Cinderella Jaman NOW

Cinderella Jaman NOW
Telinga Gajah


__ADS_3

"Rega, bangun?"


Rega yang mendengar namanya di panggil itu rasanya malas banget buat bangun dari tidur siangnya yang enak dan gak tela buat ninggalin bantal empuknya, palingan Ella yang bangunin minta temeni liat film atau sekedar cari ribut. Emang siapa lagi yang datang, kalau Raka gak mungkin banget bangunin dengan cara lembut kek gini, manggil namanya dan mengelus pipinya. Yang ada tu orang malah teriak gak karuan buat bangunin. Rasanya tu lembut dan hangat tangan yang mengelus pipinya, jadi makin betah Rega buat merem di bandingkan melek dan mengabaikan segala macam bentuk suara-suara atau apa pun yang ingin membuatnya bangun secara paksa.


"Rega?"


Tanpa membuka mata dan cuma melakukan gerakan kecil yang menandakan bahwa sebenarnya denger aja, Rega masih menutup matanya yang masih lengket. Mau apaan sih Ella bangunin???


"Lo mau bangun sendiri atau gue siram pakek air?"


Heh???


Kok ada suara cowok???


Masih malas bangun buat liat siapa yang bangunin pakek ngancam nyiram air segala.


kalo ini sih jelas-jelas mimpi, mana mungkin ada Yun dan lagian ngapain sih tu orang sampek nyamperin gue ke mimpi?


"Ga, cepetan bangun? Lo nungguin gue beneran nyiram pakek air ya?"


Langsung bangun dan beneran ada Yun di sampingnya dengan setelan jas kerja yang biasa ia pakek, bukan hanya Yun tapi juga Ibu di sampingnya yang tampak cantik mengenakan baju berwarna putih. "Lo ngapain sih Yun nyamperin gue ke dalam mimpi segala?" Katanya kesal yang gak bisa tidur dengan tenang, kalo mau mimpi tu mimpinya yang bagus-bagus aja.


"Hah?" Yun mengernyitkan alisnya, ternyata kelamaan diam yang kerjaannya cuma makan dan tidur bikin otak Rega juga tidur. "Lo tu gak bisa bedain antara mimpi sama dunia nyata ya bro???" Ujarnya sambil menarik kursi yang ada di sampingnya, "Kayaknya gue emang harus bangunin lo pakek air biar lo bener-bener sadar antara mimpi sama dunia nyata."


"Gak di mimpi dan dunia nyata lo itu tetepa nyebelin." Jawabnya cuek yang masih menganggap ini adalah mimpi, mimpi di datangi si rese Yun.


Gemas liat kelakuan Rega yang dari tadi nganggap semua ini mimpi bikin Yun berdiri, mengambil air mineral di dekatnya dan membasahi tangan dengan air tersebut. Liat aja lo bakal ngelakuin apa hah??? Berjalan mendekati Rega dan dengan cepat mengusapkan tangannya yang basah itu ke arah Rega yang masih aja nganggap kalau semua ini adalah mimpi. Kalau gini lo masih bisa nganggap ini mimpi?


"Yun?! Apa-apaan sih lo?!" Mengusap wajahnya yang basah karena ulah Yun, bukan cuma wajah tapi udah kena bajunya.


"Biar lo bangun dari mimpi." Mengambil tissu untuk mengeringkan tangannya, kalo dari tadi Rega nyadar gak bakalan dia bersusah payah membasahi tangannya.


"Yun, apaan sih kamu?" Tegur Azhari yang melihat kelakuan putranya tersebut.


"Yun cuma bantuin Rega buat bangun kok Bu, lagian Ibu liat sendiri kan betapa menyebalkannya Rega yang nganggap kita berdua ini cuma mimpi." Bantahnya dengan memberikan alasan yang kuat atas apa yang ia lakukan, bukan alasan sih tapi emang fakta.


