
Nadin Almira Queen
Gue bukan termasuk dalam barisan orang-orang yang pro dengan istilah hubungan "kita jalanin aja dulu". Karena bagi gue, sebuah status adalah hal yang penting dalam sebuah hubungan. Dengan adanya status gue jadi punya hak, bukan hak untuk melarang pasangan gue ini dan itu, tapi dengan adanya status, gue jadi yakin kalau pria yang gue cintai juga balik mencintai gue.
Beberapa teman gue pernah mengalami berada di suatu hubungan yang bisa di bilang " hubungan ngambang " . Mau di bilang pacar belum di tembak, tapi di katakan teman juga nggak bisa. Ayolah kalian akan sebut apa dua orang yang selalu panggil sayang-sayang an, saling perhatian, kemana-mana berdua seperti kembar siam.
Pasti nya orang awam akan menyebut mereka sebagai pasangan kekasih. Walaupun pada kenyataan nya si pelaku yang di tuduh pasangan kekasih itu, belum tentu berpacaran.
Tidak jarang gue mengatakan kalau mereka itu budak cinta, karena mau saja berada di hubungan yang tidak jelas.
Tapi sekarang gue harus menelan bulat-bulat prinsip hidup yang sudah gue buat itu. Istilah ‘ menjilat ludah sendiri’ benar-benar terjadi pada gue.
Saat ini bisa di katakan gue dan gavin terlibat dalam hubungan "kita jalanin aja dulu ". Nyaris setiap hari gue berangkat dan pulang kantor bersama pria itu.
Rumor kalau kami sedang berkencan-pun, menyeruak di seluruh penjuru kantor , menjadi hot topic of the week yang tidak ada habisnya di bahas. Gue sebagai tersangka rumor itu habis di jadikan bahan bulan-bulanan teman-teman di kantor.
Mereka bahkan sengaja memanggil gue hanya untuk mewawancarai gue prihal hubungan gue dan gavin. Padahal gue dan gavin bukan artis. Kenapa mereka cuma meneror gue, padahal disini ada dua orang yang terlibat. Rupannya dengan alasan takut gaji mereka di potong, mereja jadi enggan bertanya pada gavin.
Dan jawaban gue tetap sama, gue dan gavin memang tidak berada di hubungan romantis seperti yang mereka bicarakan. Catat baik-baik, gavin tidak pernah sekalipun meminta gue menjadi pasangannya. Menyatakan cinta saja tidak. Lalu bagaimana gue bisa mengakui dia sebagai pasangan gue ? Nanti mereka fikir gue halu.
Dan pria yang sedang jadi topik pembicaraan gue ini, saat ini sedang asik menikmati nasi goreng dan menyesap kopi hitam nya. Setelah pulang dari pantai itu, setiap pagi gavin sudah duduk manis di meja makan di rumah gue.
Oh jangan lupakan reaksi mami saat pertama kali lelaki itu menjemput gue untuk sama-sama pergi ke kantor. Seperti sudah kenal lama, mami langsung merangkul gavin masuk ke rumah kami. Bahkan tanpa rasa malu mami selalu menyebut gavin dengan calon mantu.
Reaksi gavin tidak kalah ajaib dengan mami gue, setiap kali mami gue menyebut gavin calon menantu, jawaban lelaki itu tetap sama.
Diamini saja mami
Gue sebagai anak kandung nya terkadang geleng-geleng kepala melihat tingkah mami gue. Beliau memang jarang di rumah, tapi sekali nya di rumah , kenapa timming nya selalu pas saat gavin berkunjung, seolah-olah tuhan menakdirkan mereka bertemu.
Bahkan tanpa rasa malu gavin menyebut mami sebagai mamah mertua, atas panggilan itu mami gue luar biasa bahagia. Tidak henti-henti nya mami gue tersenyum lebar setiap gavin memanggil nya dengan panggilan Mami.
Reaksi gavin yang selalu berkata seperti itu benar-benar membuat gue baper maksimal. Walaupun gue juga harus selalu istighfar setiap kali fikiran-fikiran halu mulai merasuki gue. Gue selalu ingat ucapan gavin, dia gak akan pernah suka gue karena gue matre.
"mami kamu pinter masak "gavin berbicara dengan mulut yang masih mengunyah nasi goreng.
"well kamu beruntung bisa menikmati masakan mami, jarang loh mami di rumah "
Ah gue harus memberitahu salah satu kemajuan besar yang terjadi pada hubungan gue dan gavin. Gue dan dia mulai terbiasa dengan panggilan aku-kamu.
