
Gavin bersiul bahagia sejak bangun dari tidur pagi ini. Wajahnya yang tampan semakin bertambah tampan karena lelaki itu selalu tersenyum lebar. Sambil mematut diri di cermin sesekali gavin menyanyikan lagu cinta yang sedang dia dengarkan di salah satu aplikasi musik.
Gavin mengaplikasikan gel pada rambutnya yang dia tata menyerupai artis korea.Setelah selesai dengan rambutnya, gavin beralih pada 3 buah outfit yang berjejer di atas tempat tidurnya. Pria itu menimbang-nimbang outfit seperti apa yang akan membuat nadin membelalakkan matanya mengagumi ketampanan gavin.
Gavin bertopang dagu mengamati 3 jenis pakaian yang menurut nya selalu membawa keberuntungan. Outfit pertama, T-shirt putih di padukan dengan Jaket Denim, celana jeans berwarna hitam dan tentu saja sneakers putih sebagai pelengkap nya.
Gavin menimbang-nimbang untuk kencan pertama nya dengan nadin, apa iya dia harus begaya casual seperti itu ? . Gavin menggelengkan kepala menyingkirkan outfit pertama nya, tentu tidak di kencan pertama mereka gavin tidak boleh terlihat santai.
Outfit kedua, Kemeja tanpa kerah berwarna abu-abu di padukan dengan Blazer warna hitam. Gavin kembali bertopang dagu, sepertinya style seperti ini selalu dia pakai setiap hari. Tidak bisa, gavin harus lebih tampil memukau di depan nadin hari ini. Langsung gavin singkirkan outfit kedua nya itu.
Outfit ketiga T-shirt berwarna biru dengan motif garis-garis di padukan dengan Jaket denim dan tentu saja Sepatu Sport berwarna putih, Topi hitam dan juga kaca mata hitam. Sempurna , gavin tersenyum lebar setelah berhasil memilih outfit yang akan dia kenakan hari ini.
Gavin langsung memakai outfit pilihan nya itu, dan untuk sentuhan terakhir dia semprotkan parfum mulai dari ujung kepala sampai mata kaki. Gavin berucap kalau wanita itu mudah luluh dengan pria yang harum, dan tentu saja parfum itu sudah di jampi-jampi oleh gavin supaya nadin semakin tergila-gila padanya.
Padahal Ini bukan kali pertama gavin pergi berkencan dengan seorang wanita. Tapi entah kenapa kali ini terasa berbeda, dia ingin tampil sempurna. Dia mau saat nadin melihatnya nanti, gadis itu akan merasa bahagia. Setidaknya mata nadin akan termanjakan dengan penampakkan oppa korea yang selama ini selalu di impikan oleh gadis itu.
Setelah siap dengan semua persiapan nya, gavin menyambar kunci motor yang dia letakkan di atas nakas. Tidak lupa gavin berpamitan pada ikan peliharaan nya yang selalu gavin jadikan tempat curhat, walaupun makhluk itu hanya diam saja. Gavin menutup pintu apartemen nya, berjalan menuju lift sambil bersiul.
Tidak butuh waktu lama bagi gavin untuk sampai di rumah nadin. Dengan mengendarai motor, lelaki itu sekarang sudah duduk manis sambil menunggu ratu nya keluar dari istana. Duh bahkan gavin mulai merasakan jantungnya mulai tidak karuan, padahal nadin belum menampakkan batang hidungnya.
Tidak lama pintu rumah nadin mulai terbuka, setelah penantian panjang akhirnya gavin bisa tersenyum lebar menatap sosok gadis-nya yang nampak cantik hari ini.
"vin.. "gavin yang masih terpesona dengan penampilan nadin, tidak menyadari kalau wanita itu sudah berdiri di depan nya.
"kamu cantik "tanpa sadar kata-kata itu terucap begitu saja oleh gavin, membuat wajah nadin merona.
"kita mau kemana ?"
