
Nadin Almira Queen
Gue manatap langit yang dipenuhi cahaya kembang api dari dalam kamar aurora. Justin baru saja tertidur setelah gue membacakan nya dongeng tentang cinderela. Aneh kan ? Buat apa gue bercerita dongeng itu ke anak laki-laki. Gue sangat menyukai dongeng itu, dan sejak kecil gue berharap jadi cinderella, beretemu pangeran dan hidup bahagia selamanya. Tapi nyatanya realita tidaklah seindah dongeng, pangeran di kehidupan nyata tidak seperti apa yang selalu kita harapkan.
Berbicara tentang hidup bahagia, mungkin sekarang gavin sedang lompat kegirangan karena berhasil menjalankan rencananya untuk memberikan kejutan pada aurora. Gue jadi merasa iba dan bahagia di saat yang bersamaan. Iba pada suami nya aurora dan bahagia karena aurora berada di tangan yang tepat.
Tok tok tok
Gue terkesiap karena suara ketukan pintu. Pasti itu aurora yang datang bersama gavin. Gue harus minta traktir yang mahal pokok nya sama mereka, bagaimana pun juga gue ikut berjasa kan haha matre banget sih lo nad.
Ceklek
"masyaallah "
Kalian tau sekarang gue lagi berdiri bengong mungkin dengan mulut yang sedikit terbuka. Di depan gue sekarang berdiri seorang replika dewa yunani yang sedang turun ke bumi . Duh jangan-jangan ini jawaban atas doa gue barusan.
" selamat malam "
Astaga suara nya sexy banget.. Ya lord katakan gue mesum. Tapi kalau denger suara yang serak serak minta di jamah begini adek nggak kuat bang.
"selamat malam "ucap lelaki itu mengulang perkataannya.
Gue terkesiap karena suara lelaki itu. Kebiasaan deh lo nad, setiap ada orang ganteng langsung berubah oon.
"malam.hm mau cari siapa ya ?"
"saya hans, aurora nya ada ?"
Deg.. Tadi dia bilang namanya siapa ? Hans ? Jadi ini penampakan suami nya aurora yang katanya galak itu ? Yang gavin sebut anjing herder itu orang ini ? Ya Allah orang cakep mirip sama Jamie Dornan begini sih lebih bagus di sayang eh inget nad suami orang.
Aduh tapi gimana nih dia nyari aurora, gue harus ngomong apa ? Masa iya gue jujur kalau aurora lagi di culik sama gavin atau lebih parah gue bilang kalau gavin lagi mau rebut aurora. Duh bisa di cincang jadi perkedel gue sama si maniak gavin.
"aurora nya lagi keluar tadi beli obat ..hm you know kebutuhan cewek "
Gue terkekeh, semoga aja akting gue berhasil lagi.
"oh.. Kalau begitu saya tunggu di lobi aja "
"eh mas .. Pak .. Aduh gue manggil nya apa nih "
"panggil hans aja, sepertinya umur kita tidak jauh berbeda "
"okay .. Hans ? Kalau mau tunggu di dalam aja. Justin baru aja tidur. Biar saya yang cari aurora "
"terima kasih "
Gue buru-buru pergi meninggalkan kamar aurora. Bahaya lah kalau gue di biarkan berduaan di kamar bareng jelmaan dewa yunani itu, nanti bisa khilaf gue jadi seneng deh. Astagfirullah nad inget suami orang. jangan ngikutin jejak gavin.
Jam menunjukkan pukul 11 malam. sepertinya insomnia gue kambuh lagi. Kalau nggak pasti jam segini gue udah meringkuk di dalam selimut. Malam ini adalah malam terakhir gue di Bali dan Ke Bali rasanya gak lengkap kalau nggak mengunjungi beach club. Oke gue putuskan untuk pergi kesana saja. Siapa tau gue pulang udah nenteng bule karet nya dua, uh gado-gado kali ah di karetin.
Dan betul aja seperti dugaan gue, susana di club ini semakin malam semakin ramai. Mata gue termanjakan sama para bule ganteng yang tersebar di berbagai penjuru ruangan. Musik yang menghentak membuat nyaris semua orang bergerak tak tentu arah mengikuti alunan lagu yang dibawakan oleh sang DJ di sana.
Pergi ke club rasanya gak lengkap kalau nggak minum sesuatu yang dapat memabukkan. You know kan minuman yang gue maksud apa ? Yang jelas ini lebih dahsyat dari miras santika yang dinyanyikan oleh bang haji rhoma irama. Gue memesan segelas cocktail, demi keamanan diri gue sendiri karena gue gak mau mabuk dan mengulang pristiwa dulu di pesta andro.
