CEO Rese Dan Secretary Matre Nya

CEO Rese Dan Secretary Matre Nya
Episode 30


__ADS_3

Nadin Almira Queen


Berulang kali gue mengetuk pintu ruangan gavin, tapi tidak ada satupun jawaban atau reaksi dari pria itu. Akhirnya gue putuskan untuk mendorong pintu tersebut. Membukanya perlahan sambil mengendap-endap menuju meja kerja gavin untuk menyerahkan laporan hasil meeting dan surat pengajuan cuti gue.


Tiket pulang-pergi Jakarta-Kuala Lumpur sudah siap menerbangkan gue ke negeri yang terkenal dengan menara petronas nya itu. Alasan terbesar gue memutuskan untuk pergi kesana adalah untuk menenangkan perasaan gue. Gue butuh waktu untuk menerima kenyataan kalau gavin dan gue tidak akan bisa menjadi sepasang kekasih.


Selain itu tawaran sebuah acara fashion show dari mas tama menjadi jalan bagi gue untuk dapat fasilitas tiket gratis Jakarta-kuala lumpur pulang dan pergi. Tanpa fikir panjang gue iyakan saja tawaran dari lelaki itu.


Beberapa hari yang lalu saat gue janji bertemu dengan mas tama, dia benar-benar menjemput gue persis di lobi kantor. Tadinya gue berniat membuat gavin cemburu dengan sengaja memperlihatkan mas tama pada gavin.


Tapi saat jam pulang kantor akan berakhir, gavin mengirimkan sebuah pesan kalau dia akan jalan bersama dengan bimo dan teman-teman SMA yang lain. Gagal sudah rencana gue untuk membuat gavin cemburu, walapun gue juga tidak yakin kalau gavin akan cemburu.


Penolakkan gavin sudah sering gue dengar, tapi entah mengapa hati kecil gue berkata lain. Otak gue tidak tersingkronisasi dengan baik rupanya , apa jatuh cinta selalu membuat orang jadi bodoh. Gue masih saja berfikir kalau gavin mencintai gue, apa gue halu ?


Gue terperangah saat mendapati gavin yang sedang tertidur pulas dengan bertopang pada tangan kiri nya. Melihat gavin sedang tertidur pulas seperti itu, ego gue kembali tersentil. Lelaki di hadapan gue sekarang ini adalah alasan kenapa gue menangis semalam. Tapi sial nya , seperti orang bodoh, gue masih begitu mencintai lelaki ini.


Diam-diam gue mengeluarkan ponsel, mengabadikan gambar yang mungkin tidak akan gue pernah gue lihat lagi.


Gue kembali menyimpan ponsel pintar gue kedalam saku setelah berhasil mengambil foto gavin secara diam-diam.


Pelan-pelan gue menaruh map merah berisi laporan hasil meeting minggu lalu, beberapa surat dan tentu saja surat pengajuan cuti gue selama 4 hari di atas meja.


Perhatian gue kembali teralih pada wajah gavin yang nampak lelah bahkan saat pria itu sedang tidur. Gue tahu beban berat yang harus gavin pikul sebagai pemimpin perusahaan tidaklah mudah. Terkadang saat weekend gavin masih sibuk berkutat dengan laptop, mengirim e-mail atau investor yang tiba-tiba saja menelfon nya.


Gue bahkan sampai tidak pernah mengambil cuti demi membantu gavin mengemban tugas yang berat itu. Tak jarang gue menemani lelaki itu lembur, bahkan saat kami janjian di weekend pun gavin harus membagi konsentrasinya. Entah apa yang akan terjadi pada lelaki itu jika tidak ada gue.


Gue tercekat sendiri dengan ucapan gue. Akhir-akhir ini hubungan gue dan gavin sangat amat menunjukkan peningkatan yang luar biasa. Tidak pernah terbayang dalam otak gue, kalau gue akan sedekat ini dengan gavin.


Kami selalu pergi dan pulang kantor bersama. Makan pagi siang dan malam bersama. Bergandengan tangan saat di parkiran. Dan terkadang jika dalam kondisi sepi, kami berciuman.


