Cinderella Jaman NOW

Cinderella Jaman NOW
Bakti Seorang Anak


__ADS_3

"Gimana?" Tanya Ella yang udah di dalam mobil dalam perjalanan saat Sonia nelpon.


"Mommy udah di bawa ambulan ni gue juga ikut jadi lo langsung aja ke rumah sakit." Memberi tahu posisi mereka kali aja selisih si jalan.


"Oke, gue bareng Rega langsung ke rumah sakit. Gue bakal telpon dokter kandungan, jadi Mama bisa langsung di tangani. Bisa gak lo kasih hp buat perawat yang ada di sana?" Ella cuma mau memastikan ke adaan Mamanya, karena umurnya udah lumayan tua buat melahirkan dan pasti resiko melahirkannya lebih banyak di bandingkan yang masih muda.


"Oke, ni gue kasih." Sonia memberikan hp nya pada perawat wanita yang ada di sampingnya, dan yang satunya lagi sibuk nenangin pasien yang udah merah mukanya nahan sakit.


"Halo Nona?"


"Iya, saya Ella anak dari Ibu yang akan melahirkan. Kebetulan saya mahasiswa kedokteran semester tujuh, bisa anda katakan bagaimana kondisi Mama saat ini? Karena usia Mama lebih dari kepala empat saat ini." Kata Ella.


Perawat yang bernama Nanda itu mengernyitkan alisnya, masak iya yang lagi kesakitan di depannya itu umurnya udah kepala empat? Gak keliatan banget soalnya masih muda dan sangat cantik alami.


"Iya dok, saya Nanda. Mama anda saat ini dalam keadaan pecah air ketuban dan pembukaan empat." Katanya menjelaskan keadaan pasien. "Mungkin kami akan tiba kurang dari tiga puluh menit."


"Oke, Perawat Nanda tolong lakukan apa pun yang terbaik. Terimakasih atas kerja kerasnya."


"Sama-sama dokter." Nanda memberikan hp itu kembali ke pememiliknya. "Nyonya, tarik nafas perlahan dan hembuskan...." Katanya membimbing dan memegangi tangannya untuk memberikan semangat seperti yang biasa ia lakukan dalam keadaan seperti ini.


Rega mengambil hp nya, siapa lagi kalo bukan Raka sahabatnya yang bakal ia hubungi di saat seperti. Raka menjabat sebagai dokter pribadi Rega dan direktur utama di rumah sakit yang keluarga Rega miliki.


"Hallo?" Kata Raka malas, soalnya baru aja pulang dari lembur di rumah sakit dua hari ini. Rasanya badannya udah kayak agar-agar saking capeknya, malah nambah telpon dari Rega jam segini yang bikin firasat buruk plus bulu kuduknya merinding. Pasti permintaan anehnya kumat lagi yang gak kenal waktu.


"Gue gajih sama kasih jabatan lo bukan buat enak-enakan tidur kayak gini." Kata Rega yang tau persis kalo Raka lagi lagi tidur karena suaranya terdengar serak khas orang baru bangun tidur.


"Gue baru pulang tau, ni aja baru mau lepas landas udah lo bajak pesawat gue. Ada apa nelpon gue jam segini?" Katanya ketus, kebiasaan banget kalo perlu pas mau menikmati waktu berharganya.


"Mertua gue mau lahiran, lo cari dokter obgyn (dokter kandungan) wanita." Katanya sambil sesekali menerima suapan istrinya dari bekal yang Bu Sumi bawakan tadi, dan ternyata emang mereka berdua dalam kondisi kelaparan dan bekal itu sangat membantu.


"Hah??? Ella lahiran??? Kapan hamilnya??? Kok gue gak tau???" Raka langsung terduduk dan kesadarannya kembali sepenuhnya mendengar Ella yang mau lahiran sambil bingung mikir lagi kapan hamilnya.


"Kuping lo b*deg apa? Makanya bangun jangan molor?! Yang mau ngelahirin itu mertua gue bukan istri gue. Pokoknya gue gak mau tau sampai disana semua harus siap dan awas kalo lo gak datang bakal gue pecat lo dari jabatan lo dan gue pastiin gak ada satu rumah sakit pun yang bakal nerima lo lagi." Rega memutuskan pembicaraan dengan ancaman yang mampu bikin orang pingsan langsung bangun.


