
"Mana Ella?" Tanya Rega saat Raka datang untuk memeriksa dan membawakan obat beserta vitamin.
Raka mengambil beberapa obat yang terbungkus plastik transparan dan air putih obat khusus untuk mengobati atau mencegah infeksi, termasuk antibiotik, antivirus, atau anti jamur, memberikannya pada Rega yang rebahan dengan infus dan alat medis lainnya yang masih melekat di badannya. "Lagi jalan keluar sama bini gue, katanya sih mau cari angin sama makanan gitu."
Rega menerima obat yang Raka berikan, meminumnya dengan sekali teguk dan mengembalikan gelas kosong pada Raka, "Dia gak pa-pa kan? Sejak kapan Anggun datang?"
"Kemarin, Yun yang mengatur semuanya buat memdatangkan Anggun. Alasannya kasian Anggun kalo sendiri di rumah dan udah hamil tua, lagian Ella perlu teman juga kan?" Raka duduk di samping Rega dan memberikan asupan nutrisi melalui selang infus karena Rega belum bisa makan melalui mulut. "Gue juga lebih tenang kalo Anggun di sini kepikiran juga dia di rumah sendiri dan gue di sini, lo tau kan gimana rasanya kalo istri hamil? Banyak banget pikiran-pikiran yang enggak-enggak."
Rega mengangguk pelan, membenarkan apa yang Raka katakan. Bahkan saat ini yang masih barengan aja bikin hati Rega khawatir, apa lagi yang jauh. "Iya, Yun emang paling bisa mengerti orang lain bahkan dia lebih ngerti gue di bandingin gue sendiri."
"Semuanya baik, sela darah lo kemarin yang turun udah mulai naik. Gak ada demam, kalo lo ngerasa mual, muntah atau diare entar ngomong aja biar di kasih obat buat menetralkannya." Raka yang telah memeriksa kembali berdiri, bersiap pergi untuk membiarkan Reha beristirahat. Tidak ada seorang pun yang bisa masuk ke sini kecuali orang-orang yang memiliki kepentingan di mana mengingat bahwa sekarang ini Rega dalam keadaan se-seteril mungkin karena kondisi Rega yang masih sangat rentan dengan virus dan bakteri lainnya.
"Teng's Ka, untuk semuanya." Ujar Rega menarik tangan Raka, mendapatkan teman seperti Raka merupakan sesuatu yang sangat patut ia syukuri. Dunia yang ia geluti merupakan dunia yang sangat kejam, di mana yang terlihat kawan pada kenyataannya lawan dan saling menjatuhkan dengan berbagai macam cara tanpa ampun dan rasa kasihan. Rega memiliki Yun dan juga Raka, dua orang yang selalu ada di dekatnya sejak dulu. Menjadi orang yang selalu mendampingi dalam keadaan apa pun dan memberikan semangat untuknya, dua orang ini lebih dari cukup jika di bandingkan dengan memiliki banyak kawan tapi hanya menjatuhkannya saja.
Raka menepuk punggung tangan Rega beberapa kali, "Sesama teman dan keluarga tidak ada kata terimakasih. Kan gue pernah bilang sama lo kalau gue dan Yun bakal ada di samping lo kapan pun... Kita bertiga bakal sama-sama terus."
Rega mengangguk, mengiyakan apa yang Raka katakan. Apa yang Raka katakan adalah janji mereka saat duduk di bangku sekolah menengah atas, janji antar laki-laki yang masih mereka pegang hingga saat ini dan membuat ikatan emosional yang sangat erat di antara mereka bertiga karenanya.
"Lo istirahat dulu, biar cepet pulih dan bisa dampingi Ella buat lahiran. Tapi kayaknya gue duluan entar yang punya baby."
"Breng*ek lo, kawinnya belakangan punya anak duluan."
"Rejeki gue Ga...," Raka melambaikan tangannya sebelum menutup pintu dan kembali ke apartemen, ia mengambil hp yang ia taruh di luar ruangan. Mencari tau di mana istri tersayangnya yang sampai detik ini belum ada kabar sama sekali. Belum sempat mencari kontak Anggun, sebuah panggilan masuk. "Ella?" Gumam Raka yang melihat nama Ella di layar Hp-nya.
