
Gavin Christopher
Tanpa gue sangka, reaksi nadin yang semula gue prediksi akan menangis terharu, justru malah tertawa terpingkal-pingkal. Bahkan Gue melihat ada sebulir air mata yang meluncur begitu saja dari sudut mata gadis itu.
Reaksi nadin yang seperti ini membuat gue berfikir keras, apakah lamaran gue di tolak atau di terima ?
Gadis yang baru saja gue lamar dengan cara paling anti mainstream sedunia itu, masih tidak juga berhenti tertawa meskipun wajah gue sudah merah padam menahan malu.
Bukan hanya tertawa nadin yang semakin kencang, tapi sekarang tangan nya ikut-ikut memukul lengan gue yang tidak bersalah. Gue heran kenapa wanita setiap kali tertawa kok ya hobi mukul-mukul begini ? sekali-kali di elus gitu , kan pedih lama-lama di pukulin terus . Belum apa-apa sudah KDRT ini sih.
Sambil berpegangan pada bangku, nadin masih tertawa dengan tangan kanan yang menahan perutnya. Gue hanya bisa bersabar sampai nadin kembali ke alam sadar, jika nadin gak sadar-sadar mungkin sebaik nya gue sembur nadin pakai air doa, siapa tau aja nadin kesambet.
"vin.. Yang barusan kamu itu ngelamar aku ?"tanya nadin sambil berusaha meredakan gelak tawanya.
Yang begini nih yang di namakan cobaan. Gue udah romantis eh malah di ketawain. Gue udah jujur, eh malah di ragukan. Ya tuhan kenapa jadi laki-laki harus selalu serba salah.
"atau kamu udah berubah jadi marketing kartu kredit ?"nadin kembali bertanya dengan tampang polosnya.
Allahuakbar ! Cobaan hamba ini benar-benar berat ya Allah. Udah ngumpulin keberanian buat ngelamar eh malah di bilang nawarin kartu kredit. Sekali-kali otak nya nadin ini kudu di kasih detergen ya, supaya gak lemot-lemot banget. Untung gue cinta.
"vin.. Marah ya ?"
Nadin memeluk gue dari belakang,kedua tangannya melingkar di depan dada gue. Dengan dagu yang bertengger di bahu gue, bisa gue rasakan hembusan nafas gadis itu.
Nah ini nih, sikap sikap malu-malu meong yang begini, yang buat gue gak tega sama nadin. Apalagi dia sekarang malah ndusel-ndusel gue macam anak kucing yang minta di kasih cium eh makan maksud gue.
"i do, vin "ucap nadin dengan lembut tepat di samping telinga gue.
"maksudnya ?"gue kembali bertanya, nah gue mulai ketularan Lola nya nya nadin nih.
"ya aku mau... Menghabiskan limit black card kamu "nadin terkekeh, jangan-jangan dia beneran mikir gue mau ngasih black card gue cuma-cuma lagi.
"nad... Kamu tau bukan it..."
"i know vin, aku cuma seneng aja liat kamu ngambek begini hahhaa "nadin melepaskan pelukkannya, ah padahal udah nyaman.
"terus gimana ?"
"gimana apanya vin ?"
"jawaban kamu lah "
"tadi kan udah aku jawab "
"kapan ?"
"tadi, kamu gak denger ?"
Gue menggeleng."coba ulangi lagi "
"ulangin juga ngelamar aku nya, jangan pake bahasa ambigu"nadin kembali menantang gue.
Baiklah. Sepertinya memang gue kali ini sudah benar-benar menjalankan karma. Dunia memang berputar. Lihatlah buktinya, dulu gadis di hadapan gue ini begitu memuja gue. Tapi sekarang, gue yang sangat memuja dia.
Dulu nadin yang dengan berani nya menyatakan cinta sama gue di depan semua orang. Dan sekarang gue yang rela merogoh kocek ratusan jutaan hanya demi menyatakan cinta pada gadis ini.
Gue kembali menegakkan badan. Gue tatap lekat-lekat manik mata gadis yang nanti nya akan jadi ibu dari anak-anak gue itu. Lalu dalam satu tarikan nafas gue tanpa ragu mengucapkan kalimat itu.
