CEO Rese Dan Secretary Matre Nya

CEO Rese Dan Secretary Matre Nya
Episode 20


__ADS_3

Bak maling yang takut ketahuan mencuri, nadin mengendap-endap memasuki gedung kantor nya yang masih nampak sepi karena jam masih menunjukkan pukul 07:00. Wanita itu menutup sebagian wajah nya dengan pashmina yang dia kenakan di kepala nya. Mata nya menyapu pandangan sekeliling sebelum memencet lift menuju lantai tempat nya bekerja.


Kejadian semalam membuat nadin bagai kehilangan muka. Dia berharap hari ini tidak bertemu dengan gavin, walaupun itu mustahil mengingat kalau pria itu adalah bos nya. Nadin baru bisa bernafas lega saat dia mendapati ruangan gavin kosong pertanda kalau lelaki itu belum menampak kan batang hidung nya pagi ini. setidaknya untuk sementara nadin bisa bernafas lega.


"pagi"sebuah suara membuat nadin nyaris terjatuh dari kursi nya.


Wanita itu mendapati gavin berdiri dengan santai di ambang pintu sambil  memegang secangkir kopi.


"jadi jadwal saya hari ini apa nad ?"gavin berkata seperti biasa, nampak normal seolah peristiwa semalam tidak pernah terjadi.


"jadwal bos hari ini ya ?"nadin malah nampak bingung, gadis itu sibuk memegangi ujung rok nya dan menunduk.


"iya, kamu gak mungkin mendadak amnesia kan nad ?"


Nadin menggeleng seraya mengambil agenda nya yang tergeletak di atas meja. Gadis itu  menarik nafas panjang sebelum membacakan jadwal gavin untuk hari ini, bos nya itu hanya memperhatikan sambil sesekali mengangguk-angguk.


"oke "nadin baru bisa bernafas lega setelah gavin berlalu dari hadapan nya. Setidaknya untuk 4 jam kedepan nadin tidak harus melihat wajah gavin.


Gavin Christopher


Gue menyesap gelas kopi keempat gue hari ini. Pak Wira masih menjelaskan mengenai project resort di bali, dan jujur walaupun presentasi nya terlihat menarik tapi tidak ada satupun penjelasan yang dia berikan gue mengerti.


Sebagai CEO gue tahu persis perbuatan gue ini jauh dari kata profesional. Tapi gue juga tidak bisa mengerti mengapa gue harus hilang konsentrasi hanya karena memikirkan satu orang wanita, nadin.


Semalam untuk pertama kali nya aurora menghubungi gue lagi. Dia mengatakan kalau hari ini dia akan mengunjungi gue di jakarta. Harus nya gue lompat kegirangan, tapi entah kenapa gue malah terbayang wajah nadin semalam.


Dan tadi pagi, gue sengaja berangkat ke kantor dari subuh hanya demi menghindari bertemu nadin. Gue bahkan belum tidur dari semalam, wah betapa kuat nya tubuh gue ini.


Tapi ternyata perhitungan gue meleset, gue melihat nadin datang sambil mengendap-endap menuju ruangan nya. Saat itu gue baru saja selesai menyeduh kopi di pantry dan berniat kembali ke ruangan. Dan nyaris saja gue tertawa terbahak-bahak melihat tingkah nadin yang mengendap-endap sambil celingukkan, wajahnya dia tutup separuh dengan pashmina yang dia kenakan.


Dari jauh gue melihat nadin melongok kan kepala ke dalam ruangan gue, perempuan itu pasti ingin mencari tahu apakah gue sudah datang ke kantor atau belum.


Gue bukannya gak tahu alasan kenapa nadin bertingkah sekonyol itu pagi ini, ya apalagi kalau bukan takut bertemu gue. Jadi gue memutuskan untuk bersikap biasa di depan nadin, seolah-olah peristiwa semalam tidak ada. Setidaknya mungkin itu membantu membuat suasana diantara kami lebih baik.


