CEO Rese Dan Secretary Matre Nya

CEO Rese Dan Secretary Matre Nya
Episode 55


__ADS_3

Gavin Christopher


"nad ampun nad !!!!! " gue masih meronta berusaha melepaskan rambut gue yang nyaris botak karena di jambak oleh nyonyah alias istri tercinta gue nadin almira queen.


"diam !!! Arggghh vinn !! Sakit !! "teriak nadin membuat telinga gue terasa berdengung.


Bulir bulir keringat mulai membanjiri bukan hanya wajah tapi badan gue juga. Entah ruangan ini yang AC nya mati atau karena suasana nya yang sedang mencekam.


"hushha. Hush aa "ucap gue berusaha menenangkan nadin walau gue gak yakin itu berefek.


"nadin cantik, kesayangan aku "ucap gue kembali mengelus pucak kepala nadin


"vin !!!!"nadin kembali berteriak menyusul helaian rambut gue yang tercabut sampai ke akar.


"sabar nad sabar orang sabar di sayang ji chang wook "ucap gue berusaha menenangkan nadin.


"nang ning ning nang nung "seloroh gue berusaha menenangkan nadin seperti anak bayi.


"vin !!!!!"teriakan nadin berhasil membuat ruangan ini terasa sangat amat ramai.


"ah udahan vin aku capek teriak-teriak "nadin duduk di sofa setelah adegan bar bar yang baru saja kami lakoni.


Gue menghela nafas lega, akhirnya penderitaan gue berakhir. Gue menyusul nadin untuk duduk di sofa juga. Sambil mengusap-usap kepala gue yang masih terasa berdenyut akibat ulah nadin.


"haus vin ?"tanya nadin.


Pake di tanya lagi, gak liat apa suami nya udah banjir keringat begini.


Melihat gue yang tidak kunjung menjawab, nadin bangkit dari duduk nya kemudian berjalan ke arah kulkas. Gue tebak pasti dia kesana buat mengambil sekaleng soda dingin atau es syroup. Membayangkan cairan dingin itu berjalan di tenggorokan gue saja gue amat sangat bahagia.


Selang beberapa lama nadin kembali duduk di samping gue, dia membuka botol air minum kemasan lalu menenggak minuman itu hingga tandas.


"ahhhh "seru nadin lalu meletakkan botol yang isi nya tinggal setengah itu ke atas meja.


Tunggu ada yang aneh


"nad.. Kamu gak ambilin aku minum sekalian ?"tanya gue yang masih bingung kenapa dari tadi nadin tidak memberikan gue minun juga.


"loh kamu mau minum juga ?"nadin kembali bertanya.


Ya tuhan !!! Ingin rasanya hamba berteriak sekencang-kencang nya. Dosa apa hamba di masa lalu sampai punya istri yang tidak peka begini.


Gue hanya bisa meringis meratapi kelakuan nadin yang semakin hari semakin aneh. Entah itu bawaan bayi atau hormon ibu hamil. Gue gak bisa membedakan.


Yang jelas jika kalian berfikir tadi itu nadin sedang melakukan proses persalinan, kalian salah banget !


"yauda jangan ngambek, aku ambilin minum deh "baru nadin akan beranjak dari sofa gue langsung memegang tangan nya.


"nggak usah aku sendiri aja, kasian kamu nanti capek "ucap gue pada akhirnya dengan senyum manis yang membuat nadin juga ikut tersenyum.


Pelajaran lain yang gue dapatkan setelah menyadari kalau gue ini bucin nadin adalah.. Nadin bikin kesel, gue gak boleh marah, pasang senyum pepsodent ciptakan image suami sabar tiada tara. Walaupun dalam hati gondok setengah mati.


Akhirnya gue pergi ke kulkas untuk mengambil sesuatu yang dingin. Untungnya gue menemukan minuman isotonic yang gue beli minggu lalu.


"dady vin .. Kesini nya bawa apel yang udah di potong-potong ya sayang "teriak nadin dari ruang keluarga.


