
Mata nadin berbinar menatap bangunan megah di hadapan nya. Orang-orang dengan gaya modis berlalu lalang melewati nadin, membuat nadin merasa berada di dunia nya.
Dunia pecinta fashion.
Dengan langkah mantab nadin berjalan menuju ke loby, dimana seorang wanita duduk disana dengan senyum ramah nya.
"selamat pagi.. "sapa nadin.
"selamat pagi, mau bertemu dengan siapa bu ? "tanya receptionist yang bernama tari di lihat dari name tag yang dia kenakan.
"saya mau bertemu dengan bagian HRD "
"oh tungu sebantar bu saya akan panggilkan, ibu bisa duduk dulu disana "tari menunjukkan sebuah ruangan yang terlihat modern dengan hiasan pohon buatan.
"terima kasih "nadin berjalan ke aeah ruangan yang di tunjukkan tari, lalu duduk di salah satu sofa dimana nadin bisa melihat orang yang berlalu lalang.
Gavin
Gimana udah ketemu bagian HRD ? Maaf ya aku gak bisa antar kamu di hari pertama
Nadin
It's okay aku faham kamu juga sibuk, kamu jangan lupa sarapan ya vin
Gavin
Siap istrinya gavin 😘
Nadin tersenyum membaca pesan singkat dari gavin, terutama di bagian akhir dimana laki-laki itu menyematkan emoticon lucu.
Selang berapa lama terdengar suara hak sepatu yang beradu dengan lantai. Nadin mendongak lalu mendapati seorang wanita menghampirinya dengan membawa sebuah map.
Sepertinya peraturan di perusahaan ini mengharuskan karyawan nya berpenampilan modis. Terbukti dari orang-orang yang nadin temui di lobi hingga wanita ini, semua nampak bagai model yang berjalan di peragaan busana.
Nadin jadi merasa tidak salah kostum, dia menggunakan blazer keluaran rumah mode asal italia di padukan dengan rok selutut. Lalu rambutnya sedikit di curly di bagian ujungnya.
"dengan nadin almira queen betul ?"tanya wanita itu saat sudah berada di hadapan nadin.
Nadin berdiri lalu menyalami wanita itu. "saya nadin almira queen "lalu seulas senyum nadin perlihatkan, membuat kesan yang baik di hari pertama.
"perkenalkan saya sandara bagian HRD , mari ikut saya "
Nadin mengangguk lalu mengikuti sandara menuju ke sebuah lift. Setelah memencet tombol 10 lift pun bergerak.
"jadi nanti kamu akan bergabung dengan team publikasi, tenang aja mereka semua asik kok orang nya "sandara tersenyum lebar.
Image berwibawa khas orang HRD yang tadi wanita itu tampilkan hilang begitu saja, berganti dengan image bersahabat. Sepertinya nadin akan mengajak sandara makan siang nanti.
Sandara membawa nadin berkeliling kantor, memperkenalkan nya pada seluruh pegawai yang ada di High Fashion Magazine.
Beberapa pegawai pria bahkan terang-terangan menggoda nadin dengan menanyakan apakah wanita itu masih single ?
Lalu dengan bangga nadin memperlihatkan cincin yang tersemat di jari manis nya. Helaan nafas terdengar dari pria-pria yang menggoda nadin itu. Nadin hanya bisa tertawa menyaksikan tingkah pria-pria ABG itu.
"jadi... Silahkan bekerja nad "dengan senyuman lebar sandara mempersilahkan nadin masuk ke dalam sebuah ruangan.
Nadin menatap interior ruangan nya yang di design dengan gaya clasic tapi di balut dengan unsur feminim. Betul-betul menggambarkan sosok yang akan menempati sebuah bangku yang langsung menghadap ke jendela.
"ini ruangan gue sand ?"tanya nadin yang mulai menggunakan panggilan non-formal sejak tahu kalau dia dan sandara ternyata seumuran.
Sandara mengangguk. "yups.. Lo yang betah ya kerja di sini , terutama sama .. "sandara mendekat untuk membisikkan sesuatu pada nadin.
