
Gavin Christopher
Ini gue pasti lagi mimpi kan ? Hm .. Bisa-bisa nya gue mimpi lagi tidur sambil natap wajahnya nadin yang sedang tidur lelap di hadapan gue. Melihat nadin dengan jarak sedekat ini... Kenapa jantung gue dag dig dug ya padahal ini kan cuma mimpi.
Nadin emang cantik pakai banget malah. Wajar aja dulu cowok-cowok di SMA gue rela ngasih apa aja demi jalan bareng sama cewek yang lagi gue tatap ini.
Tapi kok bisa ya gue mimpiin nadin ? Harusnya kan gue mimpiin aurora. Apa gara-gara gue kebanyakan bergaul sama nadin. Sadar gavin sadar bahkan di dalam mimpi lo harus tetep jadiin aurora satu-satu nya walaupun dia cuma jadiin lo salah satu nya 😢
Mumpung ini mimpi, gue beranikan diri untuk mengelus puncak kepala nadin. Rambutnya halus banget pasti shampo nya mahal. Dari rambut turun ke pipi, gila lembut banget berasa megang bokong bayi, dan terakhir ... Bibir nya nadin.
Oh astaga gavin kenapa lo kebayang peristiwa di pesawat itu lagi sih. Tapi bibir nya nadin kenapa kecil dan cipokable begini ya. Pasti nadin bohong waktu bilang gue yang ambil ciuman pertama dia. Siapa yang percaya sama omongan playgirl seperti dia.
Berhubung ini cuma mimpi boleh dong gue ehm.. Kecup kecup dikit ini bibir yang biasa bawel sama gue. perlahan gue mendekat sampai di mana gue dapat merasakan hembussan nafas nadin di wajah gue.
Aneh ini kan mimpi, kok gue berasa seperti nyata aja ya ? Ah mungkin mimpi zaman sekarang begitu kali.
Cup
Gue bisa merasakan bibir nadin yang lembab dan imut itu di bibir gue, rasanya seperti strawberry. Gue mulai menikmati ciuman gue dengan nadin yang masih terlelap, santai bray ini kan cuma mimpi. Kalian tau lah cowok sering mimpi hal beginian, bahkan sama cewek yang dia gak suka sekalipun.
Gue menjauhkan wajah gue dan kembali menatap nadin. Coba aja wanita di hadapan gue ini bukan cewek matre pasti gue akan baris paling depan buat jadi fans nya dia.
Perlahan nadin mulai membuka matanya dengan gerakkan slow motion. Suara serak bangun tidur nya itu loh, bikin otak negatif gue langsung bekerja.
"lo udah bangun vin ?"ujar nadin dengan suara yang serak-serak seksoy.
"gue gak tau lo bisa ada di mimpi gue nad "ucap gue membalas sapaan nadin.
nadin bangkit dari tempat tidur kemudian menyandarkan punggung pada tembok di belakang kami.
"lo masih mabok ya ?"nadin mengusap mata nya sambil sesekali menguap.
"nggak "
"omongan lo ngaco tau nggak "
"sekarang kan gue lagi tidur nad terus lo ada di mimpi gue "
"lo naksir sama gue ya vin sampai mimpiin gue "nadin terkekeh.
Ini kenapa nadin di mimpi sama kenyataannya sama-sama bawel sih.
"buruan mandi, lo bau tau nggak "nadin memukul lengan gue,cukup keras sampai meninggalkan bekas merah disana. Gila tenaga nya kayak kuli.
Tunggu deh, kok rasanya sakit ya . Masa iya gue bahkan bisa merasakan sakitnya di tabok nadin di dalam mimpi gue ?
"bos.. Buruan kenapa masih disitu ? Penerbangan kita ke jakarta jam 10 gavin !!!"
Pekikkan nadin membuat gue betul-betul sadar kalau ini... Bukan mimpi !! Astaga berarti tadi gue...
Gue refleks langsung memegang bibir gue yang tadi habis .. Akk please tuhan semoga tadi nadin masih tidur, kalau nadin sampai sadar gue cium dia bisa jatuh harga diri gue. Gue langsung menyibakkan selimut dan berniat ke kamar mandi. Nadin benar gue betul-betul bau saat gue mengendus bau badan gue sendiri. Gue duduk di tepi tempat tidur, mengumpulkan nyawa lebih tepatnya. Kok rasanya dingin banget ya... Ac nya terlalu dingin atau..