Raka terlonjak mendengarnya, baru aja nikmatin punya jabatan udah mau di pecat dan itu salah satu modal buat Raka melamar pujaan hatinya dan meyakinkan hati kedua orang tua Anggun untuk menerimanya sebagai menantu. Masa iya pas ngelamar dalam posisi pengangguran? Kan gak keren banget... Ternyata gak ada enaknya kerja sama Rega yang moodnya naik turun itu, yang ada malah jantungan kalo gini terus. Tau gini dulu gak mengajukan diri buat jadi dokter pribadinya yang akhirnya pusing sendiri. Apa lagi Rega yang kalo udah ngomong bakal ngelakuin dan bukan sekedar ancaman, bukan cuma ngomong doang itu yang bikin Raka gak bisa berkutik. Tanpa pikir panjang dan demi buah hati yang belum di rencanain (masih rencana mau nikah sama Anggun) akhirnya dengan terpaksa Raka menyerat langkahnya dengan malas dan sumpah serapah yang ia tujukan buat Rega saking kesalnya.


Semua staff dan seluruh pegawai rumah sakit dari OB, perawat, bidan dan dokter berdiri di pintu masuk utama untuk menyambut tamu agung yang hampir gak pernah menginjakkan kaki kerumah sakit ini, siapa lagi kalo bukan pewaris dan pemilik rumah sakit yaitu Tuan muda Rega Adiyaksa Mahendra yang menjadi satu-satunya penerus dari keluarga tersohor itu. Setelah mendapatkan telpon dari direktur utama mereka bahwa salah satu keluarga Mahendra akan melahirkan di rumah sakit ini maka semua orang kalang kabut kayak ada gempa bumi, semuanya langsung bersiap menyambut kedatangan orang yang rumornya udah sampai kemana-mana. Rumor yang beredar bahwa Rega adalah orang yang selalu mengedepankan kesempurnaan dalam pekerjaan dan gak ada ampun buat mereka yang teledor dan konsekuensin tanpa ampun.


Dengan tergopoh-gopoh dan rambut acak-acakan Raka menutupi piyama tidurnya dengan jas panjang berwarna putih, untung tu jas panjang jadi gak keliatan pakek piyama.


"Dokter Raka, apa anda ingin minum sesuatu dulu?" Kata seorang perawat yang dulu menjadi asistennya saat masih menjadi dokter umum, merasa prihatin melihat penampilan dan keadaan dokter ganteng itu saat datang. Cuma bisa nahan senyum pas liat sandalnya beda sebelah, yang sebelah pakek sandal rumah dan sebelahnya lagi pakek sepatu. Apa lagi masih ada tutup mata di atas kepalanya, pasti dokter itu waktu kembali ke rumah sakit dalam keadaan setengah sadar. Soalnya baru aja pulang udah balik lagi.


"Gak usah, apa semuanya udah siap? Dokter Lina sudah datang?" Tanya Raka yang lebih mementingkan layanan yang bikin heboh satu rumah sakit itu di bandingkan dengan keadaannya sekarang. Kalo Rega sampek datang semua belum siap bakal kacau dunia persilatan yang berakhirnya bumi berputar pada porosnya.


"Dokter Lina sudah datang sebelum anda datang, beliau tengah melakukan persiapan dan mensterilkan diri di dalam ruangan beserta perawat dan bidan lainnya." Katanya menjelaskan.


Raka akhirnya bisa bernafas lega, selamat nyawa dan kerjaannya itu. Untung aja Rega sama mertuanya belum datang, kalo gak bakalan tamat riwayatnya di rumah sakit ini.


Semua orang berdiri dengan tegang saat ambulan dan satu mobil mewah yang mengiringi tiba, beberapa orang telah siap dengan tugas mereka masing-masing dalam posisi yang telah di arahkan. Saat pintu mobil ambulan terbuka dua orang perawat yang siap dengan brankar langsung berlari mendekati ambulan, Rega yang melihatnya langsung turun dan menggendong sendiri Mama mertuanya itu dengan kedua tangannya. Wajahnya pucat dan berkeringat, seketika Rega teringat mimpi yang ia alami dan ia segera meletakkan di atas brankar yang langsung di bawa oleh dua orang perawat memasuki ruangan. Rega hanya bisa melihatnya dengan tatapan nanar, apa kah nanti Ella akan mengalami hal yang sama saat ia akan melahirkan?


