
Ella mengerjapkan matanya saat sebuah sentuhan lembut mengenai wajahnya yang membuatnya geli dan mau tak mau Ella membuka mata buat cari tau siapa yang udah mengusik tidurnya. "Abi...," Katanya saat melihat wajah Rega tepat di depan matanya, "Ella masih ngantuk, kenapa Abi gangguin?"
Liat muka bantal Ella itu bikin Rega gemas banget, pengen rasanya mendaratkan cubitan-cubitan lembut dan menggemaskan disana. "Bangun dulu, kita belum makan malam." Katanya lagi dengan tangan masih menyentuh bagian-bagian wajah Ella yang membuatnya merasa ketagihan, kulit wajah istrinya tersebut terasa sangat lembut yang membuatnya selalu ingin menyentuh lagi dan lagi.
"Abi!" Ella menangkap dan melempar sembarang tangan Rega yang menjelejah di wajahnya, "Lama-lama Ella jijik udah kayak ada serangga di muka Ella." Menepis tangan Rega yang udah siap-siap menjalankan aksinya.
"Makanya ayo bangun, kita makan malam dulu baru lanjutin istirahat."
"Tapi masih ngantuk...,"
"Ya ampun... Manja banget istri Abi yang gemesin ini...," Rega menarik tubuh Ella dan menyandarkan di bahunya, udah kayak gitu matanya masih merem tapi tangannya melingkar erat di pinggangnya. "Lama-lama Abi rasa kamu udah punya tentakel di bandingkan tangan."
"Biarin, Lagian Abi doang lo yang Ella gini-in." Sambil melingkarkan kakinya di pinggang Rega dan menaikkan tangannya ke leher, udah kayak uler piton melilit mangsa kalo kayak gini. "Suapin ya...," Katanya manja banget.
"Oke...,"Rega menarik tubuh Ella dan mengangkat tanpa menurunkannya hingga berada mereka duduk di atas sofa.
Baru aja liat makanan yang ada tiba-tiba oerut Ella beraksi seketika, jijik banget liat udang dan kepiting yang berwarna merah, bukan cuma udang dan kepiting apa pun yang berwarna merah langsung bikin perutnya mual. Dengan cepat Ella berlari ke arah toilet sebelum memuntahkan isi perutnya, rasanya emang udah gak tahan lagi apa lagi pas liat segala sesuatu yang warnanya merah bikin perutnya bereaksi dengan sangat berlebihan.
Segera Rega menyusul Ella ke toilet dan mendapati Ella yang tengah berjuang di sana, perlahan ia memijit tengkuk dan mengusap punggung Ella. Nafasnya naik turun dengan mata memerah, rasanya Rega gak tega banget kalo liat Ella dalam keadaan kayak gini. "Udah sayang?"
Ella menggeleng pelan, lagi-lagi matanya menatap warna merah yang nikin perutnya mual tersebut.
Huwek.....
Padahal perutnya udah kosong dan gak ada lagi yang di muntahin tapi masih aja mual, Ella menutup matanya untuk menjaga agar semua dalam keadaan terkendali. "Bi...," Katanya bergetar dan memalingkan wajahnya menghindari kontak dengan warna yang tiba-tiba jadi warna yang paling Ella benci saat ini.
"Iya sayang?" Rega membersihkan mulut Ella dengan tissu dan menarik dalam pelukannya, keliatan mukanya pucat banget dengan keringat yang keluar deras. Pasti saat ini Ella dalam keadaan gak terlalu baik.
"Ella pusing dan mual liat warna merah yang udah kayak darah itu." Katanya lemas dengan bersandar penuh di dada suaminya, "Ella gak suka."
"Iya, entar Abi suruh orang buat ngerombak isi kamar ini dan kamar kamu." Tubuh Ella semakin berat yang menandakan bahwa ia saat ini bertumpu sepenuhnya dalam pelukannya. "Kita makan dulu ya, kasian anak-anak kita kalo kamu gak makan."
"Tapi Ella gak lapar Bi,"
"Sedikit aja ya sayang?" Bujuk Rega.
