Cinderella Jaman NOW

Cinderella Jaman NOW
Jebakan Batman


__ADS_3

Kini mereka berempat berkumpul di meja makan untuk makan malam bersama pertama kali setelah memasuki rumah Johan, berbagai macam ekspresi terlihat dari wajah mereka menghadapi hidangan makan malam yang nyonya rumah ini sajikan.


Sonia yang sudah dapat menebak hasil akhir eksperimen dapur Mommy nya itu hanya bisa sekuat tenaga menahan tawa dan menampilkan wajah biasa-biasa saja.


Johan yang sudah mengangkat sendoknya merasa bingung bagian mana yang akan masuk ke dalam mulutnya apa lagi semua berwarna hitam alias gosong.


Sonya menatap piringnya dengan wajah merah padam, seharian ia merasa lapar dan mendapati makan malam yang sangat buruk.


"Mommy? apa ini?" Menunjuk piringnya, ia tak dapat menebak apa yang Ada di depannya.


"Telur goreng honey..." Katanya tak yakin dengan apa yang ia masak.


"Apa? Mommy Sonya gak mungkin makan yang kayak gini. Ini gak layak di sebut makanan." Membolak balik telurnya dengan ekspresi wajah tak senang.


"Makan aja apa yang ada, kasian Mommy susah payah bikinnya." Bujuk Sonia, baru kali ini ia merasa senang dapat menjahili saudara dan Mommy yang keras kepala serta angkuh tersebut.


"Mata lo buta? Yang kayak gini masih bisa lo sebut makanan? Lo suruh gue makan?" Tertawa angkuh, kumat lagi dah sifatnya yang jelek itu. Kalo emang bawaan dari orok susah buat ngilanginnya. "Bisa-bisa gue mati kalo makan yang kayak ginian." Melempar asal sendoknya ke arah piring yang menyebabkan bunyi nyaring akibat benturannya.


Brak!


Johan menggebrak meja makan, "Sonya, tolong jaga bicaramu. Kalau di luar rumah ini silahkan bicara sesukamu. Untuk di lingkungan rumah ini Papa gak suka kamu bicara gak sopan. Itu masakan Mommy kamu sendiri suka atau tidak kamu harus menghargainya." Katanya dengan suara nyaring.


Seketika wajah Sonya pucat pasi mendengarnya.


"Sudah sayang, jangan di ambil hati. Namanya juga anak-anak..." Kata Devi membela Sonya yang biasa ia manjakan.


Johan mengalihkan pandangannya ke arah Devi yang duduk di sampingnya, "Mereka bukan anak-anak lagi, usia mereka yang matang kamu bisa bilang anak-anak?"


Devi yang merasa salah bicara hanya diam seribu bahasa.


"Begitu kamu mendidik anak-anak kamu?!" Bentaknya membuat semua orang terdiam.


"Sayang, jangan terlalu keras dengan mereka." Sebenarnya Devi merasa takut, tapi nalurinya sebagai seorang ibu membuatnya untuk melindungi anaknya bagaimana pun caranya.


"Kalau memarahi mereka untuk kebaikannya sendiri ini keras menurutmu lalu bagaimana cara yang tepat? Didik anakmu yang sombong dan angkuh itu, jangan sampai membuat ku malu di luar sana dengan sikap dan sifatnya. Keluarga Aditya adalah keluarga terpandang dan di segani semua orang."


Mata Sonya berkaca-kaca hampir menangis di perlakukan seperti ini, bahkan Mommy tak dapat berbuat apa pun membelanya.


"Sonya, minta maaf!" Akhirnya, kata-kata tabu itu keluar dari mulutnya untuk pertama kali.


Sonya syok mendengarnya, bagaimana mungkin Mommy nya bisa melakukan hal ini padanya. "Tapi Mommy apa kesalahan yang Sonya lakukan?" Masih gak sadar salahnya apa padahal udah di omelin panjang kayak gitu.

__ADS_1


Devi menatap tajam ke arah Sonya, memberikan isyarat untuk mengikutinya tanpa bertanya lebih banyak lagi.


Sonya yang gak punya pilihan lain hanya bisa menunduk, air matanya mengalir deras tanpa suara."Maaf..." Katanya lirih.


"Katakan lagi." Kata Johan dengan tenang.


"Maaf..." Dengan suara bergetar.


Suasana saat ini lagi horor-horornya, gak ada satu pun yang berani bicara. Johan yang biasa pembawaannya tenang itu memperlihatkan sisi lain dirinya.


"Papal...!!!"


Johan memalingkan ke arah suara yang sangat ia kenal dan ia rindukan, siapa lagi kalau putri kesayangannya.


"Kenapa pada tegang gini Pa?" Katanya pura-pura. Padahal Ella tau banget apa yang sedang terjadi barusan, karena pas Papanya marah-marah ia sudah ada di dalam rumah tapi milih ngumpet menikmati dari balik tembok.


"Dari mana aja sayang? Papa datang kamu gak ada. Katanya kamu keluar kencan?"


Ella mengambil tangan Papanya untuk salim, udah kebiasaan kalo datang ia melakukannya. "Kata siapa pa?"


"Siapa lagi kalau bukan Mama dan saudara barumu."