Tetot
Mendadak gavin bingung, benar juga ya kemana mereka akan pergi kencan. Karena terlalu excited dengan kencan nya dengan nadin, gavin tidak memikirkan tempat yang akan mereka tuju. Bagi gavin yang sedang di landa kasmaran, tempat manapun akan terasa indah asalkan bersama dengan nadin. Ciyeelah
"lo bawa motor ?"nadin baru sadar kalau sejak tadi gavin berdiri di atas motor, heol diam-diam nadin juga mengaggumi gavin yang hari ini tampak begitu tampan.
Gavin mengangguk."hm.. Kenapa ? Nggak mau ya ?"mendadak gavin merasa salah bawa kendaraan, nggak mungkin kan nadin sudah tampil cantik dan sexy seperti ini dia ajak naik motor.
Mana rela gavin membiarkan semua mata orang-orang menatap paha gadis-nya yang mulus itu, yang ada nadin akan di cap cabe-cabean kalau gavin tetap memaksa nya naik motor.
Nadin menggeleng." gue ganti baju dulu deh, gue rasa gue saltum "
Walaupun berat hati, gavin mengangguk setuju membiarkan nadin berganti pakaian. Selang beberapa lama nadin kembali muncul dengan outfit berbeda.
"jadi kita mau kemana ? "tanya nadin yang sekarang sudah berada di hadapan gavin.
"gak tau "gavin mengedikkan bahu.
"kok bisa nggak tau ? Kan lo yang ngajak jalan ?"
"gue kan cuma kasih lo dare doang , jadi mana gue tau kita mau jalan kemana "jawab gavin dengan polos nya.
Wajah nadin yang semula sumringah seketika berubah masam. Jadi acara kencan hari ini bukan murni karena gavin menginginkannya ? Hanya karena permainan konyol yang mereka mainkan tempo hari.
Luar biasa gavin christopher ini, luar biasa ngeselin maksudnya. Bisa-bisa nya dia membuat nadin GR setengah mati, sampai wanita itu rela bangun pukul 4 pagi hanya demi mematut diri di depan cermin. Jika membunuh orang tidak dosa demi apapun nadin ingin membuang lelaki ini ke segitiga bermuda.
Gavin yang menyadari perubahan wajah nadin, sekarang mulai pucat pasi. Kenapa mulut gavin selalu berkata pedas sih. Kenapa di depan nadin gavin sulit bersikap romantis. Padahal moment kencan bersama nadin sudah dia tungu-tunggu sejak dia mulai merasakan jatuh cinta pada gadis itu.
"yauda jalan aja dulu, gak mungkin kan seharian berdiri di depan pagar rumah gue !"nadin kesal, tanpa bak bik buk lagi wanita itu langsung naik ke motor gavin.
Gawat ,wanita marah adalah hal yang paling gavin takutkan. Dan nadin adalah wanita, fix mati aja lo vin ke rawa - rawa.
Dengan sedikit gemetar gavin menstarter motor nya. Entah kenapa di saat seperti ini tingkat kreatifitas nya menurun drastis. Kemana tuh kemampuan memenangkan tender miliaran ? Hanya menghadapi seorang nadin gavin baru bisa mati kutu.
Gavin melajukan motor-nya membelah jalanan ibu kota yang lumayan ramai karena ini akhir pekan. Sesekali gavin melirik nadin dari kaca spion-nya kemudian tersenyum Lebar, dua kali sudah wanita itu menaiki motor kesayangan nya ini.
Saat memutuskan untuk menaiki motor kesayangannya ini, sebenarnya gavin punya misi untuk modusin nadin. Tau dong apa yang ada di fikiran laki-laki saat boncengan dengan wanita.
Tapi ternyata nadin wanita pintar yang tidak mudah di modusin. Terbukti dengan tangan nadin yang memegang bahu gavin, dan tas cantik yang menjadi pembatas antara dirinya dengan gavin.Gagal deh rencana modus-nya
"vin... Kita ke pantai aja yuk "
Gavin mengangguk saat mendengar saran nadin. Sebenarnya dia sempat terfikirkan untuk pergi ke tempat itu, tapi mengingat kulit nadin yang putih kinclong , gavin jadi tidak tega membiarkan nadin tersengat matahari. Tapi dia bisa apa kalau ternyata wanita-nya sendiri yang menginginkan.
Tunggu gavin tadi sebut nadin apa ? wanita-nya ?
