
"Gue bakal jelasin semua, tapi untuk sementara gue tangani Rega dulu." Kata Raka yang baru datang dengan personil lengkap serta peralatan medis yang ia bawa, udah kayak boy band mau konser aja kalok. kayak gini. "Yun, tolong temani Ella." Pintanya melihat kondisi Ella yang syok berat saat ini, wajahnya tampak sangat kacau dan memerlukan seseorang untuk bersamanya.
"Gak, gue bakal tetap disini bareng kalian." Katanya dengan menatap nanar tubuh Rega yang tergeletak tak sadarkan diri tersebut, melihat Rega seperti itu bagaikan mimpi karena sangat bertolak belakang dengan apa yang ia perlihatkan sehari-hari.
"La, gue mohon kali ini dengerin gue.... Ini gak sesederhana yang lo pikirin dan gue minta kerja sama lo biar penanganan Rega bisa maksimal."
"Jadi gue di sini cuma ganggu? Apa susahnya sih gue tetep ada dalam kamar? Kamar ini gede banget dan gue bisa diem di pojok sana, kalian angga aja gue kasat mata." Kata Ella tegas tak ingin keluar dar kamarnya.
Tak ada waktu untuk berdebat, melihat karakter Ella yang keras seperti Rega Raka yakin apa pun yang ia katakan akan sia-sia. Raka memberikan kode pada Yun untuk membawa Ella keluar sementara ia memberikan penanganan pertama sebagai antisapasi.
Yun memapah Ella untuk keluar dari kamar, mencoba menenangkannya dan memberikan penjelasan sebisa mungkin dan sesederhana mungkin walau ia tau Ella pastinya akan lebih terkejut lagi saat mendengar semua kebenaran dan tentu saja Yun siap menerima akibat dari amukan wanita itu. Basic Ella sebagai dokter akan lebih mudah mencerna apa yang akan ia katakan. "Gue ambilin air minum dulu," Ujarnya setelah mendudukkan Ella di sofa yang menghadap ke luar, akan lebih nyaman membicarakannya dengan nuansa seperti ini. Saat Raka memberikan kode untuknya tadi Yun segera menyadarinya dan membawa Ella menenangkan dirinya.
"Gue...," Menahan tangan Yun untuk tetap bersamanya, memberikan penjelasan atas apa yang terjadi saat ini.
Yun melepaskan tangan Ella dan tersenyum lembut, "Gue bakal cerita semuanya, gue cuma ambil air minum buat lo."
Ella mengangguk pelan, menuruti apa yang Yun katakan karena saat ini mungkin ia memerlukan air minum untuk mengembalikan dan menstabilkan emosinya. Sesekali ia menoleh ke arah pintu kamar yang terbuka sedikit, ingin berada di sana melihat apa yang sebenarnya Raka lakukan. Ella tau persis bahwa kali ini sesuatu yang besar telah terjadi tanpa sepengetahuanya, melihat betapa sibuknya Raka di dalam sana dan betapa hebohnya para perawat dan dokter yang datang bersama laki-laki yang selain dokter pribadi melainkan teman baik Rega selama ini. Separah itu kah sakit yang suaminya derita? Betapa b*dohnya Ella tak menyadari apa yang Rega rasakan selama ini dan tampak baik-baik saja layaknya orang sehat pada umumnya.
"La?" Meletakkan gelas berisi air putih di tangan Ella, duduk perlahan di sampingnya dengan perasaan khawatir yang luar biasa. Selama mereka bersama Yun tak pernah sekali pun melihat Rega dalam keadaan seperti saat ini, Rega bukan orang yang lemah dan tak akan pernah menunjukkan pada orang lain kelemahanya yang tentu saja akan menjadi sesuatu yang membuat para pesaingnya mengincar semua itu. ia merogoh saku jasnya, mengambil satu butir obat kecil dari dalam botol kaca yang ia keluarkan. "Minumlah, obat penenang yang Raka kasih buat lo."
"Gue gak perlu ini," Menyingkirkan tangan Yun dari hadapannya.
"Udah, buat lo lebih tenang, lagian lo kan dalam keadaan hamil yang emosi lo sekarang gak bisa kita tebak." Meletakkan paksa obat tersebut di tangan Ella. "Obatnya aman buat ibu hamil." Tambahnya meyakinkan Ella yang terlihat ragu.
Mata sembab itu memandangi obat kecil berwarna putih yang ada di tangannya, menimbang apa kah ia akan meminumnya atau hanya membiarkan berada di telapak tangannya begitu saja. Apa yang Yun katakan memang benar, ia mungkin akan memerlukan sebagai salah satu cara meminimalisir emosi yang kadang Ella sendiri tak bisa mengontrolnya dan meledak dengan tanpa ia inginkan. "Kenapa kalian semua sekongkol buat bohongi gue?"