"saya mau pesan Cocktail " gue tersenyum pada bartender muda yang gue perdiksi umur nya masih di awal 20 an.
Sambil menunggu minuman, gue menatap ke sekeliling, siapa tau aja ada bule yang lagi sendiri. Lebih bagus kalau dia tajir, asal jangan bule kere aja yang gue temuin, nanti malah numpang hidup lagi sama gue.
Bentar deh, itu orang kok mirip gavin ya ? Gue memicingkan mata mencoba melihat pria yang duduk dengan kepala di atas meja. Kalau dari postur badan sih mirip gavin, ah tapi gak mungkin lah. Secara gavin kan lagi sama aurora sekarang.
"mba.. Minuman nya "
__ADS_1
Gue tersenyum sambil memegang gelas yang baru saja di berikan mas-mas bartender. "thanks "
Baru saja seteguk dua teguk Cocktail itu terjun di tenggorokkan gue, seketika dengan bodohnya gue menyemburkan minuman dengan harga Rp.130.000/ gelas nya itu.
"sial cowok itu beneran gavin "mata gue terbelalak saat pria yang tadi gue perhatikan menunjukan wajahnya,dan ternyata dugaan gue tidak salah.
Langsung saja gue taruh minuman yang sudah tidak nafsu lagi gue nikmati itu di atas meja. Kalian pasti bisa tebak kan apa yang gue lakukan setelahnya ? Ya kalian benar gue berjalan menghampiri gavin yang nampak nya sudah mabuk berat itu. Duh firasaat gue tidak enak.
Gavin Christopher
Aurora pergi meninggalkan gue begitu saja setelah berulang kali wanita itu minta maaf karena menolak lamaran gue. Kalian tau apa yang gue ucapkan ? Gue bilang
" it's okay ra .. Santai aja sih. mungkin kita emang gak jodoh " terus gue tersenyum lebar ala iklan pasta gigi lengkap dengan menepuk pundak aurora sekilas.
Wah .. Jago banget kan akting gue ? Bisa jadi aktor ternama bakalan minder sama bakat alami gue itu. Mana mungkin pria yang habis di tolak lamaran nya baik-baik aja ? Dusta lo semua yang milih sakit gigi dari pada sakit hati.
Men, sakit hati itu gak enak ya . Rasanya tuh kayak jantung lo di tusuk orang abis itu di siram pakai jeruk nipis, perih sampai ke tulang rasanya.
Di saat seperti ini gue gak boleh sendirian di kamar. Gak ada yang tahu kan kalau tiba-tiba gue minum baygon atau nyayat-nyayat urat nadi kayak abege yang baru putus cinta. Malu gue sama umur bray.
Karena itulah gue butuh pelampiasan. Gue butuh musik,keramaian dan minuman keras. Gak sia-sia gue punya pengalaman kerja jadi bartender waktu dulu di Amerika. Gue tau banget minuman apa yang bakalan bikin gue teler sampai pagi.
Dan setelah 3 gelas vodka gue habiskan, kepala gue mulai pusing. Pasti sebentar lagi gue bakalan jatuh gak sadarkan diri. Sebelumnya gue menitipkan pesan pada si mas bartender,kalau sampai gue mabok tolong panggilakan asisten gue yang galak itu, nadin. Biarin aja dia yang ngurus gue, dia kan sekretaris gue.
"vin gavin "
Aneh, gue belum terlalu mabuk tapi kok seperti denger suara nadin ya.
"lo ngapain disini ? Bukannya sama aurora ?"
Oke sekarang suara nadin semakin terdengar jelas. Dengan kepala yang sudah mulai terasa berat gue menengok ke arah kiri, ternyata gue gak halusinasi. Ada nadin disana.
"nadin .... Sekretaris gue yang galak !! cewek matre !!! "racau gue mulai gak jelas.
Gue menggeleng."nggak kok .. Di mata gue lo itu cewek cantik, ah badan lo juga bagus sexy gue betah liatnya " sepertinya gue terkekeh.
"brengsek, mesum lo dasar " gue merasakan pergelangan tangan gue di tabok oleh nadin.
"nad.. Gue serius nad gue minta maaf sama lo, gue gak bermaksud sumpah nad.. Dan tentang kejadian dulu di sekolah. Asal lo tau nad, kue buatan lo gue makan semua sampai habis, itu kue ter asin yang pernah gue makan. Lo gak bisa bedain ya nad mana gula mana garam "racau gue kembali.
"bodoh banget sih lo nad "
Gak tau kenapa gue merasa nadin nggak marah tapi malah tertawa. Apa omongan gue lucu ?
"nad .. Gue mau ... Uekkk "
Setelahnya gue merasa jatuh mencium lantai marmer. Mungkin gue pingsan.