Nadin Almira Queen
Akkkkk
Gue berteriak sekencang-kencangnya mengalahkan suara deru ombak yang berada tepat di hadapan kami. Setelah menempuh perjalanan yang lumayan membuat bokong gue terasa kram, akhirnya kami tiba di pantai Anyer .
Gue dan gavin bertelanjang kaki menyusuri bibir pantai, merasakan telapak kaki menginjak pasir rasanya sangat nyaman . Sesekali gue bisa merasakan air pantai yang mengenai pergelangan kaki dan beberapa karang yang lumayan membuat telapak kaki sedikit nyeri.
Diam-diam gue melirik gavin yang sejak sampai di pantai masih tidak mau membuka suaranya. Dia hanya berjalan di samping gue sambil menenteng sepatu nya. Menatap jauh ke depan seolah-olah ada pemandangan menarik di hadapan sana.
Gue jadi mengingat apa yang gue lihat tempo hari. Apa mungkin gavin masih memikirkan masalahnya dengan papah nya. Jujur gue masih keppo, apa yang menyebabkan gavin betul-betul terpukul hari itu. Tapi kalau gue tanyakan hal ini pada orangnya, apa mungkin dia mau jawab ?
"vin.."
"hm..."
"teriak bareng-bareng yuk "
Gavin menatap gue."gila lo ya.. Ini rame , malu ah "
Gue menghentikkan langkah."setidak nya dengan teriak lo bisa meluapkan emosi "gue tersenyum.
Gavin nampak berfikir, mungkin dia menimbang-nimbang ajakkan gue untuk teriak bersama. Sebenarnya gue juga malu sih kalau harus teriak dan jadi pusat perhatian orang-orang di sekitar sini. Tapi lebih gak tega lagi kalau liat pria di samping gue ini pura-pura bahagia.
"tapi kalau nanti kita di kira orang gila lo yang tanggung jawab"
Gue mengangguk."setidaknya dua orang gila lebih baik "gue tergelak mendengar ocehan gue sendiri, teori dari mana itu.
Satu dua tiga..
Akkkk !!!!!!!!
"dasar bangxwgstsb#*$&fstsye "umpat gavin.
"emang anjhsydysjwh#"\,.#:|\~&"gue balik mengumpat.
Kami berdua tertawa bersama setelah umpatan-umpatan yang lebih terdengar seperti kutukan itu berakhir. Baru kali ini gue merasa bahagia habis mengumpat, dan bayangan-bayangan jadi tontonan orang-orang tidak lagi membuat gue takut. Kami menikmatinya.
"thanks nad "ujar gavin saat kami baru saja duduk di tepi pantai.
"makasih buat apa ?"
Gavin tidak menjawab, pria itu malah diam saja sambil menatap ke depan.
Lama kami berdua sama-sama saling diam. Menatap salah satu karya tuhan paling indah yang membuat gue selalu berdecak kagum melihat-nya.
Gue lupa kapan terakhir kali gue menginjakkan kaki di tempat yang di sebut pantai ini. Mungkin pada saat gue Masuk taman kanak-kanak atau mungkin pada saat lulus SD. Sejak kecil gue termasuk anak yang jarang di ajak orang tua gue jalan-jalan. Mereka terlalu sibuk dengan dunia mereka sampai mereka lupa kalau mereka punya anak yang masih butuh kasih sayang.
"kenapa lo mau ke pantai nad ? Gue fikir kita akan ke mall belanja tas mewah atau sepatu mahal"ucapan gavin membuat gue menoleh padanya, heran segitu matre kah gue di mata dia sampai gue di cap begitu.
"gak tau, mungkin biar gampang menenggelamkan lo ke laut kalau penyakit ngeselin lo mulai kumat"
"gila ! Kalau gue mati siapa yang gaji lo?!"Gavin mendelikkan mata.
Gue mengangkat bahu."ya bos baru lah, lo kan udah tenang di alam baka"
"hanjir, gue gak nyangka lo segitu dendam nya sama gue"gavin takjub mendengar jawaban gue.
