
"Tunggu disini bentar." Ella berlari kearah apotik yang ada di seberang jalan.
Rega merebahkan kepalanya pada senderan kursi mobil dan memejamkan matanya Karena kepalanya sedikit pusing, mungkin karena kehilangan cukup banyak darah dan seingatnya sejak tadi malam ia belum makan karena tak sempat. Kesibukan dan kegilaan nya pada kerjaan sering kali membuatnya melupakan hal-hal yang bersifat pribadi. Bahkan ia hanya tidur kurang dari lima jam dalam dua puluh empat jam dan sama sekali tak menyentuh makanan apa pun.
"Rumah Om dimana?" Setelah kembali dan meletakkan plastik hitam sembarang.
Rega menunjuk navigasi dalam mobilnya tanpa membuka mata.
Ella memperhatikannya, ini nih enaknya mobil mehong nan cantik. Gak perlu susah-susah cari rumah orang karena bisa menyimpannya. Melihat wajah Rega yang memucat ia memutuskan untuk mempercepat laju mobil itu.
Kawasan yang Rega maksud adalah kawasan apartemen mewah di tengah kota yang terkenal memilik bannyak keunggulan dan fasilitas nomor satu saat ini. Apartemen yang hanya bisa dimiliki ekonomi tingkat atas ini memang sangat luar biasa dengan penjagaan yang ketat. Gak sembarang orang bisa masuk untuk menjaga privasi penghuninya tetap nyaman.
"Om udah nyampek." Ella mengguncang tubuh Rega dan berhenti saat ia membuka mata.
"Bisa jalan sendiri kan? Apa perlu Ella papah?"
"Tubuh lo tu kecil mana sanggup."
__ADS_1
Rega sangsi melihat tubuh mungilnya. "Gue gak kenapa-kenapa " Berdiri dan membuka pintu menuju lift yang langsung mengarah ke tempatnya di ikuti Ella yang kewalahan bawa barang lumayan banyak, barang miliknya dan Rega.
"Om, bantuin dong...."
Rega tersenyum tipis melihat gadis cerewet iti kewalahan dan ribet sendiri. Ia mengambil tas laptop dan tasnya.
Rega memencet kata sandi yang tak lain tanggal kematian Bundanya.
Klik.
Pintu terbuka dan ia masuk, saat memasuki pintu otomatis lampu menyala dengan sendirinya.
Rega malas meladeni tu bocah yang bakal nyerocos gak karuan, ia lebih memilih duduk di sofa.
Apartemen yang bernuansa coklat ala-ala rumah jepang itu berdekorasi mewah dan elegan dengan variasi ornamen dari kayu membuatnya serasa alami. Ella meletakkan barang dan mengambil obat dalam kresek hitam dan perban.
__ADS_1
"Buka bajunya Om." Ella sibuk Membuka plastik perban dan alkohol untuk membersihkan luka tersebut.
"Lo mau ngapain?" Rega kaget saat Ella menyuruhnya buka baju.
"Mau ngobati luka lah masak mau ngapain lagi, kalo gak di buka gimana coba ngobatinnya?"
Tentu aja, Rega gak mikir sampek sana.
Lumayan lama ia mikir buat nurutin kehendak tu cewek apa enggak. Walau gimana pun mereka itu beda jenis kelamin sama bukan muhrim.
"Gak usah mikir yang macem-macem. Om mau jadi tetanus?" Mengulang kata-kata Rega suatu hari.
"Emang lo bisa ngobatin? Entar malah jadi tetanus.
"Ayo cepetan" Katanya setengah berteriak dan memaksa, yang menurutnya lama banget cuma buat buka baju. "Buka sendiri apa perlu Ella yang buka nih?"
Akhirnya Rega membuka kemejanya dan pasrah dengan apa yang bakal bocah itu lakukan.
__ADS_1
Ella membersihkan luka tersebut dengan alkohol hati-hati dan pelan karena ia tau pasti rasanya perih banget. Walau gak ngomong secara langsung tapi raut wajah Rega udah berubah saat kapas berakohol itu menyentuh kulitnya. Ia menaburkan bubuk antibiotik dan memerbannya setelah ia rasa cukup menutupi luka tersebut, lalu membungkusnya dengan rapi dan memasangkan perban anti air agar lebih aman.