
Ella yang lagi asik masak di dapur buat makan malam suaminya itu melakukannya dengan senyum merekah, kebahagiaan tersendiri karena suaminya hanya mau makan masakannya. Walau masih pengantin baru tapi Rega memperlakukannya kayak biasanya bikin mereka berdua gak ada rasa canggung sama sekali. Bahkan Rega lebih perhatian di bandingkan dulu saat mereka belum menikah hingga hal-hal terkecil sekalipun ia perhatikan yang bikin Ella tambah sayang. Rega menepati janji nya untuk menjadi suami, ayah, sahabat, kakak dan musuh untuknya hingga hubungan suami istri mereka tak terasa membosankan.
"TIDAK!!! "
Ella meletakkan spatula dan mematikan kompornya, mendengar suara jeritan dari dalam kamar yang sangat nyaring dan jelas tersebut membuatnya bertanya-tanya dan setengah berlari menuju kamar. Tampak Rega dengan wajah pucat dan keringat yang bercucuran, seprai yang semula rapi kini udah kusut dan berantakan. "Abi?" Katanya menepuk lembut pipi Rega untuk membangunkannya, entah apa yang suaminya itu mimpikan hingga keringat dingin membanjiri seluruh tubuhnya. "Bi?" Lebih keras lagi menepuk pipinya biar melek matanya, tak ada tanda-tanda Rega bangun bahkan gerakannya semakin gak karuan. Rega bergerak tak beraturan dengan tangan menggapai-gapai di udara, seolah ingin meraih sesuatu dan tak mendapatkannya. Mungkin kalo dulu Ella bakalan tega bangunin dengan nyiram air, tapi kalo sekarang gak tega lagian gak mau kualat nyiram suami sendiri pakek air. Ella menempelkan bibirnya pada bibir Rega dan memberikan sentuhan disana untuk membangunkannya. Biasanya ini sangat efektif untuk membangunkan Rega dan bikin mereka melanjutkan yang lebih dari sekedar ciuman karena otak Rega yang luar biasa mes dan gak ada puasnya.
Rega yang tersadar dari tidurnya itu membuka mata dengan pemandangan yang tak ia bayangkan, Ella menindih badan dan menciumnya dengan lembut. Rona wajahnya tampak jelas terlihat, walau mereka sudah menjadi suami istri namun setiap melakukannya Ella masih malu-malu dan wajahnya memerah. Rega mendorong tubuh Ella dan memberikan jarak di antara mereka, nafasnya terengah-engah dan memindai setiap inci bagian tubuh istrinya tersebut. Mengulurkan tangannya dengan harapan besar bahwa ini adalah kenyataan dan bukan mimpi, wajah yang selalu ia ingin liat setiap hari kini ada di tangannya dengan kehangatan yang menenangkan di seluruh tubuhnya. Mata itu, bibir dan hidung Ella semua tak luput dari sentuhan tangannya dan tampak nyata.
"Abi kenapa?" Tanya nya heran melihat Rega menatap dan menyentuh wajahnya dengan ekspresi tak terbaca yang membuatnya bingung.
"Lo gak pa-pa?" Memutar badan Ella dan menyentuhnya disana sini.
Plak
Ella memukul tangan jahil Rega itu, malu banget rasanya kayak gini masak sampek baju di buka segala. "Apaan sih?" Katanya sewot merapikan bajunya yang udah terangkat. "Gak cukup apa tadi udah ngelakuin? Baru bangun udah main buka-bukaan."
"Bangun?" Kali ini Rega yang terlihat oon dengan pernyataan Ella, bahkan wajahnya gak bisa menyembunyikannya.
"Iya, tadi baru pulang langsung tidur padahal Abi lo tidurnya lama banget dari siang sampek ini mau malam, di luar aja mulai gelap. Ella gak tega bangunin soalnya Abi keliatan capek banget mana dua hari gak pulang lembur sama Yun di kantor." Katanya dengan merapikan selimut yang udah terdampar di lantai, gak tau gimana gaya pas tidur sampek kayak gini bentuknya kamar. Resiko jadi istri bang toyib yang gak pulang-pulang buat cari sebongkah berlian.
"Tapi...," Rega masih bingung dengan apa yang Ella katakan. "Bukannya tadi kecelakana? Anak kita gimana keadaan anak kita?" Rega menarik pinggang Ella dan mendudukkan di pangkuannya, mengelus perut istrinya itu dengan tangan gemetar.