Ella mendekati Sonia yang mematung tanpa sepatah kata pun, "Son, lo harus kuat dan gue bakal mendapingin Mama selama persalinan. Hubungi Papa sampai benar-benar tersambung." Katanya menyadarkan Sonia yang melamun, "Lo tau, dia jug Mama gue dan gak ada satu pun anak yang biarin orang tuanya gitu aja." Ella memeluk Sonia untuk menguatkannya, keadaan Mama Devi sangat memprihatinkan. Tubuhnya lemas dan hampir gak sadarkan diri. "Sayang, tolong temani Sonia. Hubungi Papa atau siapa pun yang berhubungan dengan Papa." Menyerah hp nya di tangan Rega, "Bersihkan dulu darah yang ada di tangan Abi biar ganteng."

__ADS_1


Rega mengangguk dan meminta salah satu perawat mengambilkan kursi roda untuk membawa Sonia yang dalam keadaan syok tersebut. Mata Rega menangkap sosok Raka yang tengah sibuk dalam keadaan yang menurutnya kurang lebih kayak badut, kontan Rega menariknya. "Lo malu-maluin gue, mana ada direktur rumah sakit kayak badut gini?" Mengambil dan membuang sembarangan tutup mata yang ada di kepala Raka.


Raka melotot, ternyata benda itu dari tadi ada di atas kepalanya. Pantas aja tadi masuk semua orang pada ngeliatin, "Ini juga gara-gara elo nyuruh gue cepet datang."


"Lo ikut masuk?" Kata Rega.


"Iya, gue dan Ella bakal di dalam sana buat ngelakuin yang terbaik. Jadi lo tenang aja, kami akan mengusahakan yang terbaik buat Mertua lo." Menepuk bahu Rega pelan karena terlihat ia sangat cemas, "Tolong temani dan hibur Sonia." Raka berlari mengikuti yang lainnya untuk bersiap-siap karena kemungkinan besar mereka akan melakukan operasi caesar karena kondisi pasien sangat tidak memungkinkan melahirkan secara normal.


Ella yang udah siap bersama dokter Lina itu menunggu proses anastesi yang di lakukan oleh ahlinya. Mereka akan melakukan operasi caesar darurat karena pasien mengalami pendarahan hebat demi menyelamatkan nyawa ibu dan bayinya.


Saat Raka bergabung ia melihat wajah Ella yang tampak sangat khawatir melihat kondisi Mamanya saat ini, bagaimana pun seorang anak gak bakalan merasa tenang saat seperti ini. Walau pun tadi ia terlihat kuat dan tegar saat membesarkan hati saudaranya. "Dokter Lina adalah dokter profesional dalam bidangnya, jadi lo gak usah khawatir. Kita akan melakukan yang terbaik buat Mama lo, kita akan berjuang bersama-sama."


Ella mengangguk dan meyakinkan hatinya sendiri, ia berjalan dan mendekati Mama yang menutup matanya. "Ma, Ella bakal dampingi Mama. Mama harus ingat kita semua sayang Mama dan mengharapkan malaikat kecil yang ada dalam rahim Mama tumbuh bersama keluarga kita. Mama harus kuat dan kita akan berjuang bersama-sama, Ella sayang Mama dan Ella mohon jangan tinggalin Ella apa pun yang terjadi." Mencium kening Mama lama dengan berdoa di dalam hati.


Setelah semua persiapan di lakukan, akhirnya Raka memimpin doa sebelum mereka melakukannya. "Baiklah untuk rekan-rekan sekalian, kita akan berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing agar apa yang kita lakukan hari ini berjalan dengan lancar tanpa ada kekurangan satu pun. Berdoa mulai."


Semua tampak khitmat berdoa dengan memejamkan mata mereka, meminta kelancaran dan kemudahan dalam operasi yang akan mereka lakukan sebentar.


"Selesai...," Semua orang mengambil posisi dalam bidang mereka.


Dokter Lina yang di percaya memimpin langsung bertindak, ia membuat sayatan kecil pada kulit di atas tulang ******** pasien dan meneruskannya perlahan hingga sampai kd rahim. Dengan penuh harap Ella menggenggam tangan Mama Devi dan membisikkan hal-hal yang menyenangkan. Gak berapa lama Dokter Lina telah mengangkat malaikat kecil yang masih berlumuran darah itu, menyerahkannya pada Ella sebelum di serahkan kepada perawat untuk di bersihkan dan di lakukan pengukuran tinggi, berat badan dan lain-lainnya. Ella memandang bayi mungil tersebut dengan kulit putih pucat, bibir merah dan rambut berwarna jagung. Tangannya gemetar karena luapan bahagia, ia melihat secara langsung adiknya telah lahir dan menjadi orang pertama yang menyentuhnya setelah dokter Lina.


