
Rega melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah lalu lintas kota yang sedang ramai-ramainya, persis kayak main ular-ularan belok sana-sini, salip sana-sini tanpa mengurangi kecepatannya. Pas banget sama waktu pulang sekolah dan kantor atau aktifitas lainnya yang lagi padat-padatnya untuk melampiaskan kemarahannya.
Bayangan sosok Vino yang bikin darahnya mendidih sampek bisa rebus telur, dengan gampangnya dan tampang gak berdosa tu anak minta restu dan ngira Rega adik dari Papanya Ella. Raut wajahnya gak bisa nutupin perasaannya saat ini yang kesal banget dan melampiaskannya dengan cara mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi tanpa memikirkan keselamatan mereka atau pengguna jalan lainnya.
"Om, jangan ngebut donk. Ella takut nih." Mencengkram sabuk pengaman buat bikin pertahanan diri kalo setiap saat Rega mengerem mobilnya mendadak, bisa kejedot tu jidadnya.
Rega tak menghiraukannya, masih jengkel dengan apa yang di alami tadi sekaligus gak sadar ada orang lain bersamanya.
"Yaa Tuhan...." Ella menggelengkan kepalanya dan berusaha mengatur nafas yang terasa sesak. Ada kejadian saat ia masih kecil yang membuatnya trauma hingga detik ini.
Kejadian yang tak dapat ia lupakan dan menyisakan luka yang mendalam.
"Om, Ella mohon...." Memejamkan mata mencoba mengusir ketakutannya, bahkan wajahnya mulai memucat.
__ADS_1
Rega tak bergeming, bahkan ia menambah kecepatan mobil sport yang emang dari sononya di desain memiliki kecepatan di atas rata-rata mobil lainnya.
Bukan keinginan Ella, tapi air matanya menetes gitu aja tanpa dia minta.
Perasaan takut dan ngeri membayanginya. "Om, Ella mohon...." Suaranya mulai melemah, ia mengulurkan tangannya untuk menyentuh Rega yang tampak sangat mengerikan. Ekspresi wajahnya tak dapat di artikan, datar dan menakutkan.
Rega tersadar saat seseorang menyentuh lengan bajunya, menoleh untuk memastikan.
Rega tampak sangat terkejut mendapati Ella yang menangis tanpa suara dengan wajah pucat pasi dan tatapan mata kosong lurus ke depan. Bahkan bibirnya yang biasa merah segar itu kini tampak pias pucat. Ia menepikan mobil dan mematikan mesin, menyentuh tangan Ella yang sedingin es dan berkeringat.
"Ella takut." Katanya lirih, bahkan dadanya terasa sesak. Sangat sulit hanya untuk bernafas.
Rega membuka pintu mobil dan mengitari, membuka pintu mobil sebelahnya dimana Ella berada dan melepaskan sabuk pengaman. Wajah Ella yang sangat pucat itu mengusik hatinya, apa yang sebenarnya terjadi? Bukannya tadi ia baik-baik saja seperti biasanya.
__ADS_1
"Bagian mana yang sakit?" Rega memilih untuk memapah Ella keluar untuk mendapatkan udara, beruntung tak jauh dari ia menghentikan mobilnya ada sebuah pohon yang sangat rindang. Rega menyangga tubuh Ella yang lemah tak bertenaga, ia menggendongnya. Kelamaan kalo cuma memapah, karena keadaannya udah kayak orang syok tingkat tinggi yang gak bisa di ajak ngomong.
"Datang secepatnya kesini." Rega mengakhiri panggilan telponnya dan menyandarkan Ella di pohon tersebut.
Rega menyodorkan air mineral yang ia ambil dari dalam mobil, tak ada reaksi selain tatapan kosong dan tubuh yang bergetar hebat.
"Hei, lo kenapa?" Berusaha mengatakannya selembut mungkin. Merasa tak ada jawaban, Rega menangkup wajah Ella dengan kedua tangannya yang besar dan menghadapkan ke arahnya.
Tatapan itu masih kosong, tapi air mata Ella tak berhenti dan terus menetes. Rega benar-benar di buat frustasi karena tak tau apa yang harus ia lakukan. Entah ide gila dari mana, Rega menyatukan bibirnya dengan bibir Ella, mengecup lembut disana dan memejamkan matanya berharap tak terjadi apa pun. Sesuatu yang lembut dan hangat membuat Ella tersadar, secara perlahan nyawanya yang melayang entah kemana kembali terkumpul dan mendapati Rega menciumnya. Wajah mereka sangat dekat, bahkan deru nafas rega terdengar.
Kali ini bukan ciuman pipi, melainkan bibir mereka menempel satu dengan lainnya. Refleks Ella mendorong tubuh Rega dan mundur, gak bisa jauh ya mundurnya udah kepentok pohon.
"Dasar mesum!"
__ADS_1
Rega tersenyum, umpatan yang Ella lontarkan itu menandakan tu cewek udah balik ke tempat asalnya jadi macan betina mode garang.
"Om itu, udah nodai badan Ella, pipi Ella ni sekarang nambah lagi daftarnya ke bibir Ella." Mengusap bibirnya keras dengan kedua tangannya seolah ada sesuatu yang menjijikkan menempel disana.