Melongo lah Rega yang baru nyadar kalo sebenarnya ini tu bukan mimpi alias nyata, jadi Yun dan Ibu benar-benar datang dan ada bersamanya saat ini.


"Ibu???"


Dengan wajah terkejut yang gak di buat-buat, siapa yang gak kaget kalo liat orang yang benar-benar ingin ia hindari itu kini ada di depannya. Satu paket sama Yun yang udah di sana, sumpah Rega kaget banget. Bukannya mereka sepakat apa pun yang terjadi kalau Ibu adalah salah satu orang yang gak boleh tau apa pun yang terjadi dengannya saat ini. Tapi kok bisa-bisanya Ibu ada di ruangan ini? Barengan Yun pula yang bikin Rega kaget luar biasa. Buru-buru Rega bangun, mengambil tangan wanita yang telah membesarkannya tersebut dan menciumnya dengan lembut serta rasa hormat yang begitu dalam.

__ADS_1


"Dasar anak nakal." Azhari menjewer telinga Rega, menumpahkan rasa yang ada di hatinya selama ia tau keadaan putra tertuanya itu.


Perasaan seorang Ibu memang tak bisa untuk di bohongi terhadap anak-anak mereka, hal itu yang Azhari rasakan terhadap putra tertuanya. Walau pun Rega bukan lahir dari rahimnya, namun kontak batin yang ia rasakan tak kalah kuat dengan apa yang ia rasakan terhadap Yun yang merupakan anak kandungnya yang ia lahirkan. Perasaan cemas dan was-was selalu ia rasakan saat Rega hilang, tak ada kabar dan berita mengenainya selama ini mdmbuat Azhari selalu bertanya-tanya ada apa sebenarnya. Bahkan Yun terlihat menyimpan sesuatu darinya yang semakin menguatkan dugaannya bahwa putranya itu mengalami kesulitan saat ini. Setiap hari, Azhari selalu berdoa untuk keselamatan dua jagoannya itu, walau Yun selalu mengatakan Rega dalam keadaan baik dan saat ini menjalani perjalanan bisnis dengan istrinya namun jauh di dalam hati Azhari meragukannya. Hati seorang Ibu sama sekali gak bisa untuk di bohongi dan itu terbukti, rasa khawatir dan ketakutannya bukanlah perasaan yang dapat di remehkan saat mengetahui kebenaran yang di sembunyikan oleh kedua putranya tersebut. Saat mengetahui semua kebenaran tersebut Azhari langsung pergi menemui dan melihat secara langsung atas bantuan tuan Mahendra, bukan perkara yang sulit untuk seorang Mahendra mendapatkan informasi seperti ini mengingat koneksi dan nama besarnya tersebut.


"Aw..., sakit Bu...," Kata Rega memegangi telinga yang di jewer Ibu-nya, alih-alih mendapatkan perhatian malah di perlakukan kayak anak kecil yag ketahuan nakal.


"Biar, habisnya kamu udah bikin Ibu khawatir dan juga bohongi Ibu selama ini." Baru pertama kali ini Azhari melakukannya, walau senakal apa pun Rega di masa kecilnya Azhari tak pernah melakukan tindakan yang menyakiti putra tersebut. Kali ini apa yang Rega lakukan sangat keterlaluan, membuatnya tidak tenang setiap saat memikirkannya.


"Bu, bukan cuma Rega yang bohong sama Ibu tapi juga Yun." Menunjuk ke arah Yun yang dengan santai minum dan menikmati kesakitannya.


"Udah lah Ga, nikmatin aja apa yang Ibu lakuin." Jawabnya seolah gak liat apa pun, laguab sebelum datang ke kamar ini Ibu udah ngomel habis-habisan dengannya. Jadi mereka berdua benar-benar seri dalam hal ini, bedanya Rega gak liat aja apa yang Ibu lakuin dengannya dan itu jadi hal yang membuaskan buat Yun.