Raka tersenyum melihat Ella yang berkaca-kaca, menciumi malaikat kecil itu dengan sayang. "Lo sudah siap buat jadi seorang Ibu." Katanya yakin, "Setelah ini kita akan membicarakan program kehamilan dengan dokter Lina. Bagaimana dok?"


Dokter Lina mengangguk, "Tapi, lebih bijak kalau Nona Ella menyelasaikan studi kedokterannya sebentar lagi dokter Raka, karena sekarang dia dalam proses yang menguras waktu dan pikiran." Katanya lagi. "Saya tidak dapat menjamin keberhasilannya bila melakukannya saat ini."


"Baik, saya akan menunggu dok dengan sabar. Sebentar lagi," Menyerahkan bayi mungil tanpa dosa itu kepadaa perawat.


"Bagaimana dengan stok darah yang kita miliki?"


"Stok darah kita di rumah sakit saat ini sedang kosong dan baru di gunakan beberapa menit yang lain oleh pasien lain, kami sudah memeriksa ke rumah sakit dan PMI tapi mereka bilang stok kosong dengan golongan darah yang sama dengan pasien."


Raka menatap cemas, bagaimana mungkin hal seperti ini bisa terjadi.


"Golongan darah Mama apa?"


"B negatif dok."


Ella tersenyum senang, pasalnya golongan darah Mama Devi ternyata sama dengannya dan itu menjawab semuanya. "Saya, golongan darah saya B negatif."


Raka menarik tangan Ella, "La, gak mungkin lo ngelakuin itu. Sedangkan lo sendiri dalam keadaan kekurangan hemoglobin dan darah, itu membahayakan nyawa lo."


"Dokter Raka, yang ada di depan kita saat ini adalam Mama Ella. Anak kecil yang gak berdosa itu masih memerlukan kasih sayang dari Mama, dan bagaimana mungkin seorang anak membiarkan orang tua mereka dalam keadaan kritis? Apakah kita bisa menunggu lebih lama lagi dokter? Jangankan Mama, Ella bakal ngelakuin hal yang sama kalau pun itu orang lain Apa lagi Mama Ella sendiri."


Raka mengendorkan cengkraman tangannya, menatap Ella dengan tatapan mata gak yakin. "Baik kalau itu keputusan yang lo mau,"


Ella melepaskan pakaiannya dan mengikuti perawat untuk di ambil darahnya.


Rega yang melihat Ella keluar dari ruang operasi segera berdiri di ikuti oleh Sonia.


"Gimana keadaan Mommy?" Tanya Sonia dengan mata berair.

__ADS_1


"Lo tau, adik kita laki-laki dan dia sangat tampat. Wajahnya sangat menggemaskan dengan rambut berwarna jagung." Katanya seceria mungkin memberikan kekuatan untuk Sonia yang tampak sangat kacau.


"Benarkah?" Katanya dengan senyum terkembang dari sudut bibirnya dan menghapus air matanya yang dari tadi keluar dengan sendirinya.


"Sayang?" Rega menarik tangan Ella, merasa ada sesuatu yang di sembunyikan dari wajah bahagianya yang ia perlihatkan tadi. Bagaimana pun Rega mengetahui istrinya melebihi siapa pun.


"Iya gak pa-pa, Ella ada urusan sebentar. Bentar lagi adik kecil kita bakal di pindahkan keruangan bayi kalau udah bersih dan harum." Katanya dengan melepaskan tangan Rega dan berlari kecil mengikuti perawat yang lebih dulu berjalan di depannya.


Rega hanya memandangi kepergian Ella dengan tatapan khawatir, gak berapa lama perawat membawa bayi yang telah bersih tersebut ke ruangan khusus bayi. Matanya bagai tersihir melihat tubuh mungil itu.


"Tuan, apakah anda ingin menggendongnya?" Kata perawat yang sejak tadi melihat laki-laki tampan di depannya itu terdiam dengan mata tak lepas dari bayi mungil yang ia gendong.


"A-apakah boleh?" Kata Rega ragu.


"Tentu saja." Menyerahkan bayi yang ada dalam gendongannya dengah perlahan.


Rega melihat dengan perasaan hangat dan bahagia, pantas saja Ella selalu merengek dan menginginkannya. Hanya dengan memegangnya seperti ini saja membuat Rega merasakan perasaan damai yang luar biasa yang gak pernah ia rasakan. Semuanya tampak sangat mungil di tangannya, mungil dan rapuh yang memerlukan perlindungan dari orang dewasa di sekitarnya. "Sonia, adik lo ternyata lucu banget." Rega menyentuh pipi makhluk mungil yang baru datang ke dunia ini, dan terasa sangat lembut di jarinya.