"gavin.. Hello "gue tersadar saat suara aurora menggema di telinga gue. Gue hanya langsung menenggak minuman yang sudah sejak tadi berada di atas meja tapi belum juga gue sentuh.


Gue tersenyum menatap aurora, kami berdua bertemu di sebuah restaurant vegetarian di daerah Sudirman. Aurora nampak tersenyum seperti biasa, selalu cantik di mata gue. Hari ini dia mengenakan dress biru dongker dengan sebuah kaca mata hitam bertengger di atas kepala nya. Hati gue yang biasanya selalu jedag jedug setiap melihat aurora entah kenapa hari ini tidak ada suara sama sekali.


Gue mulai merasa aneh, di hadapan gue sekarang aurora sedang duduk sambil menikmati semangkuk salad buah dan gue melihat nya biasa saja. Gue yakin ada yang aneh dengan diri gue, harusnya gue bahagia setelah cukup lama tidak meliat wajah cantik aurora, dan normal nya gue akan melompat kegirangan saat mendapat telfon dari aurora semalam. Tapi nyatanya gue merasa bisa aja, nggak ada rasa bahagia atau sedih , biasa saja. Gue mulai mempertanyakan diri gue sendiri, lo kenapa vin ?


"you look wierd. "aurora memicingkan mata nya sambil menatap gue.


"what do you mean ?"


"sejak tadi gue perhatikan lo gak menyimak semua cerita gue, lo lagi mikirin apa ?"


"nggak, gue ngeh kok lo baikan sama hans kan ? I'am glad to hear that "gue tersenyum , aneh kok gue nggak merasakan apa-apa ya.


"gue kenal lo udah lama gavin christopher. And i know you're lying now "aurora tersenyum, senyum yang dulu pernah buat gue terpesona tapi entah kenapa hari ini gue melihat nya biasa saja.


"fine ! Gue lagi mikirin harga saham yang lagi gak stabil "ucap gue secara spontan.


"harga saham yang gak stabil atau hubungan lo sama nadin yang lagi gak stabil "sindir aurora seperti bisa menebak isi fikiran gue.


"gue sama nadin gak ada hubungan "tanpa sadar nada suara gue meninggi, aurora malah terkekeh sambil menatap gue, sial.


"oke oke .. Gue percaya "aurora memicingkam mata seolah mempercayai perkataan gue.


Kami berdua kembali diam sambil menikmati minuman dan alunan music jazz dari seorang penyanyi cafe  bernama Gery.


"jangan jadi pengecut vin, kalau lo cinta sama nadin lo harus perjuangkan dia "ujar aurora secara tiba-tiba.


"udah gue bilang kan ra, gue sama nadin gak ada hubungan apapun ! Dan lo tau sendiri siapa yang gue cintai... Cuma lo aurora "entah kenapa perkataan gue ini lebih mirip playboy yang merayu mangsa nya.


Aurora terkekeh gadis itu menepuk pundak gue. "vin.. Jujur aja, kedatangan gue ke indonesia sebenernya mau memperbaiki hubungan pertemanan kita. I mean terakhir kali kita ketemu ... "aurora terdiam sejenak, gue tahu dia pasti merasa tidak enak mengatakan peristiwa itu.


Gue tersenyum lebar lebih mirip sebuh cengiran ala iklan pepsodent sebenarnya. Gue tahu aurora saat ini merasa nggak enak karena periwtiwa penolakkan cinta itu.


"udah deh, gue juga gak baper kok ra karena lo tolak. hm Oke dulu gue emang patah hati. But i'am fine " batin gue berkata, kenapa lo bisa selancar itu berbicara ke aurora gavin.


Aurora menatap gue entah untuk kesekian kalinya sejak gadis itu menampakkan diri nya di cafe kinan hari ini. Tapi yang gue bisa baca dari tatapan dia kali ini, bukan lagi tatapan sedih seperti dulu yang selalu dia tunjukkan di hadapan gue. Sorot mata auora berbicara kalau gadis itu sedang bahagia, dan itu berhasil membuat sudut bibir gue mengulas senyum tulus untuk sahabat yang pernah gue cintai ini.


