Cinderella Jaman NOW

Cinderella Jaman NOW
Terjebak


__ADS_3

Jangan lupa mampir ke novel author lainnya ya...


- Labirin Cinta


- Kontrak Cinta 100 Hari


Di tunggu partisipasi kalian semua, ceritanya mengandung unsur komedi romantis yang gak bakal bosenin. Mampir dulu, baca baru kalian bisa tau emang asik apa enggak baru kasih like, komentar sam Votenya.


Makasih....


************


Manager Harun dan Anisa yang sebenernya nunggu di butik sebelah menunggu instruksi buat masuk ke dalam butik sesuai perintah Nyonya muda Ella, mereka bukan cuma nunggu tapi sambil liat aksi emak-emak berdaster itu dengan bantuan CCTV yang terhubung secara langsung, bahasa kerennya itu siaran langsung atau live. Bukan cuma Harun dan Anisa yang tegang tapi penunggu butik yang mereka tumpangi itu juga di bikin tegang dan hampir gak bernafas ngeliat adegan demi adegan.


"Pak, jadi itu benar-benar istri tuan Rega?" Tanya Vina, kasir yang lagi piket malam ini.


"Iya, beliau istri tuan Rega." Ujar Harun dengan mata tak berkedip.


"Ya ampun keren banget ya istri tuan Rega, pantes aja tuan Rega bisa sampek jatuh cinta sama beliau orang keren banget gitu." Sejak pertama melihat Vina langsung mengidolakan sosok nyonya muda itu, awalnya ia berpikir bahwa istri dari seorang Rega yang hartanya bejibun itu adalah wanita tinggi, seksi dan glamour kayak di film-film dan orang-orang yang Vina lihat sejak bekerja di butik ini. Istri para pengusaha, pejabat dan saudagar yang menjadi langganan butik biasanya adalah sosok wanita cantik dengan perawatan salon mahal yang membuat wajah dan tubuh mereka terawat dengan sangat baik (Glowing cuy mukanya) , memiliki ciri khas memakai barang-barang bermerek di seluruh badan mereka dengan obrolan yang gak jauh dari koleksi barang-barang dan perhiasan mewah mereka yang bikin orang awam merasa kecil berhadapan dengan para wanita sosialita tersebut. Apa yang Vina lihat dari sosok nyonya muda pemilik mall ini sangat berbeda, dengan pakaian sederhana yang ia pakai dan polos tanpa riasan wajah membuatnya sempat terkecoh (Orang kaya jalan ke mall pakek daster.) Kesederhanaan yang terlihat membuat Vina merasa malu, orang sekaya itu tampil dengan sangat sederhana dan Vina yang hanya remah-remah bila di bandingkan dengan kekayaan yang nyonya miliki malah berlomba-lomba mengumpulkan uang untuk membeli barang-barang yang menurutnya bisa menunjang penampilannya menjadi lebih wah lagi dan menaikkan status sosialnya.


"Nyonya kita keren kan Vin?" Kata Anisa yang juga mengaguminya padahal ini kali pertama Anisa bertemu secara langsung, ia hanya mendengar cerita dari orang-orang dan jarang sekali muncul ke Publik. Selama ini orang-orang berpendapat bahwa menantu keluarga Mahendra adalah sosok wanita yang manja karena berasal dari keluarga yang bisa di bilang sebanding dengan keluarga suaminya namun anggapan itu kini dengan sendirinya terpatahkan saat melihat sosok luar biasa yang sangat bertolak belakang.


"Iya Mbak, aku setuju sama yang mbak bilang. Bukan cuma keren tapi keren banget menurut aku."


"Aku bangga bisa kerja di sini, punya bos kayak nyonya Ella yang udah kayak wonder women dunia nyata." Tambah Anisa yang merasa bangga dan sangat mengagumi sosok nyonya muda tersebut, bukan hanya cantik tapi juga pintar.


"Ih mbak Nisa, kalo gitu mbak jadi cat woman." Ujarnya sambil tertawa kecil, melihat aksi yang bosnya lakukan itu membuat Vina bertekad menjadi seseorang yang rendah hati.


Harun menarik nafas panjang mendengar obrolan dua wanita yang menyanjung bosnya itu, sanjungan yang mereka lontarkan memang bukan tanpa alasan dan Harun juga mengakui bahwa yang mereka katakan semuanya benar.


