
Seluruh pasang mata yang ada di halaman belakang yang tengah berbincang-bincang santai itu sontak tertuju pada pemeran utama wanita hari ini, siapa lagi kalau bukan Ella yang keluar dengan membawa nampan berisi minuman segar. Semua yang ada pada diri Ella adalah hasil karya Devi yang begitu sempurna membuat mereka semua tak bisa lepas dari Ella yang kini terlihat sangat cantik dengan gaun model midi dress yang panjangnya sedikit di bawah lutut dengan aksen kerah sabrina berwarna salem dan rambut yang di tata sangat simpel dengan memberikan aksen curly pada bagian bawah rambut dan di biarkan tergerai dengan menambahkan hiasan flower crown yang mengempurnakan penampilannya. Polesan make up minimalis yang Devi tambahkan itu sangat cocok dengan karakter Ella yang selama ini berpenampilan sederhana, gak ada satu pun orang yang bicara saat Ella menapakkan kaki t*lanjangnya di atas hamparan rumput hijau tersebut. Seperti ada sihir yang membuat mereka tak bisa berpaling dari wajah cantik yang menghipnotis seluruh orang yang ada disana.
Menjadi pusat perhatian membuat wajah Ella bersemu merah, nampan yang di bawa aja hampir jatuh karena grogi. Gimana gak grogi di liat seluruh orang yang ada, kali aja ada yang salah jadi ngeliatinnya sampek segitunya.
Rega yang dari tadi matanya gak bisa lepas dari Ella udah kayak liat dewi khayangan yang turun ke bumi (padahal dia sendiri belum pernah liat dewi khayangan), walau selama ini dimata cowok itu Ella cantik banget tapi kali ini kecantikan Ella berkali-kali lipat lebih cantik di bandingkan biasanya. Seulas senyum akhirnya lolos dari bibirnya, merasa bangga sekaligus bahagia karena ia tak salah memilih pendamping hidup. Bukan cuma bangga, ada rasa was-was yang muncul saat nanti Ella keluar dan ketemu sama orang lain bakalan banyak yang ngincar calon istrinya itu. Buru-buru Rega membuang pemikiran itu, menyakini kalau Ella memang telah memilihnya.
"Iler kamu netes." Celetuk Nenek yang duduk di samping Rega liat cucunya itu yang gak berkedip sedikitpun melihat kecantikan Ella. Jangankan Rega, sebenernya Nenek yang udah tua aja langsung cling-cling matanya liat yang benig gini.
Rega yang langsung sadar itu menoleh dan melihat wanita tua yang gaul abis tertawa kecil, kayaknya seneng banget udah bisa jahilin cucunya. Untung aja cuma punya satu Nenek yang bentuknya kayak gitu, coba kalau punya dua atau lebih bakalan langsung kena stroke tu anak. "Iler Nenek juga hampir netes."
Devi berdiri dan menghampiri Ella, mengambil alih nampan yang ada di tangannya dan menggandeng tangan Ella untuk duduk bersamanya dan Sonia yang telah menunggu.
"Cantik banget lo La, gue aja yang cewek langsung fall in love, apa lagi Rega yang dari tadi matanya gak berkedip." Bisik Sonia saat Ella duduk di sampingnya.
"Ngomong apaan sih lo, gue grogi banget tau diliatin semuanya."
"Habisnya lo cantik banget gimana gak liat?"
"Tangan Mommy lo emang ajaib."
Johan selaku tuan rumah akhirnya angkat bicara untuk menyambut kedatangan keluarga Mahendra.
"Terimakasih kepada keluarga Bapak Mahendra yang sudah bersedia datang memenuhi undangan dari keluarga kami hari ini untuk singgah di gubuk sederhana kami, semoga ada hari-hari lainnya setelah hari ini untuk kita bisa menjalin silaturrahmi. Saya sangat berharap semoga silaturrahmi ini akan terua berlanjut dan tidak akan pernah putus."
Mahendra yang udah bisa menguasai dirinya dari keterkejutannya melihat calon menantunya yang sangat cantik itu menghela nafas untuk membalas sambutan yang telah Johan lakukan. Pantas aja Rega tergila-gila dengan gadis pilihannya itu, gak taunya cantik banget kayak gini.
"Saya selaku Ayah dan kepala keluarga Mahendra mengucapkan banyak-banyak terimakasih atas undangan yang telah keluarga Johan berikan, memberi kesempatan kepada kami untuk datang dan menjalin silaturrahmi yang sempat terputus. Saya pribadi mengucapkan terimakasih atas jamuan yang luar biasa ini." Katanya mengedarkan pandangan, ternyata gak semudah yang Mahendra pikirkan sebelumnya. Untuk memimpin rapat atau semacamnya ia tak segugup ini, tapi cua ngomong gini aja bikin meriang. Maklumlah, mau minta anak orang buat jadi mantunya. Di rumah udah nyusun kata-kata buat hari ini, gak taunya sudah pas acaranya malah kagok. Hilang tu semua kata-kat yang udah di hapalin tadi.