Belum sempat gue menjawab suara nadin kembali terdengar.


"kalau bisa sama melon juga ya sayang "


"iya nyonyah "jawab gue dengan sangat pelan yang gue yakini nadin tidak akan mendengar suara gue.


Gue pun mengambil apel dan melon dari dalam kulkas. Mengupas kulit nya setelah itu memotong-motong buah itu lalu meletakkan di atas piring.


Usia kandungan nadin yang sudah menginjak 8 bulan membuat gue harus rela menjadi suami dan terkadang menjadi pembantu untuk istri gue yang luar biasa manja nya itu.


Dengan kata kunci dady vin dan panggilan sayang, tanpa fikir panjang gue langsung menuruti apapun permintaan nadin. Mulai yang normal sampai abnormal sudah pernah gue jalani.


Salah satunya tadi pagi, saat gue baru selesai joging keliling kompleks. Tiba-tiba saja nadin bilang dia ingin latihan melahirkan. Membuat gue mengingat percakapan absurd itu kembali.


Flashback


"vin.. "nadin tiba-tiba memeluk gue dari belakang saat gue baru akan melepaskan sepatu.


Tumben sekali istri gue itu mau peluk-peluk gue disaat gue bau keringat habis joging begini. Biasanya langsung ngacir dengan alasan gavin bau asyeem tapi wangi.


"apa nad ?"


"kamu hari ini ada rencana kemana ?"tanya nadin yang masih betah merangkul gue dari belakang.


"gak ada, hari ini aku mau leyeh-leyeh sambil nonton dvd. Kenapa ?"


Nadin langsung duduk di samping gue dengan mata yang berbinar-binar. Gak tau kenapa melihat ekspresi nadin yang begitu firasat gue tidak enak.


"daddy vin.. Kamu sayang kan sama aku dan anak kita ?"


Tentu saja gue langsung mengangguk. Bukan sayang lagi, satu dunia pun juga tahu kalau gue bucin nadin dan anak gue.


"kalau gitu.... "mata nadin mulai mengerjap-ngerjap seperti orang kelilipan.


Feeling oh feeling mengapa semakin tidak enak.


"temani aku latihan melahirkan yuk "


Nah betul kan.. Dan terjadi lagi kisah lama yang terulang kembali ( jangan sambil nyanyi baca nya )


"nad.. Emang kamu fikir lahiran itu senam lantai yang harus latihan dulu "gue menggeleng-gelengkan kepala.


"ih.. Ini tuh bertujuan supaya aku gak grogi pas nanti melahirkan vin "rengek nadin.


"tapi masa yang begitu harus latihan sih nad, naluriah itu sih "


"tuh kan dady vin vin gak sayang sama kita nak "nadin cemberut sambil mengusap lembut perutnya yang sudah mulai terlihat buncit.

__ADS_1


Gue hanya bisa mengehela nafas menatap kelakuan nadin yang penuh drama. Harapan gue hanya satu, semoga anak gue tidak menuruni sifat nadin yang satu itu.


"ayolah sayang..  Sekali aja aku janji cuma sekali ya ya "nadin mengeluarkan tatapan puppy eyes nya.


Kibarkan bendera putih, gue menyerah.


"yauda ayo kita latihan "ucap gue pada akhirnya membuat nadin langsung berteriak kegirangan lalu mengecup pipi gue sekilas.


"nah.. Berhubung kamu udah setuju, nih buat kamu "nadin memberikan gue secarik kertas yang dia ambil dari dalam kantongnya.


Gue mengeryitkan dahi. "ini apa nad ?"


"script.. Buat kamu hafalin "nadin tersenyum lebar.


"ini kita lagi mau main sinetron pake script segala "gue menerima script itu lalu membaca nya.


"harus hafal kalau nggak lo gue end "ancam nadin.


Gue hanya bisa pasrah lalu mengikuti alur permainan nadin. Jika ada piagam penghargaan untuk suami paling penurut gue yakin akan menang.Dan jika ada penghargaan istri termenyebalkan ups gue perhalus bahasanya dengan istri termenggemaskan nadin pasti juara nya.