"nadin Almira queen.. Will you marry me? "
Nadin Almira Queen
"nadin Almira queen.. Will you marry me? "
Kalian tahu, rasanya gue mau terbang ke langit ke tujuh saat mendengar gavin mengucapkan sebuah kalimat yang berhasil membuat gue speachless.
Gue di lamar !
Setelah bertahun-tahun penantian gue, akhirnya gavin menerima gue. Jujur saja gue nyaris menangis saat dia berlutut dan mengatakan kalau dia berniat melamar gue.
Tapi kami berdua memang selalu saja jadi perusak suasana. Dalam hitungan detik suasana yang semula romantis bisa berubah ricuh bak medan perang. Romantis lagi eh malah di kira bercandaan.
Selalu saja ada hal-hal yang membuat kami gagal melakoni adegan romantis ala drama korea. Tapi pada akhirnya kami berhasil.
Gue bahkan bingung harus menjawab apa saat gavin meminta gue untuk menikah dengan nya. Bukan karena gue gak ingin, ini lebih seperti dream come true. Gue takut tiba-tiba besok saat gue bangun tidur ternyata ini semua mimpi.
Atau bahkan yang terparah gue sedang terkena prank yang lagi hits zaman sekarang. Amit-amit gavin gak mungkin setega itu kan ?
"nadin.. Kok bengong sih ?"suara gavin membuat gue tersadar, thanks god ini bukan mimpi.
Gue tersenyum lebar, rasanya gue mau banget banget peluk badan gavin yang gue tahu pelukable banget, karena gue udah sering pegang ( loh )
"jadi jawaban nya apa ?"gavin mengelus puncak kepala gue, astaga lemah adek bang kalau di gituin.
"jawabannya... Alfabet ke 25 "
Gavin nampak berfikir, gue harap otak pintar nya cepat menangkap maksud gue.
"a b c d e... "
Gavin tersenyum lebar."jadi jawabannya yes nad ?"gavin kembali bertanya, aduh gemes banget sih lihat dia antusias begitu.
Gue mengangguk dengan mantab
"yes !!!!! "gavin mengangkat kedua tangannya ke atas sambil lompat-lompatan.
"jadi kamu mau nikah sama aku nad ?"
"astaga gavin, aku harus jawab berapa kali sih ? Iya aku mau menikah sama kamu vin "
Gavin langsung membawa gue kedalam pelukkan nya. Cukup lama kami berpelukkan bak teletubbies. Sampai gue merasa cukup pegal berdiri terus dengsn heels yang cukup runcing.
"vin..."
"hem.. "
"kita mau sampai kapan pelukkan kayak gini ?"
"biarin aja .. Nggak ada yang liat ini "gavin semakin mengeratkan pelukkannya.
"aku pegel vin, kita pulang aja yuk "
"ntar dulu dong nad, aku masih betah nih "tolak gavin.
"pulang sekarang atau aku marah "gue pura-pura merajuk.
Seketika gavin yang tadi nempel macam ulet bulu langsung melepaskan pelukanya. Cara gue berhasil ternyata. Gue tersenyum dalam hati.
"jangan marah dong , sayang "
Gue tercengang mendengar ucapan gavin barusan. Gue rasa kuping gue belum bermasalah. Tapi tadi kok gue denger gavin panggil gue sayang ya.
"nad.. Kok kamu bengong lagi sih ?"gavin mengibaskan tangannya di hadapan wajah gue.
"gak apa-apa, tadi aku kayak denger kamu manggil aku sayang ya ? Ah mungkin aku cuma salah denger kali ya "
Gue terkekeh, gak mau terlalu GR lah.
"emang salah kalau aku panggil sayang ke calon istri aku ?"
Blush
Kalimat yang baru saja gavin lontarkan berhasil membuat jantung gue nari hula-hula. Ingin rasanya gue loncat-loncatan sambil nyanyi jingle milik dora.
Berhasil
Berhasil
Berhasil hore !