Drrrtttt...


Harun merogoh kantongnya saat hp yang ia taruh di sana bergetar, laki-laki berkepala empat itu memiringkan kepalanya saat melihat nama Arum yang tertera di layar Hp-nya.


"Halo Pak Harun, saya ingin anda datang ke mari segera. Saya menangkap perusuh yang telah menghancurkan barang-barang kita dan mereka menolak untuk bertanggung jawab atas kerusakan yang telah mereka lakukan."


Harun hanya terdiam mendengarnya, belom ngomong apa-apa udah main mati-in.


"Siapa Pak?" Tanya Anisa yang melihat managernya itu terdiam dengan memandangi layar hp-nya yang udag mati.


"Arum, dia mau saya datang."


Anisa mengangguk pelan, rencana nyonya Ella berjalan lancar bahkan Arum secara tak sadar mengakui apa yang telah ia lakukan dan kini perannya dan Pak Harun bertindak layaknya orang yang tak tau apa-apa dan mengikuti kemauan Arum hingga ia merasa malu sendiri, selain cantik dan pintar ternyata nyonya Ella juga licik. Licik yang ia lakukan bukan merugikan orang lain tapi untuk mengembalikan nama baik mall yang ia miliki, pantas saja sejak tadi pagi Anisa memeriksa laporan penjualan dan keuangan ia merasa heran. Omset butik menurun drastis selama ia tinggalkan, padahal untuk hari-hari biasanya omset butik cukup tinggi yang membuat Anisa merasa heran. Berapa kali ia mengecek barang keluar dan masuk semuanya tampak normal, ternyata semua ini ulah Arum yang memanipulasi pemasukan dan pengeluaran butik. Ia menjual barang-barang kw yang ia selundupkan dan menyimpan barang asli. Saat barang miliknya terjual ia mengembalikan ketempat semula, jadi selama beberapa hari ini butik menjual barang kw semi ori kepada pelanggan dan semua itu dapat merusak nama baik butik serta mall yang akan memerlukan waktu mencek satu persatu pelanggan yang telah membeli barang untuk beberapa hari kebelakang. Menukar kembali barang yang telah mereka beli dengan yang asli, kalo ingat hal itu rasanya Anisa pengen banget jambak rambut Arum yang sok cantik dengan ke dua tangannya karena udah ngelakuin hal kayak gini. Baru aja keluar dari rumah sakit harus kerja lebih gara-gara kelakuan Arum.


"Saya keluar dulu, nanti kamu menyusul ke dalam seperti yang nyonya Ella rencanakan."


"Baik Pak."


*******

__ADS_1


"Ada apa ini Arum?" Tanya Harun saat melihat barang-barang berantakan di lantai waktu ia menginjakkan kakinya.


Arum yang merasa namanya di sebut segera berbalik dan melihat manager mall yang terkenal tegas telah berdiri di depan pintu utama butik memandangi barang-barang yang berserakan di bawah.


"Kenapa diam? Apa gak ada yang bisa menjelaskan ini semua?!"


"I-ini pak...," Kata Arum sedikit gugup mendapat bentakan, ia sekilas melihat ke arah laki-laki yang mengenakan kemeja putih itu dan mendapati wajahnya berubah menjadi sedikit menakutkan di bandingkan biasanya. Ayo Rum, kalo lo gak ngomong gimana lo mau buktiin apa yang mereka lakukan? Lo mau apa tanggung jawab buat ganti semua kerusakan yang Mereka lakuin? Banyak banget Rum duitnya... Arum menarik nafas panjang dan beusaha menetralkan emosinya, berjalan ke arah etalase tempat ia meletakkan jam dan kaca mata yang rusak akibat ulah dua orang yang kini masih ada di dalam. Tenty aja, apa pun yang terkadi Arum akan menahan dan menimpakan semua kesalahan kepada mereka agar ia bisa lepas dari semua ini. "Mereka mengobrak-abrik barang butik kita Pak dan ini," Menyerahkan jam tangan serta kaca mata yang rusak sebagai barang bukti kepada atasannya tersebut, "Mereka juga yang merusaknya." Sekilas Arum tersenyum penuh kemenangan.


Harun memandangi dua benda yang merupakan asesoris wanita tersebut, "Jadi apa benar kalian telah melakukannya? Kenapa kalian berdua melakukan ini semua?"