__ADS_1
"Minum dulu baru gue ceritain semuanya, gue bakal jawab semua pertanyaan lo."
Ella mengambil air yang ada di samping, sekali teguk obat kecil itu langsung meluncur ke dalam tenggorokannya. Ia telah melakukan apa yang Yun inginkan dan kini Ella menuntut apa yang Yun janjikan, menceritakan semuanya setelah ia melakukannya. "Gue siap, siap dengerin apa yang bakal lo ceritain."
"Sebelumnya gue minta maaf, dari awal gue dan Yun gak setuju sama apa yang Rega inginkan. Gue gak tau sejak kapan Rega mengidap penyakit Multiple myeloma, tapi Rwga baru cerita sekitar empat bulan yang lalu saat."
"Multiple myeloma?" Kata Ella mengulanginya, seolah ia pernah mendengar dan berusaha mengingatnya, "Itu..., bukannya sejenis kanker darah?" Katanya melambat dan tak yakin sepenuhnya, jika itu yang Rega derita maka saat ini... Ella langsung melihat ke dalam kamar yang masih ada Raka di dalam sana dan beberapa wak medis lainnya. Seharusnya ada tanda-tanda yang Rega tunjukkan sebelum menjadi seperti saat ini dengan keadaan yang Ella lihat dalam keadaan kritis.
"Iya, lo benar. Multiple myeloma merupakan salah satu jenis kanker darah yang kayak lo bilang tadi."
"Itu artinya...,"
"Saat ini Rega dalam kondisi kritis," Kata Yun lagi dengan wajah berubah sedih.
"Lo becanda kan? Lo bohongkan? Mana mungkin.... Selama ini Rega sehat, Rega gak pernah mengeluh apa-apa kecuali...," Ella membelalakkan matanya, menyadari gejala kecil yang tak pernah ia pikirkan bahwa itu adalah awal semuanya. "Kecuali Rega muntah dan badannya kurus...." Ella menggelengkan kepalanya cepat, merutuki keb*dohannya yang melupan hal seperti ini. "Jadi itu sejak gue hamil? Gue kira Rega ngalami ngidam? Gue kira kehilangan nafsu makan karena kehamilan gue, gue kira sering bilang capek karena banyak kerjaan dan gue kira semua itu...," Air matanya mengalir dengan deras saat kini menyadari Rega telah menunjukkan semua gejala sejak awal namun ia tak menyadari sedikitpun dan terlalu sibuk dengan urusannya. "Jadi, sakit tulang belakangnya selama ini di sebabkan ini semua??? Ha ha ha ha...," Ella menertawakan keb*dohannya sendiri. Istri dan dokter macam apa gue yang gak sadar apa yang suami gue sendiri rasain. Tawa itu kini berubah menjadi isak tangis tanpa suara yang hanya ada air mata sebagai jejaknya dan tadi ia memukul bagian belakang Rega dengan sekuat tenaga, Apakah tulang belakang Rega patah karena ulahnya tadi???
"Gimana gue gak mikir, seandainya lo dalam posisi gue gimana? Tiap hari lo bareng tapi lo gak pernah sadar dan tau, bahkan gue selama ini terlalu bergantung sama Rega tanpa tau keadaan dia yang sebenarnya. Gue juga sering nyuruh Rega hal-hal kecil yang seharusnya bisa gue lakuin sendiri. "
"Hei....Itu hal yang lumrah karena Rega itu suami lo, Rega suka kok lo ngelakuin gitu sama dia."
"Bukannya Rega harus mendapatkan donor sum-sum tulang belakang?"
"Iya, Willy sudah mendapatkan donor yang tepat."
"Willy? Maksud lo ka Willy?" Katanya setengah tak percaya, Ternyata Kak Willy ikut andil dalam hal ini? Kenapa semua orang diam? Kenapa gak ada yang cerita??? Ternyata kak Willy tau dan gak ngomong apa-apa sama gue? Semuanya sama aja.
__ADS_1
"Maaf La, gue sama Raka mengarang cerita tentang Rega. Rega bukan sindikat mafia, ketua atau apa lah itu. Semua itu Rega yang merencanakan, semua itu pengalihan biar lo percaya dan...,"
"Dan kalian bohongi gue? Biar gue gak tau? Biar Rega pergi sendirian buat transplantasi sum-sum tulang belakang dan menjalani masa pemulihan sendiri. Gitu kan???" Kata Ella memotong kata-kata Yun, "Jadi kalian sepakat ngarang cerita tentang orang-orang yang mencelakai Rega buat sembunyi dari gue, ngarang cerita sakit dan kematian Rega padahal itu semua adalah kebenaran." Ella tersenyum pahit, "Kalian semua benar-benar jahat...."