"karena nadin kan ?"aurora menaik turunkan alis nya, ekspresi wajah dan perkataan nya dari tadi membuat gue betul-betul emosi.


"kalau lo masih nuduh gue ada hubungan apa-apa sama nadin lo salah ra ! Catat baik-baik .. Gue Gavin Christopher tidak akan pernah suka atau jatuh cinta pada  nadin almira queen karena apa .. Dia matre "gue masih berusaha mengatur nafas setelah membuat pernyataan yang mungkin saja bisa membuat auora berhenti berasumsi kalau gue dan nadin punya hubungan special.


Aurora tidak lagi berkata apa-apa ataupun meledek gue seperti tadi. Sepertinya gue berhasil membuat pernyataan yang membuat auora berhenti meledek gue dan nadin lagi.


"kenapa diam ra ? Udah percaya kan kalau gue sama nadin gak ada apa-apa ? "gue tersenyum lebar setelah membuat aurora mempercayai perkataan gue barusan.


"vin..  Tiba-tiba gue baru inget kalau gue mau ke supermarket "aurora bangkit dari tempat duduk nya kemudian setengah berlari meninggalkan gue yang masih bingung dengan sikap auora.


Gue berbalik badan sambil menyesap sisa cappucino yang belum sempat gue habiskan, gue berniat menyusul auora untuk mengantarkan wanita itu pulang ke rumahnya.


Tapi Seketika itu juga gue menyemburkan kopi yang belum sempat sampai di tenggorokan gue, wajah gue mungkin sekarang nampak pucat dan kaki gue rasanya seperti diberi lem korea. Dia berdiri disana tepat di belakang gue, dia menatap gue dengan mata yang berkaca-kaca. Entah untuk keberapa kali nya gue nampak begitu brengsek di depan wanita ini.


"nadin"


Nadin Almira Queen


Gue berputar arah menuju sebuah cafe yang letak nya berlawanan dengan arah rumah gue. Sial beribu sial memang, seharian ini dengan segala akal bulus dan otak rubah gue, gue berhasil meminimalisir pertemuan gue dengan gavin. Tapi sebuah telfon dari pak Subagyo direktur keuangan yang terkenal galak bin kejam membuat gue terpaksa mengantarkan dokumen yang harus di tanda tangani oleh gavin.


Gue masih berusaha mencari cara bagaimana caranya agar dokumen ini bisa di tanda tangani oleh gavin tanpa perlu gue bertemu dengan dia. Apa gue bayar orang aja buat ngasih dokumen ini ke gavin ? Tapi ini dokumen yang gak boleh diketahui oleh orang luar. Apa gue tutup wajah gue pakai pashmina lagi terus todong tanda tangan gavin tugas selesai. Masalahnya dia pasti bakalan anggap gue aneh dan gak profesional.


Ahh sial oke gue nyerah. Demi  profesionalitas dan kredibilitas gue sebagai seorang sekretaris, gue cuma tinggal akting pura-pura cool, melangkah dengan cantik ke dalam cafe dan cari pria tampan yang mirip ji chang wook itu.


Gue kok pengen ketawa ya, bisa-bisa nya gue kefikiran wajah nya gavin disaat seperti ini. Nadin pasti sudah betul-betul terkena gavinadict.

__ADS_1


Gue memarkirkan mobil gue di depan cafe yang tidak terlalu ramai oleh pengunjung. Dilihat dari luar, cafe ini nampak nyaman untuk orang yang ingin mencari ketenangan di tengah hingar bingar ibu kota yang lebih jahat dari ibu tiri.


Gue melangkah masuk setelah mendorong pintu kaca yang terdapat lonceng di atas nya. Pandangan gue menyapu ke sekeliling cafe yang ternyata nampak lebih luas dari apa yang terlihat dari luar tadi. Dan gue melihat dia disana, Auora iya wanita itu pasti Auora. Walaupun kami hanya bertemu beberapa kali tapi gue masih mengenali gadis cantik yang duduk dengan segelas kopi di tangan nya itu aurora.