"ini serius kamu gavin ? jangan-jangan kamu kerasukan lagi ?" gue buru-buru mengambil gelas yang berisi air putih, kemudian sedikit memercikkan air di wajah gavin.
"nadin ! Stop ! kamu udah gila ya sayang "
"tuh kan panggil sayang lagi. Vin serius baca ayat kursi buruan !! "
__ADS_1
Gue masih saja mencipratkan air dari dalam gelas ke wajah gavin yang mulai basah, tingak laku gavin yang aneh begitu semakin membuat gue yakin kalau gavin kesambet jin. Hafalan doa-doa yang dulu gue pelajari di sekolah, semoga saja bisa mengusir jin yang merasukin gavin.
Baru saja gue hendak mencipratkan air ke wajah gavin lagi, tangan gavin sudah lebih dulu menggenggam tangan gue.
Cup
Sebuah kecupan singkat mendarat begitu saja di pipi kiri gue.
"kalau kamu aneh-aneh lagi, aku hukum ya "ancam gavin.
Cup
Kali ini pipi kanan gue yang dapat hadiah kecupan, gue masih mematung di hadapan gavin. Please jangan tanya kenapa.
"welcome to gavin's world, nadin "
Seluruh tubuh gue kembali menegang saat gavin kembali mendaratkan sebuah ciuman. Kali ini bukan pipi yang jadi sasarannya, melainkan bibir gue yang malam ini di poles dengan lipstik Chanel warna merah.
Gavin mencium gue dengan begitu lembut. Dan akibat dari perbuatannya itu kaki gue rasanya seperti tidak menapaki di tanah. Tangan gue pun seolah bergerak sendiri untuk melingkar di leher gavin.
Gavin melepaskan pagutanya, saat kami berdua masih mengatur nafas. Kening kami entah sejak kapan sudah saling menempel.
"aku cinta kamu nadin "
Sebutir air mata mengalir begitu saja saat akhirnya gue mendengar gavin mengucapkan kata itu. Butuh waktu bertahun-tahun bagi gue, untuk bisa mendengar gavin mengucapkan kata itu. Sebuah ungkapan sederhana yang paling bermakna.
Aku cinta kamu
Gue kembali memeluk gavin dengan erat. Lelaki itu balas memeluk gue, melingkarkan tangan kekarnya di belakang punggung gue. Sungguh ingin rasanya gue menghentikan waktu saat ini juga.
"makasih vin "
Gavin melepaskan pelukkan kami, gue hampir saja tertawa melihat jejak-jejak lipstik gue menempel di sekitar bibir gavin. Lelaki itu pasti tidak menyadari efek perbuatannya tadi, membuat wajahnya memerah seperti badut.
"vin bibir kamu "
Baru saja gue berniat membersihkan noda lipstik di sekitar bibir gavin, tangan lelaki itu kembali menahan gue.
"jangan nad "
"kenapa ? Itu ada lipstik aku di bibir kamu "
"moment ini harus di abadikan "
Gavin menyeringai kemudian mengambil ponsel yang dia letakkan di atas meja.
Ceklek
Setelah berhasil mengabadikan foto kami, gavin mulai sibuk mengutak-atik sesuatu di ponsel nya. Saat gue mencoba mengintip, lelaki itu buru-buru menyembunyikan ponsel miliknya di balik punggung. Gavin bilang, ini akan jadi kejutan untuk seseorang.
Gue awalnya bingung, gavin ini bukan termasuk pria yang hobi update di instagram. Apalagi pajang-pajang foto pribadi yang kalau dia upload, gue yakin yang like pasti ribuan. Dan di dominasi sama para wanita tulen dan jadi-jadian. Duh mulai sekarang gue harus ekstra ketat jagain calon suami gue ini.
Calon Suami ? Entah kenapa gue masih asing dengan kata itu. Dulu padahal gue selalu gembar-gembor kesana kemari kalau gue akan menikah sama gavin. Dan sekarang perkataan gue betul-betul jadi kenyataan.
"yes berhasil "gavin tersenyum lebar sebelum memasukan ponsel nya kembali ke saku.
