakin berkaca-kaca baru menyadari sesuatu yang gavin tidak pernah mau jujur ketika gue tanya.
Sejak kapan kamu mulai suka aku ?
Dan keberadaan foto ini seolah menjadi jawaban atas pertanyaan gue selama ini.
Entah gue yang bodoh atau gavin yang terlalu gengsi. Jika sejak dulu kami saling jujur, mungkin kami tidak akan melewati banyak drama hingga detik ini.
Membuat gue merasakan sakit hati yang luar biasa karena selama ini gue mengira gavin tidak pernah mencintai gue sebesar gue mencintai dia.
Bodoh, harus nya gue tidak perlu mencurigai gavin selingkuh. Melihat semua bukti yang gue temukan ini harusnya gue tidak perlu ragu, gavin sangat amat mencintai gue.
Pulang nanti, gue berjanji akan minta maaf pada gavin karena sudah sempat mencurigai dia.
Beberapa ide membuat kejutan untuk gavin sudah berputar-putar di otak gue. Sambil tersenyum lebar gue melangkah menuju pintu keluar.
Tinggal beberapa langkah lagi sampai di pintu keluar, pintu itu mendadak terbuka. Gue refleks bersembunyi di balik gorden demi menghindari gavin.
Gue malu kalau gavin lihat gue mengendap-endap masuk ke kantor nya. Mencurigai dia selingkuh, bahkan melakukan penyamaran begini.
Dari balik gorden gue melihat gavin sedang sibuk menelfon seseorang sambil berjalan menuju meja kerja nya. Wajahnya nampak bahagia seperti tadi dia berpamitan sebelum pergi ke kantor.
"ah dia sibuk kerja rupanya " gumam gue dalam hati sebelum akhirnya gue mendengar sesuatu yang membuat hati gue mencelos.
"nanti malam jangan lupa ya beb, di cafe cemara jam 7 malam "
Gue terpaku di tempat gue berdiri, sambil meremas gorden gue merasakan mata gue mulai memanas.
*Gavin selingkuh ?
__ADS_1
*