
Gavin menyandarkan kepala di atas setir mobil , kemacetan di jakarta pagi ini membuat dia harus stuck selama nyaris 2 jam. Mobil - mobil di depan mobil gavin juga tidak ada tanda-tanda pergerakkan sama sekali. Suara klakson mobil yang saling bersahutan mulai membuat suasana pagi hari itu semakin panas.
Lagu yang dia dengarkan di radio pun malah semakin membuat nya merasa kesal. Bagaimana tidak kesal, kalau lirik yang di bawakan adera seolah menjabarkan akibat dari sifat gavin yang terlalu lambat menyatakan cinta.
"sial gue jadi ngerasa kesindir gini "gavin menatap dvd player nya sambil memicingkan mata.
Andai saja waktu itu tak ku tunda
Tuk ungkapkan isi hati kepadanya
Mungkin dia jadi milikku, bahagiakan hariku
Oh tetapi kenyataan tak begitu
Diam-dian gavin ikut menyanyikan lirik lagu itu tanpa sadar.
Di saat ku mencoba merajut kata
Dan berharap semua jadi sempurna
Tiba-tiba ada yang lain yang mencuri hatinya
Hilang sudah kesempatanku dengannya
Terlambat sudah semua kali ini
Yang ku inginkan tak lagi sendiri
"amit amit.... Jangan sampai nadin beneran jatuh cinta sama danar , apalagi sampai nikah"
Gavin mengetukkan tangan di dahi dan setir mobil nya secara bergantian. Membayangkan nadin betul-betul sudah tidak sendiri lagi, ada rasa perih yang tak kasat mata.
Setiap hari gavin selalu menatap meja kerja nadin, berharap kalau wanita itu tiba-tiba muncul di sana sambil tersenyum seperti biasanya. Tapi nihil. Bahkan ini sudah hari ke 4, sejak nadin yang menghilang entah kemana dan gavin yang masih belum bisa menemukan jejak keberadaan wanita itu.
Gavin sudah mulai muak mendengarkan suara operator yang selalu menjawab telfon nadin. Dia rindu suara itu, dia rindu percakapan tengah malam yang akhir-akhir ini selalu dia lakukan bersama nadin.
Benar apa kata orang, kita baru akan merasakan orang yang pernah kita abaikan begitu berharga, di saat orang itu sudah tidak ada di dekat kita lagi. Mungkin ini cara tuhan membalas sakit hati nadin dulu, dan gavin sadar permohonan maaf tidak akan bisa menghapus karma yang sudah terlanjur tuhan berikan.
Sekarang semua nya seolah terbalik
Di saat gavin mulai merasa mencintai nadin, gadis itu mengabaikannya
Di saat gavin mencoba untuk mendekati nadin, gadis itu menolaknya
Dan sekarang gavin hanya berharap tuhan mau memberikan kesempatan kedua.
Gavin akhirnya tiba di kantor nya tepat saat jam makan siang. Gavin terpaksa harus menunggu antrian masuk ke dalam lift kaarena banyak orang yang berlalu lalang pergi mencari makan siang . Berbicara tentang makan siang, gavin sepertinya sudah mulai melupakkan nya.
Sejak nadin tidak ada gavin memang sering melewatkan makan siang, dengan alasan tidak nafsu makan .Terkadang dia juga sengaja menyibukkan diri dengan dokumen-dokumen yang sebenarnya tidak harus dia kerjakan hari itu juga demi melewatkan makan siang.
Harus gavin akui efek dari nadin yang meninggalkan nya secara tiba-tiba membuat dunia gavin sangat tergucang. Istilah hidup segan mati tak mau mungkin pantas untuk menggambarkan situasi gavin saat ini.
Dia bahkan mulai ngopi-ngopi di pantry hanya untuk menghilangkan rasa bosan. Kelakuan absurd nya itu membuat karyawan yang berniat menyeduh kopi atau sekedar mengambil air minum jadi segan, takut dengan wajah gavin yang lebih mirip seperti zombi.
Wajah gavin yang biasa mulus bagaikan porselen, sekarang mulai di tumbuhi bulu-bulu halus di sekitar rahang pria itu. Rambutnya yang biasa dia tata rapih menggunakan pomade, sekarang tidak karuan bentuknya. Jangan lupakan lingkaran mata panda yang semakin menjadi akibat penyakit insomnia nya yang kembali kambuh.