Flashback End


"makasih sayang "ucap nadin yang langsung mengambil piring buah yang gue bawa.


Nadin memang jadi lebih berisi sejak mengandung anak kami. Tapi satu hal yang gue harus hati-hati, jangan sampai keceplosan bilang nadin gendut. Karena kalau itu terjadi bukan hanya nadin nangis kejer, tapi juga berakhir pada perampokan saldo ATM gue demi supaya nadin berhenti menangis.


Satu hal lagi yang gue waspadai sifat nya menurun ke anak gue dari nadin yaitu.. Cinta uang.


Tapi entah kenapa gue merasa jika istri gue itu semakin hari semakin cantik. Walaupun nadin tidak menggunakan make up dia tatap cantik.Ah apa semua ibu hamil begitu ya aura nya atau memang istri gue itu yang sudah dari sana nya cantik.


"vin.. Minggu depan kamu jadi cuti kan ?"


Gue mengangguk. " iya dong kan prediksi dokter minggu depan anak kita lahir "


Rasanya mendebarkan mengingat sebentar lagi gue betul-betul menyandang gelar jadi hot dady. Cita-cita terpendam gue sejak dulu karena gue memang suka anak kecil.


Berhubung gue dan nadin sepakat untuk meminta dokter merahasiakan jenis kelamin anak kami sampai dia lahir, jadi gue belum banyak berbelanja keperluan bayi.


Hanya beberapa kebutuhan standard yang biasa di pergunakan bayi dan beberapa baju dengan warna netral.


"vin.. Aku mau tanya sesuatu tapi kamu jangan mikir aku aneh ya ?"


"susah nad, kamu kan emang udah aneh dari dulu "ucapan gue dihadiahi cubitan cukup pedas dari nadin dj pinggang gue.


"serius vin ah kamu nih "


"yauda apa sayang ??"tanya gue lalu gue posisikan duduk menghadap nadin.


"kamu tau kan kalau melahirkan itu gak mudah "nadin mendadak merangkul lengan gue lalu bersandar pada bahu gue juga membuat gue merubah posisi duduk gue jadi menyamping.


Gue menyetujui perkataan nadin sambil mengangguk. Tentu saja gue tahu melahirkan itu seperti sedang berperang.Butuh perjuangan, rasa sakit yang luar biasa, dan juga keajaiban.


Banyak hal yang di pertaruhkan, dan nyawa adalah salah satu nya. Itu kenapa gue mengutuk orang-orang yang sering kurang ajar sama ibu nya. Kalau saja kutukan malin kundang masih berlaku sampai sekarang, gue yakin orang akan berfikir keras untuk berlaku kurang ajar pada ibu mereka. Mengingat orang lebih takut jadi batu dari pada dosa.


"aku takut vin "nadin kembali bersuara.


"takut kenapa sayang, hemm "


"aku takut gak bisa liat anak kita, you know what i mean "


Gue langsung melotot menatap nadin. Amit amit jabang bayi ! Nadin itu kadang kalau ngomong suka sembarangan ! Gue belum siap jadi duda dan gak akan pernah siap !


"nad ! Kamu kalau ngomong jangan sembarangan ! Kalau ada malaikat lewat terus omongan kamu jadi kenyataan gimana !!"gue meninggikan suara gue.


"we never know vin "nadin menatap gue dengan tatapan yang sendu, ah shit gue lebih suka ditatap nadin dengan tatapan puppies eyes dari pada begini.


"nggak ! Kamu dan anak kita akan baik-baik aja . Aku tahu kamu bisa nad.. Aku janji aku selalu ada di samping kamu temenin kamu berjuang melahirkan anak kita "gue menggengam tangan nadin menyalurkan keberanian gue untuknya.


" i know.. That's why i love you gavin christopher "nadin mengelus pipi gue.


"i love you too nad "


"tapi... Ini kan hanya jika vin, kalau aku gak bisa nemenin kamu lagi.. Kamu akan cari istri baru buat anak kita ?"