Tawa gue kembali pecah, gavin ini entah bodoh atau naif. Dia sampai menggeser posisi duduk nya, membuat jarak di antara kami. Dan entah ide dari mana, dia membawa sebuah kelapa kemudian menaruhnya di antara kami. Dia mengatakan kalau itu bisa melindungi dia dari serangan mendadak gue.
Gue jadi ingat pristiwa di masa lalu, Kalian pasti tidak percaya kalau gue dan gavin pernah duduk bersama. Iya setidaknya itu satu-satu nya kenangan manis yang pernah gue punya di masa SMA bersama gavin dulu. Gue tersenyum membayangkan kejadian itu.
__ADS_1
"nad... Masa kita diem aja sih, lo liat tuh mereka pada main air "gue mengikuti arah telunjuk gavin, saat itu gue melihat sepasang muda mudi sedang bermain ciprat-cipratan di pinggir pantai.
"ogah ! Lo kira kita lagi main ftv "tolak gue dengan lantang, gila aja masa gue disuruh ngelakuin hal yang selalu gue tertawakan setiap kali gue membahas sinetron indonesia sama temen gue.
"yauda kalau gitu kita minum es kelapa"
"mager "
"main sepedah ?"tawar gavin lagi.
"lo gak liat matahari lagi terik-terik nya "
"surfing ?"
"gue gak bisa"tolak gue lagi.
"yauda berenang deh "
"takut "
"foto bareng ?"
"gue belom make up"
"nadin !!!! Terus fungsi dan faedah kita pergi ke sini ngapain kalau cuma diem di bawah pohon sambil nontonin orang-orang !!"gavin mulai geram, gawat nih kalau sampai dia ngamuk.
"fungsi dan faedah nya ya......supaya kita bisa menghirup udara segar"gue tersenyum manis berusaha untuk meredam emosi si abang ganteng yang sebentar lagi akan keluar tanduk karena mau ngamuk.
Gavin memicingkan mata, gawat nih biasanya kalau sudah tatapan gavin berubah begitu, di tambah dengan suara gemertak giginya. Sudah di pastikan detik berikutnya lelaki ini akan mengeluarkan nyanyian delapan oktaf-nya. Siap-siap pasang earphone kalian karena sebentar lagi kuping akan terasa pengang akibat amukan gavin.
"lo bener-bener bikin emosi gue naik ya nad "tanpa gue duga gavin menggeser posisi duduk nya, semakin mendekat ke arah gue dan gue mulai panik oke disini gue beneran panik.
"lo itu hobi atau gimana sih buat orang kesel "gavin semakin dekat, bahkan sekarang hembusan nafas lelaki itu mulai terasa di pipi gue.
"lo mau apa ?"gue mulai panik, ini dengan jarak sedekat ini gue bisa aja berbuat gila dan langsung nyosor orang yang ganteng nya kelewat parah ini. Oke lupakan terkadang gue suka lebay.
Gue menenggak saliva gue dengan kasar, wajah gavin yang hanya berjarak kurang lebih satu centi di depan gue ini membuat gue bisa merasakan betapa mancungnya hidung pria itu.
"lo macem-macem gue teriak ya vin "
Sedetik dua detik gavin tidak juga beranjak dari posisi yang menurut gue berbahaya ini, iya berbahaya bagi kesehatan jantung gue maksudnya.
"hahhahaa udah gak usah tegang gitu, muka lo udah merah banget !!!"gavin berdiri sambil mengulurkan sebelah tangannya, gue cuma melongo di buatnya.
Ini kalau di drama korea bukannya abis adegan tatap-tatapan bakalan ada kiss kiss manja ? Ah sial gue di tipu gavin ternyata, padahal wajah gue udah merah banget nahan malu sambil nahan nafsu .Lah
"ayo berdiri gak capek manyun terus ?"tangan gavin masih terulur, dan gue masih diam memperhatikan dia.
Dengan ragu gue meraih tangan gavin,lelaki itu langsung menarik tangan gue sampai posisi gue berdiri sejajar dengan dia. Dan detik berikutnya gue di buat membeku saat gue merasakan sebuah kecupan mendarat di pipi gue.
"hukuman buat lo "ucap gavin setelah menjauhkan wajah nya setelah mengecup gue.