Ella menggeleng pelan, emang gak ada selera sama sekali saat ini dan walau pun di paksa mungkin bakal di muntahin lagi yang jadinya kan sia-sia. Kasian makanan yang cuma numpang bentar aja dalam perut terus di keluarin lagi.
Rega menggendong tubuh Ella, "Tutup aja mata kamu biar gal liat apa-apa."
__ADS_1
Ella menurut dengan menutup matanya saat Rega membawanya keluar dari toilet.
"Yun, gue mau lo cari orang buat merenovasi kamar gue dan Ella. Jangan sampai ada warna merah di kamar gue sama Ella." Kata Rega via telpon di depan kamar dengan masih menggendong Ella, tu hp di pegangi sama Ella.
"Apa?" Yun heran, emang ada yang salah sama warna merah jadi harus di eliminasi dari kamar mereka?
"Iya, Ella langsung mual saa muntah liat warna merah." Katanya lagi biar Yun jelas.
"Oke, sementara lo ke lamar gue dulu." Katanya menawarkan karena keseluruhan bangunan yang ia tempati berwarna putih.
Rega mematikan hp-nya dan mengakhiri pembicaraan mereka, "Kita makan di kamar Yun aja dulu."
Ella mengangguk pasrah, kemana aja yang pentinh jangan sampek ketemu sama si merah.
"Tuan?" Sapa Rania heran melihat sepasang suami istri itu keluar dari dalam kamar dengan wajah sang istri yang pucat.
"Sementara kamar kami di renovasi kami pindah ke kamar lain."
"Ada yang salah tuan? Bukannya besok anda harus menjalani satu prosedur lagi sebelum melakukan transplantasi sum sum tulang belakang?" Rania heran kenapa mereka bisa meninggalkan kamar dan meminta merenovasinya, semua alat yang memadai telah di persiapkan di dalam kamar tersebut dan kamar lainnya tak memiliki.
"Tiba-tiba Ella merasa mual dan muntah melihat benda atau apa pun yang berwarna merah. Tolong bawakan makanan kami, sekalian singkirkan apa pun yang berwarna merah dari sana." Kata Rega menjelaskan.
Oh iya, sekertaris Yun...
Rania ngerasa ada yang aneh sama sekertaris tersebut, walau gak secara langsung tapi ia merasa kalau sekertaris tersebut secara diam-diam melihat dan memperhatikannya secara detail dengan tatapan mata yang susah di jabarkan. Bukannya geer tapi sedikit geer bolehkan di perhatiin orang seganteng itu... Siapa sih yang ngakui kalau tu sekertaris guanteng banget, cuma pembawaanya aja dingin banget ngalahin bosnya yang terkesan ramah dan hangat. Coba aja kalau senyum atau ramah sedikit Rania yakin bakal keren banget. Aduh... Mikir apaan sih gue???
Kerja Ran, kerja....
Cicilan rumaj lo pikirin jangan mikirin cowok melulu.
Rania menggelengkan kepalanya buat ngusir hal-hal yang gak penting di sana, lagian ya di kelilingi cowok-cowok tampan berkharisma bikin otaknya terkontaminasi dan ngayal yang enggak-enggak karenanya. Jiwa jomblonya meronta dan menangis, soalnya di umurnya yang sekarang Rania belum punya pasangan juga. Kalo mau cari pasangan doang sih gampang tapi cari yang baik dan serius itu yang susah karena jaman sekarang itu rata-rata cowok gak ada yang benernya, suka mainin perasaan cewek. Bukan tanpa alasan Rania mikir dan menananmkan pikiran kayak gitu di kepalanya karena ia pernah mengalami kegagalan hubungan terhadap lawan jenis yang akhirnya menyisakan trauma luar biasa buat yang namanya kaum ada tersebut dan memilih menutup hatinya buat yang namanya cowok. Rania pilih sendiri dan menolak beberapa laki-laki yang ingin dekat dengannya karena takut akan tersakiti lagi dan ia belum siap merasakan untuk yang ke dua kali. Berkelana dalam pikirannya membuat langkah kaki Rania kini ada di depan pintu, gak nyadar karena mikir kesana-kemari.