"bos kita, Akbar Gionino "bisik sandara.
"emang akbar kenapa ? Dia baik ah "nadin tertawa pelan menanggapi perkatan sandara yang menurut nya lucu.
Di mata nadin akbar baik, pria itu terlalu sempurna untuk menyandang status single di usia yang sudah tidak bisa di bilang muda.
"Don't trust everything you see.. Even salt looks like sugar "sandara tersenyum.
"nanti siang makan bareng yuk "ajakkan sandara langsung di balas anggukan oleh nadin.
Setelah itu sandara keluar, membiarkan nadin menikmati euforia nya di hari pertama bekerja di High Fashion Magazine.
Dulu nadin selalu merasa ruangan gavin adalah ruangan kantor terbaik yang pernah dia masuki. Tapi hari ini dia tarik kembali kata-kata itu, terlebih ruangan ini betul-betul di peruntukkan untuk nya.
"serius banget, lagi ngeliatin apa ?"suara seorang pria membuat nadin menoleh.
Akbar bersandar di ambang pintu dengan senyum menawan nya. Jika nadin belum menikah, mungkin dia akan jadi salah satu barisan fans pria satu ini.
"hey.. "nadin tersenyum.
Akbar melangkahkan kaki nya mendekat ke arah meja kerja nadin. Lalu pria itu duduk disana disusul oleh nadin yang duduk di sebrang nya.
"enjoy your coffee "akbar menyerahkan sebuah bungkusan berlabel salah satu coffee shop kesukaan nadin.
"thank you, wah di hari pertama kerja saya sudah dapat kopi gratis "nadin membuka bungkusan tersebut lalu mengambil gelas kopi di dalam nya.
"itu sogokkan supaya kamu betah bekerja di sini "akbar bertopang dagu menatap nadin.
Nadin mengalihkan pandanganya, kenapa juga dia harus merasa grogi di tatap akbar dengan begitu intens.
"jadi.. Untuk urusan pekerjaan nanti sandara yang akan jelaskan rincian nya "
Nadin mengangguk. " oke, nanti saya tanya pada sandara "
Akbar tersenyum lalu melirik jam di pergelangan tangan nya. "we'll sebenernya saya mau berbincang banyak sama kamu, tapi saya harus meeting setengah jam lagi "
"good luck nad "lagi-lagi akbar tersenyum sebelum pria itu menutup pinti ruangan nadin.
***
"dia.. Ikut kita nad ?"sorot mata sandara sangat jelas mengatakan kalau dia sangat amat tidak menyukai kehadiran akbar di acara makan siang mereka.
Nadin mengangguk membenarkan. Bagaimana nadin mau mengusir akbar, jika pria itu sudah berada di ruangan nadin setengah jam sebelum waktu istirahat.
Awalnya membicarakan pekerjaan lalu berujung pada ajakkan pria itu untuk makan bersama. Nadin yang merasa tidak enak akhirnya mengiyakan ajakan akbar.
Jika tahu hal itu membuat mood sandara begitu buruk, mungkin lain kali nadin akan mempertimbangkan untuk menolak ajakan akbar jika sandara berada di dekatnya.
"jadi kita mau makan dimana ?"suara akbar membuat nadin yang sedari tadi melamun kembali ke dunia nyata .
Nadin melirik ke arah sandara yang sejak masuk ke dalam mobil akbar, wanita itu menutup rapat mulutnya. Hanya menatap keluar jendela tanpa berminat membuka suara sama sekali.
"san kita makan apa ?"nadin mencoba mencairkan kecanggungan yang entah kenapa begitu nadin rasakan atmosfir nya.
Akbar menatap nadin dari kaca tengah, lalu tatapan nya beralih pada wanita yang duduk di samping nadin. Sandara yang merasa sedang di perhatikan, balas menatap pria itu dengan tatapan sengit.
"terserah "hanya jawaban itu yang sandara lontarkan.
"hem.. Gimana kalau kita cobain restaurant yang baru buka di GI, sepertinya enak "
"oke, kita kesana "akbar kembali fokus pada jalanan.