Tidak pernah terbayangkan dalam sejarah hidup seorang gavin christopher, jika dia akan merasa se-frustasi ini hanya karena seorang wanita. Dulu waktu aurora menikah dengan hans, dia masih jauh lebih baik dari sekarang.
Harus gavin akui, efek nadin dalam hidup nya sungguh luar biasa. Jika memang demi merebut nadin kembali dia harus menerima cibiran sebagai PEBINOR alias Perebut Bini Orang. Gavin rela asalkan wanita itu kembali padanya.
"makan siang lo gak jauh-jauh dari fastfood sekarang "sindir bimo dengan nada khas nyinyir nya. Sejak kapan lelaki itu berdiri di sebrang meja gavin ?
"maklum calon istri gue kan di bawa kabur sama temen lo "ujar gavin dengan nada tidak kalah menyindir.
Bimo tertawa melihat tingkah gavin yang jadi sensian, mengalahkan wanita yang sedang PMS. Pria itu menarik kursi di depan meja gavin, menopang wajah dengan kedua tangannya sambil nenatap teman nya yang sedang di landa galau akut.
"jadi nadin sama danar bener-bener kawin lari ? "ucapan bimo yang terdengar santai langsung membuat mata gavin memicing.
"diem deh ! Lo ngapain tiba-tiba muncul di kantor gue. Gak di undang pula "balas gavin dengan nada sensi.
Bimo kembali tergelak. Orang bilang musuh paling berbahaya bisa berpotensi jadi sahabat baik, begitupun sebaliknya. Seperti hubungan bimo dan gavin ini. Aneh memang.
"vin "
"apaan ? Lo kalau kesini cuma buat nyebar gosip yang nggak-nggak . Mending lo cabut deh . Gue banyak kerjaan "
Bimo kembali tertawa, mana mungkin bimo rela jauh-jauh ke kantor gavin jika tujuan nya hanya mengosip saja. Ayolah gavin mana enak sih di ajak gosip, lebih enak ngerumpi bareng ibu-ibu kompels atau tukang sayur, bimo membatin.
Pria itu mengeluarkan handphone dari sakunya, mengutak atik salah satu aplikasi yang selalu di buka sejuta umat. Gavin masih tetap di posisi nya, serius memperhatikan isi dokumen tanpa menoleh sedikitpun ke arah bimo, gavin menganggap teman lambe nya itu bagai tak kasat mata.
"vin.. Gue punya sulap "
"gak usah ngelawak deh lo bim, gue lagi banyak kerjaan "
Bimo tidak mau terpancing emosi, dia tahu persis gavin dalam mode super sensitif. Senggol dikit bacok kalau kata bang togar. Gavin yang duduk di hadapannya sekarang adalah cowok yang lagi PMS, jadi harus ekstra sabar menghadapi species macem itu.
"perhatikan baik-baik vin "bimo mengulurkan layar ponsel nya di hadapan gavin, layar ponsel itu masih terlihat hitam.
"gak ada apa-apaan ?"gavin memerhatian dengan seksama.
"diem.. Sihir nya belum bekerja .. Gue hitung ya satu dua tiga . Sim salabim akrabadaba fuh "bimo meniup layar ponselnya, ajaib ponsel itu menyala begitu saja.
"anjrit !!!!"gavin memelototi layar ponsel bimo, ponsel keluaran terbaru brand ternama itu kini sudah berpindah ke tangannya.
Bola mata gavin seperti mau keluar, foto yang dia lihat sudah menjelaskan kecurigaannya selama ini. Danar dan Nadin memang benar-benar bersama.
Di dalam foto itu, gavin melihat tangan danar melingkar sempurna di pundak nadin, lalu nadin tersenyum lebar di sampingnya. Foto dengan latar sebuah universitas itu sebenarnya terlihat biasa saja jika orang lain yang melihat. Tapi bagi gavin, foto itu lebih menyeramkan dari setan jenis apapun.
Bukan hanya satu foto yang menampakkan kebersamaan mereka, ada satu foto yang betul-betul membuat gavin merasa tertampar. Foto nadin dalam balutan gaun pengantin berwarna putih pengkap dengan aksesoris mahkota di atas nya.
Di samping wanita itu danar berdiri dengan tixedo berwarna abu-abu, perpaduan yang pas seperti dua orang yang baru saja mengucap janji sehidup semati.
Melihat raut wajah gavin yang sudah menunjukkan tanda-tanda murka, bimo merebut ponsel itu kembali. Di elus nya benda limited edition yang baru saja lunas cicilannya itu.