Panggilan aku kamu udah, di antar jemput setiap hari udah, gandengan tangan .. Kadang sih , sun sun manja ... Rahasia itu sih .
Tapi kapan gavin bakal nembak gue !! Kapan gue resmi jadi pacar nya !! Kalau begini terus gue merasa seperti istri sirih aja. Ada tapi di sembunyiin.
"nanti aku mau ketemu sama temen aku ya, jadi aku pulang duluan "ujar gue sambil menatap nasi goreng yang tinggal setengah.
"temen yang mana ? Aku kenal gak ?"
Gavin menatap gue dengan tatapan menyelidik. Dari cara dia bicara dan raut wajahnya gue bisa tebak, dia curiga.
"kamu gak kenal. Dia bukan temen kantor ataupun temen sekolah kita. Hanya.. Senior yang dulu pernah aku kenal di kampus "
"cewek atau cowok ?"ujar gavin dengan nada dingin, dia bahkan lebih memilih menatap nasi goreng dari pada melihat wajah gue.
"cowok "
Jawaban gue berhasil membuat pandangan gavin teralih dari nasi goreng nya. Dan sekarang malah gue yang dia tatap dengan pandangan horor. Gue berasa mau di eksekusi mati.
"namanya siapa ? Kerja dimana ? Rumah nya di daerah mana ?"cerocos gavin tanpa titik koma, gavin ini mau jadi sensus penduduk atau obsesi jadi wartawan sih, pertanyaannya detail banget.
"perlu banget ya aku jawab ?"
"iyalah. Aku kan bos kamu wajar kalau aku mau tahu semua urusan karyawan aku "
"oh.. Jadi kamu begini juga ke karyawan cewek yang lain ?"Tanpa sadar nada suara gue meninggi karena terpancing emosi.
Gavin menunduk, mati kutu kan lo
"ini bagian dari job desk terbaru ya di perusahaan ? Bos harus tahu semua urusan karyawan nya termasuk masalah pribadi"
Gue mengesampingkan nasi goreng gue ke pinggir meja, sudah kehilangan nafsu makan gue karena berdebat dengan gavin.
"kenapa diam aja ? Kalau gitu biar adil aku juga harus tahu dong semua urusan kamu "gue balik menantang, enak aja dia ubrak abrik privasi gue sementara dia simpan rapat-rapat semua urusan dia, gak adil !
"kamu kan tahu semua jadwal aku, gak inget, kamu sekretaris aku "jawab gavin tak mau kalah, pinter banget emang dia mengalihkan pembicaraan.
"aku kan cuma tahu urusan kamu di kantor, sehabis dari itu aku gak tahu kamu ngapain aja , sama siapa aja "nada suara gue mulai meninggi dengan sendirinya, kok gue berasa jadi pacar posesif ya ?
"aku gak pernah macem-macem. Abis anter kamu pulang aku langsung pulang ke apartemen "
"hm oke aku percaya, lagian terserah kamu juga mau ngeluyur kemana, sama siapapun. Aku kan nggak punya hak apa-apa buat ngelarang kamu "
Gotcha, akhirnya terlontar juga sindiran yang gue tujukan supaya gavin cepet sadar. Buruan vin udah kode keras banget nih gue minta di tembak.
".........."
Gavin diam saja, nasi goreng yang tadi gue pinggirkan, sekarang sudah berpindah ke hadapannya. Tanpa ragu gavin menghabiskan nasi goreng sisa gue, entah karena kelaparan atau rasa nasi goreng itu benar-benar enak.
"yuk berangkat, tol pasti macet banget deh "gavin bangkit dari kursinya sambil menaruh jas di bahu.
Berhubung jam sudah menunjukan pukul 7, gue urungkan niat gue untuk ngode in gavin lagi. Jika di lanjutkan kami berdua bisa terlambat masuk kantor. Kali ini gue coba sabar.
__ADS_1
Benar saja, baru setengah jam melintasi gerbang tol, kondisi jalanan sudah padat merayap. Gue dan gavin masih bertahan untuk tidak berbicara sejak pembicaraan terakhir yang menyinggung mengenai HAK.
Hanya suara penyiar radio yang sedang cuap-cuap, memecah keheningan yang tercipta di dalam mobil gavin. Walaupun candaan penyiar radio itu terdengar garing, tapi setidaknya itu lebih baik dari pada gue dan gavin yang saling tidak berbicara.