Aurora Sharira
Gue terperanjat kaget saat mendapati hans sudah tertidur di kamar gue sambil memeluk justin. Tanpa sadar sudut bibir gue tersenyum. Alangkah langka nya pemandangan di hadapan gue ini. Diam-diam gue potret menggunakan ponsel gue, bagaimana polos nya wajah hans saat tertidur.
Menatap wajah hans dengan jarak sedekat ini rasanya seperti menatap ruben. Gue memang bukan istri yang baik, lihat kan ? Bahkan disaat gue menatap wajah suami gue sendiri, hati dan fikiran gue malah melayang ke pria lain.
Gue berjalan menuju sofa, lebih baik gue tidur disini tanpa membangunkan hans. Karena gue yakin kalau dia bangun, pasti iblis di dalam diri nya juga ikut bangun. Dan makian itu akan menggema di kamar ini.
Gue menatap langit-langit kamar. Pristiwa tadi masih segar di ingatan gue, bagaimana gavin berlutut melamar gue. Dan bagaimana dengan kejam nya gue menolak tawaran dia itu. Gue tahu dia pura-pura biasa aja tadi , tapi gue cukup kenal gavin dan gue tahu hatinya pasti hancur sekarang karena gue. Gue tahu gak seharusnya gue berlarut-larut sedih karena kepergian ruben. Bahkan ini sudah terlalu lama dan gue masih memikirkan lelaki itu.
Gue bahkan masih menyimpan foto terakhir kami sebelum peristiwa itu terjadi. Sebuah foto yang kami ambil saat merayakan ulang tahun ruben. Kami berdua pergi ke sebuah bukit untuk menatap bintang di malam hari, ruben selalu menyukai pemandangan itu. Hembusan angin malam membuat bulu kuduk gue sedikit meremang kemudian ruben membawa gue dalam pelukannya. Wangi badan ruben langsung menembus indra penciuman gue, wangi vanila yang selalu membuat gue merasa nyaman.
Gue menghadiahi ruben sebuah jam tangan dengan tujuan agar ruben selalu mengingat gue walaupun dia selalu sibuk dengan pekerjaan nya. Ruben seorang yang workaholic, walaupun begitu dia masih selalu punya waktu untuk menemui gue bahkan itu di tengah malam sekalipun dan hanya 5 menit. Ruben selalu menceritakan tentang rencana masa depan nya bersama gue, dia mengatakan kalau suatu saat dia ingin berkeliling Eropa bersama gue. Memiliki 2 anak dan hidup bahagia di Paris. Lihatkan, betapa bahagia nya kami saat itu. Selembar bukti ini adalah salah satu pengingat kalau aurora sharira pernah merasa bahagia karena seorang pria bernama Ruben Anderson.
__ADS_1
Saat itu gue bahagia sangat bahagia sampai rasanya gue tidak bisa berkata apapun dan berkali-kali gue mengucap syukur karena tuhan mengirimkan ruben untuk gue. Membayangkan menyandang status Nyonya Anderson bahkan sudah menjadi cita-cita gue sejak awal berpacaran dengan ruben. Kembali mengingat ruben, membuat gue kembali terisak , tuhan begitu cepat mengambil ruben dari sisi gue , bahkan sebelum kami sempat mewujudkan impian kami. Ruben pasti orang yang sangat baik, karena itu tuhan mengambil nya terlebih dahulu.
"ergh... Ra .. Aurora "
Gue tersentak saat mendengar hans mengerang. Ini pertama kalinya gue melihat hans tidur seperti itu.
"hans... kenapa hans ??"
Gue menepuk pundak dia, sebenernya gue juga takut. Kalau dia bangun dan maki-maki gue gimana. Tapi melihat hans tidur dengan keringat di seluruh wajahnya dan bergerak kesana kemari membuat gue gak tega juga. Pria itu sepertinya sedang mimpi buruk.
" ra.. Gue gak tau ra... Ruben .. Jangan tinggalin gue "racau hans tidak jelas namun gue masih bisa sedikit memahami ucapannya.
"hans hans.. Udah udah " gue mengelus pelan dahi nya hans.
Dan berhasil dia kembali tertidur, gue bisa bernafas lega. Gue memutuskan untuk kembali ke sofa, mencari posisi nyaman untuk bisa kembali beristirahat sejenak. Gue harap saat gue bangun tidur besok, gue akan lupa hari ini, lupa dengan kenyataan kalau ruben tidak akan pernah kembali dan gue bisa tersenyum melepas kepergian ruben.