********
Satu meja besar terisi penuh makanan tanpa ada sela yang kosong, bahkan sampek di tumpuk-tumpuk kayak makanan yang ada di restoran nasi padang. Kalo di lihat udah kayak pegunungan makanan, ini kerjaan Ella yang pesen semua jenis makanan yang ada di tempat ini. Rania hanya melakukan apa yang di perintahkan, membeli semua jenis makanan yang ada tanpa terlewatkan satu pun. Ini cuma beli satu porsi untuk satu jenis makanan doang, kalo di lipat gandakan gak bakalan muat meja yang mereka tempati. Kegemaran Ella mengenai jenis makanan udah ngalahi kegemarannya untuk lainnya, kalo yang lain gak terlalu pengen dan masih bisa di tahan. Tapi kalo udah menyangkut ginian gak bisa nahan lagi yang akhirnya lapar mata dan lapar perut menjadi perpaduan yang sangat lengkap.
"Oke, kita ratakan semua ini sampai gak bersisa. Jadi kalian jangan malu-malu." Katanya pada tiga orang wanita bersamanya yang cuma ngeliatin tumpukan makanan di depan mereka atau lebih tepatny pegunungan makanan.
"Jujur La, aku bukannya malu-malu tapi udah kenyang duluan liat yang kayak gini." Kata Anggun yang langsung berasa kenyang padahal belum juga makan, gimana gak kenyang kalo matanya liat kayak gini.
"Sama mbak, aku juga udah kenyanh liat makaan sebanyak ini." Kata Rhanty yang sebenarnya gak ikut-ikutan tapi emang beneran kenyang, lagian tadi udah makan di butik dan itu cukup buat isi lambungnya.
"Maaf nyonya, saya sedang diet." Kata sopir sekaligus pengawal yang mengantarkan mereka malam ini.
"Kalian bertiga itu ya gak asik banget." Mengambil satu makanan yang paking dekat dengannya dan melahapnya tanpa malu-malu di depan tiga wanita lain yang langsung wow liatnya, gimana gak wow kalo untuk orang normal itu dua kali kunyah tapi buat Ella langsung hap satu kali. Belum hamil aja nafsu makannya luar biasa, apa lagi ini nambah hamil langsung tiga kali lipat di bandingkan biasanya.
Liat nyonya mudanya yang makan lahap banget kayal uenak gak tertandingi itu bikin Rania merasa pengen cicipi, ia mengambil sate kerang yang tak jauh di depannya. Pas banget kalo buat endors menu makanan tu nyonya muda, bukan cuma ekspresi yang menjiwai tapi juga gerakan tangan dan badannya yang langsung bikin orang yang liat kepengen buat langsung menyicipi. Buktinya Rania yang tadinya udah berasa kenyang tiba-tiba aja ngerasa masih ada sedikit ruag di dalam sana buat menampung makanan yang bakal masuk.
__ADS_1
"Enak kan Ran?" Kata Ella yang senang akhirnya ada satu orang yang bersedia menemaninya memamah biak.
"Iya mbak, enak. Rugi lo mbak Anggun kalo gak ikutan makan," Kata Rania yang mengompori ibu hamul yang dari tadi cuma ngeliat doang.
"Iya Kak, ayo makan juga." Menyodorkan satu tusuk sate kerang ke arah Anggun dengan tangannya, Ella menggerakkan alisnya untuk Anggun membuka mulut dan menerima suapannya tersebut. Kali ini Anggun udah terprovokasi berpindah ke pengawal cantik yang belum bergabung, Ella kali ini melakukan hal sama dengan apa yang ia lakukan pada Anggun, menyodorkan satu tusuk sate kerang yang setengah memaksa tersebut. "Nah gitu dong... Kan asik kalo kita makan rame-rame..." Katanya dengan raut wajah gembira melihat dua orang itu mulai ikut memamah biak.