Mobil mulai bergerak perlahan dengan kecepatan 20 - 30 km/jam. Sudah dapat di pastikan kalau kami berdua akan terlambat masuk kantor jika jalanan masih begini padatnya. Gue melirik gavin yang wajahnya nampak biasa saja walaupun dia tahu kami akan terlambat datang ke kantor. Seketika gue baru inget, ya iyalah dia kan bos , perusahaan punya bapak nya !
Sementara gue terancam potong gaji karena terlambat absen. Masa iya gue bilang ke HRD alasan gue terlambat karena terjebak kemacetan dengan bos mereka. Nanti semakin jadi bahan nyinyir gue di tuduh KKN.
Radio masih setia dengan cuapan-cuapan mengenai asean games yang tahun ini di adakan di indonesia. Gue menyimak dengan baik, sampai suara radio berubah menjadi intro sebuah lagu. Gue tersenyum, kesempatan gue nih ngode in gavin.
You've been runnin' round, runnin' round, runnin' round throwin' that dirt all on my name
'Cause you knew that I, knew that I, knew that I'd call you up
You've been going round, going round, going round every party in LA
'Cause you knew that I, knew that I, knew that I'd be at one
I know that dress is karma, perfume regret
You got me thinking 'bout when you were mine
And now I'm all up on ya, what you expect
But you're not coming home with me tonight
You just want attention
You don't want my heart
Maybe you just hate the thought of me with someone new
Yeah, you just want attention
I knew from the start
You're just making sure I'm never gettin' over you
What are you doin' to me?
What are you doin', huh?
Sengaja gue menyanyikan setiap bagian reff yang menurut gue lirik nya sedikit menyindir gavin dengan sedikit penakanan. Gue mau liat reaksi dia gimana saat gue sindir dengan lagu Charlie Puth itu.
"suara kamu bagus juga nad ternyata "gavin tersenyum sambil mengacak rambut gue.
Loh kok dia gak ngerasa tersindir sih ? Gagal dong usaha gue. Gavin ini kok gak mempan-mempan gue kode in terus. Harus pakai cara apalagi sih.
Benar saja kami tiba di kantor pukul 10 pagi menjelang siang. Semua orang yang kebetulan berpapasan dengan kami tentu saja tidak ada yang berani berkomentar. Gak tahu deh kalau di belakang. Gue harus mulai tebal kuping dengan omongan orang-orang yang menyindir gue dengan julukan kesayangan boss.
Tidak jarang saat gue sedang ada di toilet perempuan, gue mendengar ada beberapa karyawati yang terang-terangan gosipin gue. Gue yang saat itu sedang ada di dalam bilik toilet menyimak aja sambil sesekali mengurut dada menahan emosi.
Mereka bilang kalau gue pakai pelet untuk menaklukan gavin. Bahkan salah satu dari mereka nuduh gue udah tidur bareng gavin. Astaga gue gak pernah tahu kalau komentar nitizen itu ternyata lebih kejam dari ibu tiri.
Gue sekarang tahu kenapa banyak artis yang bunuh diri hanya karena komentar-komentar nitizen macam cewek-cewek itu.
Saat gue buka pintu toilet, mereka langsung shock melihat gue. Mereka langsung melotot seperti baru saja melihat Valak. Padahal gue kan cantik jauh dari kata seram.
Dan selanjutnya bisa di tebak dong apa yang mereka lakuin, langsung lari sekencang yang mereka bisa. Padahal gue belum bicara apapun atau ngelabrak mereka, eh mereka udah kabur duluan.
Gavin baru saja masuk ke dalam ruangannya, dan gue tentu saja duduk anteng di meja sambil membuka laptop. Siap-siap mengerjakan laporan mengenai hasil meeting tempo hari.
"bisa saya bertemu dengan bapak gavin christopher "sebuah suara membuat gue mau gak mau mendongak, tapi kok suaranya familiar banget ya.
"astaga bimo !!"gue terperanjat mandapati sosok pria di hadapan gue. Si mulut lemes bimo !
"nadin !! "bimo pun menyapa gue tak kalah kagetnya.
Entah kesialan atau keberuntungan bagi gue bertemu bimo lagi, setelah sekian lama kami tidak pernah bertemu sejak dia lulus sekolah. Bimo banyak berubah dari sejak terakhir kali kami bertemu, si culun yang dulu ngondek sekarang jadi luar biasa macho dengan gaya perlente.
Walaupun tampilan luar nya sudah sangat amat berubah, tapi ternyata salah satu skill yang di miliki bimo tidak pernah hilang, yaitu....