Setengah jam kemudian mereka duduk berhadapan di sebuah restaurant korea. Nadin memilih duduk di samping sandara sementara akbar duduk di hadapan mereka.
"jadi gimana hari pertama nad, menyenangkan ?"tanya akbar memulai percakapan setelah selesai mengatakan pesanan nya pada seorang pelayan.
"menyenangkan "jawab nadin dengan wajah berbinar.
"syukur deh, yang betah ya nad "akbar tersenyum.
__ADS_1
Siapapun yang melihat laki-laki itu tersenyum pasti akan merasa setuju dengan nadin, akbar sangat amat tampan.
"oh iya nad, gimana kalau hari ini sepulang kantor kita adain pesta penyambutan buat lo "usul sandara.
"ide bagus tuh "
"GIRLS ONLY" ucap sandara seolah menanggapi jika akbar sangat di larang untuk ikut.
Akbar hanya bisa tersenyum masam. Ternyata gadis itu masih betul-betul dendam terhadap nya. Harus akbar akui dia memang bersalah atas apa yang sudah menimpa gadis itu.
Bunyi ponsel akbar membuat laki-laki itu izin untuk meninggalkan meja. Dia berjalan ke sudut ruangan untuk mengangkat telfon yang sepertinya penting.
"lo kenapa sih benci banget sama akbar ?"tanya nadin yang sejak tadi penasaran dengan sikap sandara.
"lo jangan tertipu sama tampang malaikat nya deh nad "nada suara sandara meninggi.
"emang kenapa ?"
Sandara tersenyum, ingin sekali menceritakan semua pada nadin agar gadis itu tidak berakhir sama sepertinya. Pria brengsek bernama akbar gionino itu sudah cukup banyak dosa jika dia mau menjadikan nadin korban selanjutnya.
"lo sama dia pernah pacaran ya ?"tebakkan nadin membuat mata sandara melotot kaget.
Entah ekspresi yang sandara tampakkan itu berarti membenarkan perkataan nadin atau ada hal lain yang masih enggan wanita itu ceritakan.
"pokoknya inget baik-baik ucapan gue nad. Sebagai manusia kita memang tidak boleh berburuk sanga pada orang lain "
Nadin masih menyimak wejangan sandara yang terlihat begitu serius dengan mimik wajah begitu.
"tapi.. Akbar gionino pengecualian. Dia satu-satunya pria yang wajib lo curigai apapun yang dia lakukan "
"ya tapi kenapa ?"tanya nadin yang masih belum mengerti kenapa sandara seolah anti pada akbar.
"inget, akbar itu pintar sangat pintar "sandara tersenyum misterius.
Nadin yang bingung hanya bisa mengangguk saja. Dia tidak tahu jenis hubungan apa yang pernah ada di antara akbar dan sandara.
Tapi jika melihat dari bagaimana sandara membenci akbar, jelas hubungan mereka bukan hubungan baik antar rekan kerja.
"sorry ya, tadi telfon urgent "akbar kembali saat pelayan baru saja datang membawa pesanan mereka.
"it's okay makanan nya juga baru dateng "ucap nadin karena jelas sandara tidak sudi untuk sekedar berbasa basi dengan akbar.
"minggu depan akan ada outing ke nusa penida nad, as new commer kamu wajib ikut ya "ucap akbar.
"berapa hari ?"
"hem 4 hari "
"ajak suami lo nad, kita gak tahu bahaya bisa datang dari mana aja "ucapan sandara yang terdengar seoerti sindiran membuat akbar tersedak makanan nya .
Sandara hanya melirik sekilas saat pria itu meminum air putih yang ada di atas meja sambil balas menatap nya. Untungnya nadin tidak cukup peka melihat kedua orang yang sudah mengeluarkan taring masing-masing.
"emang boleh aku ajak gavin bar ?"wajah nadin langsung berbinar.
"oh, boleh kok outing itu emang di peruntukkan untuk keluarga "jawab akbar.