"Rega, gak usah bawa orang lain atas kesalahan yang telah kamu lakukan." Kata Azhari tegas, di dalam hatinya ia sangat bersyukur melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa kini Rega benar-benar sehat.


#Flash Back


"Tuan, saya mohon cari tau keberadaan Rega dan istrinya saat ini juga." Kata Azhari yang memberanikan diri meminta bantuan kepada orang yang menurutnya dapat melakukan apa yang tidak dapat ia lakukan, datang ke tempat ini dan meminta bantuannya adalah hal yang benar yang bisa ia lakukan saat ini.


Mahendra yang mendapat kunjungan dari ibu asuh putranya tersebut terkejut mendengar permintaannya, bagaimana mungkin Rega bisa hilang? Bukankah saat ini ia sedang mengurus cabang perusahaan di salah satu negara di Asia bersama istrinya? "Nyonya, saat ini Rega dan istrinya sedang melakukan perjalanan bisnis di salah satu cabang perusahaan." Jawab Mahendra dengan sikap tenang, walau hatinya merasa khawatir. Bagaimana pun saat ibu asuh putranya itu datang dan meminta bantuan bukanlah masalah yang sepele yang tengah ia hadapi, mengingat wanita itu tidak pernah sakali pun datang kepadanya dengan raut wajah seperti saat ini. Raut wajah seorang Ibu yang khawatir tentang anaknya, karena ia tau betapa besar rasa cinta dan kasih sayang yang telah ibu asuhnya itu berikan kepada putra semata wayangnya tersebut.


"Tuan, apa anda benar-benar yakin akan hal tersebut?" Tanya-nya lagi, walau Yun telah menjelaskan ratusan kali kepadanya setiap menanyakan kabar Rega namun Azhari merasa bahwa Yun menyembunyikan sesuatu darinya dan kali ini ia tak mempercayai apa yang putranya itu katakan dan ia yakin kalau firasat orang tua selalu tepat.


"Maksud anda? Sebelumnya saya telah meminta salah satu di antara mereka untuk mengawasi secara langsung proyek di sana dan mereka memutuskan bahwa Rega yang pergi bersama istrinya." Jawab Mahendra yang mendapatkan laporan keberangkatan Rega dan Yun tetap mengurus perusahaan di sini, proyek itu kini berjalan dengan sangat baik dan memuaskan jadi Mahendra tidak merasa ada yang janggal mengenainya.


Mahendra terdiam, mencoba mencerna apa yang ibu asuh Rega katakan. Memang beberapa bulan ini Rega sama sekali belum menghubunginya, sesekali hanya istrinya yang berbicara dengannya lewat telpon. Bahkan saat Mahendra menghubungi Rega melalui Hp-nya istrinya lah yang menjawab.


"Tuan, saya mohon..." Turun dari sofa dan bersimpuh di lantai, melakukan hal ini bukan hal yang memalukan bagi Azhari asalkan ia mendapatkan kabat mengenai Rega secepatnya.


"Apa yang anda lakukan nyonya?" Bangun dan menghampiri wanita yang kini berlutut di hadapannya, meminta sesuatu yang tak seharusnya ia lakukan hingga sedemikian rupa. Mahendra memegang kedua pundak Azhari, menuntunnya untuk bangun dan duduk kembali di tempatnya semula. Bagaimana mungkin wanita yang hanya ibu asuh bagi anak nya itu berlutut dan memohon sesuatu untuk putranya sendiri, selama ini Mahendra tidak pernah meragukan ketulusan wanita yang telah mengabdikan dirinya itu kepadan keluargaanya dan hari ini ia melihat bahwa ketulusan yang ia lakukan melebihi ketulusan dan cinta seorang Ibu kepada anaknya yang membuat Mahendra merasa malu. Ia malu karena orang lain yang tidak ada hubungan darah apa pun dengan putranya mampu melakukan apa pun demi putranya.