Semua terjadi begitu saja, sejauh ini gue dan dia sama-sama menikmati intensitas kebersamaan kami. Sampai pada suatu ketika, gue di tampar oleh sebuah fakta kalau gue ini bukan siapa-siapa bagi gavin. Gavin tidak pernah meminta gue untuk menjadi pacar nya.


Yang berarti kebersamaan kami selama ini tidak ada arti apa-apa bagi pria itu. Gue merasa marah, gavin seperti memanfaatkan perasaan gue, seolah gue ini boneka yang dia cari kalau dia butuh kesenangan.


Tapi gue juga tahu betapa berartinya gue bagi gavin. Gue bisa merasakan itu meskipun berulang kali gavin menyangkalnya.


Belum lama ini kami bertengkar hebat, tiba-tiba saja gavin menarik gue ke tangga darurat. Lelaki itu mempertanyakan kenapa gue mati-matian berusaha menghindarinya. Jujur saja menghindari gavin bukan hal yang mudah, mereject panggilan telfon dari dia yang jumlah nya puluhan itu rasanya gue nyaris di buat gila.


Apalagi menghindari gavin di kantor, gue harus cari cara supaya gue tidak bertatap langsung dengan gavin. Saat dia melintas di depan meja gue, laptop lah yang menjadi sasaran alibi gue agar gue terlihat sibuk dan tidak menghiraukan panggilan dia.


Jika kami kebetulan berpapasan di lift, maka gue lebih memilih untuk tidak menaiki lift yang sama dengan gavin, walaupun gue harus menunggu cukup lama untuk itu.


Tapi gue tahu persis sampai detik ini, pria yang sedang tertidur pulas di hadapan gue ini, masih memiliki satu-satunya ruang di hati gue. Gue memang berkencan dengan banyak pria, memanfaatkan mereka dan tidak jarang mengambil keuntungan secara materi dari memanfaatkan wajah cantik gue.


Tapi gue berani jamin, hanya gavin satu-satu nya pria yang sampai detik ini gue cintai. Dia cinta pertama gue, tidak ada satu orangpun yang bisa merubah fakta itu. Meskipun gue berkencan dengan orang lain.


Pelan-pelan gue menyentuh helaian rambut gavin yang berada di pelipis nya. Menatap wajah itu sepuas hati gue karena mungkin besok gue tidak akan bisa lagi melihat sosok itu. Entah sudah berapa banyak air mata yang gue habiskan untuk menangisi lelaki ini. Tapi beribu kali lipat gavin pernah membuat gue bahagia dengan cara nya sendiri.


Dan itu yang menjadikan hingga detik ini gue masih bertahan di samping gavin. Gue selalu berdoa pada tuhan untuk bisa terus bersama lelaki itu. Tapi kenyataannya doa gue tidak terkabul, ternyata ada hal yang walau kita berusaha sekeras apapun, tetap saja kita tidak bisa paksakan. Hal itu adalah perasaan seseorang.


Mungkin ini saatnya gue menyerah, bertahun-tahun gue mencintai gavin, berharap suatu saat gue dan dia bisa punya happy ending seperti hal nya fairy tale yang selalu gue baca sebelum tidur. Tapi gue bukan seorang putri dan gavin bukan pangeran, pada akhirnya cerita gue dan gavin hanya akan jadi sebuah memory. Memory indah yang akan selalu gue kenang di ingatan gue mengenai cinta pertama.


Gue memberanikan diri mengecup dahi gavin sebelum gue pergi meninggalkan ruangan nya. Sebuah kecupan singkat yang mampu membuat tetesan air mata kembali mengenang di pelupuk mata gue.


"good bye my first love "


Gue tersenyum menatap gavin sebelum gue menutup pintu ruangannya, sekilas gue pandangi lagi wajah itu sebelum pintu benar-benar tertutup sempurna.


Gavin Christopher


"nadin pergi kemana tante ?"


"tante juga kurang tau ya nak gavin, tadi sih bawa koper gede gitu "


Mamfus gue


Gue menyugar rambut , keringat segede jagung sudah bercucuran, akibat insiden pecah ban mobil yang menyebabkan gue harus menjadi montir dadakan untuk mengganti ban mobil gue itu. Dunia seakan menghukum gue, mempersulit gue untuk bertemu dengan nadin.