Tok tok tok
Rania membuka gagang pintu dan masuk setelah ia mendengar jawaban dari dalam, perlahan ia menutup pintu kembali dan melihat dua lelaki tampan dan satu wanita cantik sedang berada di dalam. Mereka bertiga tampak sangat luar biasa, udah kayak keluar dari lukisan karena di mata Rania wajah mereka bertiga itu sempurna banget. Cewek bertubuh sedang ini berjalan menghampiri pasangn suami istri yang duduk di atas sofa, ia meletakkan nampan di atas meja. "Ada yang tuan inginkan lagi?"
Rega mengambil hp dari dalam sakunya dan meletakkan di atas meja, "Di dalam sini ada no kami bertiga, jadi kalau ada sesuatu anda bisa menelponnya juga ada no dokter Raka."
"Maksud tuan?" Bukannya itu hp yang tadi gue beli? Hp yang harganya 3 bulan gajih gue, orang kayak gue mana mampu beli kayak gituan. Lagian tadi bilangnya auruh yang paling baru dan paling bagus, apa gue belinya kemahalan ya?
__ADS_1
"Sillahkan anda memakainya nona Rania,"
"Saya?" Tanya-nya bingung saat melihat hp mahal tersebut dengan mengerjapkan matanya perlahan gak percaya.
"Iya, saya memberikannya sebagai hadiah dan terimakasih saya."
"Tidak tuan, terimaksih atas pemberian anda. Saya melakukan tugas ini semata-mata karena...,"
"Maaf kalau saya menyinggung anda, tapi saya minta anda menerima. Saya mungkin akan menyusahkan anda setelah ini karena keadaan istri saya dan saya sendiri memerlukan anda untuk merawat kami." Kata Rega memotong, Rega juga mengeluarkan kartu kredit dari dalam sakunya. "Pakailah kartu ini untuk membeli semua keperluan sehari-hari anda, karena saya yang bertanggung jawab atas keperluan anda selama saya di sini."
Rania mengerjapkan matanya cepat, tadi hp mahal dan sekarang kartu kredit. Ternyata orang kaya itu emang luar biasa, tapi yang satu ini luar biasa royal sampek biaya hidup dirinya aja di tanggung sepenuhnya. "Maaf tuan, saya benar-benar tidak bisa." Katanya lagi menolak, karena Rania tulus bekerja bukan untuk mencari uang seperti ini.
"Yun, temeni gue ke kamar biar Ella di temeni sama nona Rania disini. Bisa kan Nona anda menemani istri saya makan?" Tanya Rega pada Rania yang berdiri di dekat jendela.
"Iya tuan."
Rega memberikan kode pada Yun untuk segera keluar.
*******
Hi Readers yang budiman....
Gimana nih kabarnya semua?
Kalo Author kabarnya tuh di sini ujan terus dan jemuran author sampek berhari-hari gak kering karena mataharinya pelit banget buat nongol yang ada tu hujannya pakek formalin. Awet banget gak berhenti-henti yang bikin betah di rumah dan ngemil melulu πππAcungkan jarinya yang timbangannya geser kanan.....
Berarti kaliam senasib dan sepenanggungan sama author πππ
Sekarang masih hujan dan mataharinya gak nongol-nongol bikin jemuran author awet banget dalam keadaan lembab.
π€£π€£π€£π€£π€£
Yang penasaran sama sosok Rania?
Tu muncul di Labirin Cinta buat lebih detailnya entar ya...
Makanya kalo gak mau penasaran tambahin aja favorit kalian Labirin Cinta dalam rak buku kalian yach....
Oh ya, makasih buat kalian semua yang setia buat nunggu Up dan baca novel yang author tulis ini, episodenya itu udah puanjang dan banyak banget. Semoga aja kalian gak bosen di buatnya karena kepanjangan gak kelar-kelar ππ
__ADS_1