CEO Rese Dan Secretary Matre Nya

CEO Rese Dan Secretary Matre Nya
Episode 35


__ADS_3

Gavin Christopher


Gue cuma bisa duduk diam di pojokkan sofa sambil melihat interaksi antara bapak dan anak di hadapan gue ini. Nadin dan papah nya sedang tertawa bersama, entah apa yang mereka tertawakan, yang jelas gue cuma bisa diam saja.


Malu


Gak punya muka


Harga diri gue jatuh


Kalian tahu, pertama kali gue ketemu papah nya nadin, dengan gak tau diri nya gue panggil dia dengan sebutan mas. Mas ? Astaga gue ini apes atau gimana sih. Tapi gue juga gak sepenuh nya salah. Siapapun yang ada di posisi gue, pasti akan berfikir hal yang sama saat lihat langsung rupa nya papah nadin.


Selama gue kenal nadin, dia jarang banget cerita tentang papah nya yang ternyata punya wajah yang super awet muda. Mungkin efek kelamaan kerja di korea atau memang papah nadin asli keturunan korea ? Gak tau deh, yang jelas gue udah gak punya muka lagi buat belaga sok akrab di depan calon mertua gue ini.


"jadi nama kamu gavin ?"


"iiya om "


"kerjaan kamu apa ?"


"ssaya karyawan swasta om "


"bohong dad. Gavin ini bos aku. Dia ini CEO , yang pecat aku itu loh"gue tercengang mendengar celotehan nadin, calon bini gue itu bisa-bisa nya habis memuji gue eh gue di jatuhkan sejatuh-jatuhnya.


Gue mulai panik nih, apalagi wajahnya papah nadin berubah gak sesantai tadi. Alamat restu betul-betul melayang nih.


"oh jadi kamu yang bikin anak saya jadi pengangguran ?"


Gue menggeleng."ssaya gak sengaja om, lagi pula saya mau nadin jadi istri saya bukan sekretaris saya, makanya saya pecat dia "gue mencoba berkilah, malu dong kalau papah nadin tahu gue pecat nadin gara-gara salah ngomong waktu mau menyatakan cinta.


Papah nadin nampak diam saja sambil menggut-manggut. Entah apa yang lelaki paruh baya itu fikirkan, yang jelas gue udah mulai keringat dingin. Kalian jangan mikir gue kebelet BAB ya, gue lagi grogi !


" terus kamu kapan mau ngelamar anak saya secara resmi ?"


Eh.. Ini gue udah di terima nih jadi calon mantunya ? Papah nadin kok ambigu sih.


"malam ini om, itupun kalau om mengizinkan "


"kalau saya gak izinin , kamu mau apa ?"papah nadin balik bertanya.


Tuh kan bener, duh gue harus gimana nih. Semua cara-cara yang gue pelajari di internet, tentang cara menaklukkan hati mertua hilang gitu aja. Ayo vin tinggal selangkah lagi.


"kamu mau ngajak anak saya kawin lari ?"tuduh papah nadin.


Gue langsung membelalakkan mata, perkataan papah nadin membuat gue tidak terima. Enak aja, gue pernah sih mikir ngajak nadin kawin lari, tapi gue masih tahu agama lah. Nadin wanita berharga, jadi dia harus gue perlakukan istimewa. Kawin lari juga gak menyelesaikan masalah, malah nambah masalah. Lagian menurut gue nikah tanpa restu pasti suatu saat ada aja bala nya.


"jawab jangan diem aja !"bentak papah nadin.


Mati gue, makin mengkeret gue di pojok sofa. Papah nadin wajahnya doang yang kelihatan kalem, tapi kalau udah marah seram nya mengalahkan film horor. Gue fikir bapak gue udah yang paling sangar se dunia, eh ternyata ada lawannya. Mungkin kalau papah ketemu papahnya nadin mereka akab akrab, dan gue harus siap jadi korban kekejaman mereka.


"dad... Jangan galak gitu dong sama gavin "nadin membela gue.


Nadin duduk di samping gue sambil merangkul tangan gue. Mencoba menenangkan gue yang keliatan banget pucat pasi di bentak papahnya. Lihat kan, calon istri gue ini memang paling tahu perasaan gue. Makanya gue gak boleh lepasin cewek ini, bisa gila mungkin kalau sampai gue kehilangan nadin.