Salah satu karyawan di bagian HRD mengatakan kalau nadin mengambil cuti selama 4 hari. Dan wanita itu seperti hilang begitu saja saat gue keluar dari ruangan untuk mencari nya. Berkali-kali gue berusaha menelfon, tapi selalu suara operator sejuta umat yang menjawab.


Gue pergi ke rumah nadin, siapa tahu gue bisa menemukan dia disana. Tapi nihil. Nadin bahkan tidak berada di rumah nya, mami nadin bahkan mengatakan kalau wanita itu baru saja pergi membawa koper besar.


Segala fikiran buruk mulai memenuhi otak gue, tapi dari semua hal-hal buruk yang ada di dalam fikiran gue satu hal yang paling gue takuti. Nadin kawin lari bersama danar.


Sekarang satu-satu nya harapan gue cuma danar. Pria yang pasti tahu dimana keberadaan nadin. Gue menelfon bimo, bertanya mengenai nomor telfon danar pada pria itu. Untung saja kali ini bimo tidak banyak bertanya alasan gue mempertanyakan nomor telfon danar, Tumben kan.


Akhirnya di sinilah gue sekarang. Di depan gedung salah satu perusahaan minyak negara. Menurut info yang gue ketahui dari bimo, perusahaan ini tempat danar bekerja sebagai manajer.


Gue berjalan menuju receptionis, dalam hati gue berdoa semoga gue bisa bertemu danar.


"sebentar ya pak saya hubungi dulu "


Jawab sekretaris itu dengan nada ramah sambil mengangkat gagang telfon.


"pak maaf pak danar nya sedang cuti "


"ccuti mbak ?"gue shock, panik sampai tidak menyadari kalau gue berbicara dengan nada terbata.


Nadin mengajukan cuti begitupun danar. Semua hal-hal yang baru hari ini gue ketahui, seperti menghubungkan pada satu fakta yang sial nya gue tidak ingin akui. Nadin dan Danar pasti bersama.


Gue berjalan dengan gontai, berniat kembali ke mobil setelah mengucapkan terima kasih pada si mbak receptionis. Melemparkan ponsel ke jok belakang mobil setelah gue berhasil duduk sempurna di kursi pengemudi.


Sebelum pergi ke kantor danar, berulang kali gue menghubungi nomor pria itu. Tapi sama seperti nadin,hanya suara operator sejuta umat yang menjawab panggilan telfon pria itu.


Gue terlambat


Nadin Almira Queen


Gue berhasil mendarat sempurna di Bandar Udara Internasional Kuala Lumpur - Malaysia. Ini pertama kali nya gue melakukan traveling sendirian. Rasanya sedikit aneh saat lo ada di negara orang, tidak ada satu orang pun yang lo kenal apalagi untuk sekedar teman ngobrol.


Tapi perasaan traveling sendirian juga gak buruk. Dengan modal google maps dan instagram. Gue berhasil mendapatkan info mengenai tempat yang menarik di Malaysia.


Gue sengaja membeli nomor baru hanya untuk berselancar di dunia maya. Nomor telfon yang gue biasa gunakan di Indonesia gue non aktifkan untuk sementara. Gue sengaja melakukan itu karena gue memang butuh ketenangan. Jauh dari semua orang, terutama jauh dari dia.


Hanya mas tama satu-satu nya yang tahu nomor baru gue selama di Malaysia. Tentu saja gue tidak melupakan salah satu alasan gue pergi ke malaysia yaitu menjadi model mas tama di acara fashion show nya.


Setelah menghubungi mas tama prihal acara nya yang akan di langsungkan dua hari lagi, gue menaruh ponsel ke dalam tas kecil lalu memberhentikan sebuah taxi yang baru saja melintas.


Taxi membawa gue dari bandara sampai ke tempat gue menginap di Traders Hotel, Kuala Lumpur. Setelah membayar sesuai tarif argo gue melangkah masuk ke dalam hotel yang langsung membuat gue jatuh cinta pada pandangan pertama atas interior hotel tersebut.


Sambil menggeret koper besar, langkah kaki gue berhenti di depan meja receptionis. Gue menunjukan aplikasi pemesanan hotel yang sebelum nya sudah gue booking di indonesia.