"nadin !!!!!!!! "
Gue memekik dengan begitu keras. Untung aja kamar ini di lengkapi dengan peredam suara, jika tidak kebayang dong teriakkan gue akan terdengar sampai sejauh mana.
"lo perkosa gue ya ? Kok gue naked ?"gue langsung menutup tubuh bagian atas gue dengan selimut.
Berasa anak perawan baru abis making love deh.
Gue liat nadin bertolak pinggang sambil melotot ke arah gue. Gawat kenapa gue jadi ciut ditatap begitu.
"harusnya gue yang ngomel gavin christopher !! Pertama. lo udah buat gue susah karena lo mabuk semalam, belum ditambah lo pakai muntah dan terkapar di lantai GAK INGET !!"suara nadin tidak kalah nge gas.
Gue masih nyimak
"kedua, ini kamar gue dan lo udah mengkontaminasi kamar gue "
Masih menyimak lagi
"ketiga.. "
Nadin nampak berfikir.. Duh jangan dia inget dong yang tadi gue lakuin ke dia.Gue mendadak jadi gugup dan deg deg an, ini pertaruhan harga diri gue kalau sampai nadin menyadari apa yang gue lakuin padanya tadi. Jangan sampai gue kembali berakhir dengan berkomunikasi dengan post-it.
"lo udah .... "nadin nampak menarik nafas panjang, oke kayaknya dia inget.
"lo udah buat gue tidur satu kamar sama cowok buat pertama kalinya, harusnya gue yang marah gavin !!!!"
Fiuh.. Ternyata dia gak nyadar. Rahasia aman gavin.
"haha tenang aja, gue gak nafsu kali sama cewek kayak lo , dada rata begitu apanya yang mau di banggain"
Gue berdiri dari tempat tidur berniat menuju ke kamar mandi tapi mendadak nadin berdiri di hadapan gue.
"apa tadi lo bilang vin... "nadin menatap gue dengan tatapan nakal, ya tuhan kuatkan iman hamba.
"dada gue gimana gimana ? Rata ? Lo yakin ??? " nadin tersenyum smirk.
Nadin semakin mendekatkan diri ke gue, gue mundur dan mundur sampai akhirnya gue terpojok dan berakhir duduk kembali di tepi tempat tidur.
"kenapa vin ? Takut ? Katanya gak nafsu sama gue ?"
__ADS_1
Sial gue tau banget nadin menyadari kalau gue berusaha mati-matian buat gak menerkam dia saat ini juga. Bahkan junior gue gak bisa di ajak kompromi.
"iya , mana mungkin gue nafsu sama papan triplek kayak lo"
Nadin semakin mendekat mendekat hingga membuat gue bisa menatap jelas manik matanya. God gue bisa gila ada di posisi begini. Gak vin lo nggak boleh kalah
Hap
Dalam sekali hentakkan,gue merubah posisi nadin dan sekarang dia berada di kungkungan tangan gue seperti macan yang ingin menerjang mangsanya.
Rasakan pembalasan gue naughty girl. 😼
Nadin Almira Queen
"minggir "
"nggak mau "
"gue bilang minggir gavin "
Sial gavin malah terkekeh. Posisi gue yang ada di bawah kurungan tangan dia betul-betul gak menguntungkan buat gue.
"bukannya lo seneng bisa liat idola lo dalam posisi begini "gavin menaik turunkan alisnya.
Oke nad jangan kepengaruh apalagi lo curi-curi pandang liat abs di hadapan lo. Demi para Oppa di negeri gingseng sana gue gak boleh kalah.
"minggir gue bilang "gue menaikkan volume suara gue.
Sial bukannya pergi gavin malah semakin mendekat mendekat dan sekarang, kalian tau sedekat apa posisi kita ? Posisi di mana gue bisa merasakan hembusan nafas dia.
"lo harus tanggung jawab nadin "
"kenapa gue harus tanggung jawab ? Emangnya gue bikin lo hamil "
Gavin terkekeh." kenapa ? Lo ngarep mau gue buat hamil nad ?