Auora tidak sendiri, dia bersama seorang pria yang duduk dengan posisi membelakangi gue. Tentu gue bisa tebak dari warna baju dan postur badan pria itu, tidak salah lagi itu pasti gavin. Untuk beberapa alasan hati gue terasa sakit melihat dua sejoli yang nampak asik dengan perbincangan mereka itu. Mungkin jika orang lain yang melihat, mereka berdua nampak seperti pasangan yang sedang kasmaran.


Dengan mengumpulkan semua nyali yang gue punya ditambah bayangan pak subagyo yang melotot ke gue karena nggak berhasil menjalankan perintah nya di kali dengan doa doa yang gue rafalkan diam-diam, oke gue mulai lebay padahal gue cuma mau bertemu gavin loh bukan genderuwo.


Gue berjalan semakin mendekat kemudian gue berdiri di belakang gavin. Pria itu masih tidak menyadari kehadiran gue, tapi aurora menatap gue. Gadis itu nampak terlihat shock melihat gue yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang gavin. Ingin rasanya gue berkata 'aurora gue manusia loh bukan drakula' tapi gue urung berkata demikian. Gue mendengar dengan jelas sebuah pernyataan dari gavin yang membuat gue menyadari alasan kenapa auora terlihat shock melihat gue.


"kalau lo masih nuduh gue ada hubungan apa-apa sama nadin lo salah ra ! Catat baik-baik .. Gue Gavin Christopher tidak akan pernah suka atau jatuh cinta pada  nadin almira queen karena apa .. Dia matre"


Gue jelas mendengar kalimat yang gavin baru saja ucapkan. Sebuah kalimat yang sialnya membuat hati gue sakit dan berimbas pada mata gue yang terasa panas menahan sesuatu yang bening itu agar tidak mengalir. Gue tidak ingin mengis apalagi karena penghinaan gavin yang bukan sekali dua kali ini gue dengar diucapkan oleh nya. Tapi mendengar dia mengatakan kalau dia tidak akan pernah jatuh cinta pada gue... Membuat gue tidak sanggup menahan cairan bening itu tidak Mengalir dari mata gue. Gue patah hati.


"nadin "gavin nampak terkejut saat mendapati gue berdiri di belakang nya. Bahkan dia sampai menyemburkan kopi yang baru saja dia minum.


"gue bisa jelasin.. "gavin nampak panik, gue tahu dia pasti lagi berusaha mencari alasan supaya gue gak sakit hati dan mengajukan resign.


"sumpah nad gue gak bermaksud.. Lo tau gue kan "gavin memegang kedua pundak gue, matanya berusaha meyakinkan gue kalau apa yang dia katakan hanya sebuah kesalahpahaman.


Gue melepaskan kedua tangan gavin dari pundak gue. sepertinya untuk saat ini gue harus berakting di depan pria yang baru saja mematahkan hati gue ini.


Gue tersenyum lebar. "saya kesini mau minta tanda tangan bos, pak subagyo minta saya untuk antarkan dokumen ini "gue menyerahkan sebuah map berwarna coklat yang tadi di berikan oleh pak subagyo.


Gavin langsung mengambil map coklat itu dari tangan gue, lelaki itu langsung menandatangani beberapa kertas yang ada di dalam map tanpa berniat membaca nya. Sejurus kemudian map itu dia kembalikan ke tangan gue.


"nad jangan salah paham, gue berbicara seperti tadi supaya auora gak nuduh kita punya hubungan "gavin masih berusaha meyakinkan gue, entah dia sadar atau tidak setiap kalimat yang dia lontarkan semakin membuat gue patah hati.


Gue kembali tersenyum. "vin.. Emang kenyataan kan kita gak punya hubungan. Lo gak perlu panik karena takut gue marah atau tersinggung atas ucapan lo tadi. Toh lo emang benci gue kan sejak kita SMA. Dan.. Lo bener, gue emang matre "


Gavin terdiam setelah mendengar rentetan pernyataan yang meluncur bebas dari bibir gue. Gue pun juga heran kenapa gue bisa begitu lancar mengucapkan kalimat pembelaan itu. Gue menunggu reaksi gavin, alibi apa lagi yang mau dia lontarkan kali ini.