"nadin ?"gue terdiam mendengar sebuah suara yang memanggil gue, rasanya gue tidak asing dengan suara itu.


"tuh kan bener kita jodoh "


Gue hanya bisa pasrah saat pria yang sekarang berdiri di samping gue ini tersenyum lebar seolah-olah baru melihat bae suzy.


Gagal deh rencana traveling gue SENDIRIAN


"hai danar "gue tersenyum ramah yang lebih ke arah terpaksa.


Gue memperhatikan danar dengan seksama. Lelaki yang pernah jadi pacar gue itu, harus gue akui memang tampan. Apalagi dia sekarang menjabat sebagai salah satu manager di perusahaan minyak negara. Kalau di fikir-fikir danar ini memenuhi standart pacarable gue sih.


"lo ngapain disini ?"tembak gue langsung, aneh aja dari sekian banyak orang indonesia kenapa gue harus ketemu danar di negara orang.


"oh .. Gue ada seminar disini "


Gue mengangguk-angguk percaya saja akan perkataan danar. Lagi pula setahu gue danar dulu murid yang pintar, jadi gak heran dong kalau karir nya mulus bagai jalan tol. Kalau dia sampai di kirim ke malaysia hanya untuk seminar, itu hal yang wajar.


"gue masih ada waktu satu jam lagi sampai acara seminar. Gimana kalau kita makan siang "


Tuh kan bener, gue udah bisa tebak cepat atau lambat lelaki ini pasti akan modus lagi. Gue tahu jadi orang gak boleh gampang curigaan. Kalau kata orang tua suuzon gak baik. Tapi saat lo di hadapkan sama mantan yang jelas-jelas masih hobi menghubungi lo, apa lo gak bakal mikir aneh-aneh.


Dengan berbagai pertimbangan gue akhirnya menerima tawaran danar. Toh cuma makan siang doang, siapa tahu kan gue bakal dia traktir. Lumayanlah menghemat pengeluaran gue. Kumat kan penyakit matre gue.


Akhirnya kami berdua makan di Naughty Nuri's , salah satu restaurant yang terkenal di kuala lumpur. Kami berdua duduk berhadapan, tentu saja dengan pandangan mata danar yang menatap gue seolah-olah gue ini mirip lauk pauk.


Pesanan kami berdua akhirnya tiba juga setelah hampir 10 menit kami menunggu, di selingi dengan percakapan absurd berbau modus yang selalu danar lontarkan. Emang dasar lidah indonesia, jauh-jauh kami ke malaysia tapi kami malah memesan ayam betutu dan sop buntut.


"sampai kapan di KL nad ?"pertanyaan danar membuat gue sedikit tersedak, pria itu dengan sigap langsung menyodorkan air mineral pada gue.


Pertanyaan menjebak nih, kalau gue jujur gue masih punya 6 hari lagi di sini. Gue yakin pake banget kalau danar akan booking di hotel yang sama dengan tempat gue menginap. Oke di sini gue mencoba mencari akal.

__ADS_1


"sampai besok "gue tersenyum, semoga aja danar percaya.


"yah sebentar banget, padahal gue masih 6 hari lagi disini "jawab danar dengan santainya.


Mampus gue


Oke jangan panik nadin, harapan lo satu-satu nya sekarang adalah semoga aja danar gak stay di hotel yang sama dengan lo.


"emang lo stay dimana selama disini ?"


"di Traders Hotel "


Skak mat !


"oh ya ? "


"kenapa nad ? Kok wajah lo pucat gitu sih ?"


Gue tersenyum menanggapi sikap danar yang nampak khawatir. Kalau mau berbicara khawatir, disini gue orang yang paling khawatir !! Gimana cara nya gue lepas dari lelaki ini kalau kita tinggal di hotel yang sama. Gak mungkin kan gue batalkan bookingan gue di hotel itu. Secara gue udah mengeluarkan budget yang sangat tidak sedikit untuk tinggal di hotel mewah ini.


"abis ini mau kemana nad ?"


"hm gue mau ke monash university "


Danar mengernyitkan dahi."ngapain ?"