Sial sial bumi hanguskan pria di hadapan gue ini ya tuhan
"gue bisa aja sih ngelakuin itu sama lo, ya anggap aja simbiosis mutualisme lah "
"maksudnya ?
"iya.. Kebutuhan biologis kita sama - sama terpenuhi "gavin menunjukkan ekspresi mesum betul-betul mesum.
Kalian tau jika membunuh orang tidak dosa sudah lama rasanya gue mau cekik leher pria di hadapan gue ini. Tapi gue gak mau mengotori nail art gue yang berhiaskan emas 23k ini.
Tiba-tiba otak pintar gue bekerja. Dari pada gue cekik gavin lebih baik gue hukum aja sesuatu yang udah buat otak gavin gak waras.
Jedug
Game Over
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~🐯🐯\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Nadin dan gavin tiba di bandara Soekarno Hatta pukul 1 siang. Tidak ada satu pun dari mereka yang mau berbicara sejak berangkat dari Bali dan sekarang sampai di Jakarta.
Gavin masih merasakan nyeri pada junior nya, masih segar di ingatan pria itu saat nadin dengan brutal menendang aset masa depannya.
"taksi " nadin setengah berteriak sambil melambai saat sebuah taxi berwarna biru mendekat ke arah mereka.
"bos saya duluan, bisa pulang sendiri kan gak perlu saya temenin "
"udah sana pergi "gavin menunjukkan gesture mengusir sambil mengibaskan tangan.
"baiklah "nadin langsung masuk ke dalam taksi kemudian pergi meninggalkan gavin yang masih cemberut di tempatnya.
Baru saja gavin berniat menghubungi supirnya tapi sebuah panggilan lebih dulu menginterupsi nya.
"gavin "
Gavin menoleh ke sumber suara, ternyata itu nyonya Sandra.
"kamu kemana aja nak... Mami kangen loh "wanita dengan dandanan menor itu memeluk gavin.
"nyonya siapa ? "gavin berusaha melepaskan diri dari wanita itu.
"mami gavin mami kebiasaan deh malah panggil nyonya "
Pletak
"sakit nyonya "gavin mengelus kepala nya yang baru saja mendapat hadiah dari wanita itu.
"tumben di Jakarta..??? Toko tas di Paris dan Milan udah sold out semua emang ?"gavin menunjukkan ekspresi datar.
"ngambek ya gara-gara ultah gak ada papi mami hm hm "
"emang aku pernah lahir ? Emang aku pernah kalian anggap ada ? Bukannya aku cuma alat untuk meneruskan perusahaan papah "
"gavin !!"suara laura mulai meninggi.
"aku capek abis perjalanan dinas, tuh temen mami udah dateng "
__ADS_1
Gavin mengedikkan bahu ke arah seorang pria yang nampak sedang berdiri canggung di dekat mereka. Ah sepertinya ibunya memelihara 'kucing' lagi.
Untung saja sebuah taksi berhenti di hadapannya,gavin langsung masuk ke dalam taksi itu tanpa menghiraukan panggilan mami nya. Sungguh hari itu gavin lelah berdebat.
Sementara itu nadin tiba di apartemen nya tepat pukul 3 sore. Tanpa membereskan koper dan juga dirinya nadin membenamkan diri di kasur empuk yang sudah sangat dia rindukan.
Nadin menatap moly boneka beruang yang nadin miliki sejak kecil,teman bermain sekaligus teman curhat paling gak lemes yang pernah nadin punya.
"mol...masa kemaren malem aku mimpi aneh "
"......"
"kamu inget gavin kan mol, itu loh kakak kelas yang dulu pernah aku ceritain "
"........"
"dia jadi bos aku sekarang bos paling rese tepatnya "
"......."
"dan semalam mol, aku mimpi dicium sama dia, di bibir mol di bibir "nadin menyentuh bibir nya sendiri.
"rasanya.. Seperti nyata mol "nadin tersenyum sendiri dalam lamunanya.