Jujur saja melihat wajah dia yang begitu bahagia, gue jadi penasaran apa yang sudah dia posting sampai membuat dia senyum lebar begitu mengalahkam iklan pasta gigi.
"kamu posting apa sih ?"
"rahasia "
"oh gitu ya.. Kali ini aku beneran marah nih "gue kembali mengancam, gue yakin kali ini pasti berhasil lagi.
"sorry to say nad, tapi kali ini aku gak bisa kasih tahu kamu hehe "gavin mengacak puncak kepala gue begitu saja, tidak tahukah dia oskal sudah bersusah payah menata nya menjadi cantik begini.
"pulang yuk nad "gavin menggenggam tangan gue , kali ini rencana gue gagal.
Kami berdua berjalan menuju parkiran mobil masih dengan tangan yang terpaut satu sama lain. Gavin membukakan pintu mobil untuk gue, ya tuhan ingatkan gue untuk cek jantung besok. Kalau gavin terus romantis kayak gini.
"makasih "
Gavin memasangkan seatbelt, kemudian kembali menghadiahi gue sebuah kecupan singkat di dahi.
Saat gavin baru saja menutup pintu yang berada tepat di samping gue, refleks gue menghentak-hentakkan kaki. Gue bahagia pake banget.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~ 🐱🐱 \~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Nadin Almira Queen
Siang ini, gavin menyuruh gue untuk membawakan bekal makan siang untuknya di kantor. Jujur saja, setelah kejadian pemecatan yang berujung pada gue yang betul-betul resign. Gue agak sedikit malu untuk kembali ke kantor. Tapi berhubung gavin yang merengek minta di masakan fetuchini untuk makan siangnya, gue nyerah.
Akhirnya disinilah gue sekarang, berdiri di depan gedung dengan menenteng sebuah paper bag berisi makan siang gavin.
Baru saja gue selesai membayar taxi, sebuah tepukkan mendarat di pundak gue. Gue berfikir pasti itu gavin, atau salah satu rekan kerja gue dulu. Tapi saat gue berbalik, nyaris saja gue menjatuhkan paperbad berisi makan siang untuk gavin.
Sekarang gue tahu yang di namakan bertemu hantu di siang bolong.
"kamu mau ketemu anak saya ya nad "suara berat itu masih saja membuat gue merinding mendengarnya.
"iiya om "jawab gue dengan kecanggungan yang luar biasa.
Pak Christopher Hadinata menatap penampilan gue dari ujung kepala hingga ujung kaki. Untung saja hari ini gue mengenakan floral dress selutut dengan stiletto berwarna nude. Duh apa gue sebaiknya pakai kebaya aja ya, eh jangan deh mungkin blazer. Duh kenapa rasanya apa yang gue pakai jadi serba salah gini.
"kamu masih takut sama saya ? Kok wajah kamu pucat banget, seperti lihat hantu saja "
Pakai di tanya lagi om. Ya jelas aja lah saya takut. Saya kan baru jadian sama anak om. Gak mau lah saya putus sama gavin gara-gara gak dapet restu om christopher. Baru juga 24 jam menyandang status calon istri gavin, ya kali gue harus lengser hanya karena gak di restuin.
Walaupun semalam saat mengantarkan gue kembali ke rumah, gavin menceritakan kalau papah nya hanya menguji cinta kami saja. Tapi tetap saja, saat berhadapan langsung dengan si calon mertua gue ini, gue jadi takut, parno lah kalau kata orang zaman sekarang.
"ayo kita bareng, saya juga mau kenal calon menantu saya "
Gue terdiam, ini barusan gue di sebut apa ? Calon mantu ? Artinya pak .. Eh maksudnya om christopher merestui gue dong ? Ya Allah ingin rasanya gue sujud syukur sekarang.
Kami berdua menaiki lift khusus direksi. Oh jangan tanya tatapan semua orang yang tahu kalau gue kemarin baru saja di pecat gavin, dan sekarang dengan santainya gue berjalan di samping bos besar mereka.