"cuma mau ketemu temen lama "gue berdalih, gue rasa kalau gue bilang mau ke kampus dan bertemu teman lama, danar pasti gak akan ngintilin gue. Misi berhasil.


"temen lo jurusan apa ? Kebetulan banget gue alumni sana "


Damn ! Sial ! Kupfret !


Ini kenapa juga gue selalu gak bisa kabur sih dari danar. Duh gusti gue harus gimana ? Masa udah capek-capek ke negeri orang untuk menenangkan diri, malah di ganggu mantan begini.


"gue anter aja gimana ? "


"seminar lo ?"


"seminar gue masih bisa besok, hari ini gue bolos aja "


Tuh lihat, contoh laki-laki yang emang niat banget modus. Segala cara di lakukan supaya gue terpikat sama dia. Duh duh bisa aja kan kang bubur.


"yuk gue anter "danar sudah bangkit dari tempat duduk nya. Mau nggak mau gue juga iku berdiri. Gagal deh rencana gue.


Kami berdua tiba di monash university, kampus megah yang dulu sempat buat gue mupeng pengen kuliah disini. Jujur saja, menatap para mahasiswa yang ada disini membuat gue iri setengah mati, rasanya gue ingin kembali ke masa muda.


"temen lo fakultas apa ?"ucap danar saat kami berdua memutuskan duduk di salah satu bangku taman.


Sekarang gue gelagapan, bingung harus jawab pertanyaan danar bagaimana. Jelas-jelas tadi gue cuma beralasan doang supaya dia gak lagi ngintilin gue. Kalau kayak begini terpaksa lah gue ngaranf cerita lagi.


"temen gue kayak nya libur deh hari ini "


"oh.. "danar sepertinya percaya perkataan gue, terbukti dia nggak lagi tanya-tanya tentang temen gue itu.


"gue bahagia nad kembali ke sini "tatapan danar menyapu pemandangan sekitar, lekaki itu tersenyum seperti membayangkan sesuatu yang indah.


Gue yang tidak tahu apa yang danar bayangkan jadi ikut tersenyum.


"dulu, untuk kuliah di sini gue harus banting tulang nad "danar sepertinya mulai bercerita, kali ini gue akan mencoba jadi pendengar yang baik.


"pada saat gue lulus SMA, mendadak bisnis bokap gue di landa masalah hebat. Bokap kena tipu nyaris satu milyard saat itu. Karena masalah itu hampir aja gue jadi gembel nad hehe "


Danar tertawa, jelas-jelas apa yang dia ceritakan gak lucu sama sekali. Dasar aneh.


"tapi pada saat itu gue terlanjur daftar di monash university dan gue di terima "danar tersenyum entah untuk yang keberapa kalinya.


Danar memang selalu seperti itu, tipe lelaki yang selalu tersenyum di situasi apapun. Bahkan gue masih ingat dengan jelas saat kami putus, lelaki itu masih bisa tersenyum , bahkan meminta kami tetap berteman.


Gue yang menjadi penyebab utama rusak nya hubungan kami jadi merasa bersalah. Lebih baik gue berhadapan dengan mantan yang benci nya setengah mati karena ulah gue, dari pada berhadapan dengan mantan yang seperti danar. Terlalu baik.


"akhirnya gue nekat kuliah di sini nad, gue kerja sambilan sana sini bahkan pernah kerja di restaurant cepat saji sampai club malam demi membiayai kehidupan gue di malaysia "


Gue tersenyum, merasa bangga karena gue pernah kenal orang seperti danar. Gue yakin wanita manapun pasti merasa beruntung jika punya lelaki seperti danar.


"setelah 2 tahun , kondisi ekonomi keluarga gue membaik nad. Gue bersyukur , dengan adanya masalah itu gue jadi lebih menghargai uang "


Bukan hanya mobil, gue pun jadi ikut kecipratan sifat boros nya danar. Setiap gue jalan dengan danar, pasti catat pasti saat pulang setidaknya gue akan menenteng paperbag berisi tas atau sepatu keluaran brand luar negeri.


"cincin pemberian gue masih lo simpen nad ?"


Gue kembali tersenyum, mana mungkin gue membuang cincin yang hanya ada 10 di dunia. Mau bazir mamen.