Nadin Almira Queen
Gue Memapah gavin yang nampak sudah mabuk berat. Sepanjang jalan dia terus aja ngoceh-ngoceh gak jelas dan nyebut kalau gue cewek matre. Emang kurang ajar bos gue satu ini, bahkan dalam keadaan nggak sadar aja dia bisa bikin gue kesal.
Setan dalam diri gue berbisik, kenapa gue gak sekalian aja dorong gavin dari lantai atas. Supaya hidup gue tenang dan gak akan ada lagi yang sebut gue matre. Walaupun itu fakta, tapi kalau itu di ucapkan terus menerus lama-lama gue juga meras tersingung.
"vin.. Kunci kamar lo mana ?"
"ergh..ergh... "
Duh gue udah gak tahan sama bau muntahan gavin di baju gue dan baju dia. Mendingan gue bawa ke kamar gue dulu deh baru gue fikirin lagi gimana menangani cowok ini. 20 menit gue habiskan untuk membersihkan sekujur badan gue yang habis kena muntahan gavin. Iugh... Gue jijik sendiri kalau ingat pristiwa di club itu. Awas aja nanti gue mau minta bonus pokok nya atas kerja lembur gue hari ini.
Gue menatap gavin yang tidur terlentang di tempat tidur gue. Haduh pasti kuman nya nempel dimana - mana deh. Gue mendecak kesal sambil melihat gavin yang sepertinya tertidur pulas. Kalau di fikir kasian juga dia tidur dalam kondisi seperti itu, baju kotor terkena muntahan dan penuh dengan keringat. Mau gak mau gue harus nyuruh dia ganti baju.
"vin gavin "Gue mencolek tangannya.
"gavin.... "Gue mengguncang-guncangkan pundak nya.
"gavin .... " gue menepuk pipi nya.
"gavin !!!! " gue berteriak tepat di samping telinga nya.
Gavin belum juga menunjukkan pergerakan sama sekali. Gila ini orang tidur apa mati. Gue menatap gavin sambil geleng-geleng kepala. Kenapa sih orang ini bikin hidup gue susah terus. Gue mendekat ke arah gavin kemudian memegang kancing baju nya paling atas. Gue meneguk saliva gue, kenapa gue jadi grogi begini ya. tenang nad profesional.. Ini demi supaya bos lo tidur nya nyaman, jangan mikir macem-macem.
Dua kancing udah terlepas, duh.. Kenapa gue jadi ngerasa panas dingin gini sih. Ini ac nya mati atau gimana sih kok panas banget. Gue mengipas-ngipas wajah gue dengan tangan sambil mengatur nafas.
Tenang nad inget profesional..
Dan akhirnya seluruh kancing baju gavin sudah terbuka semua. Kalian tau pemandangan apa yang terpampang nyata di hadapan gue ? Dada gavin lengkap dengan perutnya yang kotak-kotak. Duh gawat gue gak bisa lihat pemandangan ini terlalu lama, bisa runtuh iman gue.
Dengan gerakan cepat gue langsung membuka kemeja gavin tanpa berusaha untuk melihat dia. Langsung saja gue lempar kemeja itu ke sembarangan arah dan gue menyelimuti tubuh gavin yang shirtless itu dengan selimut.
Fiuh.. Mission completed
Gue beranikan diri untuk melihat ke arah gavin. Sial.. Gavin kok keliatan sexy banget ya dengan posisi tidur dan kondisi seperti itu.. Seperti habis gue perkosa aja. Astaga nadin sadar sadar lo mulai aneh.
Oke nadin coba lo berfikir jernih. Jangan curi- curi pandang lirik ke cowok di sebelah lo ini din JANGAN. Disaat seperti ini gue butuh sesuatu untuk mengalihkan fikiran gue. Gue melirik handphone yang tergeletak di nakas, sial udah tewas juga alias lowbat.
Duh gimana nih fikir nadin fikir aha.. Gue nyalain tv aja, biasanya jam segini di salah satu stasiun TV masih ada konser dangdut. Gue emang bukan pecinta musik dangdut sih tapi gue rasa lagu yang buat jari bergoyang ini bisa mengalihkan fikiran gue.
Klik
Bener kan baru aja gue mengganti channel , sudah muncul seorang artis dangdut yang akhir-akhir ini wajahnya sering nongol di account lambe. Lama kelamaan rasa ngantuk mulai membuat membuat gue memejamkan mata. Tapi gue berusaha buat tetap terjaga sambil mendengarkan lagu dangdut yang gue gak faham judul nya apa.
Semenit dua menit gue merasakan mata gue semakin berat,dan lama kelamaann kesadaran gue mulai berkurang. Dan selanjutnya yang terjadi adalah, gue merasa kalau gue sudah jatuh terlelap di kasur yang empuk.
__ADS_1
Good Night
Bersambung