"Kedatangan kami sekeluarga kesini bukan hanya memenuhi undangan dan menjalin silaturrahmi kepada keluarga Bapak Johan, melainkan kami memiliki tujuan lain."
Mahendra sekilas memandang Rega yang udah tegang banget, tu anak belum nikah aja udah kayak gini, gimana entar kalo nikah?
"Saya mewakili keluarga untuk melamar dan meminta putri Bapak Johan yaitu Ananda Ella Alexa Johan untuk menjadi istri dari putra kami yaitu Rega Adiyaksa Mahendra sekaligus menjadi menantu untuk keluarga Mahendra." Katanya mengutarakan maksud kedatangannya beserta keluarga.
Akhirnya, Johan menatap lekat Ella yang duduk di sampingnya dengan tatapan mata haru. Gadis kecilnya itu kini telah dewasa, telah siap untuk ia lepas ke keluarga barunya, mengalihkan tanggung jawab yang selama ini ia lakukan kepada suaminya. Sebagai seorang Ayah yang membesarkannya seorang diri setelah Mama meninggal Johan merasa bangga, putrinya tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dan memiliki sifat yang cantik tak kalah dari fisiknya. Bagaimana pun Ella kini telah siap melepas masa lajangnya dan Johan harus menerima kenyataan untuk menyerahkan putrinya itu kepada anak sahabatnya.
"Kami menyambut baik niat dari keluarga Anda dan dengan senang hati menerima lamaran ini. Semoga dengan ini kita menjadi keluarga besar untuk selamanya." Johan bediri dan berjalan ke arah Mahendra, memeluknya erat.
"Terimakasih Jo, akhirnya kita menjadi keluarga." Katanya haru karena telah memujudkan impian dari almarhum istrinya, Bunda Rega yang sangat menginginkan Ella menjadi menantunya itu sempat mengutarakan niatnya sebelum ia meninggal.
Akh....
Seandainya istrinya tersebut masih hidup dan dapat hadir mungkin dia yang akan sangat bahagia melihat impiannya ini.
__ADS_1
"Tolong jaga Ella, karena dia hartaku yang paling berharga."
"Tentu, putrimu juga putriku. Aku akan memastikan untuk menjaganya dan tak ada seorang pun dapat menyakitinya."
Dua laki-laki dewasa itu berpelukan cukup lama hanyut dalam perasaan masing-masing, perasaan haru, bahagia dan juga sedih...
Haru karena putra dan putri mereka telah dewasa dan sebentar lagi akan menikah, bahagia karena impian mereka akan segera tercapai menjadi besan dan satu keluarga, sedih karena ibu dari anak-anak mereka tak bisa menyaksikan dan hadir bersama dalam peristiwa yang membahagiakan ini.
Johan melepaskan pelukannya dengan mata berkaca-kaca, memberikan isyarat kepada Ella untuk mendekat ke arahnya. Mahendra pun melakukan hal yang sama, menyuruh Rega untuk mendekat melalui isyarat tangan.
Rega yang mengenakan kemeja casual berwarna putih dan berlengan pendek itu memadukan dengan celana model chino dengan warna pasir dan ikat pinggang senada bahkan ia membentuk rambutnya dengan gaya soft side parting yang sangat cocok dengan struktur wajahnya, membuat penampilannya sangat sempurna dan memukau. Untung aja kali ini cuma pertemuan keluarga, kalo gak bakalan banyak yang daftar dan ngantri di belakang Ella buat bisa deket sama Rega.
"Ini mas kawin dan hadiah dari keluarga kami yang sederhana dan tak seberapa sebagai tanda terimakasih karena Ananda Ella sudah mau menerima putra Ayah yang banyak sekali memiliki kekurangan." Mahendra menyerahkan hadiah yang menurutnya sederhana dan tak seberapa baginya yang sebenarnya itu hanya kiasan semata yang tentu saja semua itu adalah barang-barang terbaik dan di buat oleh orang-orang terbaik di bidangnya.
Ibu Azhari yang sudah Mahendra anggap sebagai pengganti istrinya tersebut dan dipercaya untuk menyerahkannya semua hadiah dan mas kawin berdiri mendekat ke arah putra dan calon menantunya, membawa sebuah kotak yang terukir dengan sangat indah. Kotak yang pernah Nenek berikan tempo hari dan kini kotak itu akan menjadi milik Ella sepenuhnya.