"gak ! Semakin ngaco deh kamu nad "gue kesal mendengar nadin berkata seperti itu.


"jadi kamu lebih memilih jadi single parent selamanya ?"tanya nadin lagi. Entah apa yang ada di fikiran dia sampai mempertanyakan itu.


Kalian tau persis gue ini cowok yang super duper setia. Jangankan sama istri sendiri sama istri orang aja gue setia.. Astaga inget vin itu masa lalu.


Nadin betul-betul membuat gue emosi dengan rentetan pertanyakan nya yang horor itu. Gimana nggak horor kalau gue harus menbayangkan hidup tanpa nadin.


"aku rela jadi single parent selamanya.. "gue tersenyum.


Nadin membalas senyuman gue dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Entah dia terharu karena omongan gue barusan atau terharu karena gue yang biasa nya bercanda mulu jadi bisa melankolis begini.


"kecuali... "


"kecuali apa vin ?"


"kecuali kalau bae suzy mau jadi istri aku, aku sih gak kuat buat nolak "gue tergelak menatap perubahan ekspresi wajah nadin yang langsung terlihat murka.


Beginilah kehidupan rumah tangga kami, sangat mustahil kami berada dalam situasi mellow mellow lama. Pasti entah itu gue atau nadin akan mulai berlaku konyol.


Well, jika ini film mungkin kehidupan pernikahan kami termasuk dalam genre comedy romantis.


"bae suzy.. Bae suzy.. Kamu mah cocok nya susis "


"apa tuh susis ? "tanya gue yang memang bingung dengan istilah itu, sejenis makanan kah ?


Nadin menahan tawa lalu berkata " suami sieun istri ( yang artinya suami takut istri dalam bahasa sunda )"pecahlah tawa nadin setelah nya.


Baiklah kali ini gue membiarkan saja nadin meledek gue seperti itu.Karena itu memang fakta .

__ADS_1


Gue beranjak dari sofa meninggalkan nadin yang masih tertawa sambil memegangi perut.Puas banget kayaknya dia sudah meledek gue seperti itu.


Tapi bukan gavin namanya jika tidak pandai membalik situasi, gue langsung tersenyum jahat.


Swing... Pluk


"gavin !!! Mandi sana kamu bau tau nggak !!! "nadin murka lalu melemparkan handuk yang baru saja mendarat di wajah nya ke lantai.


Pelaku nya tentu saja gue yang sekarang gantian tertawa terbahak-bahak melihat nadin yang sudah dilanda emosi.


"haha itu kan wangi kesukaan kamu sayang "


Nadin sudah mengambil ancang-ancang untuk kembali melemparkan handuk pada gue. Tentu dengan wajah yang sedang menahan emosi.


"satu sama nad "gue menjulurkan lidah.


kabur.....


************


"jadi anak muda ada apa memanggil saya untuk datang ke sini ?"gue menatap lawan bicara gue yang sudah lecek tambah lecek.


Danar Argantara, si pria galau


"sok tua lo anak muda, anak muda "


"lo ngapain sih ganggu malam minggu gue aja ! "


Danar menghela nafas, berat banget tuh kayaknya beban hidup.


"ini kan minggu ketiga, jadwal gue sama lo "


"idih, sejak kapan itu jadwal terbentuk ?"gue merinding, danar gak berubah jadi homo kan ?


"sejak negara api menyerang "


Bener kan dia udah gak waras, gue membatin. "kenapa gak lo ajak bimo atau dito ?"


"mereka jadwal nya minggu pertama sama minggu kedua, minggu ketiga mereka pasti blokir nomor gue "


Gue gak bisa berkata-kata lagi, yang lagi di hadapan gue ini masih danar kan ? Bukan sosok hantu yang menyerupai wajah danar atau yang lebih parah alien yang menyamar jadi manusia.Oke stop gue mulai ikutan gila.


"terus minggu keempat ?"


"temenin nyokap gue belanja bulanan, karena jelas bokap gak akan mau jadi kuli angkut sekaligus supir "


Oke pria ini masih danar, se aneh apapun perkataan pria ini dia masih menunjukkan ciri khas danar argantara yang gue kenal, berbakti pada orang tua.