"masih kok, gak pernah gue pake juga. Sayang "


"hah ? Lo manggil gue sayang nad ? Ciyee "ledek danar sambil terkekeh.


Gue menepuk pundak danar lebih mirip tabokan sih sebenarnya, lelaki yang lagi cekikikkan itu langsung diam. Emang enak, pedes kan kena tabokkan gue.


"maksud gue sama cincin nya danar !!! "


"hahaha iya tau kok nad, gue cuma lagi usaha aja siapa tahu lo masih mau sama gue "


"bercanda lo bisa bikin orang salah faham tau nggak "


"jadi kalau gue gak bercanda, emang lo mau balikkan sama gue ?"


Gue terdiam. Apa gue terima aja ya danar, dia baik, tampan dan kaya. Memenuhi dong semua kriteria yang gue tetapkan untuk jadi pacar gue. Tapi Terlepas dari semua yang ada pada diri danar, lelaki itu mungkin masih mencintai gue.


Gue jadi bingung, apa yang harus gue jawab. Kalau gue terima kasian danar dong jadi pelarian gue doang. Tapi kalau gue tolak,... Sama saja gue menyia-nyiakan rezeki bukan ? Siapa tahu jodoh gue ternyata danar.


"gue pertimbangkan "akhirnya gue melontarkan jawaban itu.


"beneran ?"danar menatap gue dengan mata berbinar.


Gue mengangguk."sebenarnya gue di sini masih 6 hari "gue tersenyum, akhirnya gue mengakui kebohongan gue.


"gue tahu kok, bahkan pas lo bilang lo pulang besok gue juga tahu lo bohong "


"lo cenayang ?"gue kaget, jangan-jangan danar ini sejenis stalker atau dia memang betul-betul bisa baca fikiran orang. Duh gue jadi merinding.


"haha receptinis hotel itu dulu pernah satu tempat kerjaan sama gue, jadi gue dapet info itu dari dia "


"ohhh "gue bernafas lega, setidaknya dugaan aneh-aneh gue ternyata salah.


"jadi ?"


"jadi apa ?"


"jadian lagi gak kita nad ?"ulang danar berusaha menegaskan.


Gue beranjak dari tempat duduk, sambil menepuk pundak danar gue berkata.


"kita jadi travel friend aja dulu "


Danar tersenyum lebar, setelah berdiri mensejajari gue. Kami berdua berjalan mengelilingi universitas dengan tangan danar yang merangkul pundak gue bersahabat. Dengan ini bisa gue pastikan acara menenangkan diri gue gagal total.


\~\~\~\~\~\~\~\~🐱🐱\~\~\~\~\~\~\~\~


"gak bakal muncul vin biar udah di liatin terus bangku nya "


Gavin tersentak saat sebuah tangan tiba-tiba menepuk pundaknya. Entah sudah berapa lama dia berdiri menatap kursi nadin yang kosong. Sampai-sampai dia tidak menyadari kalau mami nya sudah berdiri di sampingnya sambil ikut menatap kursi nadin.


"makanya jadi cowok jangan pengecut "


Udah tahu anaknya lagi merana, mami gavin malah menambahkan luka dengan meledeknya habis-habisan. Kali ini gavin merasa kepulangan mami nya ke tanah air bukan hal yang baik.


"mami !! Muncul tiba-tiba kayak sadako tau gak !"gavin mengerucutkan bibir nya, ceritanya lelaki itu merajuk karena mami nya tiba-tiba saja datang mengejutkannya.


Padahal sebenarnya gavin malu, ketahuan lagi mandangain kursi nadin sejak pria itu menginjakkan kaki nya di kantor hari ini.


"anak durhaka dasar. Pantes aja nadin gak mau , mending nyari laki lain dari pada sama laki-laki drama kayak kamu vin "


Tuh mami gavin ini benar-benar semakin menambah luka di hati gavin kan. Boro-boro di bela atau di puk puk sama mami nya, gavin malah terus-terusan di ledek dengan berbagai macam kata-kata nyelekit yang sialnya memang benar adanya.

__ADS_1


"udah ikut mami ke dalam "


Gavin mengikuti langkah mami nya masuk ke dalam ruangan pribadi gavin. Setelah pintu ditutup, lekaki itu langsung duduk di sebelah maminya.