"Nyonya anda suka sekali memaksa." Uajr Icha sambil mengunyah makanan yang nyonya muda itu sodorkan.
"Memaksa demi kebaikan itu gak pa-pa."
Gak sampek satu jam satu meja penuh berisi makanan itu ludes di lahap empat wanita cantik beda status itu, tapi gak usah pakek nanya segala siapa yang paling banyak ngabisin karena jawabannya pasti lah Ella. Kalo ada lomba makan pasti Ella yang bakal menang, tangan sama mulutnya itu kompak banget buat yang namanya makanan. Ngunyahnya juga gak pakek lama, langsung hap dan ngap.
"Ya ampun... Kayaknya aku bakal mati kekenyangan." Ujar Anggun yang senderan di kursi karena udah gak kuat buat duduk, hari ini ia memecahkan rekor makan selama hamil atau bisa di bilang seumur hidupnya. Gak pernah makan seenak dan selahap ini sebelumnya sampek rasanya tu makanan nyangkut di lehet gak bisa turun.
"Bagus lah Kak buat isi energi, lagian selama hamil Kakak lo kurus banget."
"Masak sih? Raka juga bilang gitu. Katanya badan aku tu ringan banget pas di gendong, padahal kan dalam perut aku nambah satu orang lagi." Mengusap perutnya.
"Ha ha ha ha ha..., Kalo akau malah di bilang ngangkat karung beras Kak sama Rega. Kaki ku aja gede banget malah di kira bengkak padahal itu murni timbunan lemak." Antara malu dan bangga ngomong kayak gitu.
"Bener yu mbak Anggun harusnya mbak makannya banyak biar lebih berisi badannya kayak mbak Ella yang semok." Rania ikut menimpali biar nambah semangat lagi Anggun makannya, di liat emang kurus banget buat ukuran ibu hamil tua.
"Calon aja gak ad mbak, gimana mau punya suami." Ujar Rania malu-malu, emang gak punya calon karena selama ini terlalu sibuk buat yang namanya kerja dan gak ada waktu sama hal yang kayak gituan.
"Pas banget tu la, comblangin aja sama si Yun jomblo abadi." Ujar Anggun yang ingat kalo Yun juga gak punya calon dan gak pernah pacaran, karena yang Anggun liat Rania itu tipe cewek yang baik dan sederhana. Gak bakalan nyesel kalo Ella punya saudara ipar seperti Rania.
"Ha ha ha ha ha...., itu gampang kalo Rania dan Yun-nya, lagian ya Kak Ibu udah pengen banget anaknya yang satu itu buat kawin. Padahal kan umur Yun sama Rega itu gak jauh-jauh beda."
Denger omongan dua orang itu bikin Rania malu, gimana gak malu kalo yang mereka omongin adalah sekertaris Yun yang ganteng banget itu. Bukan cuma malu sih tapi juga minder, orang kayak di mana mungkin gak punya cewek. "Gak usah mbak Ella, aku takut."
"Kenapa takut? Yun gak pernah makan atau gigit orang." Tanya Ella.
"Habisnya setiap ketemu atau ngomong sama aku dia ketus dan jutek banget jadi aku agak takut."
"Pantes aja La gak laku-laku kayak gitu sih Yun sama cewek."
"Dulu Rega juga gitu Kak, ketus dan jutek banget sama Ella malah marah-marah gak jelas. Beda sama dokter Raka yang dari dulu emang bucin."
"Masak sih mbak dokter Raka itu bucin?" Tanya Rania gak percaya, habis berapa kali ia ketemu orangnya serius dan gak banyak omong.