"bim gue harus gimana ?"mendadak gavin menundukkan kepala, lelaki itu sekarang malah nampak tak berdaya setelah beberapa menit yang lalu seperti akan meledak. Bimo jadi mencurigai gavin pengidap bipolar.
"gimana apanya ?"
"nadin sama danar, mereka keliatan... Bahagia "gavin berusaha untuk tidak nangis di depan bimo, bisa jatuh harga dirinya di depan lelaki nyinyir ini.
"terus lo mau gimana ?"bimo malah sibuk mengutak atik ponselnya sambil sesekali melirik gavin. "mati kutu kan lo sekarang danar betul-betul sama nadin "
Bimo menatap melas pada gavin yang nampak lesu dengan tampilan berantakan, lelaki itu bahkan tidak sadar kalau dia salah berpakaian. Kemeja hijau tosca di padukan dengan dasi warna merah ? gavin betul-betul kacau.
"lo sih waktu itu pake acara bilang gak suka nadin lah, nadin cewek matre lah, pake acara sok sok an ngerelain danar buat nadin, kena karma kan lo sekarang " omelan panjang bimo tidak di hiraukan gavin, lelaki itu masih diam saja di tempatnya.
"lo ada ide gak ? Kiat-kiat jadi pebinor ?"
Bimo langsung melotot, dia memang kadang masih suka melihat wanita cantik walaupun sekarang status nya sudah jadi suami orang. Tapi kalau sampai merebut bini orang, demi rok nyonya puff, pasti dia akan di sunat lagi oleh Jessy, istrinya yang cantik tapi galak nya minta ampun. Bimo langsung bergidik membayangkannya.
__ADS_1
Tapi melihat gavin yang sampai berniat menjadi perebut bini orang, bimo jadi gak tega dengan temannya yang sudah nyaris gila karena nadin itu.
"lo nanya gue kiat-kiat jadi pebinor ? Mana gue tau kacang ! Tapi.. Karena gue anak nya baik hati, tampan dan sangat sombong .. Jadi gue akan kasih lo sulap lagi "bimo tersenyum lebar.
Gavin mendengus."lo mau ngasih gue foto danar sama nadin lagi ? Tega nian kau "ucap gavin dengan logat batak.
Bimo tertawa, selama dia mengenal gavin. Pria itu selalu mengusung image pria cool yang susah di dekati. Tapi lihatlah sekarang, bimo hanya bisa geleng-geleng kepala. Karma itu beneran ada ternyata.
Bimo menginstruksikam gavin untuk mendekat ke arahnya. Mereka berdua berada di jarak yang cukup dekat, mungkin bisa membuat orang salah faham. Lalu Bimo kembali menutupi layar ponsel nya dengan tangan.
"perhatikan baik-baik "
Gavin memicingkan mata, fikirannya sudah membayangkan berbagai macam pose romantis yang nadin dan danar peragakan. Mebayangkannya saja membuat perut gavin mual.
Satu dua tiiiiii ga....
"kenapa lo gak bilang dari tadi !!!!"gavin berjalan cepat menuju pintu keluar, setelah sebelumnya memberikam hadiah ucapan terima kasih berupa sebuah tabokan pedas untuk teman nya yang masih tertawa cekikikan.
Sebelum gavin menutup pintu ruangan, pria itu memutar badan melihat bimo yang masih cekikikkan.
"ada gunanya juga gue punya temen admin lambe "ucap gavin seraya menutup pintu ruangannya.
Danar Argantara
Gue dan nadin duduk berhadapan sambil memakan ayam chrispy yang kami pesan di salah satu restaurant cepat saji berwarna merah. Nadin nampak asik menikmati kulit ayam chrispy sambil sesekali menjilati jari nya.
Sifat nadin masih sama seperti dulu saat kami masih pacaran. Nadin itu tipe yang cuek, dia gak pernah jaim di depan semua orang yang dia kenal. Bahkan di saat wanita lain pura-pura gak suka uang, padahal sebenarnya mata duitan. Nadin beda, dia dengan lantang mengatakan kalau dia cewek matre.
Semua pria yang pernah jadi mantan nadin, pasti setuju dengan gue. Nadin bukan hanya cantik pake banget, tapi gadis ini entah apa yang dia miliki, sanggup membuat pria manapun rela membuka dompet lebar-lebar hanya demi merayunya.
Mungkin gue salah satu korban nadin. Pria yang pernah rela menghabiskan puluhan juta hanya demi jalan dengan nadin almira queen. Menyandang predikat sebagai pacar nadin, merupakan sebuah kebanggaan di kalangan temen-temen gue dulu di SMA garuda.