"tuh ganti baju kamu, ketahuan banget sih kacau gara-gara patah hati. Rambut acak-acakkan, jenggot gak di cukur, mami curiga jangan-jangan kamu gak mandi ya vin "mami gavin memicingkan mata meneliti penampilan gavin.


"enak aja ! Kalau mandi aku masih lakuin lah !"bela gavin merasa tidak terima atas tuduhan maminya.


"hah... Tuh lihat akibat gak dengerin omongan mami. Kualat kan . Udah di bilang buruan tembak nadin, malah asik aja PHP in anak orang "


Gavin menunduk tidak lagi berani menjawab perkataan mami. Gavin akui dia memang salah karena tidak mendengarkan saran mami nya dulu. Penyesalan memang selalu datang belakangan, tidak seperti pendaftaran yang dateng di awal.


"terus sekarang rencana kamu apa ?"


"gak tahu "


"emang udah pasti nadin sama cowok itu bakalan nikah ?"


Gavin mengangguk."gavin lihat sendiri kok undangannya. Ada inisial nama D & N "


"jujur sama mami. Alasan kamu gak kunjung nembak nadin karena kamu trauma dengan papah sama mami ?"


Lihat kan, tidak ada rahasia yang bertahan lama antara ibu dan anak. Bahkan tanpa mengucapkannya pun mami gavin bisa langsung menebak akar permasalahan yang anak kandung nya alami.


"gavin .. Mami rasa kamu harus denger semua cerita ini dari awal sampai akhir. Yah mami gak tahu sih setelah ini trauma kamu itu bakal hilang atau nggak. Kalau masih gak ilang juga yauda ntar mami temenin ke psikiater "


Gavin mulai memasang telinga baik-baik. Hati nya bahkan mempersiapkan diri untuk menerima hal-hal yang entah itu akan berakibat baik atau buruk bagi gavin.


"jadi.. Semua berawal dari mama sama papah yang di jodohkan oleh kakek dan nenek kamu "


Gavin tercengang, bahkan sekian lama hidup di keluarga itu baru kali ini gavin mendengar satu fakta yang membuatnya luar biasa terkejut.


"papah kamu jatuh cinta pada mami saat pertemuan awal saat kami berdua di jodohkan "


"mami yang waktu itu emang lagi jomblo dan selalu di ledek oleh teman-teman mami karena gak kunjung nikah akhirnya terpaksa menerima perjodohan itu "


"jadi mami saat menikah dengan papi nggak pake cinta ?"


"awalnya begitu, tapi seiring waktu papi kamu memperlakukan mami dengan sangat baik. Semua kebutuhan mami langsung terkabul hanya dengan menjentikkan jari saja. Itu awalnya "


Gavin masih mendengarkan dengan seksama. Selama ini dia memang hanya tahu papi nya gila jabatan dan main gila dengan perempuan lain. Sampai-sampai mami nya selalu menangis dan ikut  mencari kesenangan dengan memacari berondong.


"jadi mami sama papi sempat pernah saling mencintai ?"


"kamu fikir kenapa kamu bisa muncul di dunia kalau bukan papi sama mami yang buat "


"astaga, di sensor dikit dong mih. Anakmu ini masih perjaka loh "


"iya perjaka tua "ledek mami di barengi dengan gelak tawa.


"terus kalau kalian saling mencintai kenapa kalian bercerai ? Kenapa papah selingkuh dan kenapa mami...."


"main sama berondong maksud kamu ?"


Gavin mengangguk lemah, fakta itu pernah membuat dia kecewa pada maminya saat itu.


"karena kami sadar kalau kami tidak bisa berkomitmen "


"hah ? Maksud mami ?"


"iya vin, papi dan mami ternyata gak bisa berkomitmen sebagai pasangan suami istri. Kami berdua individu yang cinta kebebasan. Dan untuk hal itu kami berdua minta maaf vin "


"mami tahu papi selingkuh ?"


"tahu "


"papi tau mami selingkuh ?"


"tahu juga"


"jadi kalian sama-sama selingkuh ?"