"gue cowok brengsek nad "gavin berjalan mendahului gue keluar dari cafe.


Gue duduk di tempat yang baru saja gavin tinggalkan. Sedetik kemudian cairan bening itu mengalir semakin deras, membuat gue jadi tontonan gratis para pengunjung cafe yang baru saja menonton adegan drama yang menyedihkan sekaligus memalukan. Gue buru-buru menutup wajah gue dengan pashima yang gue ambil dari dalam tas secara paksa.


Cinta memang sanggup membuat orang jadi bodoh. Dan hari ini gue akui gue memang sangat bodoh.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~ 🐱🐱 \~\~\~\~\~\~\~\~


Aurora Sharira


 


Gue baru saja kembali ke rumah setelah bertemu kembali dengan gavin di cafe hari ini. Rasanya sangat di sayangkan kalau persahabatan kami harus berakhir hanya karena kejadian waktu itu. Jadi gue mengumpulkan segala keberanian yang gue punya untuk menemui gavin demi menyelamatkan persahabatan kami yang nyaris hancur. Gue gak mau hubungan gue dan gavin yang sangat akrab harus berakhir seperti orang asing.


Awalnya gue merasa canggung saat bertemu gavin, apalagi lelaki itu tampak tidak konsen dengan semua cerita yang gue lontarkan padanya. Fikiran gavin seperti sedang melayang entah di mana, dan gue bisa menebak kemana arah fikiran gavin berada. Nadin, wanita itu seperti punya tempat special di fikiran gavin. Walaupun gavin berkali kali selalu menyangkal, tapi gue tahu nadin sudah punya posisi khusus di hati gavin.


Karena itu gue lebih memilih pergi saat tiba-tiba nadin datang dan melihat kebersamaan gue dan gavin. Biarkan saja mereka bertengkar karena cemburu dan gue berharap setelah itu mereka akan benar-benar menyadari perasaan mereka masing-masing. Gavin berhak mendapatkan perempuan yang betul-betul mencintai nya, itu doa tulus gue sebagai sahabat gavin.


Hans nampak terlihat santai hanya dengan mengenakan t-shirt dan celana pendek selutut  berwarna khaki. Nyaris saja gue tidak percaya kalau laki-laki yang berdiri di depan gue saat ini seorang Hans Anderson, pria yang dulu arogan dan selalu membuat gue membenci nya setiap waktu.


Gue mengangguk. " kamu udah makan ?"tanya gue yang di jawab gelengan kepala oleh hans.


"aku capek seharian nemenin justin main di mall , jadi gak nafsu makan , kenapa ya justin hobi banget lari-larian gak tau apa ya kalau papah nya udah tua "


Gue tertawa pelan."emang kamu udah setua apa sampai capek nemenin justin main ke mall doang "


Hans hanya tersenyum sambil memegang tengkuknya." justin baru aja tidur "


"yauda mau aku masakin apa ?"


Hans menggeleng." kita delivery makanan aja, tugas kamu sekarang nemenin aku nonton film horor gimana ?"


Walaupun ingin tertawa gue tetap mengangguk menyanggupi permintaan hans, kami berdua berjalan meuju sofa yang berada di ruang tengah. Kami berdua memilih untuk menonton film The Nun, hans menyalakan DVD player sementara gue mempersiapkan cemilan untuk kami makan bersama.


Rasanya gue seperti mimpi , masih terbayang dalam ingatan gue segala perlakuan buruk hans yang bahkan lebih menyeramkan dari pada film horor yang kami berdua tonton saat ini. Tapi semua itu terjadi di masa lalu, hans yang saat ini gue kenal bukan lagi pria kejam yang gue takuti, melainkan pria yang mulai berubah menjadi lebih baik.