Dan gue, tentu saja bangga pernah menjadi salah satu dari bagian hidup nadin. Walaupun dulu gaya berpacaran kami sangat amat sehat. Sedikutpun gue nggak pernah menyentuh nadin, hal terparah yang pernah kami lakukan hanya berpelukkan. Itupun saat kami putus.
Nadin itu sulit di sentuh, gue tahu saat kami masih bersama dulu. Walaupun gue yang menyandang status pacar nadin, gue yang selalu antar jemput dia seperti supir , gue yang selalu bayar semua belanjaan dia seperti kartu ATM, hati nadin tetap bukan milik gue.
Pernah sekali waktu gue memergoki nadin menatap gavin saat kami jalan bersama. Binar di mata nadin, tidak bisa berbohong. Gadis itu dulu pernah sangat mencintai gavin.
Beberapa hari yang lalu, bimo mengajak gue untuk kumpul bareng teman SMA. Saat itu gue sedang sibuk mempersiapkan project kerja sama antara perusahaan gue dengan sebuah TV swasta. Sebetulnya gue tidak berniat untuk hadir, pekerjaan gue menumpuk dan nyaris membuat gue gila karenanya.
Tapi saat bimo mengatakan kalau gavin juga hadir. Entah kenapa gue jadi tertarik untuk datang ke acara reuni kecil-kecilan itu. Firasat gue mengatakan kalau gavin mungkin saja tahu informasi keberadaan nadin. Dan ternyata firasat gue benar, gavin dan nadin kerja di perusahaan yang sama.
Awalnya gue sempat berfikir mungkin saja gavin yang dulu pernah benci nadin, berubah karena setiap hari dia habiskan dengan wanita itu. Tapi ternyata gue salah, gavin tetap gavin. Pria yang mengatakan kalau dia alergi berada di dekat nadin.
Tentu saja gue merasa mendapatkan angin segar. Jika di dunia ini orang hanya berharap kesempatan kedua akan datang. Maka gue merasa kesempatan kedua itu kita yang ciptakan.
Gue langsung menodong nomor telfon nadin pada gavin. Awalnya lelaki itu seperti ragu ingin nemberikan nomor telfon itu atau tidak. Untung saja bimo dan dito terus mengompori gavin, hingga akhirnya lelaki itu memberikan nomor telfon nadin.
"makan pelan-pelan nad "dengan sigap gue membersihkan sisa saus di ujung bibir nadin, dengan tisue.
Wanita itu langsung memundurkan wajahnya, kemudian merebut tisue dari tangan gue. Nadin masih belum berubah ternyata, dia masih sulit di sentuh.
"lo tahu deh kalau gue udah ketemu kulit ayam gimana "nadin terkekeh, duh mantan gue kenapa semakin cantik gini sih.
"abis ini lo mau kemana ?"
"hm, pulang lah masa gue mau nginep di rumah lo. Kalau lo izinin gue sih hayuk "candaan gue yang garing mendapat hadiah lemparan tisue bekas dari nadin. Untung dia cantik.
Kami kembali menikmati makan siang kami, sampai sebuah suara dering ponsel membuat kami sama-sama menoleh. Ponsel nadin yang tergeletak di atas meja lah penyebab nya. Gue memicingkan mata, mencoba mencari tahu siapa yang sejak tadi tidak berhenti menelfon nadin.
Gavin
"angkat nad siapa tahu penting "gue mencoba melihat reaksi nadin, keppo juga karena dia seperti tidak ingin mengangkat telfon itu.
Nadin masih mengunyah ayam chrispy nya, mengabaikan suara dering telfon yang entah sudah keberapa kali kembali berbunyi. Sikap nadin yang terlihat mengabaikan panggilan gavin, membuat gue menyadari sesuatu. Hubungan mereka bukan lagi bos dan sekretarisnya.
Bahkan saat tanpa sengaja nadin membuka layar ponsel nya , dengan mata kepala gue sendiri gue melihat foto yang menjadi wallpaper hanphone nadin. Dua orang yang nampak bahagia sambil menunjukkan raut wajah konyol.
Mereka adalah nadin dan gavin.
Dan harus gue akui gue kalah.
Gavin Christopher
Say sorry with flower
Istilah itu pernah gue abaikan karena gue gak yakin hanya dengan sebuah buket bunga, seorang wanita akan bisa luluh karenanya. Tapi hari ini gue mau membuktikan kebernaran teori yang sudah di kenal sejak zamam kakek nenek gue masih PDKT.