Gavin masih tertawa terbahak-bahak menikmati ekspresi wajah gue yang gue tebak pasti diam saja dengan pandangan mata kosong. Barusan gue di cium gavin ? ini gue mimpi gak sih ?
"makan es krim yuk "gavin berhenti tertawa, entah kesurupan setan apa yang membuat gavin mendadak romantis begini.
Gavin menggenggam tangan gue menuju kedai es krim. Beberapa pasang pengunjung pantai memandang kami dengan tatapan iri. Bukan sekali dua kali gue berkencan dengan seorang pria, tapi kali ini gue merasa kembali muda. Bersama gavin gue seperti kembali menjadi nadin yang dulu. Tunggu dulu.. Kami beneran kencan ?
"lo suka banget ya nad sama es krim ?"tanya gavin yang heran karena gue bisa menghabiskan 3 bungkus es krim dalam 5 menit.
Gue manganggukan kepala, sekalipun sudah beranjak dewasa, gue masih begitu mencintai makanan berbahan dasar susu ini.
"strawberry, coklat , vanila mau gue beliin berapa bungkus lagi nad ?"gavin menatap bungkusan es krim di depannya dengan pandangan takjub. Pasti dia lagi mikir kalau gue cewek rakus.
"boleh kalau lo masih mau traktir gue es krim"gue nyengir seperti anak kecil yang bahagia karena sebuah es krim.
"makan sebanyak yang lo mau nad, kalau cuma es krim doang gue masih mampu"gavin terkekeh.
"tapi makannya jangan kayak anak kecil, belepotan gini "gavin menyentuh ujung bibir gue dengan jari-jarinya. Wajah gue langsung menegang, gak siap dengan semua perlakuan gavin hari ini.
Tangan gavin masih betah stay di ujung bibir gue, bahkan sekarang bukan cuma jari melainkan telapak tangannya sudah bertengger manis di pipi gue.
Tapi perlakuan gavin yang super buruk dan menyebalkan itu membuat khayalan gue menjadi buyar. Boro-boro bersikap romantis, dia nggak ngomong pedas sama gue aja udah Alhamdulillah banget.
Tapi hari ini, saat khayalan gue dulu mendadak jadi kenyataan bodoh nya gue malah diam saja. Seperti robot yang kehabisan baterai gue hanya bisa termangu menikmati setiap sentuhan gavin di wajah gue.
"sorry nad"gavin mendadak melepaskan tangannya dari wajah gue. Lelaki itu nampak salah tingkah di tempat duduknya.
"it's okay "gue berusaha tersenyum, walaupun dalam hati ngedumel sendiri, lagi enak padahal. Loh
Kami kembali pada aktifitas kami masing-masing. Gavin masih dengan es krim coklat yang tidak kunjung habis juga, padahal ini sudah es krim keempat yang selesai gue eksekusi.
"vin... "
"iya nad ?"
"hm... Keberatan nggak kalau gue bertanya sesuatu.. "gue mulai ragu untuk bertanya, tapi jujur saja gue masih penasaran. Oke kali ini gue harus berani.
"tentang.. Kejadian tempo hari "
Gavin yang tadi masih asik menikmati es krim nya, mendadak berhenti. Duh kalau gara-gara ini kencan gue sama gavin berantakan, lebih baik gue menenggelamkan diri ke laut sekalian.
"oh itu... "
Gue masih memperhatikan gavin, lebih tepatnya deg deg an apa yang akan di lakukan oleh pria di samping gue ini. Marah kah ? Sedih ? Atau.. Bisa aja kan dia melempar gue dengan es krim di tangannya itu.
"gue gak apa-apa kok, hanya pertengkaran orang tua dan anak "
Hanya dia bilang ? Vin gavin gue bukan anak kemarin sore yang bisa di tipu. Jelas-jelas ekspresi wajah lo berubah.
"oh gitu, lo sih anak nakal pasti sering di omelin bokap lo "gue menepuk pundak gavin berharap dengan cara itu dapat membuat dia lebih rileks.
"iya gue emang anak nakal nad "gavin membenarkan perkataan gue, tapi tunggu kenapa dia tersenyum, senyum yang paling gue benci. Senyuman orang yang terluka.