Devi yang menjadi perwakilan dan pengganti Mama Ella itu berdiri dan menggandeng Ella dengan perasaan haru, ternyata seperti ini rasanya menjadi orang tua yang sesungguhnya dan melepaskan putrinya untuk dinikahi laki-laki yang putrinya cintai.
"Sayang, mas kawin yang Ibu serahkan ini adalah mas kawin yang keluarga Mahendra turunkan dari generasi ke generasi untuk menantu keluarga Mahendra dan sebagai simbol bahwa kelak akan menjadi nyonya Mahendra yang akan melahirkan generasi keluarga kami berikutnya. Walau tak bernilai, Ibu kira Ananda Ella mau menerimanya sebagai tanda pertunangan kalian dan tak lama lagi kalian akan menjadi suami istri yang sah." Wanita cantik itu mengulurkan tangan untuk meminta tangan Ella, menyematkan cincin unik dan elegan yang bertahtakan batu mulia di tengahnya itu berkesan simpel dan sederhana. Sangat cocok untuk kepribadian Ella yang simpel dan sederhana, memeluk lembut Ella dan mencium pucuk keningnya. "Terimakasih sudah menjadi bagian keluarga kami." Katanya terharu, satu putranya telah melepas masa lajangnya dan masih tersisa satu lagi untuk ia dampingi. Ibu Azhari beralih ke sosok wanita cantik yang ada di samping Ella, tak jauh darinya matanya berkaca-kaca. "Nyonya, tolong jaga putra saya. Tegur dia bila melakukan kesalahan dan anggaplah seperti putra nyonya sendiri."
Devi memeluk wanita yang lebih tua di bandingkannya itu karena tak tahan lagi, "Anda jangan khawatir, saya akan memperlakukan Rega seperti anak saya sendiri. Jangan panggil saya dengan Nyonya, karena Anda lebih tua di bandingkan saya. Bisakah kita menjadi kakak dan adik?"
Ibu Azhari mengangguk dengan tangis bahagia, putranya telah mendapatkan istri dan keluarga baru yang sangat baik. Ibu mana yang tak bahagia....
Devi mengambil cincin yang di berikan Yun tadi sebelum acara berlangsung, memasangkannya di jari manis Rega dengan kelegaan yang luar biasa. "Jaga dan bahagiakan anak Mommy, mungkin Ella masih sangat muda dan terkadang sifatnya seperti anak kecil. Tapi Mommy harap kamu mampu membimbingnya menjadi lebih baik, Mommy tau selama ini bukan Ibu yang baik buat Ella tapi tak ada satu pun Ibu di dunia ini yang tak menginginkan kebahagiaan anak mereka. Mommy belum bisa membuatnya tersenyum dan membahagiakannya, Mommy belum sempat memeluk dan menggenggam tanggannya saat sendirian dan menghapus air matanya, Mommy sadar selama ini Mommy belum melakukan apa pun untuknya, Jadi Mommy mohon, bahagiakan dan jangan pernah sakiti anak Mommy karena dengan menyakitinya sama saja dengan menyakitiku. Gantikan Mommy untuk melakukan semua itu." Menggenggam erat tangan Rega untuk meminta sesuatu yang tak bisa ia lakukan, andai saja sejak awal ia menyadarinya mungkin akan banyak waktu yang bisa ia habiskan untuk menjadi Ibu pengganti yang baik.
Ella yang sejak tadi menahan gemuruh di dadanya itu memeluk wanita yang ada di sampingnya dengan haru dan suka cita, ia tak tahu bahwa akan mendapatkan kasih sayang sebesar ini dari Mama barunya yang dulu sempat berselisih paham dan membencinya. Ternyata sehangat ini rasanya mengetahui begitu besar kasih sayang itu, mampu menumpahkan air mata kebahagiaan. Bahkan Devi tak malu mengakui semua itu di hadapan semua orang.
Devi yang tak menyangka melepaskan tangan Rega dan memeluk Ella, mencium keningnya dengan lembut. Anak yang pernah ia benci dan ingin ia singkirkan, ternyata hatinya sangat polos dan putih hingga mampu membuka mata hatinya. "Maafkan Mommy sayang, Mommy terlambat menyadarinya. Terlambat menemukan berlian yang selama ini Mommy anggap sampah. Terimakasih karena memaafkan dan menyadarkan Mommy, terimakasih telah menjadi anak Mommy." Menyapu air mata Ella yang terus saja mengalir dengan tangannya, menciumi pipi Ella bertubi-tubi.
"Ella sayang Mama."