"Tuan, bantulah saya? Bantu saya menemukan dan memastikan bahwa anak saya dalam keadaan sehat dan baik-baik saja. Saya akan melakukan apa pun yang anda inginkan asalkan anda membantu saya menemukan di mana Rega berada saat ini. Saya mohon tuan..." Katanya dengan berlinang air mata, walau sejak awal Azhari sudah berusaha untuk tidak menitikkan air mata di depan ayah Rega namun ia tak dapat melakukannya. Perasaan seorang Ibu mengalahkannya segalanya.


Mahendra mengalah, membiarkannya tetap bersimpuh dan kini ia ikut duduk di lantai yang beralaskan karpet lembut dan tebal dengan kualitas nomor satu tersebut. "Tanpa anda minta saya akan melakukannya." Jawabnya merasa terharu dan bersyukur karena Rega memiliki seorang Ibu yang sangat luar biasa, ibu asuh yang kasih sayangnya melebihi apa pun di dunia. "Jadi anda harus tenang." Katanya lembut, menepuk pundak wanita tersebut untuk memastikan bahwa ia akan melakukan apa yang di minta.


"Benarkah?" Mendongakkan kepala, merasa sangat berharap bahwa apa yang ia dengar adalah sebuah kebenaran, "Terimakasih tuan, terimakasih atas kebaikan anda." Katanya senang.


Entah apa yang bisa Mahendra lakukan untuk menebus semua kebaikan yang telah ia terima, bahkan memberikan seluruh kekayaan yang ia miliki tak bisa untuk membayarnya. "Yang seharusnya mengatakan itu adalah saya, saya sangat berterimakasih karena Anda mencintai dan menyayangi putra saya melebihi harga diri yang anda miliki."


"Tuan, seorang Ibu akan melakukan apa pun untuk putra mereka. Walau pun Rega bukan darah daging saya sendiri tapi saya akan selalu mencintainya sama seperti saya mencintai Yun. Bukan hanya harga diri, bahkan nyawa pun akan saya berikan bila itu perlu." Jawabnya tegas.


"Terimakasih nyonya, semoga Tuhan membalas semua kebaikan yang telah anda berikan kepada keluarga saya karena saya tidak dapat membalas apa yang telah anda lakukan." Katanya tulus.

__ADS_1


Mendengar apa yang Mahendra katakan membuat Azhari merasa malu, wanita hina dari kalangan bawah sepertinya mendapat pujian dari seseorang yang sangat luar biasa seperti tuan Mahendra. Ia hanya mencintai Rega seperti anaknya sendiri, hanya itu yang ia lakukan dengan sungguh-sungguh dan tulus tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Apa yang telah Mahendra lakukan terhadapnya sesuatu yang tidak bisa Azhari bayar dengan apa pun, memberikan rumah tempat untuk pulang, kehidupan yang layak bersama putranya, keluarga yang hangat dan juga kasih sayang yang Yun dapatkan selama ini adalah sesuatu yang tak bisa ia tebus dengan apa pun. Keluarga ini yang memberikan kehidupan kedua baginya dan anak semata wayangnya untuk hidup layak dan lebih baik, bahkan dengan mengabdi seumur hidup pun tak akan bisa membalasnya.


#Flash On


"Ibu, Rega gak bawa-bawa tapi emang kenyataannya kan kalau Yun ikut andil dalam hal ini." Masih ngeyel dan gak mau kalah, gak mau di salahin sendirian dan mencari kawan. Apa lagi liat Yun yang santai kayak gitu bikin Rega tambah geram, kayaknya menikmati apa yang Ibu lakukan padanya.


Yun menanggapinya dengan tersenyum, karena senyum bisa mengubah dunia.