"jadi lo beneran nikah sama gavin ? Wah kesampean dong cita-cita lo punya laki kaya dan tampan " cerocos bimo , benar saja kan mulutnya masih lemes.
"nggak ! Gue cuma kerja sama gavin "ucap gue dengan tegas sambil menyilangkan tangan di depan dada.
"jadi sekretaris pribadi nya maksud lo hm "bimo menaik turunkan alisnya sambil mencoba membuat gue mengakui kalau gue memang punya hubungan dengan gavin.
"lo tanya aja sama gavin kalau nggak percaya "
"haha gue nanya sama dia yang ada di mutilasi duluan, secara dia kan anti pati banget sama lo "
"....."
"dulu ya nad, pernah gue sama gavin mau ke kantin kan, eh ada lo sama geng lo gitu mau ke kantin juga. Waktu itu kantin penuh, tinggal meja lo doang yang kosong. Dan Lo tau gavin ngapain ? Dia puter balik gak jadi ke kantin. Dia bilang mending puasa aja dari pada harus makan satu meja sama lo "
Dasar mulut ember ! Gue memaki lelaki lemes ini dalam hati. Hari ini kenapa banyak banget yang buat mood gue rusak. Gue menggerutu dalam hati sambil terus menyimak cerocosan bimo yang gak berbobot tapi berhasi buat gue dongkol.
"ah ada lagi nad "dengan tidak tahu dirinya bimo malah duduk di depan meja gue.
"lo masih inget kan waktu acara pensi. Waktu gavin tanding basket, dan lo dateng-dateng bawain dia air minum kalau gak salah merk poc.. Ah pokoknya itu deh "
__ADS_1
Gue masih diam mendengarkan cerita si lemes dengan seksama. Penasaran juga gue lama-lama sama cerita nya bimo. Walaupun ada rasa-rasa pengen nampol wajah dengan kumis tipis-tipis itu.
"waktu itu si gavin jadi bulan-bulanan anak-anak , katanya pakai pelet apa gavin sampai buat seorang nadin yang biasanya selalu di kejar cowok sekarang gantian malah ngejar cowok. Waktu itu gavin diam aja nad, tapi... "
"tapi apaan !"
"ah tapi ntar lo sakit hati lagi kalau gue ceritain "
Gue berusaha sekuat tenaga untuk gak bener-bener nyakar wajahnya bimo. Ngapain juga dia cerita, kalau tahu bakalan buat gue sakit hati. Udah gitu sengaja lagi mancing-mancing gue supaya penasaran.
"gak tuh. Lagian gue sekarang udah biasa aja sama gavin "ucap gue dengan penuh keyakinan, padahal dalam hati berkata sebaliknya.
"nah bagus kalau lo udah gak ada rasa sama gavin nad "
"buruan lanjutin cerita lo tadi "ucap gue dengan nada suara yang berusaha di lembut-lembutin padahal rasanya mau tarik urat aja.
"iyee... Sampai mana tadi gue ? Ah sampai gavin jadi bulan-bulanan ya. Jadi gini nad, air minum yang lo kasih ke gavin itu di depan kita semua dia buang gitu aja, gue masih inget gavin bilang, dia nggak mau makan atau minum apapun yang lo kasih, takut di pelet katanya "
"intinya gavin itu alergi banget nad sama lo, gue juga gak tahu tuh alasan nya kenapa. Apa gara-gara lo cewek matre ya ?"tanya bimo dengan wajah polos nan bloon.
Dulu predikat cewek matre membuat gue bangga, karena dengan begitu tidak bisa laki-laki sembarangan mendekati gue. Harus lulus sensor dulu baru bisa jadi pacar nadin. Tapi mendengar cerita bimo tadi, entah kenapa gue merasa malu menjadi wanita matre.
Padahal dulu dan sekarang sifat matre gue itu ada alasannya. Alasan yang bahkan kedua orang tua gue pun tidak tahu. Bagaimana mereka bisa tahu kalau gue aja jarang berinteraksi dengan mereka.
"jadi.. Gavin benci gue gitu bim ?"
"benci sampai ke ubun-ubun nad. Lo yang sabar deh sekarang kalau kerja sama dia "
Gue tidak membalas perkataan bimo, mungkin lelaki itu ada benarnya. Dan jika gue hubungan peristiwa di masa lalu dengan hubungan gue di masa sekarang, maka gue bisa menarik kesimpulan kenapa sampai sekarang gavin gak juga nembak gue.
Gavin nggak betul-betul mencintai gue seperti gue mencintai dia. Dan entah untuk keberapa kali nya gue kembali merasakan ini, patah hati.