Sandara tertawa pelan. "duh kasian dong yang single gak punya pasangan "
Nadin melirik sandara yang terlihat begitu menikmati ekspresi kesal yang akbar perlihatkan. Nadin hanya bisa pasrah berada di tengah dua orang yang sedang berperang tapi nadin tidak tahu apa penyebab nya.
"nanti gue bawa roger, tunangan gue "ucap sandara.
"ck.. Baru tunangan, belum resmi kan ? Menurut peraturan perusahan sebelum sah di mata hukum dan agama maka belum bisa di sebut satu keluarga "
Wow nadin betul-betul di buat kaget dengan perkataan akbar. Sejak tadi akbar tidak begitu menanggapi sindiran-sindiran pedas sandara yang jelas di tujukan padanya.
Tapi lihatlah sekarang , pria itu betul-betul membuat sandara tidak berkutik apalagi membalas perkataan nya.
Sandara yang memang dari awal tidak bernasfu untuk makan bersama akbar memutuskan untuk pergi dari restaurant itu.
"san.. Mau kemana ?"nadin memegang lengan sandara yang baru berdiri dari bangkunya.
"gue udah gak nafsu makan nad, lain kali aja kita makan siang nya "ucap sandara sambil melirik akbar yang masih menikmati makanan nya seolah kepergian sandara bukan sesuatu yang mengganggunya.
"gue ikut lo deh "ucap nadin yang merasa tidak enak karena sandara yang lebih dulu mengajak nya makan siang.
Tanpa di duga akbar yang mendengar nadin akan pergi mengikuti sandra sontak ikut berdiri dari bangkunya juga.
"nad mau kemana ?"tanya akbar walaupun dia tahu jika nadin akan ikut bersama sandara.
"sorry bar, maybe next time kita bisa lunch bareng "ucap nadin sambil tersenyum canggung merasa tidak enak pada akbar mengingat pria itu adalah bos nya.
Akbar merogoh kantong nya lalu menyerahkan sebuah kunci mobil.
"kalian pakai saja mobil saya, di luar hujan. Saya yakin jika kalian mencari taksi pasti sulit "
"tidak usah repot, terima kasih "jawab sandara masih dengan nada sinis.
"jangan gengsi, saya melakukan ini hanya karena saya ini bos kalian "
Sandara menatap akbar yang di matanya terlihat sedang usaha merebut perhatian nadin.
"trik lama "sandara berucap dalam hati.
"tapi saya gak bisa bar, nanti kamu pulang gimana ?"
"jangan khawatir, saya bisa naik taksi. Lagi pula jam makan siang saya tidak ada batas nya "
Nadin mengangguk membenarkan jika bos akan selalu jadi bos yang punya jam kerja tanpa batas juga jam istirahat suka-suka.
Akhirnya walaupun merasa tidak enak nadin mengambil kunci mobil dari tangan akbar. Laki-laki itu sempat melambaikan tangan saat nadin dan sandara berjalan keluar restaurant.
****
Decak kagum tidak bisa nadin sebunyikan saat dia menatap interior mobil akbar yang betul-betul menakjubkan.
Entah berapa ratus juta yang sudah laki-laki itu keluarkan hanya itu memodifikasi interior mobil nya. Yang jelas jiwa matre nadin mulai menghitung partikel harga setiap aksesoris mobil akbar.
Mobil akbar satu type dengan milik gavin. Jadi bukan perkara sulit bagi nadin untuk mengemudikan mobil ini.
Walaupun gavin hanya mengizinkan nadin menyetir mobil yang dia namai si ganteng itu hanya dua kali.
Pertama saat nadin merengek karena merasa penasaran bagaimana rasanya mengemudikan mobil itu, kedua saat gavin mendadak diare saat mereka pergi ke bandung .
Setelahnya laki-laki itu menjadikan alasan tidak mau membuat nadin lelah sebagai alibi karena terakhir kali nadin menyetir mobil nya wanita itu menggores mobil kesayangan gavin di pagar rumah.
Sambil tertawa nadin membayangkan bagaimama reakasi gavin nanti malam jika dia menceritakan, bos nya dengan sukarela meminjam kan nadin mobil yang sama persis dengan yang gavin punya.
