
Devi yang sejak tadi melihat Ella tengah bermanja-manja dengan Willy hanya tersenyum, "Jangan di ambil hati, perasaan Ella murni hanya sebatas adik dan kakak. Bukan perasaan sebagai wanita dan laki-laki." Ujarnya kepada Rega tak ingin ada kesalah pahaman di antara anak dan menantunya tersebut.
"Iya saudara ipar, Ella emang kayak gitu kalo udah barenga Kak Willy. Jiwa anak-anaknya langsunh kumat." Tambah Sonia.
"Iya Ma, Rega tau. Mama tenang aja, aku gak bakaln ngambil hati atau cemburu sama apa yang Ella lakukan. Lagi pula aku tau hati Ella udah aku dapetin kok," Tersenyum ke arah Mama mertuanya, "Sonia, Ella emang kekanak-kanakan. Gak cuma bareng Willy doang tapi bareng gue." Kata Rega lagi, ingat gimana kelakuan Ella yang lebih parah di bandingkan anak-anak kalo mereka lagi bareng. "Jadi Mama gak usah khawatir...,"
"Sonya!" Pekik Ella dengan menatap tak percaya....
Devi yang tengah asik berbincang dengan anak dan menantunya itu langsung terdiam mendengar nama Sonya, matanya melihat ke arah Ella dan tatapan mataya membulat seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat kali ini. Apa yang aku lihat semua adalah nyata? Tidak..., bagaimana mungkin Sonya ada di sini? Aku telah mencarinya selama ini dan tak pernah menemukan keberadaannya.
Devi menggelengkan kepalaya cepat, mengusir bayangan Sonya yang ada karena keinginannya yang kuat telah menyebabkan ilusi karenanya.
Sonya? Apa benar itu Sonya? Sonia terperangah melihat saudara kembarnya tersebut, sudah lama sejak pertengkaran hebat yang terjadi terakhir kali dan membuat Sonya lebih memilih pergi dengan laki-laki yang menurutnya bisa membuat bahagia di bandingkan berasama keluarga yang ia anggap sangat memalukan dan tak bisa memberikan apa yang ia inginkan. Sonia teringat bagaimana hari-hari saat kepergian Sonya, keadaan Mama yang terpuruk dengan kesedihan karena kehilangan putri kesayangannya. Tanpa sadar, ia menggenggam tangan dan kakinya melangkah. Hatinya sangat sakit mengingat apa yanh Sonya lakukan, menyakiti orang yang paling ia cintai dan mampu lakukan apa pun untuknya.
Ella hanya terdiam, ternyata apa yang ia lihat tadi bukanlah kebetulan dan buktinya kini Sonya berdiri di depannya. "Sonya?" Katanya lirih.
PLAK!!!
Semua orang tertegun melihat apa yang Sonia lakukan, dengan tatapan mata tajam Sonia melayangkan tangannta ke arah Sonia dan menamparnya kuat. Ada bekas merah yang langsung terlihat disana karena ulah Sonia. Andika yang sejak tadi di dalam mobil dengan memangku Jo mau tak mau harus turun saat istrinya mendapat perlakuan seperti itu, ia tak tau apa yang tau bahwa apa pun masa lalu Sonya ia harus melindunginya sebagai seorang suami. Dari apa yang ia lihat, wajah keduanya sangat mirip. Bagai pinang di belah dua, dua orang dengan wajah, bentuk badan dan warna kulit yang sama berdiri secara berhadapan dan Andika tau bahwa dia adalah saudara kembar dari istrinya.
"Lo ngapain pulang hah? Gak cukup udah nyakitin Mommy?!"
Sonya menyapu pipinya yang sakit karena tamparan Sonia, tamparan itu memang tak sebanding dengan apa yang ia lakukan dahulu dan Sonya akan menerimanya karena itu layak ia dapatkan.
"Setelah apa yang lo lakuin, lo sekarang pulang." Melirik sekilas ke arah laki-laki yang muncul dari sebelah mobil dengan menggensong seorang anak laki-laki tampan.
"Sonia," Ella menarik tangan Sonia untuk mengingatkan apa yang ia lakukan dan menyadarkan amarahnya yang telah memuncak, menggelengkan kepalanya pelan untuk Sonia tidak berbuat lebih lagi.
"La, dia udah nyakitin Mommy La..., lo tau kan gimana keadaan Mommy saat anak durhaka itu ninggalin rumah ini demi laki-laki tua br*ngsek!" Ujarnya dengan amarah yang meledak-ledak.
"Sonia, itu masa lalu jadi lo gak usah ngungkit-ngungkit lagi." Ella menggenggam tangan Sonia berusaha menenangkannya sebelum amarahnya meledak kembali, Ella harus bisa menjaga perasaan Mama yang ada di belakang mereka saat ini.