Tidak lama pintu ruangan gavin terbuka, pria itu memunculkan setengah badan nya dari dalam ruangan.
"bim , masuk !"ujar gavin setengah berteriak.
Bimo langsung bangkit kemudian berjalan menuju ruangan gavin. Dengan gerakan bibir, bimo mengucapan terima kasih dan berkata doakan gue ya. Gue langsung membalasnya dengan kekehan saat lelaki itu menghilang di balik pintu ruangan gavin.
Jujur saja dalam hati, gue berharap kalau semua yang di ceritakan bimo tadi hanya sebuah kebohongan belaka. Tapi jika mengingat bimo yang mendapat julukan Lambe nya SMA Garuda, sepertinya gue harus menelan kekecewaan. Bimo nggak mungkin salah ngasih info.
Gue putuskan untuk mengambil ponsel gue, mencari sebuah nama yang tadinya hanya gue jadikan alasan untuk melihat apakah gavin cemburu atau tidak kalau gue menyinggung pria lain. Tapi ternyata tidak, dia malah memberikan pertanyaan yang gak masuk akal.
"Mas Tama , hari ini gue bisa "
"yes ! Akhirnya gue dapet juga model buat pakaian terbaru gue "pria itu terdengar girang di sebrang sana.
"nanti gue jemput deh ke kantor lo "
"oke, eh inget bayaran gue jangan telat !"
"astaga, iya nadin almira queen yang sangat cinta rupiah "
Gue kembali terkekeh, mempertanyakan diri gue sendiri. Kenapa gue sangat cinta rupiah ya ?
Gue kembali memasukan ponsel ke dalam saku setelah percakapan gue dan mas tama berakhir. Sudah 10 menit bimo tidak juga keluar dari ruangan gavin. Mendadak insting keppo gue bangkit, gue penasaran apa yang di bicarakan oleh mereka di dalam. Mengingat gavin dan bimo bukanlah sahabat akrab.
Dengan mengendap-endap gue berdiri di depan pintu ruangan gavin. Kebetulan pintunya tidak tertutup sempurna,jadi gue bisa dengan mudah mencuri dengar percakapan mereka.
Gavin dan bimo nampak sedang berdiri di depan kaca yang menampakkan pemandangan kota Jakarta. Di tangan mereka terdapat dua gelas softdrink berwarna merah.
Gue merapatkan telinga gue pada celah pintu, semoga aja gue gak ketahuan ngelakuin ini, bisa malu gue ketahuan stalking bos sendiri.
"jadi lo sama nadin punya hubungan apa ?" samar-samar gue mendengar suara bimo.
Gue semakin melebarkan telinga, mungkin saja gavin mengaku kalau kami memang punya hubungan. Lupakan masa lalu
"gue sama nadin ? Ya seperti yang lo liat dia karyawan gue. sekretaris gue lebih tepatnya "
Tesss.. Seperti ada yang meleleh di pelupuk mata gue. Bukan air mata kan ?
"bohong. Jelas-jelas lo tahu nadin cinta mati sama lo. Sampai sekarang mungkin "suara bimo kembali terdengar.
Suasana kembali hening. Gue yang masih setia di posisi menguping, mulai merasa tidak kuat kalau harus mendengar kata-kata penolakkan dari gavin.
"lo tau kan vin nadin masih cinta sama lo ?"
Entah bimo itu sok tahu atau dia punya kemampuan menebak perasaan orang. Dan sialnya tebakkan dia benar.
"iya gue tahu " jawab gavin.
"terus , lo cinta juga gak sama nadin ? Gak baik vin cewek cakep macem nadin di anggurin lama-lama. Ntar dia di ambil orang lo juga yang nangis bombay "
Gavin terkekeh, sambil menepuk pundak bimo gue melihat dan mendengar dengan mata kepala gue sendiri gavin berkata.
"kalau dia bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik, gue gak bisa ngelarang kan "
Gue merasakan air mata gue yang semula hanya berupa tetesan berubah menjadi sebuah tangisan. Gue mundur perlahan dari depan pintu ruangan gavin, setengah berlari menuju kamar mandi yang terletak di sudut ruangan. Gue berdoa semoga saja tidak ada satupun orang yang berpapasan atau melihat gue dalam kondisi seperti ini.
Cukup perkataan gavin saja yang membuat hati gue sakit luar biasa. Jika di tambah dengan komentar negatif dari orang lain, gue pastikan gue tidak akan punya muka lagi untuk ada di perusahaan ini.
__ADS_1
Bersambung