Udah terlalu banyak drama yang harus gue lalui, sebelum akhirnya gue yakin untuk memilih nadin sebagai pasangan hidup gue. Kali ini gue gak akan nyerah, gue harus memperjuangan nadin. Meskipun papah nya galak, gue harus bertahan.


Gue menarik nafas sebelum memberanikan diri menatap mata papah nadin. Gue laki-laki !! , gue gak bisa jadi cowok pengecut lagi.


"saya mencintai nadin om, saya mau menikah dengan nadin minggu depan. Saya gak akan melakukannya jika om tidak merestui kami, tapi..."


"jika om memang tidak merestui kami, saya akan berusaha sampai om merestui pernikahan kami "


"bagi saya, nadin bukan hanya sekedar wanita yang saya cintai. Nadin adalah wanita yang saya hormati setelah ibu saya. Saya membutuhkan nadin om, begitupun nadin membutuhkan saya "


"mungkin om berfikir saya konyol dan sedikit gila karena mau menikah dengan nadin minggu depan. Tapi om, saya dan nadin sudah melewati tahun-tahun terberat dalam hubungan kami, dan saya gak mau lagi menyia-nyiakan waktu saya untuk tidak bersama nadin"


"saya ingin nadin selalu ada di hidup saya, saya jamin dia akan bahagia seumur hidupnya "


"kamu tahu kan kalau anak saya matre "papah nadin kembali bertanya.


"saya tahu. Saya bahkan punya lebih dari cukup uang untuk memenuhi semua hal yang nadin butuhkan. Dan saya tidak keberatan. "


"kamu yakin ? "


Gue mengangguk mantab."saya yakin om "


Papah nadin kembali menatap gue dalam diam. Duh gue gak tau lagi deh, apa saya yang tadi gue katakan. Yang jelas itu semua yang ada di fikiran gue saat ini.


Gue masih menunggu reaksi papah nadin yang sepertiya masih mempertimbangkan perkataan gue barusan. Walaupun gue mengucapkan itu tanpa sadar, tapi gue yakin dengan intuisi yang gue miliki sebagai master nya penakluk para investor, pasti papah nadin akan luluh juga.


Papah nadin bangkit dari tempat duduk nya tanpa mengucapkan apapun lalu beliau berjalan menjauh dari ruang tamu. Gue menghela nafas pasrah, sepertinya menjadikan nadin resmi menjadi nyonya gavin akan di pending sampai papah nadin memberikan lampu hijau.


Gue memijat pelipis gue yang mendadak terasa pening, ternyata gue masih harus menerima ujian yang tuhan kirimkan dalam rangka menghukum gue yang pernah menyia-nyiakan nadin dulu.


"are you ok ?"nadin menyentuh pundak gue.


Sebuah senyum gue hadiahkan untuk wanita yang sangat gue puja ini, wajahnya yang nampak khawatir membuat gue tidak tega untuk menunjukkan kalau gue tidak baik-baik saja.

__ADS_1


"papah biasanya gak sejutek itu loh vin sama orang lain"ucapan nadin membuat gue kembali menghela nafas.


"gak apa-apa nad, aku faham kok papah kamu mau yang terbaik untuk anak nya "gue kembali tersenyum menenangkan nadin.


"bahkan dulu waktu james melamar kakak aku, papah langsung bilang yes, tapi kenapa giliran kamu papah diam saja ya ?"


Gue menggeleng lesu."it's okay.. aku akan tetep berjuang buat dapat restu dari papah kamu nadin almira queen " gue mengelus puncak kepala nadin.


"kalau seandainya ... setelah kamu berusaha meyakinkan papah tapi papah nggak mau merestui juga gimana vin ?"


"nadin almira queen " gue membawa tangan nadin ke dalam genggaman tangan gue lalu gue tatap mata yang dulu pernah gue buat menangis itu dalam-dalam.


"sekalipun harus nunggu seumur hidup aku buat berusaha mendapatkan restu dari papah kamu aku rela "


"....."


"terserah kamu anggap ini gombalan atau kalau kamu mau muntah itu di atas meja ada kantong plastik "guyonan gue berhasil membuat nadin tertawa pelan.


"dengerin aku baik-baik karena biasanya aku udah gak bisa inget apa yang aku ucapkan "perkataan gue hanya di balas anggukan oleh nadin.