Sialan lo Yun, pakek ngejek gue lagi. Meringis menahan rasa sakit telinganya, Ibu benar-benar jewer telinganya sampek rasanya mau putus. Untung aja di sini gak ada yang lain kalau sampek ada yang liat dan di dengar orang lain bakal ancur dah reputasinya, selain Ella yang bisa kayak gitu ada Ibu yang gak bisa Rega lawan. Dua wanita super di sekelilingnya.


Gue akan nikmati pemandangan ini sebanyak yang bisa gue liat, lagian kapan lagi gue bisa liat lo di jewer sama ibu. He he he he he he he... Lagi-lagi Yun tersenyum ke arah Rega dan terang-terangan mengejeknnya.


"Pasti lo kan yang bilag sama Ibu gue ada di sini?" Masih gak mau kalah dan mau bawa Yun.


Yun menggeleng pelan dengan menyeruput jus kalengnya nyaring, sengaja buat memprovokasi Rega yang gak bisa berkutik.


"Bro, mulut gue gak ember." Jawabnya singkat, padat dan berisi, tapi ngeselin.


"Kalo bulan lo siapa lagi coba?" Memandang ke arah Ibu dengan wajah memelas biar jeweran di telinganya itu di lepas. "Bu, bisa-bisa hilang nih satu telinga anak Ibu. Entar gak ganteng lagi gimana?" Kayak anak kecil yang merengek aja buat bujuk Ibu.


"Ha ha ha ha ha ha ha ha...," Yun tertawa terabahak-bahak melihat wajah Rega yang putus asa dan pasang muka memelas yang ketahuan banget bohongnya. "Ganti sama telinga gajah biar gede." Jawabnya asal yang geli liat Rega kayak gitu.


*********


Hi Readers....


Gimana nih kabarnya kalian semua...


Siapa yang masih melek jam segini? Author lah yang pastinya buat lembur bikin naskah.


Di antara kalian siapa yang pernah di jewer telinga sama orang tua kalian karena bandel pas kecil???


Pengalaman yang gak bakal bisa terulang kalo beneran sampek kayak gitu ya.


Oh ya, sedikit selingan aja. Kontak batin antara anak sama Ibu-nya itu kuat banget lo, walau kita gak ngomong kalau ada masalah atau ngalamin suatu hal terkadang Ibu kita juga ngerasain hal yang sama. Padahal kita tuh gak ada cerita apa pun sama beliau atau kita tempatnya beda dan jauh sama Ibu tapi nurani seorang Ibu itu gak bisa di bohongi. Kasih sayang Ibu ti gak bisa di ukur sama apa pun, jadi buat kalian yang orang tuanya masih lengkap atau masih punya salah satunya aja sebisa mungkin hormati, sayangi dan bahagiakan mereka. Mereka itu orang-orang yang mencintai kita dengan tulus dan mampu melakukan apa pun demi kebaikan dan kebahagiaan anaknya.


Kayak yang author lakuin, karena author sendiri sudah punya anak yang secara otomatis author kayak gak bisa hidup tanpa anak, author bakal ngelakuin apa pun untuk kebahagiaan dan melakuakan yang terbaik buat anak author. Jadi dari situ author yakin gitu juga yang orang tua author lakuin buat author. Walau cara mereka terkadang gak sejalan sama pemikiran kita tapi apa pun itu author yakin orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya.


Jangan lupa buat mampir ke novel author yang lainnya, yaiti Labirin Cinta dan juga Kontrak Cinta 100 Hari. Selain mampir kalian bisa tinggalin jejak kalian berupa like, komentar dan juga vote biar novel author bisa masuk ranking ya....


Makasih buat kalian yang udah setia buat nungguin Up setiap hari walau kadang Up nya gak bisa tiap hari karena ada kesibukan lainnya yang gak bisa author tinggalin, udah lebih 300 episode ya ternyata.

__ADS_1


Jangan lupa buat like, komentar dan votenya yang jadi penyemangat dan motivasi bagi author untuk berkarya.


Makasih....


__ADS_2