Devi yang geram melihat kembalinya Ella ke rumah itu menggenggam erat sendok yang ada di tangannya, kalo dari plastik udah patah tu sendok dari tadi.


Sonya yang merasa di kambing hitamkan pengen banget teriak, tapi Sonia mencegahnya dengan menyentuh tangannya untuk tetap diam dan duduk kalo gak mau bikin suasana tambah runyam.


"Papa kan tau, Ella gak pernah pacaran apa lagi punya cowok." Katanya manja, pengen narik perhatian Sonya yang udah merah kayak kepiting rebus menahan emosi.


"Betul?"


"Ya elah Papa.... Papa percaya sama anak sendiri apa anak orang sih?"


Devi merasa muak melihatnya, sok suci.


padahal tadi ngamar sama cowok bilang gak punya cowok, muna banget kan?


Sonya yang darahnya udah mendidih melihat aksi Ella, gak kuat buat nahan emosinya yang menggebu-gebu. "Dasar j*lang! Lo bisa-bisanya ngomong kayak gitu hah? Gue ngeliat sama mata dan Kepala gue sendiri kalau lo keluar dari kamar sama cowok yang cuma pakek anduk!" Sonia membuang kasar nafasnya, benar-benar parah saudara kembarnya ini. Gak bisa nahan emosi sedikit aja, apa lagi mulutnya yang kalo udah ngomong gak ada enak-enaknya di dengar.


"Hah?"


Ella memasang wajah Syok, menatap Papanya dengan mata berkaca-kaca. "Beneran Pa ..., Ella gak bohong. Mana mungkin Ella ngelakuin hal gak pantas kayak gitu."

__ADS_1


"Hahahahahahaha..." Bertepuk tangan melihat akting Ella yang sempurna sebagai cewek polos tanpa dosa. "Kenapa lo gak jadi aktris?" Katanya dengan nada mengejek dan pandangan mata jijik.


"Iya, Papa percaya sayang...." Membelai lembut rambut Ella dan menghapus air matanya.


"Papi! Dia bohong! Bahkan Mommy melihatnya secara langsung." Gak terima di perlakukan seperti ini.


"Selamat malam semuanya ...." Willy melangkahkan kakinya ke arah meja makan yang memanas di sambut dengan tatapan mata dari semua orang, pemeran utama pria udah muncul.


"Dia! Orang yang tidur sama cewek j*lang ini." Menunjuk ke arah Willy dengan murka.


"Ada apa ya?" Katanya gak bersalah malah narik kursi dan duduk santai di sebelah Sonia, sekilas Willy mengedipkan matanya pada Sonia yang bikin tu cewek salah tingkah.


"B*ngsat kayak lo masih berani masuk ke rumah ini?!" Sonya yang udah kebakaran jenggot gak ingat lagi sama daratan.


"Nona, tolong jaga sopan santun anda. Baru jadi keluarga Aditya beberapa hari udah memaki orang lain. Wajah cantik Nona bertolak belakang dengan mulut Nona yang busuk." Katanya tajam dengan pandangan mata lembut.


"Tolong jaga mulut kamu, kamu pikir kamu lebih baik dari anak saya?" Kali ini Devi tersulut emosi.


"Tenang Nyonya, saya hanya mengatakan apa yang saya ingin katakan." Willy duduk santai dan tersenyum.


"Lihat sayang, cowok Br*ngsek ini yang Sonia maksud. Kami memergokinya keluar dari kamar wanita j*lang itu cuma pakai anduk." Berusaha meyakinkan suaminya untuk mempercayai.


"Apa yang di lakukan dua orang dewasa dalam satu kamar kita bukannya sudah tau?"


Johan menarik nafas panjang menatap lekat Ella, "Apa benar yang mereka katakan? Papa suka kejujuran."


"Benar Pa..."


Belum selesai Ella ngomong di samber sama gledek, "Benerkan yang Sonya bilang." Katanya bangga, akhirnya terkuak kebenaran.


"Pas Om Willy datang, cuma kamar Ella yang bisa di pakai jadi Om Willy numpang mandi di kamar Ella. Kan Papa tau sendiri rumah kita cuma punya empat kamar mandi yang ada di setiap kamar, sedangkan dua kamar lainnya di tempati mereka berdua. Kamar Papa gak mungkin Om Willy masuk." Menjelaskan dengan pelan-pelan biar kuping mereka pada denger semua.


Devi yang telinganya masih normal mendengar Ella menyebutnya dengan kata Om bikin firasatnya gak enak.


"Tante, Sonya, apa kalian melihat kami melakukan hal yang gak pantas?" Tanyanya.


"Itu..." Devi rasanya kayak di cekik lehernya.


"Lo kira gue b*go apa hah! Cowok lo keluar cuma pakai anduk, apa lagi kalo kalian gak tidur bareng "


Willy yang udah geram ngeliat tingkah Sonya berdiri dan mengitari meja hingga berada di sampingnya. "Terimakasih Nona, untuk mempersingkat waktu saya akan memperkenalkan diri. Tolong kalian mengingatnya." Menatap tajam ke arah Devi dan Sonya bergantian.

__ADS_1


"Willy Aditya, adik dari Johan Aditya sekaligus paman dari Ella Alexa Johan!" Katanya nyaring.


__ADS_2