Devi tertegun dengan beberapa kata yang keluar dari mulut Ella, seolah tak percaya dengan apa yang ia dengar dan menutup mulutnya untuk menahan isak tangis yang pecah begitu saja mendengar pengakuan yang lama sekali ingin ia dengar. Akhirnya Ella mengakuinya, sekian lama dan banyak hal yang terjadi gadis itu mengakuinya sebagai Mamanya di depan semua orang, Devi beberapa kali memintanya namun Ella selalu menolak dam hari ini ia mendapat pengakuan tersebut. "A-apa yang kamu bilang?" Masih gak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Ella sayang Mama."
Acara lamaran kini menjadi lautan air mata, semua yang hadir menangis haru melihat adegan yang menguras air mata tersebut. Tak ada tawa dan tepuk tangan riuh, melainkan isak tangis haru yang mengiringinya selama prosesi ini berlangsung. Hati siapa yang tak terenyuh mendengar pengakuan kasih sayang antara anak dan orang tua yang tak memiliki ikatan darah.
Baik Rega atau pun Ella yang sama-sama telah di tinggalkan Ibu mereka dan kini mereka disini beserta wanita-wanita hebat yang menggantikan Ibu mereka yang telah meninggal.
Nenek yang dari tadi udah mewek itu menangis di pundak Yun yang sudah ia anggap seperti cucunya. "Yun, cari wanita yang cantik luar dan dalam seperti Ella. Nenek akan sangat bahagia bila kedua cucu Nenek dapat hidup bahagia jadi nanti saat Nenek meninggal Nenek gak akan menyesalinya."
"Nenek ngomong apaan sih?"
__ADS_1
"Nenek ngomong biar kamu cepat nyusul Rega. Biar rumah Nenek rame sama cicit-cicit Nenek nanti." Katanya yang sebal, cucunya yang satu ini ternyata kurang peka kalo ngomongnya pakek sindiran halus.
"Iya Nek..., doakan saja semoga Yun bisa cepet ketemu sama jodoh Yun yang sesuai sama tipe Nenek." Katanya malas nanggepi omongan Nenek, Yun kira kalo Rega bakalan nikah dia udah selamat dari huru-hara buat cari calon istri. Gak taunya sama aja.
"Berarti kamu belum menemukannya?"
Yun menangkap sinyal bahaya dari nada bicara dan kilatan mata Nenek, "Itu...."
"Mulai besok Nenek akan mengatur perjodohan untukmu, Nenek akan mencarikan wanita baik-baik."
Benerkan kumat penyakit akut mak comblang Nenek, tu orang tua gak kapok-kapok apa jodohin Rega malah mau jodohin Yun lagi. Rega udah lepas gantian dia yang kena taget operasi selanjutnya. Bakalan puyeng kalo udah berurusan sama orang tua yang satu ini karena gak gampang buat menghindar dan lepas.
"Nenek yang cantik...." Kata Yun buat melarikan diri.
Nenek menepis tangan Yun yang udah tau kemana arah pembicaraannya itu, apa lagi pakek acaranya ngerayu segala. Hapal banget Nenek sama kebiasaan cucunya yang satu ini kalo udah rayu-rayuan. "Gak usah bilang Nenek cantik, pokoknya setelah pernikahan Rega dan Ella minggu depan kamu jangan harap bisa kabur Dari Nenek. Nenek akan mengatur dan mencarikan jodoh untukmu. Nenek gak terima kata penolakan. Jadi tunggu dari kabar Nenek."
****** dah gue, kenapa juga tadi gue duduk di samping Nenek kalo gini endingnya. Tau gini gue tunggu di luar aja. Masih punya waktu satu minggu buat gue cari cara kabur dari rencana Nenek. Batinnya.
********
Hi reader....
Masih nungguin Up yach?
Beberpa hari ini author bikin cerita yang melow-melow, gak tau kenapa modnya kesana ðŸ¤.
Yang nunggui lamaran Rega ayo siapa???
Kayaknya gak ada resepsi pernikahan mereka karena pemerintah melarang buat ngadain resepsi di tengah wabah yang lagi melanda saat ini
😂😂😂😂😂
Apa hubungannya ya?
😆😆😆😆😆
Author gak bosen-bosen buat ngingetin budayakan hidup bersih dimana pun dan kapanpun buat jaga diri kita dari virus yang lagi booming di dunia saat ini.
Kalo kita sendiri yang jaga diri kita, siapa lagi?
Jangan bosen buat stay at home dan lakukan hal-hal positif biar gak bosen di rumah.
Jangan lupa like dan vote nya buat dukung author biar tambah semangat lagi buat berkarya.
__ADS_1
Makasih buat dukungan kalian semuanya.
😘😘😘😘😘😘😘