Setelah terakhir kali gue dan hans bertengkar hebat dan hans membawa-bawa mengenai jantung ruben, saat itu hans memang benar gue berharap dia yang meninggal dan bukan ruben. Nyaris saja gue dan hans bercerai saat itu, sampai kami menyadari kalau justin menyimak pertengkaran kami. Kami berdua langsung kaget mendapati justin menatap kami tanpa menangis atau bertanya.


Dan sejak saat itu justin mulai berubah.


 \~\~\~\~\~\~\~\~\~ 🐱🐱 \~\~\~\~\~\~\~\~


Gavin menatap nadin yang sedang menjelaskan jadwal nya hari ini. Sejak peristiwa di cafe itu memang tidak ada yang berubah dari sikap nadin. Gadis itu masih bekerja seperti biasa, bersikap profesional dan sesekali gavin melihat nadin masih tertawa dengan rekan kerjanya.


Tapi bagi gavin, sejak peristiwa di cafe itu semua nya nampak berbeda. Perasaan nya pada nadin mulai berubah, lelaki itu merasa bersalah setiap hari nya. Bahkan untuk sekedar menggoda nadin dengan candaan garing nya saja gavin seperti sudah kehilangan nyali.


Nadin memang selalu menemani nya di semua kegiatan. 4 minggu ini gadis itu betul-betul bersikap profesional layaknya seorang sekretaris terhadap bos nya. Tapi yang gavin rasakan berbeda, sejak hari itu nadin semakin membangun tembok tak kasat mata. Gadis itu terasa jauh padahal dia selalu ada di samping gavin. Nadin berubah.


"awas bengong terus ayam tetangga mati "suara auora yang lembut kini mulai terdengar seperti petasan  di telinga gavin.


"bisa nggak sih lo kalau muncul ada prolog nya ra, ini tau - tau nongol udah kayak jalangkung aja "gavin ngedumel sendiri. Entah kenapa sikap gavin berubah , dia tidak lagi menganggap auora dewi yang dia puja.


Auora duduk di hadapan gavin, gadis itu sibuk memainkan hiasan meja gavin yang berbentuk bandul.


"lo nggak ada kerjaan ra ? Berkeliaran terus disini, gak takut di jewer sama hans "


"hm hm tenang dia udah jinak "


"tau deh yang dulu nangis-nangis gara-gara hans, sekarang aja bilang nya udah jinak "ledek gavin.


"hm.. Iya ya dulu kan gue nangis-nangis ke lo ya"aurora mengusap dagu nya sambil menerawang membayangkan masa lalu.


"nyaris bercerai malah "gavin terkekeh.


"yang sudah lewat biarkan sudah lewat, sekarang kita tatap masa depan "ujar aurora dengan gaya sok bijak.

__ADS_1


"ck ck.. Sejak kapan lo jadi bijak begini, kebanyakan main sama orang tua sih "


"sial.. Lo ngatain hans tua !"aurora langsung memelototi gavin, gadis itu merasa tidak terima suaminya di hina oleh gavin.


"udah kemakan cinta sepertinya "gavin menggelengkan kepala nya, merasa ajaib dengan hubungan hans dan aurora.


"hah...tunggu sampai lo udah ngerasa jatuh cinta sama cewek, lo gak akan lagi ngeledek gue "


"udah pernah kan, sama lo "


"hm.. Gue rasa waktu lo naksir gue dulu, lo gak sampai bengong terus kayak tadi "


"sok tau "gavin bangkit dari duduk nya kemudian berjalan menuju kulkas untuk mengambil minuman untuk tamu tak di undang nya itu.


"jadi gimana perkembangan hubungan lo sama nadin ? "


"uhuk uhuk "gavin nyaris saja memuntahkan isi di dalam mulutnya saat mendengar aurora tiba-tiba menyebut nama itu.


"udah gue bilang auora gue..."


"iya iya gue percaya kalau lo gak ada hubungan apa-apa sama nadin "


"iyalah gue kan udah pernah bilang sama lo "


"tapi ya vin, lo emang gak terpesona gitu liat nadin "auora mengedikkan bahu, memberi israyat pada gavin agar melihat nadin yang nampak sibuk dengan komputer nya.