"sejak kamu ninggalin aku waktu itu kamu tahu rasanya aku nggak tahu apa itu kebahagiaan. buat tertawa aja rasanya aku gak bisa, semua terasa hambar. saat itu aku sadar aku nggak bisa seperti itu, aku gak bisa membayangkan hidup aku tanpa kamu "


"...."


"melihat kamu nyaris di rebut danar, kamu tahu saat itu rasanya aku mau culik danar terus aku lempar ke dalam lumpur lapindo, biar dia gak jadi rebut kamu "


"intinya...i can't imagine life without you "


Setetes air mata meluncur dari mata nadin, buru-buru gue mengusapnya dengan ibu jari gue. Nadin gak boleh nangis lagi, gue sudah bertekad membuat dia bahagia.


"jangan nangis nad, aku tahu kata-kata aku barusan romantis banget " ucapan gue membuat nadin tertawa.


Nadin memukul bahu gue pelan lebih ke pukul-pukul manja sih, serasa ABG yang lagi pacaran.


"terus kalau suatu saat aku buat kamu bangkrut karena hobi belanja aku gimana vin ?"


"ya tuhan nad, catat ya nadin almira queen catat baik-baik "


" prinsip seorang gavin christopher mulai sekarang, selama aku mampu tidak ada kata matre untuk calon ibu dari anak-anak aku ini "gue mencolek hidung nadin.


"lagi pula, selama itu buat kamu bahagia aku rela nadin sayang "


Nadin menggeleng-gelengkan kepala."fix kamu bener-bener udah jadi bucin vin "


"dad. Udah deh gak usah akting lagi. Gavin udah buktiin kan ?"


Gue menoleh ke arah nadin yang duduk di samping gue. Calon istri gue itu sedang mengerjap-ngerjapkan mata ke arah papah nya. Dan tidak lama setelahnya, papah nadin muncul dari balik tembok.


Tertawa terbahak-bahak sambil berjalan menghampiri kami. Sial jadi gue di kerjain dari tadi. Sebagai calon mantu, gue lagi di ospek nih ceritanya ? Elah elah gue sampai kebelet pipis begini dan gue cuma dikerjain ?! Awas ya nad


"panggil dady aja vin gak usah mas, saya gak semuda itu kok "sindir papah nadin yang masih terkikik.


"maaf ya, saya bukan nya mau ngerjain kamu dengan akting jadi mertua galak. Kalau bukan nadin yang minta, saya juga gak mau "


Gue memelototi nadin yang langsung di hadiahi cengiran dari wanita itu. Awas aja nadin, setelah kita nikah aku bales.


"jadi beneran kalian mau nikah minggu depan ?"sambung papah nadin.


"saya malah berfikir mau nikah besok aja dad sama nadin "gue langsung merangkul nadin, merangkul nadin dengan sangat erat sampai membuat wanita yang gue rangkul itu melotot. Sukurin.


"jangan gila kamu vin !"protes nadin tidak gue indahkan, gue malah semakin mengeratkan rangkulan gue.


"masalahnya nadin ini, tergila-gila banget dad sama aku. Dan aku juga udah gila banget sama nadin. Jadi ide aku buat nikahin dia besok bagus kan ?"


"hahhaa.... Anak muda. Udah gak sabar ya vin "papah nadin menaik turunkan alisnya, seperti sudah bisa membaca apa yang ada di otak gue.


Hanya sesama pria yang tahu maksud percakapan kami.


"oke , dady setuju "


Yes .. Nadin almira queen welcome to my world. Gue tersenyum lebar, seperti seekor macan yang baru saja menangkap buruannya. Nadin nampak pucat karena tahu apa yang ada di fikiran gue. Mungkin aja nadin sekarang berfikir untum kabur dan membatalkan pernikahan kami. Tapi terlambat, nadin sudah masuk perangkap gue.


Hahahahahaha boleh dong gue sedikit tertawa jahat.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~ 🐱🐱\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


" kamu dimana sih vin ? ini udah telat 1 jam dari janjian kita fitting baju di tempat oskal !!!!"teriakkan nadin di telfon membuat laki-laki itu menjauhkan ponsel dari telinga nya.