Suasa di dalam lift sedikit canggung, bukan cuma sedikit sih, canggung banget lebih tepatnya. Gue gak berani bertanya apapun, bahkan untuk sekedar menengok saja tidak bisa. Tatapan harus lurus ke depan, dengan dada yang membusung, hey hey gue kan bukan nya mau ikutan paskibra.
Ting
Pintu lift terbuka di lantai paling atas, berulang kali gue berucap syukur karena akhirnya bisa keluar dari kecanggungan yang luar biasa ini.
Kami berdua berjalan menuju ruangan gavin, masih dalam poisisi yang sama dan kecanggungan yang sama.
"sayang "teriak gavin dari depan pintu ruangannya.
Kalian tahu, sejak pertama kali naksir gavin sampai sekarang gue berstatus sebagai calon istrinya, tidak pernah gue merasa semalu ini bertemu lelaki itu. Bukan cuma suara nya yang menggema dari ujung lorong, gayanya yang sedang melambaikan tangan itu, terpaksa membuat gue menutup wajah dengan paper bag yang gue bawa.
Astaga kelakuan calon suami gue ..
Gavin dengan santainya melingkarkan tangan di pundak gue. Jelas-jelas di hadapan kami masih ada papah nya yang menatap kami dengan tatapan, entahlah itu tatapan mertua galak, atau tatapan bos yang gak suka lihat hubungan karyawannya.
"jadi kapan kalian nikah ? "
Pertanyaan pertama yang om christopher lontarkan saat kami baru saja mendaratkan bokong di sofa. Panik dan keringat dingin rasanya gue di tatap begitu intens oleh calon mertua gue itu. Gue butuh air please...
"minggu depan "jawab gavin dengan santai nya.
What ! Minggu depan ?
gue menatap tajam pada gavin sambil berbisik." kamu jangan ngaco deh "
Bukan nya takut karena gue pelototi gavin malah dengan santainya merangkul gue sambil bersandar pada sofa.
"bagus, papah juga udah gak sabar mau cepet gendong cucu.
Ucapan yang baru saja terlontar dari pak christopher hadinata sukses membuat gue diam seribu bahasa. Gue sempat berimajinasi pak christopher akan menyiram gue seperti di drama-drama. Seolah luntur sudah image galak yang selama ini begitu melekat pada diri calon mertua gue ini.
"apalagi kalau papah lihat kamu udah ..."ucapan yang menggantung dari pak christopher hadinata ditambah mata nya yang melirik ke arah tangan gavin yang masih merangkul gue membuat gue menyadari sesuatu.
"kami belum begitu kok om ?"gue menepis tangan gavin dengan kasar, merasa panik karena mungkin saja pak christopher berfikiran buruk tentang gue.
"nadin nadin.. saya ini bukan orang tua kolot kok , santai aja "
Gavin mengacungkan jempol nya ke arah papah nya. Hubungan mereka yang dulu seperti perang dunia itu sepertinya sudah mulai menemukan titik perdamaian. Entah siapa yang lebih dulu mengibarkan bendera putih.
__ADS_1
Tapi yang pasti melihat gavin yang sudah bisa berdamai dengan papah nya, membuat gue tersenyum lega. Akhirnya kamu sembuh vin.
"jadi papah setuju kan kalau gavin sama nadin nikah minggu depan ?"gavin kembali mengulang pertanyaannya, tanpa ragu gue menghadiahi laki-laki itu dengan cubitan di perut rata nya.
"ngaco kamu vin " pak christopher melempar gavin dengan bantal yang ada di atas sofa, sepertinya gue punya sekutu untuk melawan kesemena-menaan gavin.
Gue tersenyum jumawah merasa di atas angin karena calon mertua gue ini faham kalau menikah itu bukan seperti menyiapkan piknik. Anak laki-laki nya ini memang cukup gila dengan menyuarakan ide yang mustahil itu.
"jangan seminggu lagi.. "
"3 hari lagi aja, papah punya temen pengurus KUA , dia pasti bisa bantu pernikahan kalian"
Ambayar sudah saudara-saudara, gue hanya bisa pasrah mendengar titah dari bapak mertua gue yang terdengar seperti sebuah bom di telinga gue.