__ADS_1
"Dia itu parah banget Ran... Kalo di rumah itu malah kadang malu-maluin, lebih parah si bandingkan anak muda yang cabe-cabean asal kamu tau." Jawab Anggun yang emang mengakui kalo suaminya itu super bucin tapi dari situ Anggun menyukainya, sosok suami yang lebay dan over sampek megang sapu aja gal boleh takut kalo entar kenapa-kenapa. Jangankan sapu, kalo pas di rumah makan aja di suapi katanya nanti kecapek-an kalo makan sendiri, masih banyak hal kecil lainnya yang Anggun sama sekali gak boleh lakuin dan semua di pegang sama Raka dan Anggun gak ngelakuin apa pun buat dirinya sendiri selain bernafas. Anggun memegangi perutnya yang dari tadi berasa ada yang gak beres, rasanya tu mau BAB atau mules diare. Pokoknya bingung sendiri Anggun mendeskripsikannya, ni malah pinggang ikut-ikutan. Kelamaan duduk mungkin jadi pinggangnya sakit.
"Mbak Anggun kenapa?" Tanya Rania yang liat muka Anggun berubah menjadi lebih pucat di bandingkan tadi, bahkan kini terlihat seperti menahan rasa sakit.
"Gak tau nih, tiba-tiba aja perut aku agak mules." Jawabnya sambil memegangi perutnya, "Kebanyakan makan kali ya jadi pengen BAB." Sambil meringis nahan sakit, tapi kok pengen BAB kayak gini sih rasanya.
"Bentar Kak," Ella menarik tangan Anggun dan memeriksa denyut nadinya, dia agak curiga kalau yang Anggun rasain sekarang itu bukannya mau BAB tapi kalo dugaannya gak salah mau melahirkan. Hitungan bulan kehamilan Anggun emang udah memasuki buat lahiran tapi tepatnya kapan Ella kurang tau persis. "Ya ampun Ka Anggun, ini bukan mau BAB tapi mau melahirkan."
Rania yang mendengarnya langsung siaga, mengambil alih dan memerikasanya. "Bener, ini mbak mau melahirkan. Mbak masih bisa jalan gak sampai mobil?"
Anggun mengangguk, kali ini rasanya lebih sakit di bandingkan tadi. Rania dan Icha memapahnya menuju mobil dengan perlahan.
"Sini Kak Hp Kakak, biar aku telpon suami Kakak dan nyiapin semuanya." Ella mengambil Hp yang ada di dalam tas, "Namanya siapa Kak?"
"Raka," Jawab Anggun sambil meringis.
Ella mencari nama kontak yang di maksud dan langsung menghubunginya. "Halo, siapkan kamar persalinan. Kak Anggun mau melahirkan."
"Ella?" Gumam Raka yang melihat nama Ella di layar Hp-nya, belum ngomong apa-apa udah di samber sama Ella dan langsung di matikan. Masih dalam keadaan bingung Raka melihat layar Hp-nya yang udah mati. "Lahiran? Anggun mau melahirkan katanya?" Sambil mengantongi Hp-nya dan berjalan santai di koridor rumah sakit yang sepi. Baru berapa langkah Raka langsung nyadar dan diam di tempat. "Hah??? Istri gue mau melahirkan???" Langsung aja Raka yang nyadar kalo istrinya mau lahiran itu lari tunggang langgang sampek berisik banget, untung aja satu lantai kosong kalo gak bakalan di timpuk pakek sendal sama pasien lainnya m.
*******
Jangan lupa mampir ke novel author lainnya ya...
- Labirin Cinta
- Kontrak Cinta 100 Hari
Di tunggu partisipasi kalian semua, ceritanya mengandung unsur komedi romantis yang gak bakal bosenin. Mampir dulu, baca baru kalian bisa tau emang asik apa enggak baru kasih like, komentar sama Votenya.
Makasih buat kalian yang masih setia buat nunggu Up dan tetep baca novel yang author tulis ini, lope lope lope deh buat kalian semua....
Jangan lupa buat kasih like, komen dan vote-nya yach....
Biar author tambah semangat lagi nih nulisnya. Buat yang udah ninggalin jejak berupa like, vote serta komentarnya author ucapin banyak-banyak terimakasih.
Dukungan dari kalian itu luar biasa berarti buat author dan bikin author tambah semangat lagi buat nulis.
Makasih....
__ADS_1