"Gue gak perduli itu masa lalu atau apa pun yang jelas gue...,"
"Son, gue tau kalau apa yang gue lakuin salah dan gue terima apa pun itu." Kata Sonya dengan mata memerah, "Gue sadar...,"
"Bagus kalo lo sadar! Selama ini gue udah sabar ngadepin lo, semua tingkah konyol lo dan apa pun yang lo lakuin. Tapi gue gak bakal biarin lo nyakitin Mommy lagi, gue udah cukup sabar ngadepin lo selama ini dan diem."
"Sonia?" Ella memegang tangan Sonia dengan erat. "Dia itu saudara lo Son." Mengingatkan.
__ADS_1
"La, mana ada saudara yang selalu jatuhin mental, saudara yang selalu nganggap lo pembantu dan saudara yang selalu mengakambing hitamkan saudaranya." Menatap tajam Sonya yang hanya diam mematung tanpa suara. "Lo tau kan gimana Sonya memfitnah lo sampek Mommy ngusir lo dari rumah ini? Bahkan Mommy percaya dan main kasar sama lo." Katanya kesal, ingat semua yang Sonya lakukan bikin darahnya mendidih.
"Son..., jangan ungkit semua itu...," Pinta Ella.
"Lo bisa La ngomong gitu, tapi gue gak pernah rela dia nyakitin Mommy!"
Sonya menitikkan air matanya, apa yang Sonia katakan semuanya benar dan ia tak bisa membatahnya. "Udah Son, gue tau semua kesalahan gue gak bisa di maafkan." Mengangkat wajahnya, "Gue juga tau kalau gue udah kejam sama lo selama ini dan gue terima semua itu. Kalau lo mau mukul gue, gue gak bakal keberatan, gue terima asal itu bikin lo senang."
"Gue gak kayak lo, lo kira dengan kekerasan bisa bikin semua keadaan membaik? Jangan mimpi."
Rega yang hanya melihat pertengkaran dua saudara kembar itu memilih untuk menengahi sebelum semuanya menjadi lebih buruk lagi, bahkan Mama mertuanya sejak tadi menutuo mulutnya untuk menahan tangis yang siap meledak saat membukanya. Suasana semakin memanas karena Sonia tetap tak bisa menerima kehadiran Sonya dan menumpahkan segala kekesalan dan sakit hatinya selama ini. Tekanan yang kuat mungkin akan mempengaruhi kehamilan Sonya saat ini. "Gue yang ngundang dia kemari," Kata Rega dengan menyentuh bahu Sonia, "Anak kecil yang ada dalam gendongan itu harua tau kalau dia masih punya nenek, kakek, tante dan om disini." Rega berjalan memutar dan berdiri di samping Sonya dengan memasang senyum di wajahnya, "Maaf Sonya, mungkin sambutan dari saudarmu gak seperti yang kamu bayangkan. Beri sedikit waktu untuknya bisa menerima ini setelah apa yang terjadi selama ini."
Sonya membalas senyuman Rega, senyuman yang masih sangat memikat seperti beberapa tahun yang lalu. "Gue tau...,"
"Son, Sonia!" Ella menangkap tangan Sonia untuk mencegahnya pergi tapi Sonia melepaskannya dan mengekori kepergiannya hingga hilang ke dalam rumah.
"Maaf Son, gue gak bisa mencegah Sonia." Katanya menyesal, menggenggam tangan Sonya dan mengelusnya pelan. "Terimakasih karena udah datang ke rumah ini. Terimakasih...,"
Seketika air mata Sonya tumpah tak terbantahkan, ia tersuduk lemas dengan memegangi kaki Ella. Rasaya dosanya bertambah beratus-ratus kali lipat saat ini, Ella yang dulu ia perlakukan dengan sangat buruk itu menyambut kedatangannya dengan hangat. Bahkan saudaranya sendiri menolaknya... "Hua...,"
Bukan cuma kaget tapi bingung liat Sonya yang duduk sambil meluk kakinya, "Lo apaan sih Son, ayo bangun." Merangkul dan membimbing Sonya untuk berdiri, tenaga Ella yang tak seberapa itu akhirnya kalah dan ikut duduk di samping Sonya. Ella memeluk Sonya dan menenangkannya, "Udah Son jangan gitu...,"
"Iya, gue udah maaf-in lo jauh sebelum lo minta maaf. Bukannya kita saudara? Sesama saudara harua memaafkan." Mengelus bahu Sonya, "Udah Son, kasian anak yang ada dalam perut lo. Entar gue ngomong sama Sonia, bener kata Rega kalau Sonia perlu waktu buat nerima semua ini. Mungkin dia sedikit kaget sama kedatangan lo, kasih dia waktu ya???" Ella menghapus air mata Sonya dan tersenyum lembut, "Apa itu anak lo?" Mengalihkan pandangannya ke arah anak kecil yang di gendong di belakang Sonya.
"Iya." Jawab Sonya dengan sesenggukan.