Mantab, pasangan bapak dan anak ini sepertinya lupa kalau di ruangan ini masih ada gue yang harus di mintai pendapat !
Ini nih yang disebut like father like son.
"kamu setuju kan yang ?"
Gue terpaksa mesam-mesem aja di hadapan bapak dan anak yang nampak antusias ini. Duh gue bahkan belum ngomong sama orang tua gue. Apa kata mereka coba, kalau tiba-tiba anak nya mau nikah minggu depan.
Gavin ini main minggu depan aja. Ini nikah loh bukan mau piknik ke bogor vin.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~ 🐱🐱 \~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
"vin kamu apa-apaan sih bilang kalau kita nikah minggu depan ?"
Akhirnya nadin berhasil memaki gavin, setelah mereka berdua tiba di halaman rumah nadin.
"loh bagus dong yang, kan kita jadi cepet halal nya. Emang kamu gak mau cepet-cepet jadi istri aku ?"
Dengan santai nya gavin malah menaik turunkan alisnya. Oke nadin memang bahagia sih nikah cepet-cepet sama gavin, tapi minggu depan itu loh.
"kamu mau ngajak aku nikah siri ya ?"tuduh nadin.
"enak aja ! Nanti gak ada bukti otentik dong kalau kamu istri aku "protes gavin.
"vin, nikah itu bukan main-main loh. Kita bukan nya lagi merencanakan piknik ke kebun binatang. Ini nikah gavin nikah !"nadin menekankan setiap kalimatnya.
"aku tahu sayang "gavin mengelus puncak kepala nadin, ambayar sudah niatan nadin yang mau memakin lelaki itu karena ide gila nya.
Nadin memang lemah kalau sudah di hadapkan dengan perlakuan manis gavin, dasar bucin alias budak cinta.
"tapi aku juga serius mau nikah sama kamu minggu depan. Kalau kamu khawatir masalah ini itu, kita bisa gunain jasa Wedding Origanizer "gavin kembali menyuarakan pendapatnya.
Nadin nampak berfikir, gavin ini antara nekat atau gila sebenarnya, entahlah. Tapi satu hal yang nadin yakini, gavin sudah benar-benar tergila-gila padanya.
"kamu udah kebelet kawin ya vin ?"nadin tersenyum jahil.
"iyalah. Aku udah kebelet kawin makanya aku ngajak kamu nikah "jawab gavin dengan mantab.
Nadin terkekeh mendengar jawaban gavin. Nggak tega juga dia lama-lama, jika harus berdebat dengan lelaki ini.
"kayaknya pelet aku udah betul-betul manjur ya vin "
"makanya, mumpung pelet kamu belum hilang. Ayo kita nikah "
Baru saja nadin hendak membuka suara, sebuah tepukan tangan dari seseorang membuat mereka menoleh.
"akhirnya.... "
Mama nadin menghambur di tengah-tengah putrinya dan calon menantu nya. Tanpa bak bik buk di peluknya mereka berdua yang nampak kaget dengan kehadiran mami nadin yang muncul dari semak-semak ( ? )
"ayo masuk.. Duh akhirnya vin tante eh maksudnya mamah bisa lihat kalian nikah juga "mami nadin menggeret tangan gavin, sementara nadin dibiarkan menutup pagar.
Nadin mendengus kesal, dia merasa di perlakukan tidak adil disini. Menurut prediksi nadin, gavin akan jadi menantu kesayangan yang akan menggeser posisi anak kandung.
Terbukti dengan semua kue-kue yang berjejer di hadapan gavin. Mami nadin mengeluarkan seluruh cemilan yang nadin punya, bahkan protes dari anaknya tidak di indahkan sama sekali.
Nadin hanya bisa pasrah, mami nya ini memang paling nggak bisa lihat pria tampan dan kaya. Nah sekarang kalian semua tahukan dari mana bakat matre nadin berasal.
"jadi kalian mau nikah minggu depan ? Bagus bagus "mami nadin nampak sumringah.
Fix nadin jadi semakin gak bisa protes di saat ibu nya saja sudah setuju dengan rencana gila dari calon mantunya.