"sabar nad, sabar ya sayang ini aku masih meeting, kamu tahu kan ini investor penting, demi lunasin uang gedung pernikahan kita "ucap gavin mencari alibi padahal meetingnya bersama investor sudah selesai dari 30 menit yang lalu.


"alibi aja kamu uang gedung ! kalau cari alasan yang masuk akal gavin mana ada sejarah nya kamu nyicil ! kamu niat gak sih nikah sama aku 1 bulan lagi ! oh atau mau di undur ? tahun depan aja ya " ancaman nadin berhasil membuat gavin beranjak dari kursi diikuti dengan tatapan bingung seseorang di hadapan nya.


"aku berangkat sekarang kalau perlu naik motor biar cepet sampai tempat oskal oke sayang "gavin tersenyum lebar walaupun dia tahu nadin tidak akan luluh karena gadis itu tidak ada di hadapan nya.


BIP


Gavin menatap layar ponselnya yang sudah gelap sejak nadin memutuskan sambungan telfon begitu saja. Nadin mendadak menjadi sensitif sejak mengurus pernikahan mereka yang akhirnya akan di laksanakan satu minggu lagi.

__ADS_1


Ada saja kesalahan gavin yang membuat wanita itu marah-marah bahkan sampai menangis karena terlalu kesal dengan  tingkah gavin. Nadin mendadak berubah menjadi gadis perfeksionis yang mau segala sesuatu tentang pernikahan nya dia handle sendiri walaupun untuk urusan lapangan tetap menggunakan jasa WO, tapi segala perintilan tentang pernikahan nadin turun tangan langsung.


Mulai dari cathering yang selalu ada kurang di mata nadin sampai urusan souvenir yang tulisan nya tercetak sedikit miring menjadi masalah untuk nadin. Berkali-kali wanita itu selalu menjadikan alasan tidak ingin membuat malu para kolega papah gavin sebagai jawaban setiap kali gavin mulai protes mengenai sifat nadin yang berubah sensitif.


"bim gue harus cabut.. nadin bisa cekik gue kalau gue telat fitting baju "


bimo menggeleng-gelengkan kepala " hah.. calon-calon senasib sama gue nih, selamat datang di club ikatan suami-suami takut di kunciin istri sobat "bimo bangkit dari duduk nya kemudian menepuk pundak gavin.


"kampret ! gue yakin nadin gak segalak istri lo, dia kan lemah lembut baik hati dan..."


"dan dia terlalu bagus buat lo gavin christopher " suara seorang wanita yang sangat gavin kenali membuat dia menoleh.


"aurora !!"pekik gavin menghampiri aurora ingin memeluk wanita yang sudah lama tidak dia jumpai itu.


Crittt


Bunyi sepatu gavin yang bergesekan dengan lantai terdengar karena tiba-tiba saja gavin menghentikkan lari nya, saat meihat siapa yang sedang merangkul aurora dengan begitu posesif dengan mata yang menatap gavin seolah ingin memakan gavin hidup-hidup.


"hai hans "gavin tersenyum canggung bingung harus dengan cara apalagi dia berbasa-basi dengan hans yang masih terlihat sangat membenci gavin.


Sementara itu itu tidak jauh dari tempat gavin menghampiri aurora, bimo tertawa terpingkal-pingkal melihat gavin yang tingkahnya mirip seperti orang yang terkena razia satpol PP.


"sukurin , mampus lo vin ada security nya aurora " ucap bimo walaupun pria itu yakin gavin tidak akan mendengarnya.


"welcome to indonesia "gavin merentangkan tangannya mencoba melucu di hadapan hans dan aurora. Hans diam saja tapi aurora dengan santainya tertawa terbahak-bahak melihat tingkah gavin yang semakin aneh.


"tuh lihat kan mas cowok gila kayak begini kamu gak usah cemburu, dia itu kewarasannya udah luntur sejak di jinakkan sama sekretaris nya "ucapan aurora yang tampa saringan itu membuat gavin mendelik, hancur sudah wibawa gavin di hadapan hans.


"ehm.. "suara batuk hans yang entah dia sengaja atau tidak membuat gavin ciut seketika, batuk aja manly banget.


"jadi.. beneran nadin mau nikah sama lo vin ? sadar gak dia pas nerima lo ? atau jangan-jangan kamu guna-guna nadin ya ?"tuduhan demi tuduhan yang aurora lontarkan terdengar bagai polisi yang sedang mencecar maling ayam.