Gue memarkirkan mobil gue di depan rumah nadin. Tadinya gue berniat menunggunya di dalam rumah, jadi saat dia pulang dia pasti kaget karena gue ada di rumahnya dengan sebuket bunga mawar yang besar ini Tapi ternyata rumah nadin sepi, mami nya mungkin sedang tidak ada di rumah. Akhirnya gue terpaksa menunggu saja di dalam mobil.
Gue gak mau menunggu sampai besok, gue nggak mau besok gue betul-betul dapat undangan pernikahan nadin dan danar. Gue mau hari ini juga nadin harus kembali pada gue.
Gue melihat mobil Pajero hitam berhenti di depan mobil gue. Gue bisa lihat dengan jelas siapa pengendaranya dan juga penumpangnya saat kedua orang itu turun dari mobil. Gue mencoba menahan emosi, gak lucu kan kalau gue tiba-tiba turun terus labrak mereka berdua, seperti realiti show settingan yang ada di TV.
Jadi gue memutuskan untuk memantau dari dalam mobil. Mengawasi gerak gerik mereka yang sekarang sudah turun dari mobil sambil menggeret koper besar.
Mereka berdua berdiri di depan pagar rumah nadin. Masih saling menatap sambil sesekali tertawa. Gak tahu apa mereka, kalau ada orang yang menderita lihat mereka tertawa begitu. Ini namanya tertawa di atas penderitaan orang lain !
Setelah berbicara sebentar, gue lihat danar kembali ke mobil nya. Nadin mulai mencari sesuatu di dalam tas, mungkin kunci rumahnya.
Mobil danar sudah menjauhi pekarangan rumah nadin. Gue langsung tersenyum lebar. Is this my turn already.
Gue ambil sebuket bunga yang sejak tadi duduk manis di samping gue. Bunga mawar merah yang gue pilih sebagai simbol permintaan maaf yang tulus. Lebih ke sogokkam sih sebetulnya, siapa tahu nadin bakalan luluh dengan 500 tangkai mawar merah.
Gue berjalan mengendap-endap sampai akhirnya gue berdiri di belakang nadin.
"hai nad "
Nadin yang hampir membuka pagar rumahnya, menoleh saat gue memanggilnya. Wajahnya nampak terkejut, pasti gue berhasil nih.
"ngapain vin disini ? Udah ganti profesi jadi tukang bunga ?"tanya nadin yang kini menatap gue bingung.
Gubrak
Ini kenapa nadin jadi ngeselin ya ? Harusnya kan dia peluk gue gitu. Bagus kalau gue di kasih bonus kiss kiss manja. Gue udah rela-rela in bawa buket bunga sebesar ini, dan reaksi nadin biasa aja ?
"lo nggak kerja ?"
Double ngeselin
Kalau nggak inget gue dalam misi memenangkan kembali hati nadin, udah gue unyeng unyeng pasti wanita ini. Bisa-bisa nya cowok ganteng macam gue begini di abaikan.
Sabar vin..
"aku boleh masuk nad ?" gue tersenyum, ayolah buket bunga cantik ini lama-lama berat juga.
Nadin nampak berfikir, gue yakin nih danar pasti udah ngeracunin dia pada saat mereka di KL sana. Kalau nggak, mana mungkin nadin mengabaikan gue seperti ini. Ingatkan gue nanti kalau gue jadian sama nadin, danar akan jadi orang pertama yang tahu. Supaya dia tahu gimana rasanya jadi orang yang di abaikan. Duh kok gue kayak antagonis gini.
"jangan lama-lama. Gue masih jetlag "nadin menggeret koper nya mendahului gue masuk ke rumah.
__ADS_1
Gue mengamati nadin dari belakang, wanita itu hanya diam saja sambil membuka pintu.
"duduk dulu, gue ambilin minum "
Gue duduk di sofa, sementara nadin pergi entah kemana. Gue meletakkan buket bunga itu di atas meja. Sedikit meregangkan badan karena jujur saja, buket bunga itu memang berat.
Tidak lama kemudian nadin kembali muncul dengan pakaian yang lebih santai. Dia melemparkan sekaleng softdrink yang untung langsung bisa gue tangkap.
Kami berdua duduk di sofa, nadin mengganti chanel tv sementara gue sibuk memperhatikannya. Untuk beberapa saat kami hanya diam saja, melihat acara ajang pencarian bakat yang di siarkan oleh salah satu stasiun tv.