"Mama pasti kangen banget sama lo, apa lo gak kangen?" Ujarnya lembut dengan menggenggam tangan Sonya, "Cepat sana lo samperin Mama." Menoleh ke arah Mama yang berlinang air mata dan menunggu dengan harap-harap cemas. "Bawa cucu Mama yang ganteng,"
Sonya menoleh ke arah suami dan anaknya yang berada di belakang, Alex tampak ketakutan dalam gendongan Daddy-nya. Selama ini Alex tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih sayang, tak pernah Sonya dan suaminya bertengkar atau meneriakinya. Pengalaman baru ini membutnya kaget.
"Pergi sayang, Mas tau kalau selama ini kamu diam-diam menangis. Gak ada seorang pun Ibu yang membenci anaknya, apa pun yang kamu lakukan di masa lalu walau pun itu menyakitkan hati beliau minta maaf lah secara tulus. Tebua semua kesalahan itu sebelum terlambat." Duduk berjongkok di samping istrinya yang mataya bengkak karena menangis, "Cium kaki beliau, minta maaflah...," Katanya menasehati, "Kami akan disini menunggumu, ya kan Alex?"
"Mommy..., Alex takut...," Rengeknya dengan mengencangkan tangannya.
"Gak pa-pa sayang...," Membelai lembut pipi anak kesayangannya tersebut. "Ini tante ella, kasih salam sama tante?"
Anak laki-laki menggemaskan itu menatap Ella dengan takut-takut, menatap Mommy dulu sebelum mengulurkan tangannya ragu. "Hai tante...,"
Ella yang gemas melihatnya itu langsung jatuh cinta pada pandangan pertama, "Hai Alex...," Menyambut uluran tangan Alex, "Boleh tante cium dan gendong Alex? Tante punya banyak es krim dan coklat di dalam sana. Bukan begitu Om Rega?"
__ADS_1
"Benal tante???" Matanya langsung berbinar mendengar makanan kesukaannya tersebut, dan dengan cepat mengalihkan perhatiannya. "Boleh Alex minta es klimnya???"
"Tentu saja, tante akan kasih Alex semua es krim, coklat dan apa pun yang Alex mau. Asalkan Alex mau ikut dan cium tante."
Tanpa pikir panjang Alex turun dari gendongan Daddy-nya dan menghadiahi wajah Ella dengan ciuman-ciuman yang sangat menyenangkan. "Mommy, Alex boleh ikut tante?"
Sonya mengangguk pelan, ada perasaan hangat dan senang saat melihat anaknya bisa sedekat ini dalam hitungan menit. Padahal biasanya Alex sangat sulit untuk dekat dengan orang-orang baru, namun dengan Ella ia dapat kenal dan dekat dengan sangat cepat. "Iya sayang, Tante Ella orang yang baik dan Mommy minta Alex jadi anak yang baik. Jangan nakal ya?"
"Oke Mommy, Alex jadi anak pintal." Katanya dengan menempel manja ke arah Ella.
Ella tak menyia-nyiakan kesempatan ini, menggendong Alex dan menciumi pipi gembulnya gemas. "Son, gue bawa Alex dulu. Lo ngomong sama Mama, suami lo entar biar sama Rega."
Sonya mengangguk, "Makasih La, makasih atas semuanya."
"Bi, temenin suaminya Sonya ya?" Katanya, "Kak Willy, temeni Ella buat nemenin Alex beli Es krim di mini market depan sana."
"Dengan senang hati tuang putri, lo gak usah cemburu ya Ga?"
"Tenang aja Wil, gue gak bakal cemburu. Lagian dalam perut dia udah ada anak gue kok." Katanya lagi, saat ini perasaan cemburu yang Rega rasakan dulu telah menguap seiring berjalannya waktu. Menjadi pasangan suami istri dalam hitungan tahun sudah cukup membuktikan bahwa hati Ella hanya untuknya, Willy di dalam hati Ella hanya sekedar kakak yang telah menjadi bagian dirinya sejak kecil dan Rega sadar tak dapat menggeser semua itu.
*******
Hi mbak-mbak dan mas-mas yang cantik-cantik....
Makasih buat kalian yang masih setia buat nunggu dan baca novel author, secara pribadi author sangat berterimakasih buat kalian semua...
🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗
Rasanya seneng banget kalian masih nungguin Up dari author dan itu jadi semangat buat author mainin jari bikin rangkaian kata.
Maaf kalo beberapa hari ini author agak lama up nya, karena mood anak author lagi naik turun kayak rollercoster 😅 Yang perlu perhatian lebih dan menyita waktu luang author selain ngerjain tugas negara sebagai ibu rumah tangga yang gak bisa buat di ganggu gugat.
Jangan lupa Like sama Votenya yach...
Biar athornya tambah semangat lagi buat menghadapi hidup yang kadang banyak warna kayak pelangi. ☺
Di rumah aja, jangan lupa menerapkan gaya hidup bersih dan sehat di manapun dan kapan pun karena kalo bukan kita sendiri siapa lagi yang bisa membatasi dan memutus rantai.
Author malah kemana-mana bawa tisu basah, sabum cuci tangan dan hand sanitixer loh... 😆
__ADS_1