"Maaf Pak, saya gak sengaja jatuhin kaca mata tersebut soalnya mbak yang di sana," Menunjuk Arum yang berdiri di samping Pak Harun, "Mengagetkan saya dengan cara berteriak dan secara tidak sengaja saya menjatuhkannya." Ujar Ella dengan memasang wajah memelas yang di sengaja, Kalo masalah kayak gini kecil, jangankan ikan teri kayak lo Rega aja gue kibulin. Lo salah pilih lawan.


"Arum, kamu bukan pegawai baru di sini. Bukannya sangat jelas bahwa kita melayani pengunjung dengan hati dan bukan dengan emosi."


"Gimana gak emosi pak, saya liat dua orang ini memegang tas mahal yang kita pajang tanpa membeli bahkan mereka membantingnya sembarangan barang-barang kita."


"Mbak itu bohong pak, saya gak ada banting barang-barang disini saya hanya memegang dan mengamati apa kah kalian memajang barang asli atau palsu. Soalnya saya pernah melihat teman saya yang jualan sayur lodeh keliling pakek tas yang sama kayak gitu jadi saya penasarn eh malah mbak ini teriak keras banget sampek bikin saya kaget. Untung bayi dalam perut saya gak kenapa-napa." Kata Ella mengelus perutnya, "Kamu gak pa-pa kan sayang..."


Aih...


Sampek-sampek Arum melongo liat akting emak-emak berdaster itu, tadi aja luar biasa galak tapi sekarang berubah jadi lemah lembut gitu. Lo kira bakal gue biarin apa hah? Liat aja entar bakal gue buka topeng kalian satu persatu.


"Kalian ya..., butik kami butik terkenal yang hanya menjual barang-barang branded masih di samain sama barang kaki lima? Tukang jual sayur lodeh mana mungkin mampu beli di sini."


"Aku kan ngomong apa adanya, lagian tadi mbak lupa ya kalo mbak sendiri yang bilang sambil banting-banting ini semua?"


"Kapan aku bantingnya? Makin lama makin pinter ya kalian Ngomongnya."


Apa???


"Tapi Pak hari ini Anisa udah masuk kerja dan mereka berdua kenalan Anisa, saya yakin Anisa yang menyuruh mereka melakukan ini semua untuk menjelakkan nama baik saya." Kata Arum berkilah, melemparkan kesalahan pada orang lain. M*mpus lo Anisa, bakal gue depak lo dari sini dan gak bakal ada yang bisa hentiin gue lagi.


"Kenapa Arum?" Anisa yang dari tadi namanya di kaitkan itu masuk, ia berhenti tepat di depan Arum seolah-olah gak tau apa yang terjadi dan pura-pura gak liat kalo di situ ada pak Harun. "Apa ini? Kenapa berantakan sekali?" Melihat tumpulan tas atau lebih tepatnya tas yabg berserakan di atas lantai.


"Mereka berdua kenalan kamu kan Nisa?"


Anisa melihat dua orang yang ada di sana selain dirinya dan Arum, "Akh, kalian. Kenapa gak bilang kalau mau ke mari." Katanya ramah dengan menyalami dan mencium kedua pipi, salam yang biasa di lakuin sesama cewek. Menegaskan bahwa mereka saling kenal dan bisa di bilang akrab.


"Gak sengaja tadi mampir Nis," Sahut Anggun.


"Bapak liat sendiri kan kalau mereka saling kenal, saya yakin semua ini rencana Anisa untuk mrnjebak dan mempermalukan saya." Kata Arum yang gak melewatkan kesempatan buat menjatuhkan Anisa, dari dulu Arum udah gak suka dengan Anisa yang menurutnya gak pantas menjabat sebagai manager butik ini. Bahkan penampilannya agak kampungan, gak berkelas dan gak pantas buat megang butik yang menjual barang-barang branded kelas dunia. Lebih cocok Anisa itu jadi tukang pel lantai, bukan manager dan yang paling pantas menjabatnya adalah dia sendiri. Selain cantik, menurut Arum (Mikir pakek otak dia sendiri) juga modis dan elegan, beda jauh dengan Anisa yang di bawah standar.


"Pak Harun?"Anisa berbalik dan membungkukkan badannya sedikit memberi hormat, "Maaf kalau tadi saya gak liat bapak di sana." Ujarnya sambil tersenyum ramah.