"kenapa senyum-senyum nad ?"tanya sandara yang heran melihat nadin.
"gak, cuma lagi kefikiran suami gue aja "
"lo pasti bahagia banget ya nikah sama gavin "
"kok lo tau nama suami gue ?"nadin mengeryitkan dahi.
"ya tuhan nadin, lo bahkan gak tahu kalau suami lo itu populer ?"
Nadin menggelengkan kepala, dia tahu dulu di zaman SMA gavin memang populer. Tapi fakta kalau bahkan sandara saja mengetahui nama gavin membuat nadin yakin jika suami nya itu populer.
Diam-diam nadin bangga karena suaminya tidak pernah sedikitpun menyombongkan kepopuleran nya di depan nadin.
__ADS_1
"gavin christopher, salah satu HOT CEO yang paling di incar oleh para wanita matre "ucapan sandara membuat nadin terbatuk untuk sesaat.
Ini sandara tidak sedang menyindir nadin kan ?
"perempuan di luaran sana rela jadi istri simpanan nad asal bisa jadian sama gavin suami lo "
"tapi suami lo buka lowongan gak buat nambah istri "ucapan sandara yang kelewat blak-blakkan itu membuat nadin menginjak rem mendadak.
"gila ! Gak gak boleh ! Sampai gavin selingkuh apalagi poligami, lihat aja "
"gue bakalan diam sama wanita itu.. Tapi kalau tiba-tiba cewek itu mati keracunan sianida, jelas bukan gue pelakunya "
"loh terus siapa nad pelakunya kalau bukan lo ?"tanya sandara.
"tentu saja orang yang gue bayar untuk membunuh wanita itu, esperanza huahahahaha "nadin tertawa ala telenovela.
Sandara yang baru menyadari kalau dia sedang di kerjai oleh nadin, langsung menghadiahi wanita itu dengan sebuah jitakkan.
"gue udah serius-serius lo malah bercanda "ucap sandara.
"haha lagian lo sih ngomongin poligami lah, selingkuh lah, amit amit ih gue aja butuh jalan berliku-liku buat nikah sama gavin "
"itu perjalanan cinta apa jalanan di puncak nad , berliku-liku haha " sandara balik meledek nadin.
Mereka berdua tertawa bersama hingga mobil akbar masuk ke parkiran kantor High Fashion Magazine.
*****
Tepat pukul 8 nadin baru tiba di rumah setelah menempuh 1 1/2 jam perjalanan dengan kemacetan dimana-mana.
Pandangan nadin langsung tertuju pada seorang pria yang sedang tiduran di sofa sambil menonton televisi.
"aku pulang "
Gavin yang menyadari jika nadin baru saja tiba langsung bangkit dari sofa.
"sayang.... "gavin memeluk nadin erat sampai wanita itu sedikit terhuyung ke belakang.
"lebay deh seperti gak ketemu setahun aja "ucap nadin walaupun dia ikut mrlingkarkan tangannya di pinggang gavin.
"habis biasanya kan aku pulang kamu udah ada di rumah, ini aku pulang rumah masih gelap gulita. Si bibi lupa nyalain lampu lagi "
"bagus dong, kan emang tugas kamu nyalain lampu rumah "nadin melepaskan pelukkan nya.
"kamu udah makan belum ?" nadin berjalan menuju dapur.
Gavin menggeleng. " belum aku kam nungguin kamu nad "
"tapi aku capek vin, kita delivery aja ya "
"oke sayang. Kamu mau makan apa ?"gavin mengutak atik ponsel nya. "eh aku dapet kupon promo nih "
Nadin membaca sekilas promo yang tertera di ponsel gavin. Lumayan diskon 40% setiap pembelanjaan minimal 60 ribu.
"makan sop kambing sama sate kambing aja gimana vin ?"usul nadin langsung di balas seringai nakal oleh gavin.
"tumben kamu ngajak makan kambing, mau nambah stamina ya "gavin menaik turunkan alisnya menggoda nadin.