"lo gak ngapelin baby ? Gue kira kalian udah balikkan eh maksud gue baikkan waktu itu "


Jujur saja gue memang berfikir danar dan baby sudah baikkan. Karena terakhir kali 'rangga dan cinta' itu ketemu di rumah gue, mereka pulang bareng.


"loh emang gue sama baby ngapain berantem ? "danar terkekeh lalu mengedarkan pandangan kemana saja asalkan bukan gue.


Halah.. Si narce ketahuan banget lagi bohongnya. Gue anggukin aja dulu paling 30 menit lagi mengalir tuh curhatan nya.


"nadin minggu depan lahiran vin ?"


"prediksi dokter sih gitu "


"congrats deh, semoga aja anak lo cewek "


"kenapa emang kalau anak gue cewek ?"tanya gue yang gue amini dalam hati.


Kalau boleh berterus terang, gue mau anak gue itu mememang perempuan. Pasti dia bakalan manis, lucu imut nan menggemaskan. Bisa gue dandani dengan aksesoris dan baju-baju lucu. Dan ini sih yang paling penting .. Bisa gue jadikan sekutu jika nadin mulai menindas gue.


Seperti orang bilang, kebanyakan anak perempuan akan lebih deket sama dady nya dari pada momy nya. Jadi.. Membayangkan punya sekutu yang bisa di andalkan untuk melawan penindasan nadin yang terkadang tidak kira-kira itu, gue bahagia.


Tapi jika anak gue nanti laki-laki, tentu saja gue juga bahagia karena punya temen yang bisa gue ajak melakukan hal-hal yang pria banget, memancing keributan misalnya. Ups hehe


Tapi apapun jenis kelamin anak gue nanti gue akan terima, tentu saja anak gue dan momy nya harus sehat. Ahh kok gue jadi inget nadin tiba-tiba.


"lo beneran mau tau alasan nya vin ?"suara danar membuat gue kembali tersadar.


"buruan bilang "


"karena... Gue mau nikahin anak lo aja, setidaknya gak dapet nadin, versi junior nya juga jadi.. Plus nya gue bisa punya mertua nadin "pecahlah tawa danar membuat beberapa pengunjung cafe menatap kami dengan tatapan aneh.


"najis gue punya menantu kayak lo om om gak waras"bulu kuduk gue langsung merinding membayangkan kalau ucapan danar betul-betul jadi kenyataan.


Ting


Gue mangabaikan danar yang masih tertawa sendiri, entah karena ucapan nya atau anak itu memang sudah tidak waras efek perang sama baby.


Sebuah pesan yang baru saja masuk membuat mata gue seperti akan keluar dari tempat nya. Degup jantung gue sudah tidak bisa di kontrol, bahkan sekarang keringat dingin ikut mengalir dari dahi gue.


"vin lo kenapa ?"tanya danar yang sepertinya menyadari perubahan wajah gue.


Masih dengan tangan yang gemetar gue menyerahkan handphone gue pada danar. Beberapa saat setelahnya gue menyadari danar menatap gue dengan tatapan yang sudah bisa gue tebak sama kaget nya dengan yang gue rasakan.


"vin.. Are you ok ?"


"i'am not ok nar "


Lalu setelahnya gue merasakan tangan danar menarik tangan gue dengan paksa.


"ikut gue, ini bukan waktunya lo nangis disini gavin christopher !"bentak danar sedikit membuat gue tersadar.


Danar menarik tangan gue keluar dari cafe, bisa dikatakan pria itu setengah menyeret gue untuk mengikutinya menuju parkiran. Setelah mendorong gue ke bangku penumpamg, danar beralih menuju bangku pengemudi.


Sepertinya setelah ini gue harus berdoa semoga tuhan masih menyelamatkan nyawa gue, karena gue merasa mobil yang di kemudikan danar melesat sangat cepat menuju tempat itu.


God, please save us

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2