"iya, tapi kamu jangan mendadak nyanyi lagu siti badriah ya yang sama-sama selungkuh "


Gavin betul-betul ingin mencubit mami nya satu itu. Wanita yang sekarang mendapat predikat baru sebagai janda . Janda kembang kalau kata mami nya. Bisa-bisa nya lagi serius begini malah bawa-bawa lagu siti badriah.


"tapi hubungan kami sekarang jauh lebih baik dari pada dulu saat kami menikah "


"hah ? "


"belum lama papi dan mami bertemu lagi di barcelona setelah sidang putusan cerai itu"


"gavin pikir saat itu mami ..."


"nangis-nangis di kasur sambil mandangin foto papi terus hujan-hujanan di shower kayak ABG yang lagi putus cinta ?"tebak mami yang langsung di balas anggukan oleh gavin.


"kurang-kurangin makanya nonton sinetron alay. Jadi drama king kan kamu "


"....."


"mami sama papi di sana sudah berbicara hati ke hati. Dan kami sudah memutuskan untuk jadi teman baik sejak itu "


"terus mami gak sedih ? Papi juga gak sedih ? Kalian kan pernah saling cinta"


"bohong kalau kami berdua gak sedih vin. Tapi jika ini memang satu-satu nya cara supaya kami berdua bisa bahagia kenapa nggak . Toh kamu sudah cukup dewasa untuk bisa menerima keputusan kami. Tapi mami gak nyangka semua ini buat kamu jadi trauma dengan komitmen. Mami minta maaf vin "


Gavin masih diam saja, berusaha menerima semua fakta yang baru saja di ceritakan mami dari sudut pandang si pelaku.


"komitment itu bukan hal yang buruk vin "


"tapi mami sama papi .."


"gak bisa berkomitment sebagai pasangan bukan berarati gak bisa berkomitment sebagai teman hidup kan "


"maksud mami ?"tanya gavin masih tidak bisa mencerna penjelasan mami nya.


"begini vin, papah dan mamah tetap menjadi orang tua kamu apapun yang terjadi "mami gavin tersenyum sambil menggenggam tangan putra semata wayang nya.


"papi kamu cerita katanya kamu marah gara-gara papi mengusik hubungan kamu sama nadin "


"eh"


"papi gak serius vin , waktu itu papi cuma mau nge tes kamu doang. Dan tentu aja nge tes calon mantu mami itu. Papi kamu gak mau dong anak semata wayang nya dapat perempuan yang gak bener"


"serius mih ?"


"menurut kamu mami bercanda ? "


Gavin menggeleng, mami nya memang selalu bicara apa adanya, kadang karena terlalu apa adanya sampai lupa di sensor.


"tapi sekarang nadin udah nggak bisa jadi calon menantu mami "gavin kembali menunduk.


"jadi kamu nyerah gitu aja ?"


"....."


"mana semangat jiwa PEBINOR kamu ! Dulu aja aurora mau kamu tikung , masa nadin doang gak bisa kamu tikung "


"nadin lain mih, dulu aurora emang gak cinta sama gavin. Tapi kan kalau nadin ..."


"justru karena nadin cinta sama kamu harusnya kamu nggak nyerah begini dong"mami gavin merasa gemas dengan putra semata wayangnya ini.


"vin.. Dengerin mami. Nyerah itu hanya bisa di ucapkan oleh orang yang pernah berusaha. Lah kamu aja nggak pernah nyoba nembak nadin. Gimana kamu tahu hasil nya akan gimana "


Seketika gavin menghambur dalam pelukkan maminya. Semangat gavin kembali muncul. Dulu saja dia bisa dengan pede mendeklarasikan diri akan merebut aurora padahal jelas aurora sudah berstatus istri orang. Apalagi nadin yang gavin belum menyaksikan dengan mata kepala sendiri kalau gadis itu sudah berstatus istri orang.


Kali ini gavin akan benar-benar berjuang. Dia akan menunggu sampai nadin pulang dari persembunyianya. Kemudian dia akan mengatakan dengan lantang betapa gavin mencintai nadin. Kalaupun memang benar nadin sudah jadi milik orang lain, setidaknya gavin tidak akan menyesal. Dia sudah pernah mencoba nya.


 


 


Bersambung

__ADS_1


 


 


__ADS_2