"Anak apaan? Kita baru aja nikah... " Jawab Ella bingung, tingkah Rega berubah aneh bin ajaib seketika bangun dari tidur. "Abi kenapa sih?" Memposisikan hingga menghadap wajah suaminya yang pucat dengan keringat dingin bercucuran, menangkupkan kedua tangannya hingga memaksa Rega menatap wajahnya. "Sebenarnya Abi kenapa sih?" Katanya cemas liat kelakuan Rega yang aneh itu.
__ADS_1
"lo baik-baik aja? Gak kecelakaan? Gak hamil? Baju yang ada di dalam lemari?" Tanya nya panjang kayak kereta api.
"Ngomong apa sih? Kecelakan apa yang Abi maksud? Gimana mau hamil orang Abi setiap ngelakuin pakek pengaman kok. Lagian baju yang dalam lemari ya masih dalam lemari mau di kemanain coba?" Jawab Ella bingung, ni orang kenapa bangun-bangun jadi linglung gini? Apa karena kerja gak ada istirahat jadi otaknya ikut gesrek gini? "Abi mimpi apaan sih?"
Rega menatap lekat istrinya itu, apa benar yang ia alami cuma mimpi? Tapi semuanya tampak nyata tak terbantahkan. Bagaimana melihat Ella yang tertabrak mobil hingga hilangnya calon anak mereka itu bikin Rega menjadi sangat merasa bersalah dan frustasi. Memegang perut Ella yang emang masih datar dan gak ada perubahan sama sekali sejak pertama mereka bertemu. Ada rasa kecewa saat mengetahui perut istrinya dalam keadaan tak berisi.
Ella yang melihat perubahan raut wajah Rega menjadi sedih itu merasa bahwa Rega sangat menginginkan mendapatkan anak dengan cepat, apa mau di kata karena ia harus melanjutkan pendidikannya membuat Ella harus menunda kehamilannya hingga tepat waktunya. "Kalo Abi mau anak secepatnya, Ella rela kok nunda kuliah Ella sampek tahun depan."
Rega yang dengar istrinya ngomong kayak gitu langsung menarik tangannya, rasa bersalah langsung menyergapnya. Dari awal ia tak ingin Ella mengorbankan cita-citanya hanya karena pernikahan mereka, namun mendengarnya secara langsung dari mulut Ella sendiri bikin Rega bahagia dan sedih. "Maaf, bukan maksud Abi gitu..., setiap orang yang nikah pasti mau punya keturunan tapi Abi gak mau sampek ngorbanin cita-cita istri Abi ini. Abi cuma kebawa perasaan aja karena mimpi jelek." Memeluk Ella yang masih duduk di pangkuannya itu penuh rasa syukur karena semua itu hanya mimpi buruk yang terbentuk dari pikiran yang gak seharusnya ada.
"Mimpi jelek apaan sih? Tadi Abi teriak-teriak gak jelas sampek keluar keringat dingin gitu."
Rega melepaskan pelukannya dan mencium bibir Ella kilat, menatap matanya dengan perasaan campur aduk yang susah buat di omongin. Gak tau mau ngapain lagi, gak tau mau bersyukur dengan cara apa karena istrinya itu masih bersamanya dalam keadaan sehat dan kini duduk di pangkuannya dengan aroma bawang menyengat yang ia pastikan kalo tadi lagi masak. Celemeknya aja masih di pakek, rambut di kuncir sembarangan yang bikin Ella semakin cantik dimatanya. "Mimpi Abi jelek banget, gak usah di bahas ya sayang? Abi gak sanggup buat ceritainnya. Yang jelas Abi bahagia banget kita masih bisa duduk barengan kayak gini, bisa meluk istri Abi yang bau bawang, masih bisa cium istri Abi yang bau asem." Katanya mencium pipi Ella bahagia, seandainya mimpi buruk itu adalah kenyataan Rega tak tau harus bagaimana ia menjalani hidup tanpa Ella bersamanya. Memikirkannya saja bikin dada Rega kembali sesak dan tak terasa air matanya mengalir dengan sendiri.
"Kenapa sih jadi cengeng kayak gini?" Katanya menahan tawa, liat Rega yang tiba-tiba melow itu rasanya agak lucu. Biasanya galak apa lagi kalo udah di kantor berubah jadi garang luar biasa. "Kalo bawahan Abi tau bos mereka aslinya cengeng gini pasti mereka gak ada yang takutnya sama Abi." Terkekeh geli membayangkan.
"Apaan sih? Emang Ella pernah mikirin cowok lain?" Katanya protes, lagian ya udah jadi bini orang mana mungkin mikirin yang lainnya. Lagian selama ini Ella gak pernah kenal yang namanya cowok dan memulai segalanya cuma dengan orang yang kini jadi suaminya itu, Rega menjadi yang pertama darinya.