"Sini, gue juga mau gendong." Sonia mengulurkan tangannya untuk meminta menggendongnya.


Rega menyerahkannya dengan hati-hati, "Lo tunggu dulu, gue mau liat Ella dulu." Dengan langkah cepat Rega menuju tempat yang Ella masuki bersam seorang perawat, saat membuka gagang pintu ia melihat Ella yang lagi tiduran dengan mata terpejam dan selang yang ada di tangannya mengalirkan darah dari tubuhnya ke dalam wadah spesial untuk di transfusikan. "Sayang ngapain?" Rega duduk disampin Ella berbaring dan melihat wajahnya yang sangat pucat.


"Abi?" Ujarnya lemah dengan mata tertutup.


"Sayang? Bukannya Raka udah bilang buat gak ngelakuin donor darah? Kenapa?" Raka memperingatkannya bahwa anemia yang Ella alami tergolong anemia yang serius karena di barengi dengan menurunnya hemoglobin yang hanya tinggal separo dari hemoglobin wanita normal.


"Mama mengalami pendarahan hebat dan harus melakukan transfusi darah malam ini juga, kalau itu gak di lakuin bakal bahayain nyawa Mama." Jawabnya lemah, rasanya udah gak gak kuat lagi. Tapi kalo bikang kayak gitu pasti perawat bakal menghentikannya, padahal belum penuh satu kantong.


"Nona, bukannya rumah sakit kita memikiki stok darah yang memadai?" Tanya Rega.


"Maaf tuan, darah yang sama persis dengan pasien cadangan terakhir telah di pakai oleh pasien lainnya dalam transfusi darah. Kami telah menghubungi beberapa rumah sakit dan PMI serta semua yang terkait namun semuanya nihil."


Rega menggenggam tangan Ella yang mulai dingin, bahkan wajahnya kini lebih pucat di bandingkan tadi. Ia dapat bernafas lega saat satu kantong darah telah Ella berikan, dengan hati-hati perawat itu melepaskan jarum yang terhubung dengan selang. "Sayang?" Rega mengguncangkan bahu Ella perlahan, gak ada tanggapan yang bikin Rega makin takut. "Ella?Ayo bangun?" Lagi-lagi gak ada jawaban dari Ella yang membuatnya mengangkat tubuh mungil Ella dan berlari keluar. Tanga Ella terjuntai lemas saat Rega mengangkatnya, detak jantung laki-laki itu seakan berhenti saat menyadari keadaan istrinya yang saat ini sedang gak sadarkan diri.


Raka yang baru aja keluar dari ruang operasi melihat Rega yang berlari dengan menggendong Ella, "Ada apa?" Tanyanya yang awal melihat apa yang Rega lakukan udah punya firasat gak baik.


"Cepet, Ella gak sadarkan diri habis donor."


"Apa?" Raka menaiki lift mengikuti Rega untuk menuju kamar khusus yang hanya di pakai keluarga pemilik rumah sakit. " Tadi gue udah ngelarang Ella buat ngelakuin donor, tapi dia gak mau dengerin dan nekat. Ini yang gue takutin makanya gue ngelarang dia..." Kata Raka sambil sibuk menchat semua orang yang bisa membantunya mendapatkan kantong darah untuk melakukan transfusi darah untuk Ella secepatnya. " Siap kan kamar utama sekarang juga, hubungi semua orang yang bisa mencarikan dan memiliki hubungan dengan para donor darah dengan golongan B negatif secepat ya, masalah biaya gak jadi masalah dan kita memerlukan 5 kantong darah secepatnya." Ujar Raka. "Gue bakal berusaha sebisa mungkin buat nyelametin mertua dan istri lo." Raka menepuk bahu Rega pelan dan saat lift terbuka dengan cepat ia menuju ruang perawat untuk melakukan tindakan pada Ella yang saat ini kritis. Satu nyawa terselamatkan namun satu nyawa dalam ambang kematian.


***********


Hai readers sekalian...


Makasih ya buat kaliam yang masih setia nungguin Up dan masih setia buat baca novel yang author tulis ini.


Jangan lupa tinggalin jejak kalian dengan like, vote dan komennya.


Makasih yang udah luangin waktu buat like dan ngasih komennya dan relain votenya buat author, semua itu bikin author jadi semangat lagi dalam berkarya dan karena kalian semua author jadi seperti ini dan sampai saat ini.


😘😘😘😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2