"sapu dulu itu otak kamu vin. Ngeres banget "
Gavin tertawa cekikian sambil membuka kulkas. Di ambilnya sekotak susu coklat dari dalam sama lalu meminumnya.
"vin, sejak kapan kamu suka susu coklat ?"
Gavin menggeleng dia juga tidak tahu sejak kapan. Awalnya demi menghilangkan emosi gavin minum susuk coklat itu, tapi lama kelamaan dia jadi ketagihan.
Tidak tanggung-tanggung pria itu membeli satu carton dari sebuah toko grosir.
"enak abisnya nad, aku jadi ketagihan "ucap gavin yang sekarang sedang duduk di pantry sambil mengetik sesuatu di ponsel nya.
"jadi kita pesen satu porsi sop kambing terus sate nya 25 tusuk aja ya nad "
"banyak banget, gak sekalian 100 tusuk "
"emang nya film suzana, bang bokir sate nya bang " gavin mempraktekkan salah satu adegan iconic film horor era 90 an.
Gavin itu terkadang memang hobi melucu, tapi aneh nya orang lain tertawa sementara dia diam saja. Ajaib kan gavin ini.
"oke udah aku pesen sate dan sop kambing nya "gavin menunjukkan aplikasi ojol di layar ponsel nya.
"oke, aku ganti baju dulu ya "
"aku tunggu di depan TV ya nad "
Nadin berjalan ke arah kamar sementara gavin kembali menduduki sofa singgasana nya yang tadi sempat dia tinggalkan.
****
"nad ? Gak salah kamu pakai baju itu ?"
Nadin memperhatikan penampilannya yang menurutnya nampak normal-normal saja. Kenapa gavin terlihat begitu terkejut ?
"nad.. Asli kamu betul-betul menakjubkan "gavin mengacungkan dua jempol tangannya.
"bagus ya , aku suka nih pakai ini adem banget "nadin berputar-putar memainkan baju nya.
"bagus banget nad, apalagi aksesoris di rambut kamu tuh mendukung deh "
Nadin mulai mencium ketidak beresan di ucapan gavin. Aksesoris ?
"ini ceritanya lagi costplay jadi mak-mak kontrakan ya nad hahah "gavin tertawa terbahak-bahak.
"kurang koyo nad tempel di kening kiri dan kanan kamu "sambung gavin lagi yang masih tidak berhenti tertawa.
Dalam imajinasi gavin sosok ibu-ibu penagih kontrakan itu yang pakai daster dengan gulungan rambut banyak serta koyo yang tertempel di kening.
Tatapan tajam apalagi saat ada yang nunggak atau telat bayar, pasti taring nya langsung keluar. Maka jangan salahkan gavin kalau penampilan nadin membuat laki-laki itu berimajinasi.
"aku pakai daster begini masih tetep cantik lah, seperti artis itu tuh yang jadi icon daster "ucap nadin menyombongkan diri.
"dih.. Cantikkan kamu lah sayang "ucapan nadin membuat nadin mencurigai ada udang di balik bakwan.
"ada mau nya nih pasti " ucapan nadin tepat sasaran sampai membuat gavin tersenyum lebar.
"istri aku sekarang sudah pandai ya memecahkan sandi morse, pasto dulunya anak pramuka "puji gavin.
"gak perlu masuk pramuka buat faham kelakuan kamu vin "ucapan nadin membuat gavin tertawa, sepertinya nadin sedang dalam mode gak mempan di modusin.
"sate kita belum sampe-sampe , coba liat vin di aplikasi " perut nadin sudah mulai keroncongan.
"sabar nih, kayaknya orangnya lagi parkir di depan , sebentar lagi pasti ada bunyi bel "
Tinong...
"sate kita datang !!"pekik nadin yang langsung berlari ke arah pintu utama di susul gavin di belakang nya.
Ceklek
Wajah mereka berdua terkejut saat mendapati bukan abang ojek online yang berdiri di depan mereka melainkan...
"papah ?"ucap nadin dan gavin secara bersama-sama
__ADS_1
Bersambung