Mungkin gavin belum bisa berterus terang sama gue. Ya gue tahu sih, gue nggak tahu diri banget. Hanya karena satu kali ajakkan kencan dari gavin, bukan berarti pria itu mempunyai hubungan special dengan gue. Mungkin gue yang terlalu GR.
Jadi untuk saat ini rasa keppo gue harus gue tahan. Mungkin gavin belum mau terbuka sama gue, menceritakan semua masalah dan berbagi kesedihan sama gue. Walaupun gue tahu batin gue nggak tenang karena khawatir, iya gue nggak mau pria yang gue sayangi merasa sedih.
"vin.. Dengerin lagu aja yuk "
Gavin mengangguk. "awas lo ya puter lagu dangdut, gue langsung lempar hp lo ke laut "
"iya bawel "gue mengambil headset dari dalam tas, menyerahkan salah satu sisi headset tersebut pada gavin.
Gue membuka salah satu aplikasi musik yang selalu gue gunakan setiap hari. Layar handphone gue menujukkan daftar lagu playlist yang akhir-akhir ini sering gue putar.
"ini aja ya vin "
"oke "
Kami berdua saling diam, menikmati alunan musik shawn mendes yang entah kenapa saat bersama gavin lebih terdengar seperti sebuah soundtrack Film.
Sesekali gavin bersenandung, menyanyikan beberapa bait lirik lagu shawn mendes itu. Sesekali juga dia tersenyum pada gue. Ekspresi yang tadi gue lihat, sepertinya sudah mulai memudar, di gantikan dengan ekspresi damai , itu berarti misi gue berhasil.
Oh, I've been shaking
I love it when you go crazy
You take all my inhibitions
Baby, there's nothing holdin' me back
You take me places that tear up my reputation
Manipulate my decisions
__ADS_1
Baby, there's nothing holdin' me back
"nad.. Kayaknya mendung deh"
Gue mendongak menatap langit, benar saja. Sejak kapan matahari yang tadi terik banget sampai menyengat kulit, sekarang sudah berganti menjadi gumpalan awan hitam
Kenapa cucaca tidak mendukung hari gue bersama gavin sih. Tuhan jangan hujan dong 😢
"kalau hujan kita gimana nad ? Parkiran motor jauh banget lagi "
"hush, mendung belum tentu hujan kan vin " gue berusaha meyakinkan gavin padahal dalam hati gue merafalkan doa-doa jangan sampai hujan membuat hari gue yang sempurna ini berantakan.
Kami kembali diam menikmati pemandangan pantai di iringi dengan lagu shawn mendes. Sampai gue merasakan setitik air menetes di lengan. Gawat !
"nad gerimis "gavin beranjak dari bangkunya.
"baru gerimis doang "gue nyengir, enggan beranjak dari bangku seperti sudah di lem power glue.
Sial beribu sial
Mendadak hujan turun dengan begitu deras. Gue dan gavin berlari menuju salah satu bangunan yang kebetulan tidak jauh dari tempat kami makan es krim tadi. Baju kami berdua sudah setengah basah kuyup saat tiba di bangunan tempat kami berteduh.
Gue baca tulisan yang tertera di papan nama tersebut. Mata gue langsung melotot saat mendapati kalau bangunan itu adalah sebuah hotel. Gavin yang sepertinya membaca tulisan yang sama juga ikut melotot. Kami berdua sudah bagaikan manusia aneh yang nggak pernah liat hotel seumur hidup.
Fikiran gue yang suci langsung di rasuki setan-setan perawan ganjen. Hujan+Hotel+Gavin perpaduan paling pas seandainya kami berdua sudah berada dalam status halal ( if you know what i mean 😌 )
Hus hus makin ngaco kan fikiran gue, kenapa juga sih hujan membuat baju gavin nyaris basah kuyup. Gue kan jadi tergoda liat roti sobek rasa vanila yang tercetak jelas di balik t-shirt nya.
"nad... Masuk aja yuk lama-lama berdiri di sini dingin juga "suara gavin yang serak-serak banjir itu membuat gue gelagapan sendiri, jangan sampai gavin nyadar kalau dari tadi gue lagi liatin itu roti sobek nya.