Auora Sharira
"mom... Wake up "
"5 minutes again tin "
"mom, i'am hungry "
Okay, i'am give up . Hah dengan berat hati gue membuka mata. Gue mendapati justin sedang duduk di samping gue sambil menunjukkan senyum manis nya. Gue jadi ikut tersenyum melihat justin seperti itu.
"okay my little boy, ayo kita sarapan "
Gue bangkit dari tempat tidur kemudiam duduk di tepi nya. Aneh semalam kan gue tidur di sofa kenapa gue bangun di atas tempat tidur. Ah mungkin gue tidur sambil berjalan.
"tin.. Wait in here "
"ok mom "
Anak gue manis banget emang, nurut , pinter dan ganteng. Anak nya siapa sih .. Gue senyum-senyum sendiri menatap justin yang sedang sibuk dengan ipad nya. kelakuan anak zaman sekarang memang gitu, gadget adalah sahabat mereka.
Gue melangkahkan kaki menuju kamar mandi. Baru saja gue memegang handle pintu, pintu itu tiba-tiba saja terbuka. Dan seseorang keluar dari sana dengan handuk yang melilit bagian bawah tubuh nya. Untuk sepersekian detik gue akui ciptaan tuhan di hadapan gue ini memang sempurna.
"ngapain kamu bengong ? "
"nggak, saya cuma heran aja kenapa bisa ada kamu disini "
"seharusnya saya yang heran, hampir saja kamu membuat keluarga kita malu "
"maksud kamu ?"
"kamu sengaja kan ajak justin ketemu sama cowok selingkuhan kamu itu supaya kalian nggak dicurigai "
Gue bertepuk tangan, bagaimana bisa pria di hadapan gue ini berfikir sampai kesana.
"kalau saya selingkuh seperti yang anda katakan, itu hak saya. Lagi pula kita memang bukan pasangan dalam konteks sebenarnya bukan. Hans Anderson "
Gue mulai muak, menghadapi pria di hadapan gue ini gak bisa hanya dengan mengalah saja.
"jangan pernah berkata seperti itu auora "ujar hans dengan nada yang tidak biasa, dan tatapan mata nya seperti orang yang terluka. semakin jago akting dia rupanya.
"kenapa ? anda mau bilang kalau anda cemburu ? anda mau bilang anda cinta sama saya ? Haha hans hans jika itu orang lain mungkin mereka akan percaya. Tapi tidak dengan saya hans "
".........."
"sekarang minggir dari hadapan saya, justin harus segera sarapan "
Hans menggeser posisi nya sehingga gue bisa melewatinya dengan mudah. Tumben dia mau ngalah.
"bukan saya aurora, tapi ruben. Jantung saya sakit setiap kali mendengar kamu berkata seperti itu, ah sepertinya saya gak pantas bilang itu jantung saya, tapi jantung ruben "
Gue berbalik menatap hans, lelaki itu menunjukkan ekspresi yang tidak biasa. Tatapan mata nya seolah menggambarkan kalau lelaki itu terluka.
Tapi bagaimana gue bisa percaya seorang Hans Anderson berubah hanya dalam waktu semalam,mustahil bukan ?
"ruben udah nggak ada "gue berusaha untuk tidak menatap mata hans, pria itu memiliki warna mata yang sama persis seperti milik ruben.sial
"ruben gak pernah mati ... Bahkan kalau boleh memilih kamu berharap saya yang mati menggantikan ruben,benar bukan "ujar hans dengan nada sarkas.
Ya.. Hans benar gue memang pernah berfikir demikian. Tapi gue bukan tuhan yang bisa mengatur hidup dan mati nya seseorang.
"takdir lucu bukan aurora "hans terkekeh pelan.Ini pertama kalinya gue melihat dia tersenyum.
"pada akhirnya kamu harus terjebak hidup bersama dengan saya, pria yang kamu benci seumur hidup kamu"
Baiklah orang ini mulai ngaco, apa jangan - jangan hans mabuk ?
"tapi kamu tau... Saya bersyukur terjebak dengan takdir gila ini bersama kamu " ujar hans dengan nada datar, nyaris tanpa emosi di dalamnya.
__ADS_1
Untuk sesaat gue tidak lagi mengenal siapa pria yang berdiri di hadapan gue ini, sungguh dia pasti bukan hans anderson.
Bersambung