Yun hanya diam, mendengar dan menerima apa pun yang Ella katakan untuknya. Obat penenang yang Raka berikan sepertinya telah berjalan dengan sangat baik, terbukti Ella dapat melewati semua ini dengan emosi stabil dan tidak menunjukkan gejala yang meledak-ledak. Wanita hamil cenderung tak mampu mengontrol emosi mereka dan itu sangat membahayakan kondisi janin yang ada dalam rahim mereka. "Rega ngelakuin itu buat ngelindungi lo, dia gak mau saat lo tau bakal bikin sakit hati dan tentu saja jadi pikiran. Rega pengen lo jalani kehidupan normal dan saat melahirkan Rega bakal pulang buat nemenin lo. Hanya itu keinginan Rega, untuk itu ia menempatkan Ririn, Vino dan teman-teman lo lainnya yang benar-benar ia rasa menjadi orang yang bisa menggantikannya sementara ia pergi dan menghibur lo." Kata Yun yang akhirnya mengatakan semua rencana yang telah Rega susun. "Rega hanya ingin kalian hidup tanpa beban, cuma mau lo bisa melahirkan anak kalian dengan sehat dan lancar. Lo tau La, Rega mengalihkan hampir semua saham dan asetnya kalau transplantasi sum-sum tulang belakang ini gagal maka kalian mendapatkan hak kalian secara utuh. Rega sudah merencanakan semua itu jauh-jauh hari saat ia tau penyakit yang ia derita itu, semua itu Rega lakukan karena rasa cinta nya yang begitu besar." Ungkap Yun dengan menatap mata Ella yang merah dan bengkak. "Jadi gue mohon, tunggu Rega pulang. Tunggu Rega yang berjuang demi kalian, Rega berjuang buat lo. Selama ini dia menyembunyikan rasa sakitnya karena gak mau lo khawatir, dia cuma mau lo terus bahagia dan tersenyum." Yun menghapus air mata yang mengalir di pipi Ella. "Lo tau, seandainya bisa gue bakal milih buat gantiin Rega karena Rega bukan hanya sekedar saudara dan rekan tapi bagi gue dia adalah nyawa gue. La, gue menyayangi Rega melebihi nyawa gue dan gue akan pastikan Rega pulang dengan selamat dan berkumpul bersama kalian. Gue janji, gue akan bawa pulang Rega apa pun yang terjadi, selama kami berjuang bersama tolong lo juga harus berjuang dan tolong jaga Ibu. Hanya Ibu dan Rega yang gue punya di dunia, kalian berdua wanita yang Rega dan gue ingin lindungi."
"Yun... Gue akan ikut, gue ikut buat dampingi Rega."
Yun menggeleng pelan, "Kondisi lo gak memungkinkan, kalau ada apa-apa sama kalian gimana gue harus jelasin semua saat nanti rega sembuh?"
"Gue gak bisa..., gue gak bisa tinggal dan diam doang. Gue mau nemenin Rega..., dia suami gue dan di hati gue Rega sama pentingnya dengan tempat di hati lo." Ella mencoba meminta untuk bersama Rega, menemani hari-hari dalam masa pemulihan yang akan terasa sulit.
"La, kehamilan anak kembar lebih cenderung banyak resiko di bandingkan kehamilan biasa. Seharusnya lo lebih tau di bandingkan gue masalah kayak gini."
"Tapi kan gue bisa ngonsumsi obat selama dalam perjalanan, gue bisa ngonsumsi vitamin atau apa pun itu asalkan gue bisa nemenin Rega. Kalian gak punya hati banget sih?"
Kalo ngomongin masalah hati susah buat Yun berkata-kata, serba salah dan gak ada benernya. Kalau Ella bersikeras buat bareng Rega itu wajar tapi keadaan gak memungkinkan karena saat ini Ella dalam keadaan Hamil, apa lagi kondisi Ella yang anemia itu bikin serba salah. "Entar lo ngomong aja sama Raka masalah ini, kali aja dia punya solusi."
*******
Hi Readerd...
Makasih ya buat kalian yang masih setia nunggu Up novel author dan tetap setia buat baca.
Jangan lupa like dan vote-nya buat kalian yang suka sama novel author yang jadi penyemangat tersendiri buat author tetap berkarya.
__ADS_1
Terimakasih like dan vote dari kalian serta waktunya, yang kalian lakukan itu luar biasa. Author sangat-sangat berterimakasih.
Tetap di rumah aja ya...Makin lama makin banyak aja korban dari pandemi yang lagi naik daun di seluruh dunia. Author rasanya sedih karena masih banyak orang yang sadar sama bahaya dan masih banyak yang keluyuran gak jelas di luar sana, padahal apa susahnya sih diam di rumah???