Kampret aurora sejak kapan dia jadi berubah berani meledek gavin dengan wajah tanpa dosa itul, mentang-mentang bawa bodyguard pribadi kemana-mana sekarang. Gavin membatin sambil menatap aurora dan hans secara bergantian.


Seulas senyum tercetak dari wajah hans yang sejak tadi datar saja bagaikan kertas HVS. Jangan bilang kalau hans juga ikut menertawakan penderitaan gavin yang sedang di ledek habis-habis an oleh aurora.


"tunggu di sini sebentar "


Gavin pergi meninggalkan auora dan hans untuk menghampiri meja yang masih di duduki oleh bimo. Diambilnya salah satu undangan berwarna putih gading yang ada di atas meja . Kemudian laki-laki itu kembali lalu menyerahkan undangan itu pada aurora.


"tuh ra baca baik-baik gue bener-bener nikah kan sama nadin "gavin tersenyum jumawah melihat aurora yang sedang membaca undangan di tangannya.


"satu bulan lagi ? hem.. gerak cepat juga ya anda "


"jelas lah.. gue kan gak mau di tuduh jadi perusak rumah tangga orang terus, walaupun gue sempat ada niat begitu sih" tanpa dosa gavin mengucapkan itu sambil melirik hans yang ternyata sudah memelototinya.


"santai bro gue cuma bercanda " gavin menepuk bahu hans mencoba sok akrab dengan pria itu.


"oke gue datang, yang jelas gue akan bilang sama nadin. nad yang sabar ya kadang cobaan itu datang dari mana aja, termasuk dari suami sendiri jadi lo harus lawan gavin kalau cowok ini mulai kumat ngeselinnya. itu pesan gue untuk nadin "


Gavin melotot merasa tidak terima di anggap sebagai cobaan bagi nadin, jelas-jelas gavin ini sumber kebahagiaan nadin. Aurora ini terkadang mulutnya harus di sumpal dengan lakban.


"enak aja.. gue ini tipikal suami yang tegas, gak akan tuh gue di intimidasi sama istri apalagi sampai...."


Kringg


Gavin menatap horor pada caller id ponsel nya yang menunjukkan nama Nadin Almira Queen. Secepat kilat dia langsung menggeser tombol hijau sebelum gadis di sebrang sana marah-marah.


"iya sayang "jawab gavin dengan nada yang sengaja dia lembut-lembut kan supaya nadin tidak bertambah ngamuk.


"DATANG DALAM 10 MENIT ATAU KITA BATAL NIKAH "


tut.. tut.. tut..


"sayang, yeobo , nadin hallo .."gavin yang panik tidak menyadari kalau aurora sudah cekikikkan melihat tingkah gavin.


"gue pergi dulu ra, gawat nih !! " gavin melesat menuju pintu keluar tanpa menunggu persetujuan aurora yang sedang sibuk menertawakannya.


"yang kayak begitu yang katanya gak terintimidasi dengan istri ?"suara hans membuat aurora menghentikan tawa nya sejenak.


"kalau di indonesia  yang seperti itu disebut bucin mas "bisik aurora di telinga hans.


"kayaknya tadi perut gavin rata tuh ra "jawab hans dengan polosnya.


Aurora sampai harus menepuk jidad."capek deh ngomong sama bule yang gak faham bahasa kids zaman now "


Sementara itu di sudut ruangan sepasang mata sejak tadi sudah memperhatikan interaksi antara gavin dan aurora. Bukan hanya itu saa orang itu juga mendengar dengan jelas percakapan antara gavin dan aurora yang terlihat begitu heboh, sehingga membuat beberapa pengunjung menoleh ke arah mereka.


"kamu mau pesan apa ? " tanya si gadis yang sedang membolak-balikkan buku menu.


"apa saja yang kamu pesan, aku ikut aja " jawab laki-laki itu masih dengan matanya yang mengawasi pergerakkan gavin yang sudah menghilang dari balik pintu keluar.


Orang itu mengetikkan sesuatu di ponsel pintar miliknya , sebuah seringat jahat terbit begitu saja saat dia kembali memasukkan ponsel ke dalam saku.


"we'll see apa lo masih bisa tertawa begitu. Gavin Christopher "


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2