"nad kamu gak mau nanya gitu kenapa aku datang kesini ?"
Akhirnya gue memberanikan diri untuk membuka suara, lama-lama bisa lumutan gue di anggurin terus.
Nadin menoleh. "nggak.. Lagian lo kan emang selalu seenaknya sendiri. Jadi gue sih gak heran "
Gue tercengang dengan jawaban nadin. Ini dia lagi nyindir gue ? Tunggu deh kenapa dia kembali menggunakan mode Gue-Lo ? . Bakalan susah nih kayaknya.
Jangan kepancing emosi vin, inget tujuan awal lo ! Anggap aja ini bagian dari hukuman lo, karena udah menyia-nyiakan nadin.
"aku mau kasih kamu ini "gue menggeser buket bunga mawar itu mendekat ke arah nadin.
"ngapain lo ngasih gue bunga ? Emang gue udah mati "
Ya Allah, berikanlah hambamu ini kesabaran ..
"nad "
"iya vin "
"ini 500 tangkai bunga mawar loh "gue mencoba buat menegaskan kali aja nadin nggak tau.
"terus ?"
"masa kamu gak faham sih ?"
"ngomong yang jelas. Emang gue cenayang bisa tau fikiran lo "
Gue seperti di tampar, gak keliatan memang tapi jawaban-jawaban pedas dari nadin sudah menjelaskan kalau wanita ini marah. Catat baik-baik .. Selain kata terserah, sindiran wanita adalah hal yang paling membuat laki-laki frustasi.
"fine ! Fine ! Fine !"gue berdiri di hadapan nadin sambil bertolak pinggang.
"lo mau gue ngomong apa ?"gue yang sudah kepancing emosi jadi ikutan sewot.
Nadin ikut beranjak dari sofa. Posisi kami saat ini saling berhadapan dan sama-sama bertolak pinggang. Nadin tidak juga menjawab, gue tahu sih kalau nadin pasti mancing gue supaya gue bilang cinta sama dia.
"kenapa lo datang ke rumah gue ?"
"emang ada larangan bos berkunjung ke rumah karyawannya ?"
"kenapa lo berkali-kali nelfon gue ? , teror gue di whatsapp ? "
"ya itu karena gue iseng aja "
"kenapa lo ngasih gue bunga "
"gue mau minta maaf "
"emang lo salah apa ?!! "ucap nadin dengan nada ketus.
"soalnya gue... Mau lo kembali di hidup gue nadin " gue membatin sambil duduk kembali di sofa.
Gue memegang kepala gue yang terasa pening. Ucapan-ucapan yang sempat gue latih di mobil tadi hilang begitu saja. Kenapa setiap kali gue berhadapan dengan nadin selalu begini. Cuma 3 kata loh . Aku cinta kamu. Tapi rasanya kok ya susah banget ngucapin nya ?
Nadin, maafin gue .. Gue tahu gue cowok PHP. Mau gak lo kasih gue kesempatan kedua ?
Nad, gue cinta lo. Jangan deket sama danar lagi. Gue gak suka
Lo masih cinta kan nad sama gue ? Gue udah cinta nih sama lo
Gue mengingat ucapan-ucapan yang sejak di mobil tadi sudah gue latih. Ini nih kalau cuma pintar teori doang, begitu praktek nol besar.
Gue merasakan sofa di samping gue melesak ke dalam. Pertanda kalau ada seseorang yang baru saja menempatinya.
"jujur vin.. Apa yang lo lakuin hari ini buat gue GR "
Gue menoleh menatap nadin yang sekarang duduk di samping gue sambil menunduk. Jari-jari tangannya sesekali dia mainkan, dia sedang gugup.
"lo dan buket bunga lo itu bisa buat gue salah faham "sambung nadin kembali.
"lo gak salah faham kok nad "
"terus lo bisa jelaskan maksud dari perlakuan lo hari ini "
Gue beranikan diri untuk menatap nadin. Gue pegang kedua bahunya, kemudian menggeser posisi badan nadin agar duduk menghadap gue. Manik mata itu sekarang berada di hadapan gue, bertemu dengan mata gue.
"say something vin "
"nadin... "
"lo... "
Wajah nadin mulai berubah, mata nya menatap gue penuh harap. Satu tarikan nafas gue memberanikan diri untuk mengucapkan apa yang seharusnya gue ucapkan sejak dulu.
"nadin almira queen "
"iya..."
"lo... "
.
.
.
.
.
.
.
"gue pecat "
Bersambung
__ADS_1