
Devi terduduk lemas, kakinya gak mampu buat menopang berat badannya saat mengetahui kebenarannya.
Sonya yang wajahnya sumringah kini pucat pasi, mulutnya diam gak kayak tadi nyerocos gak tau titik koma.
Runtuh kesombongannya seketika gara-gara mulutnya yang gak tau tata krama.
"Apa sekarang Nyonya jelas siapa saya dan posisi saya." Katanya dengan tajam, seandainya itu benda tajam akan habis menyayat tanpa sisa.
"Dan anda Nona Sonya, apa ini pribadi yang anda banggakan? Memalukan sekali seorang model seperti anda yang seharusnya menjadi panutan memiliki mulut kotor yang merusak reputasi keluarga kami."
Hening, itu yang terjadi.
Devi yang pucat dari ujung kaki hongga ujung kepala seperti kehabisan darah jadi semakin takut, apa lagi ia mengatakan hal yang gak pantas bersama Sonya mengenai Ella. "Sa, sayang?" Suaranya seperti tertelan entah kemana. Tatapan Johan membuatnya lemas, laki-laki itu menatap ke arah lain tak sudi melihatnya.
"Detik ini juga kami akan memutuskan segala macam kontrak yang berhubungan denganmu, W company tidak akan menerima kerja sama dalam bentuk apa pun dengan manajemenmu dan menutup segala akses yang berhubungan dengan anda Nona Sonya." Katanya tertuju pada Sonya.
Selama ini W company adalah milik Willy yang bergerak dalam dunia hiburan, bahkan perusahaan lain segan karena besarnya nama W Company dalam dunia industri hiburan.
Sonya yang tersadar merasa dunianya benar-benar hancur. Ia tak pernah tau siapa bos di balik tempatnya, dan bos besar itu kini berdiri di sampingnya yang ia maki.
"Tuan? Maafkan...,"
__ADS_1
"Terimakasih, br*ngsek sepertiku tak layak menerima permintaan maaf dari anda." Menyela Sonya.
Sonya lunglai, tak ada yang bisa ia katakan lagi. Hanya bisa menangis tanpa mengeluarkan suara, bukanya merasa bersalah Sonya memendam dendam yang sangat besar untuk Ella. Bagaimana pun ini semua gara-gara cewek br*ngsek itu. "Sialan lo j*lang!" Berjalan memutar mendekati Ella yang duduk.
"Plak!"
Devi menampar keras pipi Sonya sebelum melayangkan tangannya ke arah Ella yang tak jauh darinya.
"Mommy?" Katanya tak percaya, orang yang selama ini menyayangi dan melakukan apa pun untuknya tega melakukan ini terhadapnya.
"Jangan buat keributan lagi, jaga ucapanmu. Jangan menyalahkan orang lain atas apa yang kamu lakukan."
Devi berdiri dan bersimpuh di kaki Johan dengan menangis terisak-isak.
"Maaf, maafkan kami."
Johan tak bergeming dengan tindakan Devi, wanita seperti itu berani berkata kotor di depannya dan memfitnah anak kesayangannya.
Sonya yang hanya mematung masih belum bisa menerima apa yang terjadi saat ini, karir yang ia bangun dari kecil dengan bersusah payah akhirnya hancur seketika.
"Kalian merusak nafsu makanku." Kata Johan dingin.
__ADS_1
"Papi?"
"Jangan panggil aku Papi, kamu bukan anakku." Katanya tegas memberikan tamparan yang keras pada Sonya melalui kata-katanya. "Keluarga Aditya tidak pernah menerima orang berprilaku buruk. Mulai saat ini aku tak akan memberikan sepeser uang pun kepada kalian berdua. Aku akan memblokir atm, kartu kredit yang aku berikan."
Tamat riwayat udah kalo main blokir-blokiran, apa lagi emang gak punya uang sama sekali.
"Jangan seperti itu, aku adalah istrimu." Kata Devi mengiba, meminta belas kasih Johan untuk membuatnya luluh.
"Kamu memang istriku tapi jangan lupa kita menikah hanya dengan pernikahan siri." Berjongkok dan menarik tangan Devi untuk berdiri. "Untuk meraih menjadi Nyonya Johan kau menggunakan cara licik menjebakku." Katanya menyeringai.
Devi terbelalak mendengarnya, bagimana mungkin Johan mengetahuinya?
Rencana yang ia susun sedemikian rupa hancur seketika.
"Sayang, kita makan malam di luar. Suasana disini bikin Papa jijik." Menggandeng tangan Ella.
"Sonia, ayo ikut Papa. Kita makan makanan yang layak." Tersenyum lembut ke arah Sonia yang sejak tadi hanya diam melihat semua itu.
Willy yang berada tak jauh dari Sonia, menggenggam tangannya dan mengajaknya keluar mengikuti Johan serta Ella.
"Renungkan kesalahan yang kalian lakukan."
__ADS_1