Gavin mengikuti arah pandangan auora, sekarang pandangan gavin ikut melihat nadin yang nampak berkonsentrasi sambil mengetik di laptop nya. Mungkin ini bukan pertama kali nya gavin melihat nadin dengan pakaian seperti itu. Hampir setiap hari gadis itu selalu tampil modis dengan semua pakaian branded yang melekat di tubuh nya.


Gavin tidak pernah memungkiri pesona seorang nadin. Dia cantik sangat cantik dan itu fakta yang harus gavin akui. Diam-diam tampa gavin sadari pria itu tersenyum lebar sambil menatap nadin. Auora melihat nya, wanita itu tahu persis kalau gavin diam-diam menyimpan perasaan pada nadin. Ya sebenarnya sejak kejadian di resort itu auora sudah merasa ada yang aneh dengan hubungan bos dan sekretaris itu. Tapi auora cukup yakin, sahabat nya yang gengsi nya setinggi gunung itu tidak menyadari nya.


"vin.. Lo kan nggak suka nadin ya, kalau dia gue jodohkan dengan peter gimana ? Dia lagi nyari calon istri , dia juga ganteng dan kaya pas banget kan sama nadin yang kata lo matre "aurora bersorak kegirangan dalam hati, wajah gavin berubah merah padam. Sahabat nya itu cemburu sepertinya.


"ya silahkan aja bukan urusan gue "jawab gavin dengan nada ketus, pria itu pura-pura memeriksa berkas yang dari tadi enggan dia sentuh.


"oke, lo berarti rela ya gue bakalan jodohin mereka berdua "aurora menaik turunkan alisnya sambil tersenyun jahil, menggoda sahabat nya yang gede gengsi ini sepertinya akan jadi kagiatan yang menarik.


Aurora berjalan menuju ruangan nadin yang letaknya persis di depan ruang gavin. Ruangan mereka hanya dibatasi oleh sebuah tembok kaca tembus pandang, yang membuat gavin dapat melihat dengan jelas kalau auora saat ini sedang berbicara dengan nadin.


Dua wanita itu tertawa bersama, entah apa yang mereka bicarakan. Satu hal yang gavin tahu, insting keppo nya tiba-tiba bangkit. Sambil pura-pura sibuk memeriksa berkas, diam-dian gavin mencuri pandang ke arah nadin dan aurora.


Sayang beribu sayang walaupun gavin bisa melihat dua wanita itu berbicara, tapi gavin tidak bisa mendengarkan apa yang sedang mereka berdua bicarakan. Ingatkan gavin besok dia harus memasang alat penyadap di bawah meja nadin.


Beberapa menit setelah itu auora melambai pada nadin, gadis itu sepertinya baru selesai meracuni nadin entah dengan apa. Gavin melihat nadin ikut melambai sambil tersenyum lebar pada aurora. Kedua wanita itu nampak sangat akrab seperti mereka berdua sudah kenal bertahun-tahun. Sepeninggal aurora, nadin kembali sibuk dengan sesuatu di laptop nya, wajahnya kembali datar tidak lagi ceria seperti tadi bersama aurora. Diam-dian gavin kembali merasa bersalah.


"tiket apa ini nad ?"gavin mengernyit menatap amplop yang baru saja nadin serahkan, sebuah tiket pulang-pergi Jakarta-Jepang.


"bos lupa, besok bos ada pertemuan dengan Mr. Takamura untuk membahas pembelian mesin terbaru untuk produksi "


Gavin menepuk jidad nya sendiri, pria itu bahkan mulai lupa dengan semua agenda kegiatan nya minggu ini. Semalam gavin kembali di landa insomnia, kali ini penyebab nya bukan lagi keluarga nya atau pekerjaan nya tapi seorang nadin. Ya seorang nadin.


"saya belum packing nad , kamu bantu saya ya "gavin tersenyum lebar, lelaki itu berharap pesona nya masih mempan membuat gadis di hadapan nya itu tersenyum.