"masuk mana ya ?"gue menggaruk tenguk,pura-pura polos padahal gue tahu maksud gavin apa.
Gavin mengedikkan bahu ke arah pintu masuk.
"lo mau ngapain ?!"gue memeluk tubuh gue sendiri dengan kedua tangan, ceritanya pura-pura panik karena mau di ajak ke hotel.
"udah jangan kebanyakan mikir, dari pada fikiran lo makin kotor "gavin menarik tangan gue, gue berjalan terseok-seok mengikuti langkah gavin.
Tunggu dulu, tadi dia ada sempet ngomong fikiran kotor nggak sih ? Astaga berarti dia sadar kalau sejak tadi gue sudah berfantasi dengan roti sobek nya. Mau di taruh di mana muka gue ? Ketahuan dong kalau gue cewek penikmat roti sobek.
"selamat siang, selamat datang di cendana hotel "si mbak-mbak receptionis tersenyum manis saat kami baru saja tiba.
"saya mau booking kamar mba, 2 kamar ya "ujar gavin, setidaknya gue bisa bernafas lega saat gavin menyebutkan dua kamar, calon pacar gue ini memang cowok paling sopan.
"maaf mas, kebetulan kamar nya penuh dan hanya tersisa satu kamar special untuk pasangan pengantin baru yang mau honeymoon. Mba sama mas nya bukan nya pengantin baru juga ?"
Eh perkataan si mba nya bikin gue jadi mesam-mesem sendiri. Gue yang lagi mesam-mesem nggak menyadari kalau ada sebuah tangan yang baru saja merangkul pundak gue, kemudian sedikit merapatkan jarak antara gue dan si pemilik lengan kekar itu.
"kami emang pasangan pengantin baru mba, saya pesen 2 karena mau ada temen yang dateng "
Entah skenario macam apa yang baru saja gavin lontarkan untuk membuat si mbak receptionis percaya, karena beberapa saat kemudian kami sudah memegang sebuah kunci kamar. Gue harus acungi jempol atas kemampuan gavin bernegosiasi.
Gue dan gavin baru akan beranjak dari meja receptionis. Tapi langkah gue mendadak terhenti saat ekor mata gue menangkap dua orang yang paling berkesan buat gue.
"vin jangan balik "gue memutar tubuh gavin agar berdiri membelakangi pintu masuk.
"ada apa sih nad ?"
"sst diam "dalam satu tarikan gue menarik gavin ke dalam pelukkan gue.
Wangi parfum gavin langsung melesak indra penciuman gue, diam-diam gue tersenyum merasa kali ini perbuatan gue sudah benar. Gue menyelamatkan gavin.
Gavin Christopher
Sambil memakan es krim sesekali gue menatap nadin yang seperti punya dunia sendiri dengan bungkus-bungkus es krim nya. Tidak pernah gue sangka ternyata nadin bisa bahagia hanya karena es krim yang harga nya tidak seberapa di bandingkan koleksi tas mahal nya.
Gue menyesali setiap perbuatan gue di masa lalu, menilai nadin tanpa tahu sifat dia yang sebenarnya. Gue tidak membelikan nadin tas mahal , sepatu atau barang-barang yang dulu pernah di berikan oleh para mantan pacar nadin. Tapi gue bangga, berkat ice cream yang harga nya tidak seberapa itu gue berhasil membuat nadin tersenyum.
Kalian tahu, dulu gue pernah duduk berdua dengan nadin tanpa sengaja. Bisa di katakan moment itu satu-satu nya yang paling gue ingat saat gue dan nadin akur tidak berdebat seperti tom & jerry. Fikiran gue menerawang ke masa itu, masa di mana gue baru mengenal nadin.
Flash Back
Gue melangkahkan kaki menuju toilet pria yang letak nya berada di dekat ruangan ekskul tari. Hari ini gue benar-benar kacau, kalah dalam permainan basket dan bokap gue kembali perang dingin dengan nyokap dengan alasan yang sama. Karena itu gue berniat mengulur waktu supaya gue bisa pulang larut malam sehingga gue tidak bertemu orang tua gue.