"Iya, percaya...," Kembali m****** bibir Ella dan memperdalam ciumannya hingga tanpa sadar membuka celemek yang istrinya pakai itu sembarangan, membuka setiap kancing dan melepaskannya dengan tangannya sendiri.
Ella yang sadar Rega dalam keadaan penuh hasrat itu mencubit pinggang suaminya itu untuk menghentikan aksinya yang bentar lagi bakal berkelanjutan dan gak bakalan bisa berhenti kalo udah mulai. "Ella belum mandi, masih bau macem-macem soalnya tadi lagi masak." Katanya cepat sambil berdiri, kalo kelamaan duduk di pangkuan Rega bakalan jadi berjam-jam gak kelar-kelar.
"Kita mandi bareng aja, lagian Abi juga belum mandi kok sayang." Menahan tubuh Ella biar gak beranjak, "Lo tau gak, hal terburuk yang paling Abi takutkan di dunia ini kehilangan istri Abi yang bawel ini. Mungkin Abi lebih milih buat mati di bandingkan kehilangan omelan-omelan yang nyakitin telinga tapi ngangenin." Menenggelamkan kepalanya di leher Ella dan memeluknya erat, tak ingin melepaskan pelukan itu. Masih segar ingatannya bagaimana rasa frustasi yang begitu nyata ia alami saat kehilangan istri dan calon anaknya yang ternyata semua itu hanyalah mimpi belaka.
__ADS_1
"Hush! Jangan ngomong sembarangan. Lagian siapa yang mau ninggalin Abi, Ella tu maunya cuma sekali nikah seumur hidup Ella.
Lagian yang Ella cari tu apaan coba di luar sana dari cowok lain? Suami Ella yang super mesum ini udah punya semua yang Ella mau." Membalas pelukan Rega dan mencium pipinya. "Ella tu sayang baget sama Abi, gak mungkin Ella ninggalin Abi buat cowok lain." Katanya tulus, Rega telah membuktikan bagaimana ia bersikap baik bahkan sangat baik.
Rega mengangkat tubuh Ella tanpa menurunkannya.
"Mau kemana?"
"Mau mandi bareng, sekalian nyicipi hidangan pembuka sebelum makan malam. Abi udah laper banget pengen nyicipi istri Abi yang lezatnya tiada tanding. Pas hamill mertua Abi pakek penyedap apa jadi keluarnya kayak gini? Gak puasnya di cicipi kalo gak dimakan. Itu juga gak bikin kenyang junior Abi malah bikin laper. " Godanya dengan menempelkan hidungnya ke hidung Ella dengan menghadiahkan ciuman-ciuman kecil di seluruh wajah Ella.
"Kalo Abi emang mau kita secepat mungkin punya anak, Ella gak keberatan buat nunda kuliah Ella." Katanya dengan wajah memerah karena Rega menciumi lehernya dengan lembut bikin bulu kuduknya berdiri seketika.
"Enggak kok sayang, Abi masih bisa nunggu sampek bener-bener siap. Segala sesuatu yang tergesa-gesa itu gak bakalan baik, lagian Abi udah janji bakal dukung cita-cita mulia dari istri Abi yang gemesin ini dan gak mau batesin istri yang paling Abi sayang. Kita lakuinnya pelan-pelan sambil nikmatin pacaran halal yang bikin Abi ketagihan mulu." Membuka pintu kamar mandi dengan kakinya dan membuka baju Ella satu persatu dengan tatapan mata mesum tak terbantahkan. Semua yang ada pada diri Ella adalah candu tersendiri yang membangkitkan bagian saraf tersensitif Rega yang tak bisa ia temui pada wanita lainnya dan membuatnya tak bisa merasa puas bahkan semakin menginginkan. "Love you honey..." Bisiknya sebelum hanyut dalam deru nafas memburu penuh hasrat yang tak mampu ia tahan lagi. Rasa syukur yang luar biasa itu Rega rasakan bahwa semua itu hanya mimpi yang ia bawa karena pikirannya saja, mimpi yang ada karena rasa tertekannya dan perasaan takut yang luar biasa.
*********
Hi Readers...
Yang lagi nunggu Up sambil ngomel kemarin siapa???
Makasih buat kalian yang udah nunggu Up dan masih setia baca novel author.
Jangan lupa like dan Vote nya kalo kalian suka dan itu bakalan berarti banget buat author dan jadi motivasi tersendiri yang greget banget dari kalian.
__ADS_1
Di rumah aja, jangan lupa menerapkan gaya hidup bersih di manapun dan kapan pun karena kalo bukan kita sendiri siapa lagi yang bisa membatasi dan memutus rantai wabag yang lagi melanda di seluruh negara di dunia.
ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