Nadin masih belum menjawab permintaan gavin, sepertinya pertanyaan gavin bagai sebuah soal matematika yang harus nadin perhitungkan.


"baik, saya permisi "nadin hendak berbalik badan tapi gavin menahannya, lelaki itu mencengkram lengan nadin.


"ada apa lagi ?"


"nanti malam makan sate yuk nad, gue tiba-tiba lagi mau makan sate taichan "gavin tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi putih nya bak iklan pasta gigi.


Nadin melirik arloji di lengan nya kemudian kembali melihat gavin. Lelaki itu masih tersenyum dengan harapan bisa membuat nadin luluh dan kembali menjadi nadin yang dulu .


"jam kerja saya hanya dari jam 09:00- 17:00 jika bos berniat mengajak saya diluar itu, maaf saya punya kehidupan lain selain di kantor. Saya permisi "


Gavin masih mencerna perkataan nadin beberapa menit yang lalu. Penolakkan nadin membuat ego gavin sedikit tersentil. Belum pernah gavin di tolak oleh seorang wanita, apalagi wanita itu pernah menjadi fans nya, pengagum nya.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~ 🐱🐱 \~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Gavin berjalan bak super model di sepanjang terminal kedatangan bandara Soekarno Hatta. Lelaki itu bersiul sambil sesekali memutar kaca mata hitam nya yang dia letakkan di sela jari tangan nya. 3 hari perjalanan di Jepang membuat gavin menyadari banyak hal. Terutama menyadari kalau gavin membutuhkan nadin.


Selama di Jepang gavin selalu teringat dengan nadin. Wajah wanita itu selalu muncul di fikiran gavin. Membuat gavin nyaris gila sekaligus merasa bahagia. Iya gavin akui gadis yang dulu pernah dia sebut matre itu sekarang punya posisi penting di hati nya. Dan betapa bodoh nya gavin menyia-nyiakan gadis seperti nadin.


Dengan berbekal sepatu brand mahal kesukaan nadin  yang sengaja gavin beli sebagai hadiah ah bisa dibilang sejenis sogokkan sebenarnya. Gavin yakin sepatu cantik yang harga nya setara harga motor ini bisa membuat si cantik luluh.


Gavin sengaja menghubungi nadin, dia mengatakan pada nadin kalau nadin harus menjemput nya di bandara. Gavin bahkan mengancam kalau nadin tidak mau menjemputnya maka gaji nadin akan di potong. Gavin yakin sangat yakin kalau saat ini selama perjalanan menuju bandara nadin pasti sedang ngedumel sambil menyumpahi diri nya.


Tapi gavin juga yakin dengan sepatu cantik dan ajakkan berkencan darinya, pasti nadin akan lompat kegirangan. Gavin jadi teringat dengan adegan sebuah film yang berlatar di kota paris. Film yang dulu sempat gavin sebut film ABG, tapi sekarang film itu menjadi sumber inspirasi nya.


Gavin bolak balik melirik arloji di lengan nya. Seharusnya nadin sudah berada di bandara sekarang. Pria itu menyapu pandangan ke sekeliling bandara yang hari itu nampak ramai oleh turis asing. Senyuman lebar langsung menghias wajah tampan gavin saat melihat wanita yang sejak tadi ada di fikiran nya berdiri tidak jauh dari nya.


Bahkan gadis itu melambaikan tangan padanya dengan senyum lebar yang tidak pernah gavin sangka. Nadin setengah berlari mendekat ke arah gavin. Lelaki itu bahkan sudah merentangkan tangannya siap untuk memeluk gadis yang sudah 3 hari ini dia rindukan.


"nad.... "gavin tersenyum lebar saat nadin sudah hampir mendekat padanya.


"welcome back "gavin memutar badan kebelakang, saat nadin baru saja melewatinya. Wajah gavin langsung merah padam melihat nadin  sedang berpelukkan dengan seorang pria tepat di belakang nya.


Siapa pria itu ?


 


 


 


 


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2