Baru saja gue akan membuka pintu toilet, suara musik yang cukup keras membuat insting keppo gue muncul. Gue berusaha mencari sumber suara itu, karena jujur saja agak seram juga mengingat ini sudah sangat lewat dari jam pulang sekolah. Saat gue melewati ruangan tari barulah gue bernafas lega karena penampakkan yang gue lihat betul-betul berwujud manusia.
Dari balik pintu, gue melihat seorang wanita yang menari dengan sangat energic mengikuti alunan lagu salah satu penyanyi yang booming berkat lagu Umbrella. Cahaya matahari yang masuk lewat celah jendela menciptakan sebuah kesan saat cahaya nya mengenai wanita yang sedang menari dengan lincah nya itu.
Untuk sepersekian detik gue terpukau melihatnya sampai bunyi yang cukup keras membuat lamunan gue buyar. Wanita itu terjatuh sambil memegang pergelangan kaki nya, refleks gue langsung menghampiri wanita itu karena mungkin saja dia butuh bantuan.
"lo gak apa-apa ?"tanya gue yang berjongkok di belakang tubuh wanita itu.
wanita itu berbalik." lo kan ... aw.."wanita itu meringis sambil memegang pergelangan kaki nya.
"coba sini gue liat "gue memperhatikan pergelangan kaki wanita itu.
Sepertinya dia terkilir itu diagnosis yang gue simpulkan saat melihat pergelangan kaki nya. Gue langsung mengeluarkan salep khusus nyeri otot dari dalam tas gue, untung saja gue selalu membawa obat itu setiap kali gue selesai pertandingan basket.
"nih pake "
wanita itu mengernyitkan dahi ." ini apaan ? balsem ya ? ogah gue gak mau bau lansia" dia malah bertanya dengan polos nya.
Gue berusaha menahan sabar, wanita ini betul-betul tidak tahu berterima kasih malah menuduh salep gue bau lansia.
"cerewet lo ! sini kaki lo " gue tarik paksa pergelangan kaki wanita itu sampai dia menjerit cukup keras.
"pelan-pelan "
Dengan hati-hati gue mengoleskan salep gue di atas permukaan kulit wanita itu tidak lupa gue memijit pergelangan kaki nya. Wanita itu terus menjerit sambil memukul bahu gue, bahkan sesekali dia menjambak rambut gue.
"udah !! lo gak tau berterima kasih emang, udah gue tolongin juga " gue balas mengomeli wanita itu yang ternyata sedang menangis ?
Salah apa gue ?
"maaf ya hiks..kaki gue beneran sakit .. hiks .. " wanita itu masih terisak sambil mengatur nafas nya." makasih ya lo udah bantuin gue.. kak ?"
"gavin.. gak usah panggil gue kakak nama gue gavin "
"gue nadin "
"gue gak nanya nama lo kok "
Wanita itu mengerucutkan bibir nya mendengar perkataan gue, loh memang ada yang salah dengan perkataan gue tadi .
"sorry ya waktu itu gue sempet nuduh lo anak selingkuhan bokap gue "
wanita itu mengangguk . " gue beneran bukan.."
"iya gue tahu"jawab gue memotong kalimat yang belum sempat di ucapkan oleh wanita itu.
"gue traktir lo es krim deh sebagai permintaan maaf, deal ?"
Wanita itu mengangguk. " gue oke aja gratis ini "
Dan saat ini wanita itu sedang memeluk gue dengan erat, walaupun gue tidak tahu penyebab nya gue hanya diam menikmati moment yang ada. Tiba-tiba saja saat kami sedang berada di depan meja receptionist nadin memutar posisi kami, tanpa aba-aba gadis itu memeluk gue dengan sangat erat.
Gue tersenyum lebar seraya mempererat pelukkan kami, tidak gue hiraukan panggilan mbak receptionis yang heran dengan aksi kami yang mengundang tatapan beberapa pasang mata.
Quotes of the day dari seorang gavin "saat berada di dekat orang yang kita sayang, tidak perduli di manapun itu kita hanya menatap dia seorang, tanpa perduli orang lain yang ada di sekitar, hanya satu titik, yaitu kamu "
Bersambung
__ADS_1