Cuih!


Lagaknya sok...


Liat aja Lo Nis, bentar lagi bakal gue bikin lo gak bisa senyum lagi kayal gitu.

__ADS_1


"Iya gak pa-pa,"


"Ada apa Bapak sampai repot-repot datang kesini?"


"Tadi Arum nelpon dan minta saya buat datang, katanya ada perusuh dan urusan yang harus di selesaikan. Bukan begitu?"


"Iya pak, seperti yang saya katakan dan bapak liat sendiri Anisa berusaha merusak nama baik butik ini. Dia menyuruh dua orang ini buat membuat kerusuhan, merusak barang-barang kita dan menolak untuk menggantinya." Lancar banget Arum mengarang cerita versinya sendiri. Cerita yang ia yakini sebagai solusi atas apa yang terjadi.


"Kerusuhan? Maksudnya apa?" Arum bertanya kepada semua orang yang berada di tempat kejadian perkara, memandangi mereka satu persatu untuk meminta jawaban.


"Jangan pura-pura gak tau gitu Nis...,"


"Kamu ngomong apa sih Rum? Aku empat hari gak masuk karena sakit dan harus di rawat, baru tadi aku masuk kerja dan langsung ngecek laporan penjualan kita jadi mana sempat aku kesini. Lagian apa ini? Kenapa berantakan banget kayak gini?" Anisa menunjuk barang-barang yang berserakan di lantai.


"Itu kerjaan teman-teman gembel lo?! Liat kan apa yang mereka lakuim, mereka bikin rusuh dan merusak barang disini dan gak mau ganti rugi. Kalau mereka gak mau ganti rugi lo aja yang ganti." Keluar sikap asli Arum yang dari tadi di sembunyiin.


"Temen gembel yang mana?"


"Dua emak-emak bunting deket lo."


Anisa menoleh, Ya Tuhan... sedandainya lo tau siapa mereka lo bakal nangis darah Rum...


"Gue bakal laporin kalian ke polisi buat semua yang kalian lakuin."


"Nisa, apa benar yang Arum katakan?"


"Maaf pak, saya sendiri bingung. Gak mungkin mereka ngelakuin hal kayak gini. Saya yakin banget."


"Bisa-bisa lo ngomong aja kan Nis? Gue curiga kalo mereka selain bikin onar juga buat ngambil barang-barang disini. Lumayan kan di jual buat biaya lahiran mereka." Ujarnya dengan memandang remeh.


"Arum?! Kamu udah keterlaluan!"


"Keterlaluan apa? Orang miskin kayak mereka ngapain masuk ke butik kayak gini kalo bukan buat maling. Emang mereka mampu beli? Barang termurah aja gak bakal bisa mereka beli."


Anisa mengepalkan tangannya menahan amarah, kali ini bukan karena dua orang itu adalah orang penting tapi karena pikiran Arum yang sangat mengerikan. Memandang dan menilai manusia hanya dari penampilannya saja dan itu yang membuat Anisa benar-benar mendidih. Dengan yakin ia melayangkan tangannya, mendaratkan telapak tangannya di pipi Arum yang sudah sangat keterlaluan itu.


PLAK!!!!


Ella menutup mulutnya saat melihat apa yang Anisa lakukan, wanita itu ternyata memiliki keberanian yang tak ia bayangkan. Dari luar Anisa terlihat seperti wanita lemah lembut yang gak bisa ngelakuin kekerasan namun kenyataannya ia bisa.


"Lo...," Arum memegangi pipinya yang terasa perih, meninggalkan jejak merah yang membuatnya menahan sakit. Tamparan yang Anisa lakukan bukan hanya menampar wajahnya tapi juga harga dirinya.


******


Makasih buat kalian yang masih setia buat nunggu Up dan tetep baca novel yang author tulis ini, lope lope lope deh buat kalian semua....


Jangan lupa buat kasih like, komen dan vote-nya yach....


Biar author tambah semangat lagi nih nulisnya. Buat yang udah ninggalin jejak berupa like, vote serta komentarnya author ucapin banyak-banyak terimakasih.

__ADS_1


Dukungan dari kalian itu luar biasa berarti buat author dan bikin author tambah semangat lagi buat nulis.


Makasih....


__ADS_2