"semua kami serahkan ke WO Tan.. Maksud aku mih "
"bagus bagus. Inget ya nak gavin mamah mau punya banyak cucu "
"siap mami, mami mau punya 10 sampai 11 gavin sanggup kok "
Nadin melotot mendengar calon suami nya dan mami kandungnya sendiri sudah berencana yang tidak-tidak. Enak saja 10 anak, nadin ini manusia loh bukan ayam.
"enak aja 10 anak. Kamu aja sana yang hamil "nadin mencubit pinggang gavin, lelaki itu langsung mengaduh.
"mah liat nadin belum apa-apa udah KDRT "ucap gavin sambil misuh-misuh mendekat ke arah mami nadin.
Nadin mendengus, gavin ini pintar banget mengambil hati wanita, apalagi kaum ibu-ibu. Lihat saja bahkan mami nadin tanpa segan, mengelus bekas cubitan nadin di pinggang gavin.
Nadin kembali melotot."mih punya anak nya loh itu , aduin papah nih ya "ancam nadin.
"eh iya, mami lupa kalau papi lagi di Indonesia "mami nadin terkekeh sambil menggeser posisi duduknya.
"om ada di Indonesia tante ? Pas banget. Aku boleh ajak orang tua aku malam ini juga untuk ngelamar nadin ?"
"vin.. Papah kamu kan sibuk "
"tenang aja sayang, itu bisa di atur "gavin kembali berdiri di samping nadin.
"aduh, mami lupa kan , kalau ada arisan di rumah tetangga. Vin mami tinggal dulu ya. Anggap aja rumah sendiri "
Mami nadin langsung ngacir begitu saja sambil membawa tas. Tinggal gavin dan nadin yang masih duduk di ruang tamu.
"hem... Aku mandi dulu ya, kamu kalau mau nyalain TV silahkan, mau ambil minum silahkan. Anggap aja rumah sendiri "
Gavin mengangguk. "aku udah lama kok anggap rumah ini rumah sendiri "gavin tersenyum lebar, nampak sekali lelaki itu sedang bahagia.
Nadin hanya bisa geleng-geleng kepala sambil menaiki anak tangga, menuju kamarnya yang terletak di lantai 2.
Gavin duduk manis di sofa sambil mengganti channel TV. Tiba-tiba pintu utama terbuka, derap langkah kaki semakin terdengar memasuki rumah. Gavinpun beranjak dari tempat duduknya untuk melihat siapa yang baru saja tiba.
"cari siapa ya mas ?"gavin mengernyitkan dahi, menatap seorang pria bertopi dengan tubuh sangat tinggi.
"kamu siapa ?"orang itu malah bertanya balik, di tatapnya gavin dengan intens dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"saya ? Nama saya gavin mas, saya calon suami nadin "gavin mengulurkan tangan hendak mengajak pria itu berjabat tangan.
"calon suami ?" pria itu membalas jabatan tangan gavin.
"iya , mas siapa nya nadin ? Sepupu atau kakak ? Mas lihat papah nya nadin gak ? Saya lagi tungguin nih, mau ketemu "gavin celingkukkan mencari pria yang kemungkinan adalah papah nadin.
"loh saya ini ...."
"dady... "teriak nadin dari anak tangga.
Gavin celingukkan mencari pria yang mungkin saja papah nadin. Dia sudah mempersiapkan mental untuk menghadapi calon mertuanya itu. Pelajaran cara cari muka pada camer juga sudah dia pelajari melalui mbah google.
Tinggal eksekusi nya nih menaklukkan hati calon mertua. Tapi baru saja gavin hendak buka suara menanyakan keberadaan calon mertua nya pada nadin, gadis itu malah berlari kemudian memeluk pria yang tadi gavin pangil mas.
Di saat itulah gavin langsung mati kutu.
"jadi yang tadi gue panggil mas, itu papah nadin ?"gumam gavin dalam hati.
"mati gue, alamat restu melayang nih "mendadak wajah gavin terlihat pucat pasi.
Bersambung
__ADS_1